Tampilkan postingan dengan label personal life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal life. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Agustus 2026

Kangen, Yah.

Beberapa hari terakhir ini aku lagi keingetan ayah terus. Kangen. Semalam sampai cari-cari lagi foto-foto ayah. Bahkan buka chat WhatsApp ayah karena ingin baca-baca percakapan aku dan ayah. Tapi ternyata isinya kosong karena WhatsApp-ku sempat error dan history chat kami kehapus semua. πŸ˜­πŸ’”

hampa gini hiks
hampa gini hiks
Iya sih, memang udah beberapa bulan juga belum ke makam lagi. Akhirnya pagi ini di sela-sela agenda, aku sempatkan dulu mampir ke makam ayah. Sendirian. 

Jujur, ada banget jetlagnya. Loading dulu, bener nggak ya ini bloknya? Soalnya area makamnya kayak tiba-tiba rimbun gitu, pohon-pohon kecil yang ditanam di nisan-nisannya udah pada meninggiπŸ˜…

Saking kayak orang bingung, sampe disamperin sama yang jaga makamnya. "Cari makam siapa, Neng?"

Pas kusebut nama ayah, "Oh.. sebelah sini, Neng." Bapaknya nunjukkin makam ayah.

Ternyata aku emang udah ada di blok yang bener, cuma linglung aja karena suasananya agak berubah wkwk.

Terus si bapak bawain kursi kecil buat aku duduk, lalu aku ditinggal sendiri.

Pas duduk, lah... tiba-tiba nangis doong..

Keluar begitu aja ini air mata. Sampe heran sendiri, padahal hidupku lagi baik-baik aja dan happy-happy aja. Mungkin karena emang lagi kangen kali ya..

Yasudahlah aku quality time sama ayah, doain, dan sedikit siram makam pake air yang sengaja kubawa. Cuma sekitar 10menitan karena harus pergi lagi.

Tapi sepulang dari makam rasanya lega banget. Rinduku terobati. 🀍

***

Yah, aku lagi kangen banget momen aku setirin ayah. Ayah duduk di kursi depan samping aku, kita ngobrol sambil sesekali tangan ayah elus-elus kepala aku. Main ke mimpi dong, Yah. Nanti kusetirin kemana pun ayah mau. 😁🫰

Sabtu, 25 Juli 2026

Mimpi Random

"Orang yang selalu berpikir buruk, tidak akan bisa melihat hal baik dalam hidupnya," kataku kepada pak muh (iya, pak muh bapaknya fadil jaidi) yang sedih karena abis dihina orang lain. Pak muh yang tadinya murung, wajahnya langsung berubah cerah dan bilang terima kasih sama aku.

Ketika kami akan berpisah, "eh tunggu tunggu tunggu," pak muh tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan, mengambil sesuatu. Aku menunggu sebentar di depan pintu. Lalu pak muh memberi sebuah bingkisan.

Pas udah sendirian, aku buka bingkisannya dan ternyata itu sebuah HP baru (jujur di mimpi sempet terbersit, apakah ini iphone terbaru?). Entah HP apa, tapi ukuran HP-nya termasuk besar untuk tanganku yang kecil ini. Ternyata itu HP dari almarhum vidi. (iyes, vidi aldiano. emang ga nyambung dari pak muh tiba-tiba ke vidi. yah namanya juga mimpi wkwk)

Lalu aku langsung lari ke tangga, masuk ke sebuah ruangan yang disitu banyak orang lagi ngumpul. Keluarganya vidi. Sekilas aku liat ada papanya vidi, liat sheila juga. (aku juga heran kenapa tiba-tiba aku ada di kumpulan keluarga orang. vidi pula)

Aku nyamperin vadi, adiknya vidi, yang lagi tiduran di sofa yang lagi ngobrol dikerumunin orang-orang.

"VADI VADI VADI VADI!" kataku heboh sambil menerjang kerumunan orang-orang. 

"Kenapa kenapa kenapa??" tanya orang-orang yang kuterjang dengan wajah kepo.

Vadi yang lagi tiduran di sofa miringin kepalanya untuk liat ada apa, dan aku nunjukin HP baru itu ke depan muka vadi.

"Ohh, iya. Itu emang HP dari vidi buat lo," katanya dengan santainya.

Mendengar itu perasaanku kaget, seneng (banget lahh, dikasih HP!), terharu. Huhu, ternyata sebelum meninggalnya vidi udah nyiapin hadiah dulu buat aku..batinku.πŸ₯Ή

Lalu aku bangun dari tidur. Tidur pagi.

Such a random dreamπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Tapi quote aku buat pak muh oke juga tuhπŸ‘πŸ˜†

"Orang yang selalu berpikir buruk, tidak akan bisa melihat hal baik dalam hidupnya."
-Una dalam mimpi, 2026 (wkwk)

***

Ini kisah mimpi yang super random tapi seru dan hepinya kebawa gituloh sampe bangun. Biasanya kalau ada mimpi yang berkesan dan seru, aku pasti tulis di notes HP. Cuma yang kali ini tuh kayak pengen dishare aja gitu karena pasti yang baca bakal ikut ketawa sama aku haha! Tadinya pengen nulis story di IG tapi kok malu yaa dipikir-pikir wkwkwk. Jadilah ditulis di blog aja biar cerita randomku kalian aja yang baca😝

Kemarin juga pas tidur pagi, aku kebangun dalam keadaan seneng banget karena denger Novie (adik iparku, masih menanti garis dua juga) ngasih tau ke aku kalau dia hamil. Pas denger kabar itu di mimpi rasanya seneng bangeettt dan perasaan senengnya masih kebawa pas kebangun bahkan masih kebayang rasa senengnya sampe hari ini. Semoga mimpi yang ini jadi kenyataan. Soon. Aamiiin🀲🏻

Rabu, 10 April 2024

Jamuan Ramadhan dan Hidangan Penutupnya

"Alhamdulillah terasa sekali banyak peluang amal shaleh dan banyak peluang digugurkannya dosa-dosa di Ramadhan tahun ini. Walau begitu, peluang tersebut bisa saja menjadi kesempatan yang hilang jika tidak ada keikhlasan dalam menjalani takdir demi takdir dari-Nya. Semoga Allah mampukan untuk ikhlas dan ridho "diperjalankan" oleh Allah supaya pahala dan ampunannya beneran dapet. Allahumma innaka 'afuwwun kariim, tuhibbul 'afwa fa'fuannaa.."

***

28 Ramadhan 1445 H, 7 April 2024, hari Ahad. Pukul 14:58 WIB di ruang ICU Rumah Sakit Al-Islam, Allah panggil salah satu hamba kesayangan-Nya. Alhamdulillah, di usianya yang ke 58, ayah (mertua) berpulang di bulan yang baik, di hari yang baik, di waktu menjelang ashar.

Ramadhan kali ini banyak sekali jamuan yang Allah hidangkan. Dan ternyata hidangan penutupnya adalah nasihat kematian. Sedih karena kini aku sudah tidak bisa bertemu dan memeluk ayah lagi, tapi juga bahagia sebab kepulangannya begitu indah yang diam-diam membuatku iri, bisakah kelak saat Allah panggil pulang nanti, aku juga bisa membawa bekal yang banyak seperti ayah untuk bertemu Allah? :')

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan tentang ayah, tapi biarkan aku bercerita dulu bagaimana Ramadhanku berjalan sejak hari pertama. Malam pertama Ramadhan di tahun ini adalah malam yang paling aku syukuri dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Malam itu adalah malam dimana aku dan keluarga suami (ayah, bunda, semua anak-anak dan mantu) berkumpul untuk saling mengobrol dari hati ke hati. Obrolan yang dalam sekali sampai semua orang bebas mengungkapkan segala unek-unek dan ganjalannya satu sama lain. Obrolan kami berlangsung lama sekali dari setelah tarawih hingga menjelang sahur. Ya, malam itu kami tidak tidur.

Ada banyak air mata yang tumpah, tapi ada lebih banyak lagi rasa syukur yang tumpah. Malam itu, tuntas semua hal-hal yang mengganjal di hati. Malam itu, kami saling islah dan memaafkan. Saling memberi pesan dan menunjukkan rasa sayang. Dan setelah ayah berpulang, aku baru menyadari bahwa sepertinya segala kejadian di malam itu adalah hadiah dari Allah untuk ayah. Sebab ayah berpulang dalam kondisi ayah sudah ridho dan memaafkan anak-anaknya serta anak-anaknya pun ridho dan sudah memaafkan ayah. Malam itu betul-betul menjadi awal yang baik untuk mengawali Ramadhan. Lalu dimulailah pendidikan dari Allah melalui Ramadhan ini…

Aku sakit di hari ke-3 Ramadhan. Demam, badan linu, lemes, mual, entah sakit apa, tapi cukup membuat aku kepayahan terutama di 3 hari pertama sakit. Alhamdulillah Allah beri kesembuhan dan bisa beredar lagi setelah 6 hari bedrest. Dan ternyata Allah tetap beri kekuatan untuk bisa shaum (karena kalaupun nggak shaum karena sakit, kerjaanku cuma di kasur dan makan pun cuma masuk dikit, jadi mending shaum aja sekalian ya kan wkwk), bahkan tanpa diduga Allah masih memberi kekuatan untuk nggak skip tarawih dan bisa tetep tadarus 1 hari 1 juz. Walaupun rasanya struggling bangett.. Alhamdulillah selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Setelah sakit alhamdulillah bisa keluar rumah lagi, bersilaturahim lagi, beribadah dengan lebih mudah karena badan sudah lebih kuat, dan ada beberapa amanah yang aku kerjakan juga.

Malam ke-13 Ramadhan aku berkesempatan mabit bersama sahabat-sahabat terdekatku. Sudah menjadi agenda tahunan tiap Ramadhan kami selalu mengagendakan mabit bersama. Aku diminta mengisi sharing session untuk belasan perempuan yang hadir malam itu dan setelahnya ada sesi sharing lagi menyampaikan rasa syukur dan harapan atas dipertemukannya dan diperjalankannya kami semua oleh Allah. Lagi-lagi Allah menganugerahkan malam yang indah untuk saling belajar dan merekatkan ikatan ukhuwah kami. Alhamdulillah..

Hari ke-18 Ramadhan, subhanallah aku diuji sakit lagi. Kali ini sakitnya dari sakit gigi yang bikin demam, sakit kepala, mual, dan… badmood (wkwk). Demam karena sakit gigi ini berlangsung 4 hari dan lumayan struggling karena di sakit kali ini aku ada agenda-agenda yang nggak bisa di skip. Soalnya sakit gigi tuh sakit yang agak nanggung sebenernya ya, dibilang sakit kayaknya nggak sakit-sakit banget, tapi dibilang nggak sakit juga da badannya nggak enakeun buat diajak ngapa-ngapain hahaha. Jadi ya udah disabarin aja wk.

Hari ke-20 Ramadhan, walau masih dalam kondisi sakit gigi dan agak demam, tapi aku bersyukur karena di hari itu aku berkesempatan mendampingi ayah mengisi sebuah diskusi Ramadhan. Ayah meminta aku duduk di sebelahnya dan aku mendengar dan mencatat apa-apa yang disampaikannya. Hari itu ayah bersemangat sekali berbagi ilmu walau seberesnya ayah berkeringat banyak sekali. Besok dan besoknya lagi, ada forum-forum lain yang juga ayah isi. Itulah ayah, selalu bersemangat untuk menjemput amal-amal shalehnya.

Sampai tibalah hari yang mengagetkan itu datang. Siang hari di tanggal 24 Ramadhan, Bunda tiba-tiba menelepon menyuruh semua anak-anaknya yang sudah menikah (karena sudah beda rumah) untuk segera pulang dan melihat kondisi ayah. Dalam kondisi bingung namun khawatir karena suara bunda terdengar parau, aku dan suami bergegas pergi ke rumah ayah. Saat sampai, ayah sedang dituntun dzikir oleh adik iparku. Alhamdulillah kondisinya sadar dan masih bisa mengikuti berdzikir. Ternyata sebelum itu ayah sempat kejang selama 5 menit, yang setelahnya baru diketahui bahwa ayah terkena serangan stroke. Badan sebelah kirinya sulit digerakkan. Sore itu, ayah segera dilarikan ke IGD. 

Di IGD sambil menunggu ruangan, ayah masih bisa kami ajak ngobrol bahkan masih sempat-sempatnya bercanda. Minum susu, minum obat, ditunggui bergantian oleh anggota keluarga sampai akhirnya menjelang tengah malam ayah bisa masuk ruangan untuk dirawat. Malam itu aku khawatir tapi tetap optimis ayah insya Allah akan sembuh. Setelah ayah dirawat di ruangan, anak-anak dan bunda membuat jadwal untuk bergantian jaga di rumah sakit.

Sayangnya, aku ada kegiatan kepanitiaan sanlat selama 3 hari jadi aku belum bisa ikutan jaga di RS sampai tanggal 27 Ramadhan. Jujur, pikiranku bercabang. Dan semakin khawatir setiap kali mendapat update kabar ayah di grup WA keluarga.

Ayah masuk ICU di hari ketiganya di rumah sakit dan saat ayah masuk ICU aku masih belum bisa menjenguk ayah. Pulang sanlat, sore harinya di jam besuk aku langsung ke rumah sakit menengok ayah karena rasanya sudah kangen sekali. Sedih sekali melihat kondisi ayah dengan berbagai selang dan ventilator yang dipasang dimulutnya untuk membantunya bernafas. Ayah sudah tidak sadar sejak dirawat di ICU.

Aku berusaha tegar dan bicara di telinga ayah. Aku bercerita tentang kegiatan sanlat, menyampaikan betapa aku kangen sama ayah, membacakan doa-doa tentang kesembuhan, memberi semangat kepada ayah untuk sembuh, menyampaikan siapa saja orang-orang yang hari itu menjenguk ayah, dan meminta doa karena aku dan Novie (menantunya ayah juga) ada agenda mengisi zoom sharing Ramadhan sekaligus galang dana infaq Ramadhan. Aku bicara di telinga ayah cukup lama, bercerita seolah-olah ayah mendengarku. Bukan tanpa alasan, karena ayah memang selalu seantusias itu mendengar cerita anak-anaknya. Jadi kupikir, ayah pasti ingin tau update kegiatan anak-anaknya.

Kata dokter, ayah kondisinya tak sadar dan memang tidak bisa menjawab saat aku bercerita. Tapi aku senang sekali karena sore itu aku melihat beberapa respon dari ayah. Seperti beberapa kali menelan, satu kali mulutnya bergerak dan matanya sempat seperti mau terbuka. Entahlah apakah itu betul respon dari ayah atau hanya gerak motorik otomatis. Tapi yang pasti aku senang dan merasa ayah sedang mendengarkan.

Esoknya, aku dan suami memutuskan jaga di RS pagi hingga siang. Namun hari itu kondisi ayah terus menurun. Berkali-kali kami dipanggil dokter ke ruang ICU menjelaskan kondisi ayah yang semakin menurun dan bisa henti jantung sewaktu-waktu. Keluarga diminta bersiap untuk kemungkinan terburuk. Haahhh rasanya nano-nano. Menyalakan harapan sambil menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk itu sulit sekaliiii..

Saat itu rasanya ingin standby aja di RS tapi aku harus mengisi zoom jam 15.30. Sekitar jam 2 siang aku dan suami berganti jaga dengan adik iparku dan suaminya. Sebelum pulang, aku sempat berbisik kepada ayah, "Ayah, ayah harus terus berjuang untuk sembuh ya sampai Allah menurunkan ketetapan-Nya.. Kalaupun akhirnya Allah menurunkan ketetapan ayah harus pulang, insya Allah kami ikhlas. Tapi sebelum ketetapan itu datang, ayah jangan menyerah untuk sembuh ya.." Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak menangis di depan ayah.

Ternyata di perjalanan pulang, kabar demi kabar berdatangan di grup WA keluarga. Ayah sempat dikabarkan henti jantung. Kemudian nadinya sempat kembali setelah di pompa jantung. Namun 5 menit kemudian ayah meninggal dunia. Aku sudah di rumah saat adik iparku menelepon menyampaikan berita kepulangan ayah. Aku dan suami menangis. Satu orang yang kami cintai kini telah pergi menghadap Rabb-nya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.. Saat itu juga zoom aku batalkan dan aku langsung kembali ke RS setelah shalat ashar.

Prosesi memandikan, mengafani dan menyolatkan pun segera dilakukan di rumah. Lalu Ayah dimakamkan beberapa menit sebelum adzan isya. Saat itu malam hari, tapi masya Allah banyak sekali yang melayat. Banyak yang sayang sama ayah. Banyak yang kehilangan. Dan banyak yang mendoakan ayah. Aku sedih, tapi lega dan bahagia karena ayah dipanggil pulang insya Allah dalam kondisi terbaiknya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.

Semoga ayah husnul khatimah, mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, dan telah gugur dosa-dosanya saat Allah beri sakit. Kini, ayah yang selalu bersemangat menjemput peluang-peluang amal shaleh sepanjang hidupnya, sudah Allah istirahatkan dari tugas-tugasnya di dunia.

Diam-diam aku merasa iri pada ayah. Ayah betul-betul membawa bekal pulang yang banyak untuk bertemu Allah. Walau aku merasa khawatir kepada diriku sendiri, bisakah kepulanganku nanti juga seindah itu? Semoga.

Itulah cerita Ramadhanku. Masya Allah sekali hidangan Allah di Ramadhan ini, tapi insya Allah ini hidangan yang sehat untuk iman. Zoom sharing Ramadhanku akhirnya dilaksanakan besok sorenya. Dan alhamdulillah Allah masih memampukan menyelesaikan khatam tadarus al-Quran di sore terakhir Ramadhan walau dengan segala ke-hectic-an yang ada.

Semoga segala tempaan di Ramadhan tahun ini mampu aku sikapi dengan benar sehingga mengundang rahmat dan ampunan-Nya. Rabbana taqobbal minna, innaka antassamii'ul 'aliim..

***

Yah, aku sedih. Aku merasa kehilangan. Ayah baik sekali dan aku merasa sangat disayang oleh ayah. Tapi aku yakin, saat ini Allah sedang menggembirakan dan memuliakan ayah. Semoga kami bisa menggembirakan ayah dengan meneruskan segala kebaikan dan perjuangan ayah. Terima kasih sudah menjadi teladan yang mengajari kami bagaimana seharusnya hidup dan bagaimana seharusnya mati. Selamat berbahagia, Yah. Sampai bertemu lagi di keabadian, dalam ridho dan limpahan rahmat-Nya. Aamiin.

Senin, 29 Mei 2023

Selesai, Tapi Bukan Akhir

2016-2023 😊

Allah, apa yang Kau titipkan, kini kukembalikan pada-Mu.. Memang tidak dalam keadaan yang terbaik, tapi setidaknya sudah lebih baik sejak aku menerimanya pertama kali.

Kuserahkan pada Engkau sebaik-baik penjaga. Semoga apa yang telah ditanam, tetap menghujam akarnya, kokoh batangnya, lebat buahnya, meneduhkan bagi sekitarnya dan terus meluas manfaatnya 🀲

Setelah hari ini, mungkin tak semua mekar bisa aku saksikan. Tak setiap buah bisa aku jumpai. Tak lagi bisa kubersamai tumbuhnya inci demi inci. Tapi kutitipkan pada-Mu lewat doa-doa, semoga penjagaan-Mu tak pernah lepas dan cahaya-Mu selalu menyinari.

Semoga Engkau terima setiap amal, Engkau ampuni setiap kelalaian, Engkau sempurnakan apa-apa yang kurang, Engkau jadikan semakin baik untuk yang akan datang. Rabbanaa taqobbal minna innaka antassamii'ul 'aliim.. 🀲

Bandung, 28 Mei 2023




Allah.. jika aku boleh meminta.. dan jika permintaan ini baik untukku, berikan aku pengganti dari apa yang telah Engkau ambil dariku..

Selasa, 23 Mei 2023

Rindu Itu Datang Lagi

Pagi tadi, rinduku untuk menjadi ibu mencuat lagi. Tangisku sering pecah jika melihat anak-anak shaleh shalehah dari saudara-saudaraku seiman. Melihat anak-anak laki-laki yang shalat, anak-anak perempuan yang berkerudung, hampir selalu menjadi trigger rasa rindu itu muncul dan jiwa keibuanku meronta lagi.

Selintas terpikir, mungkin mengapa Allah belum memberiku anak, karena Allah tahu betul, dari sekian doa yang aku pintakan pada-Nya, doa ini yang paling tulus, yang paling sering kuulang, yang terus menerus aku harapkan. Doa yang membuatku terhubung kepada Allah paling kuat. 

Mungkin ketulusan itu yang Allah sukai, mungkin ada pahala yang besar dari doaku itu, sehingga Allah menunda hingga bertahun-tahun agar pahala atas doa ini terus mengalir dan terus ada..

Sehebat inikah kekuatan doa yang tulus ya Allah? Apakah agar aku memiliki amalan unggulan di akhirat kelak? Jika memang iya, aku rela berlama-lama menunggu anak asalkan berdoa kepada-Mu bisa terus sesyahdu ini.. πŸ₯Ί

Mungkin, jika anak itu saat ini Kau beri, aku belum akan mampu ya untuk berdoa setulus ini..? :')

Kuserahkan (lagi) pada-Mu ya Allah, jika memang saat ini berdua lebih baik bagi kami, ilhamkan kepada kami untuk senantiasa berdoa kepada-Mu. πŸ€²

Terima kasih yaa Allah yaa Rahiim, dari proses penantian ini aku memahami dan meyakini bahwa berdoa kepada-Mu memang tidak pernah sekalipun mengecewakanku.. πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ’—

***

Mungkin perkara menanti ini juga relate dengan banyak orang. Ada yang juga sedang menanti anak, menanti jodoh, menanti pekerjaan, menanti apapun yang sampai rasanya setulus dan se-desperate itu kita meminta.

Bagaimana jika doa-doa tulus itu yang menjadi pemberat amal sholeh kita kelak? Bagaimana jika Allah memberi 'upah' besar di hari akhir nanti, atas khusyuknya kita saat berdoa? Jangan-jangan, menunda sebenarnya adalah tanda Allah sayang, sebab Allah tahu bahwa kita belum mampu untuk khusyuk dalam ibadah atau doa yang lain.

Inilah indahnya berbaik sangka kepada Allah. Penundaan yang awalnya membuat kecewa, perlahan berganti menjadi rasa syukur. Dan hati jadi lebih lapang untuk menerima bahwa takdir terbaik adalah apa yang dihadirkan-Nya saat ini. πŸ’—

Rumah untuk Jiwaku

Ramadhan udah lewat sebulan, bahkan Syawal aja udah lewat, tapi rasanya masih ngeganjel kalau nggak nulis #refleksiramadhan tahun ini. Buat aku baca lagi nanti-nanti.

Sebelum Ramadhan datang, hati gelisah nggak karuan, ada rasa hampa yang nggak bisa dijelaskan walau berusaha kutepis dengan banyaknya ibadah. Saking frustrasinya, aku memulai malam Ramadhan dengan tangis, mengaku pada Allah bahwa ada yang salah dengan diri, memohon maaf-Nya, dan meminta pada-Nya satu hal: Ya Allah, tunjukkan jalan pulang untuk jiwaku.. πŸ₯ΊπŸ€²

Maha Baik Allah, Ramadhan selalu hadir membawa pendidikan bagi setiap hamba, tak terkecuali untukku. Sesuai doaku, dari Ramadhan kemarin, Allah seperti mengajakku untuk memaknai kembali makna pulang. Tangis yang awalnya tangis frustasi, perlahan berubah menjadi tangis penyesalan, lalu berubah lagi menjadi tangis syukur, sebab Allah benar-benar menuntun untuk menemukan jawaban dari apa yang aku minta.

Namun dalam perjalanan menemukan jawaban itu, aku bertemu banyak kenyataan pahit. Butuh keberanian untuk mengakuinya, dan butuh keberanian yang lebih besar untuk mau memulai memperbaikinya.

Ternyata, ada banyak salah yang belum benar-benar aku taubati.
Ternyata, aku masih saja bergantung pada diri.
Ternyata, aku belum sepenuhnya jujur mengakui kelemahan dan kehinaan diri di hadapan-Nya.
Ternyata, aku belum seingin itu untuk meraih ridho-Nya.

Hebat sekali ya, racun hati bernama kesombongan itu, datangnya halus sekali sampai-sampai tak sadar bahwa diri telah tergerogoti. 😭

Alhamdulillah, hadirnya Ramadhan menyadarkanku dari apa yang luput. Ternyata, Allah tidak pernah kemana-mana. Aku yang selama ini tanpa sadar menjauh.

Perlahan, kuketuk lagi pintu rumah itu.
Rumah untuk jiwaku.
Tempat dimana aku kembali bertemu dengan diriku sendiri.
Tempat dimana aku merasa terhubung dengan-Nya.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, tangis itu akhirnya pecah. Tangisan syukur. Tergugu di atas sajadah, aku berbisik dalam hati, "Allah.. Aku pulang.."

Lega.. πŸ₯ΊπŸ˜­

Pelajaran terbaik Ramadhan tahun ini: pulangkan jiwamu pada Allah, sebelum Allah benar-benar memanggilmu 'pulang'..

Rabu, 04 Januari 2023

Takjub pada Cara-Nya Mengantarkan Rezeki

Akhirnya punya buku ini :')

Panjang perjalanan sampai akhirnya buku Healing The Emptiness - Yasmin Mogahed ini bisa tiba di tanganku. Tapi biar kuceritakan dulu kenapa aku ngincer banget buku ini.

Tahun 2016, pertama kalinya aku mendengar nama Yasmin Mogahed. Salah seorang sahabatku merekomendasikan aku untuk baca buku beliau yang berjudul Reclaim Your Heart. Dia ngirim buku itu ke emailku dalam bentuk pdf, versi bahasa inggris. Gak tau sih ini legal atau nggak, soalnya di masa itu pdf nya bener-bener beredar banget jadi aku sempet mikir baik banget penulisnya bagi-bagiin pdf gratis? Wkwk. Ya wallahu 'alam sih, tapi kalo ternyata itu dari pembajakan, mohon maap aku gatau huhu.

Akhirnya aku baca buku itu and i loveeeed it so much! Walaupun bahasa inggris, tapi pemilihan katanya sederhana jadi masih bisa dimengerti. Dan aku suka banget sama pembahasannya. Tegas, lugas, banyak jleb-nya, tapi tidak menggurui. Juga banyak pemikirannya yang mindblowing dan bikin aku tergugah untuk terus balik lagi ke Allah. Masya Allah, tabarakallah..

Sejak saat itu, kunobatkan buku Reclaim Your Heart sebagai buku favoritku. Dan aku bercita-cita pengen punya buku aslinya. Pernah ada di toko buku versi terjemahan bahasa Indonesianya, tapi entah kenapa kurang sreg gitu sama terjemahannya, jadinya aku nggak beli. Baca yang bahasa inggrisnya lebih nampol, serius deh.

Tapi Allah mah Maha Baik dan Maha Mendengar doa, tahun 2018 aku coba kontak bibiku yang lagi tinggal di Amerika untuk cariin buku itu. Dan ternyata beneran dibeliin dooong huhuhu. Akhirnya buku Reclaim Your Heart resmi menjadi milikku setelah bibiku pulang ke Indonesia 2 bulan setelahnya. Alhamdulillah, senengnya bukan main! <3

Nah, jadilah pas tahun 2022 lalu Yasmin Mogahed ngumumin kalo dia launching buku baru yang judulnya Healing Your Emptiness, aku langsung ngincer bangettt. Cuma ya awal-awal launching harus sabar karena pasti susah banget dapetnya. Bulan-bulan pertama setelah launching aku cuma bisa liat review orang-orang aja di IG beliau sambil ngiler. πŸ˜ƒ

***

Beberapa bulan berlalu, ada berita kalo September 2022 Yasmin Mogahed mau ke Jakarta. Sudah pasti bukunya dijual doong.. Aku langsung nitip sama sahabatku yang jadi panitia volunteer acara di sana. Katanya harganya 378.000, jujur pas denger harganya langsung kepikiran, hmm mahal ya ternyata. Tapi karena saking pengennya, aku beraniin diri tetep pengen beli, uang mah bisa dicari lagi lah. Tapiii qadarullah, ternyata nggak dapet karena kehabisan :')

Akhir September 2022, bibiku yang pernah ngebeliin buku Reclaim Your Heart ngabarin kalau beliau mau ke Amerika bareng suaminya selama 1 bulanan lebih. Langsung kumanfaatkan momen ini untuk nitip buku Healing The Emptiness, dan di-iya-kan oleh bibiku, katanya nanti kalo udah sampe New York, bakal mampir ke toko buku langganannya.

Ternyata oh ternyata, sesampainya di Indonesia bulan Desember, bibiku ngabarin kalau katanya beliau udah cari ke beberapa toko buku seperti Strand dan Barns & Noble yang biasanya ada koleksi lengkap, tapi ternyata bukunya nggak dijual. Di Strand sama sekali nggak ada, di Barns & Nobel hanya jual online (nggak bisa pick up di tokonya), sementara waktu beliau di New York tinggal beberapa hari lagi jadi nggak memungkinkan pesen online di sana. Jadi nggak beli deh. Yah sudahlah ya..

Sebenernya bibiku itu sempet nawarin untuk beli online di Indonesia dan kalau aku punya link toko buku di marketplace yang jual minta dikirimin ke beliau. Tapi yang jual di marketplace ternyata belum banyak, sekalinya ada, harganya 395.000, hikss mahal banget. Jadinya aku nggak enak minta beliinnya (padahal kalo beli di New York pun sama sih harganya sekitar 25 dollar, sekitar 400ribu jugak wkwk). Akhirnya keinginan beli buku itu aku pendam lagi.

Meanwhile, di bulan yang sama, Desember 2022, salah satu sahabatku ngabarin kalau dia mau ke Singapura dan mau coba cari buku Healing The Emptiness juga di sana. Aku akhirnya nitip pengen jastip, tapi pas dikasih tau harganya ternyata 395.000 juga, hiks. Emang kayaknya buku ini tuh mahal yaa, sementara budget-ku maksimal di 300ribu. Dan jujur lagi bokek juga waktu itu wkwk, akhirnya dengan berat hati aku bilang ke dia kalo aku nggak jadi ikutan jastip.

Dia sempet ngasih tau aku, ada toko buku impor Konyv yang ternyata disana harganya lebih murah, 285.000 aja tapi PO-nya ternyata udah tutup dari bulan Oktober. Haha. Dan ternyata di akhir Desember sempet buka PO lagi tapi aku ketinggalan info. Hhhhh dah lah capek aku mah pasrah, kapan-kapan aja deh punya bukunya :'')

***

Nahh! Di titik pasrah inilah biasanya keajaiban terjadi. Kemarin, lagi bobo cantik di kasur, tiba-tiba HP geter ada telpon. Taunya dari mamang paket. Sempet bingung karena aku lagi nggak ada belanjaan atau paket yang ditunggu. Pas buka chat WA, mamangnya ternyata fotoin paket aku dan ternyata pengirimnya bernama Fitri. Fitri ini sahabatku yang pergi ke Singapura itu, dan 3 bulan lalu emang sempet nanya alamat rumahku sih. Oh mungkin emang waktu itu niatnya mau ngirim paket dan baru kirim sekarang, pikirku.

Pas paketnya dateng, lah tapi kok bentuknya buku? Aku bertanya-tanya isinya apaan. "Ah masa iya buku Healing The Emptiness. Nggak mungkin sih, itu kan mahal," kataku dalam hati. Eeh taunya pas dibuka beneran dooong isinya buku yang aku damba-dambakan ituu. Huaaa pengen nangiiiiissss 😭😭

   

Mana manis banget lagi dikasih surat segala. Ternyata dia emang udah berniat ngasih buku ini tapi nggak bilang-bilang aku.. Huaaa baik banget sih sobat aku iniiii. Surprise-nya berhasil banget karena aku nggak expect sama sekaliii. πŸ’—πŸ’—

Kaget, takjub, terharu, bengong, jadi satu pas aku akhirnya bisa pegang buku itu. Cuma satu yang ada di pikiran aku, ALLAH BAIK BANGETT. Ternyata, rezeki bisa bermacam-macam bentuknya, salah satunya berupa sahabat yang baik dan sayang aku huhuhu.. :")

Dan gemes aja gitu sama cara Allah merancang skenario. Dipikir-pikir, kalo ketika pas September itu aku langsung dapet bukunya, mungkin rasanya nggak akan sebersyukur ini. Ini udah mah dapetnya gratis, dibeliin sahabat sendiri sebagai hadiah, ada suratnya pula. Kesan secara emosionalnya jadi dapet banget. Dan jadi bersyukuuuur banget sama pemberian Allah ini. Alhamdulillah, makasih ya Allah.. Aku bahagia banget.. :")

Mpit, kalau kamu baca ini, makasih ya sekali lagi. Jazakillah khairan katsiran. Semoga Allah limpahkan kebaikan, keberkahan, kebahagiaan dan keselamatan untuk hidupmu. Makasih sudah menjadi sahabat yang baik selama 17 tahun ini. Walau jauh, tapi kamu selalu punya tempat tersendiri di hati aku. See you when i see you, insya Allah πŸ’–

***

Terus kuheran deh, kenapa temenku yang namanya Fitri pada baik-baik banget. Seminggu sebelum ini, Fitri yang lain beliin aku tas. Niat awal kami untuk ngobrol dan makan di sebuah cafe. Aku datang duluan dan nunggu sekitar 30 menit lebih awal. Eeh Fitri ini dateng-dateng langsung ngasih tas ke aku. "Haah, apaan? Buat aku?" Kataku, kaget.
"Iya, tadi tuh di jalan aku tiba-tiba dibelokin Allah mampir ke Eiger terus milih-milih tas dulu buat kamu."
"Iiihhh apaan siih random bangett, tapi jazakillah khair yaah," kaget, heran, seneng, dan terharu jadi satu. Random banget atulahh. 😭

Tapi lewat kejadian itu, lagi-lagi aku dibuat takjub dengan bagaimana skenario Allah bekerja. Sebenernya, sebelum pergi ke cafe tempat kami ketemuan, aku tuh sempet bingung mau pake tas apa. Karena aku berencana bawa mukena, tumblr dan dompet. Yang mana kalau pake tas selempang nggak muat (aku punyanya tas selempang kecil yang muat dompet sama hp doang), tapi kalau aku pake ransel kegedean.. Akhirnya aku berangkat bawa totebag ukuran sedang. Ternyata, tas yang Fitri beli itu ransel yang ukurannya pas, nggak terlalu kecil dan nggak terlalu besar. Pokoknya pas untuk kebutuhan aku deh. Masya Allah ya. πŸ˜‡

Pitong, kalau kamu baca ini, makasih banyak ya untuk segala kebaikanmu dan perhatianmu untuk aku selama ini. Nggak kerasa udah 14 tahun sejak kita saling mengenal. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih dan penjagaan-Nya yang terbaik. Jazakillah khairan katsiran say πŸ’–

***

Pelajaran yang aku dapatkan adalah ternyata Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan doa, maupun mengantarkan rezeki untuk kita. Semesta ini milik-Nya, dan mudah saja untuk Allah menggerakkan apa saja agar rezeki itu sampai ke tangan kita. Saat doa kita ditunda, percayalah Allah tidak diam. Allah sedang merancang skenario terbaik agar doa itu terkabul di waktu yang paling tepat untuk kita.

Semoga kita bisa selalu sabar dan berhusnudzon kepada Allah dalam menyikapi doa dan harap yang masih sedang "bergerak" menuju waktu terbaiknya. Yang perlu kita yakini adalah bahwa Allah pasti selalu mendengar dan selalu fast response dalam memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan kita.

Semoga atas setiap nikmat dari-Nya, semakin bertambah pula rasa cinta dan wujud syukur kita kepada-Nya. 

Kamis, 16 September 2021

Kau Tetaplah Seorang Ibu

Sudah lebih dari 5 tahun. Tepatnya, 5 tahun 4 bulan.

Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian, namun juga bukan waktu yang lama untuk memutuskan berhenti berikhtiar. Entah berapa "tamu bulanan" telah terlalui, yang perlahan mengajariku bagaimana menata rasa kecewa saat kenyataan belum juga bertemu dengan harapan.

Dalam 5 tahun ini, kualihkan energi untuk fokus menumbuhkan diri. Kucurahkan jiwa keibuanku untuk menumbuhkan orang lain, sampai akhirnya aku jadi curiga..

Jangan-jangan tangki cinta yang aku punya, jauh lebih besar dari yang aku pikir. Jangan-jangan kasih sayangku kepada sesama, memiliki energi besar yang berpotensi meluaaas sekali. Jangan-jangan jiwa keibuan di dalam diriku, terlalu besar untuk hanya mengasuh dan membesarkan 2, 3, atau 4 orang anak. Jangan-jangan kapasitasku jauh lebih besar dari itu.

Mungkin karena potensi yang besar itu, Allah ingin membuatku mencintai dengan bebas. Allah ingin aku merdeka dalam mengekspresikan sayang. Allah ingin aku menyayangi sesama dengan lingkup yang seluas-luasnya, dengan anak-anak ideologis sebanyak-banyaknya, tanpa harus dibatasi bilangan 2, 3, atau lebih anak biologis..

Mungkin, jika saat ini aku diberikan anak biologis, cintaku akan terbatas, menyempit sebatas memikirkan dan mengurusinya saja, tak lagi punya banyak waktu untuk menumbuhkan anak-anak manusia lainnya. Sementara potensiku mengasihi dan mendidik, ternyata lebih besar dari itu.

Mungkin, ada hal-hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, sebelum Dia menitipkan malaikat kecil-Nya di keluarga kecil kami. Persiapan, pendidikan dan bekal menjadi orangtua yang tak pernah kami tahu, yang menjadi kurikulum-Nya dalam mematangkan kedewasaan kami.

Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, prasangka-prasangka baik yang berusaha kubangun untuk membesarkan hatiku.

Tulisan ini bukan untuk mengkerdilkan peran ibu-ibu yang memiliki anak-anak biologis tentu saja. Anak adalah sebuah amanah yang besar, dan syurga insya Allah telah menanti untuk mereka para ibu yang berusaha menjaga amanah-Nya dengan baik. Semoga Allah selalu memampukan dan menguatkan para ibu yang sedang berjuang dalam medan juangnya..

Tulisan ini adalah untukku. Hiburan dan penguat untuk diriku sendiri bahwa dalam masa penantian, tetap ada banyak hal yang bisa dilakukan dan dikaryakan untuk-Nya.

Amanah tetaplah amanah. Baik mereka yang lahir melalui rahimmu, maupun mereka yang hadir karena mewarisi buah pikirmu. Pada akhirnya, hamil ataupun tidak, aku tetaplah seorang ibu. Dan pada keduanya, ada pintu kemuliaan yang Dia sediakan untukku.

Walaupun, tak kupungkiri, sering ada perasaan rindu ingin memeluk buah hati dari rahimku sendiri. Ada jiwa keibuan yang tak bisa kutolak yang merindukan kehadiran bayi mungil di dalam keluarga kami. Namun seiring waktu, akhirnya aku mampu berbesar hati.

Tak apa, jika tidak di dunia, semoga kelak aku bisa menjadi ibu bagi anak-anak syurga.

Senin, 30 Agustus 2021

Menyalakan Kembali Pijar Hati

 *dikutip dari Monday Love Letter #136, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, masih dalam nuansa pergantian tahun hijriyah, semoga api semangat dalam diri kita terus berkobar untuk terus berupaya menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi. Bertepatan juga dengan bulan Agustus yang identik dengan kemerdekaan, semoga kita bisa menjadi hamba yang merdeka, yang terbebas dari segala hal yang berpotensi menghambat penghambaan kita kepada-Nya. Sebab, hanya di dalam kepengaturan-Nya-lah kita bisa meraih kemerdekaan sejati, yakni merdeka dalam beribadah hanya kepada-Nya.

Apa kabarmu, sister? Bagaimana kabar keimananmu? Bagaimana hubunganmu dengan Allah saat ini, apakah sedang sangat dekat atau justru sedang merenggang? Bagaimana kualitas shalatmu dan ibadahmu yang lain, apakah tetap mampu mempertahankan kekhusyukan atau hanya sekedar menjalankan rutinitas dan menggugurkan kewajiban semata?

Makin hari, rasanya makin berat saja ya untuk bertahan dalam menampilkan performa terbaik sebagai seorang hamba. Kita pernah berada dalam masa dimana pintu masjid terbuka lebar untuk siapapun dan sebanyak apapun orang. Kita pernah berada dalam masa dimana kajian digelar dimana-mana, dari mulai di masjid besar sampai di rumah guru-guru kita. Support system dalam menjaga iman tersebar dimana-mana, mudah sekali menemukan tempat "isi ulang" untuk jiwa-jiwa kita yang rapuh dan hampa. Beruntunglah jika kamu masih bisa menjaga iman dalam situasi seperti ini.

Saya pernah berada pada masa dimana jiwa terasa begitu kosong. Berminggu-minggu terlewati dengan perasaan gelisah. Aktivitas dilakukan dengan perasaan hampa. Berusaha menghibur diri dengan pergi ke alam, menonton ceramah atau video motivasi, bersilaturahim dengan teman, terkadang curhat juga, namun tetap saja, kosong. Seperti ada lubang besar di dalam hati dan saya tidak tahu lagi harus mengisinya dengan apa.

Lama kelamaan, ibadah mulai kehilangan maknanya. Dijalankan hanya sebatas rutinitas saja. Beberapa amalan rutin harian ditinggalkan, tergantikan oleh aktivitas lain yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Ah, biar sajalah buang-buang waktu seperti ini, pikirku saat itu. Sedih sekali jika saya ingat kembali masa itu. Saat saya seharusnya sedang merasa paling butuh dengan Allah, malah dengan sengaja menjauh dan mengabaikan-Nya. Sebuah kesalahan dan kebodohan yang nyata dari seorang hamba yang tidak tahu diri.

Setelah sekian lama, akhirnya saya merasa lelah. Lelah berlari dari-Nya. Lelah karena terus-menerus menolak fitrah jiwa yang terus memberi sinyal bahwa jalan yang saya tempuh sudah salah dan melenceng dari jalur. Ada rasa gelisah dan rasa bersalah yang tidak bisa saya hindari sehingga membuat saya akhirnya berhenti dan berbalik arah, mencoba menemukan kembali arah jalan "pulang".

Ternyata, proses kembali tersebut tidak semulus yang saya bayangkan. Saat saya mulai kembali membaca al-Quran dengan harapan diri ini dapat kembali tercahayai, ternyata hati saya tetap hampa. Saat saya berusaha khusyuk dalam shalat, saya sulit sekali merasa terhubung dengan-Nya, sekuat apapun saya berusaha fokus. Saat saya bersilaturahim atau menghadiri kajian untuk berusaha "mengisi ulang" jiwa, tetap saja tidak mampu mengisi bejana jiwa saya yang kosong. Ya Allah, kenapa? Ada apa ini? Kondisi ini lebih membuat saya gelisah, seakan sedang tersesat dan tidak juga bertemu jalan pulang. Saya seperti sedang kehilangan diri sendiri.

Berhari-hari saya menghadapi kebingungan itu. Hingga suatu hari seorang sahabat menyampaikan sebuah perenungan tentang suatu hikmah yang didapatkannya dari suatu kajian dan sampai menangis saat menyampaikannya. Saat itulah saya betul-betul sadar bahwa ada yang salah dengan hati saya. Di saat seperti itu, biasanya saya akan ikut menangis atau setidaknya terharu dan merasa hangat jika mendengar sebuah hikmah. Tapi ketika itu, rasanya kosong. Tidak ada yang bergetar sedikitpun di dalam hati saya. Dingin. Kaku.

"Hei hati, kamu kemana? Kamu kenapa?" Saya takut sekali saat itu, takut hati saya menjadi mati. Bagaimana bisa hati ini tidak bergetar saat ayat-ayat-Nya dibacakan? Ya Allah, saya ingin kembali!

Malam itu saya sulit tidur. Masih dengan harapan mendapatkan secercah cahaya untuk menembus jiwa, saya akhirnya berusaha tidur dengan sebelumnya berdoa terlebih dahulu. "Ya Allah, jika Engkau masih mau memberikan jalan untukku kembali, tolong bangunkan aku di waktu tahajud."

Ternyata, Allah mendengar doa saya. Tanpa alarm, saya bangun sendiri pukul 3 pagi, tidak lama setelah saya tertidur. Saya tangkap ini sebagai sinyal baik dari Allah sehingga saya bergegas ke kamar mandi dan berwudhu. Akhirnya, saya shalat tahajud lagi, setelah sekian lama.

Saya punya memori baik tentang shalat tahajud, waktu-waktu tahajud memang waktu-waktu paling syahdu dimana saya bisa berduaan dengan Allah, curhat dan berdoa sepuas-puasnya hingga menangis tersedu-sedu. Tapi malam itu berbeda. Saya tidak merasa betul-betul hadir dan tidak merasakan kehadiran Allah kekhusyuk apapun saya mencoba. Rakaat demi rakaat terlalui, dan hingga shalat itu selesai, saya tidak juga merasakan ketenangan yang saya rindukan itu. Frustrasi!

Akhirnya saya duduk di atas sajadah, beristighfar sebanyak-banyaknya. Saya teringat memori lama saat saya beristighfar setelah tahajud dan saya sesegukan setelahnya. Maka saya praktekkan kembali istighfar saat itu, berharap hati yang dingin ini dapat menghangat kembali. Tapi aneh! Istighfar dan dzikir-dzikir yang saya dawamkan saat itu, tidak juga membuat hati saya menghangat. Rasanya masih kaku, seperti ada sesuatu yang menghambat entah apa. Ya Allah, ini kenapa..

Setelah berdzikir, biasanya saya melanjutkan dengan doa. Tapi saat itu saya terdiam lama, tidak tahu harus berdoa apa. Jika dzikir-dzikir barusan tidak bisa membuatku terhubung dengan-Nya, bagaimana saya bisa berdoa dengan kondisi seperti ini? 

Perasaan hati saya sudah tidak karuan ketika itu. Saya hanya ingin kembali kepada-Nya, namun mengapa shalat dan dzikir saya tidak bisa menghantarkan diri saya kepada-Nya? Sampai-sampai saya tidak tahu harus berdoa apa untuk bisa "memanggil"-Nya. Bahkan saya tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan hati saya sendiri.

Di tengah kefrustrasian itu, karena saya tidak tahu harus dengan cara apa lagi agar bisa terhubung dengan-Nya, saya memanggil-Nya dengan suara yang sangat lirih, "Rabbi..." Di saat itulah, di saat saya berada dalam titik yang paling pasrah dan tidak tahu harus bagaimana lagi selain memanggil nama-Nya, air mata saya akhirnya keluar. 

"Rabbi.." saya memanggil-Nya lagi dan tiba-tiba saya merasa sedang dipeluk oleh-Nya. Saat mengucap kata Rabbi, saya teringat kembali ayat tentang setiap ruh yang sudah pernah berjanji dan mengikrarkan bahwa Allah adalah Rabb-nya. Maka air mata yang saat itu keluar, pastilah merupakan dorongan dari dalam ruh (jiwa) yang sudah sangat rindu untuk kembali pada fitrahnya menghamba. Ya Allah, ternyata Engkau masih mau menerima hamba-Mu yang sudah sombong ini! :''''(

"Rabbi.." air mata saya tidak berhenti mengalir, rasa bersyukur dan merasa bersalah melebur jadi satu. Rasanya lega sekali ketika saya akhirnya bertemu dengan jalan pulang dan "rumah" yang selama ini saya rindukan.

Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Setelahnya, doa-doa yang malam itu saya panjatkan terasa nikmaat sekali. Besar harapan saya, agar Allah tidak mencabut kembali kenikmatan ini. Semoga saya bisa terus menjaga rasa syukur ini dengan lebih berhati-hati dalam bertindak. Pasti ada banyak dosa yang sebelumnya saya abaikan. Ada banyak kelalaian yang tidak segera saya taubati sehingga menutupi cahaya yang Dia hadirkan. Bismillah, semoga Allah menuntun saya dan kita semua dalam mengerjakan perbaikan-perbaikan diri hingga bisa mencapai derajat paling mulia di hadapan-Nya, yakni derajat takwa.

Sister, jika akhir-akhir ini kamu sedang merasa lelah dan gelisah, pertemuanmu dengan suratku ini pasti bukanlah kebetulan. Bisa jadi ini adalah sinyal baik dari-Nya untukmu memanggil kembali hati dan jiwa yang mungkin pendar cahayanya sedang terhalang. Jangan menunda terlalu lama. Kembalilah segera, semoga kamu pun menemukan rumah bagi jiwamu dan mendapatkan ketenangan yang selama ini hatimu rindukan. Allah pasti akan menuntunmu menemukan jalan pulang.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 28 Desember 2020

Buku Perdana dan Rasa Takut


Ini pukul 1:08 pagi, dan aku masih terjaga. Entahlah, ada yang aneh malam ini. Biasanya jam segini aku sudah terlelap, atau setidaknya sudah mengantuk. Tapi kali ini, walaupun mataku terasa lelah, tapi badanku sepertinya masih belum mau diajak beristirahat.


Sejak jam 10 malam tadi, aku mengirim undangan soft launching buku Dear, Sister of Deen, buku pertamaku yang malam ini insya Allah akan dilakukan peluncurannya. Aku mengirim undangan ke grup keluarga, kepada teman-teman dekat, serta beberapa orang yang kuanggap penting dalam hidup. Sambil meminta doa, betul-betul meminta doa dari mereka agar karya ini menjadi karya yang berkah. Perasaanku saat ini tidak karuan, excited tentu saja, tapi ada satu perasaan yang sangat dominan, yaitu rasa takut.


Bukan, bukan takut bukunya tidak laku atau hanya sedikit yang membeli, bukan itu. Tapi rasa takut diri ini akan menjadi seseorang yang lain, yang terbang terlalu tinggi sehingga lupa di mana dia harus berpijak. Takut apresiasi membuat diri ini menjadi sombong padahal segala puji hanyalah bagi Allah. Takut aku yang menulis buku tidaklah sebaik apa yang orang-orang kira, takut dicap Allah jadi orang yang mengatakan apa-apa yang tidak dia kerjakan. Dan aku takut, tenggelam dalam kekecewaan atas diriku sendiri karena tak cukup baik dalam mengamalkan apa-apa yang kutulis di dalam buku. Malam ini rasanya gelisah, walaupun mungkin kegelisahan itu tak nampak dari raut wajahku. Tapi rasa takut itu benar adanya.


Allah, di saat seperti ini, aku sangat butuh tuntunan-Mu agar apa yang kulakukan tetap berada dalam jalur yang benar.


Allah, di saat seperti ini, aku sepertinya perlu lebih banyak merapal syukur agar selalu ingat bahwa segala pencapaian dan keberhasilan adalah karena kuasa-Mu.


Allah, di saat seperti ini, aku sangat butuh untuk dikuatkan dalam memegang niatku hanya untuk-Mu. Sungguh aku sangat takut ada tujuan lain yang menumpang dalam perjalananku mengukir karya yang ingin kupersembahkan hanya untuk-Mu.


Allah, karya ini merupakan karya yang tak seberapa, tapi jika pesan-pesan di dalamnya membuat banyak orang untuk semakin dekat kepada-Mu, lancarkanlah dan jadikanlah karya ini karya yang meluas.


Allah, semoga karya ini bisa mengalirkan pahala jariyah untukku yang kelak akan terbujur kaku di dalam tanah. Semoga ada banyak kebaikan berantai-rantai yang dihasilkan dari karya ini untuk menggantikan dosa-dosa yang aku sesali dan ingin aku tobati. Semoga karya ini bisa menjadi inspirasi agar semakin banyak hamba-hamba-Mu yang bersyukur dengan menghasilkan karya-karya besarnya, menampilkan citra muslim yang baik dan mengharumkan Islam dengan berjamurnya muslim-muslim berkualitas.


Allah, kuatkan aku, bimbing dan tuntun aku, istiqomahkan aku, agar ini tidak menjadi karya yang terakhir. Semoga tak ada kata berhenti untukku mewujudkan syukur sampai Engkau berhentikan jantung ini pada degup yang terakhir.


Allah, aku rindu. Tapi bekalku belum cukup untuk pulang. Semoga masih ada waktu.


Kamis, 03 September 2020

Ketika Dunia Tidak Berputar Untukku

Tulisan ini adalah tulisan yang saya tulis dalam kulwap (kuliah WhatsApp) untuk Sister of Deen pada 12 Mei 2020 lalu, di malam ke-20 Ramadhan, 1441 H. Sepenggal cerita kehidupan yang semoga bisa diambil hikmahnya.

***

APA TITIK TERENDAH SAYA?

Sebenarnya, jika saya flashback perjalanan hidup saya bertahun-tahun ke belakang, saya sering kesulitan menjawab jika ada orang yang bertanya tentang titik terendah saya. Seingat saya, saya belum pernah mengalami ujian hidup yang ekstrim yang membuat saya stress berkepanjangan. Masalah hidup tentu saja ada, tapi jika saya mendengar pengalaman hidup orang lain, rasanya masih banyak orang-orang yang ujian hidupnya jauh lebih berat dari saya. Sementara untuk saya, rasanya banyak mudahnya dibanding sulitnya. Apakah menyenangkan? Sejujurnya iya, tapi tidak otomatis membuat hidup saya terasa "penuh". Kok bisa? Nanti saya ceritakan.

 

Walaupun begitu, saya pernah mengalami pahitnya ditampar oleh realita ketika saya menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi. Seperti ketika saya berekspektasi pada suami saya di awal menikah dulu, ketika saya mempercayakan sebuah tugas penting kepada orang lain dan berpikir bahwa hasilnya akan sempurna jika ia yang mengerjakannya, ketika saya menceritakan impian saya namun tidak diterima, dan seterusnya. Melelahkan sekali menjalani hidup dengan bergantung pada ekpektasi. Tanpa sadar, saya jadi sering mengeluh, susah bersyukur dan lebih mudah marah, membuat saya jadi lebih sulit bahagia. 

 

BERDAMAI DENGAN EKSPEKTASI

Perlu beberapa kali Allah memberi "tamparan" itu sampai akhirnya saya menyadari bahwa apa yang ada di luar diri saya adalah di luar kendali saya. Tidak semua orang harus sempurna dan tidak semua keadaan harus selalu terkendali. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah pikiran, perasaan, dan tindakan kita ketika menghadapi itu semua. Apakah mau menuntut keadaan terus-menerus atau menjadi yang menerima dan memperbaiki diri lebih dulu?

 

Sejak saya sadar bahwa rumus berdamai dengan keadaan pertama-tama adalah menerima, ini yang kemudian saya latih terus menerus ketika saya bertemu realita yang tak sesuai harapan. Awalnya sulit tentu saja, sebab hati ini sudah terlalu terbiasa untuk berkeluh kesah.

 

Untungnya, hati kita tidak bisa melakukan 2 hal dalam satu waktu. Jika saya mendapati diri saya mengeluh, saya langsung menepisnya dengan syukur. Daripada mencari banyak hal untuk dikeluhkan, saya paksa diri saya untuk menemukan hal-hal yang bisa disyukuri. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah pula, kebiasaan mengeluh itu kini sudah berkurang banyak.

 

Kita mungkin tidak bisa menghentikan masalah yang datang, tapi kita bisa mengontrol energi kita, apakah energi tersebut mau kita fokuskan untuk mengeluh, atau mau kita gunakan untuk berikhtiar dan merapal syukur? Keduanya sama-sama membutuhkan energi, tinggal kita memilih, mau fokus pada yang mana?

 

PERJUANGAN SABAR YANG TAK MUDAH

Saya juga pernah mengalami ketika ikhtiar yang saya lakukan terasa begitu jauuh garis finishnya hingga menguras energi dan emosi saya. Seperti ketika saya menyelesaikan skripsi saya beberapa tahun lalu, membuat saya harus menahan malu karena baru lulus di semester ke-11, menyisakan beberapa kenangan buruk yang sejujurnya tidak ingin saya ingat lagi.

 

Ada pula beberapa ikhtiar kebaikan yang terkadang membuat saya berkali-kali ingin menyerah, membuat bimbang antara apakah saya perlu untuk tetap maju dan bertahan, atau memilih tidak peduli dan menghentikan perjuangan. Salah satunya, ketika datang masa-masa dimana saya mulai merasa "lelah" saat berikhtiar memiliki keturunan. Sebenarnya ini jarang terjadi, tapi terkadang menyisakan tanya didalam hati, "harus menunggu berapa lama lagi?" 


Atau ketika saya diamanahi melakukan sebuah project kebaikan. Nyatanya, mengupayakan kebaikan tidak selalu lancar dan disambut baik oleh orang lain. Jika sedang di puncak lelah, rasanya ingin menjadi orang yang juga melepas kepedulian dan menghentikannya. Tapi saya tahu ini pikiran yang salah, lalu saya beristighfar dan mencoba bangkit sekali lagi.

 

Memang, ketika kita mengupayakan sesuatu, ada saat-saat dimana kesabaran kita benar-benar diuji. Ketika menghadapi situasi seperti ini, jika saya hanya fokus kepada hasil, yang ada hanyalah frustasi dan kecewa. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya saya menemukan formulanya, bahwa bersabar adalah tentang menjalani proses, bukan menunggu hasil. Fokus kita adalah pada proses ikhtiarnya. Selama niat kita benar karena Allah dan bertujuan dalam rangka ibadah kepada Allah, tidak ada alasan untuk berhenti dari medan perjuangan. Hasil itu urusan Allah, maka tawakkal adalah kunci agar hati kita terselamatkan dari rasa kecewa.

 

TERNYATA, BERSYUKUR PUN TAK SEMUDAH ITU

Seperti yang tadi saya ceritakan di awal, dibanding ujian kesabaran, berbagai nikmat dan kemudahan hidup ternyata lebih membuat saya gelisah dan lebih nyata tantangannya untuk saya. Menerima banyak kebaikan dari Allah dan merasakan kasih sayang-Nya yang tiada henti, membuat saya merasa "berhutang" kepada Allah. Saya jadi berpikir, apa kiranya yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan Allah ini? Apa yang bisa saya persembahkan sebagai wujud terima kasih kepada-Nya?

 

Bagi saya ini jauh lebih sulit karena kenyamanan hidup seringkali membuat saya terlena menikmatinya, membuat saya hanya memikirkan diri sendiri tanpa tahu bahwa banyak orang lain yang perlu dibantu. Sebab kita ini diamanahi Allah bukan hanya untuk menjaga hubungan kita dengan Allah, tapi juga menjalin silaturahim dengan sesama manusia. Tak cukup hanya taat, kita juga harus jadi bermanfaat.

 

APAPUN JALANNYA, BERJUANG ADALAH PILIHAN

Dari perjalanan hidup saya itu, saya mendapat kesimpulan bahwa selain bersabar, ternyata ada perjuangan yang juga sama beratnya, yaitu: mewujudkan syukur. Syukur terhadap apa saja! Terhadap harta kita, keluarga kita, kesehatan kita, waktu kita, bahkan terhadap hidayah Allah untuk kita.

 

Karena itu saya berusaha sekuat mungkin untuk mengupayakan istiqomah, sebab itulah hal terbaik yang bisa saya berikan kepada Allah atas nikmat iman, nikmat islam, nikmat ibadah, dan nikmat ukhuwah. Karena itu saya memaksa diri saya untuk terus melakukan project-project kebaikan; dengan menulis, dengan berbagi ilmu, dengan mengasuh komunitas, dengan program sosial, dengan apa saja yang membuat kebaikan itu jadi berantai-rantai dan membuat saya bisa meneruskan kasih sayang Allah yang rasakan kepada orang lain. :”)

 

Ternyata.. mau bersabar ataupun bersyukur, sama-sama tidak ada yang mudah. Keduanya sama-sama meminta perjuangan dan pengorbanan kita, serta kebergantungan kita kepada-Nya. Pada akhirnya, tugas kita adalah menjalani kehidupan ini dengan sebaik-sebaiknya sesuai dengan ketentuan-Nya dan kembali pulang kepada Allah dengan membawa buah dari perjuangan sabar dan syukur yang kita jalani selama di dunia.

Sekian. Wallahu’alam bisshawab..


Jumat, 15 Mei 2020

Untuk Diriku Tahun 2012


"Do something today that you will thank yourself in the future."

So nostalgic, nemu notes ini ditempel di loker lamaku yang ada di rumah orangtua. Sampe senyum sendiri bacanya. Ooh jadi gini rasanya, berterima kasih sama diriku di masa lalu. So proud of her. ❤

γ…€γ…€γ…€

***

γ…€γ…€γ…€
Dear Husna di tahun 2012, aku sudah lupa apa yang terjadi padamu di tahun itu. Tapi.. terima kasih ya, karena sudah berjuang dan tidak menyerah di saat itu. Terima kasih sudah menyikapi setiap takdir-Nya dengan amat bijaksana dan mewariskan kebiasaan syukur itu kepadaku hari ini.

Dari semua support system yang kupunya, ternyata kamulah yang terbaik. Semoga aku di hari ini, juga bisa sehebat kamu ya, bahkan lebih hebat lagi.

Doakan aku, supaya aku juga bisa mewariskan pola pikir, pola sikap, pola tindak, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik untuk diriku di masa depan.

Semoga diriku di masa depan juga bisa berterima kasih kepadaku, seperti aku yang berterima kasih kepadamu hari ini.

Love you, and so proud of you!

-dari Husna di tahun 2020

Selasa, 05 Mei 2020

Refleksi 28 Tahun

Ulangtahunku udah lewat beberapa hari lalu. Biasanya tiap ultah aku pasti nulis refleksi di diari. Tapi akhir-akhir ini lagi males nulis buku harian, jadi langsung nulis di blog sajalah.

Ulangtahunku tahun ini menarik. Nggak banyak orang yang ingat. Seperti biasa, satu-satunya orang yang nggak pernah lupa ngucapin adalah ambu, ibuku.

Ulangtaun paling flat pokoknya kemarin tuh karena minim ucapan banget. Tapi aku nggak masalah sama sekali sih. Karena makin kesini makin ngerasa nggak ada yang spesial dari ulangtaun. Justru itu aku jadiin momen aku dan diriku sendiri aja. Untuk evaluasi dan muhasabah diri. Nggak perlu perayaan-perayaan atau selamet-selametan.

Ulangtahun yang ke-28 ini, yang ada di pikiranku cuma 2;
Pertama, 28 tahun ini bukan waktu yang sebentar men untuk hidup di dunia. 28 tahun tuh cukup lama, apalagi bentar lagi mau 30. Udah banyak kesempatan waktu yang Allah kasih untuk aku hidup di dunia ini. Membuatku bertanya kepada diriku sendiri tentang satu pertanyaan besar: kamu udah ngapain, Na? Udah sebermanfaat apa di hidup yang udah 28 tahun ini?

Kedua, karena 28 adalah waktu yang cukup lama untuk hidup di dunia, aku jadi mikir, sisa waktuku berapa lagi ya? Sampe umur 30-ankah? 40 kah? 50? berapa? Nggak ketebak sama sekali. Bahkan bisa jadi sisa waktuku cuma beberapa bulan lagi, atau beberapa hari lagi? Who knows? Dan ini bikin aku jadi mulai berpikir tentang kematian.

Beberapa minggu lalu menjelang Ramadhan, ada seorang saudara yang meninggal. Dan aku ikut nganter ke makam dan melihat prosesi pemakamannya. Dari mulai parkir, terus menyusuri jalan sampai akhirnya nyampe ke depan liang lahat, saat itu tuh aku berasa kayak lagi simulasi kematian. Nih Na, kalau nanti meninggal, nanti kamu kayak gini.. Aku ngingetin diriku sendiri.

Terus pas mayatnya dimasukin ke kuburan kan dia diadzanin dulu ya. Disitu aku mikir, Ya Allah.. Hidup tuh singkat banget ya, cuma dari adzan ke adzan.. :"

***

Hari ini, rasanya udah nggak pantes buat ngurusin perkara dunia doang.

Hari ini.. saatnya lebih fokus menebarkan manfaat dan menebarkan cahaya untuk orang lain, biar dapet banyak amal jariyah pas udah masuk kubur nanti.

Hari ini.. saatnya lebih serius mengerjakan proyek-proyek untuk akhirat dan nggak itungan buat ngorbanin apa yang dipunya selama dipakenya untuk tabungan akhirat.

Hari ini.. saatnya lebih fokus untuk bekal mati.