Senin, 20 Agustus 2018

Monday Love Letter #5 - Bersabarlah untuk Dirimu


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Senang sekali bisa menulis lagi dan mengirim surat cinta untuk perempuan hebat sepertimu! Tetap bersinar dan jadi berharga ya sister, karena orang pertama yang harus mencintai dirimu adalah dirimu sendiri tentu saja! :D

Tapi sebagai sesama perempuan, saya juga pernah merasakan bahwa mencintai diri sendiri adalah hal yang membutuhkan proses. Apalagi jika kita pernah punya memori masa lalu yang tidak menyenangkan dan membuat kita membenci diri sendiri, prosesnya tentu akan lebih berat lagi.

Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri, karena sebetulnya setiap diri kita pasti tahu caranya. Hanya saja, kita perlu untuk bersabar untuk menjalani prosesnya. Setiap yang membutuhkan proses, tentu membutuhkan waktu. Dan setiap yang membutuhkan waktu, tentu membutuhkan kesabaran. Maka bersabarlah untuk dirimu sendiri.

Seperti ulat yang tetap menikmati setiap proses dalam kepompongnya hingga ia menjadi kupu-kupu yang cantik. Bayangkan jika ulat tersebut tidak cukup sabar menjalani prosesnya, sayap-sayapnya tidak akan menjadi kuat dan indah. Ia tidak akan mampu terbang karena proses yang belum sepenuhnya selesai. Bahkan ia bisa saja mati jika memaksa untuk keluar dari kepompong sebelum waktunya. Begitupun kamu, dear.. Nikmatilah setiap proses metamorfosismu sampai kamu bisa menerima dan mencintai dirimu sendiri seutuhnya.

Kamu pernah mengunduh aplikasi di ponselmu, kan? Bukankah hal sesederhana mengunduh dan meng-install aplikasi atau software pun ada prosesnya? Kira-kira apa yang akan terjadi jika kita meng-cancel proses itu sebelum 100%? Gagal. Harus mengulang dari awal. Butuh waktu lagi. Butuh menunggu dengan waktu yang lebih lama. Hanya karena kita tidak bersabar menunggu, akhirnya kita harus membayarnya dengan waktu yang lebih lama.

Kita yang selama ini mungkin terbiasa merendahkan diri sendiri, terbiasa meracuni pikiran kita dengan hal-hal yang negatif, terbiasa memandang negatif terhadap diri sendiri, lalu di satu waktu ingin berusaha mengubahnya secara instan, tentu tidak akan semudah itu. Tapi bagaimanapun juga, apresiasilah dirimu yang ingin berubah menjadi lebih baik! Karena keinginan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik adalah hal yang patut disyukuri dan disambut dengan baik.

Setelahnya, bersedialah untuk menjalani prosesnya. Kita harus mau berproses untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dengan yang lebih baik. Misalnya dengan melatih diri untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki, melatih diri tersenyum di depan cermin dan mengatakan "aku mencintaimu, diriku." Atau dengan membuat surat untuk dirimu sendiri untuk mengungkapkan rasa terima kasih terhadap dirimu sendiri. Ya, dirimu harus diapresiasi! Oleh dirimu sendiri.

Bersabarlah disetiap prosesnya. Sampai kebiasaan-kebiasaan baik itu berhasil ter-install kedalam dirimu dan kamu bisa dengan bangga berdiri di atas kakimu sendiri karena rasa cinta dan penerimaan yang besar terhadap dirimu sendiri. Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan biarkan impianmu untuk terbang kalah oleh dirimu sendiri. Ingat, Allah bersamamu.


PS. Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 13 Agustus 2018

Monday Love Letter #4 - Hidup kayak Air Mengalir? Bisa sih, tapi...


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Alhamdulillah bertemu lagi dengan hari Senin setelah melewati satu pekan yang -bagi saya sih- sepekan kemarin berjalan cepat sekali. Apakah kamu merasakannya juga? :)

Anyway, sudah 2 bulan ini saya sedang membiasakan diri lagi untuk membuat buku jurnal harian, yaitu sebuah buku khusus yang berisi aktivitas sehari-hari beserta serangkaian to do list-nya. Tujuannya agar saya bisa "melihat" sudah sejauh apa perkembangan diri saya selama sepekan, sebulan, bahkan setahun. Memiliki jurnal harian membuatku bisa mengukur produktivitas selama sepekan; sudah melakukan apa, sudah bisa apa saja, target mana yang sudah tercapai, besok harus melakukan apa, dsb. Dan tentu saja, dengan cara ini  akan lebih mudah mengevaluasi diri di setiap minggunya karena progresnya terlihat dan bisa diukur.

Memiliki jurnal harian juga menjadi sarana pribadiku untuk lebih bersyukur. Begitu terasa Ke-MahaBaik-an Allah karena masih memberikan kesempatan untuk bertumbuh dan beramal shaleh. Selain itu, saya juga jadi lebih menghargai waktu. Bukankah dari setiap tanggal di kalender yang bergerak maju, menunjukkan bahwa setiap hari jatah hidup kita berkurang? Setiap kali kita bernafas, bukankah kita baru saja menggunakan jatah sedetik waktu kita, tanpa kita tahu berapa detik waktu lagi yang menjadi jatah kita. Ya, setiap orang diberi jatah waktu oleh Allah, sudah bijakkah kita menggunakannya?

"Kenapa sih kok kayaknya hidup harus seribet itu? Harus susah-susah bikin target, harus repot-repot evaluasi, kayaknya menjalani hidup seperti biasa pun hidup saya fine-fine aja tuh. Kayak air mengalir ajalah hidup mah.." Hehe, adakah yang berpikiran begitu? Memang sih, kita bisa saja hidup walau tanpa tujuan. Sekolah, kuliah, lalu lulus. Mencari uang lalu menghabiskannya. Bekerja, menikah lalu menikmati hidup hingga tua. Bisa saja. Tapi apakah hidup kita jadi bermakna?

Hal itu sama saja seperti kita mengendarai mobil, tapi langsung jalan tanpa tujuan. Bodo amat mau kemana deh, yang penting jalan. Bisa jalan mobilnya? Bisa sih, tapi nggak jelas kemananya. Yang ada malah ngabisin energi dan ngabisin bensin. Bisa juga malah nyasar. Kan sayang energinya, sayang waktunya, sayang bensinnya. Dipakai, habis, tapi tidak membawa kemana-mana.

Hidup pun begitu. Tanpa tujuan, kita hanya akan menghabiskan energi kita, waktu kita, materi kita, untuk sesuatu yang tidak membawa kita kemana-mana dan tidak menjadi siapa-siapa. Merasa sudah berjalan jauh padahal kaki kita masih berada dibelakang garis start. Rugi atau rugi banget?

So, penting ya ternyata untuk menentukan tujuan? Jika kita naik mobil dengan tujuan jadinya akan terukur, berapa kilo sih jaraknya? Butuh bensin berapa liter ya? Harus ke rest area atau nggak? Perlu siapin uang berapa? Semuanya akan jadi efektif dan efisien karena kita menghabiskan uang, waktu, dan tenaga untuk sesuatu yang jelas. Hidup pun begitu, kawan. Kita tidak bisa sekedar menggunakan jatah waktu kita tanpa kita tahu kita mau kemana, hidup kita untuk apa, mau mencapai apa.

"Baiklah, mulai saat ini saya akan membuat tujuan hidup saya! Saya akan jadi orang sukses, jadi orang kaya, jadi terkenal, keliling dunia, dan sebagainya." Eits, tunggu dulu. Menentukan tujuan memang penting, tapi jangan asal. Mulailah dari bertanya mengapa kita hidup. Bukankah Allah menciptakan kita dengan tujuan? Maka selaraskanlah tujuan kita dengan tujuan Dia yang menciptakan. Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan kita, masa' kita hidup semau kita sih? Da kita mah apa atuh, ibarat debu yang dibelah triliyunan kali. Cuma seorang hamba, lemah pula. Ga akan bisa hidup kalo nggak diatur sama Allah!

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" 
(QS. Adz-Dzariyat (51) : 56))

Nah, ketika kita sudah menemukan tujuan Allah menciptakan kita, maka hiduplah dengan tujuan itu. Dengan memegang tujuan bahwa hidup kita adalah untuk beribadah, akan mudah bagi kita untuk mengukur diri. Sudah belum aktivitas kita ditujukan untuk dan kepada Allah? Kita nggak akan rungsing sama distraksi dari lingkungan. Diajak ini hayu, diajak itu hayu. Nggak akan pusing sama pencapaian orang. Orang punya ini, mau. Orang punya itu, pengen. Orang bisa ini itu, galau. Jelas lah, karena kita nggak fokus sama apa yang menjadi tujuan kita. Malah sibuk sama perjalanan orang lain dan mengabaikan perjalanan hidup kita sendiri.

Ingat, ladies. Waktu kita terbatas. Jangan habiskan waktu kita dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan kita. Itu sama saja seperti menghabiskan bensin ke tempat yang bukan menjadi destinasi kita. Lebar ih da bensin teh sekarang mahal.. Hehe bercanda. Intinya, gunakanlah jatah waktu kita dengan bijak, efektif dan efisien sesuai dengan tujuan Allah menciptakan kita. Jangan tergiur dengan pencapaian orang lain karena kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain, tapi dengan diri kita sendiri. Dan jangan lupa kumpulkan bekal untuk kembali "pulang". Kita di dunia cuma transit, sist.

Senin, 06 Agustus 2018

Monday Love Letter #3 - Why You Should Be Grateful

Assalamu'alaikum sisters fillah :)

Kamu mungkin masih ingat, minggu lalu saya menulis tentang produktivitas, lalu terjadilah satu minggu yang tiba-tiba penuh dengan agenda. Seakan Allah ingin memvalidasi pernyataan saya Senin lalu. Nah lho, dengan agenda sebanyak ini, bisa nggak ngatur waktunya? Bisa nggak lawan malasnya? Hehe. Alhamdulillah semuanya terlewati dengan lancar, tentunya tidak lepas dari pertolongan Allah juga :)

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu atau ketika sedang merenungi tentang apa saja yang sudah saya lakukan hari itu, saya selalu merasa bahwa Allah sangat baik. Terlalu baik malah, sampai-sampai saya sering bertanya-tanya, pantaskah saya menerima begitu banyak kebaikan dari Allah ini. Ketika saya meminta sesuatu, lalu Allah kabulkan. Ketika doa saya belum diperkenankan oleh-Nya, ternyata saya mendapat sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya pintakan itu. Ketika saya berusaha dengan ikhtiar yang seadanya, Allah beri hasil yang banyak sekali, lengkap dengan bonusnya! Banyak sekali kejadian-kejadian dalam hidup yang membuatku semakin membenarkan bahwa Allah memang Maha Baik, seperti bunyi ayat pertama dalam surat pembuka dalam al-Quran, bahwa Allah itu; Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Kamu mungkin pernah bertemu banyak orang baik di dunia ini. Entah itu keluargamu, sahabatmu, bahkan sekedar orang asing yang tak sengaja bertemu denganmu di jalan. Di dunia ini memang selalu saja ada orang-orang baik dengan hati yang tulus, tak segan memberi dan tak berharap dibalas. Bayangkan jika setiap hari kita didatangi orang seperti itu, mencurahkan kebaikan yang tanpa henti kepada kita, apa rasanya? Awal-awal mungkin kita sangat berterima kasih, lama-lama jadi merasa nggak enak karena dia terlalu baik. Hehe, lucu ya manusia, bisa merasa nggak enakan sama orang yang terlalu baik.

Biasanya hal ini terjadi jika kita ada di posisi "sering menerima" sehingga muncullah perasaan tidak enak karena kita merasa kurang cukup membalas kebaikannya. Begitu pula dengan menerima terlalu banyak. Bayangkan saja jika kita melakukan pekerjaan yang upahnya hanya setara dengan dengan seratus ribu rupiah, tapi kita dibayar dengan uang satu juta, bukankan respon normal orang kebanyakan adalah tercengang dan menolak terlebih dulu? Kenapa? Karena kita sadar bahwa pekerjaan kita tidak layak untuk dibayar sebesar itu.

Nah! Allah jauuuuh lebih baik daripada orang baik yang ada di belahan bumi manapun! Tentu kalian setuju bahwa Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang sangaaat banyak. Tidak usah jauh-jauh melihat harta benda yang kita miliki. Kita sedang diam seperti saat inipun, sudah banyak sekali nikmat Allah yang bisa kita sebutkan. Pernahkah kita meminta oksigen kepada Allah agar kita bisa bernafas? Pernahkah kita memantau setiap degup jantung dan aliran darah di tubuh kita? Pernahkah kita membayangkan seandainya mata kita tidak bisa berkedip, atau sistem percernaan kita terganggu, atau kulit kita tidak memiliki kemampuan menutup luka dengan sendirinya? Begitulah Maha Baiknya Allah, nikmatnya senantiasa tercurah tanpa henti, baik yang kita minta, maupun yang tidak kita minta. Sadarkah kita?

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." -QS. An-Nahl (16) : 18

Coba pikirkan, bagaimana jika kita diharuskan membalas semua kebaikan dari Allah, sanggupkah? Bagaimana jika kita harus membayar nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, mampukah? Menghitungnya saja tidak mampu, apalagi membalasnya. Lantas, adakah sedikitnya rasa malu kita terhadap Allah? Pernahkah kita merasa "nggak enak" kepada Allah sementara kita sudah begitu banyak menikmati berbagai rezeki dan fasilitas yang Allah berikan. Kita telah menerima banyak, tapi hanya bisa membalas sedikit, bahkan lebih parah dari itu-- kita selalu saja merasa kurang.

Meningkatkan syukur adalah PR besar kita. Syukur yang tidak sekedar ucapan hamdallah, tapi menjelma dalam langkah. Syukur yang bukan sebatas di hati, melainkan sampai menjadi amal dan ketaatan. Bukankah Allah tidak meminta banyak dari kita selain agar kita hidup dalam taat dan mau diatur dengan aturan-Nya.. Maka tidak bisakah kita menjadi seorang hamba yang taat sebagai wujud syukur dan terima kasih kita kepada-Nya?

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah, ketika kita berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya, Allah kelak akan hadiahkan surga untuk kita. Wujud syukur yang kita niatkan untuk membalas kebaikan Allah, malah Allah balas lagi dengan nikmat yang tak terhitung besarnya. Lihatlah, betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang! :')

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" -QS. Ibrahim (14): 7

Mari kita sama-sama mengupayakan syukur terbaik kepada Allah.

Senin, 30 Juli 2018

Monday Love Letter #2 - Say Hi to Your Productive Day!

Assalamu'alaikum! Alhamdulillah bisa sampai di Monday Love Letter yang kedua, buat kamu yang terlewat membaca yang pertama, bisa cari di label "Monday Love Letter" yang ada di sebelah kanan blog ini. Dan kalau kamu ingin mendapatkan suratnya secara personal ke emailmu, bisa dengan cara meninggalkan emailmu di komentar, ya! Nanti setiap hari Senin kamu akan mendapatkan 2 Monday Love Letter dariku dan dari partnerku (we're planning a project now, this is just a spoiler, hehe). Syaratnya satu untuk bisa subcribe: ini khusus UNTUK PEREMPUAN :)


***
Pernahkah kamu merasakan "haahhh today I don't feel like doing anything" di awal harimu? Susah beranjak dari kasur, leyeh-leyeh main gadget sementara banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Ah, kurasa semua orang pasti pernah begitu. Jika mengawali hari dengan bermalas-malasan seperti itu, yang biasanya terjadi adalah kemungkinan besar kamu memang tidak akan melakukan apa-apa hari itu, say bye to productive day. Bahkan terkadang kita membuat pemakluman kepada diri sendiri, "biarlah sekali-kali malas-malasan seharian, pekerjaan hari ini akan kukerjakan besok". Nyatanya, besok pekerjaan malah menumpuk dan kita jadi keburu malas mengerjakan serangkaian to do list yang bejibun. Hayooo siapa yang pernah begituu? Tenang, saja juga pernah kok. Hehe.

Tapi apakah jika manusia memang punya sifat malas, lantas kita memakluminya? Apakah setelah kita tahu betapa merugi orang yang menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, kita tetap membiarkan 24 jam kita yang berharga berlalu begitu saja?

Hari ini sebetulnya saya sedang merasa ingin bermalas-malasan. Tapi nyatanya, diri ini tidak merasa tenang karena saya tahu jika saya tidak bisa produktif hari ini, saya pasti akan menyesal di akhir hari. Lalu bagaimana caranya memutus rasa malas? Tidak ada cara lain selain MEMAKSAKAN DIRI. Jika kamu harus menulis skripsi, maka segeralah bangkit dan buka laptopmu. Jika kamu sedang malas kuliah, maka segeralah bersiap dan berangkat ke kampus. Jika kamu seorang ibu rumah tangga yang sedang malas memasak, maka siapkan bahan-bahan dan mulailah memasak. Jika kamu bekerja di kantor dan harus menginput arsip yang begitu banyak, mulailah dengan mengerjakan satu arsip. Tidak ada rumus agar tidak malas kecuali kamu bergerak! Hanya itu yang bisa mengalahkan kemalasanmu. Tapi percayalah, once you get started, you'll keep going.

Pagi tadi, untuk menghalau rasa malas saya bergegas wudhu dan melakukan shalat Dhuha. Lalu sebuah ayat yang sangat saya hafal terlintas di kepala; wa minannaasi may-yasyrii nafsahubthighooa mardhotillah, wallahu raufum bil 'ibaad.. Surat Al-Baqarah ayat 207 yang artinya, "Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." Ayat ini tentu saja bukan sekedar kalimat berita yang hanya perlu ditanggapi dengan "oohh begitu.." lalu selesai, bukankah seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah saya yang termasuk kepada "diantara manusia" yang Allah sebutkan? Jika redaksi katanya adalah minannaas, maka berarti tidak semua manusia begitu, pada nyatanya hanya sebagian kecil saja. Masukkah saya pada yang sebagian kecil itu?

Sebetulnya semua manusia itu berkorban, bedanya adalah kepada apa dia berkorban. Ada yang berkorban untuk Allah dan ada yang berkorban kepada selain Allah. Kita kuliah, pasti banyak yang dikorbankan. Kita menikah, menjadi ibu, menggapai cita-cita, berkarir, akan ada banyak sekali hal yang dikorbankan oleh manusia demi tujuannya masing-masing. Pertanyaannya, itu semua untuk siapa? Jangan-jangan itu semua kita lakukan hanya sekedar memenuhi ambisi atau keinginan pribadi kita saja tanpa disambungkan kepada Allah atau kepada cita-cita akhirat kita. Kita bekerja siang malam, demi mewujudkan hal-hal yang mungkin hanya sampai pada sebatas tujuan duniawi saja. Jika untuk hal yang bersifat duniawi kita bisa mengorbankan banyak hal, apakah untuk Allah usaha kita juga sebesar itu?

Hmm.. Jadi kalau dipikir-pikir, sebetulnya orang malas itu tidak ada, ya? Semua orang pasti sibuk beraktivitas, menghabiskan 24 jam yang sama, yang membedakan adalah apakah aktivitasmu itu untuk Allah atau selain Allah? Jika kita bisa menghabiskan malam untuk mengerjakan tugas dari dosen, seharusnya kita juga bisa bangun di malam hari untuk shalat tahajud. Jika kita punya waktu untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di sosial media, seharusnya kita juga bisa menyediakan waktu untuk membaca quran. Jika kita sampai rela menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli gadget baru, kita juga seharusnya bisa menabung untuk berinfak atau berqurban. Hanya kita yang bisa menilai diri kita sendiri, sebenarnya selama ini saya sibuk menghabiskan waktu saya, untuk (si)apa?

Tulisan ini juga untuk diri saya sendiri. Saya pun sedang berlatih sedikit demi sedikit untuk memindahkan orientasi dunia saya kepada orientasi akhirat sepenuhnya. Tidak mudah memang, karena kita cenderung dibiasakan oleh lingkungan dan oleh stereotype yang berlaku di masyarakat bahwa punya harta banyak, punya jabatan tinggi, bisa menikah muda, atau menjadi terkenal itu keren. Seakan ridhonya Allah tidak lebih berharga dari itu semua. Hati-hati ah, kalau sudah begini, bisa-bisa kita tanpa sadar mengecilkan nilai dari keridhoan Allah itu sendiri sehingga merasa berat untuk berkorban dan merasa tidak worth it untuk kita jadikan tujuan. Ngeri.

Lho, kok dari malas jadi nyambung ke berkorban untuk Allah ya? Saya juga sempat heran kenapa ayat itu yang terpikir ketika saya sedang malas pagi tadi. Ternyata memang nyambung kok. Ingat, malas itu tidak ada. Jika saya merasa malas, sebenarnya saya bukan sedang malas, tapi kesibukan saya sedang bukan kepada Allah. Astagfirullah.

Alhamdulillah. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat yang sebetulnya lebih tepat untuk ditujukan kepada diri sendiri ini. Selamat menjalani sisa hari Seninmu dan hari-hari berikutnya dengan lebih produktif, semoga kita termasuk satu dari sebagian manusia yang mengorbankan diri untuk keridhoan Allah. Aamiin..

Senin, 23 Juli 2018

Monday Love Letter #1 - Deep Lesson from Prophet Ibrahim's Story

Assalamu'alaikum! Mau ada sedikit pengumuman niih.. Insya Allah blog ini akan rutin posting setiap hari Senin karena sekarang aku lagi bikin project kecil namanya Monday Love Letter. Semacam tulisan yang dibikin ala-ala kayak surat gitu deeehh.. Kalo nggak kayak surat, ya anggep aja surat lah yaa.. wkwkwk.. Yah seperti yang kita tahu, bagi sebagian orang hari Senin adalah hari yang cukup bikin mager karena harus memulai lagi aktivitas setelah kita bersantai-santai di weekend ya kann.. Haha. Semoga Monday Love Letter ini bisa melecutkan semangat di hari Senin dan bikin kita bisa memulai pekan yang produktif. Bismillah!

So, Stay tune on my blog every monday and you'll find a new post insya Allah (jamnya terserah aku weh yah, mengingat inspirasi itu kadang datengnya ga menentu haha). Thank you! 

***

Di Love Letter perdana ini ada sesuatu yang ingin aku bagi. Jadi kemarin itu ada acara Hujan Safir Sharing Session, temanya Finding the True Love sambil mengangkat dan meneladani kisahnya keluarga Nabi Ibrahim a.s. Kalau denger kata "Ibrahim", tentu kita familiar banget dong sama kejadian fenomenal dimana Nabi Ibrahim harus melaksanakan perintah Allah yaitu menyembelih Ismail, anaknya.

Yang menarik adalah, satu keluarga itu (Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail kecil) semuanya KOMPAK dan SEPAKAT untuk melaksanakan perintah Allah yang secara logika sangat nggak masuk akal itu. Perintahnya nggak main-main loh, nyembelih anak sendiri! Orangtua mana yang tega, coba? Tapi ketika Nabi Ibrahim bertanya kepada istrinya Siti Hajar dan kepada Ismail anaknya, keduanya kompak menjawab, "Jika itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah." Fyuhh, aku nggak kebayang kalau aku ada di posisi mereka, tauhidnya udah level tinggi banget itu mah. Tidak peduli pada logika yang bisa saja berteriak betapa tidak masuk akalnya perintah itu. Pun tidak gentar oleh rasa sayang orangtua kepada anaknya, rasa cinta anak kepada orangtuanya, semuanya dikorbankan demi menaati perintah Allah.

Hingga akhirnya perintah itupun dilaksanakan dan Ismail Allah ganti dengan seekor domba yang besar sebagai tebusan. Sampai-sampai kejadian ini Allah abadikan dalam QS. 37: 102-111 dan menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban. 

Kisah itu Allah ceritakan dalam al-Quran bukan sebatas sebuah dongeng belaka, melainkan untuk kita teladani. Bisakah kita seperti Nabi Ibrahim yang rela "menyembelih" kecintaan terhadap anaknya demi kecintaaan kepada Allah? Sanggupkah kita meneladani Siti Hajar yang sigap mematuhi perintah Allah dan sukses mendidik anaknya menjadi seperti itu? Sudahkah kita mencontoh Ismail yang tak gentar pada satu perintah yang bahkan bisa saja merenggut nyawanya? Masya Allah. Maka tak heran jika Nabi Ibrahim dijuluki bapak Tauhid, karena ia betul-betul sukses menanamkan ketauhidan pada diri istri dan anaknya hingga bisa melahirkan karakter yang siap berkorban apapun demi Allah. Semuanya atas izin Allah.

Luar biasa ya? Sepertinya diri ini masih harus banyak bercermin dan merefleksi diri. Kisah ini jadi contoh nyata bahwa cinta akan selalu meminta pengorbanan. Begitupun cinta kepada Allah, pasti akan Allah uji hingga terbukti bahwa memang kita hanya mencintai Allah saja. Laa ilaaha illallah. Tidak ada yang patut disembah, diibadahi, dan dicintai, kecuali Allah.

Yuk, kita sama-sama belajar mulai sekarang untuk mulai mengikis satu per satu hal-hal yang bisa menjauhkan kita dari cintanya Allah. Mungkin keegoisan kita, kesombongan kita, ambisi, rasa malas, kebergantungan kepada manusia, kecintaan berlebih kepada selain Allah, dan yang lainnya.  Pelan-pelan belajar menyembelih "ismail-ismail" yang kita cintai untuk mengejar satu-satunya cinta yang hakiki, yaitu cinta kepada Allah. Siapkan stok sabar yang banyakk :)