Senin, 21 Januari 2019

Monday Love Letter #25 - Dan Aku Belum Pernah Kecewa dalam Berdoa Kepada-Mu, Ya Tuhanku


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen! Senang sekali akhirnya Monday Love Letter bisa sampai di surat yang ke-25. Senin ini sedikit berbeda karena saya dan Novie bertukar jam mengirim surat sehingga saya harus menulis suratnya lebih pagi. Mohon maaf karena atas keterlambatan suratnya ya, hehe.

Saya akan memulai dengan satu pertanyaan untukmu. Pernahkah kamu merasa kecewa ketika berdoa kepada Allah? Hari gini, siapa sih manusia yang nggak punya keinginan? Apalagi jika kita melihat pencapaian orang lain yang kita lihat di media sosial, pasti kita pun jadi ikutan ingin ini, ingin itu, banyak sekali! Dan dalam perjalanan mewujudkan keinginan dan impian kita, tak jarang kita menengadahkan tangan untuk berdoa kepada Allah agar semuanya itu Dia wujudkan, betul?

Lalu pernahkah kita sampai merasa kecewa ketika berdoa kepada-Nya? Dari mulai pertanyaan halus seperti "Ya Allah, kok doaku nggak dikabul aja ya.." hingga ada perasaan marah ketika berdoa kepada-Nya, "Ya Allah kenapa doaku tak juga Kau kabulkan siih?!" Apakah kamu pernah begitu? Jika pernah, kita istighfar sama-sama ya..

Saya pernah membaca sebuah kisah Nabi Zakaria yang ada di awal QS. Maryam. Dalam surat itu Allah menceritakan bagaimana Allah menganugerahkan anak kepada Nabi Zakaria padahal ketika itu Nabi Zakaria sudah tua, tulang-tulangnya telah lemah dan telah beruban. Bahkan istrinya pun adalah seorang yang mandul. Namun dengan kuasa-Nya, mereka dapat memiliki anak yang kemudian diberi nama Yahya yang saat dewasanya diangkat menjadi Nabi untuk meneruskan perjuangan ayahnya.

Yang ingin saya garis bawahi disini adalah tentang bagaimana Nabi Zakaria berdoa kepada Allah, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." Kalimat "dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku" sempat membuat saya sedikit heran. Ada bagian dari otak saya yang sepertinya tidak bisa menerimanya, "Serius? Nggak pernah kecewa ketika berdoa sama Allah? Kok bisa?" Mungkin karena saya teringat pada kejadian masa lalu yang pernah membuat saya kecewa terhadap takdir-Nya. Normal kan? Karena pada kenyataannya memang tidak semua keinginan kita dikabulkan Allah.

Tapi apakah tidak kecewa dalam berdoa kepada Allah berarti doa kita selalu dikabulkan oleh-Nya? Saya rasa tidak. Semakin dewasa, saya semakin mengerti bahwa Allah selalu punya cara tersendiri dalam menjawab doa hamba-Nya. Saya mengenal seseorang yang pernah kecewa ketika kampus dan jurusan kuliah yang ia masuki bukanlah yang ia inginkan, tapi justru dari kampus dan jurusan itulah dia mendapatkan lingkungan pertemanan yang baik yang mungkin tidak akan dia dapatkan jika berkuliah di kampus impiannya.

Saya mengenal seseorang yang pernah kecewa dengan pola asuh orangtuanya di masa lalu, tapi justru dengan pengasuhan seperti itulah dia bisa memiliki prinsip hidup yang kuat yang mungkin tidak akan dia dapatkan jika dia lahir di keluarga yang lain.

Saya mengenal seseorang yang selalu punya harapan agar Allah memberi kesempatan untuk menjelajahi bumi-Nya, ternyata Allah kabulkan satu per satu dengan kejutan yang tak disangka-sangka. Saya juga mengenal seseorang yang selalu berdoa agar Allah memberinya keturunan dan Allah masih menahan keinginannya tersebut namun Allah menggantinya dengan kehadiran "anak-anak" ideologis yang sangat dia syukuri karena makna keturunan tidak hanya anak yang lahir dari rahimnya saja.

Seseorang itu, adalah saya. Mungkin kamu juga pernah mengalami hal yang serupa, atau bahkan punya cerita yang lebih "mengecewakan". Namun ketika kita berhasil menemukan hikmah yang besar dibalik setiap doa yang ditunda atau diganti oleh-Nya, kekecewaan itu akan menghilang begitu saja, berganti dengan rasa syukur dan rasa terima kasih yang besar karena ternyata takdir dari Allah selalu yang terbaik dan Dia selalu paling tahu apa yang kita butuhkan. Mungkin kita pernah kecewa ketika berdoa kepada Allah, tapi percayalah, jawaban Allah dalam setiap doa kita, tidak pernah mengecewakan.

Dari Abu Said bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Tiada seorang muslim pun yang memanjatkan suatu doa yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahim, melainkan Allah pasti memberinya berkat doa itu adalah satu dari tiga perkara, yaitu: adakalanya permohonan itu segera dikabulkan; adakalanya permohonannya itu disimpan oleh Allah untuknya kelak di hari kemudian, dan adakalanya dipalingkan darinya suatu keburukan yang semisal dengan permohonannya itu." Mereka (para sahabat) berkata, "Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa." Nabi SAW menjawab, "Allah Mahabanyak (mengabulkan doa)." (HR. Ahmad)

Hari ini, seiring dengan pemahaman dan pengalaman hidup yang saya dapatkan, bersama setiap doa yang saya panjatkan kepada-Nya, saya juga akhirnya bisa mengatakan "Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." Semoga kamupun begitu ya :)

Senin, 14 Januari 2019

Monday Love Letter #24 - Bangun, Wahai Jiwa!


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah sudah hari Senin lagi! Bagaimana kabarmu sepekan kemarin, sister? Saya cukup kaget karena ternyata hari ini adalah tanggal 14 Januari, berarti sudah hampir setengah bulan terlalui di tahun 2019 ini. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sekali.

Sepekan ke belakang, saya merasa hidup saya seperti menjalani rutinitas biasa. Seperti ada energi yang tertahan sehingga menjalani aktivitas sehari-hari dengan biasa saja. Dibilang bersemangat, tidak. Dibilang tidak bersemangat, juga tidak. Tidak nyaman sebenarnya, karena saya merasa seperti sedang kehilangan diri sendiri. Merasa asing dengan diri sendiri. Apakah kamu pernah merasakannya juga?

Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan. Sambil tetap beraktivitas seperti biasa, saya berusaha meningkatkan kepekaan hati pada setiap aktivitas saya. Baik itu di urusan rumah tangga, di pekerjaan, di setiap pertemuan dengan orang lain, di setiap ibadah ritual saya, juga di setiap kejadian yang Allah hadirkan dengan harapan semoga Allah menyelipkan hikmah dan jawaban atas keresahan yang sedang saya alami. Apakah kemudian saya berhasil menemukan kembali diri saya? Ternyata tidak semudah itu. Sepertinya Allah masih merahasiakan hikmah yang ingin Dia berikan kepada saya.

Lalu di suatu kesempatan, Allah mengingatkan saya dengan cara-Nya. Weekend kemarin saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan 2 hari 1 malam dimana ada momen api unggun di malam harinya. Saya mendengarkan ungkapan dari teman-teman saya satu per satu sambil menatap kobaran api di depan saya dengan agak sedikit melamun. Hingga saya mendengar salah seorang teman berkata, "Kita bisa jadikan momen ini sebagai momen pengingat bagi kita. Kalau kita masuk neraka, ya hanya ada api yang panas seperti di depan kita. Tidak akan ada udara dingin, hanya ada api yang panas, dan kita harus menjalaninya tanpa akhir," kurang lebih begitu yang dikatakannya. Kemudian pikiran saya jadi melayang memikirkan betapa pilunya kehidupan saya jika harus berakhir di neraka. A'udzubillahi min dzalik..

Momen api unggun itu kemudian ditutup oleh doa bersama. Dari sekian doa yang dipintakan, ada satu doa yang membuat saya tercekat, "Semoga Engkau memampukan kami agar bisa mempertanggungjawabkan amanah kami kelak di hadapan-Mu Ya Allah.." JLEBB tiba-tiba saja hati saya seperti ditusuk anak panah. Refleks, saya mengingatkan diri sendiri, "Tuh, denger! Bangun, wahai jiwa! Bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkan hidupmu kelak di hadapan Allah?! Bagaimana kamu akan berbicara di mahkamah agung pengadilan Allah kelak di akhirat jika hidupmu seperti ini?!"

Rasanya lutut saya langsung lemas. Teringat bahwa diri ini adalah milik-Nya dan kelak akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan hidup selama di dunia. Bagi manusia yang yakin akan adanya hari akhir dan paham rute perjalanan hidupnya, tentu tahu bahwa akan datang kepadanya suatu masa dimana ruh yang sudah berpisah dari jasad dibawa ke hadapan Allah untuk diadili tentang banyak perkara dalam hidupnya.

Nabi SAW bersabda, "Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat sehingga ia ditanya tentang lima hal; tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari (ilmu) yang ia ketahui." (HR. At-Tirmdzi)

Malam itu, menjadi peringatan yang telak untuk saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kelak saya akan menjawab segala pertanyaan dari Allah tentang penggunaan harta, ilmu, waktu luang, waktu sehat, usia, masa muda dan seluruh kehidupan saya jika tidak digunakan dalam rangka memenuhi keinginan Allah terhadap diri saya. Sejatinya semua milik Allah, manusia hanya dititipi. Termasuk jasad dan hidup kita, juga adalah titipan-Nya untuk dipergunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dan setiap titipan, kelak akan Allah tanya, digunakan untuk apa?

Guru saya pernah berkata bahwa arti dasar dari kata taqwa adalah takut. Dan sebutan muttaqin (orang yang bertaqwa) adalah sebaik-baik gelar dari Allah untuk manusia. Semuanya berasal dari rasa takut. Takut mengkhianati titipan Allah kepada dirinya.

Dititipi harta oleh Allah, takut dibelanjakan selain untuk keperluan ibadah dan berjuang di jalan Allah. Dititipi kemampuan dan kesehatan, takut dipergunakan selain untuk kepentingan ibadah dan dakwah. Dititipi masa muda dan waktu luang, takut dipergunakan selain untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan disukai-Nya. Dititipi usia dan kesempatan hidup di dunia, takut dipergunakan selain untuk mengabdi kepada Allah dan memberikan persembahan dan karya yang terbaik untuk-Nya. Ternyata, kehidupan yang mulia dan kepulangan yang selamat dimulai dari rasa takut. Takut mengkhianati amanah dan titipan-Nya.

Fyuuuhh menulis paragraf di atas saya langsung menghela nafas panjang dan merefleksi diri, "Dimana rasa takutmu kepada Allah, Na?" Sudah siap jika disuruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Allah atas segala hal yang Allah titipkan padamu? Sudah siap jika diminta mempertanggungjawabkan kesempatan hidup di dunia yang diberikan oleh-Nya? Bangun, wahai jiwa! Persiapkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) terbaik untuk dibawa ke hadapan Allah. Sungguh, waktumu tidak banyak..

Terima kasih sister, sudah membaca curhatan saya yang panjang ini. Semoga bisa memberikan hikmah yang besar juga untukmu ya. Pada akhirnya, kita memang tidak punya pilihan selain totalitas mengabdi pada-Nya dan berjuang mati-matian menjalankan amanah tujuan penciptaan kita. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita, menjaga keistiqomahan kita dan memampukan kita agar bisa mempertanggungjawabkan setiap amanah yang Ia titipkan kepada kita.

Senin, 07 Januari 2019

Ketika Ketulusan Menembus Hati Manusia

Hari ini aku mendapat sebuah pesan whatsapp dari seorang sahabat. Isinya sebuah foto surat tulisan tangan yang pernah aku berikan untuknya di hari ulang tahunnya 3 tahun yang lalu. Dia bilang, tulisan itu selalu menjadi penyemangatnya dan selalu dia baca berulang-ulang setiap kali dia merasa butuh dikuatkan. Katanya, setiap membacanya, dia seperti mendapat energi baru.

Dibilang gitu, tentu saja aku terharu. Aku bahkan hampir lupa bahwa aku pernah menulis surat itu. Tapi ternyata surat itu selalu dia bawa, bahkan dibaca berulang-ulang. Sejak kapan coba tulisan aku bisa se-magic itu. Hahaha. 

Dipikir-pikir, selain nulis buku harian, aku emang hobby sih ngasih surat ke orang-orang. Biasanya momen yang tepat adalah ketika hari ulang tahun. Aku kasih mereka surat sebagai hadiah ulang tahunnya, ditulis pake tulisan tangan. Selain bisa jadi alternatif kalo pengen ngasih hadiah tapi nggak punya duit, surat tulisan tangan terasa lebih berkesan dan lebih kerasa juga effort dan ketulusannya, dibanding surat online via caption Instagram atau blog. Jadi pengen ngerutinin lagi kebiasaan ngirimin surat tulisan tangan ke orang-orang :)

Ketulusan memang bisa menembus hati manusia. Dan bagiku, menulis surat menjadi latihan untuk melembutkan hati karena ketulusan hanya bisa lahir dari hati yang lembut. Aku jadi belajar untuk melihat kebaikan-kebaikan yang ada pada orang itu dan mensyukuri keberadaannya sebagai salah satu orang yang berharga di kehidupanku. Bagiku, setiap orang itu punya arti dan karena kehadiran merekalah, hidup kita menjadi lebih berwarna. Aku belajar untuk mengutarakan rasa terima kasih itu kepada orang yang kukirimi surat. Terlebih jika surat itu aku berikan di hari ulang tahunnya, rasanya seperti ingin mengatakan, "Terima kasih karena telah lahir ke dunia." Nggak jarang, mereka yang baca suratku, pasti nangis, minimal bilang terharu lah. Aku juga mau siiihhh di suratiiiinnn biar terharu-terharu gituuuu wkwkwk

Dan Allah dengan segala skenario-Nya, membawa aku pada kegiatan bersurat lagi dengan adanya Monday Love Letter. Monday Love Letter ini agak sedikit berbeda karena nulisnya buat banyak orang. Jadi kadang mikir juga karena tema dan gaya bahasanya harus dibikin general. Nggak seluwes kalau nulis surat ke perorangan. Tapi bikinnya nggak kalah seru sih. Soalnya banyak yang balesin dan berterima kasih juga sama suratnya. Bahkan banyak yang bilang, "Kok pas sih suratnya sama keadaan aku sekarang." Ya kalau soal yang itu aku juga nggak tahu. Mungkin Allah emang ngasih ilhamnya sesuai dengan kebutuhan pembaca juga kali. Hehe.

Intinya, aku seneng banget nulis. Dan ada kesenangan tersendiri ketika menulis surat untuk orang lain. Ada apa ya sebenarnya dengan aku dan menulis surat? Kok kita kayak jodoh, ketemu lagi, ketemu lagi. Apa aku bikin jasa nulis surat aja gitu? Hahaha.

Monday Love Letter #23 - Sebuah Jeda Untuk Diri Sendiri

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu sister? Sejujurnya saat ini saya sedang tidak baik-baik saja. Saat ini rasanya bukan saat yang tepat bagi saya untuk menulis surat untukmu, karena sayapun sebenarnya sedang perlu inspirasi, perlu bahu untuk bersandar, perlu dikuatkan. Tapi terkadang keimanan menuntut kita untuk mengorbankan perasaan, sebab mengajak orang-orang pada kebaikan bukan berarti dirinya sudah sepenuhnya baik. Menjadi da'i bukan berarti telah menjadi yang paling sholeh. Maka saya putuskan untuk tetap menulis, walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri.

Sedikit bercerita, saya dulu pernah mempunyai masalah dengan kepercayaan diri. Saat di sekolah, saya adalah anak yang pemalu, kurang bisa bergaul, tidak berani mengutarakan pendapat atau mengajukan pertanyaan di depan banyak orang. Bahkan, saya pernah menangis di depan kelas ketika disuruh membaca puisi. Bertahun-tahun seperti itu, bertahun-tahun pula saya membenci diri saya sendiri. "Bodoh kamu Na, gitu aja nggak bisa." "Kenapa sih harus nangis? Emang nggak bisa ditahan ya air matanya?!" Saya sering sekali merutuki diri saya sendiri, melampiaskan kekecewaan saya kepada diri sendiri.

Di hadapan orang lain, saya merasa bukanlah apa-apa. Saya selalu merasa kalah dari mereka yang jauh lebih pintar dari saya sehingga saya tidak memiliki keberanian untuk mencoba lebih jauh. Pikir saya, saya pasti tidak akan bisa menjadi sebaik mereka. Mungkin banyak yang tak menyangka, tapi itulah kenyataannya.

Tapi dibanding rasa tidak percaya diri di depan orang lain, tidak ada yang lebih buruk dibanding rasa tidak percaya diri di hadapan Allah. Saya sering sekali merasa diri ini hina dan penuh dosa sehingga tidak mungkin punya kesempatan untuk bertaubat. Saya sering sekali merasa amal sholeh yang saya lakukan tidak bisa menutupi dosa yang kemarin-kemarin, lalu berputus asa dengan dalih kepalang tanggung. Tanggung sekalian jelek aja maksudnya. Astaghfirullah.

Kini, semuanya sudah jauh lebih baik. Saya mulai bisa menerima diri sendiri, saya mulai percaya bahwa diri saya memiliki berlian diri yang tidak orang lain miliki. Saya jadi lebih berani "keluar kandang" untuk mengaktualisasikan potensi dan percaya pada kelebihan yang saya miliki. Saya menjadi lebih bisa bersyukur.

Namun, sekeras apapun saya melatih diri ternyata perasaan inferior itu tidak hilang sepenuhnya, menyisakan residu yang masih sesekali muncul. Seperti hari ini, dimana saya sedang merasa kecewa terhadap diri sendiri. Lagi-lagi, saya menyalahkan diri saya sendiri, lalu berakhir dengan perasaan putus asa. Jika tubuh saya bisa dibagi dua, ingin rasanya berdiri di hadapan diri sendiri dan menampar-nampar pipi saya sendiri sambil berteriak,"Sadar, hei!"

Di saat seperti ini, rasanya lebih enak jika saya menghilang saja meninggalkan tanggungjawab. Rasanya ingin menyewa orang saja untuk menyelesaikan masalah. Tapi sayangnya cara Allah mendidik tidak begitu. Jika Allah memberi ujian, berarti Allah sedang memproses kita untuk naik kelas. Jika Allah memberi amanah yang lebih besar berarti Dia sedang memproses kita untuk menjadi mulia. Jika Allah memberi beban yang lebih berat berarti Dia mempercayai kita untuk memikulnya. Berhusnudzon kepada Allah selalu menjadi penyelamat saya.

Pagi tadi, saya membaca 3 ayat yang sepertinya Allah memberikan kisi-kisi yang begitu jelas kepada hamba-Nya yang sedang dzalim pada dirinya seperti saya ini.
 
Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu (Al-Quran) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya. 

QS. Az-Zumar (39) : 53-55)

Pertama, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih ada waktu dan kehidupan, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Kedua, kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Jadilah sebaik-baik hamba yang hanya fokus pada Tuhannya. Ketiga, buktikan berserahnya diri kita dengan mengikuti Al-Quran. Laksanakan perintah-Nya dan jauhi segala hal yang membuat-Nya murka. Sederhana, asalkan kita mau. Selama orientasi hidup kita adalah Allah, insya Allah selalu ada jalan bagi mereka yang ingin terus mengadakan perbaikan. Semoga Allah mampukan kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya.

Yah, jadi curhat panjang nih saya, surat ini lebih cocok ditujukan untuk diri saya sendiri sih sepertinya, hehe. Memang ya, jalan menuju Allah itu mendaki lagi sukar. Dan tidak ada yang bisa membuat kita sampai selain ketersediaan iman. Percaya bahwa janji Allah itu benar. Jika mulai merasa lelah, cek ketersediaan iman kita, jangan-jangan sudah di bawah batas aman. Istirahat boleh, asalkan setelahnya lanjutkan mendaki. Oh ya, satu lagi. Jangan sendirian.

Senin, 31 Desember 2018

Monday Love Letter #22 - Jika 2019 Menjadi Tahun Terakhirku...


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabaaar sister? Alhamdulillah, tinggal beberapa jam lagi kita akan berganti tahun. Kalau saya sih di rumah aja, nggak keluar-keluar karena pasti macet, hehe. Akhir tahun tentunya sangat lekat pada evaluasi, tidak sedikit dari kita yang menapaktilasi kembali perjalanan hidup kita setahun ke belakang.

Bagaimana 2018-mu? Tentunya ada bahagia dan kesedihan yang dengan adil Allah pergilirkan. Tentunya ada berbagai nikmat dan ujian yang Dia hidangkan untuk kita. Berterimakasihlah untuk semua itu, berterimakasihlah untuk tahun 2018 yang telah menjadikan diri kita yang sekarang. Tanpa disadari kita ternyata semakin kuat, semakin bijaksana, semakin pandai bersyukur, karena apa-apa yang terjadi setahun ke belakang. Allah Maha Baik, kan? :)

Besok, tentu tidak akan jauh berbeda. Masih akan ada bahagia dan sedih yang akan Allah pergilirkan di tahun depan, pun nikmat dan ujian untuk kita. Tapi sebagai manusia biasa, tentu kita memiliki harapan. Kalau bisa, hari-hari yang akan kita lalui nantinya akan selalu bahagia. Semoga, target dan cita-cita kita semuanya tercapai. Semoga, tidak ada lagi kegagalan di tahun depan. Dan semoga-semoga yang lainnya. Lumrah saja, karena kita punya keinginan. Namun, Sayyidina Umar bin Khathab r.a justru berkata, "Aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang lebih baik untukku." Masya Allah. Pada akhirnya, semua dikembalikan lagi kepada Allah, karena Allah-lah yang paling tahu yang terbaik untuk kita.

Saya masih ingat betul, di awal tahun 2018 saya mulai menulis resolusi dengan mindset yang berbeda. Saya memulai target-target saya dengan 1 kalimat; "Jika 2018 menjadi tahun terakhir saya, saya akan…" Hasilnya, impian dan harapan saya ternyata tidak lagi tentang hal-hal yang bersifat pencapaian materi, kebanyakan adalah tentang memperluas kebermanfaatan dan program-program untuk meningkatkan ketaatan.

Pernahkah kamu mencobanya? Pernahkah mencoba menyusun impian dan cita-cita bersamaan dengan kesadaranmu bertemu kematian? Hal ini bisa membantu menemukan hal apa yang sebenarnya kita inginkan. Sebelum membuat sederet resolusi, ada baiknya kita bertanya kepada diri, "Jika 2019 adalah tahun terakhirku, apa yang benar-benar ingin aku wujudkan?"

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." -QS. Al-Hasyr (59) : 18

Perencanaan itu penting, bahkan Allah menyuruh kita untuk berencana. Tapi jangan lupa bahwa hidup adalah tentang perjalanan menuju kampung akhirat, maka bijaklah dalam menyiapkan bekalnya. Tahun yang berganti adalah jatah waktu yang Allah berikan agar kita bijak menggunakannya. Bukan berarti mengabaikan dunia, tapi jadikan dunia sebagai alat dan kendaraan kita dalam rangka menyiapkan persembahan terbaik untuk-Nya.

Let's start from the end. Apapun target dan resolusi kita, semoga semua dalam rangka menuju-Nya, dalam rangka meninggikan bangunan cinta kita kepada-Nya, dalam rangka mempersiapkan pertemuan dengan-Nya. Bismillah, Ya Allah, kami bertawakal kepada-Mu, dan tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu. Kita saling mendoakan ya, my sister of Deen..

Senin, 24 Desember 2018

Monday Love Letter #21 - Karena Aku Milik-Mu


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu, my sister of Deen? Jazakillah khairan katsiran untuk kamu yang sudah mengikuti mailing list Sisters of Deen Project, membaca Monday Love Letter setiap Senin, membalasnya, bahkan mem-forwardnya kepada sahabatmu. Mohon doanya semoga kebermanfaatannya bisa semakin meluas ya, please~ doakan.. Hehe.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan satu draft tulisan untuk dikirim hari ini, tapi sejak Sabtu malam kemarin saya mendengar berita tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di sekitar Selat Sunda, saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Allah lagi-lagi mengingatkan kembali tentang satu nikmat yang masih sering saya lupakan, yaitu nikmat hidup. Alhamdulillah hari ini masih bisa hidup. Alhamdulillah hari ini masih sehat dan bisa beraktivitas. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk beribadah. Alhamdulillah masih diberi waktu untuk mengumpulkan lagi pundi-pundi amal sholeh sebagai bekal menuju akhirat. Bahkan doa bangun tidur saja, dimulai dengan alhamdulillah. Ini menunjukkan bahwa bisa bangun tidur dan masih hidup hingga hari ini, merupakan sebuah nikmat yang besar yang patut kita syukuri.

Innalillahi wa innailahi raji'un. Adalah kalimat yang biasa kita dengar atau kita ucapkan ketika musibah menimpa kita. Tapi maknanya jauh lebih dalam dari itu. Guru saya pernah berkata, bahwa innalillah adalah tentang kesadaran bahwa kita ini miliknya Allah. Hidup kita ini bukan milik kita sehingga kita bisa bebas hidup semau kita. Hidup kita juga bukan milik orangtua kita, pasangan, ataupun anak kita sehingga semangat hidup kita tergantung pada hadirnya mereka. Hidup kita ini milik Allah. Allah yang menjadi sumber semangat, Allah yang menjadi tujuan, Allah yang berhak menerima setiap pengorbanan dan perjuangan terbaik dari diri kita. Dan paling penting, Allah yang paling berhak atas ketaatan kita.

Konsep innalillah ini membantu saya untuk lebih tenang dan lebih siap dalam menghadapi hidup dengan berbagai dinamika dan tantangan didalamnya. Ya karena saya milik Allah. Allah yang paling tahu yang terbaik tentang apa-apa yang dimiliki-Nya, jadi terserah Allah mau ngasih skenario seperti apa ke hidup kita. Karena yang namanya memiliki, sepaket dengan menguasai. Jadi, jika ada ketetapan atau takdir dari Allah yang dirasa berat, coba untuk tarik nafas, lalu bilang, "Silakan ya Allah, aku milik-Mu, hidupku juga milik-Mu, langit dan bumi ini milik-Mu, maka kuterima dengan lapang dada segala ketentuan dari-Mu." Insya Allah, hati jadi lebih tenang.

Setelah innalillah, disambung dengan kalimat innailahi raji'un. Semua milik-Nya, akan kembali kepada-Nya. Konsep kembali kepada Allah mungkin identik dengan kematian, padahal kembali kepada Allah tidak harus menunggu mati. Sayyid Quthb mengatakan, "Semua orang akan kembali kepada Allah setelah dia wafat. Akan tetapi, orang yang bahagia adalah orang yang kembali kepada Allah ketika dia masih hidup."

Kembali kepada Allah adalah tentang mengembalikan diri dan kehidupan kita kepada yang memilikinya, yaitu Allah. Sudahkah kita "kembali" pada-Nya? Sudahkah sepenuhnya menjadi milik-Nya? Atau jangan-jangan kepemilikan diri kita masih terbagi-bagi dengan yang lain? Maka jangan heran kalau Allah sesekali memberikan ujian dan peringatan agar kita kembali ingat kepada Allah. Ujian itu tanda Allah sayang karena kalau nggak gitu, susah kita ingatnya :')

Alhamdulillah atas nikmat hidup ini. Alhamdulillah atas kesempatan yang masih Dia beri. Yuk, segera kembali pada Allah. Kembalikan tujuan kita sepenuhnya kepada Allah. Kembalikan ketaatan kita sepenuhnya kepada Allah. Kembalikan hidup kita kepada Allah, sebelum kelak Allah benar-benar memanggil kita untuk kembali kepada-Nya.