Senin, 11 Maret 2019

Monday Love Letter #32 - Hidupmu dalam Genggaman-Nya

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen! Terima kasih ya sudah selalu setia membaca, bahkan menunggu hadirnya Monday Love Letter ke inbox-mu, semoga surat-surat kami bisa menjadi teman untukmu merenungi kehidupan dan menangkap hikmah-hikmah dibaliknya.

Pekan lalu banyak kejadian yang lumayan membuat saya kaget, salah satunya adalah suatu kejadian yang terjadi hari ahad kemarin. Iya, kemarin banget. Siang itu saya sedang mengendarai motor bersama adik, hendak mengantarkan adik kembali ke rumah. Perjalanan kami tidak jauh, hanya berjarak sekitar 10 menit saja tanpa harus melalui jalan raya.

Saat itu saya melalui sebuah pertigaan yang cukup padat oleh kendaraan kemudian belok ke kiri. Sekitar 2 meter setelah belok, tiba-tiba saja muncul dua anak kecil dari arah kanan jalan, menyebrang dengan berlari, tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu. Alhasil, saya yang terlambat mengerem akhirnya menabrak mereka berdua. Mereka jatuh tertabrak, saya dan adik sayapun jatuh dari motor. Melihat kedua anak kecil itu tertimpa motor, saya langsung bangkit dan panik. Untungnya, ada beberapa bapak-bapak yang sigap menolong dan menggendong 2 anak itu ke klinik terdekat. Tapi ternyata 1 anak harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami patah tulang bahu.

Alhamdulillah saya dan adik saya tidak apa-apa, hanya lecet sedikit dan memar di lutut dan bahu. Tapi kejadian itu cukup membuat saya shock dan terus melamun seharian itu, bahkan malamnya sampai susah tidur karena bayangan kejadian siang itu terus terputar di otak saya; detik-detik saya menabrak 2 anak yang usianya sekitar 6-7 tahun, teriakan dan tangisan mereka setelah tertabrak, juga rasa bersalah karena salah satu dari mereka harus mengalami patah tulang. Kejadiannya terjadi cepat sekali dan tanpa firasat apapun. Sedang mengendarai motor, lalu ada 2 anak kecil menyebrang, sedetik kemudian tabrakan terjadi, dan kami berempat jatuh ke aspal. Subhanallah, biidznillah.

Hari ini, saya sudah cukup tenang setelah tadi siang menjenguk anak yang patah tulangnya, alhamdulillah dia sudah dalam proses pengobatan. Bahkan hari ini saya sudah mengendarai motor lagi walaupun dengan badan yang masih sakit-sakit (hehe)  dan tentu saja, berusaha menyetir dengan lebih hati-hati. Sepanjang hari ini saya berusaha menggali hikmah dari apa yang baru-baru saja terjadi belakangan ini.

Saya belajar (lagi) tentang qudroh dan irodah-Nya. Kejadian apapun, bisa terjadi karena Allah yang mengizinkannya untuk terjadi. Kenapa saya harus melalui jalan itu di jam segitu, dan kenapa di saat yang sama 2 anak kecil itu berlari menyebrang, semuanya sudah kehendak dan kuasa-Nya. Apa yang terjadi bukanlah untuk dipertanyakan apalagi diratapi, melainkan diterima dan dicari hikmahnya. Karena saya percaya, everything happens for a reason.

Di samping itu, ada hikmah lain yang cukup menohok bagi saya; bahwa Allah betul-betul berkuasa atas diri kita, dan kita sama sekali tidak berdaya didalam kekuasaan-Nya. Saya masih ingat betul, sebelum tabrakan itu terjadi saya masih mengobrol dengan adik saya sambil tersenyum. Bahkan sepersekian detik sebelum saya menabrak 2 anak itu, saya masih melihat mereka berlari sambil tertawa. Namun sepersekian detik kemudian, tawa dan senyum itu kemudian berubah menjadi tangis dan teriakan kesakitan. Secepat itu Allah berkuasa mengubah tawa menjadi tangis, secepat itu pula Allah berkuasa mengubah keadaan yang awalnya sehat dan kuat menjadi sakit dan lemah.

Dalam hidup, berapa banyak kejadian semacam itu terjadi di diri kita? Pagi kita sehat, siang menjadi sakit. Siang bahagia menerima gaji, sorenya dompet kita hilang dan uang kita raib. Sore masih mengobrol dengan orang lain, malamnya orang tersebut meninggal. Baru saja tertawa-tawa bersama teman-teman, 5 menit kemudian meringis kesakitan karena kaki tersandung meja. Sadarkah, bahwa kita benar-benar tidak berdaya didalam kekuasaan-Nya? Karena ketika Allah bilang kun!, maka terjadilah --saat itu juga. Kita tidak memiliki kuasa apapun bahkan atas diri kita sendiri.

Sehari sebelum kejadian tabrakan itu, saya juga mendengar kabar bahwa salah satu guru saya masuk ruang ICU karena tiba-tiba pingsan dan kejang, padahal sebelumnya beliau sehat. Bahkan hari ini pun Allah memperlihatkan lagi kuasa-Nya. Tadi siang saya berangkat pergi, suami saya masih sehat di rumah. Malamnya ketika saya pulang, suami sakit demam dan meriang. Saya seperti sedang diajak ngobrol sama Allah, "Na, Aku memang seberkuasa itu atas hidupmu. Detik ini juga, Aku bisa membuatmu tertawa atau menangis. Detik ini juga, Aku bisa memberimu harta atau bahkan menghilangkan semua hartamu. Detik ini juga, aku bisa membiarkanmu hidup atau bahkan mematikanmu. Hidup dan matimu ada di tangan-Ku, Na. Maka pantaskah kau merasa sombong walau setitik? Pantaskah menyia-nyiakan hidup walau sedetik?" #JLEBJLEBJLEB

Kita ini, sebagai manusia, harus sadar diri.
Allah Maha Mulia, sedangkan kita hina jika tidak dimuliakan oleh-Nya.
Allah Maha Kaya, sedangkan kita tidak punya apa-apa jika tanpa pemberian-Nya.
Allah Maha Berkuasa, kita tidak berdaya jika tanpa pertolongan-Nya.
Allah Maha Kuat, kita ini lemah jika tidak dipinjami kekuatan oleh-Nya.
Allah Maha Besar, kita bahkan lebih kecil dari sebutir debu jika dihadapan-Nya.

Kita perlu sadar diri, bahwa kita ini tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya tanpa Allah. Sadar diri, bahwa sebenarnya kita ini amat sangat bergantung pada Allah. Sadar diri, bahwa tidak ada hal lain yang kita butuhkan selain Allah. Sadar, bahwa kita tidak patut sombong dan merasa bisa sendiri tanpa Allah. Sadar, bahwa kita tidak patut berpaling kepada selain Allah. Sadar, bahwa kita ini sudah sepatutnya menyerahkan diri kita kepada Allah; mentaati-Nya, mencintai-Nya, berkorban untuk-Nya.

Semoga masih cukup waktu kita, untuk menyadari hakikat diri kita di hadapan-Nya. Semoga masih masih cukup waktu kita, untuk memperbaiki diri dan menebus segala khilaf. Semoga masih cukup waktu kita, untuk kembali kepada Allah dengan kondisi jiwa yang tetap terjaga dalam fitrah pengabdian kepada-Nya.

Monday Love Letter #31 - Menjadi Mahasiswa di Universitasnya Allah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sisterkuu? Bagaimana hari-hari selama sepekan kemarin? Tentu kita mengharapkan hari-hari yang selalu bahagia, namun jika tidak, semoga selalu ada syukur walau bersama tangis sekalipun.

Sejujurnya, saya melamun cukup lama memikirkan tema apa yang akan ditulis di MLL hari ini. Pasalnya, saya baru saja selesai melakukan evaluasi target bulan Februari yang ternyata hasilnya ga bagus-bagus banget huhu.. Dan ini cukup mempengaruhi mood nulis saya ternyata. Maafkan suratnya baru sampai di inboxmu malam-malam ya..

Februari kemarin mengajarkan saya tentang pentingnya melakukan sesuatu hingga tuntas. Sepertinya menuntaskan sesuatu masih menjadi PR saya sedari lama. Ibarat ujian, nilainya nggak lulus terus. Jadinya sama Allah dikasih remedial lagi, remedial lagi. Pernah nggak sih kamu mengalaminya juga? Dikasih soal ujian yang sama terus-menerus sama Allah, cuma beda kasusnya aja.

Setiap orang tentu memiliki ujiannya sendiri. Menariknya, ujian terberat itu justru berbentuk ujian kecil yang lagi-lagi kita kalah menghadapinya. Kalau kata pepatah, jatuh di lubang yang sama.

Di satu sisi, saya ingin merutuki diri sendiri karena jika saya "gagal ujian", berarti ada yang salah pada diri dan ada hal masih perlu diperbaiki; bisa jadi karena kurang ilmu atau karena kurang sabar dalam prosesnya. Tapi di sisi lain, saya merasa bersyukur karena Allah ternyata masih cukup baik dengan memberikan kesempatan "remedial" dan perpanjangan waktu hidup di dunia dalam perjalanan diri ini menjadi hamba yang layak dihadapan-Nya. Kebayang nggak, kalau Allah memanggil kita kembali dalam keadaan dosa yang masih menggunung dan amal sholeh yang masih belum cukup? Bisa-bisa di akhirat nanti kita nggak selamat. Naudzubillah :(

Saya jadi teringat pada perkataan Imam Syafi'i yang sering sekali saya lihat kutipannya dimana-mana, "Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan." Kalimat tersebut tidak hanya menyebutkan tentang pentingnya belajar, tapi juga tentang bersabar dalam belajar. Belajar disini maknanya bisa jadi sangat luas sekali, bukan hanya belajar formal di sekolah atau kampus tentu saja, tapi di universitas terbesar milik Allah, yaitu universitas kehidupan, dimana kita menjadi "mahasiswa"nya dan Allah menyediakan berbagai macam "studi kasus" dalam hidup kita sebagai bahan ajarnya.

Kehidupan ini sejatinya mengajarkan kita untuk menjadi sebaik-baik hamba di hadapan-Nya, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya ditempa oleh Allah dengan berbagai macam ujian hingga jiwanya layak ditukar syurga dan menyandang gelar taqwa. Apa rahasianya? Sabar dan istiqomah dalam berjuang di jalan-Nya.

Jika tak sanggup sabar dalam belajar, maka bersiaplah menanggung perihnya kebodohan, begitu sambungannya. Saya jadi berandai-andai, seberapa perih derita yang harus ditanggung seseorang akibat kebodohannya? Sebagai seorang guru di sebuah institusi pendidikan, saya meyakini bahwa tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanyalah murid yang tidak mau belajar. Konsekuensi seseorang yang tidak mau belajar paling mentok tidak naik kelas.

Tapi bagaimana jika kita tidak mau belajar di universitasnya Allah? Bagaimana jika kita tidak mau mencari tahu tentang hakikat hidup ini? Bagaimana jika kita tidak cukup ilmu tentang bagaimana caranya agar selamat di dunia dan di akhirat? Bukankah menjadi bodoh dalam universitas Allah sama saja dengan menolak hidayah-Nya dan mempertaruhkan keselamatan kita di akhirat? Kelak ketika "rapor" catatan amal dibagikan, orang-orang bodoh akan berakhir di neraka --itulah perihnya akibat yang harus ditanggung atas kebodohannya karena tidak berhasil menjadi hamba yang diridhoi-Nya. Ngeri banget. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan melindungi kita ya, sister :')

Mengawali bulan Maret, juga menyambut bulan Rajab yang tinggal hitungan hari (yang berarti semakin dekat dengan Ramadhan, kangen banget!), semoga hari-hari selanjutnya menjadi hari yang semakin baik dari hari ini, tentunya diawali dengan peningkatan kualitas diri sendiri agar semakin dekat kepada cita-cita hakiki, yaitu menjadi hamba yang Allah ridhoi.

Rabu, 06 Maret 2019

Bayar PKB? Gak Perlu ke SAMSAT Lagi!

Siapa disini yang punya kendaraan bermotor? Sebagai pengguna kendaraan bermotor, tentu nggak asing dong sama istilah PKB, yaitu Pajak Kendaraan Bermotor yang harus dibayarkan setiap tahunnya. Tumben banget ya, aku nulis postingan dengan tema begini. Hehe. Sebenarnya isi dari tulisan ini sebagian besarnya adalah curhat dan ingin mengalirkan rasa dari pengalamanku hari ini bayar pajak ke SAMSAT. Dan tentu saja, tak lupa memetik hikmahnya.

Aku udah lama pake motor, udah dari jaman SMA bisa nyetir motor dan semenjak kuliah mulai punya motor atas nama sendiri (tapi motornya mah dibeliin babeh hehe), jadilah semenjak itu aku urus-urus bayar pajak sendiri. Karena udah berkali-kali bayar pajak, jadi udah nggak asing lah sama suasana SAMSAT dan udah biasa dengan prosedurnya yang dilempar-lempar ke loket sana sini. Kalau beruntung dan lagi sepi, setengah jam juga beres. Tapi kalau lagi rame ya prosesnya jadi lebih lama karena ngantri.

KE SAMSAT
Hari ini, aku berencana bayar PKB karena masa berlaku SKKP-nya habis 3 hari lagi. Meluncurlah aku ke SAMSAT Soekarno Hatta sebrang Carrefour. Setiap ke SAMSAT aku pasti bawa buku bacaan untuk jaga-jaga barangkali nunggunya lama banget jadi bisa tetep anteng. Setelah ke loket formulir dan dapet nomor antrian, akupun menunggu sambil baca buku. Tadi aku dapet nomor 96, sementara nomor antrian yang dipanggil baru nomor 83-an. Santai, masih ada sekitar 10 orang lebih, baca buku aja dulu.

Setelah sekitar 10 menit nunggu, dipanggillah aku ke loket untuk input data, terus disuruh ke loket selanjutnya. Kalau nggak salah loket yang satu ini buat diitungin berapa biaya pajak yang harus dibayar dan nanti kita dipanggil lagi namanya buat bayar. Di loket itu aku ngasihin STNK asli, SKKP lama, dan KTP asli, standarlah ya. "Plastiknya mana?" tanya petugas loket. "Hah?" aku bertanya memastikan. Soalnya tadi di loket sebelumnya plastiknya disuruh dilepas, terus disini malah ditanyain plastiknya mana. "Plastiknya bu?" ulangnya. Lalu aku kasih plastiknya (dan nggak diapa-apain juga sama dianya, heuheu).

Setelah dia periksa STNK dan KTP aku, tiba-tiba dia berdiri dan bilang, "Bu, BPKBnya dibawa nggak?" BPKB itu bukti kepemilikan kendaraan bermotor.
"Nggak. Biasanya juga nggak perlu kan," jawabku.
"Ini alamat di STNKnya beda ya sama KTPnya?"
"Iya memang, tapi kan saya mau bayar pajak tahunan," protesku. Pasalnya, taun kemarin juga nggak ada masalah walaupun beda alamat. Heu. FYI, BPKB aku emang masih pake alamat KTP lama, KTP sebelum nikah. Rencananya memang mau diganti nanti sekalian ganti STNK.
"Ini harus sama Bu alamatnya. Ibu pulang dulu ya bawa BPKBnya, terus urus dulu ke loket depan biar sama alamatnya," kata petugasnya.
Dalam hati, aku ngomel. Niat mau bayar pajak kenapa jadi disuruh ganti BPKB? Taun kemaren aja nggak adalah masalah. HUFT. Pokoknya aku jadi kesel. Males harus balik lagi ke rumah padahal harusnya tinggal bayar doang.
Belum juga aku protes ke petugasnya, dia nambahin, "Silakan bawa dulu BPKBnya ya bu," sambil nulis gede-gede di SKKP lama aku, tulisannya "Ganti Alamat" lalu aku dipersilakan pergi. Aku curiga dia lagi badmood deh, perasaan dari tadi nggak ada ramah-ramahnya dan tanpa senyum. Hih.
Ngeliat SKKPnya dicoret, aku jadi tambah kesel. "Jadi saya pulang lagi nih?" tanyaku memastikan dengan muka yang mulai nggak ramah. "Iya," katanya.

Kesel gak siiih, udah jauh-jauh ke SAMSAT, terus disuruh pulang lagi karena STNKnya beda alamat sama KTP?? Padahal taun lalu kayak gitu juga tapi nggak ada masalah tuh. Kenapa sekarang malah disuruh benerin BPKB dulu??!! Heuh.. *Sabar, Na. Sabar..

Lalu apa yang aku lakukan? Aku duduk dan curhat dulu sama suami. Hahaha.. Dasar cewe, kudu curhat dulu sebelum cari solusi, wkwk. Aku foto SKKP yang udah dicoret sama petugas dan bilang, "Disuruh pulang lagi coba. Bawa BPKB dan ganti alamat dulu huft kzl,"
"Alamat apa dah, beda sama yang di ktp? Lah, taun kemaren engga," jawabnya heran.
Dapet pembenaran, makinlah aku kesel, "Iya makanya. Kzl kan."
Suami ngasih solusi yaudah pulang lagi aja bawa BPKBnya. Tapi aku yang masih kesel ini belum nerima. Mau ngadu ah ke bagian informasi! Lalu akupun jalan ke loket informasi. Tulisannya aja udah cocok: "Layanan Informasi dan Pengaduan", jadi aku mau ngadu kesitu. Wkwkwk

KETEMU SATPAM
Pas lagi ngantri, tiba-tiba ada satpam nyamperin, "Kenapa Neng, ada yang bisa dibantu?" Aku bilang, "Ini pak, saya mau bayar pajak tapi malah disuruh benerin alamat BPKB dulu, padahal taun kemarin bisa kok," sambil pasang muka cemberut. Asli aku bete banget.
"Bayar pake SAMBARA aja, Neng. Nanti tinggal bayar ke Bank BJB,"
"Hah, apaan tuh?" tanyaku.
"Aplikasi SAMBARA, coba geura donlod," kata satpamnya sambil ngasihin brosur.
Sebenernya aku agak males, tapi muka satpamnya kayak yang yakin banget dan nungguin aku donlod aplikasinya. Wkwk.
"Nih udah didonlod. Terus?"

Penampakan dashboad SAMBARA
"Klik Info PKB, terus masukin plat nomernya.. Terus klik cari.. Terus masukin NIK, terus.. terus.." pak satpamnya bener-bener ngasih tau tahap demi tahapnya (nggak lama sih, cuma masukin nomor plat, NIK, sama 5 digit terakhir nomer rangka doang) sampe akhirnya muncullah jumlah pajak yang harus aku bayar dan aku dapet kode bayar.
"Nah, kode bayar ini disimpen. Terus Neng tinggal ke Bank BJB dan bayar disana. Tuh bank BJBnya di sebelah gedung ini. Neng tinggal keluar aja nanti keliatan bank-nya."
"Terus kalau udah bayar disana terus kemana?"
"Yaudah selesai, jadi nggak perlu ngantri-ngantri ke loket disini lagi. Nanti dikasih kertas dari sananya, kalau mau dituker disini boleh,"
Aku sebetulnya masih kurang paham, tapi satpamnya keukeuh banget nyuruh aku ke BJB. Yasudah aku keluar dari kantor SAMSAT dan ternyata Bank BJB-nya cuma beberapa langkah doang dari situ.

SESAMPAINYA DI BANK BJB
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" kata satpam penjaga pintunya, ramah.
"Ini mau bayar pajak,"
"Kode bayarnya sudah ada?"
"Udah, ini," jawabku sambil ngeliatin screenshoot-an dari SAMBARA-nya.
Lalu aku dipersilakan duduk dan menunggu. Ternyata bank-nya sepi, jadi nunggunya nggak lama. Cuma ada 3 orang doang di bank itu termasuk aku.

Lima menit kemudian, aku dipanggil petugas loket bank.
"Mau bayar pajak ya. Bisa disebutkan kode bayarnya?"
Aku sebutin kode bayarnya, terus dia ngasih tau berapa total pajak yang harus kubayar,  sesuai dengan jumlah yang ada di aplikasi. Setelah bayar, Mbak-nya minta STNK aku dan aku disuruh nunggu lagi sebentar.

Terus CS-nya manggil aku. "Bu, ini sudah selesai ya. Ini SKKP barunya, ini bukti bayarnya, dan ini SKKP yang lama sudah tidak perlu dipakai lagi," katanya sambil ngasihin bukti bayar, SKKP lama, dan e-SKKP yang baru.
Aku heran, "Hah? Udah?"
"Iya, jadi untuk kedepannya pembayaran pajak kendaraan bermotor ini bisa dilakukan di Bank BJB mana saja, tidak harus disini. Jadi kalau ibu mau bayar pajak, sudah tidak perlu ke SAMSAT lagi," Mbak CS-nya ngejelasin sambil senyum.
Aku masih heran karena prosesnya selesai secepat itu. Dan agak bengong ngeliat e-SKKP yang baru yang walaupun formatnya sama dengan SKKP yang dikeluarin sama SAMSAT, tapi dia bentuknya kertas. Bedanya, e-SKKP punya barcode untuk mendeteksi bahwa itu memang asli.
"Jadi ini udah selesai nih? Ini kertas SKKP-nya dituker ke SAMSAT ya?" tanyaku memastikan.
"Nggak perlu, Bu. Ini sudah resmi, ini tandanya ada barcode-nya. STNK-nya juga sudah dicap sah oleh pihak bank. Jadi tidak perlu ditukar ke SAMSAT lagi," jelasnya sambil ngeliatin STNK aku yang udah dikasih cap valid.
"Oh, udah? Gini doang? Selesai?" lagi-lagi aku bertanya memastikan. Ya abisnya aku bengong saking prosesnya cepet banget! Hahaha..
Lagi-lagi si mbak CS-nya ngangguk sambil senyum.

Keluar dari bank, aku senyum-senyum sendiri karena ternyata sekarang proses bayar PKB bisa semudah itu! Atuh tau gini mah tinggal langsung aja ke Bank BJB terdekat, ngantri sekali doang lalu e-SKKPnya udah di tangan. Nggak perlu ke SAMSAT lagi, karena e-SKKP yang dikeluarin Bank BJB emang udah resmi, jadi kalau nanti ada razia polisi, aman. Nggak perlu lagi ngantri dan pindah-pindah loket lagi dan nggak perlu ketemu petugas loket judes yang tadi lagi. Yeay!

Untuk memastikan, keluar dari bank, aku masuk lagi ke SAMSAT dan laporan ke bapak satpam yang tadi. "Pak, ini saya udah dapet SKKP-nya. Nggak perlu dituker lagi katanya?"
"Oh udah Neng? Yaudah. Tadinya bapak nyuruh dituker disini biar SKKP-nya nggak kertas gini, tapi nggak apa-apa kayak gini juga."
"Oke sip pak. Makasih ya, Pak." Akupun menuju parkiran motor dan pergi dari SAMSAT.

Kesel-keselnya aku tadi jadi hilang karena dapet informasi berharga seputar pembayaran pajak. Nyampe rumah langsung ngasih tau keluarga kalau mau bayar pajak tinggal pake SAMBARA aja. Haha, udah kayak duta SAMBARA aja nih aku, wkwkwk..

Jadi, buat temen-temen yang mau bayar Pajak Kendaraan Bermotor, tinggal donlod aja aplikasi SAMBARA. Cek total pajak yang harus dibayar, dapetin kode bayar, bayar ke Bank BJB terdekat, dapet deh e-SKKP. Selesai! Gampang banget paraaahhh... (tapi ini kayaknya baru wilayah Jabar doang sih)

Bisa juga bayar di alfamart dan indomaret, atau bayar online via bukalapak, tokopedia, atau kaspro, tapi tetep harus cetak SKKP juga sih ke SAMSAT atau bank BJB. Jadi mending langsung ke Bank BJB-nya aja biar langsung dapet e-SKKP.

Tapi dari kejadian hari ini, aku jadi dapet hikmah. Hikmahnya, bisa jadi Allah memberi kita kesulitan karena ingin memberikan jalan yang lebih mudah. Coba kalau nggak ada tragedi BPKB yang disuruh ganti alamat, mungkin aku nggak akan tau ada yang namanya SAMBARA. Mungkin taun depan aku bakal tetep bayar pajak dengan cara lama harus antri ke SAMSAT. Kalau udah tau ada SAMBARA kan jadi enak, hemat waktu banget dan nggak perlu jauh-jauh harus ke SAMSAT. Yeahh..! Jadi, berasa banget gitu, ayat yang bilang bahwa bersama kesulitan, ada kemudahan. Makanya, jangan suka suudzon dulu sama Allah atau kesel-kesel duluan, Na. 

Senin, 25 Februari 2019

Monday Love Letter #30 - Sadar Penuh, Hadir Utuh

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah bisa bertemu dengan Senin lagi, alhamdulillah juga sudah surat ke-30, berarti sudah sekitar 30 minggu ya kita bersama #ciee. Masya Allah, nggak nyangka banget Sister of Deen Project bisa sejauh ini, insya Allah seiring berjalanannya waktu akan terus bertumbuh. Semoga kamu pun ikut bertumbuh juga bersama kami ya! *tos dulu

Kamu sedang apa sekarang, sister? Kalau kamu sedang beraktivitas saat ini, coba sejenak hentikan dulu pekerjaanmu dan fokus kepada suratku ini. Jika ada notifikasi dari hp atau laptopmu, silakan abaikan dulu dan fokus membaca surat ini. Jika kamu sedang dalam posisi berdiri, duduklah dulu sebentar. Mau bersandar, boleh. Buat dirimu serileks mungkin sambil membaca surat ini. Jika pekerjaanmu saat ini membutuhkan fokus yang lebih besar, kamu boleh tunda membaca surat ini dan kembali lagi nanti :)

Oke, jika kamu sudah sampai pada paragraf ini, saya asumsikan kamu sudah dalam keadaan fokus ya! Sekarang, saatnya fokus kepada dirimu sendiri. Kamu bisa memulai dengan tarik nafas perlahan dan mengeluarkannya dengan perlahan. Tarik.. Hembuskan.. Tarik.. Hembuskan.. Tarik.. Hembuskan.. Bagaimana rasanya, nikmat? Subhanallah ya, Allah ternyata masih memberi oksigen gratis untuk kita dan kita masih bisa bernafas dengan sangat baik. :)

Sekarang, rasakan tubuhmu.. Mungkin ada pundak yang sedang pegal sehabis menjalani aktivitas yang lumayan padat. Mungkin beberapa persendianmu terasa sakit sehabis berjalan jauh atau sehabis melakukan pekerjaan yang berat. Mungkin kepalamu sedang pusing karena aktivitas hari ini yang sangat menguras otak. Mungkin hati dan pikiranmu sedang lelah sekali karena memikirkan masalah-masalah yang hadir tanpa diduga.. Tidak apa-apa dear, untuk merasakan itu semua.. Tidak ada yang salah dengan merasa lelah, tidak apa jika kamu merasa hari ini nggak banget, tidak masalah jika terkadang ada hal-hal yang terjadi diluar ekspektasimu, tidak apa-apa jika kamu ingin menangis sejenak, you're allowed to be not okay.. :)

Tapi jangan pernah lupa untuk mensyukuri hari ini. Bahwa Allah masih teramat baik memberikan waktu dan kesempatan hidup di dunia, kita masih dikaruniai nikmat iman, serta masih diberi kebebasan dan kelapangan untuk beribadah kepada-Nya. Maka hamparkanlah sajadahmu dan bersujudlah sambil beristigfar memohon ampun, buka Al-Quranmu dan bacalah surat cinta dari Dzat Yang Menyayangimu, rasakanlah segala nikmat-Nya hingga rasa terimakasihmu kepada-Nya jauh lebih besar dan lebih banyak daripada keluhanmu hari ini. Pekerjaan bisa membuat fisikmu lemah, masalah bisa membuat mentalmu lelah, tapi hatimu jangan lemah dan lelah.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram," tulis Allah dalam surat cinta-Nya. Maka kembalikan hatimu kepada Dia yang paling berhak untuk dijadikan sandaran dan tempat bergantungnya hati. Lalu rasakanlah ketenangan dan ketentraman itu, sebab hati kita telah sampai kepada Dia yang seharusnya menggengamnya, Allah. Setelah ini, jangan kemana-mana lagi ya, wahai hati.. Tetaplah bersama-Nya, dalam dekapan yang paling menenangkan, dalam rasa puas yang sangat menentramkan. :)

Bagaimana sekarang perasaanmu, sister? Sudah jauh lebih tenang kan? Sudah merasakan energi baru setelah hadir penuh untuk dirimu bersama Allah? Besok-besok, kamu boleh membaca surat ini lagi untuk membantumu masuk ke frekuensi tenang tadi. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita agar selalu paham dan sadar kemana ia harus berpulang.


Tulisan saya hari ini terinspirasi dari sebuah buku yang kemarin tak sengaja saya lihat lagi in my Google Play Books' Library. Bukunya berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh yang pernah saya baca sekitar setahun yang lalu dan sangat berkesan sekali untuk saya. Dari judulnya aja udah jleb ya, mengingat kehidupan kita hari ini sepertinya dipenuhi distraksi dari berbagai macam notifikasi, arus informasi yang tanpa henti, sampai peran-peran dalam hidup yang semakin banyak dan tumpang tindih. Eh yang terakhir sih mungkin saya doang, hehe.

Namun dalam buku yang tak sengaja saya temukan dalam deretan Recommended Books itu, saya seperti diingatkan bahwa kita hidup ya saat ini. Dan karena kita hidup di saat ini, kini, maka kita perlu hadir utuh, sekarang, saat ini. Tidak terlalu fokus pada masa lalu, tidak pula terlalu mengejar masa depan. Sebab pada dasarnya waktu yang Allah berikan kepada kita ya hanya saat ini. Bagaimana waktu sedetik yang Allah beri sekarang bisa kita jaga penggunaannya agar senantiasa dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Kita memang perlu melihat masa lalu untuk mengambil hikmah, namun jangan sampai kita larut didalamnya. Kita juga perlu merancang masa depan dan membuat berbagai macam target harian hingga tahunan, tapi jangan terlena lalu melupakan bagian kita di hari ini.
Kita boleh berselancar sejauh mungkin di dunia maya, namun jangan lupa bahwa ada orangtua kita, adik-kakak kita, sahabat-sahabat kita, pasangan kita, anak kita, tetangga kita, yang juga perlu ditanya tentang perasaannya dan tolong-menolong jika punya keperluan.

Kita juga perlu waktu untuk diri sendiri, untuk mengapresiasi diri kita hari ini, berterima kasih kepada diri kita hari ini, berkontemplasi dan memetik hikmah, juga membahagiakan diri kita sendiri.

Dan yang tak kalah penting, kita perlu terus mengembalikan kesadaran agar hidup kita saat ini senantiasa on the track di jalan yang Allah ridhoi. Jika yang paling jauh adalah masa lalu, maka yang paling dekat adalah kematian. Kita perlu sadar penuh dan hadir utuh, kini dan saat ini, untuk memastikan bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang benar dan bernilai amal sholeh seandainya detik ini dan setelahnya kita berhadapan dengan kematian. Gemes-gemes menantang gimanaa gitu kan, untuk bisa sadar penuh hadir utuh tuuuuh :')

Selamat membangun kesadaran yang penuh dengan kehadiran yang utuh di saat ini, my sister of Deen! Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam menjaga penuhnya kesadaran dan keutuhan kehadiran kita dalam menjalani kehidupan di dunia saat ini, sesuai dengan kehendak-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin..

Monday Love Letter #29 - Belajar dari Air

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen! Bagaimana hari Seninmu, menyenangkan? Bandung hari ini diguyur hujan cukup lama. Dan saya alhamdulillah dapat jatah "libur" setelah sepekan kemarin menjalani aktivitas yang lumayan padat. Alhamdulillah, hari ini dapat jatah quality time sama diri sendiri dan me-recharge lagi energi. Yeaay!

Ngomong-ngomong tentang hujan, tentu sangat erat kaitannya dengan air ya. Dan saya adalah fans beratnya salah satu makhluk Allah yang satu ini, yaitu air. Haha, terdengar aneh memang, tapi ini serius! Sebegitu sukanya saya dengan air sehingga setiap kali hujan turun rasanya saya ingin berlari ke luar rumah dan membuat diri saya basah oleh air hujan. Dulu waktu masih kecil sih sering hujan-hujanan tapi sekarang sih malu karena sudah besar. Hehe. Lihat tempat yang banyak airnya kayak laut, sungai, danau, air terjun juga happy banget! Bahkan ngeliat air di gelas yang bening aja udah happy. Iya, sereceh itu. Sesuka itu saya sama air sampai saya pernah bikin postingan tentang air di instagram saya. Hahaa.. #tolongjangancapsayaaneh

Banyak sifat air yang saya sukai. Fleksibilitasnya, kegigihannya dalam mempertahankan eksistensi, kemampuannya untuk menjadi "aku" di setiap kondisi, bahkan bersamaan dengan sifatnya yang fleksibel, air adalah benda yang juga paling ngotot. Ngotot menuju tujuannya yaitu laut.

Beberapa hari lalu, dalam perjalanan pulang ke rumah, sambil mengendarai motor saya melewati sebuah sungai yang cukup sering saya lewati. Saat itu, aliran sungai terlihat lebih deras dari biasanya akibat hujan deras yang baru saja terjadi. Pemandangan yang saya lihat sore itu kemudian membuat saya belajar sesuatu lagi dari air.

Kamu sadar nggak sih, air itu walaupun fleksibel, tapi ia sangat gigih menuju kepada tujuannya. Coba perhatikan, ketika air mengikuti arus sungai, walaupun di depannya ada batu yang menghalangi, air tidak diam, ia dengan gesit berbelok lalu melanjutkan perjalanannya. Ketika ada sesuatu yang menghalagi jalannya, ia akan mencari cara bagaimana agar ia terus mengalir menuju tujuan akhirnya. Bagi saya, air menjadi contoh dari kesabaran dan keistiqomahan yang tanpa batas. Maka ketika kamu merasa ingin berhenti, belajarlah dari air yang selalu gigih, ngotot, dan tidak pernah menyerah dalam menuju destinasi akhir perjalanannya.

Lalu, kemanakah air-air sungai itu menuju? Ya, mereka semua menuju ke laut. Laut menjadi muara dari banyaknya sungai yang mengalir di atas daratan. Yang menarik adalah, tidak semua sungai yang mengalir ke laut adalah sungai-sungai yang bersih dan bisa digunakan bersuci. Sungai-sungai dengan air yang kotor juga menuju ke laut. Tapi ketika semua sungai itu sampai ke laut, air sungai sekotor apapun menjadi suci. Karena didalam fiqh, air laut termasuk air yang suci dan mensucikan.

Fenomena perjalanan air menuju laut ini rasanya terdengar cukup mirip dengan perjalanan kita menuju satu-satunya tujuan, yaitu Allah. Tentunya, perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan yang tidak mudah, penuh dengan rintangan, bahkan mungkin banyak "sampah-sampah" dosa dan maksiat yang ikut didalamnya. Tapi Allah tetap merangkul, mensucikan, dan menerima setiap upaya hamba-Nya untuk menuju-Nya, seperti halnya laut yang juga menerima air dari sungai manapun dan menjadikannya air yang suci.

Mungkin kamu adalah orang yang baru saja berhijrah atau masih struggling dengan proses hijrahmu. Dalam perjalanannya, bisa jadi di tengah jalan akan ada banyak hambatan. Namun, apapun yang terjadi, bersabarlah. Istiqomahlah dalam perjalananmu menuju Allah. Seperti halnya air yang tetap sabar dalam alirannya untuk menuju kepada satu laut yang tidak akan menolaknya. Begitupun perjalanan kita menuju-Nya yang juga perlu kesabaran dan keistiqomahan. Dan kita perlu percaya bahwa Allah tidak akan menolak setiap hamba yang sedang berupaya mensucikan dirinya dengan menuju Allah.

Ah ya, satu lagi yang tak kalah penting. Air yang paling cepat sampai ke laut, dipengaruhi oleh kemiringan sungai, bukan? Semakin menurun sungainya, akan semakin deras airnya, dan semakin cepat air itu sampai ke laut. Mungkin ini yang sering kita lupa. Bahwa untuk menuju Allah, kita harus merendahkan diri kita. Semakin kita merendahkan diri di hadapan-Nya, semakin cepat kita menuju Allah. Sebaliknya, ada sedikiiit saja rasa sombong di hati kita, Allah akan mempersempit hati kita dan mempersulit langkah kita untuk menuju Allah sehingga bukannya semakin dekat, Allah malah terasa semakin jauh. Naudzubillahi min dzalik..

Semoga kita semua tetap sabar dan istiqomah dalam perjalanan kita menuju Allah dan dalam ketaatan kita kepada-Nya. Semoga Allah selalu menjaga hati kita agar senantiasa lurus niatnya. Seperti sebuah doa yang diajarkan oleh baginda Nabi SAW dalam meminta keistiqomahan dan keteguhan hati dalam kebenaran; "Ya muqallibal quluub tsabit qolbi 'ala diniik.. Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.." Aamiin ya Rabbal 'Alamiin..

Senin, 11 Februari 2019

Monday Love Letter #28 - Produktif dengan Basmalah dan Hamdalah


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabar sisterkuu? Alhamdulillah masih Allah beri kesempatan untuk bisa berbagi di setiap Senin sore (walaupun kadang-kadang malam, hehe). Hmm, sebetulnya saat ini saya belum tahu mau menulis apa. Jadi kita biarkan saja ya, kemana arah jari-jari ini akan mengalir dan merangkai kalimat. Saya akan mencoba untuk mengetik tanpa berhenti. Mungkin nanti sebagiannya akan menjadi curhat dan nasihat pribadi untuk diri saya sendiri. Semoga kamu tidak keberatan untuk membacanya ya. Hehe. Here we go!

Sebelum menulis surat ini, saya baru saja chatting via whatsapp dengan sahabat dekat saya. Saya bilang kepada dia bahwa saya sedang jangar. Jangar biasanya digunakan dalam bahasa sunda yang berarti pusing sekali. Bukan pusing karena sakit kepala, tapi karena terlalu banyak yang dipikirkan. Ya gitu deh, intinya saya lagi jangar. Lalu sahabat saya itu membalas, "kenapa?"

Membalas chat itu, saya perlu berpikir beberapa saat. Menjawab pertanyaan "kenapa?" membuat saya harus fokus kepada diri sendiri dan menggali ke dalam hati tentang apa yang sebenarnya sedang saya rasakan. Di titik ini saya tersadar bahwa ternyata saya selama ini terlalu fokus pada kepenatan pikiran yang terjadi sehingga diri tidak memiliki waktu dan ruang untuk bertanya kepada hati.

Setelah menjelajah ke dalam diri, setidaknya ada 2 hal yang sedang saya rasakan. Pertama, saya merasa lelah. Saya merasa pekerjaan rasanya tidak habis-habis, tapi dalam kesibukan itu, saya juga tidak bisa mengatakan bahwa diri saya produktif. Bagi saya, sibuk yang produktif adalah ketika kesibukan itu menimbulkan perasaan puas dan bangga pada diri sendiri. Jika yang didapat hanya lelah semata, mungkin ada yang salah. Kedua, masih karena kesibukan itu, saya sedang merasa insecure atau khawatir bahwa apa-apa yang saya lakukan ternyata tidak bernilai di hadapan Allah. Saya khawatir waktu, tenaga, bahkan materi yang dikeluarkan tidak ada artinya di hadapan Allah. Bukankah kita sendiri tidak akan suka jika segala upaya dan jerih payah kita dinilai sia-sia? :')

Di titik ini, saya merasa perlu untuk menyepi. Ibarat sedang mengendarai mobil, mungkin kini saya sedang berada di pinggir jalan dan melakukan monolog dengan diri sendiri, "Sebentar.. Sebentar.. Ini kok kamu kayak buang-buang tenaga dan buang-buang waktu doang ya, Na? Jadi sebenarnya kamu tuh mau kemana sih… Sok tentuin dulu yang jelas. Kita nggak akan lanjut nih kalau belum jelas." Fyuuuh.. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan aktivitas saya. Aktivitas saya selama sepekan tetap seperti biasa dan saya pernah berada di fase menikmati semua kegiatan saya. Saya pernah berada di fase antusias dan bersemangat dalam menjalani pekerjaan saya. Saya juga pernah merasakan kepuasan ketika saya berhasil membereskan satu demi satu pekerjaan dan serentetan to do list saya.

Letak kesalahan saya, bisa jadi karena saya tidak secara rutin memperbaiki niat secara berkala. Sebuah aktivitas, kegiatan, pekerjaan, project, atau apapunlah itu namanya, ketika pertama kali dilakukan adalah hal yang normal jika kita mengerjakannya dengan antusias. Diterima kerja untuk pertama kali, rasanya senang dan antusias. Mendapat penghargaan pertama kali, antusias. Ada tawaran project dengan keuntungan besar, antusias. Baru menikah di hari pertama, masih antusias. Namun jika hal yang sama diulang terus-menerus, dijalani terus-menerus, lama-kelamaan akan menjadi sebuah rutinitas. 

Sebuah rutinitas, rentan sekali kehilangan "nyawa" jika telah dilakukan dalam waktu yang lama. Bekerja akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang tidak dimaknai. Kuliah menjadi kebiasaan yang akhirnya bukan lagi fokus pada kebutuhan ilmunya, melainkan agar cepat lulus. Dan aktivitas lainnya yang secara perlahan kehilangan maknanya. Aktivitasnya tetaplah sama, tapi niatnya yang mungkin sudah tidak sekuat dulu, atau bahkan sudah melenceng.

Ternyata, memperbaiki dan memperbaharui niat itu amat sangat penting. Sebab, niatlah yang menjadi "nyawa" dari setiap aktivitas kita. Niatlah yang mentenagai kita untuk istiqomah. Niat juga yang membuat kesibukan kita menjadi bernilai. Ketika kita meniatkan melakukan sesuatu karena Allah, semangat dan rasa antusias itu tidak akan hilang selama apapun kita menjalani rutinitas. Ketika niat kita untuk mencari ridho Allah, sesibuk dan selelah apapun kita hari itu, senyum kita akan merekah dan hati akan merasa puas.

Kesuksesan kecil versi saya adalah ketika saya bisa memulai hari dengan basmalah dan menutup hari dengan hamdalah. Artinya, saya memulai hari saya dengan niat karena Allah, kemudian menjalani hari dengan membawa spirit bismillah itu di setiap aktivitas. Hasilnya, di akhir hari rasanyaa plooong banget. Rasanya hati ini puas sekali. Walaupun misalkan seharian itu saya sibuk pergi pagi pulang malam, tapi karena dikerangkai niat yang benar, walaupun fisiknya lelah, tapi hatinya bahagiaaa sekali. Kebahagiaan dan kepuasaan itulah yang membuat saya mengakhiri hari dengan mengucap alhamdulillah sebagai bentuk terima kasih saya kepada Allah. Saya merasa dijaga dan ditolong Allah selama seharian itu.

Tapi percayalah, walaupun rumus sukses harian itu terdengar sederhana, hanya dengan memulai dengan basmalah dan mengakhiri dengan hamdalah, pada prakteknya ternyata tidak semudah itu. Terkadang saya juga sering lupa bahwa diri ini milik Allah. Terkadang saya masih sering memaksakan kehendak diri. Terkadang lisan mengatakan bismillah tapi hanya sampai di ujung lidah saja, tidak sampai termaknai ke dalam hati. Astaghfirullah.. Semoga Allah mengampuni setiap kekhilafan.

Alhamdulillah, sekian dulu ya. Terima kasih sudah menemani saya menumpahkan isi pikiran sambil mengevaluasi diri. Ternyata sepenting itu peran niat dalam kehidupan sehari-hari. Semoga besok-besok tidak lupa lagi untuk selalu memperbaharui niat karena Allah. Doakan saya ya, sister! Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari suratku ini. Sampai bertemu di Senin berikutnya! Insya Allah.

Senin, 04 Februari 2019

Monday Love Letter #27 - This Life is A Marshmallow Test

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen! Sedang apa nih, sister? Masih sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikan atau sedang membaca email ini sambil bersantai? Mungkin ada yang lagi multitasking juga ya baca surat ini sambil nyambi pekerjaan yang lain. Hehe. Apapun itu, semoga setiap aktivitas kita Allah berkahi dan dinilai-Nya sebagai amal sholeh ya. Aamiin..

By the way, saya tadi tiba-tiba teringat pada sebuah video yang pernah saya tonton di sebuah seminar parenting yang menampilkan video tentang Marshmallow Test. Apakah kamu pernah mendengarnya atau menontonnya? Bagi yang belum tahu, video berdurasi sekitar 3 menit itu menampilkan beberapa anak yang menjalani sebuah tes dimana mereka dibiarkan di dalam ruangan dan masing-masing anak diberi satu buah marshmallow. Instruksinya, mereka boleh langsung memakan marshmallow itu, atau menunggu beberapa saat untuk bisa mendapatkan dua marshmallow. Ruangan ditutup dan tes pun dimulai. Lucu sekali melihat anak-anak kecil yang menatap marshmallow di depannya sambil berusaha menahan keinginan untuk memakannya. Hasilnya, dari 10 anak yang dites, ternyata hanya 1 orang yang berhasil.

Dari kacamata psikolog, pakar parenting, atau orangtua, mungkin tes ini dilakukan untuk menilai kemampuan self-control anak dan melihat apakah dia mampu menahan diri serta menunda keinginannya untuk mendapatkan keberhasilan yang lebih besar. Bahkan sebagian orang percaya bahwa tes ini dapat memprediksi kesuksesan anak.

Namun dari sudut pandang saya, ada satu hikmah yang menarik yang saya petik setelah menonton video itu. Saya rasa, hidup ini sebetulnya cukup mirip dengan marshmallow test. Lebih tepatnya, dunia ini adalah marshmallow test itu sendiri. Seperti yang kita tahu, manusia yang awalnya tidak ada, diciptakan oleh Allah ke dunia untuk beribadah. Setelah itu, Allah akan matikan kita untuk mempertanggungjawabkan hidup kita selama di dunia, kemudian Allah yang nanti akan memutuskan apakah kita pantas masuk syurga-Nya atau tidak.

Dunia ini, sesungguhnya adalah ujian. Dengan diciptakannya kita ke dunia, Allah ingin menguji apakah dengan segala kenikmatan yang ada di dunia, kita mampu menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangannya? Apakah kita bisa mengontrol diri kita untuk menahan hawa nafsu dan segala keinginan di dunia agar kelak bisa menikmati nikmat yang jauuuh lebih banyak dan lebih besar di akhirat? Apakah kita bisa sabar menjalankan perintahnya dan totalitas mengabdi kepada- Nya agar kelak di akhirat bisa menikmati indahnya bertemu dengan Allah dan Rasulullah SAW? Dan Maha Baiknya Allah, kita hanya perlu menahannya sebentar saja.


"Dia (Allah) berfirman, "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu mengetahui." -QS. Al-Mu'minuun (23) : 114


Sebentar. Sebentar saja kita hidup di dunia, kata Allah. Maka bersabarlah dengan segala ujian-Nya. Bersabarlah ketika hawa nafsu dan bisikan syetan mulai menggoda. Bersabarlah ketika nikmat dunia mengalihkan kita dan membuat semangat juang kita goyah. Bersabarlah didalam keimanan dan kebenaran yang kita yakini. Sungguh, perjuanganmu di dunia hanyalah sebentar saja. Nanti, setelah waktu yang Allah berikan habis dan kita berhasil melewati berbagai ujian dunia, Allah akan berikan kenikmatan yang sangaaat besar sebagai balasan atas kesabaran kita.


"…Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit." -QS. At-Taubah (9) : 38


"Apapun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." -QS. Asy-Syura (42) : 36


Orang beriman adalah orang yang cerdas. Ketika Allah memberinya dua pilihan; (1) mau senang-senang di dunia yang sebentar tapi engkau nanti tidak bisa senang-senang di akhirat, atau (2) mau berjuang di dunia dan nanti di akhirat kamu bisa bersenang-senang sepuasmu, tentu saja pilihan yang kedua yang akan menjadi pilihannya. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu akan memilih kesenangan hidup di akhirat sehingga ia rela berjuang mengalahkan hawa nafsunya demi menjalankan perintah Rabb-nya.

Di syurga-Nya kelak, kita bebas mau ngapain aja, kita bebas mau minta apa saja, bebas menikmati apapun yang ada disana. Tidak ada lagi perintah dan larangan Allah karena masa ujian sudah selesai. Syurga dan Ridho-Nya menjadi balasan atas keberhasilan kita dalam bersabar dari segala kenikmatan dunia yang sangat menggoda dan mendistraksi kewajiban kita sebagai hamba Allah.

Jadi, jika kamu (dan tentu saja diri saya sendiri) sedang merasa lelah dengan berbagai ujian dari Allah, sabar ya.. Ini hanya sebentar saja. Kalau ingin malas-malasan dan leyeh-leyeh, please ditahan dulu nanti aja leyeh-leyehnya kalau udah masuk syurga-Nya.

Dunia ini tempatnya berjuang, dunia tempatnya menuntaskan tugas-tugas dan amanah dari Allah, dunia tempatnya kita mengoptimalkan potensi diri dan menorehkan karya untuk bekal 'pulang', dunia tempatnya kita membuktikan profesionalitas kita sebagai hamba. Lelah itu pasti, tapi jika kita yakin akan janji Allah, Insya Allah semuanya akan terasa lebih ringan. Konon, Rasulullah SAW yang dijamin syurga aja, istirahatnya adalah shalat, kebayang seproduktif apa hidup beliau demi tuntas amanah dari Allah. Lah kita (eh saya maksudnya), belum dijamin syurga tapi dikit-dikit minta istirahat. Maluuu.. :(

Semoga kita semua mampu bersabar dalam ujian hidup yang sebentar ini. Saling mengingatkan dan mendoakan ya, sisterkuuu.. :*

Senin, 28 Januari 2019

Monday Love Letter #26 - Merawat Syukur

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu sister? Semoga jiwa dan ragamu senantiasa dalam keadaan yang baik dan semoga Allah memberkahi setiap aktivitasmu hari ini dan seterusnya :)

Di surat kali ini, saya ingin membahas tentang salah satu bahasan yang sepertinya cukup sering menjadi tema dari Monday Love Letter walaupun dengan format yang berbeda-beda, apakah itu? Syukur. Pagi tadi, sambil mencari ide tema surat hari ini, saya teringat balasan surat dari seorang sister of Deen yang bertanya tentang bagaimana caranya merawat syukur. Apakah itu menjadi pertanyaanmu juga? Atau kamu juga sedang dalam tahap berusaha merawat syukurmu?

Bicara tentang syukur, bukan berarti dengan saya menulis ini menunjukkan bahwa saya adalah orang yang paling bersyukur. Tidak sama sekali. Bagi saya, bersyukur adalah project seumur hidup. Menjalaninya pun susah-susah gampang, bahkan didalam Al-Quran sendiri banyak sekali ayat yang mengatakan, "tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur". Jlebb kan, disindir sama Allahnya sampai berkali-kali.

Karena syukur adalah project seumur hidup, maka perlu usaha dari kita untuk mau membiasakannya dan mengupayakannya terus-menerus di keseharian kita. Saya punya setidaknya 5 tips yang biasa saya praktekkan dalam memelihara syukur.

Melihat kepada diri sendiri. Cara termudah untuk bersyukur sebetulnya tidak jauh dari hal yang paling dekat dengan kita, yaitu diri kita sendiri. Diri yang ternyata masih diberi kesempatan hidup oleh Allah dan masih dipelihara dalam penjagaan terbaik-Nya, bukankah itu luar biasa? Betapa Allah tidak pernah luput mengatur alam semesta ini agar oksigen kita selalu cukup, makanan kita tidak pernah kurang, pertumbuhan fisik dan jiwa yang selalu Allah jaga dari kita bayi hingga sebesar sekarang, mekanisme tubuh yang sempurna dan rezeki Allah lainnya yang menjadi bukti bahwa Allah selalu mencukupkan segala keperluan kita. Tidak usah melihat yang jauh dulu, melihat diri kita sendiri saja sudah merupakan suatu keajaiban! Ada kebesaran Allah dalam diri kita, tidakkah kita patut bersyukur?

Melihat kepada orang lain. Allah sepertinya tahu betul bahwa manusia itu sulit bersyukur, maka dijadikan-Nya manusia itu berbeda-beda jatah rezekinya; Allah lebihkan kita di satu hal, sepaket dengan kekurangan kita di hal yang lain. Ada kalanya kita perlu melihat kepada orang lain yang lebih susah dari kita, yang tidak memiliki apa yang kita miliki seperti rumah tinggal yang nyaman, kesehatan, pekerjaan yang layak, kesempatan bisa bersekolah, dan lain-lain. Bukan untuk merendahkan mereka, melainkan untuk lebih menghargai dan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini. Siap?

Melihat bagaimana cara Allah memperjalankan hidup kita. Ah, kalau bicara yang ini, saya selalu ingin menangis terharu. Sehebat apapun kita merancang masa depan dan merencanakan hidup, sutradara terbaik dalam setiap episode perjalanan kehidupan kita, adalah Allah. Tapi coba perhatikan deh, Allah tuh so sweet banget lho sama kita. Impian-impian kita yang tercapai satu demi satu, itu karena Allah yang menghendaki. Kondisi lemah yang kemudian menjadi kuat, kondisi galau yang kemudian menjadi kokoh, kondisi diri yang selalu merasa kurang kemudian bisa menjadi diri yang selalu merasa cukup, itu karena Allah yang memampukan. Setiap usaha kita yang akhirnya membuahkan hasil, kualitas kehidupan yang semakin membaik, doa yang diijabah, itu karena Allah yang mengabulkan. Maha Baik dan Maha Romantis sebenarnya Allah tuh, kitanya aja  suka yang nggak sadar.

Menghitung nikmat Allah. Ya walaupun ngitungnya nggak mungkin bisa, tapi kalau disebut satu-satu nikmat Allah untuk kita, setidaknya kita jadi sadar bahwa Allah tuh udah ngasih banyak banget loh ke kita. Jadi kalau kita masih juga merasa kurang, Allahnya yang kurang ngasihnya atau kita yang buta dan nggak peka sama nikmat dari-Nya? Ada satu latihan yang pernah saya lakukan untuk meningkatkan rasa bersyukur saya, yaitu dengan rutin menuliskan "jurnal syukur" yang berisi hal-hal apa saja yang saya syukuri hari itu, setiap malam sebelum tidur. Dampaknya, saya jadi makin cintaaa sama Allah karena menyadari bahwa nikmatnya banyak sekali dan jadi malu kalau sering mengeluh. Hehe. Cobain deh, malam ini tulis jurnal syukurmu :)

Meredefinisi ulang makna syukur. Seperti yang saya sebut diawal bahwa syukur adalah project seumur hidup, bersyukur sebenarnya tidak hanya soal menerima. Lebih dari itu, bersyukur adalah tentang memberi. Segala hal yang kita terima dari Allah bukan untuk sekedar kita nikmati, melainkan untuk kita gunakan sebaik-baiknya agar kita bisa beribadah kepada-Nya dan memberikan persembahan karya terbaik untuk-Nya. Ya, pada akhirnya, bersyukur adalah tentang apa yang bisa kita berikan untuk Allah sebagai wujud terima kasih atas segala pemberian-Nya.

"Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." -QS. Al-Baqarah:152

Nah, itu cara merawat syukur versiku. kalau kamu, bagaimana caramu merawat syukur, sister? :)

Senin, 21 Januari 2019

Monday Love Letter #25 - Dan Aku Belum Pernah Kecewa dalam Berdoa Kepada-Mu, Ya Tuhanku


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen! Senang sekali akhirnya Monday Love Letter bisa sampai di surat yang ke-25. Senin ini sedikit berbeda karena saya dan Novie bertukar jam mengirim surat sehingga saya harus menulis suratnya lebih pagi. Mohon maaf karena atas keterlambatan suratnya ya, hehe.

Saya akan memulai dengan satu pertanyaan untukmu. Pernahkah kamu merasa kecewa ketika berdoa kepada Allah? Hari gini, siapa sih manusia yang nggak punya keinginan? Apalagi jika kita melihat pencapaian orang lain yang kita lihat di media sosial, pasti kita pun jadi ikutan ingin ini, ingin itu, banyak sekali! Dan dalam perjalanan mewujudkan keinginan dan impian kita, tak jarang kita menengadahkan tangan untuk berdoa kepada Allah agar semuanya itu Dia wujudkan, betul?

Lalu pernahkah kita sampai merasa kecewa ketika berdoa kepada-Nya? Dari mulai pertanyaan halus seperti "Ya Allah, kok doaku nggak dikabul aja ya.." hingga ada perasaan marah ketika berdoa kepada-Nya, "Ya Allah kenapa doaku tak juga Kau kabulkan siih?!" Apakah kamu pernah begitu? Jika pernah, kita istighfar sama-sama ya..

Saya pernah membaca sebuah kisah Nabi Zakaria yang ada di awal QS. Maryam. Dalam surat itu Allah menceritakan bagaimana Allah menganugerahkan anak kepada Nabi Zakaria padahal ketika itu Nabi Zakaria sudah tua, tulang-tulangnya telah lemah dan telah beruban. Bahkan istrinya pun adalah seorang yang mandul. Namun dengan kuasa-Nya, mereka dapat memiliki anak yang kemudian diberi nama Yahya yang saat dewasanya diangkat menjadi Nabi untuk meneruskan perjuangan ayahnya.

Yang ingin saya garis bawahi disini adalah tentang bagaimana Nabi Zakaria berdoa kepada Allah, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." Kalimat "dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku" sempat membuat saya sedikit heran. Ada bagian dari otak saya yang sepertinya tidak bisa menerimanya, "Serius? Nggak pernah kecewa ketika berdoa sama Allah? Kok bisa?" Mungkin karena saya teringat pada kejadian masa lalu yang pernah membuat saya kecewa terhadap takdir-Nya. Normal kan? Karena pada kenyataannya memang tidak semua keinginan kita dikabulkan Allah.

Tapi apakah tidak kecewa dalam berdoa kepada Allah berarti doa kita selalu dikabulkan oleh-Nya? Saya rasa tidak. Semakin dewasa, saya semakin mengerti bahwa Allah selalu punya cara tersendiri dalam menjawab doa hamba-Nya. Saya mengenal seseorang yang pernah kecewa ketika kampus dan jurusan kuliah yang ia masuki bukanlah yang ia inginkan, tapi justru dari kampus dan jurusan itulah dia mendapatkan lingkungan pertemanan yang baik yang mungkin tidak akan dia dapatkan jika berkuliah di kampus impiannya.

Saya mengenal seseorang yang pernah kecewa dengan pola asuh orangtuanya di masa lalu, tapi justru dengan pengasuhan seperti itulah dia bisa memiliki prinsip hidup yang kuat yang mungkin tidak akan dia dapatkan jika dia lahir di keluarga yang lain.

Saya mengenal seseorang yang selalu punya harapan agar Allah memberi kesempatan untuk menjelajahi bumi-Nya, ternyata Allah kabulkan satu per satu dengan kejutan yang tak disangka-sangka. Saya juga mengenal seseorang yang selalu berdoa agar Allah memberinya keturunan dan Allah masih menahan keinginannya tersebut namun Allah menggantinya dengan kehadiran "anak-anak" ideologis yang sangat dia syukuri karena makna keturunan tidak hanya anak yang lahir dari rahimnya saja.

Seseorang itu, adalah saya. Mungkin kamu juga pernah mengalami hal yang serupa, atau bahkan punya cerita yang lebih "mengecewakan". Namun ketika kita berhasil menemukan hikmah yang besar dibalik setiap doa yang ditunda atau diganti oleh-Nya, kekecewaan itu akan menghilang begitu saja, berganti dengan rasa syukur dan rasa terima kasih yang besar karena ternyata takdir dari Allah selalu yang terbaik dan Dia selalu paling tahu apa yang kita butuhkan. Mungkin kita pernah kecewa ketika berdoa kepada Allah, tapi percayalah, jawaban Allah dalam setiap doa kita, tidak pernah mengecewakan.

Dari Abu Said bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Tiada seorang muslim pun yang memanjatkan suatu doa yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahim, melainkan Allah pasti memberinya berkat doa itu adalah satu dari tiga perkara, yaitu: adakalanya permohonan itu segera dikabulkan; adakalanya permohonannya itu disimpan oleh Allah untuknya kelak di hari kemudian, dan adakalanya dipalingkan darinya suatu keburukan yang semisal dengan permohonannya itu." Mereka (para sahabat) berkata, "Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa." Nabi SAW menjawab, "Allah Mahabanyak (mengabulkan doa)." (HR. Ahmad)

Hari ini, seiring dengan pemahaman dan pengalaman hidup yang saya dapatkan, bersama setiap doa yang saya panjatkan kepada-Nya, saya juga akhirnya bisa mengatakan "Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." Semoga kamupun begitu ya :)

Senin, 14 Januari 2019

Monday Love Letter #24 - Bangun, Wahai Jiwa!


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah sudah hari Senin lagi! Bagaimana kabarmu sepekan kemarin, sister? Saya cukup kaget karena ternyata hari ini adalah tanggal 14 Januari, berarti sudah hampir setengah bulan terlalui di tahun 2019 ini. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sekali.

Sepekan ke belakang, saya merasa hidup saya seperti menjalani rutinitas biasa. Seperti ada energi yang tertahan sehingga menjalani aktivitas sehari-hari dengan biasa saja. Dibilang bersemangat, tidak. Dibilang tidak bersemangat, juga tidak. Tidak nyaman sebenarnya, karena saya merasa seperti sedang kehilangan diri sendiri. Merasa asing dengan diri sendiri. Apakah kamu pernah merasakannya juga?

Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan. Sambil tetap beraktivitas seperti biasa, saya berusaha meningkatkan kepekaan hati pada setiap aktivitas saya. Baik itu di urusan rumah tangga, di pekerjaan, di setiap pertemuan dengan orang lain, di setiap ibadah ritual saya, juga di setiap kejadian yang Allah hadirkan dengan harapan semoga Allah menyelipkan hikmah dan jawaban atas keresahan yang sedang saya alami. Apakah kemudian saya berhasil menemukan kembali diri saya? Ternyata tidak semudah itu. Sepertinya Allah masih merahasiakan hikmah yang ingin Dia berikan kepada saya.

Lalu di suatu kesempatan, Allah mengingatkan saya dengan cara-Nya. Weekend kemarin saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan 2 hari 1 malam dimana ada momen api unggun di malam harinya. Saya mendengarkan ungkapan dari teman-teman saya satu per satu sambil menatap kobaran api di depan saya dengan agak sedikit melamun. Hingga saya mendengar salah seorang teman berkata, "Kita bisa jadikan momen ini sebagai momen pengingat bagi kita. Kalau kita masuk neraka, ya hanya ada api yang panas seperti di depan kita. Tidak akan ada udara dingin, hanya ada api yang panas, dan kita harus menjalaninya tanpa akhir," kurang lebih begitu yang dikatakannya. Kemudian pikiran saya jadi melayang memikirkan betapa pilunya kehidupan saya jika harus berakhir di neraka. A'udzubillahi min dzalik..

Momen api unggun itu kemudian ditutup oleh doa bersama. Dari sekian doa yang dipintakan, ada satu doa yang membuat saya tercekat, "Semoga Engkau memampukan kami agar bisa mempertanggungjawabkan amanah kami kelak di hadapan-Mu Ya Allah.." JLEBB tiba-tiba saja hati saya seperti ditusuk anak panah. Refleks, saya mengingatkan diri sendiri, "Tuh, denger! Bangun, wahai jiwa! Bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkan hidupmu kelak di hadapan Allah?! Bagaimana kamu akan berbicara di mahkamah agung pengadilan Allah kelak di akhirat jika hidupmu seperti ini?!"

Rasanya lutut saya langsung lemas. Teringat bahwa diri ini adalah milik-Nya dan kelak akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan hidup selama di dunia. Bagi manusia yang yakin akan adanya hari akhir dan paham rute perjalanan hidupnya, tentu tahu bahwa akan datang kepadanya suatu masa dimana ruh yang sudah berpisah dari jasad dibawa ke hadapan Allah untuk diadili tentang banyak perkara dalam hidupnya.

Nabi SAW bersabda, "Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat sehingga ia ditanya tentang lima hal; tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari (ilmu) yang ia ketahui." (HR. At-Tirmdzi)

Malam itu, menjadi peringatan yang telak untuk saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kelak saya akan menjawab segala pertanyaan dari Allah tentang penggunaan harta, ilmu, waktu luang, waktu sehat, usia, masa muda dan seluruh kehidupan saya jika tidak digunakan dalam rangka memenuhi keinginan Allah terhadap diri saya. Sejatinya semua milik Allah, manusia hanya dititipi. Termasuk jasad dan hidup kita, juga adalah titipan-Nya untuk dipergunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dan setiap titipan, kelak akan Allah tanya, digunakan untuk apa?

Guru saya pernah berkata bahwa arti dasar dari kata taqwa adalah takut. Dan sebutan muttaqin (orang yang bertaqwa) adalah sebaik-baik gelar dari Allah untuk manusia. Semuanya berasal dari rasa takut. Takut mengkhianati titipan Allah kepada dirinya.

Dititipi harta oleh Allah, takut dibelanjakan selain untuk keperluan ibadah dan berjuang di jalan Allah. Dititipi kemampuan dan kesehatan, takut dipergunakan selain untuk kepentingan ibadah dan dakwah. Dititipi masa muda dan waktu luang, takut dipergunakan selain untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan disukai-Nya. Dititipi usia dan kesempatan hidup di dunia, takut dipergunakan selain untuk mengabdi kepada Allah dan memberikan persembahan dan karya yang terbaik untuk-Nya. Ternyata, kehidupan yang mulia dan kepulangan yang selamat dimulai dari rasa takut. Takut mengkhianati amanah dan titipan-Nya.

Fyuuuhh menulis paragraf di atas saya langsung menghela nafas panjang dan merefleksi diri, "Dimana rasa takutmu kepada Allah, Na?" Sudah siap jika disuruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Allah atas segala hal yang Allah titipkan padamu? Sudah siap jika diminta mempertanggungjawabkan kesempatan hidup di dunia yang diberikan oleh-Nya? Bangun, wahai jiwa! Persiapkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) terbaik untuk dibawa ke hadapan Allah. Sungguh, waktumu tidak banyak..

Terima kasih sister, sudah membaca curhatan saya yang panjang ini. Semoga bisa memberikan hikmah yang besar juga untukmu ya. Pada akhirnya, kita memang tidak punya pilihan selain totalitas mengabdi pada-Nya dan berjuang mati-matian menjalankan amanah tujuan penciptaan kita. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita, menjaga keistiqomahan kita dan memampukan kita agar bisa mempertanggungjawabkan setiap amanah yang Ia titipkan kepada kita.

Senin, 07 Januari 2019

Ketika Ketulusan Menembus Hati Manusia

Hari ini aku mendapat sebuah pesan whatsapp dari seorang sahabat. Isinya sebuah foto surat tulisan tangan yang pernah aku berikan untuknya di hari ulang tahunnya 3 tahun yang lalu. Dia bilang, tulisan itu selalu menjadi penyemangatnya dan selalu dia baca berulang-ulang setiap kali dia merasa butuh dikuatkan. Katanya, setiap membacanya, dia seperti mendapat energi baru.

Dibilang gitu, tentu saja aku terharu. Aku bahkan hampir lupa bahwa aku pernah menulis surat itu. Tapi ternyata surat itu selalu dia bawa, bahkan dibaca berulang-ulang. Sejak kapan coba tulisan aku bisa se-magic itu. Hahaha. 

Dipikir-pikir, selain nulis buku harian, aku emang hobby sih ngasih surat ke orang-orang. Biasanya momen yang tepat adalah ketika hari ulang tahun. Aku kasih mereka surat sebagai hadiah ulang tahunnya, ditulis pake tulisan tangan. Selain bisa jadi alternatif kalo pengen ngasih hadiah tapi nggak punya duit, surat tulisan tangan terasa lebih berkesan dan lebih kerasa juga effort dan ketulusannya, dibanding surat online via caption Instagram atau blog. Jadi pengen ngerutinin lagi kebiasaan ngirimin surat tulisan tangan ke orang-orang :)

Ketulusan memang bisa menembus hati manusia. Dan bagiku, menulis surat menjadi latihan untuk melembutkan hati karena ketulusan hanya bisa lahir dari hati yang lembut. Aku jadi belajar untuk melihat kebaikan-kebaikan yang ada pada orang itu dan mensyukuri keberadaannya sebagai salah satu orang yang berharga di kehidupanku. Bagiku, setiap orang itu punya arti dan karena kehadiran merekalah, hidup kita menjadi lebih berwarna. Aku belajar untuk mengutarakan rasa terima kasih itu kepada orang yang kukirimi surat. Terlebih jika surat itu aku berikan di hari ulang tahunnya, rasanya seperti ingin mengatakan, "Terima kasih karena telah lahir ke dunia." Nggak jarang, mereka yang baca suratku, pasti nangis, minimal bilang terharu lah. Aku juga mau siiihhh di suratiiiinnn biar terharu-terharu gituuuu wkwkwk

Dan Allah dengan segala skenario-Nya, membawa aku pada kegiatan bersurat lagi dengan adanya Monday Love Letter. Monday Love Letter ini agak sedikit berbeda karena nulisnya buat banyak orang. Jadi kadang mikir juga karena tema dan gaya bahasanya harus dibikin general. Nggak seluwes kalau nulis surat ke perorangan. Tapi bikinnya nggak kalah seru sih. Soalnya banyak yang balesin dan berterima kasih juga sama suratnya. Bahkan banyak yang bilang, "Kok pas sih suratnya sama keadaan aku sekarang." Ya kalau soal yang itu aku juga nggak tahu. Mungkin Allah emang ngasih ilhamnya sesuai dengan kebutuhan pembaca juga kali. Hehe.

Intinya, aku seneng banget nulis. Dan ada kesenangan tersendiri ketika menulis surat untuk orang lain. Ada apa ya sebenarnya dengan aku dan menulis surat? Kok kita kayak jodoh, ketemu lagi, ketemu lagi. Apa aku bikin jasa nulis surat aja gitu? Hahaha.

Monday Love Letter #23 - Sebuah Jeda Untuk Diri Sendiri

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu sister? Sejujurnya saat ini saya sedang tidak baik-baik saja. Saat ini rasanya bukan saat yang tepat bagi saya untuk menulis surat untukmu, karena sayapun sebenarnya sedang perlu inspirasi, perlu bahu untuk bersandar, perlu dikuatkan. Tapi terkadang keimanan menuntut kita untuk mengorbankan perasaan, sebab mengajak orang-orang pada kebaikan bukan berarti dirinya sudah sepenuhnya baik. Menjadi da'i bukan berarti telah menjadi yang paling sholeh. Maka saya putuskan untuk tetap menulis, walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri.

Sedikit bercerita, saya dulu pernah mempunyai masalah dengan kepercayaan diri. Saat di sekolah, saya adalah anak yang pemalu, kurang bisa bergaul, tidak berani mengutarakan pendapat atau mengajukan pertanyaan di depan banyak orang. Bahkan, saya pernah menangis di depan kelas ketika disuruh membaca puisi. Bertahun-tahun seperti itu, bertahun-tahun pula saya membenci diri saya sendiri. "Bodoh kamu Na, gitu aja nggak bisa." "Kenapa sih harus nangis? Emang nggak bisa ditahan ya air matanya?!" Saya sering sekali merutuki diri saya sendiri, melampiaskan kekecewaan saya kepada diri sendiri.

Di hadapan orang lain, saya merasa bukanlah apa-apa. Saya selalu merasa kalah dari mereka yang jauh lebih pintar dari saya sehingga saya tidak memiliki keberanian untuk mencoba lebih jauh. Pikir saya, saya pasti tidak akan bisa menjadi sebaik mereka. Mungkin banyak yang tak menyangka, tapi itulah kenyataannya.

Tapi dibanding rasa tidak percaya diri di depan orang lain, tidak ada yang lebih buruk dibanding rasa tidak percaya diri di hadapan Allah. Saya sering sekali merasa diri ini hina dan penuh dosa sehingga tidak mungkin punya kesempatan untuk bertaubat. Saya sering sekali merasa amal sholeh yang saya lakukan tidak bisa menutupi dosa yang kemarin-kemarin, lalu berputus asa dengan dalih kepalang tanggung. Tanggung sekalian jelek aja maksudnya. Astaghfirullah.

Kini, semuanya sudah jauh lebih baik. Saya mulai bisa menerima diri sendiri, saya mulai percaya bahwa diri saya memiliki berlian diri yang tidak orang lain miliki. Saya jadi lebih berani "keluar kandang" untuk mengaktualisasikan potensi dan percaya pada kelebihan yang saya miliki. Saya menjadi lebih bisa bersyukur.

Namun, sekeras apapun saya melatih diri ternyata perasaan inferior itu tidak hilang sepenuhnya, menyisakan residu yang masih sesekali muncul. Seperti hari ini, dimana saya sedang merasa kecewa terhadap diri sendiri. Lagi-lagi, saya menyalahkan diri saya sendiri, lalu berakhir dengan perasaan putus asa. Jika tubuh saya bisa dibagi dua, ingin rasanya berdiri di hadapan diri sendiri dan menampar-nampar pipi saya sendiri sambil berteriak,"Sadar, hei!"

Di saat seperti ini, rasanya lebih enak jika saya menghilang saja meninggalkan tanggungjawab. Rasanya ingin menyewa orang saja untuk menyelesaikan masalah. Tapi sayangnya cara Allah mendidik tidak begitu. Jika Allah memberi ujian, berarti Allah sedang memproses kita untuk naik kelas. Jika Allah memberi amanah yang lebih besar berarti Dia sedang memproses kita untuk menjadi mulia. Jika Allah memberi beban yang lebih berat berarti Dia mempercayai kita untuk memikulnya. Berhusnudzon kepada Allah selalu menjadi penyelamat saya.

Pagi tadi, saya membaca 3 ayat yang sepertinya Allah memberikan kisi-kisi yang begitu jelas kepada hamba-Nya yang sedang dzalim pada dirinya seperti saya ini.
 
Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu (Al-Quran) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya. 

QS. Az-Zumar (39) : 53-55)

Pertama, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih ada waktu dan kehidupan, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Kedua, kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Jadilah sebaik-baik hamba yang hanya fokus pada Tuhannya. Ketiga, buktikan berserahnya diri kita dengan mengikuti Al-Quran. Laksanakan perintah-Nya dan jauhi segala hal yang membuat-Nya murka. Sederhana, asalkan kita mau. Selama orientasi hidup kita adalah Allah, insya Allah selalu ada jalan bagi mereka yang ingin terus mengadakan perbaikan. Semoga Allah mampukan kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya.

Yah, jadi curhat panjang nih saya, surat ini lebih cocok ditujukan untuk diri saya sendiri sih sepertinya, hehe. Memang ya, jalan menuju Allah itu mendaki lagi sukar. Dan tidak ada yang bisa membuat kita sampai selain ketersediaan iman. Percaya bahwa janji Allah itu benar. Jika mulai merasa lelah, cek ketersediaan iman kita, jangan-jangan sudah di bawah batas aman. Istirahat boleh, asalkan setelahnya lanjutkan mendaki. Oh ya, satu lagi. Jangan sendirian.