Senin, 29 Desember 2014

Dari Kalian Para Pemimpin, Aku Belajar

Dari kalian para pemimpin, aku belajar, bahwa menjadi pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah.

Seorang pemimpin harus rela menekan egonya, padahal ia juga manusia biasa yang mungkin butuh bersenang-senang.
Pemimpin harus lebih menyediakan waktunya untuk mendengar, sementara di saat yang sama ia juga harus menyampaikan banyak hal kepada anggota timnya.
Pemimpin adalah orang yang pikirannya paling sibuk memikirkan strategi, rencana dan hasil, sementara anggota timnya mungkin tinggal tidur-tiduran menunggu perintah.
Pemimpin adalah orang yang paling pertama disalahkan atas keteledoran anggota timnya, malah terkadang harus bertanggungjawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya.
Pemimpin adalah orang pertama yang akan tercoreng mukanya ketika ada anggota timnya yang tidak memiliki integritas. Integritas pemimpin seringkali ikut terlukai ketika ada anggota tim yang tidak memiliki integritas.
Dan masih banyak lagi pengorbanan mereka yang mungkin selama ini tidak kuketahui.

Walau begitu, pemimpin adalah orang yang rela bertanggungjawab atas semuanya.
Pemimpin adalah orang yang akan ada di barisan terdepan untuk membela anggota timnya, percaya bahwa timnya bisa berkembang dan memperbaiki kesalahan.
Pemimpin adalah orang pertama yang akan mengulurkan bantuan, walau mungkin melalui delegasi. Kepedulian yang seringnya tak kasat mata.
Pemimpin adalah ia yang akan tetap bertahan walau yang lain berguguran.
Yang lebih mengagumkan lagi adalah, ketika ia dan timnya berhasil mencapai sesuatu, seorang pemimpin tidak pernah membanggakan dirinya, justru yang ia lakukan adalah mengapresiasi kinerja tim, bahwa dia bukan apa-apa tanpa kerjasama timnya.

Rabu, 24 Desember 2014

Menyalurkan Amarah

Di dunia ini, pasti akan ada orang yang (suatu waktu) menyebalkan, akan ada orang yang (suatu waktu) mengecewakanmu, akan ada orang yang (suatu waktu) hanya mementingkan dirinya sendiri, akan ada orang yang (suatu waktu) perangainya kurang baik. Tapi kusarankan, kau tak perlu marah pada orang-orang seperti itu.  Salurkan kemarahanmu dengan janji yang sepenuh-penuhnya pada dirimu sendiri bahwa jika kelak kamu berada di posisinya, kamu tidak akan seperti itu.


*kutambahkan "suatu waktu", karena tidak ada orang yang selamanya menyebalkan bukan?

Rabu, 17 Desember 2014

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak

by: Tere Liye

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dilingkupi kecemasan, maka Bunda juga gemetar penuh keraguan,
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, keraguan itu musnah bagai kabut disiram cahaya matahari pagi,
berganti keyakinan dan keteguhan.

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita ditimpa musibah, maka Bunda juga menghela nafas, menangis,
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, dia bergegas menyeka ujung matanya, mengusir semua sedih
berganti perasaan riang dan ketulusan.

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dirundung kekurangan, maka Bunda juga tertatih penuh beban.
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, dia bergegas berdiri tangguh, berusaha tegar dengan sisa apapun
berganti semangat menyala terus berusaha

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dalam ketakutan, dalam pertengkaran, dalam kegagalan
dalam situasi itu semua, Bunda juga tergugu berharap sandaran dan pertolongan,
tapi sungguh anakku, kau memberikan semua energi tidak terkira itu

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Maka kuberitahukan sebuah rahasia kecil ini
Betapa malam-malam, saat kau sudah tertidur nyenyak,
Bunda bersimpuh dengan air mata, berdoa, berjanji,
Akan selalu menjadi Bunda terbaik bagimu.
Walau kita tidak pernah tahu itu.

Kamis, 11 Desember 2014

Sebait Doa

Sore itu, aku bersama tiga orang teman ngobrol bareng, sambil makan. Sambil melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Saling menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing, saling memberikan informasi jika dibutuhkan. 

Tapi karena aku ada agenda, jadi aku pamit duluan. Berat sih pisahnya, karena aku seneng banget ketemu mereka setelah lama ga ketemu. Dan refleks, sambil menyalami mereka, aku mengucap doa. Semoga cepet dapet kerja, semoga skripsinya dilancarkan, semoga bulan ini ada jadwal sidang, aku mendoakan mereka sesuai dengan keadaan mereka masing-masing. 

Kemudian aku tercengang. Ternyata ucapan doa yang sederhana itu membuat wajah mereka menjadi cerah, dan mereka meng-aamiin-i dengan sumringah. Seakan mendapat hadiah besar sekali. Padahal itu hanya sebuah doa. Pemberian yang sangat sederhana.

Ternyata sebait doa sederhana bisa mengundang kebahagiaan. Bahkan bagi yang mendoakan. Akupun ikut senang ketika tahu bahwa doa itu mengundang senyum dari yang didoakan. Rasanya seperti memberi hadiah kepada orang yang tepat. Walaupun sangat sederhana. Ya, hanya sebait doa. :)

Jumat, 14 November 2014

Memahami Bahasa Tangis(mu)

Aku baru sadar, bahwa tangis adalah bahasa tubuh yang menyimpan banyak kata yang tak mampu terkatakan. Ekspresi yang menyembunyikan banyak perasaan.

Saat terlalu bahagia, sampai-sampai tak tahu bagaimana membahasakannya, kamu menangis.
Saat merasa begitu terharu, hingga tak tahu bagaimana caranya berterima kasih, kamu menangis.
Saat merasa sedih karena sebab tertentu atau bahkan tanpa tahu apa sebabnya, kamu menangis.
Saat merasa panik lantaran kekhawatiran yang tak bisa terkendalikan, kamu menangis.
Saat merasa takut, dan tak tahu harus mencari perlindungan pada siapa, kamu menangis.
Saat merasa marah namun tak sanggup melampiaskannya, kamu menangis.
Saat dikecewakan tapi tak mampu menyalahkan atau mengecewakan tapi tak sanggup mengucap maaf, kamu menangis.
Saat merasa kehilangan bersama rindu yang hampir pecah, kamu menangis.
Dan mungkin masih banyak lagi sebab tangisanmu yang aku tak tahu.

Mengapa bahasa tangismu banyak sekali? Dan yang paling menyebalkan adalah aku tak tahu bagaimana menyikapi setiap tangismu. Karena bersamaan dengan hadirnya tangis, ia selalu menelan setiap kata-katamu. Kamu hanya diam sambil terisak. Dan aku hanya bisa menerka-nerka apa yang berusaha kamu katakan lewat tiap butir air matamu.

Sabtu, 08 November 2014

Yang Tak Tertulis

Ketika aku tak bisa menyampaikan sesuatu dengan lisan, maka tulisan selalu menjadi pelarian yang ampuh untuk mencurahkan semuanya. Namun ada kalanya kata-kata bahkan tak bisa mendefinisikan apa yang sedang aku rasakan. Ada kalanya ketika sudah siap dengan kertas dan pulpen, aku tidak bisa menulis apapun walau sangat ingin.

Menggambar dan bermain musik adalah dua hal yang begitu ingin kupelajari dan aku selalu dibuat iri oleh mereka yang bisa melakukannya. 

Kalau ngeliat pensil, spidol, atau crayon suka gemes pengen bisa ngegambar. Sebenarnya sih kalo mau ngegambar ya tinggal ngegambar aja ya, cuma kadang suka sakit mata sendiri ngeliat gambar yang dibikin sendiri. -_-"

Kalau lagi di rumah juga kadang ngelamun ngeliatin gitar. Gemes pengen dimainin, tapi akhirnya cuma genjreng-genjreng nggak jelas. Abis itu sebel sendiri karena denger nada-nada ga beraturan. _-_

Bermain kata memang menyenangkan. Sayangnya, tak semua perasaan bisa "dibahasakan".

Minggu, 26 Oktober 2014

Hi

I woke up at around 2 am and when i check my phone, there's a message from an unsaved number.


25/10 23:10 Miss me?
25/10 23:12 I got 1000 free text, so here we go..
25/10 23:16 "Sometimes the smallest step in the right direction ends up being the biggest step of your life"

Hi! Nice to see you, bestfriend! Do you know how happy I am when I got your message?! :D
I knew it's you. Although you didn't put your name on it.

Congrats for your first step. Keep going. Although it's hard, although you're slow, it's okay. Just keep going. And never step back. I'm on your side. :)

Do you remember when you give me a thousand words and I replied with only two: "don't disappear"Thank you for keeping your promise. Thank you. :')

Sabtu, 25 Oktober 2014

Menjadi Atlet Allah

Kau tahu, sahabatku? Menjadi atlet Allah yang tangguh itu capek ternyata.. Kalau belum terbayang, kita bayangkan atlet olahraga aja dulu. Atlet sepakbola, misalnya. Prosesnya panjang kan? Harus latihan tiap hari, belajar terus, mengasah skill baru, uji coba pertandingan dengan berbagai tim, dari tim yang ecek-ecek sampai tim yang hebat untuk melihat sejauh apa kemampuannya jika ditandingkan dengan orang lain. Belum lagi dia juga harus merasakan sakit (hati) jika dia kalah di pertandingan, pelatihnya mungkin memarahinya. Tapi atlet yang tangguh tidak akan pernah berhenti belajar, dia memperbaiki diri dari melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.. Dan tahu apa? Belajar lagi, berarti berusaha lebih keras. Yang tadinya berlatih 8 jam sehari, jadi 12 jam sehari. Yang awalnya tidur jam 11 malam, jadi tidur jam 2 pagi lalu bangun sebelum matahari terbit. Semua modul yang dibuat pelatihnya dilahap habis. Terbayang capeknya? Capek sekali. Aku membayangkannya saja sudah capek..

Tapi apa yang kemudian dia dapat dari keletihan itu? Dia menjadi atlet sepakbola yang hebat di tengah lapangan. Dia menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah perjalanan sepakbola. Dia ditonton dan dielu-elukan banyak orang. Setiap orang suka padanya, setiap orang memujinya. Dia menjadi inspirasi bagi orang-orang, terutama bagi mereka yang ingin menjadi atlet seperti dirinya.. Pelatihnya bangga padanya, dan dia menyatakan rasa bangganya di depan orang-orang yang ditemuinya, “dia muridku, aku bangga padanya,” begitu katanya. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya? Rasanya seperti berada di puncak gunung setelah melakukan perjalanan yang melelahkan. Pencapaian-pencapaian kecil yang dulu dilakukannya kini terasa besar, perjuangan dia yang melelahkan itu kini ada nilainya. Bersyukur kepada Allah dan bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menyelesaikan prosesnya..

Lalu bagaimana menjadi seorang atlet Allah yang tangguh? Sama capeknya. Bahkan mungkin jauh lebih capek. Rasulullah dan para sahabatnya bisa kita jadikan contoh. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Rasulullah ketika beliau yang awalnya dijuluki al-Amin kemudian dikatai orang gila, tukang sihir, dsb. Sakit rasanya, merasa dikhianati.. Tidak sampai disitu, beliau juga diejek, diolok-olok, dibicarakan hal yang buruk-buruk oleh penduduk sekitar, dipukuli, dilempari kotoran, diusir, bahkan hendak dibunuh. Para sahabatnya pun demikian. Disiksa, dibunuh, hidupnya tidak tenang karena para musuh-musuh Allah itu tidak akan membiarkan ajaran nenek moyang mereka dirubah. Mereka tinggalkan keluarganya, mereka tinggalkan atribut-atribut kemaksiatan itu dengan segala risiko.. untuk satu cita-cita: menjadi atlet Allah yang tangguh. Baju yang terkoyak, daging yang tertebas, darah yang bercucuran saat perang menjadi saksi perjuangan mereka. Siksaan demi siksaan mereka lalui hanya untuk satu kata, “Ahad..”

Mengenang perjuangan mereka betul-betul membuat diriku merasa kerdil. Masih menangis karena ujian sepele padahal ujian mereka jauh lebih hebat tapi mereka tidak menangis. Tubuh mereka selalu terbaluti semangat karena keyakinan yang kuat pada Allah, karena percaya pada janji-janji Allah. Bagaimana perasaan mereka saat menjalani ujian itu?Lelah? Sudah pasti.Takut? Jelas. Taruhannya nyawa.Sakit? Ya. Mungkin sampai berkali-kali tertebas pedang atau tertusuk panah.Pengorbanan mereka berkali-kali lipat lebih besar dibanding atlet sepakbola tadi dan dibandingkan kita.

Lalu apa yang mereka dapatkan? Kemuliaan. Mereka mendapatkan derajat mulia itu. Rahmat dan Ridho Allah mereka peroleh, berwujud surga yang indahnya jauh melebihi ekspektasi mereka. Berbagai pujian mereka dapatkan dari para penduduk langit, dan mungkin dari penduduk bumi juga, dari para generasi setelah mereka yang merasa bersyukur bisa merasakan nikmat iman islam ini karena perjuangan mereka.. Allah bangga pada mereka? Jelas sekali. Allah beri mereka hadiah-hadiah yang dijanjikan-Nya pada mereka. Allah kumpulkan mereka kembali bersama orang-orang yang mereka cintai. Mereka menikmati kenikmatan luar biasa sementara orang-orang yang dahulu memusuhinya mendekam selamanya dalam siksaan api neraka. Perjuangan dan pengorbanan mereka terbayar sudah oleh surga dan keridhoan-Nya yang bahkan harganya jauh lebih mahal dari itu. Subhanallah.. Semoga kita bisa menjadi seperti mereka..

Mungkin saat ini kita sedang merasa lelah. Tapi bukankah dunia memang tempatnya berlelah-lelah? Karena bagi orang-orang yang beriman, istirahat mereka di surga. Akhirat adalah waktu pembebasan dari semua amanah dunia yang kemudian Allah balas..

Maka, jika merasa letih, itu wajar. Bahkan HARUS letih. Supaya di negeri akhirat sana kita bisa tersenyum dan bergembira selamanya.. 


"Rasa syukurku yang paling besar ya ini, yaitu ketika aku merasa diperhatikan dan dicintai Allah, dengan apapun itu bentuk cintanya.. Karena wujud cinta-Nya tidak hanya berupa tawa dan bahagia, tapi mungkin juga dengan air mata agar dijadikannya hati kita bersih. Mungkin sesekali dengan tamparan keras jika kita sudah terlalu jauh dari-Nya. Mungkin dengan cobaan dunia yang menghimpit supaya kita jadi lebih kuat. Mungkin dengan labirin dan jalan buntu supaya potensi kita keluar."


Bandung, 3 Oktober 2013 (repost with edit)

Minggu, 19 Oktober 2014

Maha Pencemburu

Ketika diri ini merasa lemah dan mulai berpikir untuk bergantung kepada manusia, aku tak pernah diberi kesempatan itu. Malah seringkali yang Allah berikan justru sebaliknya. Aku malah dijadikan tempat bergantung oleh orang lain. Seakan diperingati dengan tegas, "Kalau mau mencari tempat bergantung, cari saja Aku. Cukup Aku."

Ketika diri ini ingin memuntahkan isi pikiran dan emosi, mencari-cari orang lain untuk dijadikan tempat berkeluh kesah atau pelampiasan amarah, aku hampir tak pernah memiliki kesempatan itu. Tapi dalam kesendirian itu selalu ada bisikan menenangkan, "Tahukah kamu bahwa Aku adalah pendengar yang paling baik? Maka lampiaskan saja semuanya padaku. Cukup Aku."

Ketika aku ingin berlari menangis ke pelukan orang lain, seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Saat sedihku belum sepenuhnya hilang, aku malah dihadapkan dengan orang lain yang sedang bersedih dan butuh ditenangkan. Lagi-lagi Allah ingin berbicara padaku, "Kalau ingin menangis, cari saja Aku. Apalagi jika kita berduaan di sepertiga malam. Mengadulah sepuasnya padaku. Cukup Aku."

Al-Ghayyur. Satu dari 99 Asma-Nya dalam Asmaul Husna yang artinya Maha Pencemburu.

Ketika kecintaan pada dunia semakin membuatku lupa padaNya, Dia tak segan-segan mengambilnya dariku. Awalnya kukira Dia kejam, tapi lalu aku sadar bahwa Dia hanya ingin mendapat perhatian yang 100%, tak ingin aku berpaling dariNya, tak ingin aku mencari yang lain.

Ketika aku meminta sesuatu dan tak kunjung terpenuhi bahkan setelah aku berusaha sekuat yang aku mampu, kupikir Dia tak mendengar. Lalu aku sadar bahwa bila keinginan itu terpenuhi, mungkin malah akan membuatku lupa padaNya. Sehingga tak pernah dikabulkanNya hingga lurus niat.


Bila permintaan tak kunjung terkabul.. 
Mungkin sengaja.. 
Agar sadar bahwa bersama Allah saja sudah lebih dari cukup. 

Bila satu per satu diambilNya.. 
Mungkin sengaja.. 
Agar sadar bahwa ada satu yang tak pernah meninggalkan.
Hingga yang tersisa hanya aku dan Dia.

Begitulah Allah, Sang Maha Pencemburu..
Dia hanya ingin diberi cinta yang 100%, tidak ingin dibagi dengan (si)apapun.

Minggu, 05 Oktober 2014

From The Deepest Heart

Ngerasa banyak banget dosa, ngerasa punya banyak utang sama Allah. Di saat diri ini berlumuran dosa, Allah dengan amat sangat baik, sudi menutupi aib-aib diri yang hina ini.. Di saat dengan bodohnya diri ini mendzalimi diri sendiri karena tidak bersyukur atas segala yang diberikanNya, masih saja nikmatNya tercurah tanpa henti.. Di saat diri ini merasa berputus asa dari rahmatNya, berprasangka buruk padaNya, bahkan menjauhiNya sebagai bentuk protes atas takdir yang tidak sesuai dengan harapan, Dia tak pernah mundur, tak pernah mengurangi kasih sayangNya barang sedikitpun. Bahkan Dia justru bergerak maju, menarikku kembali ke dekatNya..

Ya Rabb, entah sudah yang keberapa kalinya aku dibuat menangis haru olehMu.. Menyadari bahwa kasih sayangMu begitu besar.. Sering kali aku merasa tak pantas untuk Kau 'pilih'.. Aku hanya seorang manusia bermandikan dosa dan dilumuri aib.. Tapi Kau tutupi, Kau lindungi, hingga yang tampak hanyalah keindahan dan kebaikan.. Harus bagaimana kubalas?

Betapa aku khawatir di akhirat nanti aku menjadi manusia yang dihinakan.. Bisakah aku menghapus dosa-dosa yang menyelimuti diri? Cukupkah amal sholehku untuk membersihkan dan mensucikanku dari kotoran dosa yang menempel di tubuh? Tiba-tiba saja aku merasa sangat khawatir.. Takut kalau-kalau Allah tak memberiku kesempatan lagi.. :(

Aku bisa apa, selain berusaha menyibukkan diri dengan amal sholeh yang mungkin tak seberapa nilainya.. Sebanyak apapun kebaikan yang kulakukan mungkin takkan cukup menutupi borok-borok keburukan.. Dan pada akhirnya hanya bisa berharap kasih sayangMu, semoga amal yang tak seberapa ini sudi Kau terima, Ya Rabb..

Masih banyak 'utang' yang harus kulunasi, masih banyak kesalahan yang harus kutebus, masih banyak cacat yang harus kuperbaiki.. Tak tahu apakah kesempatan yang Kau beri masih cukup untukku memperbaiki semuanya.. Tapi aku akan berusaha membayar semuanya dengan segenap kekuatanku agar bisa menjadikan predikat hina ini menjadi mulia.. Terus berjalan, berlari, terus maju, sampai memang kesempatan itu betul-betul tidak ada lagi..

Jika memang waktuku telah habis dan kepergianku masih menyisakan banyak keburukan, setidaknya usahaku bisa Kau hargai.. Setidaknya kegigihanku sebelum habis waktu, bisa mengundang kemurahan hatiMu untuk menghapuskan keburukan yang tersisa..

Semoga keletihan yang terasa, keringat yang mengucur, air mata yang jatuh, dan langkah kaki yang tiada henti, bisa membantu menyelamatkanku dari murkaMu di negeri akhirat nanti. Aamiin..

Selasa, 23 September 2014

Aku dan Blogku: Edisi Kisah Konyol

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa nama blognya lutfiahhanifah.blogspot.com padahal sesungguhnya penulis yang menulis semua tulisan yang ada disini bernama Husna Hanifah. (ada yang baru tahu? hahaha)

Jadi begini ceritanya.. 

Momentum untuk menulis blog ini didapat setelah aku dan sahabatku, Lutfiah Hayati (Fifi), bernangis-nangis ria dikosan. Dan tercetuslah sebuah ide dari Fifi untuk membuat blog. Aku milih untuk pake blogspot, sedangkan Fifi keukeuh pengen di wordpress. Terus dia nyeletuk, "Eh, gimana kalo nama blog kita samaan? Lutfiahhanifah aja, dari nama kita berdua disatuin kan lucuu.. Aku bikin di wordpress, kamu bikin di blogspot, gimana?" Aku diem. Awalnya pengennya aku pake nama husnahanifah aja sih, dan kalo dipikir-pikir nama lutfiahhanifah itu semacam agak alay ya.hahaha *dilempar sendal sama fifi*

Tapi aku iya-in aja, toh apalah arti sebuah nama, dan yang penting kan nulis, begitu pikirku. Awalnya sih semua berjalan lancar dan baik-baik aja. Sampai suatu hari ada temen sekelas yang nanya, "Na, itu teh blog siapa? kok namanya lutfiahhanifah? Blog kalian berdua itu teh?" Ya aku ceritain aja sesuai dengan kenyataannyaa, kalau yang blogspot punya aku, dan wordpress punya Fifi.. *masih kalem*

Sampai akhirnya Fifi berhenti nulis di wordpress dan berselingkuh dengan tumblr sementara aku tetep nulis kalem di blogku sendiri sambil sesekali aku share tulisannya ke facebook dan twitter. 

Berawal dari sinilah kebingungan itu terjadi..

Karena cuma aku sendirian yang update, orang-orang kayaknya jadi bingung. Dan karena nama blognya lutfiahhanifah, dikiranya bukan aku yang nulis. Jadi berkali-kali aku harus meladeni pertanyaan, "Na, itu teh blog kamu? Kok namanya lutfiahhanifah?" 

Kalo yang macam begitu sih masih kalem ya, tapi yang bikin nyesek tuh kadang percakapan macam gini..

Percakapan 1:
*antara aku dan murid privat*
Aku: Kamu baca blog aku geura..
Murid: Hah? Emang teteh punya blog?
Aku: Punya ih, aku kan sering update tulisan-tulisan aku di facebook, emang kamu ga pernah liat?"
Murid: Iya aku liat kok, tapi aku kira itu punya orang lain. Aku teh mikir, ngapain teteh ngeshare terus update-an blog orang.. jadi ga aku baca deh.
Aku: Iih itu blog aku tauuuu.. *garuk-garuk tanah*

Percakapan 2:
*antara aku dan adik aku*
Aku: Wah bagus nih buat bahan tulisan di blog
Adik: Hahaha, emang kamu punya blog? Itu kan blognya Fifi..
*kemudian hening*
(aku sedikit shock sih sebenarnya, bahkan adik aku sendiri aja nyangkanya itu blog orang lain.. hahaha)

Percakapan 3:
*di grup whatsapp*
X: (nyantumin link salah satu tulisan di blog aku) izin share, artikel inspiratif. yang perlu motivasi silakan mampir..
Y: Blog punya teh fifi ya, inspiring banget..
Aku : (ke si Y) Teteh adalah orang kesekian yang nyangka itu blognya fifi. hahaha..
Y: oh bukan yah? blognya siapa emang?
Aku: *nangis di pojokan*

Karena kesalahpahaman itulah aku yang awalnya kalem-kalem aja mulai merasa harus mengklarifikasi segala kekeliruan yang terjadi.

Jadi para pembaca sekalian, harap dicatat, pemilik blog ini bernama Husna Hanifah, bukan Lutfiah Hayati. Sementara Fifi sudah berbahagia bersama tumblr-nya di lutfiahhayati.tumblr.com. Sekian dan terima kasih. :D

*selesai baca postingan ini entah kenapa pengen ketawa2 sendiri. hahaha.. konyol sekali kisah dari blog ini.. XD

Rabu, 17 September 2014

Jadilah Berhasil

Tahukah kamu, bahwa keberhasilan jauh lebih bisa menghebatkan orang lain dibanding kegagalan (karena berhenti)? 

Berapa banyak orang yang melihat keberhasilan orang lain kemudian dirinya berpikir, "Wah kalau dia aja bisa, saya juga pasti bisa."
Berapa banyak orang yang awalnya ragu lalu karena melihat keberhasilan orang lain membuatnya menjadi mantap melangkahkan kaki.

Keberhasilan akan selalu membawa keoptimisan untuk dibagikan kepada orang lain.
Keberhasilan akan selalu menjadi perisai yang ampuh untuk menahan mereka yang hendak menyerah.
Keberhasilan akan selalu menjadi penenang bagi mereka yang resah seolah berbisik, "Hold on, ini masih terlalu awal untuk menyerah, dan terlalu cepat untuk bilang susah.."

Maka jadilah yang berhasil. Tak perlu selalu dengan kata-kata, menjadi berhasil saja sudah cukup untuk bisa memotivasi orang lain.

Selasa, 09 September 2014

Writing is a Need

Sebenernya lagi ga ada bahan tulisan, dan lagi ga tau mau nulis apa.. Cuman tangan bener-bener lagi pengen nulis. Jadi biarin aja tulisan ini akan mengarah kemana, yang penting aku nulis. Hehe..

Menulis. Karena udah jadi habit selama bertahun-tahun ke belakang, jadi semacam sebuah kebutuhan. Aku adalah orang yang sulit mengekspresikan kata-kata dengan lisan, tapi bisa menuangkannya dengan cukup baik ke dalam tulisan. Ya walaupun ga bagus-bagus amat sih tulisannya juga. Hehe..

Beberapa tulisanku di diary, jika memang layak untuk dipublish, ya aku jadiin postingan di blog. Kadang kalo lagi mumet aku suka baca blogku sendiri, enak dibaca karena lebih rapi dan sudah melalui proses edit.

Terkadang aku ingin berterima kasih pada diriku sendiri, karena telah menulis. Tulisanku itu, mau dibaca berkali-kalipun, selalu ada rasa yang hadir di sana. Setidaknya untukku, si penulisnya sendiri. Bagiku menulis bukan hanya untuk mengabadikan memori, tapi juga mengikat rasa.

Ketika membaca lagi tulisanku, ia membuatku bersyukur karena nikmat yang diberikanNya terlampau banyak. Terkadang ia menguatkanku yang sedang goyah, mengingatkanku yang tengah lupa, membuatku bernostalgia karena mengingat memori masa lalu, dan membuatku lebih bijaksana karena ia memuat hikmah-hikmah yang kudapat dari kejadian yang kualami atau kuamati. Ah, aku merasa seperti dijaga dan dilindungi oleh diriku sendiri.. :)

Menulis menjadi seperti ruang syukur untukku dan jembatan cinta antara aku dan Rabb-ku. Juga menjadi salah satu cara menunjukkan perasaanku kepada orang lain. Di beberapa situasi, aku merasa lebih berekspresi dengan tulisan. Itulah kenapa aku senang sekali membuat surat untuk orang-orang, terutama di hari spesialnya. Karena dengan mengiriminya surat, aku bisa menyampaikan apa yang ingin kusampaikan namun tak mampu dengan lisan.

Aku selalu merasa bahwa apresiasi harus disampaikan. Dan aku lebih leluasa menyampaikannya dengan tulisan. Abisnya muji orang tapi dengan muka tiis macam gini kesannya suka dianggap ga tulus. Hiks. Hahaha..

Setiap orang, sadar atau tidak sadar, membawa kisah inspiratifnya masing-masing. Dan itulah hal yang aku cari ketika bertemu dengan orang lain. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari orang lain. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai menggalinya.

Karena hal inilah aku selalu merasa ingin berterima kasih pada mereka yang sadar maupun tak sadar telah menginspirasiku. Salah satu bentuk terima kasihku kusampaikan dalam bentuk tulisan dalam surat. Aku sama sekali tak merasa repot untuk menulis surat, karena dengannya aku ingin membuat orang tersebut tahu bahwa dirinya punya arti, setidaknya untukku. Karena menurutku, salah satu alasan seseorang masih bertahan menjalani hidupnya adalah karena ia masih memiliki arti bagi orang lain. And I wanna let him/her know that he/she has a meaning for me. :) 

Kamis, 04 September 2014

Tersirat

Malem-malem blogwalking. Nyampe kesini dan nemu quote ini:

"Ketika kematian bukan lagi perkara momental. Contoh: ‘seseorang mati karena sakit jantung. seseorang mati karena kecelakaan. dan masih banyak lagi.’ Coba kita ganti kata ‘karena’ itu menjadi kata ‘setelah’. Dengan pergantian kata itu kita telah melakukan suatu revolusi. Bahwa kematian adalah soal momental yang disebabkan oleh goresan takdirNya. Walau pada akhirnya titik kematian itu tetap menjadi perkara monumental, setidaknya bagi mereka yang (masih hidup) merasa kehilangan atas kematian tersebut." 
         --- Kenapa seseorang mati? Karena Allah bukan?

Sebetulnya bukan hanya kematian, tapi juga setiap kejadian di alam semesta ini, termasuk setiap kejadian yang menimpa diri kita. Semuanya terjadi atas izin Allah bukan? Semuanya terjadi atas kehendak Allah bukan? Kebahagiaan dan kesedihan yang Dia pergilirkan, semuanya terjadi karena Allah menghendakinya untuk terjadi bukan? Lalu kenapa harus menyalahkan ini itu, atau si ini si itu?

Dan perkara takdir itu baik atau buruk, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya?

*renungkan dan tangkap pesan tersiratnya. :)

Jumat, 22 Agustus 2014

Hidup Tidak Selalu Tentang Puncak

Hidup tidak selalu tentang puncak. Ibarat naik gunung, tujuan mendaki memang puncak, tapi jangan lupa bahwa kita tidak bisa berlama-lama di puncak. Akhir dari perjalanan mendaki gunung adalah lembah. Kita memulai perjalanan dari lembah dan akan kembali lagi ke sana.

Kulihat kebanyakan orang (mungkin juga termasuk aku?) menjadikan puncak sebagai tujuan akhir dari perjalanannya. Mereka sibuk mempersiapkan hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai puncak. Kemudian ia memulai perjalanan. Perjalanan yang sukar, karena memang mendaki. Selama mendaki, ia gunakan satu per satu perbekalannya. Akhirnya ia sampai di puncak, merasa puas. Indahnya pemandangan di puncak terasa sangat menakjubkan sampai-sampai dalam sekejap saja menghilangkan rasa lelah akibat dari pendakian yang panjang.

Namun ia tidak tahu bahwa keindahan itu merupakan sesuatu yang relatif. Apa yang sekarang tampak indah belum tentu di kemudian hari. Seindah apapun sesuatu, jika terus menerus dilihat lama-lama akan bosan juga. Seperti orang yang tinggal di pesisir pantai tidak akan sehisteris orang kota jika mengunjungi pantai karena ia tinggal di sana dan melihat pantai setiap hari.

Banyak orang yang ketika berniat melakukan pendakian, lupa bahwa ia harus turun gunung. Sehingga ketika tiba di puncak, ia bingung bagaimana caranya turun karena perbekalannya telah habis. Beberapa orang menyesal, meratapi kebodohannya dan mati di puncak. Sementara yang lain mencoba turun gunung dengan perbekalan seadanya tapi malah jatuh ke jurang, ujung-ujungnya mati juga.

Kita harus siap dengan kenyataan bahwa kita tidak bisa berlama-lama di puncak. Bukankah siklus kehidupan manusia pun begitu? Berawal dari bayi, yang asalnya lemah, lalu mencapai masa-masa terkuatnya di usia muda, lalu melemah lagi, kemudian mati.

Kita tidak akan selamanya muda. Tapi berapa banyak orang yang memikirkan masa tuanya dan mempersiapkan kematiannya?

Ada orang yang ingin kaya, lalu mati-matian mencari uang tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya sehingga ketika kekayaan itu berada dalam genggaman lalu habis dalam sekejap.

Ada orang mengejar jabatan, mengejar pangkat tertentu. Tapi setelah jabatan itu didapat, ia baru sadar bahwa ia tidak akan selamanya di situ, akan ada orang lain yang kelak akan menggantikan posisinya saat ini.

Ada orang mencari penghargaan, melakukan segala cara agar dirinya terlihat "wah" di hadapan orang lain. Lalu ketika ia mendapatkan penghargaan itu tanpa sadar menjadi sombong. Dirinya tidak tahu bahwa kesombongan adalah awal dari kehancuran.

Ada orang mati-matian mencari ilmu, tapi lupa untuk dibagi. Kemudian ilmu itu mati bersama pemiliknya.

Bersiaplah bukan hanya untuk mendaki, tapi juga untuk turun gunung. Ingat bahwa kita tidak akan selamanya berada di puncak.

Bersiaplah bukan hanya untuk kesuksesan hidup, tapi juga untuk kematianmu. Ingat bahwa kita tidak akan selamanya muda, tidak akan selamanya di dunia.

Senin, 18 Agustus 2014

Bukan karena bahagia hidup menjadi indah, tapi...

Hidupku begitu indah, Ya Rabb.. Indah bukan karena aku selalu bahagia, tapi justru karena semua rasa ada di sana. Seperti langit yang selalu terlihat indah karena bumi berputar. Ada waktu fajar, pagi, siang, petang, dan malam. Tiap waktu punya keistimewaannya masing-masing yang membuat bumi menjadi begitu indah dan begitu hidup. 

Tidak seperti planet lain, ada yang setiap harinya selalu terik, ada yang memiliki pergantian siang dan malam dengan suhu yang ekstrim, ada yang tak terkena sinar matahari, gelap di setiap harinya. Tak ada planet yang bisa memberikan kehidupan selain di bumi.

Dan akupun merasa hidupku indah karena adanya pergantian fase seperti itu. Tak melulu merasakan bahagia, terkadang kesedihan menyapa dan membuat hati menjadi mendung. Di lain waktu semangat menghampiri, membakar energi menjadi langkah-langkah penuh keyakinan. Di waktu yang lain kekecewaan berkunjung, hampir saja menghancurkan puing-puing harapan yang selama ini dibangun. Kegembiraan juga menghampiri, menghadirkan tawa dan menghibur hati yang resah. Juga rasa haru, rasa bersyukur, dan cinta, yang membuat benih-benih harapan dan keyakinan tumbuh kembali setelah diterjang badai ujian. Macam-macam rasa bersatu, membentuk satu pelangi yang membuatnya menjadi indah..

Bumi masih berputar, dan aku masih melanjutkan kehidupanku, melanjutkan perjalanan hidupku. Semoga perjalanan ini berakhir di tempat yang baik, di tempat yang Engkau ridhoi, di tempat dimana aku bisa merasakan cinta-Mu dengan abadi..

"Bukan karena bahagia hidup menjadi indah, tapi karena bermacam-macam rasa ada disana."

Jumat, 15 Agustus 2014

Ingatkah Kau, Ayah..

Ingatkah kau, Ayah..
Dengan aku yang saat kecil begitu manja di depanmu
Aku yang saat kecil begitu cengeng tanpamu
Namun tangisku terhenti ketika aku merasakan dekapanmu

Ingatkah kau, Ayah..
Saat aku belum cukup berat sehingga masih bisa kau gendong
Hampir setiap malam kau menggendongku ke kasur jika aku tertidur di kursi
Terkadang aku tersadar,
tapi aku tetap berpura-pura tidur dalam pelukanmu yang melindungi

Ingatkah kau, Ayah..
Saat aku sakit dan dipulangkan dari sekolah
Kau menjemputku, menghampiriku ke ruang guru
Lalu aku langsung berlari dalam pelukanmu dan menangis
Pelukan yang kurindukan bahkan sampai sekarang

Ingatkah kau, Ayah..
Dulu sebelum aku bisa naik motor sendiri
Kaulah yang selalu aku dekap dari belakang
Belakang punggungmu adalah tempat teraman di dunia
Mau kau bawa aku kemanapun, aku tak pernah takut selama bersamamu

Kau tahu, Ayah..
Betapa aku merindukan semuanya malam ini
Betapa aku membutuhkan pelukanmu saat ini
Saking rindunya sampai-sampai mataku selalu berkaca-kaca
tiap kali aku membayangkan terbenam dalam pelukanmu

Kau tahu, Ayah..
Aku rindu..
Bahkan ketika kita bertemu pun aku tetap rindu..

Selasa, 12 Agustus 2014

Reminder Syukur

"Bahagia sebab sibuk syukur atas apa yang ada, dan tak dilalaikan dari apa yang tiada." -@GreatMuslimahID
 
Syukur. Hal yang seringkali kita lupa. Sering sekali, kita mencari-cari yang tiada, sementara melupakan yang di depan mata. Seperti kata peribahasa, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.
 
Kita harus tahu, bahwa tanpa kita sadari, banyak orang mungkin sedang mendambakan posisi kita saat ini. Kita saat ini bisa kuliah, sementara orang lain tidak bisa. Kita masih diberi anggota keluarga yang lengkap, sementara yang lain sudah kehilangan. Kita hidup berkecukupan, sementara yang lain serba kekurangan. Dan masih banyak lagi hal yang bisa kita syukuri.
 
Tapi tahukah kau, apa nikmat yang paling besar? Ya, nikmat Iman dan Islam. Kita patut bersyukur atas nikmat tersebut. Karena mereka yang Allah beri nikmat Iman Islam adalah orang terpilih yang Allah kasih kecerdasan lebih untuk bisa mencerna dan menerima petunjuk dari-Nya, di saat orang lain masih berada dalam kubangan kebingungan, kebimbangan, kebodohan, dan kesesatan. Buatku, itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang paling besar, ketika diangkat oleh Allah dari kegelapan menuju cahaya.
 
Kita patut bersyukur, kita bisa merasakan kasih sayang Allah sementara yang lain, percaya Allah pun tidak. Kita patut bersyukur karena Allah beri ketentraman hati saat beribadah sementara di luar sana banyak orang digelisahkan oleh tipu daya dunia. Kita patut bersyukur diberi kesadaran bahwa mempersiapkan kehidupan sesudah mati itu penting sementara yang lain bahkan meragukan adanya negeri akhirat. Kita patut bersyukur telah mendapat jawaban atas arti hidup ini sementara yang lain masih bertanya-tanya mengapa ia dilahirkan.
 
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Manusia itu, saking sering lupa untuk bersyukur, sampai-sampai Allah ingatkan berkali-kali dalam QS. Ar-Rahman. Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan..
 
Maafkan kami ya Allah, hamba-Mu yang sering lalai dari mensyukuri nikmat-Mu..
 
Tapi, Maha Baiknya Allah adalah, selama kematian belum menjemput, kesempatan itu akan selalu ada. Masih ada kesempatan untuk perbaikan diri, bukan? Mari sama-sama menjadi pengingat satu sama lain agar senantiasa beryukur.. :)

*sebuah surat untuk sahabat, yang rasanya terlalu sayang untuk kami simpan berdua :))

Minggu, 10 Agustus 2014

Self Talk

Hei, lihat dirimu. Seperti apa dirimu sekarang. Kau tahu, keputusanmu hari ini, menentukan akan seperti apa dirimu setahun, dua, atau lima tahun ke depan. Engkau di masa depan adalah dirimu yang kau bayangkan saat ini. Jika sekarang kau tidak bisa membayangkan akan seperti apa dirimu di masa depan, akan seperti apa kamu nanti?
 
Aku hanya takut, kelak engkau tak menjadi siapa-siapa, padahal berbagi manfaat kepada orang lain adalah tabungan amal untuk di negeri akhirat sana.
 
Aku hanya khawatir, hanya karena kamu tidak mampu bergerak hari ini, 5 tahun ke depan ternyata kamu tidak kemana-mana. Merasa pergi jauh menjelajah, ternyata lari di tempat.
 
Aku tidak mau kamu menjadi manusia yang sekedar membuat bumi menjadi sesak saja, aku tidak mau kamu sekedar menjadi buih di lautan tanpa arti yang kemudian menguap, hilang begitu saja tanpa ada yang peduli, tanpa ada yang kehilangan. Aku tidak mau kamu pergi dalam kehampaan.
 
Kau tahu, wahai diri.. Kamu punya potensi besar! Allah menciptakan dirimu bukan tanpa maksud. Allah menciptakanmu bukan sekedar untuk menjalani hidup lalu mati, tapi untuk memberi arti dalam hidupmu.
 
Kau dianugerahi misi besar ketika engkau sampai ke bumi. Tidak dengan tangan kosong, tapi dengan segudang potensi yang Allah pinjamkan, plus penjagaan-Nya yang 24 jam. Memeliharamu, mengawasimu, melindungimu, kau tidak pernah luput dari penglihatan dan penjagaan-Nya barang sedetikpun.
 
Tidak hanya itu, bala tentara-Nya banyak, Dia siap menolongmu kapanpun, demi terwujudnya misi besar itu. Misi besar atas diciptakannya kamu ke dunia.
 
Jadi sadarilah bahwa kamu ada bukan untuk mati tanpa arti, tapi untuk menjadi sebaik-baik pribadi atas misi besar yang kau bawa. Kau ada untuk membawa segudang prestasi untuk kau tunjukkan di hadapan Allah, bahwa potensi yang selama ini dipinjamkan-Nya padamu tidak sia-sia.
 
Kau ada bukan untuk membuktikan apapun kepada siapapun kecuali kepada penciptamu. Kau diciptakan bukan untuk menjadi budak dunia, tapi kau adalah ksatria pilihan Allah untuk menjadikan Allah satu-satunya raja bagi manusia yang lain. Sadarilah bahwa itu merupakan suatu kehormatan dan kepercayaan-Nya yang besar.

Semoga kau mengerti maksudku, wahai diri.. Ingat, keputusanmu hari ini menentukan kehidupanmu esok hari. Hiduplah setiap harinya, dan persiapkan hari esokmu, semoga kamu termasuk orang yang beruntung.

Jumat, 01 Agustus 2014

Apa Kabar, Hati?

Hati. Pastikan ia selalu ada. Pastikan ia selalu bersinar. Karena ia adalah tempat Allah meletakkan cahaya-Nya. Hatilah tempat singgahnya hidayah Allah bagi hamba yang terpilih. Tanyai ia selalu. Perhatikan. Apalagi ketika hatimu mulai sakit. Terang redupnya cahaya yang sampai padamu tergantung pada bersih dan kotornya hatimu.

Hei hati, apa kabar?

Hari ini mungkin kau belum menjawabku, tak apa. Akan kucoba lagi esok hari. Jika belum berhasil juga, akan kucoba lagi esok harinya lagi. Jika belum berhasil juga akan kucoba esoknya lagi, dan esoknya lagi. Sampai kau menjawabku, sampai bisa kuajak ngobrol lagi.

Akan kubuat kau hidup lagi dengan ilmu yang kudapatkan. Akan kubuat kau bersinar lagi dengan memahami ayat-ayat-Nya. Akan kubuat kau kembali dengan berdoa dan meminta kepada-Nya. Bukankah kau adalah milik-Nya? Maka jika aku merayu-Nya mungkin aku bisa membuatmu kembali. 

Kamis, 31 Juli 2014

Surat Terbuka untuk Lutfiah Hayati

Haha, ini judul tulisannya udah kayak orang yang nulis buat presiden aja, wkwk..
Surat ini dibuat dalam rangka memperingati hari spesial sahabatku, yang 30 Juli kemarin baru saja berulang tahun yang ke-23. Perkenalkan, namanya Lutfiah Hayati, panggilannya Fifi.

Dia adalah orang yang paling sering kukirimi surat tulisan tangan, soalnya dia seneng banget dikasih surat yang ditulis tangan. Entah sudah berapa banyak suratku yang dia simpan. Tapi untuk surat kali ini, sengaja aku ga bikin tulisan tangan, tapi kutulis di blog ini, supaya semua orang tahu, seistimewa apa dia, dan betapa aku bersyukur dikasih sahabat yang super kayak dia. *wah si Fifi kalo baca ini idungnya terbang nih, tangkep dulu, Fi! Haha..

Sifat kami beda jauh. Kecuali soal sama-sama tukang telat waktu kuliah dan skripsi yang ga kelar-kelar, orang yang mengenal kita berdua pasti tau kalau karakter kita hampir bertolak belakang.
Dia cerewet, dan aku jaim.
Dia ekpresif,dan  aku datar.
Dia riweuh(kadang), dan aku santai.
Dia responsif, aku cenderung cuek.
Dia terbuka, apa aja diceritain, dan aku tidak seterbuka itu.
Dia suka bicara, aku suka menulis.
Dia suka cerita, aku suka mendengar.
Dia suka jadi pusat perhatian, aku suka mengamati.
Hampir semua yang menjadi kekuranganku dilengkapi oleh kelebihan dia, dan sebaliknya. Mungkin itu sebabnya kenapa kita betah barengan terus, karena kita saling melengkapi dan saling membutuhkan. #eaaaaa *ini tulisan udah kayak yang lagi pacaran aja kita, semoga pembaca semua ga ada yang salah paham ya,wkwk..

I just wanna simply thank you, Fi..
Makasih, buat pengertian yang besar dan konsisten. Yang mau sabar nungguin dan balesin surat-surat aku kalau ada hal-hal yang tak tersampaikan oleh lisan. Yang nggak pernah menuntut apa-apa tapi dengan caranya sendiri bisa merubah aku ke arah yang lebih baik.  (Fifi ini penerimaan ke orang lainnya tinggi sekali loh, ga hanya ke aku, tapi juga ke orang lain. Dia tahu bagaimana cara mengapresiasi orang lain, dia tahu caranya mengkritik atau memberi nasehat tanpa bikin orang yang dikritik sakit hati. Sederhananya, dia tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan santun. And for me, it's really impressive.)

Makasih juga, untuk semua pemberian-pemberian yang tulus. Kamu juga salah satu orang paling tulus yang pernah kukenal. Ga segan-segan ngasih ke orang lain walau kadang dirinya juga membutuhkan, tapi kamu selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Empati dan kedermawanannya tinggi, ga hanya ke aku, tapi juga ke orang lain.

Makasih buat semua support sampai sejauh ini. Penghargaanmu terhadap orang lain sungguh luar biasa. Aku banyak belajar dari kamu sebenarnya. *dalam diam tentunya ;)

Kamu tahu Fi, pemberian apa yang paling aku syukuri yang kamu kasih ke aku? Kamu ngasih aku lingkaran pertemanan yang lebih luas. Setiap aku ketemu temen kamu, pasti kamu kenalin ke aku. Semua temen kamu otomatis jadi temen aku juga. Dan semua orang kamu sebut sahabat kamu. Aku seneng, kamu ngenalin aku ke sahabat-sahabatmu yang juga hebat-hebat. Ga ada hal yang lebih indah dari menjalin silaturahim, bukan? Terima kasih ya.. :)

Before the end, happy birthday ya..
Semoga menjadi manusia yang menebar sebanyak-banyaknya manfaat, menjadi seterang-terangnya cahaya, dan menjadi hamba dengan sepenuh-penuhnya pengabdian kepada Rabb-nya. Aamiin.. 

Minggu, 06 Juli 2014

Mimpi

Aku percaya mimpi. Dan ketika aku mempercayainya, aku mulai bermimpi. Tapi aku juga pernah ada di titik ragu pada mimpiku sendiri, hingga hampir saja aku melepasnya, hampir saja aku kehilangan kepercayaan atas mimpi-mimpiku.

Sampai suatu hari aku sadar, bahwa yang bermimpi tidak hanya aku. Para pemimpi itulah yang menghapuskan keraguanku itu. Mereka membuktikan padaku bahwa impian itu tidak ada yang mustahil. Mereka mengajarkanku bahwa antusiasme atas mimpi tidak boleh surut. Jangan pernah berhenti bermimpi!

Bermimpi membuatku belajar bahwa keyakinan pada Dia Yang Maha Kuasa adalah yang paling penting. Yang mengajarkanku bahwa apabila impian itu terwujud, itu bukan karena aku hebat, tapi karena Dia berkehendak menjadikannya nyata.

Ngomong-ngomong soal mimpi, aku punya satu impian yang tidak pernah berubah sejak aku menetapkan mimpiku pertama kali. Aku kerap melakukan revisi mimpi, tapi yang satu itu tidak pernah berubah.

Satu impian besar yang bersemayam di dalam hati. Sekarang mungkin masih jauh sekali dari terwujud. Tapi aku percaya. Jika Allah sudah meletakkan impian indah itu di hatiku, Dia akan membantuku mewujudkannya.

Sekarang skripsi dulu fokus, dan kewajiban lain yang memang tidak bisa dilalaikan, setelah itu biar tangan-tangan Allah yang bekerja, mengonspirasikan semesta agar impian itu terwujud.

Selamat malam, para pemimpi.. Selamat mewujudkannya menjadi nyata.. :)

Senin, 05 Mei 2014

Renungan Kematian

Setiap orang diberi jatah waktu. Yang namanya makhluk ya begitu, akan ada saatnya ketika ia kembali tiada, karena yang kekal hanya Penciptanya. Beberapa hari yang lalu, teman seangkatanku dipanggil oleh-Nya, batas waktunya hidup di dunia telah habis. Kejadian ini membawaku ke dalam renungan tentang kematian (lagi). Bahwa ternyata hidup bisa saja sesingkat itu. Belum sempat mencari pekerjaan, belum sempat menikah, belum sempat meraih mimpi-mimpi, bahkan usia pun belum sampai pada seperempat abad. Padahal yang kebanyakan orang pikirkan saat ini mungkin hal-hal seperti itu. Pusing karena belum dapat panggilan dari perusahaan yang dilamar, galau karena keinginan menikah yang membuncah sementara belum dipertemukan dengan jodohnya, ada pula yang sedang jatuh bangun mati-matian mewujudkan impian dan cita-citanya. Semua orang sibuk dengan rencana masa depan mereka.

Terkadang aku pun terlalu sombong dengan menganggap bahwa hidupku akan lama, terlalu percaya diri bahwa aku akan sempat melakukan banyak hal yang aku inginkan. Padahal faktanya, bisa jadi kematian yang lebih dahulu menjemput, dan rencana-rencana tersebut tidak sempat diwujudkan. 

Bagaimana dengan rencana pulang ke kampung akhirat? Seserius apa kita merancangnya? Kita semua sedang menunggu giliran kematian kita. Sempatkah terpikir, di giliran keberapa kita akan dipanggil oleh-Nya? Hari ini mungkin giliran orang lain, tapi besok? Yakinkah bahwa besok jatah waktu kita masih ada? Jangankan besok, detik setelah ini kita masih hidup pun tidak ada yang bisa menjamin.

Mari, sama-sama menyiapkan diri menghadapinya. Karena bisa jadi, tau-tau sudah tidak ada hari esok untuk kita..

Jumat, 02 Mei 2014

Pagi-pagi udah kangen

Sang Detik

Kubertanya pada detik kesekian..
Sedang apa diriku?
Detik terdiam..

“Lihatlah dirimu sendiri!”
Coba tersenyum dan coba lagi tersenyum
Masih kecut? Coba sekali lagi
Tersenyum...!

Detik berikutnya berpesan
Kalau kau gagal tersenyum hari ini,
Jangan mudah menyerah!
Jangan mudah putus asa!

Detik akan tetap menemanimu
Sampai suatu hari
Melihat engkau tersenyum manis
Matamu berbinar, wajahmu bercahaya
Dan menjawab,
“Hidup itu anugerah!”

- T, 2004 (dari seseorang yang kupanggil Bunda)



Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi di pagi hari, beberapa saat sebelum bangun tidur. Sehingga ketika aku bangun, rekaman mimpi-mimpi itu masih teringat jelas olehku (walaupun beberapa menit kemudian lupa, haha).

Tapi pagi tadi, ada seseorang yang sangat kurindukan, hadir dalam mimpiku. Seseorang yang kupanggil Bunda. Dia bukan ibuku, tapi kupanggil dia Bunda karena sudah kuanggap seperti ibu keduaku, walaupun sekarang sudah jarang sekali bertemu (ini bagian sedihnya, hiks hiks).

Lalu kenapa? Itu hanya mimpi. Oh, tidak, itu bukan mimpi biasa. Itu mimpi yang istimewa karena di dalam mimpi itu Bunda memelukku. Pelukan yang menenangkan tapi juga menguatkan. Kami berputar-putar pelan sambil berpelukan, tidak peduli dengan banyaknya orang yang menonton. Dia berbisik kepadaku. Sayangnya aku lupa apa yang dia katakan, aku hanya ingat, kata-kata itu sangat menenangkanku, bahkan ketika aku sudah bangun.

Ah, aku jadi kangen.

Mari kuceritakan sedikit tentang siapa itu Bunda.

Dia adalah orang pertama yang menumbuhkan kedewasaanku saat aku masih bertingkah seperti anak kecil. Waktu itu aku masih SMP, dan aku ga ada dewasa-dewasanya, sampai aku terbiasa menyetorkan buku harianku kepadanya dan dia membalasinya. Itu adalah awal mula kebiasaanku menulis, dan awal dari kedewasaan yang aku bangun secara sadar.

Ngomong-ngomong soal diari, diari itu seperti cermin yang menunjukkan secara jujur seberapa baik atau buruknya dirimu. Diari juga menunjukkan seberapa dewasa pemikiranmu lewat kalimat dan paragraf yang kau tulis. Itulah kenapa aku bilang menulis diari adalah awal dari kedewasaan yang aku bangun secara sadar. Karena aku baru sadar betapa kacrutnya aku ketika aku melihat “bayangan” diriku dalam diari. Hahaha!

Ah, aku jadi kangen menyetorkan lagi diariku kepadanya. Diari-diari itu masih kusimpan dengan rapi. Yang kadang-kadang kubaca kalau lagi kangen. Dan aku kangen dipanggil “kejora” olehnya. Bersinarlah seperti bintang kejora, begitu katanya. Aku suka sekali panggilan itu.

Terakhir kali kami bertemu, tanggal 20 Juli 2011. Sudah lama sekali ya? Setelah lama tidak bertemu, kalimat pertama yang Bunda katakan adalah, “Masih suka nulis, Na?” Glek. Aku memang sudah lama tidak menulis lagi sejak kuliah, paling hanya beberapa tulisan untuk blog. Gara-gara pertanyaan itu akhirnya aku langsung beli buku harian dan mulai menulis lagi. Hari itu juga. Haha.

Dia adalah orang yang menyuntikkan semangat optimisme di tengah-tengah pikiranku yang saat itu (saat SMP) penuh dengan pesimisme dan hal-hal negatif. Dia yang menyemangatiku dan mengajarkanku untuk berani ketika aku takut melakukan sesuatu. Dia yang menumbuhkan sisi kelembutan dari diriku yang saat itu sulit sekali mengontrol emosi. Dan masih banyak lagi jasanya untukku.

Bundaaaa kangen banget iiih.. Makasih udah mampir ke mimpi aku dan peluk akuuu.. Semoga Bunda dan keluarga sehat-sehat semua dan selalu dalam perlindungan Allah.. Semoga anak-anak Bunda jadi anak yang sholeh dan sholehah.. Aamiin..


P.S : Maafkan aku karena terlalu bodoh untuk selalu kehilangan nomor HP-mu. Huhu..

Rabu, 30 April 2014

29 April

29 April kemarin adalah hari dimana aku genap berusia 22 tahun (menurut kalender masehi). Bagaimana rasanya? Entahlah. Ini adalah hari ulang tahun paling aneh yang pernah ada. Dimana biasanya aku excited, tapi sekarang tidak lagi. Bahkan malam sebelum hari ulang tahunku aku malah ngegalau, haha, dan ketika bangun aku berharap lupa. Aku ga mau ketemu sama hari ulang tahunku.

22 tahun meen,, aku ngerasa aku udah bukan lagi anak kecil yang berharap-harap siapa aja yang inget dan bakal ngucapin selamat ultah, atau berharap-harap nunggu kado atau pemberian dari orang lain karena hari ini hari spesialku. Ini tentang kedewasaan diri (ceileh gaya banget bahasanya), tentang bagaimana kamu mengerti peranmu dan bertanggungjawab atas amanah yang mengiringi peran itu. Tentang bagaimana kamu menentukan pilihan dan bertanggungjawab penuh atas pilihan itu. Tentang seberapa besar manfaat yang bisa kamu kasih bagi orang-orang di sekitarmu, minimal keluargamu dan sahabat-sahabat dekatmu. Tentang sudah seberapa layak aku akan cita-cita dunia akhiratku.

Tapi 29 April lagi-lagi mengajarkan aku tentang kebersyukuran. Manusia itu (aku khususnya) paling sering lupa dalam hal ini. Bahwa syukur harus mengiringi setiap langkah. Baik syukur yang bersifat perasaan (ucapan alhamdulillah dengan rasa bahagia di dalamnya) maupun syukur tindakan dimana bersyukur disini berarti berupaya sekuat tenaga memaksimalkan potensi yang telah Allah beri agar digunakan sesuai dengan keinginan Dzat yang memberikan potensi tersebut, Allah.

Dan 29 April tahun ini, walaupun paling aneh, tapi juga paling spesial. Aku ga bisa menjelaskan detail seperti apa spesialnya, tapi yang pasti hatiku merasakan kespesialan itu. Kespesialan yang tidak terdefinisi oleh kata-kata.

Aku hanya ingin mengucap rasa syukurku disini, karena 29 April adalah hari yang selalu mengingatkan aku tentang bersyukur, yang seringkali aku lupa.

29 April adalah hari dimana aku mendapat peluk, cium, dan doa yang tulus dari ibuku, dan selalu membuatku berkaca-kaca.

29 April adalah hari dimana nenekku selalu mengingatkan kakekku dengan mengatakan, “it’s her birthday.” Dan kakekku dengan wajah sumringah memanggilku ke dekatnya, siap mencium pipiku berkali-kali dengan kumisnya yang membuatku geli. Haha. Satu kali dalam setahun, dia selalu melakukan itu padaku.

29 April adalah hari dimana terkirim banyak ucapan dan doa dari orang-orang yang peduli dan sayang kepadaku. Yang selalu membuatku terharu, ternyata Allah masih menganugerahkan orang-orang seperti mereka yang menghargai keberadaanku dan menjadi alasan bagiku untuk selalu menghidupkan kehidupanku.

29 April adalah hari dimana ada beberapa orang yang salting dan canggung mau mengucapkan selamat kepadaku tapi aku yakin ada doa diam-diam dibalik diamnya.

29 April itu salah satu kasih sayang Allah. Dimana Dia memberikan banyak hadiah kepadaku, lewat hikmah dan kejutan-kejutan ‘kebetulan’ yang Dia berikan.

Bagiku, 29 April adalah hadiah itu sendiri.

Terima kasih banyak buat orang-orang yang sudah memberi ucapan dan doa baik secara langsung maaupun lewat sms, facebook, twitter, atau media sosial yang lain, kudoakan yang sama untuk kalian dan semoga kebaikan kalian dibalas berkali-kali lipat oleh-Nya. Dan untuk doa yang terkirim diam-diam tanpa aku pernah tau, semoga malaikat turut mengaminkannya untukmu.

And special thanks for Allah, untuk setiap nikmat yang Kau beri (dalam bentuk apapun), semoga aku tak pernah lupa bahwa nikmat-nikmat itu Kau hadirkan untuk kusyukuri. Dan semoga aku bisa menghabiskan sisa hidupku dengan sepenuh-penuhnya pengabdian hanya kepada-Mu saja.


BE HAPPY

BE SILLY
BE BRAVE
BE TWENTY-TWO
  -dari seseorang