Tampilkan postingan dengan label #MenjemputRamadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MenjemputRamadhan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2020

Epilog #MenjemputRamadhan


Alhamdulillah, akhirnya yang dijemput datang juga. Bersyukur tak terkira, Allah masih memberi kesempatan bertemu dengan Tamu Agung-Nya. Semoga kesempatan ini bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Masa persiapan telah selesai, hari ini menjadi permulaan metamorfosis diri. Semoga selepas 'karantina' Ramadhan, kita semua termasuk pemenang-pemenang yang lahir kembali dengan diri yang baru; yang lebih kuat tauhidnya, lebih tangguh dalam sabar menjalankan syariat-Nya, lebih cantik akhlaknya, lebih luas manfaatnya.

Seneng banget serial tulisan #MenjemputRamadhan nya alhamdulillah lancaar. Kadang ada saat-saat bingung mau nulis tentang apa lagi, tapi tiba-tiba Allah kasih aja gitu idenya. Dan memang niatan awalnya bener-bener buat diri sendiri, makanya rata-rata bahasanya galak-galak reflektif gitu XD

Daan mau bilang jazakillah khairan katsiran buat Fikikuuu @fikriarosyida buat desain2 cantiknyaa. Apalah aku tanpa sentuhan kreativitasmu Fik wkwk. Inget banget awal bikin project ini tuh gara-gara jengah dan sedih sama seliweran berita corona yang menggeser awareness orang-orang kalo bentar lagi Ramadhan. Makasih udah menyambut baik ide aku, semoga Allah balas kebaikanmu berlipat-lipat ya Fiik :*

Terima kasih juga untuk temen-temen udah yang ngikutin perjalananku mempersiapkan Ramadhan. Makasih yang udah ngeshare, walaupun tulisannya buat diri sendiri, tapi jadi kebahagiaan tersendiri loh ketika ada yg ngeshare tuuh <3

Selamat menghidupkan Ramadhan di rumah, selamat menikmati pelatihan jiwa yang Allah siapkan untuk kita dan keluarga. Semoga kita semua kembali kepada jiwa yang suci dan mendapatkan medali takwa dari Allah.. 

Mohon maaf lahir batin ya :)

Bagaimana Jika Ini Ramadhan Terakhirku?


Kematian tak pernah gagal memberi nasihat terbaik. Kematian adalah pengingat yang paling mujarab untuk menampar jiwa yang terlalu lekat pada dunia.

Setiap jiwa akan kembali kepada Pemiliknya, dan tidak ada yang bisa menebak kapan giliran kita dipanggil. Tak ada pula seorangpun yang dapat menjamin bahwa kita akan bertemu Ramadhan selanjutnya.

“Jadikan Ramadhanmu deadline. Seolah ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidupmu. Mengapa? Agar kita berusaha keras menggapai tangga ketakwaan tertinggi di Ramadhan ini. Karena jika tidak tercapai di Ramadhan ini, kita tidak akan ada waktu lagi. Jika Ramadhan ini terlewat, hilanglah Ramadhan terakhir kita.” Begitu kata Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis buku Ramadhan, Maaf, Kami Masih Sibuk.

Di hadapan kematian, bukankah setiap detik menjadi sangat berharga? Bukankah shalat kita akan menjadi shalat terkhusyu’? Bukankah lisan kita akan selalu basah dengan istighfar dan dzikrullah? Bukankah kita akan sibuk berburu amal shalih? Bukankah waktu yang sering kita abaikan tiba-tiba menjadi sangat bernilai? Hingga sama sekali tak ada waktu untuk memikirkan keburukan dan kesia-siaan. Bisakah Ramadhan kita seperti itu?

Seandainya ini Ramadhan terakhir, inilah kesempatan terbaik bagi jiwa-jiwa yang ternoda menjadi kembali pada kesuciannya. Jikapun kelak Allah memang memanggil kita, setidaknya kita berhasil “pulang” dan menghadap kepada-Nya dalam keadaan bersih, selamat, husnul khatimah.

Karena itu, selamat berjuang wahai jiwa yang merindu perjumpaan dengan Rabb-nya. Selamat berbenah diri untuk menjadi hamba yang sejati.

Bukan mati yang seharusnya kau takuti, sebab semua makhluk bernyawa tak ada yang abadi. Takutlah, jika kematianmu tidak dalam keadaan diri yang Dia ridhoi.

___

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-1 #MenjemputRamadhan 1441 H   

Senin, 20 April 2020

Siapkan Amal Terbaik


Ramadhan. Setahun sekali ia datang. Kemuliaannya membuat ia begitu spesial. Membawa bermiliar kebaikan, membuka kesempatan beramal besar-besaran sebab menjadi berkali lipat nilainya.

Siapa yang tak tergiur, pahala shalatnya menjadi bertambah-tambah, pahala shaumnya bernilai luar biasa, pahala sedekahnya dibalas berkali-kali lipat. Hanya yang merindu syurga dan ampunan-Nya yang mengerti betapa berharganya kesempatan ini hingga tak rela jika ada satu detik pun berlalu sia-sia. Kapan lagi panen pahala semenguntungkan ini?

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi waktu dimana kita banyak-banyak memberi, banyak melakukan amal-amal shalih. Mempersembahkan ibadah terbaik kepada Allah, juga mempersiapkan pemberian terbaik kepada sesama manusia.

Banyak, banyak sekali yang bisa kita bagi. Harta kita, ilmu kita, tenaga kita, gagasan kita, dan masih banyak lagi. Lakukanlah apa saja untuk menyebarkan keindahan Islam dan keagungan Ramadhan. Jadilah penyeru-penyeru-Nya, jadilah perantara hidayah bagi sebanyak mungkin orang. Lewat lisanmu, tulisanmu, bahkan doa-doamu.

Sebab apa? Sebab kita ini belum jelas nasibnya di akhirat. Dengan cara apa lagi kita mengemis rahmat dan ampunan-Nya jika bukan dengan amal shalih yang nilainya berlipat-lipat?

Jadi, sudah mempersiapkan amal-amal apa saja untuk dipanen pahalanya di bulan Ramadhan nanti? Sibuklah. Infakkan apa saja yang kau punya untuk mengejar ridha-Nya.

Allahumma ballighna Ramadhan.. Ya Allah sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.. Rasanya diri ini semakin rindu.. :')

___

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-3 #MenjemputRamadhan 1441 H

Membangun (lagi) Harapan


*lupa diposting dong, harusnya 2 hari lalu*


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." -QS. 2:186

Di suatu sharing session bareng sahabat2 @hujansafirid yg saat itu sdg membahas ttg Ramadhan, salah satu dari kami berkata, "Ayat ini tuh (QS. 2:186) unik banget tau. Dari rangkaian ayat2 tentang Ramadhan QS. 2:183-187, ayat ini tiba2 muncul ditengah2 dan bicara ttg doa. Beda sendiri gitu."
ㅤㅤㅤ
Dipikir-pikir iya juga, dari yang awalnya bicara tentang perintah puasa, dilanjut dgn syariat puasa, bahas turunnya Al-Quran, bahas syariat lagi, terus tiba2 ada satu ayat ttg doa, dan ditutup bahas syariat lagi di ayat 187-nya.

Dan memang betul sih, satu dari keutamaan bulan Ramadhan adalah dikabulkannya doa-doa. Ramadhan menjadi waktu dimana Allah buka pintu langit selebar-lebarnya utk menampung doa-doa baik kita.
ㅤㅤㅤ
"Sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku." Sweet banget kalimat ini tuuh, lembut dan ramah bangeet :')
ㅤㅤㅤ
Aku jadi inget, pernah ada guru yang bilang, salah satu persiapan Ramadhan yang bisa kita lakukan adalah persiapan doa. Yuk siapin, sedang mengikhiarkan kebaikan dan butuh ditolong Allah untuk mewujudkannya? Langitkan doa-doa kita kepada-Nya!

Allah tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Selama ia hidup dlm taat sembari memelihara keimanan, Allah mampu kabulkan dengan segera atau dalam waktu yang sesuai dengan ketentuan-Nya yang Maha Bijaksana.

Barangkali selama ini kita sudah lupa bahwa Allah Maha Mendengar doa, atau mungkin sudah tak pernah sungguh2 berdoa karena tak cukup sabar menunggu semesta bekerja.

Kini saatnya membangun kembali puing2 harapan itu kepada Allah. Saatnya menaruh (lagi) kepercayaan kepada Dia yang menggenggam kehidupan kita.

Mendekatlah pada-Nya dengan doa-doa kita, merendahlah serendah-rendahnya dan menjadilah hamba dengan jiwa yang lebih tenang, sebab percaya penuh pada ketetapan dari Tuhannya.

___

H-5 #MenjemputRamadhan 1441 H

Kamis, 16 April 2020

Menangkan Ramadhan


Semakin dekat kita pada Ramadhan hingga jari tangan kita bisa digunakan untuk menghitung harinya. Saatnya bertanya lebih serius kepada diri, sudahkah persiapanku maksimal optimal untuk menyambutnya?

Jangan-jangan kita masih juga abai karena berbagai kesibukan atau lalai karena terlalu banyak waktu luang. Jangan-jangan kita masih dilanda kebingungan tentang apa yang akan dipersembahkan oleh diri saat Ramadhan menyapa hingga ia pergi nanti.

Tujuh hari itu sebentar, sudah hampir terlambat jika kita baru mulai bersiap hari ini. Sementara Rasulullah SAW dan para sahabat, bahkan memulai persiapan dari bulan Rajab, 2 bulan sebelum Ramadhan. Seserius itu.

Banyak orang menganalogikan Ramadhan seperti olimpiade atau lomba lari marathon. Butuh berlatih dan pemanasan sebelum memulai. Butuh manajemen stamina dan konsentrasi yang panjang saat berproses. Jika tak cukup latihan, akan kewalahan ditengah jalan. Tak cukup stamina dan daya tahan, ucapkanlah selamat tinggal pada kemenangan.

Tak cukupkah pelajaran dari Ramadhan tahun-tahun yang lalu? Seleksi alam akan berlaku bagi mereka yang kurang kuat niatnya, kurang cukup bekalnya, dan kurang fokus dalam prosesnya.

Seperti yang kita tahu, semakin menjelang idul fitri, banyak yang mulai kelelahan, banyak yang mulai termakan distraksi penyambutan hari lebaran. Satu per satu berguguran, meninggalkan target Ramadhan yang berakhir menjadi sekedar angan-angan.

Maka beruntunglah mereka-mereka yang menang, yaitu yang senantiasa terjaga niat dan semangatnya, serta sungguh-sungguh dalam prosesnya.

Sebab hanya mereka yang tersaring dan terseleksi sajalah yang berhak menikmati nikmatnya takbir di malam idul fitri; takbir kemenangan. Semoga kita menjadi salah satunya.

Tak ada pilihan selain bergegas. Waktu kita tak banyak.

___

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-7 #MenjemputRamadhan 1441 H

Selasa, 14 April 2020

Surga Sebelum Surga


Ramadhan tahun ini, sangat berbeda bukan? Sepertinya takkan kita temui mereka yang berbondong-bondong penuhi masjid di malam pertama Ramadhan.

Masjid-masjid biasa penuh dengan kajian dan majelis ta’lim, berperan penting menjadi perantara hidayah bagi siapapun yan merindu Rabb-nya. Dinding-dindingnya menjadi saksi air mata mereka yang bertaubat. Tak hanya untuk sholat, tapi juga i’tikaf, shalawat, dzikir dan munajat pada-Nya. Kini, masjid-masjid terpaksa ditutup demi meredam pandemi.

Ramadhan dan lebaran yang sering menjadi ajang silaturahmi, kini membuat banyak manusia saling menahan rindu karena raga tak sanggup bertemu. Bagaimana perasaanmu menghadapi kenyataan ini?

Kita semua pasti sempat sedih. Tapi bukankah Allah tak mungkin memberi takdir yang buruk untuk kita? Kecewa hanyalah bagi mereka yang belum memahami hikmah dibaliknya.

Lihatlah, banyak para ayah yang kembali ke rumah, banyak para ibu yang bersyukur bisa fokus pada tugas utamanya menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Banyak anak-anak yang lebih sering tersenyum karena bisa bermain lebih lama bersama orangtuanya. Banyak obrolan hati ke hati yang terjadi diantara anggota keluarga. Kenikmatan yang jarang sekali kita dapatkan, sebab terlalu banyak sibuk dengan kehidupan di luar rumah.

Majelis itu tak pernah jauh, sebab majelis terdekat kita adalah keluarga. Walau tanpa masjid dekat rumah, kita bisa ciptakan “masjid kecil” dalam keluarga kita; tempat kita menjalankan ibadah dan mengisi ruhiyah. Baitii jannatii, sebuah ungkapan indah yang mengandung pesan bahwa surga itu dimulai dari dalam rumah. Dengan harapan, satu keluarga bisa terus bersama hingga ke surga.

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” kata Allah dalam QS. At-Tahrim (66) ayat 6. Seharusnya ini menjadi bahan renungan bagi kita, sudahkah setiap anggota keluarga saling menjaga agar terhindar dari murka-Nya?

Mungkin ini saatnya kita menghidupkan dzikir dari rumah-rumah kita. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mempererat ikatan nasab yang ada, agar juga terikat oleh ikatan iman dan aqidah. Saatnya membangun surga di rumah, mewujudkan surga sebelum surga.

___

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-9 #MenjemputRamadhan 1441 H

Minggu, 12 April 2020

Bersegera Menuju-Nya




"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." -QS. 2:183
ㅤㅤㅤ
Apa yang terasa oleh kita ketika membaca ayat itu? Kalau masih belum terasa, coba baca sekali lagi. Bergetarkah hati kita? Terasakah tujuan baik dari Allah kepada kita?
ㅤㅤㅤ
Ayat tersebut dimulai dengan panggilan dari Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. Yaa ayyuhalladziina aamanu.. Wahai orang-orang yang beriman..
ㅤㅤㅤ
Aku nggak begitu paham bahasa arab, tapi mendengar lafadz 'yaa ayyuhalladziina aamanu' itu rasanya lembuut sekali. Ada kasih sayang Allah disitu, ada kelembutan. Panggilan yang ditujukan bukan kepada telinga kita, tapi kepada apa yang ada di dalam dada (hati). Panggilan yang membuat kita merasakan ada hal baik yang sedang Dia siapkan. Aah, mungkin ini salah satu wujud Rahiim-nya Allah kepada kita. Apakah terasa juga olehmu?
ㅤㅤㅤ
Dilanjutkan dengan perintah puasa. Sebuah perintah yang sebetulnya bukan untuk memaksa apalagi membebani. Suatu perintah yang juga diperintahkan kepada mu'minin-mu'minin kebanggan Allah di masa sebelum kita. Suatu pelatihan jiwa yang sama, yang diberikan kepada seluruh mu'min sepanjang zaman. Yang mana sejarah telah mencatat dan Quran telah mengabarkan bahwa mereka yang lulus membuktikan ketaatan, Allah angkat kepada derajat yang tinggi, mulia di atas makhlukNya yang lain. Tidakkah kita menginginkannya?
ㅤㅤㅤ
Dan derajat itu adalah derajat takwa. Takwa adalah output yang Allah harapkan dari kita selama menjalani pelatihan Ramadhan. La'allakum tattaquun, agar kamu bertakwa, kata Allah di penghujung ayat. Sebuah tingkatan manusia paling mulia di hadapan Allah, dengan syurga sebagai reward-nya.
ㅤㅤㅤ
Maka, penyikapan kita terhadap ayat ini pertama-tama adalah MERASA TERPANGGIL oleh Allah. Menyambut panggilan itu dengan sukacita, bersemangat mencapai takwa, menghantarkan hati dan jiwa yang sudah sangat merindu kepada Pemiliknya.


Sadarkah kita, bahwa Allah sudah jauh lebih dulu menanti taubat dan taat dari hambaNya? Semakin kita bersegera mendekat kepada Allah, semakin bersegera pula Allah mendatangi kita dengan ampunan dan rahmatNya. Yuk, bersegera :)


___

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-11 #MenjemputRamadhan 1441 H


Jumat, 10 April 2020

Menghisab Diri


"Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
ㅤㅤㅤ
Hadits itu bikin aku merenung, iya ya, kita ini mau menghadapi bulan yang suci, ada baiknya kita mulai menghisab diri. Ihtisab namanya, suatu bentuk koreksi terhadap diri yang kemudian melahirkan niat dan kesungguhan untuk melakukan perbaikan yang membawa kepada keridhoanNya.

Siapa yang tak ingin, selepas Ramadhan menjadi hamba yang terampuni. Siapa yang tak mau, selepas Ramadhan menjadi diri dengan kualitas iman yang baru. Yang lebih baik lagi, yang semakin diperhitungkan oleh penduduk langit.

Umar bin Khathab r.a pernah berkata, "Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal."
ㅤㅤㅤ
Cari. Gali sampai ke dalam diri, selami sampai ke palung hati, apa kiranya yang membuat diri ini masih saja sulit melaksanakan aturan-aturanNya tanpa tapi.

Evaluasi. Apa saja hal-hal yang membuat diri ini gagal dalam taat? Apa saja hal-hal yang menghambat kekhusyu'an kita dalam beribadah? Apa saja hal-hal yang membuat kita diam di tempat atau bahkan mundur ke belakang?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, setidaknya kita jadi tahu, dimana titik start kita ketika memasuki Ramadhan. Lalu azzam-kan kepada diri, buat janji dan komitmen diri kepada Allah tentang hal-hal apa saja yang akan kita tinggalkan, apa saja yang akan kita perbaiki, dan apa saja yang akan kita tingkatkan.

Tak lupa memohon pertolonganNya, agar selalu menuntun dan menguatkan kita dalam prosesnya. Sebab taat bukan karena kita hebat, pertolonganNya-lah yang membuat ibadah kita terasa nikmat.

Semoga kesungguhan kita dalam membuktikan taat, dapat membuka pintu maafNya, pintu rahmatNya, pintu ridhaNya, dan pintu syurgaNya..
ㅤㅤㅤ
__

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-13 #MenjemputRamadhan 1441 H

Rabu, 08 April 2020

Siapkah kita, diangkat oleh Allah dari kehinaan kepada kemuliaan?


Suatu hari, Rasulullah SAW hendak berkhutbah. Sembari menaiki tangga mimbar, beliau berucap 'Aamiin' sebanyak 3 kali yg kemudian membuat para sahabat bertanya, 'Mengapa engkau 3 kali berkata 'Aamiin', Ya Rasulullah?'

Ternyata, malaikat Jibril mengatakan 3 hal kepada Rasulullah dan ketiganya Rasulullah aamiin-kan. Salah satu yg di-aamiin-kan oleh beliau SAW adalah "Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah."

Deg. Celaka katanya.

Pertama kali aku denger hadits itu, rasanya takut banget. Takut jadi bagian orang-orang yang celaka itu. Naudzubillah ya Allah :'(

Tapi terus mikir, emang bisa ya dosa-dosaku yg banyak itu Allah ampuni? Nah, itulah keistimewaan Ramadhan! Sepertinya, Ramadhan memang menjadi bulan yg Allah siapkan untuk mensucikan hamba-hambaNya.

Bayangkan, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka. Syetan-syetan dibelenggu. Allah hujani kita dengan barakah dan rahmatNya, Allah buka pintu taubat selebar-sebarnya, Allah buka akses hidayah seluas-luasnya, Allah turunkan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di sepuluh hari terakhir, Allah janjikan pembebaskan dari api neraka. Dan masih banyak lagi keistimewaan yg Allah suguhkan lewat Ramadhan.

Maasyaa Allah.. Kurang apalagi coba. Maha Penyayang Allah kepada kita, yang telah merancang bermiliar kebaikan kpd kita lewat bulan Ramadhan.

Jika Allah sudah seserius itu menyiapkan program utk pensucian hamba-hambaNya, bagaimana dengan kita? Siapkah kita disucikan olehNya? Siapkah hati kita dibasuh oleh cahaya kebenaran dariNya? Siapkah jiwa kita dipoles oleh hidayahNya sehingga kembali kepada kefitrahannya? Siapkah kita, diangkat oleh Allah dari kehinaan kepada kemuliaan?

Sungguh, ini bukan sekedar pertanyaan. Menjawab pertanyaan semacam ini perlu lebih dari sekedar jawaban lisan. Jika kita memimpikan diri yang kembali fitri, maka butuh kemauan, butuh kesiapan, butuh kesungguhan, butuh keseriusan kita dalam mempersiapkan dan menjalani Ramadhan. Dan tentunya, butuh pengorbanan yg tidak sedikit.

Menjawab siap, berarti siap untuk bersiap. Bersiaplah.

__

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-15 #MenjemputRamadhan 1441 H


Ps. Kisah diatas diriwayatkan oleh Bukhari, 3 perkataan Jibril yang di-aamiin-kan oleh Rasulullah SAW adalah: (1) Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah. (2) Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orangtuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk surga. (3) Celaka seseorang yang jika disebut namamu (Rasulullah) namun tidak bershalawat kepadamu. Semoga kita bisa senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang membuat kita terhina dihadapanNya. Aamiin..

Senin, 06 April 2020

#MenjemputRamadhan Project


Dulu waktu belum ngerti, waktu ilmunya masih cetek banget, suka heran sama orang-orang kalau mau Ramadhan kok seheboh itu. Serius banget gitu kalau nyiapin Ramadhan, sampai diitung-itung countdown-nya. Kayak yang nungguiiin banget. Terus diri ini juga bertanya-tanya kok bisa sampai ada orang yang nangis-nangis gitu kalau Ramadhannya mau pergi. Sebenarnya sambil diam-diam iri sih, pengen bisa kayak gitu juga. Pengen suatu saat bisa ngerasain spesialnya Ramadhan.

Alhamdulillah momentum itu datang juga. Suatu hari di bulan Rajab, dapet pembekalan Ramadhan dan bertekad Ramadhan tahun itu aku mau sungguh-sungguh. Sampai akhirnya di maghrib terakhir Ramadhan tahun itu netes juga air mataku, sedih karena Ramadhan akhirnya pergi.. Sejak saat itu, aku nggak mau lagi nyia-nyiain Ramadhan. Karena udah ngerasain spesialnya, udah ngerasain betapa di bulan itu kasih sayang Allah itu ngucurnya gila-gilaan. Deres banget kayak hujan :')

Tahun berikutnya, aku bikin project pertamaku, 10 tulisan #RamadhanProject bareng @nvsyadza. Tahun berikutnya, bikin lagi #PersiapkanRamadhanmu di bulan Sya'ban, hasil kolaborasiku sama @novieocktavia. Tahun berikutnya nggak kalah spesial juga karena itu jadi kali pertama @sisterofdeen ngadain kulwap dan aku jadi pematerinya (deg-degan cuy!). Jadinya setiap tahun mikir, aku bikin sesuatu apa ya buat Ramadhan?

Insya Allah untuk tahun ini aku mau bikin project tulisan lagi, kali ini dibantuin @fikriarosyida buat desainnya. Rencananya per 2 hari bakal posting di IG-ku @una_ha2 dan blog ini buat jadi reminder pribadi.

Sejujurnya aku merasa ini agak terlambat, karena sekarang udah pertengahan Sya'ban. Tapi gapapa, tujuanku bikin tulisan ttg Ramadhan sebenarnya buat diri sendiri sih. Biar semakin terpacu dan mantap persiapannya walaupun dengan keadaan yg sedikit berbeda. Maksain diri walaupun bisikan mager saat ini begitu kuat karena #dirumahaja (kamu pasti bisa, Na!).

Bismillah ya. Kalau ternyata tulisannya menyentuh hatimu dan bikin jadi semangat juga, alhamdulillah, Allah berarti menghendaki kebaikan untuk kita semua bertumbuh jadi hamba yang lebih baik lagi. See you!

__

H-17 #MenjemputRamadhan 1441 H