Tampilkan postingan dengan label living life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label living life. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2026

Meruntuhkan Sekat, Menghapus Jarak

Tak ada yang lebih mengerikan di dunia ini selain jauh dari Allah. Sedih dan terluka namun bersamaNya, masih lebih baik daripada hidup nyaman namun hampa karena tak ada Allah didalamnya.

Perlu kejujuran hati untuk mengakui bahwa saat kita merasa jauh dari Allah, tentu bukan Allah yang menjauh, karena sebetulnya Dia selalu dekat. Pastilah kita yang menjauh. Kita yang membuat sekat sehingga berjarak dengan Allah.

Dan Dzulhijjah, mengajak kita untuk meruntuhkan sekat itu. Syariat qurban dihadirkan Allah sebagai jalan agar kita kembali dekat kepada-Nya. Sebagaimana arti kata qurban yang berasal dari qoroba yang berarti dekat. Allah tidak ingin ada yang menghalangi kedekatan antara kita dengan-Nya. How sweet Allah, isnt't it? 🥹

Begitu pula dengan haji. Semua atribut, status, dan dunia yang sering kita banggakan dilepas, hingga yang tersisa hanyalah seorang hamba dengan Tuhannya.

Namun, melepas sekat itu tidak selalu mudah. Ada ego yang ingin terus dituruti. Ada rasa memiliki yang terlalu erat digenggam. Ada maksiat yang diam-diam membuat hati mengeras.

Karena itu, qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Haji bukan sekadar pergi ke tanah suci. Keduanya adalah latihan melepaskan segala hal yang membuat kita jauh dari Allah sebagai bukti cinta kita kepada-Nya.

Maka Dzulhijjah hadir bukan hanya mengajak kita untuk beramal, tapi juga kembali pulang kepada Allah.
Dengan jiwa yang lebih tunduk.
Dengan hati yang lebih dekat.
Dengan sekat yang perlahan runtuh.

❤️‍🩹

Sabtu, 16 Mei 2026

Menjaga Iman

Sebaik-baik peninggalan adalah ilmu yang menumbuhkan iman. Dan hal paling berharga yang harus dijaga adalah keimanan itu sendiri, beserta seluruh wasilah yang membuatnya tetap hidup dan terus bertumbuh.

Al-Quran sebagai petunjuknya,

Orang-orang shalih sebagai penyampainya,

Majelis-majelis ilmu sebagai ruang tumbuhnya,

Ukhuwah sebagai penguatnya,

Ketaatan sebagai penjaganya,

Sejarah sebagai pengingat dan inspirasinya,

Serta keintiman dengan-Nya yang perlu terus dipelihara.

Semua perlu digenggam dekat dan erat. Sebab tanpanya, iman mudah goyah dan jiwa menjadi rapuh.

Hari ini, kita menjaga iman. Kelak, iman yang akan menjaga kita. Dan menghantarkan kita pada surga dan keridhoan-Nya.

#JurnalRamadhan1447H #RefleksiRamadhan

Sabtu, 01 Maret 2025

Kenangan Ramadhan dan Pesan yang Ayah Tinggalkan

Sejak malam pertama Ramadhan tadi, aku teringat sebuah momen bersama keluarga, saat kami menginap di sebuah villa di Bandung. Tepat setahun yang lalu, aku dan keluarga suami berkumpul 2 hari 1 malam, yang mana malam itu adalah malam pertama bulan Ramadhan. Ayah, bunda, semua anak-anak dan menantu, lengkap hadir. Bahkan saat itu anggota keluarga kami baru bertambah satu personil karena adik iparku baru saja menikah.

Selama 2 hari itu kami menghabiskan waktu dengan berenang, bermain game, masak bareng, tarawih bareng, dan di malam harinya kami melakukan sesi coaching keluarga yang dipandu oleh salah satu adik iparku, @hafidzfathudin hingga subuh. Esok paginya, kami pulang dengan hati yang penuh. Sebab telah saling islah dan saling mengapresiasi satu sama lain. Happyy dan hangat sekali. Core memory unlocked! 🔓🥰


Namun, ada satu hal yang tak pernah kami bayangkan. Tanpa kami tahu dan tanpa kami pernah menyangka, ternyata Allah telah berencana untuk mengambil salah satu dari kami di penghujung Ramadhan tahun itu. Orang itu adalah ayah kami. Allahu yarham🤲

Selama setahun ini, ada satu pesan dari almarhum ayah yang terus terngiang di pikiranku. Momen itu terjadi saat sesi coaching keluarga, di akhir sesi, saat setiap anggota keluarga diminta untuk memberi pesan untuk satu sama lain. Saat itu, aku dan suami maju ke depan, dan ayah adalah orang pertama yang memberi pesan.

Kukira ayah akan langsung bicara, tapi ayah terdiam dulu sejenak. Matanya menerawang seperti sedang mengingat sesuatu atau sedang berpikir untuk merangkai kata-kata. Na, dengar baik-baik! Ini pasti penting, bisikku pada diri sendiri. Aku bersiap mendengarkannya dengan seksama.

Lalu sambil menatap aku dan suami, ayah berkata, "Nanti di yaumil akhir, seorang syuhada bisa menyelamatkan keluarganya.."

Ayah terdiam sebelum melanjutkan. Aku semakin menyimak.

"Jadilah itu, ya, Nak." Tutupnya.

Deg. Sebuah pesan yang sangat singkat, namun aku bisa merasakan pesan dan harapan yang dalam dari cara ayah bertutur.

Saat mendengar pesan itu, aku paham bahwa menjadi syuhada yang dimaksud ayah adalah meninggal dalam keadaan sedang berjuang dan mengkaryakan diri di jalan-Nya, apapun peran dan aktivitasnya. Jujur, ini adalah pesan yang besar dan berat, namun itu juga adalah sebuah cita-cita yang sedang berusaha aku (dan pastinya keluarga kami) ikhtiarkan.

Aku bersyukur bisa mengingat dengan baik pesan ayah saat itu, karena ternyata 28 hari kemudian, ayah dipanggil pulang oleh-Nya. Sedih. Patah. Terguncang kami dibuatnya. Tapi pada akhirnya kami bisa melepasnya dengan tenang dan kelegaan yang luar biasa.

Kurasa, justru ayah yang telah mencapai kesyahidan itu lebih dulu. Sebab kami semua menjadi saksi bagaimana ayah selalu bersegera dalam menjemput amal-amal shalehnya. Selama Ramadhan hingga hari-hari terakhirnya, padat sekali ia dengan aktivitas hablumannallah dan habluminannas-nya. Semua dilakukan dengan sukacita dan dengan penuh pengharapan mencapai rahmat dan maghfirah Allah.


Aku iri sekali dengan bagaimana cara Allah mewafatkan ayah. Ketika pemakaman malam itu, saat penduduk bumi menangis melepas jasad ayah, penduduk langit mungkin sedang tersenyum menyambut ruhnya. Semoga Allah betul-betul menerima dan memeluk ruh ayah kedalam golongan para syuhada. Yah, kalau nanti kami kesulitan di padang mahsyar atau tertahan di mizan, panggil kami ya, Ayah. Ajak kami ke syurga bersamamu. :")

Tak terasa momen itu sudah setahun yang lalu. Rasa rindunya masih besar. Tangis kami pun sesekali masih ada. Tapi rasa syukur kami juga tak kalah besar. Ayah telah mengajari kami bagaimana seharusnya Ramadhan dijalani. Bahkan bukan hanya di Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, ayah selalu menunjukkan keteladanan tentang bagaimana hidup harus dijalani. Semoga kami bisa mewarisi semangat dan jejak juangnya, serta kelak diwafatkan juga dalam keselamatan dan limpahan rahmat-Nya. Aamiin Ya Mujiib.. 🤲

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Al-Fatihah.

Always miss you, Yah.

Senin, 29 April 2024

April

Sejak ayah berpulang, bulan April tak lagi sama di mataku. Rasanya aneh berulangtahun di bulan yang sama dengan bulan wafatnya ayah. Tapi mungkin ini cara Allah untuk mengingatkanku bahwa hari kelahiran justru adalah untuk merenungi hari kematian yang bisa datang kapan saja. Sebab berulangnya hari lahir berarti jatah usiaku semakin berkurang. Entah berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan.

Terima kasih untuk Ramadhan tahun ini yang berhasil membuatku memandang hidup dari kacamata hari akhir. Sejak Ramadhan kemarin, aku belum pernah memikirkan kematian sesering ini --memikirkan seperti apa keadaanku saat mati nanti.

Dari kepulangan ayah di Ramadhan kemarin, aku banyak mendapat kisi-kisi bagaimana mengupayakan kematian yang indah. Aku menjadi lebih serius mencita-citakan kematianku sendiri agar husnul khatimah. Walau masih sesekali dibayangi rasa khawatir, akankah aku berpulang seperti yang aku idam-idamkan?

Mulai April tahun ini, rasanya hari lahir bukan lagi untuk dirayakan, melainkan untuk merenungi sudah sebanyak apa bekal pulang, sudah sesungguh-sungguh apa memproseskan takwa, serta untuk lebih menghargai dan mensyukuri orang-orang tersayang yang masih ada.

Semoga Allah perkenankan saat tiba waktunya pulang nanti.. aku bisa 'dijemput' dalam keadaan yang baik, dalam keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan sedang beribadah dan berjuang untuk-Nya. Aamiin.. :')

Barakallah fi umriik, Na.. :)

Rabu, 10 April 2024

Jamuan Ramadhan dan Hidangan Penutupnya

"Alhamdulillah terasa sekali banyak peluang amal shaleh dan banyak peluang digugurkannya dosa-dosa di Ramadhan tahun ini. Walau begitu, peluang tersebut bisa saja menjadi kesempatan yang hilang jika tidak ada keikhlasan dalam menjalani takdir demi takdir dari-Nya. Semoga Allah mampukan untuk ikhlas dan ridho "diperjalankan" oleh Allah supaya pahala dan ampunannya beneran dapet. Allahumma innaka 'afuwwun kariim, tuhibbul 'afwa fa'fuannaa.."

***

28 Ramadhan 1445 H, 7 April 2024, hari Ahad. Pukul 14:58 WIB di ruang ICU Rumah Sakit Al-Islam, Allah panggil salah satu hamba kesayangan-Nya. Alhamdulillah, di usianya yang ke 58, ayah (mertua) berpulang di bulan yang baik, di hari yang baik, di waktu menjelang ashar.

Ramadhan kali ini banyak sekali jamuan yang Allah hidangkan. Dan ternyata hidangan penutupnya adalah nasihat kematian. Sedih karena kini aku sudah tidak bisa bertemu dan memeluk ayah lagi, tapi juga bahagia sebab kepulangannya begitu indah yang diam-diam membuatku iri, bisakah kelak saat Allah panggil pulang nanti, aku juga bisa membawa bekal yang banyak seperti ayah untuk bertemu Allah? :')

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan tentang ayah, tapi biarkan aku bercerita dulu bagaimana Ramadhanku berjalan sejak hari pertama. Malam pertama Ramadhan di tahun ini adalah malam yang paling aku syukuri dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Malam itu adalah malam dimana aku dan keluarga suami (ayah, bunda, semua anak-anak dan mantu) berkumpul untuk saling mengobrol dari hati ke hati. Obrolan yang dalam sekali sampai semua orang bebas mengungkapkan segala unek-unek dan ganjalannya satu sama lain. Obrolan kami berlangsung lama sekali dari setelah tarawih hingga menjelang sahur. Ya, malam itu kami tidak tidur.

Ada banyak air mata yang tumpah, tapi ada lebih banyak lagi rasa syukur yang tumpah. Malam itu, tuntas semua hal-hal yang mengganjal di hati. Malam itu, kami saling islah dan memaafkan. Saling memberi pesan dan menunjukkan rasa sayang. Dan setelah ayah berpulang, aku baru menyadari bahwa sepertinya segala kejadian di malam itu adalah hadiah dari Allah untuk ayah. Sebab ayah berpulang dalam kondisi ayah sudah ridho dan memaafkan anak-anaknya serta anak-anaknya pun ridho dan sudah memaafkan ayah. Malam itu betul-betul menjadi awal yang baik untuk mengawali Ramadhan. Lalu dimulailah pendidikan dari Allah melalui Ramadhan ini…

Aku sakit di hari ke-3 Ramadhan. Demam, badan linu, lemes, mual, entah sakit apa, tapi cukup membuat aku kepayahan terutama di 3 hari pertama sakit. Alhamdulillah Allah beri kesembuhan dan bisa beredar lagi setelah 6 hari bedrest. Dan ternyata Allah tetap beri kekuatan untuk bisa shaum (karena kalaupun nggak shaum karena sakit, kerjaanku cuma di kasur dan makan pun cuma masuk dikit, jadi mending shaum aja sekalian ya kan wkwk), bahkan tanpa diduga Allah masih memberi kekuatan untuk nggak skip tarawih dan bisa tetep tadarus 1 hari 1 juz. Walaupun rasanya struggling bangett.. Alhamdulillah selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Setelah sakit alhamdulillah bisa keluar rumah lagi, bersilaturahim lagi, beribadah dengan lebih mudah karena badan sudah lebih kuat, dan ada beberapa amanah yang aku kerjakan juga.

Malam ke-13 Ramadhan aku berkesempatan mabit bersama sahabat-sahabat terdekatku. Sudah menjadi agenda tahunan tiap Ramadhan kami selalu mengagendakan mabit bersama. Aku diminta mengisi sharing session untuk belasan perempuan yang hadir malam itu dan setelahnya ada sesi sharing lagi menyampaikan rasa syukur dan harapan atas dipertemukannya dan diperjalankannya kami semua oleh Allah. Lagi-lagi Allah menganugerahkan malam yang indah untuk saling belajar dan merekatkan ikatan ukhuwah kami. Alhamdulillah..

Hari ke-18 Ramadhan, subhanallah aku diuji sakit lagi. Kali ini sakitnya dari sakit gigi yang bikin demam, sakit kepala, mual, dan… badmood (wkwk). Demam karena sakit gigi ini berlangsung 4 hari dan lumayan struggling karena di sakit kali ini aku ada agenda-agenda yang nggak bisa di skip. Soalnya sakit gigi tuh sakit yang agak nanggung sebenernya ya, dibilang sakit kayaknya nggak sakit-sakit banget, tapi dibilang nggak sakit juga da badannya nggak enakeun buat diajak ngapa-ngapain hahaha. Jadi ya udah disabarin aja wk.

Hari ke-20 Ramadhan, walau masih dalam kondisi sakit gigi dan agak demam, tapi aku bersyukur karena di hari itu aku berkesempatan mendampingi ayah mengisi sebuah diskusi Ramadhan. Ayah meminta aku duduk di sebelahnya dan aku mendengar dan mencatat apa-apa yang disampaikannya. Hari itu ayah bersemangat sekali berbagi ilmu walau seberesnya ayah berkeringat banyak sekali. Besok dan besoknya lagi, ada forum-forum lain yang juga ayah isi. Itulah ayah, selalu bersemangat untuk menjemput amal-amal shalehnya.

Sampai tibalah hari yang mengagetkan itu datang. Siang hari di tanggal 24 Ramadhan, Bunda tiba-tiba menelepon menyuruh semua anak-anaknya yang sudah menikah (karena sudah beda rumah) untuk segera pulang dan melihat kondisi ayah. Dalam kondisi bingung namun khawatir karena suara bunda terdengar parau, aku dan suami bergegas pergi ke rumah ayah. Saat sampai, ayah sedang dituntun dzikir oleh adik iparku. Alhamdulillah kondisinya sadar dan masih bisa mengikuti berdzikir. Ternyata sebelum itu ayah sempat kejang selama 5 menit, yang setelahnya baru diketahui bahwa ayah terkena serangan stroke. Badan sebelah kirinya sulit digerakkan. Sore itu, ayah segera dilarikan ke IGD. 

Di IGD sambil menunggu ruangan, ayah masih bisa kami ajak ngobrol bahkan masih sempat-sempatnya bercanda. Minum susu, minum obat, ditunggui bergantian oleh anggota keluarga sampai akhirnya menjelang tengah malam ayah bisa masuk ruangan untuk dirawat. Malam itu aku khawatir tapi tetap optimis ayah insya Allah akan sembuh. Setelah ayah dirawat di ruangan, anak-anak dan bunda membuat jadwal untuk bergantian jaga di rumah sakit.

Sayangnya, aku ada kegiatan kepanitiaan sanlat selama 3 hari jadi aku belum bisa ikutan jaga di RS sampai tanggal 27 Ramadhan. Jujur, pikiranku bercabang. Dan semakin khawatir setiap kali mendapat update kabar ayah di grup WA keluarga.

Ayah masuk ICU di hari ketiganya di rumah sakit dan saat ayah masuk ICU aku masih belum bisa menjenguk ayah. Pulang sanlat, sore harinya di jam besuk aku langsung ke rumah sakit menengok ayah karena rasanya sudah kangen sekali. Sedih sekali melihat kondisi ayah dengan berbagai selang dan ventilator yang dipasang dimulutnya untuk membantunya bernafas. Ayah sudah tidak sadar sejak dirawat di ICU.

Aku berusaha tegar dan bicara di telinga ayah. Aku bercerita tentang kegiatan sanlat, menyampaikan betapa aku kangen sama ayah, membacakan doa-doa tentang kesembuhan, memberi semangat kepada ayah untuk sembuh, menyampaikan siapa saja orang-orang yang hari itu menjenguk ayah, dan meminta doa karena aku dan Novie (menantunya ayah juga) ada agenda mengisi zoom sharing Ramadhan sekaligus galang dana infaq Ramadhan. Aku bicara di telinga ayah cukup lama, bercerita seolah-olah ayah mendengarku. Bukan tanpa alasan, karena ayah memang selalu seantusias itu mendengar cerita anak-anaknya. Jadi kupikir, ayah pasti ingin tau update kegiatan anak-anaknya.

Kata dokter, ayah kondisinya tak sadar dan memang tidak bisa menjawab saat aku bercerita. Tapi aku senang sekali karena sore itu aku melihat beberapa respon dari ayah. Seperti beberapa kali menelan, satu kali mulutnya bergerak dan matanya sempat seperti mau terbuka. Entahlah apakah itu betul respon dari ayah atau hanya gerak motorik otomatis. Tapi yang pasti aku senang dan merasa ayah sedang mendengarkan.

Esoknya, aku dan suami memutuskan jaga di RS pagi hingga siang. Namun hari itu kondisi ayah terus menurun. Berkali-kali kami dipanggil dokter ke ruang ICU menjelaskan kondisi ayah yang semakin menurun dan bisa henti jantung sewaktu-waktu. Keluarga diminta bersiap untuk kemungkinan terburuk. Haahhh rasanya nano-nano. Menyalakan harapan sambil menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk itu sulit sekaliiii..

Saat itu rasanya ingin standby aja di RS tapi aku harus mengisi zoom jam 15.30. Sekitar jam 2 siang aku dan suami berganti jaga dengan adik iparku dan suaminya. Sebelum pulang, aku sempat berbisik kepada ayah, "Ayah, ayah harus terus berjuang untuk sembuh ya sampai Allah menurunkan ketetapan-Nya.. Kalaupun akhirnya Allah menurunkan ketetapan ayah harus pulang, insya Allah kami ikhlas. Tapi sebelum ketetapan itu datang, ayah jangan menyerah untuk sembuh ya.." Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak menangis di depan ayah.

Ternyata di perjalanan pulang, kabar demi kabar berdatangan di grup WA keluarga. Ayah sempat dikabarkan henti jantung. Kemudian nadinya sempat kembali setelah di pompa jantung. Namun 5 menit kemudian ayah meninggal dunia. Aku sudah di rumah saat adik iparku menelepon menyampaikan berita kepulangan ayah. Aku dan suami menangis. Satu orang yang kami cintai kini telah pergi menghadap Rabb-nya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.. Saat itu juga zoom aku batalkan dan aku langsung kembali ke RS setelah shalat ashar.

Prosesi memandikan, mengafani dan menyolatkan pun segera dilakukan di rumah. Lalu Ayah dimakamkan beberapa menit sebelum adzan isya. Saat itu malam hari, tapi masya Allah banyak sekali yang melayat. Banyak yang sayang sama ayah. Banyak yang kehilangan. Dan banyak yang mendoakan ayah. Aku sedih, tapi lega dan bahagia karena ayah dipanggil pulang insya Allah dalam kondisi terbaiknya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.

Semoga ayah husnul khatimah, mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, dan telah gugur dosa-dosanya saat Allah beri sakit. Kini, ayah yang selalu bersemangat menjemput peluang-peluang amal shaleh sepanjang hidupnya, sudah Allah istirahatkan dari tugas-tugasnya di dunia.

Diam-diam aku merasa iri pada ayah. Ayah betul-betul membawa bekal pulang yang banyak untuk bertemu Allah. Walau aku merasa khawatir kepada diriku sendiri, bisakah kepulanganku nanti juga seindah itu? Semoga.

Itulah cerita Ramadhanku. Masya Allah sekali hidangan Allah di Ramadhan ini, tapi insya Allah ini hidangan yang sehat untuk iman. Zoom sharing Ramadhanku akhirnya dilaksanakan besok sorenya. Dan alhamdulillah Allah masih memampukan menyelesaikan khatam tadarus al-Quran di sore terakhir Ramadhan walau dengan segala ke-hectic-an yang ada.

Semoga segala tempaan di Ramadhan tahun ini mampu aku sikapi dengan benar sehingga mengundang rahmat dan ampunan-Nya. Rabbana taqobbal minna, innaka antassamii'ul 'aliim..

***

Yah, aku sedih. Aku merasa kehilangan. Ayah baik sekali dan aku merasa sangat disayang oleh ayah. Tapi aku yakin, saat ini Allah sedang menggembirakan dan memuliakan ayah. Semoga kami bisa menggembirakan ayah dengan meneruskan segala kebaikan dan perjuangan ayah. Terima kasih sudah menjadi teladan yang mengajari kami bagaimana seharusnya hidup dan bagaimana seharusnya mati. Selamat berbahagia, Yah. Sampai bertemu lagi di keabadian, dalam ridho dan limpahan rahmat-Nya. Aamiin.

Rabu, 03 April 2024

Sampai Titik Mana Aku Diuji?

"Kenapa sih aku diuji lagi, diuji lagi? Kenapa masalah hidup kok ada teruus? Sebenernya Allah mau bawa aku kemana sih?" Pernah nggak mikir begini?

Memangnya sampai titik mana sih Allah ingin menguji kita di dunia? Sampai titik mana sih Allah ingin menempa kita dengan segala amanah yang ada?

Sampai titik keAKUan kita 0%.

Ya, sampai setiap gerak dan niat kita sama sekali tidak digerakkan oleh keinginan maupun ego diri. 100% KARENA dan UNTUK Allah saja.

Berat? Sangat berat. Yang menulis ini pun masih berjuang untuk bisa meng-nol-kan diri di hadapan Allah. Tapi perjuangan hidup di dunia memang begitu. Berjuang untuk menjadi hamba Allah yang sepenuh-penuhnya.

Setiap perintah dan larangan-Nya adalah ujian. Mampukah kita tunduk dan taat tanpa tapi?

Setiap nikmat dari-Nya adalah ujian. Mampukah kita tetap MENJADI hamba saat dunia ditundukkan untuk kita?

Setiap kehilangan adalah ujian. Mampukah kita rela melepas apa-apa yang sebenarnya tak pernah kita miliki?

Setiap "panggilan" adalah ujian. Mampukah kita memprioritaskan undangan Allah di atas agenda diri?

Selayaknya para shahabat dan mujahid yang jika ada panggilan jihad, semua rela ditinggalkan. Saat keAKUan sudah nol, jangankan harta dan keluarga, jiwa dan nyawa pun rela dipersembahkan untuk-Nya.

Maka tak heran jika syuhada itu Allah beri jalur VVIP untuk masuk syurga. Mulus tanpa hisab. Sebab sudah tak ada lagi keinginan diri, semua hanyalah tentang keinginan Allah. Semua keinginan diri diselaraskan dengan keinginan-Nya.

Berat? Ya. Sekali lagi, inii beratt sekali.

Walaupun begitu, kita tetap tak ingin berhenti mencita-citakannya, bukan? Sebab Allah yang Maha Penyayang lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil. Selama kita berupaya terus berproses dan berprogres walau hanya 1% setiap harinya, insya Allah Tuhan kita yang Maha Pengasih tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun kebaikan itu.

Mari terus berikhtiar sembari berharap, semoga saat Allah panggil pulang nanti, kita bisa sampai pada keAKUan yang sudah nol.

Dan Ramadhan adalah salah satu kesempatan terbaik untuk berlatih mengikis segala keAKUan di dalam diri. Selamat berjuang, kita! 🏃🏃🏃



#RamadhanReflection

Senin, 29 Mei 2023

Selesai, Tapi Bukan Akhir

2016-2023 😊

Allah, apa yang Kau titipkan, kini kukembalikan pada-Mu.. Memang tidak dalam keadaan yang terbaik, tapi setidaknya sudah lebih baik sejak aku menerimanya pertama kali.

Kuserahkan pada Engkau sebaik-baik penjaga. Semoga apa yang telah ditanam, tetap menghujam akarnya, kokoh batangnya, lebat buahnya, meneduhkan bagi sekitarnya dan terus meluas manfaatnya 🤲

Setelah hari ini, mungkin tak semua mekar bisa aku saksikan. Tak setiap buah bisa aku jumpai. Tak lagi bisa kubersamai tumbuhnya inci demi inci. Tapi kutitipkan pada-Mu lewat doa-doa, semoga penjagaan-Mu tak pernah lepas dan cahaya-Mu selalu menyinari.

Semoga Engkau terima setiap amal, Engkau ampuni setiap kelalaian, Engkau sempurnakan apa-apa yang kurang, Engkau jadikan semakin baik untuk yang akan datang. Rabbanaa taqobbal minna innaka antassamii'ul 'aliim.. 🤲

Bandung, 28 Mei 2023




Allah.. jika aku boleh meminta.. dan jika permintaan ini baik untukku, berikan aku pengganti dari apa yang telah Engkau ambil dariku..

Selasa, 23 Mei 2023

Rindu Itu Datang Lagi

Pagi tadi, rinduku untuk menjadi ibu mencuat lagi. Tangisku sering pecah jika melihat anak-anak shaleh shalehah dari saudara-saudaraku seiman. Melihat anak-anak laki-laki yang shalat, anak-anak perempuan yang berkerudung, hampir selalu menjadi trigger rasa rindu itu muncul dan jiwa keibuanku meronta lagi.

Selintas terpikir, mungkin mengapa Allah belum memberiku anak, karena Allah tahu betul, dari sekian doa yang aku pintakan pada-Nya, doa ini yang paling tulus, yang paling sering kuulang, yang terus menerus aku harapkan. Doa yang membuatku terhubung kepada Allah paling kuat. 

Mungkin ketulusan itu yang Allah sukai, mungkin ada pahala yang besar dari doaku itu, sehingga Allah menunda hingga bertahun-tahun agar pahala atas doa ini terus mengalir dan terus ada..

Sehebat inikah kekuatan doa yang tulus ya Allah? Apakah agar aku memiliki amalan unggulan di akhirat kelak? Jika memang iya, aku rela berlama-lama menunggu anak asalkan berdoa kepada-Mu bisa terus sesyahdu ini.. 🥺

Mungkin, jika anak itu saat ini Kau beri, aku belum akan mampu ya untuk berdoa setulus ini..? :')

Kuserahkan (lagi) pada-Mu ya Allah, jika memang saat ini berdua lebih baik bagi kami, ilhamkan kepada kami untuk senantiasa berdoa kepada-Mu. 🤲

Terima kasih yaa Allah yaa Rahiim, dari proses penantian ini aku memahami dan meyakini bahwa berdoa kepada-Mu memang tidak pernah sekalipun mengecewakanku.. 🥺😭💗

***

Mungkin perkara menanti ini juga relate dengan banyak orang. Ada yang juga sedang menanti anak, menanti jodoh, menanti pekerjaan, menanti apapun yang sampai rasanya setulus dan se-desperate itu kita meminta.

Bagaimana jika doa-doa tulus itu yang menjadi pemberat amal sholeh kita kelak? Bagaimana jika Allah memberi 'upah' besar di hari akhir nanti, atas khusyuknya kita saat berdoa? Jangan-jangan, menunda sebenarnya adalah tanda Allah sayang, sebab Allah tahu bahwa kita belum mampu untuk khusyuk dalam ibadah atau doa yang lain.

Inilah indahnya berbaik sangka kepada Allah. Penundaan yang awalnya membuat kecewa, perlahan berganti menjadi rasa syukur. Dan hati jadi lebih lapang untuk menerima bahwa takdir terbaik adalah apa yang dihadirkan-Nya saat ini💗

Rumah untuk Jiwaku

Ramadhan udah lewat sebulan, bahkan Syawal aja udah lewat, tapi rasanya masih ngeganjel kalau nggak nulis #refleksiramadhan tahun ini. Buat aku baca lagi nanti-nanti.

Sebelum Ramadhan datang, hati gelisah nggak karuan, ada rasa hampa yang nggak bisa dijelaskan walau berusaha kutepis dengan banyaknya ibadah. Saking frustrasinya, aku memulai malam Ramadhan dengan tangis, mengaku pada Allah bahwa ada yang salah dengan diri, memohon maaf-Nya, dan meminta pada-Nya satu hal: Ya Allah, tunjukkan jalan pulang untuk jiwaku.. 🥺🤲

Maha Baik Allah, Ramadhan selalu hadir membawa pendidikan bagi setiap hamba, tak terkecuali untukku. Sesuai doaku, dari Ramadhan kemarin, Allah seperti mengajakku untuk memaknai kembali makna pulang. Tangis yang awalnya tangis frustasi, perlahan berubah menjadi tangis penyesalan, lalu berubah lagi menjadi tangis syukur, sebab Allah benar-benar menuntun untuk menemukan jawaban dari apa yang aku minta.

Namun dalam perjalanan menemukan jawaban itu, aku bertemu banyak kenyataan pahit. Butuh keberanian untuk mengakuinya, dan butuh keberanian yang lebih besar untuk mau memulai memperbaikinya.

Ternyata, ada banyak salah yang belum benar-benar aku taubati.
Ternyata, aku masih saja bergantung pada diri.
Ternyata, aku belum sepenuhnya jujur mengakui kelemahan dan kehinaan diri di hadapan-Nya.
Ternyata, aku belum seingin itu untuk meraih ridho-Nya.

Hebat sekali ya, racun hati bernama kesombongan itu, datangnya halus sekali sampai-sampai tak sadar bahwa diri telah tergerogoti. 😭

Alhamdulillah, hadirnya Ramadhan menyadarkanku dari apa yang luput. Ternyata, Allah tidak pernah kemana-mana. Aku yang selama ini tanpa sadar menjauh.

Perlahan, kuketuk lagi pintu rumah itu.
Rumah untuk jiwaku.
Tempat dimana aku kembali bertemu dengan diriku sendiri.
Tempat dimana aku merasa terhubung dengan-Nya.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, tangis itu akhirnya pecah. Tangisan syukur. Tergugu di atas sajadah, aku berbisik dalam hati, "Allah.. Aku pulang.."

Lega.. 🥺😭

Pelajaran terbaik Ramadhan tahun ini: pulangkan jiwamu pada Allah, sebelum Allah benar-benar memanggilmu 'pulang'..

Selasa, 03 Januari 2023

Mengisi Hidup

Dalam sebuah sesi perkenalan, masing-masing orang diminta menjawab satu pertanyaan, "Jika hidupmu ibarat sebuah buku, bab untuk episode hidupmu saat ini akan kau beri judul apa?"

Cukup lama aku memikirkan jawabannya sampai akhirnya kujawab: Mengisi Hidup.

Entah bagaimana, setahun terakhir adalah tahun yang penuh dengan nasihat kematian. Membuatku semakin sadar bahwa hidup punya durasi, dan kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir, lama ataukah sebentar lagi?

Maka usaha terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah bagaimana mengisi waktu-waktu yang tersisa.

Tidak perlu terlalu memikirkan peran yang belum ada, kita hanya perlu fokus pada peran yang sudah Allah beri, baik yang kita minta ataupun tidak kita minta.

Sebab kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas peran yang sudah atau sedang melekat, bukan atas peran yang belum diberikan-Nya atau peran yang sedang/masih kita impikan.

Tidak mudah, tentu saja. Masih sering kalah oleh ego. Masih sengit bertarung dengan hawa nafsu. Masih sering abai pada kebutuhan jiwa. Masih jauh dari sebutan hamba profesional yang menjadikan Allah sebagai prioritas utama.

Namun, dengan segala badai yang terjadi di dalam maupun di luar diri, akan kupastikan diriku bertahan dan berupaya untuk terus berjalan. Menjalani amanah, menghadapi ujian, sampai tugas hidupku selesai dan Allah panggil pulang.

Semoga di episode hidup saat ini dan seterusnya, bisa terus berupaya mengisi hidup dengan amal-amal terbaik.

Senin, 26 Desember 2022

Kebaikan yang Menumbuhkan Cinta

 *dikutip dari Monday Love Letter #181, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Bagaimana hari Seninmu? Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahi kehidupanmu ya, sisterkuu <3

Hari ini (21 November 2022) saya senang sekali karena baru saja berkumpul kembali dengan tim Sister of Deen Project setelah berbulan-bulan kami hanya bertemu lewat layar. Selain melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, membicarakan program Sister of Deen tentu tidak luput dari obrolan. Tunggu saja ya, insya Allah di tahun 2023 nanti akan ada program baru yang akan kami launching. Mohon doanya sister, semoga Allah mudahkan proyek-proyek kebaikan ini.

By the way, boleh cerita nggak sister, apa saja sih kesan yang kamu rasakan saat menerima surat-surat Monday Love Letter dan menikmati berbagai konten Sister of Deen di media sosial? Kalau mau mengalirkan rasa dan menyampaikan pesan-pesan kepada kami, boleh reply surat ini ya sister ;)

Bicara tentang proyek kebaikan, saya jadi terpikir bahwa karakter dan pemikiran kita hari ini, bisa jadi terbentuk oleh berbagai macam proyek kebaikan yang orang lain lakukan. Bayangkan jika orangtua kita tidak mendidik apapun kepada kita, mungkin hari ini kita akan jadi anak yang tidak tahu aturan. Bayangkan jika tidak ada yang berinisiatif membangun sekolah, mungkin hari ini dunia akan dipenuhi banyak orang bodoh. Bayangkan jika para ustadz tidak merencanakan untuk menggelar ceramah, mungkin kita akan jadi manusia yang tidak beragama. Lebih jauhnya lagi, bayangkan jika dulu Rasulullah SAW tidak merancang program-program dakwah, mungkin pesan-pesan Islam itu tidak akan pernah sampai kepada kita. 

Lewat tangan-tangan orang lain, Allah menitipkan pendidikan-Nya kepada kita sehingga kita bisa mengerti bagaimana hidup ini harus dijalani. Lewat gerak kebaikan yang orang lain lakukan, kita akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya disayang oleh Allah.

Saya jadi teringat obrolan dengan salah seorang sahabat saya, "Na, aku ingin bisa terus menjadi perantara kasih sayang Allah dengan cara menyayangi orang-orang terdekatku. Karena kebaikan yang kulakukan pada hakikatnya adalah bentuk Allah mencintai mereka. Aku ingin menjadi perantara cintanya Allah untuk orang lain sehingga mereka sadar bahwa sebetulnya mereka dicintai oleh Allah."

Hmm, iya juga ya. Kalau dipikir lagi, Allah itu bisa "hadir" dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang orang lain lakukan kepada kita. Saat kita bisa merasakan cinta dari orang lain, saat itu pula sebetulnya Allah sedang menunjukkan cinta-Nya kepada kita. Bahwa Dia menjaga, mengerti kita, dan selalu memenuhi kebutuhan kita, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Inilah mengapa bagi banyak orang, meneruskan kebaikan adalah hal yang membuat nagih. Saya pribadi, jika menerima kebaikan yang tidak disangka-sangka dari orang lain, hati saya langsung  terasa hangat, bahagia, dan ada rasa syukur yang otomatis muncul karena merasa bahwa Allah begitu baik. Tentu kamu juga pernah kan, mendapat kebaikan atau pertolongan dari orang lain, lalu berterima kasihnya kepada Allah?

Maka, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pernah lelah mengupayakan kebaikan. Jangan pernah berhenti menjalankan proyek-proyek kebaikan. Apapun itu, teruslah sibuk untuk menampilkan akhlak yang baik kepada orang lain, teruslah sibuk melakukan gerak-gerak amal shalih. Sebab, kita tidak pernah tahu, dari amal kebaikan kita yang mana, yang itu menjadi jalan bagi orang lain menyadari kasih sayang Tuhannya.

Semoga kita semua bisa menjadi perantara kasih sayang Allah untuk banyak orang. Begitu pula dengan Sister of Deen Project ini, semoga bisa menjadi jalan agar banyak perempuan dapat merasakan bahwa cinta Allah padanya, amatlah besar.

Barakallahu fiik, sister!


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 07 November 2022

Di Detik yang Terakhir

 *dikutip dari Monday Love Letter #178, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Saat sedang memulai menulis surat ini, sejujurnya saya sedang tidak ingin menulis. Otak saya masih berusaha mencerna untuk menemukan pesan apa yang sebetulnya ingin Allah sampaikan atas banyak hal yang terjadi sepekan ke belakang. Awal pekan lalu, dalam berbagai refleksi diri di waktu-waktu menjelang akhir tahun 2022 ini, saya menyadari satu hal bahwa di tahun ini Allah banyak mengingatkan saya perihal kematian. Ada banyak berita kematian selama setahun ini dari mulai sahabat, keluarga, sampai orang yang tidak saya kenal namun ada kesan baik atas kematiannya.

Dan dalam satu pekan ke belakang, pendidikan yang sedang Allah berikan untuk saya, mungkin tema besarnya adalah kematian. Di hari Selasa lalu, takdir membawa saya pada sebuah pelatihan pemuliaan jenazah, yang mana saya tidak menjadwalkan untuk berada di forum tersebut, tetapi skenario Allah seakan menggiring untuk saya berada di sana. Selain untuk menjadi supir yang mengantarkan pemateri, saya juga ditunjuk untuk menjadi operator yang mengoperasikan laptop. Saya dengarkan materinya dan saya saksikan proses demi proses simulasi pemuliaan jenazah (yang diperagakan oleh manekin) dari mulai mentalkinkan, memandikan, mengafani, hingga menyolatkan. Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu, sister? Baru saja seluruh materi selesai disampaikan, muncul notifikasi di HP saya yang memberitakan bahwa uwa saya atau kakak ipar dari ibu saya, meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.. Ya Allah, baru aja membicarakan kematian, langsung dapat berita kematian.

Tidak sampai di situ, di hari Sabtu malam, ibu dari sahabat saya juga berpulang ke rahmatullah. Saat saya takziyah ke rumah duka, jenazahnya sedang dimandikan oleh keluarga. Dan saat sudah masuk proses mengkafani, saya dipersilakan masuk ke dalam rumah untuk menyaksikan. Perasaan saya campur aduk ketika itu. Baru Selasa lalu saya menyaksikan manekin dikafani, malam itu saya melihat langsung jenazah yang sedang dikafankan. Ya Allah, betapa kematian itu begitu dekat.. :''''

Dan berita-berita internasional yang viral memberitakan kematian massal di berbagai belahan dunia, yang mungkin kamu juga mengetahuinya. Kita semua seakan sedang diberi pesan yang sama oleh Allah untuk kembali menyadari dan memahami kembali makna innalillahi wa inna ilaihi rajiu'un. Bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka kematian adalah hal yang pasti datang kepada setiap yang bernyawa.

"Teh, dulu aku denger berita kematian tuh jauh, tapi semakin ke sini, berita kematian datang dari orang-orang yang dekat.." ucap salah seorang sahabat saya saat kemarin kami sedang bertakziyah. Saya sangat amat setuju dengan pernyataannya. Bahkan, kalimat serupa juga disampaikan oleh pemateri yang beberapa hari lalu mengisi pelatihan pemuliaan jenazah. Semakin bertambah usia, berita kematian semakin sering kita dengar. Dari orang-orang dekat, dari keluarga sendiri, dan pasti akan tiba saatnya suatu hari kita juga akan meninggalkan dunia ini.

Bagaimana tidak overthinking? Berita kematian selalu memberi pesan terbaik sekaligus tamparan keras bagi kita (terutama saya) yang masih sering terlena dengan kesenangan dunia. Seiring dengan banyaknya dan seringnya kita mendengar berita kematian, rasanya keterlaluan ya kalau kita masih saja bermalas-malasan untuk beramal sholeh? Jika sudah banyak orang-orang di sekitar kita yang sudah lebih dulu menghadap kepada-Nya, bukankah bisa jadi giliran kita akan tiba sebentar lagi? Maka apa yang sudah kita siapkan untuk menyambut kematian terbaik?

Di satu sisi, saya takut dan amat khawatir. Rasanya, mau berapa kalipun berkaca, amal sebanyak apapun yang diri ini lakukan sepertinya tidak akan pernah cukup untuk bisa membeli surga. Tapi Allah tentu tidak menghendaki kita untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Di sisi lain, saya merasa cukup lega dan bersyukur saat mendengar bahwa orang-orang yang saya kenal yang berpulang di tahun ini, mereka meninggal dalam keadaan yang baik.

Mertua dari sahabat saya, meninggal dalam keadaan sedang mengisi ceramah subuh di bulan Ramadhan lalu. Sahabat saya sewaktu kuliah, meninggal dalam keadaan sakit kanker, namun masyaallah, Allah memanggilnya bukan sedang dalam kondisi kritis. Melainkan dalam keadaan tidur, setelah sebelumnya telah menunaikan shalat tahajud terlebih dahulu. Ibu dari sahabat saya, alhamdulillah sempat mengucap laa ilaha illallah saat sedang ditalkinkan. Semoga mereka semua husnul khatimah dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah. Aamiin.

Lalu ada pula berita yang sempat ramai menghiasi social media saya di tahun ini, yaitu meninggalnya salah seorang ustadzah saat sedang memimpin pengajian. Dan juga meninggalnya salah seorang mualaf mantan pastur, yang ternyata kondisi mayatnya saat dimandikan bersih tanpa kotoran, jenazahnya wangi, banyak sekali yang menyolatkan, banyak sekali yang mendoakan.

Saya iriiii sekali pada orang-orang yang 'dijemput' oleh Allah dalam keadaan yang baik, keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan membawa segunung 'prestasi' yang membanggakan di hadapan Allah. Berita-berita seperti itu, seperti menumbuhkan harapan untuk saya bahwa husnul khatimah is actually reachable. Selama kita mencita-citakan itu, tulus minta sama Allah dan senantiasa mengupayakannya, insyaallah Allah akan mengabulkannya.


Sejalan dengan sebuah hadits yang pernah saya baca, "Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus (benar), niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." -HR Muslim.

Dan itulah yang saya lakukan. Diam-diam, walau sambil menahan malu kepada Allah karena diri ini masih banyak memiliki kehinaan, saya selalu berharap agar kelak saat saya dipanggil pulang oleh-Nya, saya bisa 'dijemput' dalam keadaan yang baik, dalam keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan sedang beribadah dan berjuang untuk-Nya. Aamiin.. :")

Semoga saya dan kamu yang membaca surat ini, diberi hadiah terbaik dari Allah di detik-detik terakhir waktu kita di dunia, yakni kematian yang husnul khatimah dan digolongkan bersama orang-orang yang mati syahid. Aamiin yaa Rabbal 'Alamiin..

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Maukah Kita Bersabar Sedikit Lagi?

 *dikutip dari Monday Love Letter #171, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah senang sekali akhirnya bisa kembali menyapamu setelah sekitar 1 bulan mungkin ya emailmu sepi dari Monday Love Letter. Hehe. Kabarmu baik-baik saja, sister? Dalam keadaan apapun dirimu saat ini, semoga selalu dalam perlindungan dan penjagaan terbaik-Nya, ya. Aamiin.

Saya akhir-akhir ini berpikir bahwa setiap manusia yang hidup tentu tidak mungkin lepas dari ujian dari-Nya. Setiap kita pasti memiliki ujian, masalah, hambatan, tantangan atau apapun itu kamu menyebutnya. Pasti ada aja gitu kan hal-hal atau peristiwa yang bikin kita kelabakan atau bikin hati nggak nyaman, yang tentunya semua itu tidak lepas dari ketetapan yang sudah diskenariokan oleh Allah untuk kita.

Di dalam Quran, Allah berfirman, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," -QS. Al-Baqarah (2) :155

So, kita sebetulnya tidak akan mungkin menghindari hal-hal yang barangkali membuat kita takut dan serba kekurangan karena ujian adalah sebuah keniscayaan yang pasti Allah hadirkan. Akan tetapi, di akhir ayat itu Allah juga memberi petunjuk bahwa kunci untuk menghadapi semua kesulitan itu adalah dengan bersabar.

Di surat yang lain Allah menambahkan, "Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." QS. Az-Zumar (39): 10

Lihatlah, betapa istimewanya sebuah kata kerja bernama sabar. Tentu sabar disini bukan berarti diam berpasrah dan tidak melakukan apa-apa. Sabar yang sebenernya justru adalah sikap tangguh dan pantang menyerah untuk terus memproseskan diri di jalan-Nya. Sabar yang insya Allah akan membuat kita mendulang pahala yang besar dan menjadi kunci surga untuk kita.

Eits, tapi nih tapiii sabar itu kan nggak mudah, sist! Hehe, mungkin itu yang terbersit di pikiranmu. Pada kenyataannya, bersabar memang tak semudah mengatakannya. Saya juga masih sering remedial kok perkara sabar ini. Ada momen-momen tertentu yang mungkin membuat kita terasa seperti berjalan di lorong gelap yang cahaya di ujungnya belum juga terlihat. Tentu rasanya sangat frustrasi karena titik terang itu belum juga muncul sedangkan diri sudah mulai lelah untuk berjalan dan bertahan. Di saat seperti ini, kepada siapa lagi kita menggantungkan harap jika bukan kepada Allah?

Sisterku, ingat kembali bahwa janji Allah itu pasti. Selama kita mau terus berupaya dan bersabar menjalani proses, selama kita mau terus menjaga dan menahan diri untuk tidak berbalik ke belakang, selama itu pula Allah sebetulnya sedang menyiapkan pahala dan ganjaran yang besar untuk kita.

Seandainya kita diperlihatkan oleh Allah bahwa kesabaran kita hari ini yang ternyata akan membawa kita kepada surga-Nya, akankah kita menyerah? Tentu tidak kan? Kita justru akan semakin semangat untuk berjuang karena tahu bahwa semua keperihan ini akan berakhir indah.

Hanya saja, yang namanya reward tentu tidak akan ditaruh di depan. Yang namanya reward, pasti diberikannya belakangan. Maka kita perlu memupuk keyakinan kepada Allah bahwa segala jerih payah di jalan-Nya dan demi mendapatkan ridho-Nya, pasti akan ada reward-nya. Maukah kita bersabar sedikit lagi?

Ada sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang bagi saya sangat menarik, mungkin kamu pernah mendengar juga hadits ini. Rasulullah SAW bersabda: Tidak seorang pun yang  masuk surga lalu ingin kembali ke dunia walaupun bagaimana besar kekayaannya di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia mengharapkan kembali ke dunia hingga dibunuh kembali sepuluh kali dalam (perang sabilillah). Karena kemuliaan yang dilihatnya (yang diberikan kepadanya). Dalam riwayat lain: Karena melihat keutamaan mati syahid. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ternyata, para syuhada yang wafat di medan perang, justru malah ingin kembali ke dunia dan terbunuh lagi, dikarenakan saking nikmat dan indahnya jamuan yang diberikan Allah di surga-Nya. Terbayang nggak sih oleh kita, kembali ke dunia dan terbunuh lagi itu berarti tertusuk pedang sekali lagi, tertombak anak panah sekali lagi, tertebas bagian tubuhnya sekali lagi, dan sakaratul maut sekali lagi. Tapi mereka bersedia untuk melaluinya lagi. Artinya, segala perih di dunia tidak ada apa-apanya dibanding nikmat yang sudah Allah siapkan di surga-Nya.

Maka dari itu, sister. Jika kita yakin pada janji Allah, stok sabar kita pasti tidak akan ada batasnya. Sabarlah dalam berjuang di jalan-Nya, sabarlah untuk mengejar ridho-Nya, sabarlah untuk tidak menyerah dan berbalik ke belakang, sabarlah menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya. Sabarlah, tidak lama, hanya selama di dunia-- untuk kemudian menikmati reward tanpa batas dari-Nya di akhirat.

 

Yang juga sedang belajar sabar,
Your sister of Deen,

Husna Hanifah

Selasa, 01 Maret 2022

Hamba yang Berpura-pura

*dikutip dari Monday Love Letter #154, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Hari ini tanggal merah ya? Bertepatan dengan peristiwa Isra Mi'raj yang terjadi di tanggal 27 Rajab. Tidak terasa bulan Rajab sudah mau habis dan Ramadhan sudah semakin dekat. Sekitar 33 hari lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan, insya Allah. Semoga Allah masih memberi usia untuk kita bertemu dengan Ramadhan ya, sister. Yuk aamiin bareng-bareng! Aamiin.. :')

Bicara tentang Isra Mi'raj, dulu saya melihat peristiwa Isra Mi'raj hanya dari kacamata sejarah, sebagai sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu, sebagai salah satu mukjizat besar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW. That's it.

Lambat laun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, pemaknaan saya terhadap peristiwa Isra Mi'raj juga semakin bertambah. Salah satunya adalah tentang perintah shalat yang sering disebut orang sebagai "oleh-oleh" dari perjalanan beliau SAW yang ternyata turunnya perintah shalat justru bukanlah beban, melainkan sebuah kabar gembira bagi umat mu'minin saat itu karena mereka bisa terhubung langsung dan berdoa kepada Allah dalam shalatnya tanpa sekat. Maasyaa Allah, semoga shalat juga bisa semenggembirakan itu ya untuk kita, sister.

Tapi, saya juga baru saja mendapat sebuah pemaknaan baru dari peristiwa Isra Mi'raj ini yang berhasil membuat diri saya merasa malu di hadapan Allah sekaligus menaruh harap dan niat agar diri ini mau dan siap untuk terus berupaya dalam sebuah perjalanan panjang menjadi seorang hamba Allah yang sebenar-benarnya. Izinkan saya bagikan untukmu juga ya, sisterku.. :)

***

"Subhaanalladzii asraa bi'abdihi.. Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya." Dalam sebuah forum kajian, QS. Al-Israa ayat pertama dibacakan.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan, "Ayat ini turun di tahun ke-10 atau 11 kenabian. Saat di mana Rasulullah sudah mengalami banyak hal dalam perjalanan kerasulannya; dicaci, dimaki, disebut majnun (gila), disakiti, bahkan menjadi buronan karena hendak dibunuh. Setelah Rasulullah mengalami semua itu, Allah panggil beliau dengan sebutan 'abdihi, hamba-Ku. Yuk, hamba-Ku, aku perjalankan engkau."

Saya masih terkesima dengan cerita perjuangan Rasulullah SAW sampai beliau (pemateri) melanjutkan, "Kita selama ini ngaku kalau diri kita hamba Allah, tapi sudah sejauh mana pengorbanan yang kita berikan untuk Allah sementara Rasulullah dipanggil Allah dengan sebutan hamba saat sudah mengalami semua itu? Rasanya kok malu ya ngaku-ngaku kalau kita ini hamba Allah," ujar beliau sambil tersenyum dan menatap kami. Badan saya langsung merinding ketika mendengarnya.

Saya tidak akan lupa kalimat demi kalimat itu. Lebih tepatnya, tidak ingin melupakan nasihat itu, sehingga saya tulis di sini. Ternyata, ada sebuah pesan penting yang barangkali ingin Allah sampaikan hanya dari satu kalimat "subhaanalladzii asraa bi'abdihi.." supaya kita melakukan evaluasi besar-besaran tentang bagaimana kinerja kita selama ini dalam menghamba kepada-Nya. Wallahu 'alam.

Saat ayat ini dimaknai untuk menjadi muhasabah diri, bagi saya, rasanya JLEBB banget dan pengen nangiss. Huhu. Malu banget nggak sih, menyebut diri kita ini hamba Allah tapi apakah dalam keseharian kita benar-benar menghamba kepada Allah??

Predikat 'hamba Allah' ini tentu bukan hanya sematan yang diberikan Allah untuk manusia. Bukan sekedar status yang jika kita ditanya 'kita ini siapanya Allah?' lalu otomatis dijawab 'hamba-Nya Allah', kemudian selesai. Tapi dengan disematkannya status 'hamba' ini, ada sebuah tanggungjawab yang juga mengiringi status tersebut, yakni untuk hidup dan bersikap selayaknya seorang hamba.

Apakah pantas disebut hamba jika kita masih pilih-pilih dalam menaati aturan-Nya? Apakah pantas disebut hamba jika masih berat dalam mengorbankan harta, jiwa, waktu, tenaga dan pikiran untuk melaksanakan apa-apa yang diinginkan dan disukai-Nya? Apakah pantas disebut hamba jika tak juga menjauhi dan melepaskan diri dari aktivitas yang tidak disukai-Nya? Karena semestinya seorang hamba adalah ia yang siap diatur oleh Tuhannya dan siap mengorbankan apapun untuk menjalankan tugas dari Tuhannya. Sudahkah kita benar-benar menjadi seorang hambanya Allah?

Jika saya harus menjawab pertanyaan yang terakhir itu, tentu saya akan berpikir berkali-kali untuk mengatakan 'sudah'. Dalam prakteknya, mungkin saya belum benar-benar bisa dikatakan hamba Allah. Namun, adakah status yang pantas disematkan kepada kita selain hamba Allah sementara yang mencipta dan memelihara hidup dan kehidupan kita adalah Allah?

Pada akhirnya, kita sebenarnya tidak akan bisa lepas dari status kita sebagai hamba Allah. Sebab Allah adalah satu-satunya yang menciptakan kita dan berkuasa penuh atas diri kita, maka sudah selayaknya kita tunduk dan berkorban penuh untuk-Nya.

***

Ternyata, memantaskan diri sebagai seorang hamba adalah perjalanan yang harus kita lakukan sepanjang hidup kita ya, sister. Karena itu, kesadaran akan status ini harus terus dijaga agar setiap aktivitas kita tidak melenceng dari tugas kehambaan kita kepada Allah. Sulit, iya. Berat, pasti. Tapi harus terus diupayakan.

Lalu bagaimana sebaik-baiknya cara menjadi seorang hamba? Rasulullah SAW adalah contoh terbaik. :)

Bismillah, yuk kita sama-sama terus berupaya memantaskan diri untuk menjadi sebaik-baik hamba-Nya. Barakallahu fiik, sister.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Selasa, 31 Agustus 2021

Enjoy Your Every Growth

Ada kalanya, aku yang ritme hidupnya cenderung slow-but-sure ini, tiba-tiba ingin lari dan ingin buru-buru sampai. I think I should do better, I think I can do more, I need to accelerate myself. Pikiran-pikiran semacam itu biasanya muncul dalam beberapa bulan sekali. Tidak salah sih, tapi ternyata ketergesa-gesaan itu yang justru bikin aku kewalahan sendiri.

Ada kalanya aku silau dengan panggung orang lain, merasa bahwa jika orang lain sudah sampai di titik tertentu, aku juga harus segera sampai di titik itu. Padahal aku juga punya perjalananku sendiri dan hanya perlu menjalani semuanya seoptimal yang aku bisa. 

Enjoy every step, e-v-e-r-y step. Nanti lama-lama juga kamu akan sampai. Kamu hanya perlu melakukan apa yang kamu bisa, melakukan hal-hal baik yang membawa manfaat, menyambut peluang-peluang amal shalih yang Allah hadirkan. Nanti juga kamu akan jadi besar dan sampai di garish finish-mu sendiri.

Betul, fokus ke depan memang perlu. Tapi coba berhenti sejenak dan lihat sudah berapa banyak anak tangga yang berhasil kau tapaki di bawah sana. Sudahkah mensyukuri pencapaianmu hari ini?

Terkadang, saking inginnya mengejar sesuatu, kita jadi lupa untuk mensyukuri satu demi satu anak tangga yang sudah kita lalui. Lupa menikmati dan menghargai setiap proses dari tumbuhnya diri.

Tugasmu hanyalah terus dan terus tumbuh. Menguatkan akar, mengokohkan batang, meninggikan cabang, merimbunkan ranting, menghasilkan buah. Sampai bagaimana? Tidak ada batasnya. Bertumbuh tidak ada batasnya, bukan?

Tidak ada pohon yang akan berhenti tumbuh selama dia masih hidup. Dan tidak ada indikator kapan sebuah pohon dikatakan telah mencapai batas optimalnya.

Apakah jika tingginya sudah puluhan meter? Atau jika lebarnya sudah belasan meter? Atau jika sudah menghasilkan buah sekian ratus ribu? Tidak, kan? Selama dia hidup, dia akan terus tumbuh. Tanpa batas.

Sampai penciptanya sendiri yang memutuskan batasnya, yaitu ketika pohon itu akhirnya mati. Barulah ia berhenti tumbuh.

Maka, bertumbuh bukanlah tentang seberapa tinggi kamu meraih langitmu, melainkan tentang tetap bertumbuhnya dirimu inci demi inci, sampai Allah sendiri yang kelak memutuskan kapan kamu harus berhenti.

So, just keep growing and enjoy your every growth.

Senin, 30 Agustus 2021

Menyalakan Kembali Pijar Hati

 *dikutip dari Monday Love Letter #136, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, masih dalam nuansa pergantian tahun hijriyah, semoga api semangat dalam diri kita terus berkobar untuk terus berupaya menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi. Bertepatan juga dengan bulan Agustus yang identik dengan kemerdekaan, semoga kita bisa menjadi hamba yang merdeka, yang terbebas dari segala hal yang berpotensi menghambat penghambaan kita kepada-Nya. Sebab, hanya di dalam kepengaturan-Nya-lah kita bisa meraih kemerdekaan sejati, yakni merdeka dalam beribadah hanya kepada-Nya.

Apa kabarmu, sister? Bagaimana kabar keimananmu? Bagaimana hubunganmu dengan Allah saat ini, apakah sedang sangat dekat atau justru sedang merenggang? Bagaimana kualitas shalatmu dan ibadahmu yang lain, apakah tetap mampu mempertahankan kekhusyukan atau hanya sekedar menjalankan rutinitas dan menggugurkan kewajiban semata?

Makin hari, rasanya makin berat saja ya untuk bertahan dalam menampilkan performa terbaik sebagai seorang hamba. Kita pernah berada dalam masa dimana pintu masjid terbuka lebar untuk siapapun dan sebanyak apapun orang. Kita pernah berada dalam masa dimana kajian digelar dimana-mana, dari mulai di masjid besar sampai di rumah guru-guru kita. Support system dalam menjaga iman tersebar dimana-mana, mudah sekali menemukan tempat "isi ulang" untuk jiwa-jiwa kita yang rapuh dan hampa. Beruntunglah jika kamu masih bisa menjaga iman dalam situasi seperti ini.

Saya pernah berada pada masa dimana jiwa terasa begitu kosong. Berminggu-minggu terlewati dengan perasaan gelisah. Aktivitas dilakukan dengan perasaan hampa. Berusaha menghibur diri dengan pergi ke alam, menonton ceramah atau video motivasi, bersilaturahim dengan teman, terkadang curhat juga, namun tetap saja, kosong. Seperti ada lubang besar di dalam hati dan saya tidak tahu lagi harus mengisinya dengan apa.

Lama kelamaan, ibadah mulai kehilangan maknanya. Dijalankan hanya sebatas rutinitas saja. Beberapa amalan rutin harian ditinggalkan, tergantikan oleh aktivitas lain yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Ah, biar sajalah buang-buang waktu seperti ini, pikirku saat itu. Sedih sekali jika saya ingat kembali masa itu. Saat saya seharusnya sedang merasa paling butuh dengan Allah, malah dengan sengaja menjauh dan mengabaikan-Nya. Sebuah kesalahan dan kebodohan yang nyata dari seorang hamba yang tidak tahu diri.

Setelah sekian lama, akhirnya saya merasa lelah. Lelah berlari dari-Nya. Lelah karena terus-menerus menolak fitrah jiwa yang terus memberi sinyal bahwa jalan yang saya tempuh sudah salah dan melenceng dari jalur. Ada rasa gelisah dan rasa bersalah yang tidak bisa saya hindari sehingga membuat saya akhirnya berhenti dan berbalik arah, mencoba menemukan kembali arah jalan "pulang".

Ternyata, proses kembali tersebut tidak semulus yang saya bayangkan. Saat saya mulai kembali membaca al-Quran dengan harapan diri ini dapat kembali tercahayai, ternyata hati saya tetap hampa. Saat saya berusaha khusyuk dalam shalat, saya sulit sekali merasa terhubung dengan-Nya, sekuat apapun saya berusaha fokus. Saat saya bersilaturahim atau menghadiri kajian untuk berusaha "mengisi ulang" jiwa, tetap saja tidak mampu mengisi bejana jiwa saya yang kosong. Ya Allah, kenapa? Ada apa ini? Kondisi ini lebih membuat saya gelisah, seakan sedang tersesat dan tidak juga bertemu jalan pulang. Saya seperti sedang kehilangan diri sendiri.

Berhari-hari saya menghadapi kebingungan itu. Hingga suatu hari seorang sahabat menyampaikan sebuah perenungan tentang suatu hikmah yang didapatkannya dari suatu kajian dan sampai menangis saat menyampaikannya. Saat itulah saya betul-betul sadar bahwa ada yang salah dengan hati saya. Di saat seperti itu, biasanya saya akan ikut menangis atau setidaknya terharu dan merasa hangat jika mendengar sebuah hikmah. Tapi ketika itu, rasanya kosong. Tidak ada yang bergetar sedikitpun di dalam hati saya. Dingin. Kaku.

"Hei hati, kamu kemana? Kamu kenapa?" Saya takut sekali saat itu, takut hati saya menjadi mati. Bagaimana bisa hati ini tidak bergetar saat ayat-ayat-Nya dibacakan? Ya Allah, saya ingin kembali!

Malam itu saya sulit tidur. Masih dengan harapan mendapatkan secercah cahaya untuk menembus jiwa, saya akhirnya berusaha tidur dengan sebelumnya berdoa terlebih dahulu. "Ya Allah, jika Engkau masih mau memberikan jalan untukku kembali, tolong bangunkan aku di waktu tahajud."

Ternyata, Allah mendengar doa saya. Tanpa alarm, saya bangun sendiri pukul 3 pagi, tidak lama setelah saya tertidur. Saya tangkap ini sebagai sinyal baik dari Allah sehingga saya bergegas ke kamar mandi dan berwudhu. Akhirnya, saya shalat tahajud lagi, setelah sekian lama.

Saya punya memori baik tentang shalat tahajud, waktu-waktu tahajud memang waktu-waktu paling syahdu dimana saya bisa berduaan dengan Allah, curhat dan berdoa sepuas-puasnya hingga menangis tersedu-sedu. Tapi malam itu berbeda. Saya tidak merasa betul-betul hadir dan tidak merasakan kehadiran Allah kekhusyuk apapun saya mencoba. Rakaat demi rakaat terlalui, dan hingga shalat itu selesai, saya tidak juga merasakan ketenangan yang saya rindukan itu. Frustrasi!

Akhirnya saya duduk di atas sajadah, beristighfar sebanyak-banyaknya. Saya teringat memori lama saat saya beristighfar setelah tahajud dan saya sesegukan setelahnya. Maka saya praktekkan kembali istighfar saat itu, berharap hati yang dingin ini dapat menghangat kembali. Tapi aneh! Istighfar dan dzikir-dzikir yang saya dawamkan saat itu, tidak juga membuat hati saya menghangat. Rasanya masih kaku, seperti ada sesuatu yang menghambat entah apa. Ya Allah, ini kenapa..

Setelah berdzikir, biasanya saya melanjutkan dengan doa. Tapi saat itu saya terdiam lama, tidak tahu harus berdoa apa. Jika dzikir-dzikir barusan tidak bisa membuatku terhubung dengan-Nya, bagaimana saya bisa berdoa dengan kondisi seperti ini? 

Perasaan hati saya sudah tidak karuan ketika itu. Saya hanya ingin kembali kepada-Nya, namun mengapa shalat dan dzikir saya tidak bisa menghantarkan diri saya kepada-Nya? Sampai-sampai saya tidak tahu harus berdoa apa untuk bisa "memanggil"-Nya. Bahkan saya tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan hati saya sendiri.

Di tengah kefrustrasian itu, karena saya tidak tahu harus dengan cara apa lagi agar bisa terhubung dengan-Nya, saya memanggil-Nya dengan suara yang sangat lirih, "Rabbi..." Di saat itulah, di saat saya berada dalam titik yang paling pasrah dan tidak tahu harus bagaimana lagi selain memanggil nama-Nya, air mata saya akhirnya keluar. 

"Rabbi.." saya memanggil-Nya lagi dan tiba-tiba saya merasa sedang dipeluk oleh-Nya. Saat mengucap kata Rabbi, saya teringat kembali ayat tentang setiap ruh yang sudah pernah berjanji dan mengikrarkan bahwa Allah adalah Rabb-nya. Maka air mata yang saat itu keluar, pastilah merupakan dorongan dari dalam ruh (jiwa) yang sudah sangat rindu untuk kembali pada fitrahnya menghamba. Ya Allah, ternyata Engkau masih mau menerima hamba-Mu yang sudah sombong ini! :''''(

"Rabbi.." air mata saya tidak berhenti mengalir, rasa bersyukur dan merasa bersalah melebur jadi satu. Rasanya lega sekali ketika saya akhirnya bertemu dengan jalan pulang dan "rumah" yang selama ini saya rindukan.

Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Setelahnya, doa-doa yang malam itu saya panjatkan terasa nikmaat sekali. Besar harapan saya, agar Allah tidak mencabut kembali kenikmatan ini. Semoga saya bisa terus menjaga rasa syukur ini dengan lebih berhati-hati dalam bertindak. Pasti ada banyak dosa yang sebelumnya saya abaikan. Ada banyak kelalaian yang tidak segera saya taubati sehingga menutupi cahaya yang Dia hadirkan. Bismillah, semoga Allah menuntun saya dan kita semua dalam mengerjakan perbaikan-perbaikan diri hingga bisa mencapai derajat paling mulia di hadapan-Nya, yakni derajat takwa.

Sister, jika akhir-akhir ini kamu sedang merasa lelah dan gelisah, pertemuanmu dengan suratku ini pasti bukanlah kebetulan. Bisa jadi ini adalah sinyal baik dari-Nya untukmu memanggil kembali hati dan jiwa yang mungkin pendar cahayanya sedang terhalang. Jangan menunda terlalu lama. Kembalilah segera, semoga kamu pun menemukan rumah bagi jiwamu dan mendapatkan ketenangan yang selama ini hatimu rindukan. Allah pasti akan menuntunmu menemukan jalan pulang.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah