Senin, 26 November 2018

Monday Love Letter #18 - Tentang Sabar

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, my sister of deen? Maafkan surat yang terlambat ini karena beririsan dengan pekerjaan lain. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan kita untuk bertegur sapa melalui surat ini dan saling melangitkan doa-doa baik. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayang-Nya untuk kita semua ya :)

Tak terasa sudah sampai di penghujung November dan kita hampir sampai di penghujung tahun. Bagaimana rasanya menghadapi sisa-sisa hari di tahun 2018? Mungkin banyak hal-hal kurang mengenakkan yang terjadi di hari-hari kemarin, mungkin banyak jejak-jejak jerih payah kita menghadapi kehidupan di bulan-bulan kemarin, tapi semoga di ujung perjuangan kita, kita menemukan akhir kisah yang bahagia.

Sepekan kemarin Allah banyak mendidik dan mengingatkan saya tentang kesabaran. Bahwa sabar itu bukan diam, tapi justru bergerak mengupayakan ikhtiar terbaik kita. Sabar itu bukan meratapi keadaan, melainkan aktif dan berusaha mencari jalan. Dan upaya untuk menuju-Nya, upaya untuk istiqomah di jalan-Nya, amat sangat membutuhkan kesabaran. Jika bisa disederhanakan menjadi satu kata, sabar itu berarti berjuang. Perjuangan yang tidak asal berjuang, tapi perjuangan yang ditujukan karena-Nya dan untuk-Nya.

Bukankah perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan mendaki lagi sukar? Bukankah untuk menjadi manusia yang layak di hadapan-Nya, kita harus melewati berlapis-lapis ujian? Maka perjuangan sejati adalah perjuangan menuju Allah untuk menjadi sebaik-baik hamba di hadapan-Nya. Menariknya, walaupun ini adalah perjalanan menuju Allah, kita tetaplah butuh pertolongan-Nya dan sabar menjadi salah satu prasyaratnya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." -QS. 2:153

Bicara tentang sabar, sangat erat kaitannya dengan iman. Bukankah mustahil sabar tanpa iman? Karena dalam sabar, ada keyakinan bahwa janji Allah adalah benar. Dalam sabar, ada keyakinan bahwa akhir perjuangan ini akan indah. Dalam sabar, ada keyakinan bahwa Allah akan menolong kita. Iman yang bisa membuat kita semangat berjuang, iman pula yang membuat kita bertahan dalam perjuangan. Ya, keimanan adalah bahan bakar bagi kesabaran kita.

Setiap orang memiliki medan juangnya masing-masing. Ada yang mungkin masih tertatih memperbaiki diri setelah taubatnya, ada yang sedang memperbaiki kualitas ibadahnya, ada yang mulai terjun mengambil peran untuk kebermanfaatan umat. Apapun medan juangmu, semoga menjadi jalan bertambahnya keimanan dan ketakwaan. Semoga Allah mengganti semua lelah kita dengan tiket menuju syurga.

Seperti salah satu firman-Nya, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar." -QS. 3:142

Selamat mengoptimalkan sabar! Jika lillah, insya Allah tidak terasa lelah :)

Senin, 19 November 2018

Monday Love Letter #17 - Karena Kita Sudah Dewasa


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabarmu sister? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh rasa syukur atas segala takdir yang Allah tetapkan untuk hidupmu. Aamiin. Sebelumnya, MLL kali ini akan lebih personal karena sebagiannya adalah curhat, hehe. Tapi semoga tetap ada hikmah yang bisa diambil ya. Here we go!

Dari Monday Love Letter #16 Senin lalu yang judulnya Memberi Apapun Yang Bisa Diberi, saya menerima sebuah balasan email yang berisi pertanyaan, "Kak, pernah nggak merasa hidup terasa begitu berantakan dan bingung mau mulai darimana merapikannya?" Sewaktu membacanya saya hanya tertawa dan rasanya ingin teriak, "Pernah banget! Itu aku banget!" Hahaha.. 

Jadi selama sebulan terakhir ini otak kayaknya overload banget, rungsing melulu. Sampai curhat sama partnerku dan minta time-out ngerjain Sister of Deen Project untuk "membereskan" kehidupanku. Udah nggak fokus banget soalnya! 

Akhirnya kami sepakat untuk take-time selama seminggu supaya fokus sama kehidupan masing-masing dan nggak bahas project ini dulu. Saya saat itu tentu saja merasa lega karena untuk sementara bisa melepas beban pikiran untuk project ini setidaknya selama seminggu. Esoknya, saya langsung merencanakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan selama seminggu ke depan dalam rangka "beberes" ini dan menyelesaikan PR-PR yang kebanyakan belum selesai karena saya menunda pengerjaannya (menunda itu emang musuh banget ya bagi produktivitas, grrr). 

Rencananya, selama seminggu itu saya ingin banyak di rumah saja, kan namanya juga me-time. Banyakin baca buku dan kontemplasi aja lah sama ngerjain kerjaan-kerjaan yang belum beres. Kecuali untuk jadwal-jadwal tertentu yang mengharuskan saya keluar rumah, tidak saya skip.

Tapiiiii Allah sepertinya memang punya cara sendiri untuk mendidik hamba-Nya ini. Bayangan saya untuk bisa sedikit santai di rumah kandas sudah karena yang terjadi justru malah kebalikannya. Adaaa saja kejadian dan agenda mendadak yang membuat saya harus keluar rumah, bahkan pulang malam. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk "beberes", saya tetap mengerjakan PR-PR saya sesuai dengan yang direncanakan walaupun konsekuensinya saya harus tidur lebih malam.

Terus begitu selama seminggu hingga rasanya ingin protes ke Allah, "Ya Allah, terus kalau begini terus kapan istirahatnya? Mau membereskan hidup kok malah dikasih sibuk sih?" Tapi lagi-lagi karena saya sudah berkomitmen pada diri sendiri, rasa lelah itu tetap saya telan dan saya tetap berusaha mengerjakan apa yang harus saya kerjakan.

Di sela-sela kontemplasi, saya membuat satu kesimpulan. Saya curiga, jangan-jangan pekerjaan saya sebenarnya memang sebanyak ini. Jangan-jangan yang Allah amanahkan kepada saya memang seberat ini. Masalahnya bukan terletak pada pekerjaannya yang banyak, melainkan pada diri saya sendiri yang tidak meluaskan penerimaan terhadap setiap amanah yang datang dari-Nya. Masalahnya ada pada diri saya sendiri yang malah meminta-Nya untuk mengurangi masalah saya padahal kadar masalah saya memang segitu kata Allah. Tidak bisa dikurangi karena memang jatahnya segitu! DEG.

Kalau flashback ke waktu kita kecil dulu, masalah kita sebesar apa sih? Paling cuma rebutan permen sama adik. Masuk sekolah, apa yang digalauin? Paling karena nilai jelek atau karena takut gak punya temen. Menjelang lulus kuliah, yang dipusingkan beda lagi. Apalagi kalau sudah menikah dan jadi orangtua, lebih kompleks lagi masalah yang dihadapi. See? Kita tidak akan mendapat masalah yang sama di setiap fase, dan kadarnya memang akan selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan berpikir kita.

Jadi jika masalah kita semakin banyak dan ujian yang kita hadapi semakin berat, wajar saja. Karena kita sudah dewasa! Ujian orang dewasa tentu berbeda dengan anak TK. Masalahnya orang dewasa tentu berbeda dengan anak SMA yang baru lulus kemarin sore. Masa mau minta masalah kita disamain lagi sama anak TK? #jlebjlebjleb

Duuh saya jadi malu sama Allah. Padahal Allah ingin meningkatkan kapasitas hidup saya dengan berbagai ujian, tapi bukannya dihadapi, malah minta dikurangi. Bukannya diterima, malah diratapi. Alhamdulillah, ternyata Allah masih sayang dan masih memberi kesempatan agar diri yang hina ini bisa berproses menjadi mulia. Kini, bukan lagi kemudahan yang diminta, tapi penerimaan atas setiap takdir-Nya, pundak yang kuat untuk mengemban amanah-amanah-Nya, serta keberanian dan keteguhan hati untuk tetap istiqomah mengupayakan apa-apa yang disukai-Nya dan segala yang mengundang ridho-Nya. 

Semoga hati kita semakin lapang menerima segala ketentuan-Nya, semoga seiring dengan bertambahnya beban dan tanggungjawab hidup kita, bertambah juga keimanan kita kepada-Nya dan bertambah sayang pula Allah kepada kita. Selamat menjadi orang dewasa! :)

Selasa, 13 November 2018

Mungkin Kita Hanya Lupa..


Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa segalanya terasa berat, kenapa masalah seolah tidak berhenti datang, kenapa rasanya lelah dan sulit sekali, kenapa jalan keluar tak kunjung terlihat, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita depresi dan frustasi..

Mungkin karena kita lupa.. 

Lupa ada Allah. Lupa bahwa Allah tidak mungkin membebankan sesuatu di luar kesanggupan kita. Lupa bahwa Dia yang menghadirkan masalah, maka Dia juga yang menggenggam solusinya. 

Karena jika kita ingat, mungkin kita akan menghabiskan waktu-waktu senggang kita untuk berdoa pada-Nya, mungkin kita akan membenamkan diri pada sujud-sujud terbaik di sepertiga malam; meminta petunjukNya, memohon kekuatan untuk menghadapi semuanya.

____

Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa apa yang dikejar tak juga didapatkan, kenapa setiap pencapaian tidak pernah memberi kepuasan, kenapa setiap mendapat sesuatu selalu saja merasa kurang, kenapa kebahagiaan itu terasa jauh, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita merasa "haus" atau "kosong"..

Mungkin karena kita lupa..

Lupa tujuan hidup. Lupa kita hidup untuk apa. Lupa bahwa kita ini hambanya Allah yang tugasnya ibadah. Lupa bahwa yang kita inginkan hanyalah ridha-Nya. 

Karena jika kita ingat, segala impian dan cita-cita akan ditujukan untuk-Nya, segala aktivitas penuh oleh perbuatan yang disukai-Nya, waktu dan energi kita tidak akan terbuang untuk tujuan dari selain-Nya, serta kebahagiaan kita tidak akan tersasar pada hal-hal yang semu.

____

Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa ibadah terasa hambar, kenapa berbuat baik terasa malas, kenapa maksiat tetap saja dijalankan, kenapa untuk berhijrah tak juga mau memulai, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita diam di tempat..

Mungkin karena kita lupa..

Lupa bahwa kita akan meninggalkan dunia ini dan kembali ke Allah. Lupa harus menyiapkan bekal pulang. Lupa bahwa segala yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya. 

Karena jika kita ingat, masih beranikah kita bermaksiat atau bermalas-malasan sementara giliran kematian kita mungkin tidak sampai sehari lagi? Bukankah kita akan merasa takut jika malaikat maut datang saat kita tidak sedang beribadah kepada-Nya? Bukankah kita akan mengoptimalkan waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan amal terbaik sebagai persembahan ketika kelak bertemu dengan-Nya?

____

Jadi, atas semua perkara kehidupan yang kita pertanyakan, barangkali jawabannya tidak rumit: 

Mungkin kita hanya sedang lupa.. 

Maka tak heran jika salah satu kriteria orang yang beruntung yang Allah sebut dalam QS. Al-Ashr adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena kita sering lupa, dan butuh teman untuk saling mengingatkan..

Senin, 12 November 2018

Monday Love Letter #16 - Memberi Apapun Yang Bisa Diberi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah yaa sekarang sudah musim hujan! Di Bandung terkadang sehari sampai 2 kali hujan. Jaga kesehatan ya, sister! Semoga harimu tetap produktif dan bahagia :D

Hujan tuh kadang bikin nostalgia. Siang tadi, saya teringat pada satu kejadian bersama ayah saya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu kami sedang berada di rumah lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah mengantarkan sebuah kiriman untuk ayah saya. Ternyata itu dari teman ayah. Saya lupa barang (atau makanan?) apa yang waktu itu dikirim, tapi saya tidak pernah lupa pada apa yang dikatakan ayah saya ketika beliau menerima kiriman itu. "Duh, gimana balasnya ya?" gumamnya saat itu.

Sejak saat itu, membalas kebaikan orang lain adalah hal yang selalu berusaha saya lakukan ketika saya menerima sesuatu dari orang lain. Jika saya sedang tidak memiliki sesuatu yang bisa diberi, ada hal sederhana yang juga bisa menjadi sebuah hadiah bagi yang menerimanya, yaitu doa yang tulus. Ya, jika sedang tidak bisa membalas kebaikan orang lain, doakan saja!

Dengan selalu memberi, tanpa sadar kita sedang menanam kebermanfaatan diri yang mungkin saja dampaknya baru akan kita panen di kemudian hari. Seperti nasihat-nasihat orangtua kita yang baru kita mengerti maksudnya beberapa tahun kemudian. Atau tulisan-tulisan harian kita di internet yang diniatkan untuk berbagi, lama-kelamaan menjadi banyak dan menjadi buku. Banyak-banyaklah memberi. Tanam kebaikanmu dimanapun. Tebar kebaikan kepada siapapun. Karena bisa jadi, kebaikan yang kau tanam kemarin-kemarin itu sedang menyiapkan "buah"nya.

Seperti ucapan ayah saya tadi yang masih saya ingat hingga hari ini, yang akhirnya menjadi nasihat tersirat yang selalu saya contoh. Maka bukan tidak mungkin, ucapan-ucapan baik kita yang dulu-dulu masih diingat oleh orang lain. Nasihat baik kita yang bertahun-tahun lalu kita berikan kepada adik atau sahabat kita, mungkin masih mereka ingat dan mereka praktekkan. Tulisan-tulisan baik kita yang sudah lama ditulis yang bahkan kitapun sudah lupa kita pernah menulis itu, ternyata masih diingat oleh orang lain karena berhasil mengubah mindsetnya menjadi lebih baik. Bahkan barangkali, doa-doa yang pernah kita ucapkan untuk orang lain, masih menjadi harapan yang diperjuangkannya hingga hari ini.

Mungkin ada saat-saat dimana kita merasa apa yang kita lakukan tidak akan berdampak apa-apa. Atau merasa "useless", merasa tidak berguna dan tidak bisa menjadi sebaik orang lain dalam menebar manfaat. Tapi percayalah, kita selalu punya sesuatu untuk diberikan. Dan kita akan selalu mendapatkan hasil dari apa yang pernah kita berikan. Jika tidak sekarang, mungkin beberapa tahun lagi. Jika tidak di dunia, mungkin di akhirat.


"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)." 
- QS. Ar-Rahmaan : 60

Jadi siapa bilang kebaikan yang kita lakukan hari ini akan sia-sia? Pasti berbuah! Keep up the good work and continue doing your good deeds, sisters!

Senin, 05 November 2018

Monday Love Letter #15 - Menutup Hari dengan Syukur


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister? Semoga hari Seninmu menyenangkan dan penuh hikmah. Sebelumnya mohon maaf ya Monday Love Letter-nya baru dikirim malam-malam begini. Karena satu dan lain hal, suratnya baru bisa diselesaikan sekarang.

Di jam-jam segini, kamu mungkin sedang istirahat di rumah, atau baru saja pulang selepas seharian tadi bepergian, atau sedang di perjalanan pulang, atau bahkan masih berada di luar rumah membereskan urusanmu hari ini. Dimanapun kamu, baik itu sedang di rumah, di tempat kerja, di kampus, di perjalanan, selelah apapun itu, you did great today, sister! Semoga malam ini bisa kita tutup dengan senyum, dengan penuh rasa syukur, sambil mengantongi hikmah yang banyak dari pembelajaran yang diberikan Allah hari ini kepada kita dan semoga Allah memaafkan segala khilaf dan kesalahan kita hari ini. Aamiin..

Setiap hari adalah kesempatan baru. Saya selalu merinding setiap membaca ayat yang satu ini, "Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar (39) : 42).

Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah menggenggam ruh manusia ketika tidur. Ada ruh yang Allah tahan sehingga ia meninggal dalam tidurnya, ada pula yang Allah kembalikan ruhnya sehingga ia dapat bangun kembali. Maka setiap hari dan setiap kita membuka mata dari tidur, sejatinya adalah kesempatan yang Allah berikan. Karena bisa saja Allah tidak mengembalikan ruh kita ke dalam jasad ketika kita sedang tidur. Nikmat hidup, sudahkah kita syukuri?

Hikmah lain yang bisa kita ambil dari ayat itu adalah bahwa kita ini memang milik Allah; penguasa mutlak atas diri kita yang mana hidup dan mati kita ada di tangan-Nya. Maka hiduplah di dunia dengan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik Allah. Yang tidak membantah, yang setia pada-Nya, yang menjadikan Allah satu-satunya prioritas dalam hidup dan kelak kembali dengan ridho-Nya. Semoga Allah mampukan kita ya :')

Dan yang pasti, karena kita ini milik Allah, maka kita akan kembali ke Allah. Kita akan pulang ke kampung akhirat, kampung halaman kita yang sebenarnya. Setiap Allah memberi kesempatan kita untuk melihat matahari pagi, berarti satu kesempatan untuk mengumpulkan bekal pulang lebih banyak lagi. Mudik atau pulang traveling aja kita suka ditagih oleh-oleh kan sama orang rumah? Masa' pulang ke akhirat mau ketemu Allah, nggak nyiapin apa-apa dan nggak bawa apa-apa? Ahh, kematian memang tidak pernah gagal menjadi nasihat bagi diri yang sering lupa ini. Semoga hati kita senantiasa peka menangkap pesan-pesan dari-Nya.

Alhamdulillah, kita patut bersyukur hari ini karena Allah telah memberi (lagi) kesempatan hidup kepada kita sejak kita bangun dari tidur pagi tadi. Maka tutuplah hari ini dengan penuh rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Berterima kasihlah atas hal-hal menyenangkan yang terjadi hari ini, berterima kasihlah karena Allah masih bersama kita dan memberikan pertolongan-Nya walaupun hari ini kita menghadapi situasi yang sulit. Jika Allah beri kita kesempatan lagi esok hari, semoga hari esok bisa lebih baik dari hari ini dan semoga syukur kita kepada-Nya melebihi syukur kita hari ini. Aamiin..

Selamat beristirahat, sister. Semoga mimpimu indah :)

Senin, 29 Oktober 2018

Monday Love Letter #14 - Stop Playing Victim


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister? Bagaimana hari Seninmu? Semoga hari ini menjadi awal yang baik untuk hari-harimu sepakan ke depan ya!

Seperti judulnya, surat kali ini adalah tentang berhenti merasa menjadi korban. Akhir-akhir ini saya diresahkan dengan orang-orang yang terus memelihara "mental korban"-nya. Mengapa fenomena playing victim ini menjadi penting untuk dibahas, karena sadar ataupun tidak, hal itu adalah racun bagi pikiran kita dan sangat-sangat mempengaruhi kehidupan kita.

Mungkin kita pernah berpikir, atau mendengar orang-orang di sekitar kita mengatakan hal-hal seperti ini:
"Yaah dia sih bisa sukses karena orangtuanya kaya, sementara keluargaku buat makan aja susah."
"Dia bisa jadi pembicara dan bikin karya gitu karena waktu luangnya banyak, aku mana bisa, kerjaanku di kantor numpuk terus dan bosku galak."
"Keluargamu harmonis itu karena suamimu pengertian banget, suami saya cenderung cuek dan kami juga LDR."
"Pantes aja jualannya laku, relasinya banyak siih. Kalau aku kan pemalu, ga bisa supel kayak dia."
"Jelas aja hidupnya bahagia, lingkungannya nge-support dia banget! Aku? Ortu cerai, lamaran kerja ditolak mulu, temen-temenku juga pada sibuk sendiri-sendiri."
"Aku sebenernya pengen mewujudkan mimpiku itu, tapi liat keadaanku sekarang, semenjak kecelakaan kerjanya bolak-balik RS mulu, gak mungkin lah."
"Aku udah nggak punya harapan hidup lagi semenjak aku kehilangan orangtuaku."
"Hidupku udah hancur banget, masa laluku juga kelam banget, aku gak pantes punya masa depan yang bahagia."
Daaaan mungkin masih banyak lagi pikiran-pikiran semacam itu yang datang dari orang-orang bermental korban. Semoga itu bukan kita.

Pola pikir seperti itu tuh bahaya banget. Alih-alih bergerak maju, orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung akan diam di tempat dan tanpa sadar sibuk meratapi keadaannya. Dia akan mencari pembelaan atas kehidupannya yang terpuruk dengan menempatkan dirinya sebagai korban atas kesalahan yang dibuat oleh orang lain misalnya, menempatkan dirinya sebagai korban atas kejadian buruk yang menimpa dirinya, atau menempatkan dirinya sebagai korban atas kesalahan dirinya di masa lalu yang menjadikannya larut dalam penyesalan. Sekali lagi, semoga itu bukan kita, ya :')

Jika ada orang yang berpikir seperti itu, mungkin tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga, karena manusia punya mekanisme "self-defense" yang digunakan untuk mempertahankan harga dirinya. Sayangnya kebanyakan kita menempatkan dirinya sebagai korban dengan menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan dirinya sendiri dibanding menempatkan diri sebagai sosok yang bertanggungjawab.

Ya, jadilah sosok bertanggungjawab atas dirimu sendiri dan atas kehidupan yang tengah kau jalani. Semua hal yang terjadi di dunia ini pada awalnya adalah netral, kitalah yang sepenuhnya memegang kendali atas pikiran, sikap, dan tindakan kita. Mau sedih karena hal yang terjadi? Bisa. Mau menciptakan bahagia? Juga bisa.
Mau terus-terusan terpuruk karena masa lalu yang (menurut kita) buruk? Bisa. Mau berusaha bangkit dan mengambil hikmah? Juga bisa.
Mau marah karena disakiti orang lain? Bisa. Mau memaafkan dan melepas beban amarah? Juga bisa.
Mau hidup kita disetir oleh orang lain? Bisa. Mau memperjuangkan kebebasan mewujudkan impianmu? Juga bisa.
Kita selalu punya pilihan. Dan kita selalu bisa memilih. Maka pilihlah keputusan yang menguntungkan dirimu, yang membahagiakan dirimu, yang membuat kualitas hidupmu meningkat.

Dan lagi, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup yang dijalani orang lain. Maka rugi sekali jika kita menghabiskan waktu dengan menyimpan dendam terhadap orang lain, menyimpan amarah terhadap keadaan, atau terus-menerus mengasihani diri sendiri. Waktu kita terlalu berharga untuk memikirkan itu. Hidup kita terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hal-hal yang merusak diri kita sendiri.

Jadilah diri yang bertanggungjawab, bukan yang bermental korban. You deserve to be happy, you deserve to be succees, you deserve a better life, if you feel like you deserve to.

Is it good or bad, happy or sad, you choose.

Senin, 22 Oktober 2018

Monday Love Letter #13 - Be The Best Version of Yourself


Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister shalihah? Terima kasih banyak yaa sudah bersama dengan kami sampai saat ini dan rela emailnya diberisikin setiap Senin. Hehehe.. 

Biasanya setiap hari Senin saya banyak di rumah dan menghabiskan beberapa jam khusus untuk menulis MLL. Tapi Monday Love Letter kali ini cukup spesial bagi saya karena tulisan ini saya tulis di dalam kereta sambil melakukan perjalanan pulang dari Solo ke Bandung. Finally I'm hoooome :))

Sedikit bercerita, saya bersama teman-teman komunitas pergi ke Solo selama 5 hari untuk mempersiapkan agenda seminar woman empowerment dan merencanakan untuk bikin "gara-gara" (maksudnya bikin kegiatan atau event yang positif tapi berdampak besar gitu, aamiin ) bersama teman-teman lainnya untuk mengembangkan komunitas di Solo. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Solo dan ternyata Solo tuh nyaman sekali yaa. Mungkin karena orang-orang yang saya temui juga semuanya baik-baik banget. Adakah yang orang Solo disini? :)

Selama jauh dari rumah dan beraktivitas beberapa hari ke belakang, notes saya cukup padat dengan beberapa ide tulisan dan hikmah-hikmah yang saya dapatkan. Salah satunya adalah tentang perlunya menyadari potensi diri untuk bisa menginspirasi. Di Solo, saya bertemu dengan banyak perempuan hebat! Kebanyakan mereka masih mahasiswa yang karyanya luar biasa, kepeduliannya tinggi dan sangat pembelajar. 

Saya jadi teringat pada hadits Rasul yang menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Disana, saya seperti sedang melihat hadits itu dalam bentuk "nyata" dengan bertemu orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk orang lain. Dan yang lebih keren lagi, alasan dari mereka melakukan semua itu bukanlah demi uang atau popularitas, tapi memang tulus berbuat untuk orang lain dan diniatkan untuk Allah. Haaahh saya jadi banyak merenung dan berkontemplasi memikirkan diri sendiri, sudah sebesar apa manfaat saya untuk orang lain. Karena sebetulnya saya mudah sekali iri dengan mereka yang aktif memberikan manfaat dan berkontribusi untuk sesama. Tentu iri yang positif, yang membuat saya jadi termotivasi untuk melakukan sesuatu. Apalagi ketika saya tahu bahwa ternyata Allah-lah yang menjadi 'strong why' mereka. Beuhh, cakep..

Dan ada satu hal penting yang saya dapatkan tentang menjadi bermanfaat, yaitu kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk bisa menginspirasiBe the best version of yourself. Jadilah diri sendiri. Fokuslah pada kekuatan yang kita miliki lalu jadilah versi terbaik dari diri kita sendiri. 

Saya jadi mengerti mengapa Allah menciptakan setiap manusia itu berbeda dan unik. Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya dan tidak ada manusia yang 100% sama dengan manusia yang lain. Artinya, kita memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri yang tidak orang lain miliki. Ini seharusnya menjadi kabar gembira! Kita jadi tidak perlu iri dengan apa yang dimiliki orang lain karena diri kita juga memiliki sesuatu yang sama berharganya dengan apa yang orang lain miliki. Ya kan?

Maka penting sekali mengenal dan memahami diri sendiri. Penting sekali untuk mencari, mengembangkan, dan menggunakan kekuatan yang ada pada diri kita. Karena itulah sebaik-baik modal kita untuk menjadi bermanfaat. Kita memang tidak mungkin menjadi sempurna dan hebat dalam segala hal, tapi lagi-lagi Allah menyimpan rencana yang indah dengan segala perbedaan manusia, yaitu agar kita bisa saling mengisi satu sama lain dan saling berkolaborasi untuk membuat kebermanfaatan yang lebih besar dan meluas. 

Jadi, untukmu yang terkadang masih suka merasa inferior atau rendah diri, masih suka merasa (kalau kata orang sunda) 'da aku mah apa atuh', kikis dan buang jauh-jauh perasaan itu dan mulailah temukan apa yang menjadi potensi terbaikmu. Jadilah manusia bermanfaat yang bahagia, tanpa membanding-bandingkan dengan karya atau pencapaian orang lain. 

Jika masih bingung dengan kekuatan kita, tidak apa-apa, teruslah mencari sambil meminta petunjuk-Nya. Karena yang paling tahu tentang diri kita, tentu hanya Dia yang menciptakan kita. Semangat fastabiqul khairat. Semoga Allah selalu membimbing setiap langkah kita. Aamiin..

Rabu, 17 Oktober 2018

Monday Love Letter #12 - Menanamkan Kesadaran sebagai Hamba


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap aktivitas kita ya sisters :)

Beberapa hari yang lalu, seseorang bertanya kepada saya, "Teh, gimana sih mengantisipasi iman kita yang kadang naik turun sehingga kita jadi sulit untuk istiqomah?" Hmm, sebuah pertanyaan yang juga masih menjadi PR bagi saya.

Jawabannya sebenarnya sederhana, yaitu dengan memiliki kesadaran yang penuh sebagai hamba Allah, 24 jam nonstop. Jika setiap detiknya kita sadar bahwa kita adalah hamba Allah, tentu tidak akan ada celah untuk turunnya iman, bukan? Karena seseorang yang memiliki kesadaran ini akan total mengabdi kepada Allah, tanpa jeda. Waah rasanya sulit ya? Apalagi dunia ini penuh dengan distraksi yang terkadang (bahkan sering) membuat kita lupa kepada Allah.

Walau sulit, namun kesadaran ini adalah sesuatu yang bisa dilatih. Manusia dikendalikan oleh pikiran sadarnya sebanyak 20% sementara 80% sisanya dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. Jadi kebanyakan tindakan kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. Nah, tugas kita adalah mencari cara agar kesadaran sebagai hamba Allah ini masuk kedalam pikiran bawah sadar sehingga menjadikan aktivitas kita senantiasa Allah-minded dan Allah-oriented. Bagaimana caranya? Dibiasakan.

Waktu kecil dulu, banyak dari kita mungkin pernah belajar mengendarai sepeda. Ketika baru mulai belajar rasanya susah sekali, harus jatuh dulu, harus terluka dulu. Tapi setelah berlatih setiap hari, aktivitas mengendarai sepeda menjadi aktivitas biasa yang bisa kita lakukan tanpa berpikir. Atau ketika kita berhasil membiasakan berolahraga setiap hari. Di minggu-minggu pertama mungkin terasa sulit dan melelahkan, tapi semakin kita lakukan, kita menjadi semakin terbiasa dan olahraga menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bahkan kebiasaan yang dibangun dengan konsisten akan membuat kita merasa butuh dan sulit dihentikan.

Maka untuk menjadi hamba yang senantiasa sadar akan status dirinya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, "hal apa yang kira-kira dapat membuat diri kita terus ingat kepada Allah? Kebiasaan-kebiasaan apa yang kira-kira perlu dibangun agar diri kita senantiasa ingat bahwa kita adalah seorang hamba Allah?" Temukan dan lakukan secara rutin hingga menjadi kebiasaan, hingga 'title' hamba Allah menjadi sesuatu yang melekat pada diri kita. Hasilnya? Kita tidak lagi lupa atau merasa terpaksa dalam menjalani segala perintah-Nya.

Untuk melakukannya tentu saja butuh kesabaran dan niat yang kuat, dan mungkin banyak proses jatuh bangun yang kita lewati hingga bisa mencapai titik itu. Tapi bukankah perjuangan kita menuju Allah akan selalu worth it? Karena dengan itulah kita mendapatkan ketentraman hati dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Allah telah memudahkan proses penanaman kesadaran ini salah satunya dengan ditetapkannya 5 waktu shalat. Dengan syariat shalat, setidaknya selama 5 x 10 menit setiap harinya kita mengingat Allah. Maka gunakanlah fasilitas dari Allah ini dengan sepenuhnya "hadir" di setiap shalat kita. Lalu tugas kita selanjutnya adalah menjaga kesadaran itu agar senantiasa "hadir" dalam aktivitas lainnya, tidak hanya ketika shalat.

Jika shalat masih dirasa kurang, kita bisa melatih diri kita dengan hal yang lain agar kesadaran kita tetap ON dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Contohnya dengan membiasakan dzikir, meruntinkan tilawah Qur'an, membaca buku-buku islami, menghadiri kajian, atau sesederhana kita meluangkan waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan tentang Allah dan ciptaan-Nya.

Selamat membangun kebiasaan agar senantiasa sadar terhadap status dan kewajiban diri kita sebagai hamba Allah. Semoga kita bisa sampai pada pribadi ya muhsin, yaitu mereka yang selalu merasakan kehadiran Allah dan merasa dilihat oleh-Nya sehingga senantiasa menjaga dan mengoptimalkan ibadah kepada-Nya. Aamiin.

Senin, 08 Oktober 2018

Monday Love Letter #11 - Bertumbuhlah dan Ciptakan Harmoni


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, sepekan telah berlalu dan kini saatnya kita mengupayakan agar sepekan ke depan bisa lebih baik dari kemarin. Semoga Allah menguatkan niat dan langkah kita ya, sister! Aamiin.

Di surat kali ini, saya ingin mengawalinya dengan sebuah cerita. Pada bulan Juni lalu, saya dan keluarga diundang ke sebuah perkemahan di daerah lembang untuk menghabiskan weekend disana. Lokasinya cukup luas dan terdapat berbagai macam komplek perkemahan dengan konsep yang berbeda-beda. Pada komplek perkemahan yang kami tempati terdapat belasan rumah sederhana dari kayu yang dibangun berkeliling membentuk lingkaran. Ditengahnya ada beberapa spot untuk tempat api unggun yang disekelilingnya terdapat kursi-kursi yang dibuat dari batang pohon. Sisanya dibiarkan apa adanya, tanah berumput dengan banyaknya pohon pinus yang tinggi-tinggi namun cukup berjarak. Suasananya adem sekali dan terasa teduh pada siang hari.

Sore harinya, sambil menikmati hidangan coffee break saya duduk di salah satu kursi kayu dan merenung cukup lama. Mata saya tidak berhenti memperhatikan pohon-pohon pinus yang berdiri kokoh di sekitar saya. Jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya cukup jauh, sekitar 4-5 meter, bahkan ada yang lebih jauh dari itu. Tapi ketika saya melihat ke langit, cabang dan daun-daun mereka saling bersinggungan di atas sana, membentuk harmoni dengan pohon lain sehingga terdengerlah gesekan-gesekan daun dan ranting ketika angin berhembus dan menjadi teduhlah perkemahan itu dari cahaya matahari.

Saya jadi sadar bahwa perasaan nyaman selama saya tinggal disana salah satunya disebabkan oleh pohon-pohon itu  yang memberi naungan bagi rumah-rumah kemah yang ada disana. Tanahnya pun terasa sangat luas karena cabang-cabang dari pohon-pohon itu sudah tumbuh sangat tinggi sehingga tidak ada daun atau semak yang menghalangi pandangan.

Lalu dari perenungan mengamati pohon-pohon itu, saya jadi terpikir bahwa diri kita bisa saja umpama sebuah pohon. Semakin kita bertumbuh, semakin bermanfaatlah kita. Manusia itu tidak cukup hanya berkembang, tapi juga perlu bertumbuh. Tidak cukup menjalani hidup sekedar mengikuti alur dan menjalani kehidupan dengan berpindah dari fase ke fase, tapi juga perlu upgrade ilmu, upgrade skill, menjalin relasi dan membangun koneksi agar ranah kebermanfaatan kita bisa semakin meluas, tidak hanya untuk diri kita atau keluarga kita sendiri saja.

Pohon yang tumbuh sendirian, hanya akan menaungi beberapa orang saja dibawahnya. Tapi jika pohon-pohon tersebut tumbuh berbarengan walaupun di tempat yang berbeda dan berjarak, nanti diatas sana ranting-ranting mereka akan saling bertemu sehingga bukan hanya beberapa orang dewasa yang bisa berteduh di bawahnya, pohon-pohon itu bahkan bisa menaungi satu wilayah. Belum lagi jika pohon-pohon itu menghasilkan buah yang bisa dimakan, semakin sejahteralah wilayah itu karenanya.

Bumi ini perlu dijaga. Dan dalam keadaan dunia yang semakin carut-marut ini, mungkin solusinya sederhana saja. Yaitu dengan bertumbuhnya orang-orang baik yang saling berkolaborasi dalam kebaikan. Orang baik di dunia ini sebetulnya ada banyak sekali, tapi terkadang mereka hanya mencukupkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri tanpa mengembangkan sumber daya yang dimilikinya dan membuat suatu karya yang dampaknya meluas.

Maka dengan segala peran yang kita miliki di masyarakat, baik itu sebagai mahasiswa, ibu rumah tangga, praktisi pendidikan, karyawan di sebuah perusahaan, dan sebagainya, jalanilah peran itu dengan sebaik-baiknya dan jadilah yang terbaik. Nanti ketika tiba di satu titik kamu merasa perlu mengembangkan "sayap", lakukanlah. Bertumbuhlah sambil melakukan kolaborasi-kolaborasi yang membuat kebermanfaatanmu semakin luas dan jadilah bagian dari orang-orang yang mengadakan perbaikan. Tidak apa-apa walau sedikit dan bertahap, insya Allah lama-kelamaan semakin banyak dan semakin meluas.

"Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah…" (HR. Muslim)

Jangan merasa sendiri, karena yang sedang berjuang untuk bertumbuh, bukan cuma kamu. Kita sama-sama, ya.

Senin, 01 Oktober 2018

Monday Love Letter #10 - Don't Stop Making Du'a


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Sebelum mulai menulis Monday Love Letter hari ini, saya ingin memulainya dengan doa-doa sederhana untukmu. Bagimu yang sedang dalam keadaan sakit, semoga Allah sehatkan dan dijadikan-Nya sebagai penggugur dosa-dosa. Bagimu yang sedang menghadapi kesulitan, musibah, atau ujian, semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa bersabar dan segera Allah tunjukkan jalan keluarnya. Bagimu yang hari ini sedang bahagia, semoga Allah memberkahi segala bentuk nikmat yang kau terima dan menjadikanmu hamba yang penuh syukur. Semoga setiap ketetapan Allah yang terjadi dalam hidup kita, bisa senantiasa kita sikapi dengan sikap terbaik yang Allah sukai. Aamiin..

Sejak saya tahu bahwa doa bisa menjadi obat bagi hati yang gelisah, saya selalu mempraktekkannya dalam keseharian saya. Sejak saya tahu bahwa mendoakan orang lain bisa menenangkan hati orang yang didoakan, bahkan bisa juga menenangkan hati saya sendiri, saya selalu berusaha agar setiap orang yang pernah hadir dalam hidup saya, saya tidak melewatkan doa untuknya.

Bagi saya, berdoa adalah aktivitas yang luar biasa jika kita renungi. Doa adalah salah satu bentuk kesadaran kita sebagai hamba yang lemah, sebagai kebutuhan karena kita perlu tempat bergantung. Jika sedang dalam keadaan susah, dalam keadaan payah, dalam keadaan dihimpit kesulitan, naluriahnya kita pasti berdoa. Doa adalah sebentuk pinta dari hati yang merasa takut sekaligus penuh harap agar Allah menolong dan memberi petunjuk kepada kita.

Doa adalah jalan agar kita bisa selalu terkoneksi dengan Sang Pencipta, agar setiap aktivitas selalu dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Bagaimana tidak, Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk selalu berdoa disetiap aktivitas. Dari mulai bangun tidur, bepergian keluar rumah, pulang ke rumah, masuk-keluar kamar mandi, berwudhu, bermuamalah, semua aktivitas dari mulai bangun hingga tidur lagi ada doanya --seminimal-minimalnya dengan mengucapkan basmallah. Kenapa sih harus repot-repot berdoa? Tidak lain agar setiap aktivitas selalu dimulai dan diakhiri dengan nama Allah serta niat beribadah kepada-Nya. Jika tanpa doa, mungkin segundang aktivitas kita layaknya buih di lautan, tidak ada artinya. Wah, bahaya sekali jika kematian datang menjemput dalam keadaan kita sedang tidak terkoneksi dengan Allah. Luar biasa ya contoh yang diajarkan Rasulullah, sholawat dulu yuk :)

Berdoa adalah perintah Allah, bagian dari ibadah yang disukai-Nya. Terlepas dari kapan dan bagaimana Allah mengabulkan doa hamba-Nya, aktivitas berdoa itu sendiri menjadi aktivitas yang disukai Allah.

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS.7 : 55)

"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."" (QS. 40 : 60)

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Quran yang isinya adalah doa. Tidak sedikit pula doa-doa para Nabi yang Allah abadikan dalam Al-Quran. Jika Allah saja mengajarkan kita untuk berdoa dalam setiap keadaan, alasan apa lagi yang membuat kita tidak berdoa kepada-Nya? Jika para Nabi dan Rasul saja semuanya berdoa kepada Allah, siapalah kita ini yang bisa-bisanya sombong dan merasa bisa tanpa Allah?

Mari buat koneksi dengan Allah melalui doa-doa kita. Mari merayu cinta Allah dengan doa-doa yang kita panjatkan dengan penuh harap dan takut kepada-Nya. Mari saling mendoakan agar hati kita terlatih untuk peka dan saling merasa. Kemana lagi kita meminta, kemana lagi kita berharap, kemana lagi kita mencari ketenangan, jika bukan kepada Allah.

Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita agar senantiasa mau merendahkan diri di hadapan-Nya.

Bagaimana denganmu, apa makna doa bagimu?

Senin, 24 September 2018

Monday Love Letter Special Edition - MLL's Untold Story

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Walaupun sudah sore, semoga tetap semangat dan bahagia ya! Seperti judulnya, Monday Love Letter kali ini adalah MLL edisi spesial yang isinya bercerita tentang behind the scene perjalanan MLL dan sekelumit perasaan yang saya alami selama 10 minggu kita bersama (ceilah).
Diawal masa lauching MLL, saya pernah mengumumkan bahwa MLL sebetulnya bukanlah main project dari project yang sedang kami kerjakan sekarang, MLL hanyalah project pendukung. Tapi partner saya suatu hari bertanya, "Teh, gimana kalau kita bikin Monday Love Letter?" sambil menjelaskan beberapa alasan dan tujuan kenapa harus bikin MLL. Waktu itu saya berpikir, "Apa?! Harus RUTIN bikin surat setiap Senin?" Euhh sebenarnya segala sesuatu yang menuntut keistiqomahan itu berat, apalagi rutinitas ini sepertinya tidak akan berakhir sampai batas waktu yang belum ditentukan. Haha. Tapi mengingat tujuan MLL ini penting untuk saya pribadi juga bagi main project yang sedang kami jalani, akhirnya saya menyanggupi.
Tanggal 23 Juli 2018 kami memposting MLL pertama di blog kami masing-masing, belum menggunakan email seperti sekarang. Lagipula saya pun tidak pernah terpikir untuk menggunakan konsep berkirim email semacam ini. Tapi partner saya lalu bertanya lagi, "Teh, gimana kalau kita bikin mailing list?" Haha baiklaah. Akhinya dibuatlah MLL berbasis email yang dibuat agar lebih tepat sasaran, mengingat target Sister of Deen Projects ini memang untuk para perempuan. Walaupun dalam prosesnya kami berdua harus pusing-pusing mencari sendiri cara tentang bagaimana membuat mailing list dan sebagainya, tapi seru! Setiap menemukan cara baru semisal cara meng-input kontak, membuat link arsip dll, kami selalu menyebutnya Penemuan! Hehe. Terima kasih teknologi! :D
Lalu bagaimana proses pembuatan tulisan MLL itu sendiri? Bagi saya pribadi, proses menulis MLL itu gampang-gampang susah. Tapi sisi positifnya adalah saya jadi lebih dituntut untuk bisa peka dalam menangkap ide-ide, entah itu dari yang saya lihat, dengar, atau rasakan. Pertama kali membuat tulisan MLL, prosesnya alhamdulillah, mudah. Nggak heran lah ya, karena saya selalu percaya bahwa langkah pertama itu akan selalu mudah. Diulang, se la lu mu dah. Diawal pengumuman MLL melalui Instagram saja, saya tiba-tiba mendapat DM dari seorang teman yang menawarkan diri ingin membuatkan banner untuk MLL. What a surprise! Kemudahan seperti ini selalu terjadi dalam hidup saya, apalagi untuk project-project kebaikan, entah kenapa ada saja kemudahannya jika mau memulai sesuatu. Mungkin karena semangatnya masih menggebu dan euforia strong why-nya masih sangat kuat sehingga prosesnya terasa lebih mudah. Namun apakah selanjutnya akan tetap mudah? Oh, tentu saja tidak.
Saya ingat sekali ketika saya menulis MLL kedua malaaaasnya minta ampun! Tapi hati kecil saya berteriak, "Nggak boleh malas, Na! Kamu kan udah declare bakal nulis MLL, itu subcribers-nya pada nungguin!" Walaupun yaa belum tentu juga sih ditungguin hahaha.. Akhirnya saya memaksakan diri saya untuk duduk di depan laptop dan saya malah menulis tentang produktivitas. Ceileeeh gaya bangeeettt nulis tentang produktivitas padahal sedetik sebelumnya aja abis males-malesannnn, saya meledek diri saya sendiri. Namun pesan-pesan yang saya tuliskan di MLL pada akhirnya memang kembali menjadi reminder untuk diri saya sendiri. Di MLL lainnya pun begitu, surat-surat itu dibuat sebetulnya untuk diri saya sendiri. Yang jika suatu hari saya "ngadat" lagi, pikiran saya akan ribut mengingatkan, "Heh, kok gitu?! Malu sama tulisan sendiri!"
Selain agar menjadi reminder bagi diri saya sendiri, sebetulnya ada lagi hal yang menjadi motivasi saya untuk tetap semangat menulis. Yaitu beragam bentuk apresiasi, doa dan terima kasih dari email balasan yang dikirim oleh para pembacanya, which is suuuper heartwarming. Saya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya bisa seberharga itu untuk orang lain. Siapa coba yang nggak terharu kalau dikasih apresiasi yang jujur dan doa yang tulus dari orang yang bahkan nggak kita kenal? Those words really touched my heart. Thank you, sisters :")
Dari MLL juga saya belajar, bahwa saya betul-betul tidak ada apa-apanya tanpa pertolongan Allah. Pernah suatu hari saya sedang sibuk-sibuknya dan mencoba menulis di jam-jam injury time. Belum tahu mau menulis apa, pokoknya gerakin jari aja deh di keyboard laptop. Terserah tulisannya mau dibawa kemana. Eh ternyata selesai juga di detik-detik terakhir, jari-jari saya ketika itu menulis tentang tema yang selalu saya suka; syukur. Subhanallah, kalau bukan karena pertolongan Allah kayaknya nggak akan mungkin selesainya tepat waktu gitu. :')
Segala puji hanya bagi Allah. Saya sama sekali tak pantas untuk berbangga diri atas setiap pujian yang datang, karena hakikatnya setiap pujian adalah untuk Allah. Allah yang membantu saya, Allah yang menolong saya, Allah yang mengizinkan lahirnya inspirasi dari apa yang saya tulis. Lagi-lagi ini menjadi ajang latihan bersyukur saya kepada Allah. Lewat MLL, saya belajar bersyukur lebih banyak. Semoga langkah syukur saya juga ikut melesat seiring dengan rasa syukur yang terus bertambah.
Terima kasih kepada semua subcribers dan pembaca setia Monday Love Letter, semoga Allah melingkupimu dengan kebaikan yang banyak dan kehidupan yang berkah dan diridhoi-Nya. Jika kamu juga sedang memperjuangkan kebaikan walau dalam bidang yang berbeda, semangat terus ya! Semoga Allah menguatkan langkah dan niatmu serta mencatat setiap peluhmu sebagai amal sholeh dan bernilai ibadah dihadapan-Nya. Aamiin.. Barakallahu fiikum.. :)

______
Mau subscribe Monday Love Letter dan mendapat dua tulisan inspiratif setiap hari Senin? Klik http://tinyurl.com/mondayloveletter lalu klik button "join our mailing list", isi form, done! Untuk perempuan saja ya :))

Senin, 17 September 2018

Monday Love Letter #9 - Solusi Itu Dekat


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Semoga selalu dalam keadaan baik dan semoga Allah memberkahi segala aktivitasmu apapun itu. Pekan ini seruu sekali bagi saya karena sepekan ini saya sedang membenahi beberapa urusan dan project yang sedang dijalankan, termasuk Sister of Deen Project ini pastinya. Hehe. Doakan ya semoga lancar dan tidak ada kendala berarti :)

Seiring saya membereskan satu per satu urusan, disaat yang sama saya merasa bahwa Allah sedang mendidik saya melalui ini semua. Tidak ada yang lebih melegakan ketika saya masih merasakan kasih sayang Allah lewat pembelajaran yang diberikan-Nya melalui kehidupan ini. Alhamdulillah, Allah Yaa Rahman Yaa Rahiim.. Semoga hati ini selalu diberi kepekaan agar bisa menangkap hikmah dari-Mu.

Salah satu pembelajaran dari Allah kepada saya sepekan kemarin adalah tentang hambatan. Bahwa Allah memberi hambatan bisa jadi untuk menguji kesungguhan kita. Pernah nggak sih ketika kita sedang memperjuangkan sesuatu lalu ketika melangkah kok adaaa aja hambatannya. Kok rasanya susaah sekali. Masalahnya bisa beragam, dari mulai masalah teknis hingga masalah motivasi. Kondisi seperti ini tentunya akan sangat menguji kita apakah akan memutuskan untuk terus maju, atau berhenti saja. Untukmu yang sedang mengalami kondisi seperti itu, semoga Allah memberi kekuatan kepadamu untuk bertahan ya! Saya percaya setiap niat baik pasti ada jalannya.

Saya jadi teringat pada kisah Siti Hajar yang mencari-cari air karena Ismail kecil terus menangis karena lapar. Siti Hajar sampai harus berlari-lari antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Lalu ketika ia sudah berada di titik terlelahnya, ternyata air malah mengalir dari bawah kaki Ismail. Adapula kisah Nabi Musa yang terjebak didepan laut merah ketika dikejar-kejar oleh pasukan Fir'aun, ternyata jalan keluar ada pada tongkat dalam genggamannya yang kemudian dapat membelah lautan atas izin Allah.

Dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah bahwa solusi itu bisa jadi amat sangat dekat. Bahkan mungkin tidak sampai selangkah dari tempat kita berdiri. Tapi mengapa Allah menjadikan jalannya begitu sulit? Kita dibuat harus berbelok dulu, harus mengambil jalan memutar, bahkan mungkin harus menemui jalan buntu dulu sebelum menemukan jalan keluar. Tidak lain karena Allah ingin menguji kita! Seberapa besar kesungguhan kita dan seberapa sabar kita untuk mewujudkan niat baik kita. Dan yang paling penting, seberapa kuat kita bergantung kepada Allah.

Jika mengingat-ingat perjalanan hidup kita ke belakang, mungkin ujian kesungguhan ini juga pernah datang kepada kita. Saya pernah tertatih-tatih mengerjakan skripsi ketika masih kuliah dulu. Rasanya sulit sekali dan banyak tekanan. Tapi ketika saya memperbaiki dan menguatkan niat, ternyata kemudahan datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan prosesnya selesai lebih cepat dari yang dibayangkan. Adakah yang sedang mengerjakan skripsi atau tesis? Semangat ya, semoga Allah memberi kemudahan dalam prosesnya. :)

Ceritamu mungkin berbeda, ada yang mungkin kesana kemari mencari jodoh tapi ketika memasrahkan urusan kepada Allah, ternyata Allah mendatangkan jodoh yang tidak lain adalah tetangganya sendiri. Atau mungkin ada yang pernah mengalami stress berkepanjangan, mencari teman bercerita kesana kemari, tapi ternyata ketenangan muncul dari keningnya yang ditempelkan keatas sajadah untuk bersujud di sepertiga malam. Mungkin ada yang pernah mengalami kesulitan ketika persalinannya, kondisi janin yang mengkhawatirkan dan kondisi ibu yang sudah lelah membuat seakan tak ada harapan, tapi kemudahan tiba-tiba saja hadir setelah mencium tangan ibu dan meminta maaf. Ada yang mungkin sedang dalam keadaan kalut karena ditolak banyak kesempatan kerja, tapi jalan keluar muncul ketika dia tidak sengaja membantu orang asing yang kesulitan di jalan dan ternyata orang itu sedang mencari karyawan sehingga selesailah masalah pekerjaan yang sedang dihadapinya.

Skenario Allah memang misteri. Tugas kita bukanlah memikirkan ranah hasil, tapi ranah ikhtiar. Upaya mana yang kira-kira belum optimal. Cara mana yang kira-kira perlu diperbaiki. Seserius apa kita meningkatkan kepantasan diri dan seberapa besar kesungguhan kita dalam mewujudkannya, mungkin itu yang ingin Allah lihat dari kita sebelum Dia memberikan jalan keluarnya.

Solusi itu dekat, dear.. Jika solusi itu terasa jauh, mungkin yang jauh adalah kepantasan kita. Jalan keluar itu bisa jadi tidak sampai selangkah dari tempat kita berdiri. Namun jika jalannya terasa berkelok-kelok, mungkin yang membuatnya berkelok adalah karena tidak lurusnya niat kita.

Apapun medan juangmu, jangan berhenti sebelum memberikan ikhtiar terbaik.

Senin, 10 September 2018

Monday Love Letter #8 - Be With Allah and Allah Will Protect You


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sister! Alhamdulillah, jika kamu menunggu-nunggu hadirnya Monday Love Letter di hari Seninmu, saya juga selalu menunggu-nunggu hari Senin agar bisa mengeluarkan isi pikiran menjadi tulisan yang penuh hikmah dan menjadi reminder diri. Jika ternyata tulisan itu kemudian menginpirasimu, all thanks to Allah! Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali atas izin-Nya.

Di Love Letter kali ini, mungkin topik yang dibahas akan sedikit serius. Harap maklum, karena seminggu kemarin saya banyak berpikir serius tentang fenomena yang akhir-akhir ini saya lihat. Ada rasa miris, sedih, takut, sekaligus greget ingin berusaha mengubah. Apa tuh? Penasaran, simak ya..

Mungkin kamu pernah mendengar hadits ini. Rasullah SAW bersabda, "Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (HR. Tirmidzi)

Sadarkah kita? Kitalah yang sekarang sedang hidup di zaman itu. Kini makin nyata tanda-tanda akhir zaman dengan maraknya kemaksiatan, tindak kejahatan, dan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga rasanya suliiiit sekali menjaga iman ini. Kemaksiatan kini mulai dianggap wajar. Pemikiran dan gaya hidup barat kini menjadi hal yang biasa. Islam menjadi semakin asing dan orang-orang yang berpegang teguh memegang ajaran Islam semakin terasing.

Akhir-akhir ini saya mengamati betapa dunia ini begitu gemerlap dengan segala perhiasannya. Kebanyakan orang berlomba-lomba mengumpulkan "perhiasan" itu; kekayaan, kekuasaan, gaya hidup mewah, popularitas, pujian dan tepuk tangan. Perhiasan yang sebetulnya hanya untuk memuaskan hawa nafsu, ego, dan prestise belaka di hadapan orang lain. Banyak orang hidup untuk mendapat pengakuan dan memenuhi ekspektasi orang lain, bukan untuk memenuhi harapan Penciptanya. Semoga itu bukan kita.

Saya sedih sebetulnya melihat fenomena itu. Banyak orang yang lelah mengejar mimpinya, banyak orang yang sibuk dengan pekerjaannya, banyak orang yang (katanya) berjuang tapi kebanyakan mereka malah berujung stress, tertekan, depresi, bahkan ada yang berujung bunuh diri. Padahal jika ditanya untuk apa mereka melakukan itu semua, semuanya pasti akan menjawab, untuk kehidupan yang bahagia. Tapi mengapa yang terjadi malah kebalikannya?

Inilah zaman kita. Zaman dimana memegang kebenaran seperti memegang bara api, sulit sekali. Belum lagi sindiran, cemoohan, isu yang bertebaran dan komentar dari sana-sini, yang terkadang membuat ragu dan goyah atas kebenaran yang diyakini. Kita seperti sedang berada dalam badai besar dengan angin yang sangat kencang, tanpa tempat berlindung tentulah kita tidak akan selamat. Berlindung dari badai didalam bangunan yang kokoh, itulah yang kita perlukan.

Bangun dan sadarlah! Carilah perlindungan terbaik untuk diri kita karena jika kita tidak bergantung dan berlindung pada Dia yang Maha Melindungi, iman kita akan tergerus, ideologi kita terbawa arus, dan diri kita akan terjerumus. Naudzubillah min dzalik.

Maka, kunci untuk setiap manusia akhir zaman adalah kembali kepada Allah dan bergantung hanya kepada-Nya yang memberikan kekuatan dan keteguhan hati. Hanya Allah tempat berlindung yang paling aman. Bahkan iblis saja tidak mampu menggoda mereka yang teguh imannya.

Namun untuk mendapat perlindungan Allah tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus "merayu" Allah agar Allah mau menolong kita. Apalagi yang kita minta adalah perlindungan untuk sesuatu hal yang besar; fitnah akhir zaman dan keselamatan dunia akhirat. Memangnya Allah akan memberikannya secara cuma-cuma tanpa menyeleksi kepantasan hamba-Nya?

Pantaskah kita meminta perlindungan dari Allah tanpa membangun hubungan yang dekat dengan Allah? Sholat wajib dinanti-nanti, baca quran sesempatnya, hadir ke kajian malas, berinfak se-sisa-nya, berdoa sama Allah kalau ada maunya saja. Bahkan kita masih menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Astagfirullah. Bagaimana Allah akan menolong?

Yuk, mulai serius mendekat kepada Allah. Mulai perbaiki hubungan kita dengan Allah. Jika kondisi "gelap" di sekitar kita hanya bisa dilawan dengan "cahaya", maka dekat-dekatlah dengan sumber cahaya. Dimulai dengan baca, pelajari, dan amalkan surat cinta dari Allah (Al-Quran) yang merupakan pedoman hidup kita, tingkatkan kualitas ibadah kita, hadiri majelis ilmu yang bisa mengokohkan ketauhidan kita, berkumpullah bersama orang-orang sholeh(ah) yang juga mencita-citakan keselamatan akhirat karena kita akan semakin kuat jika berjamaah.

Semoga dengan begitu Allah makin menyayangi kita dan memberikan perlindungan dan pertolongannya kepada kita baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin..

"…Maka dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah.
Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." 
-QS. Al-Hajj (22) : 78-

Senin, 03 September 2018

Monday Love Letter #7 - Syukur Ver 2.0

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah sudah sampai di Senin yang ketujuh sejak Monday Love Letter pertama ditulis. Bahagia sekali rasanya ketika sadar bahwa ternyata diri yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan ini masih bisa menginspirasi orang lain. Bisa konsisten menulis seperti ini menjadi pencapaian tersendiri bagi saya, yang biasanya menulis ketika memang sedang ingin saja. Alhamdulillah Allah mampukan :')

Akhir-akhir ini saya sedang banyak berpikir dan mengamati bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, baik itu di media sosial maupun dengan bertemu langsung. Dan untuk pertama kalinya dalam fase hidup saya, saya bertanya kepada diri sendiri, pertanyaan yang tidak pernah saya sangka akan saya tanyakan kepada diri saya sendiri, "Tuh lihat, si A udah mencapai ini, si B udah jadi itu, si C lagi bikin project keren tuh, kamu udah apa?"

Buat saya yang punya karakter cuek, pertanyaan seperti itu terasa aneh bagi saya. Tidak biasanya saya membandingkan diri saya dengan orang lain. Dan mindset ini menjadi racun bagi saya sendiri karena saya malah jadi merasa minder karena membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain sementara saya kok rasanya masih begitu-begitu saja. Jangan dicontoh ya, karena ini sungguh tidak baik untuk kesehatan hati, jiwa, dan pikiran. Hehe.

Sampai suatu hari saya tiba-tiba teringat pada sebuah istilah yang sering disebut-sebut, yang katanya akan teralami oleh orang-orang di usia 20-an menjelang 30-nya. Quarter Life Crisis. Sebuah fase yang membuatmu mengulang lagi pertanyaan tentang tujuan dan makna hidup. Ya, kurasa saya sedang mengalaminya.

Yang saya pelajari dari fase ini adalah bahwa jawaban yang harus kau temukan tidak hanya sekedar tujuan hidupmu adalah untuk ibadah, seperti yang kita semua tahu dalam QS. 51:56. Tapi ada sebuah pertanyaan lanjutan yaitu peran apa yang ingin kamu ambil untuk ibadahmu? Dan secara naluriah kita akan berusaha mencari peran yang besar manfaatnya untuk orang lain. Ya, di fase ini kita mulai mencari makna diri kita untuk orang lain, masyarakat, bahkan dunia. Tidak lagi memikirkan hanya untuk diri sendiri.

Maka, mulailah melihat kepada dirimu. Apa yang kau punya? Apa "harta" yang Allah titipkan untuk dirimu? Jika hartamu adalah kemampuan berbisnis dan bernegosiasi, maka jadilah seperti Siti Khadijah r.a, shahabiyah dermawan yang membesarkan bisnisnya untuk kepentingan umat.
Jika hartamu adalah kecerdasan intelektual, punya gelar S1, S2 atau S3, maka jadilah cendekiawan muslim yang memperkaya pengetahuan dunia dan memajukan peradaban.

Jika hartamu adalah kemampuan berdiplomasi dan berorganisasi, latihlah dirimu menjadi pemimpin yang berpengaruh untuk menyebarkan nilai-nilai Islam.

Jika hartamu adalah kemampuan menulis, maka tulislah karya terbaik yang bisa menembus pikiran banyak orang dan membuat mereka terinspirasi untuk menjadi sebaik-baik manusia di hadapan Allah.

Jika hartamu adalah anak dan keluargamu, maka jadilah seorang istri dan ibu terbaik yang mencetak generasi shalih dan shalihah, serta mengupayakan ikhtiar terbaik agar keluargamu terlindung dari api neraka.

Apapun itu, setiap "harta" sejatinya hanyalah titipan, hanyalah pinjaman dari Allah. Dan yang namanya titipan, tentu tidak bisa kita pakai seenaknya semau kita, bukan? Tetap ada hak Allah didalamnya.


Inilah yang dinamakan syukur ver. 2.0 (istilah karangan saya, hehe), yaitu bentuk syukur yang lain yang sudah ter-upgrade. Syukur yang bukan sekedar berterima kasih atas apa yang telah Allah berikan, tetapi syukur yang membuat kita melakukan sesuatu yang terbaik dengan menggunakan segala potensi yang Allah berikan kepada kita. Potensi yang kemudian digunakan untuk kepentingan Allah, untuk kepentingan Islam, serta untuk kepentingan akhirat diri, keluarga, dan umat. 
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun," (QS. At-Taghabun (64): 16-17)
Ah ya, ada satu yang perlu kau ingat. Hartaku, belum tentu sama dengan hartamu. Begitupun sebaliknya. Maka tidak usah membandingkan diri kita dengan orang lain, biarlah orang lain "berinfaq" dengan harta miliknya, karena kita juga punya harta sendiri yang harus kita persembahkan untuk Allah. :)

Selamat mengupayakan syukur terbaikmu kepada Allah, dengan definisi syukur yang sudah ter-upgradeFastabiqul khairat.