Senin, 27 Mei 2019

Monday Love Letter #43 - Hidup dengan cara-Nya

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana kabarnya di 10 hari terakhir Ramadhan ini? Sudah dapat hikmah banyak? Sudah semeningkat apa iman kita? Sudah sekuat apa koneksi kita dengan Allah? Masih ada waktu, insya Allah. Selamat menghidupkan hari-hari terakhir Ramadhan ya. Ayo kita tetap semangat! :)

Saya ingin bercerita tentang sebuah hikmah yang saya dapatkan dari hasil diskusi dan sharing saya bersama sahabat-sahabat saya. Hari Sabtu kemarin adalah jadwal rutin kajian kami, pembahasannya sebenarnya simpel saja, kami saling bicara tentang harapan-harapan apa yang ingin diwujudkan dari silaturahim yang kami jalin.

Tak sedikit dari kami yang mengawalinya dengan curhat tentang kehidupan masing-masing yang terkadang hampa atau dipenuhi kegelisahan pada awalnya, lalu kemudian menemukan teman-teman yang saling mengingatkan dan ternyata pertemuan itu memberikan ketenangan dan jalan keluar dari kehampaan hati yang dirasa.

Namun yang ingin saya garis bawahi bukan tentang itu, melainkan tentang sebuah cerita dari seorang sahabat yang selama ini saya bersamai perjalanan hijrahnya. Dia bercerita bahwa cara dia memandang hidup hari ini sudah jauh berbeda dengan cara pandangnya dulu. Bertahun-tahun sebelum hari ini, hidupnya adalah tentang bagaimana dirinya mencari kebahagiaan dan kepuasan dari dunia. Cita-citanya adalah tentang dunia yang sungguh-sungguh ia capai namun lupa menyertakan Allah di dalamnya.

Dia memulai ceritanya. "Beberapa dari kalian tahu lah, dulu aku sangat berorientasi pada dunia. Tapi lama kelamaan aku menemukan bahwa hidup dengan cara kita sendiri tuh bikin lelah, bikin gelisah. Nggak percaya? Silakan buktikan sendiri. Ternyata yang paling bener itu memang kita tuh harus hidup dengan cara Allah, bukan dengan cara kita sendiri."

Hidup dengan cara Allah, bukan dengan cara kita sendiri. 

Kalimat itu terus terngiang di pikiran saya hingga hari ini. Jujur, itu juga yang pernah saya rasakan. Ketika saya hidup semaunya, ketika saya merasa bahwa saya ini yang paling berhak mengatur kehidupan saya sendiri, ternyata yang ada hanya rasa puas yang tidak ada habisnya dan berujung lelah.

"Sama seperti kita mau naik gunung dan hanya mengandalkan diri kita sendiri. Nggak tanya guide, nggak nanya warga sekitar, nggak bareng-bareng sama orang-orang yang hafal jalan kesana, kira-kira nyampe nggak? Nggak. Kalaupun nyampe, pasti riweuh kitanya," lanjutnya lagi. Riweuh itu bahasa sunda yang jika diterjemahkan kurang lebih artinya repot. Nyampe sih ke puncak, tapi repot! Coba pake guide, coba nanya warga, pasti akan jauh lebih mudah.

Adanya Al-Quran sebagai guidance sebetulnya untuk mempermudah hidup kita. Tapi terkadang kita suka sok pede dan merasa paling tahu sehingga mengatur hidup kita dengan aturan yang kita buat sendiri, dengan prasangka yang berasal dari pengetahuan kita yang sangat terbatas. Ya pantas saja hidup jadi ribet.

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar engkau menjadi susah."
QS. Thohaa (20) : 2

Hidup ini akan jauh lebih mudah jika kita menyerahkan diri kepada Allah. Menyerahkan diri untuk diatur sepenuhnya oleh Allah; nurut sama apa yang Allah perintahkan dan nurut untuk menjauhi apa-apa yang Allah larang. Menyerahlah kepada Dia yang menciptakan kita karena Dia yang paling tahu bagaimana cara terbaik dalam menjalani kehidupan.

Tapi apakah mudah merubah mindset 'saya yang paling tahu' menjadi 'Allah yang paling tahu'? Apakah mudah mengubah mindset 'menurutku seharusnya begini' menjadi 'menurut Allah seharusnya bagaimana ya?' Atau 'yang penting saya senang' menjadi 'yang penting Allah suka'. Memang tidak semudah itu, butuh proses dan latihan yang panjang. Apalagi jika kita terbiasa mengikuti ego dan hawa nafsu kita.

Pada akhirnya, pilihan tetap ada di tangan kita. Apakah masih mau menjalani hidup dengan cara sendiri, atau bergegas menyerah dan kembali kepada Allah dan hidup dengan cara-Nya? Jika kita mencari ketentraman dan keselamatan hidup, tentu kita sudah tahu kan harus memilih yang mana? :)

Senin, 20 Mei 2019

Monday Love Letter #42 - Kesempatan Itu Masih Ada


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Alhamdulillah, sudah setengah jalan Ramadhan menemani hari-hari kita. Antara bersyukur, tapi juga sedih karena mau dinanti-nantipun, ia (Ramadhan) akan tetap berjalan pergi. Semoga kita bisa memanfaatkan hari-hari yang tersisa dengan sebaik-baiknya. Aamiin..

Sebelumnya mohon maaf atas keterlambatan suratnya yang datang malam-malam begini ya, sister. Badan saya drop setelah sepekan kemarin pergi kesana kemari untuk mempersiapkan sebuah event pesantren kilat bersama sahabat-sahabat komunitas. Alhamdulillahnya, lelahnya terbayar dengan bahagia. Alhamdulillah juga masih Allah mampukan menulis surat ini dan masih bisa bertegur sapa bersama para sister of Deen :)

Selepas isya tadi, saya tiba-tiba terinspirasi oleh sebuah tulisan lama di blog saya tentang sebuah tafsir dari QS. 4:69-70. Maka, di surat kali ini, saya ingin berbagi sesuatu sekaligus mengingatkan diri saya sendiri tentang sebuah cita-cita yang tentunya kita semua pasti menginginkannya, yaitu: masuk syurga. Adalah Quran dan Sunnah Rasulullah, yang jika kita ikuti dan amalkan, insya Allah akan membawa kita kepada syurga-Nya. Lalu kita berusaha mengamalkannya sebaik-baiknya, berproses dan berjuang untuk menjadi sebaik-baik hamba, menahan rindu agar kelak bisa bertemu dengan Rasulullah SAW di syurga-Nya Allah.

Tapi bagaimana jika amal kita tak cukup banyak untuk mendapatkan syurga tertinggi, sementara Rasulullah SAW pastilah ditempatkan Allah di syurga-Nya di tingkat yang tinggi. Masihkah kita bisa melepas rindu bertemu dengan beliau SAW?

Ternyata kekhawatiran ini pernah dirasakan juga oleh seorang shahabat.

Abu Bakar Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa dia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku, lebih aku cintai daripada keluargaku, lebih aku cintai daripada anakku. Aku tadi berada di rumah, lalu aku ingat engkau, maka aku tak sabar sehingga aku datang untuk melihatmu. Apabila aku mengingat kematianku dan kematianmu, aku tahu bahwa apabila engkau masuk surga nanti, maka engkau berada di tingkat yang tinggi bersama para Nabi. Sedangkan jika aku masuk syurga, maka aku khawatir tidak dapat berjumpa denganmu." Nabi SAW tidak menjawab sedikitpun sehingga turunlah QS. An-Nisaa : 69"

Allah berfirman dalam QS. An-Nisaa (4) : 69-70, "Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui."

Dalam tafsirnya Fi Zhilalil Quran jilid ke-4, Sayyid Quthub mengatakan, " ayat ini adalah sentuhan menarik setiap hati yang masih ada bibit kebaikan padanya, masih ada bibit kesalehanmasih ada sisa-sisa keinginan untuk mendapatkan kedudukan yang mulia dalam kumpulan orang-orang terhormat, di sisi Allah yang Maha Mulia. Berteman dengan golongan tinggi ini tak lain adalah karunia Allah. Maka, tidaklah seseorang dapat mencapainya hanya semata-mata dengan amalan dan ketaatannya saja. Sesungguhnya itu adalah karunia yang besar dan melimpah ruah."

Bagi saya, ayat ini menjadi angin segar karena berarti kesempatan untuk bersama-sama dengan Rasulullah di syurga nanti, masih tetap ada. Jangankan reuni dengan keluarga kita, reuni dengan Rasulullah dan para shahabatnya yang terpaut jarah 1500 tahun dengan kita saja bisa!

Bagaimana, tertarik juga kan dengan tawaran Allah untuk bisa bersama-sama di syurga bersama para Nabiyyin, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin? Kuncinya adalah ketaatan. Taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah janjikan pertemanan abadi dengan para golongan mulia di syurga-Nya. Semoga kita termasuk satu diantaranya. :')

Semoga tulisan sederhana ini bisa kembali memotivasi kita untuk kembali mengupayakan taat. Taat yang tanpa tapi, yang sempurna, yang sepenuh-penuhnya dan seikhlas-ikhlasnya.

Rabu, 15 Mei 2019

Mengapresiasi Kesabaran


"Terima kasih ya udah sabar sama Aa." adalah kalimat apresiasi dari suami paling bikin melting yang pernah kudengar. Berarti dia sadar kalo dia sering nyebelin (wkwk) tapi dia tetep berterimakasih karena aku bersabar terhadapnya. Terharu sih :')

Pernikahan mengajarkanku untuk siap menerima keseluruhan yang ada pada dirinya; kelebihannya juga kekurangannya. Bersyukur dan berterima kasih terhadap kebaikan pasangan mungkin mudah, tapi bersabar bersama kekurangannya terkadang menjadi tantangan tersendiri.

Kalau dipikir lagi, aku juga masih harus banyak belajar untuk bisa jadi istri yang baik; yang seimbang dalam setiap peran tanpa mengabaikan kewajiban dalam keluarga. Jujur susah sih, tapi suamiku bertahan bersama segala kekuranganku.

Dan aku berterimakasih untuk itu.

Bagiku, kesabarannya seperti menyimpan pesan yang tak terucap bahwa ia percaya padaku. Percaya bahwa aku bisa menjadi istri yang lebih baik lagi.

Dengan sabarnya, ia memberiku ruang untuk belajar, juga kesempatan untuk memperbaiki diri. Hanya dengan satu sikap sederhana; bersabar (eh dua deng) dan terus membersamai.

Terima kasih tak terhingga untukmu yang sudah bersabar membersamaiku selama 3 tahun ini. Terbaik 💞 

Senin, 13 Mei 2019

Monday Love Letter #41 - Menjadi VVIP di Akhirat

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana Ramadhanmu? Sudah mulai berasa pemanasannya? Tenang,, ini baru hari ke-8, masih ada 22 hari lagi sebelum Idul Fitri. Pastikan energimu masih cukup untuk meneruskan "maraton" ibadah di bulan ini ya! :)

Hmm, sebenarnya, tadinya saya tidak tahu mau menulis apa untuk ide Monday Love Letter hari ini. Sang ide sepertinya sedang menahan dirinya untuk mampir di kepala saya. Mumpung Ramadhan, ya saya manfaatkan saja buat berdoa, "Ya Allah, saya belum punya ide mau nulis apa hari ini, tolong beri inspirasi, Ya Allah.." Serius, saya beneran berdoa seperti itu. Haha.

Sore tadi, saya ada agenda keluar rumah. Alhamdulillah, punya waktu mencari inspirasi dulu selama menyetir motor, pikir saya. Dan benar saja, Allah memang Maha Baik dan Maha Mendengar Doa, di jalan, Allah memberi saya sebuah inspirasi. TING! Apakah ituu?

Saya tadi sedang menyusuri jalan raya yang cukup terkenal di Bandung, namanya Jl. Soekarno Hatta. Saat itu tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang, mungkin karena belum terlalu sore sehingga jalanan belum terlalu padat. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara sirine, saya melirik spion dan melihat ada motor polisi yang mengawal banyak mobil di belakangnya. Mobilnya tidak satu, tapi banyak! Mungkin ada sekitar 8 mobil yang dikawal oleh polisi tersebut, satu polisi mengawal di depan dan ada satu lagi polisi bermotor mengawal di belakang.

Saya refleks menepi, bahkan sampai berpindah ke jalur lambat. Tak lama kemudian deretan mobil berwarna hitam itu melewati saya. Saya juga melihat mobil-mobil yang lain menepi memberi jalan. "Wiih enak banget mobil-mobil itu karena dikawal polisi jadi lancar jalannya," pikir saya ketika itu. Saya nggak tahu sih itu rombongan pejabat mana, tapi jika sampai dikawal begitu, mereka-mereka ini pasti orang penting semua, ya kan?

Entah kenapa, hati kecil saya tiba-tiba berbisik, "Tuh Na, jadi orang pentingnya manusia aja diperlakukan seistimewa itu, gimana kalau jadi orang pentingnya Allah?"

Seketika saya teringat pada satu waktu di akhirat nanti, dimana setiap manusia akan melewati jembatan shiratal mustaqim. Jembatan paling menegangkan karena lebarnya hanya setipis rambut yang dibelah tujuh, barangsiapa tidak beriman pada Allah, tidak akan selamat darinya dan akan terjatuh ke dalam neraka yang menyala-nyala. Berbeda dengan mereka, para kekasih Allah, para Nabi dan para syuhada, justru melewati jembatan itu dengan aman bahkan ada yang secepat kilat sudah sampai di syurga. Berasa tamu VVIP, nggak perlu nunggu nggak perlu ngantri, langsung diantar ke syurga dengan secepat kilat. Ngiri banget kaan :")

Di padang mahsyar pun sama, di saat matahari didekatkan hingga seluruh manusia bermandikan keringat, orang-orang kesayangannya Allah tidak merasakan panas karena Allah naungi dengan awan. Tidak ada kekhawatiran di wajahnya, yang ada justru perasaan rindu dan bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Rabb yang dicintainya.

Begitu banyak keistimewaan yang didapat ketika Allah memuliakan hamba-Nya. Ketika datang kematian padanya, Allah memerintahkan malaikat izrail untuk mencabut nyawanya dengan lembut. Di alam kubur, ia mendapat nikmat kubur; diperlihatkannya syurga dan berbagai kenikmatannya yang disediakan sebagai tempat tinggal yang kekal untuknya.

Waahh, gimana, pengen banget atau pengen aja nih jadi orang pentingnya Allah? Tentunya yang mendapatkan kesempatan itu bukanlah orang yang diam, bukan orang yang berjuang sekedarnya, bukan orang yang cetek imannya. Mereka yang beruntung dan diperlakukan seperti VVIP di akhirat nanti tentu adalah orang yang sudah betul-betul teruji keimanannya, berjuang habis-habisan hingga terbeli harta dan jiwanya dengan syurga.

Presiden saja tidak sembarang mengundang orang ke istana, mereka yang bisa bertemu presiden ke istana pastilah orang yang telah melakukan prestasi yang membanggakan dan menggembirakan serta telah berkontribusi besar untuk negeri ini. 

Lantas jika kita ingin masuk ke syurganya Allah dan berjumpa dengan Allah, sudah melakukan apa yang kira-kira membanggakan dan menggembirakan Allah? Jika ingin diperlakukan spesial oleh Allah di hari akhir nanti, pengorbanan seperti apa yang telah dilakukan demi Dia yang kita cintai?

Yuk ah, kita semangat lagi dan semangat terus mengejar ridho-Nya Allah! Biar bisa jadi VVIP di akhirat nanti; yang dimudahkan hisabnya, dilindungi dari siksa neraka, bisa bertetangga dengan Rasulullah di syurga, dan diberi kenikmatan bisa bertemu dengan Allah. Aamiin, allahumma aamiin.. :')

Monday Love Letter #40 - Ramadhan Mode: ON


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Alhamdulillah, senang sekali masih bisa bertegur sapa denganmu lewat Monday Love Letter. Dan rasanya kali ini lebih spesial karena ini Ramadhan pertama kita bersama Sister of Deen Project, ya kaaaan? Hehe. #ciee

Saya bersyukur luar biasa bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun ini. Setiap kali sedang melakukan sesuatu dan tersadar bahwa hari ini sudah bulan Ramadhan, saya merasa bahagia dan bersyukur. Sepertinya baru kali ini saya se-happy itu ketemu Ramadhan dan nunggu-nungguin banget dari bulan Rajab kemarin. Alhamdulillah kerinduan saya pada Ramadhan tidak bertepuk sebelah tangan dan Allah masih mengizinkan saya dan kita semua untuk bertemu dengan bulan yang penuh kemuliaan ini. Saya yakin kamupun sedang merasakan kebahagiaan dan kebersyukuran yang sama, bahkan mungkin lebih dari yang saya rasakan. Selamat menikmati "sajian-sajian" Ramadhan ya sister, semoga Allah senantiasa membimbing dan menjaga sampai jiwa kita terhantarkan menuju takwa. Aamiin..

Sister, apakah kamu pernah mendengar istilah tazkiyatun nafs? Tazkiyatun nafs terdiri dari 2 kata yaitu at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna pensucian atau pembersihan. Masih satu akar kata dengan zakat yang mana tujuan dari syariat zakat adalah untuk mensucikan harta dan jiwa kita. Adapun kata an-nafs berarti jiwa atau nafsu. Jadi secara bahasa tazkiyatun nafs berarti pensucian jiwa dari segala yang mengotorinya.

Saya bukan pakar bahasa arab, tapi entah kenapa kalimat tazkiyatun nafs terdengar begitu cantik di telinga saya. Jika kita kaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sebenarnya perihal pembersihan bukanlah hal yang asing. Bersih-bersih termasuk hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita mandi untuk membersihkan badan, kita juga punya jadwal untuk membersihkan kamar atau kosan kita, ditingkat RT para warga biasanya mengadakan kerja bakti rutinan untuk membersihkan lingkungan sekitar. Dari lingkup terkecil yaitu diri sendiri sampai lingkup yang lebih besar, butuh pembersihan. Bahkan Allahpun melakukan "pembersihan" terhadap bumi dengan diturunkannya hujan.

Mengapa kita perlu melakukan bersih-bersih secara berkala? Ya, karena debu dan kotoran ada dimana-mana. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus bersih-bersih rumah, saya kadang suka bergumam, "Ini kok debu ada aja sih, heran." Haha, padahal ya itu hal yang biasa. Akan ada saat dimana kita harus membersihkan debu dan kotoran yang terlihat di sekitar kita.

Nah, begitu pula dengan jiwa kita. Sadar tidak sadar, sengaja atau tidak, jiwa kita juga pasti sering terkotori oleh hal-hal yang mengotorinya. Apa sajakah itu? Yang paling fatal adalah ketika kita tidak sadar sedang menduakan (bahkan mentigakan, mengempatkan, menglimakan)  Allah. Allah yang seharusnya menjadi satu-satunya yang dicintai, diibadahi dan dituju, secara perlahan mulai dikesampingkan oleh harta kita, pekerjaan kita, karir, bisnis, pasangan, anak, cita-cita, dan sebagainya yang membuat kita tak lagi menomorsatukan Allah dalam kehidupan kita. Ini harus dibersihkan, karena jika dibiarkan berarti kita sedang menanam potensi syirik di hati kita. Naudzubillahi min dzalik.

Kotoran jiwa lainnya adalah dosa; pelanggaran syariat atas perintah dan larangan yang telah Allah tetapkan dalam al-Quran. Ini jelas harus dibersihkan dengan taubat. Belum lagi "debu-debu" yang terkadang tidak kita sadari seperti berprasangka buruk terhadap orang lain, membicarakan kejelekan orang lain, menyimpan dendam terhadap orang lain, atau niat yang tidak lurus dalam beribadah. Dikarenakan jiwa ini sangat rentan terhadap hal-hal yang mengotorinya, maka diperlukan tazkiyatun nafs secara berkala. Ramadhan, adalah salah satu waktu yang dikhususkan untuk itu.

Ramadhan menjadi kesempatan sekaligus jalan bagi siapapun yang ingin membersihkan jiwanya. Dengan adanya syariat shaum, kita diperintahkan untuk menahan. Tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan nafsu dan menahan dari hal-hal yang bisa merusak amal shaum kita.

Ramadhan juga memfasilitasi siapapun hamba Allah yang rindu dan ingin kembali kepada Allah dengan disuburkannya majelis-majelis ilmu, dzikir dan lantunan ayat suci al-Quran bertebaran dimana-mana, lingkungan yang betul-betul kondusif karena ajakan kepada kebaikan dan kebenaran ada dimana-mana, dilengkapi dengan perintah zakat untuk membersihkan harta dan jiwa.

"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan padanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams (91) : 7-10)

Tak heran, Idul Fitri disebut momen kembali fitrah, kembali suci. Tentu saja tidak bagi semua orang, tetapi hanya bagi mereka yang berhasil men-tazkiyah jiwanya melalui Ramadhan. Ya, makna Idul Fitri tidak hanya sekedar perayaan hari raya, tapi sebagai perayaan kemenangan atas keberhasilannya membersihkan harta dan jiwa dan sebagai titik awal yang baru untuk siap meningkatkan kualitas jiwanya menjadi mulia dihadapan Allah, karena itulah Syawal disebut juga sebagai bulan peningkatan.

Allah sudah begitu baik memberikan kita kesempatan untuk membersihkan jiwa kita melalui Ramadhan ini. Banyak hadits menyebutkan keutamaan Ramadhan, salah satunya adalah pintu surga yang dibuka seluas-luasnya dan kesempatan untuk mendapat ampunan Allah. Semoga kita bisa bersyukur atas itu dan tidak menyia-nyiakannya.

Marhaban yaa Ramadhan! Selamat menepi dari keriuhan dunia, selamat berjuang menjadi sebaik-baik hamba, selamat melepas rindu pada Dia yang sebetulnya jauh lebih merindukan kita. Ramadhan mode: ON.

Senin, 06 Mei 2019

Monday Love Letter #39 - Sebab Kita Tak Pernah Terlalu Tua Untuk Apapun

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana rasanya sebentar lagi akan kedatangan bulan Ramadhan? Kurang lebih sepekan lagi Tamu Agung itu akan menyapa kita semua, Insya Allah. Semoga Allah sampaikan usia agar dapat bertemu Ramadhan, mengingat (kalau saya sih) masih banyak PR-PR perbaikan diri yang belum terealisasi, berharap Allah masih memberi kesempatan dan membuka lebar pintu ampunan-Nya untuk kita. :')

By the way, I'm turning 27 today.

Jadi semakin banyak merenung, sudahkah berkah setiap usia yang terlewati tahun demi tahun? Lalu seandainya jatah usia yang Allah beri tinggal sedikit lagi, sudahkah cukup aset-aset yang dikumpulkan di dunia agar bisa meraup untung besar di akhirat? Fix harus lebih jor-joran lagi beramal dan berkarya untuk Allah, berusaha menjadi hamba yang semakin mencintai Allah dan dicintai-Nya. Titip doa-doa terbaikmu untuk saya ya, sister. Please keep me in your du'a :) *tapi dalam hati aja ya doanya, kalau di-reply nanti saya kewalahan balasnya hehehe :P

Bicara tentang umur yang semakin bertambah, kadang suka ada perasaan saya-masih-pantas-nggak-ya dalam berbagai hal. Mau terlibat di organisasi atau komunitas mikirnya, "Saya masih pantas nggak ya, kan saya sudah bukan anak kuliahan lagi." Mau kuliah lagi atau ikut kursus mikirnya, "Masih pantes nggak sih, saya kan sudah umur segini. Malu sama yang lain, banyaknya yang lebih muda." Ya memangnya kenapa? Terkadang perasaan seperti ini justru malah jadi racun yang menghambat kita untuk terus bertumbuh.

Belum lagi kalau ada perasaan-perasaan merasa terlambat seperti, "Nyesel deh baru rajin ikut-ikut kajian sekarang, harusnya dari dulu nih.." atau "Kenapa sih nggak belajar dari dulu, kalau dulu lebih rajin kan sekarang saya nggak akan kewalahan begini (dalam agama, pernikahan, parenting, karir, bisnis, dll).." Yang biasanya berakhir dengan penyesalan dan menyalahkan diri sendiri. Hayoo, pernah merasakan juga? Jika perasaan terlambat itu menjadi motivasi untuk melaju lebih cepat sih tidak apa, namun yang bahaya adalah ketika ujungnya kita memilih untuk berhenti belajar dan bertumbuh.

Saya juga pernah merasakan penyesalan-penyesalan semacam itu, tapi percayalah, berlarut dalam penyesalan tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan. Berhentilah menatap lembaran yang kotor dan segeralah beralih ke lembaran yang baru yang masih bersih. Kita seringkali lupa mensyukuri kesempatan baru yang Allah berikan untuk digunakan lebih baik dari kesempatan sebelumnya

Mungkin surat ini lebih spesifik ditujukan kepada mereka yang sudah merasa terlalu tua untuk mencapai sesuatu atau belajar sesuatu. Tetap semangat ya sister, bertambah tua adalah satu hal yang pasti namun menjadi pembelajar adalah proses seumur hidup. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, apalagi mempelajari ilmu-Nya. Tidak juga ada kata terlambat untuk mengupayakan sesuatu, karena apapun yang Allah takdirkan menjadi rezeki kita, tidak akan pernah meleset datangnya. Tugas kita adalah terus berupaya, terutama mengupayakan diri meraih sebaik-baik kemuliaan di hadapan Allah.

Jika sedang merasa tak pantas untuk berupaya menjadi lebih baik, saya selalu menjadikan kisah Umar bin Khathab r.a sebagai penyemangat. Sayyidina Umar r.a dulunya adalah seorang yang sangat ahli maksiat, kebenciannya kepada Rasulullah SAW amatlah besar hingga berusaha untuk membunuh Rasulullah. Namun Allah telah memilihnya keluar dari gelapnya jahiliyah menuju kepada cahaya Islam hingga hari ini kita mengenal Umar bin Khathab r.a sebagai khalifah kedua yang sangat terkenal dengan keadilannya dan kewibawannya. Beliau tidak menyia-nyiakan "lembaran baru" yang Allah berikan dan mengisinya penuh dengan amal shaleh dan amal jihad. Masya Allah, tabarakallah. Spirit beliaulah yang selalu menjadi penyemangat saya untuk sebisa mungkin berusaha untuk tidak menyia-nyiakan setiap hari baru yang datang.

Kisah beliau membuktikan bahwa setiap orang selalu bisa menggunakan kesempatan keduanya, setiap orang berhak mengisi lembaran barunya dengan kisah yang betul-betul baru yang bahkan berbeda 180 derajat dari lembaran yang telah lalu. Dalam QS. 39:53, Allah bahkan menyuruh kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Maka, selama masih ada nafas, selama itu pula kita masih bisa memilih untuk menjadi pembelajar dan terus bertumbuh serta berproses menjadi hamba yang Allah inginkan. Kapanpun dan di umur berapapun.

Allah Maha Baik kan? :))

Senin, 29 April 2019

Monday Love Letter #38 - Merawat Jiwa Sampai ke Syurga

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!Bagaimana perasaanmu saat ini? Semoga tetap semangat dan bahagia ya! Dari kemarin saya menunggu-nunggu hari Senin, karena ingin menceritakan suatu hikmah yang saya dapat dari hari Ahad kemarin kepadamu. Iya, sesemangat itu pengen curhat! Hehe

Jadi ceritanya, kemarin sore qodarullah ban motor saya bocor. Ketika saya sedang berkendara, tiba-tiba saja ban belakang bocor, awalnya masih saya naiki sambil mencari tambal ban terdekat, tapi tambal ban terdekat yang saya temui ternyata rusak alatnya, jadi saya otomatis ditolak (hiks) dan harus mencari tambal ban yang lain. Lama-lama saya nggak tega sama bannya, dan dari pengalaman yang sudah-sudah, jika ban motor yang bocor dipaksa untuk dinaiki terus menerus, lama kelamaan akan merusak ban dalam yang berujung ban dalamnya harus diganti (yang menyebabkan harus membayar lebih mahal, huhu). Jadilah motornya saya dorong -- di saat matahari sore sedang terik-teriknya. 

Tambal ban kedua yang saya temukan, tutup. Baiklah,, mungkin Allah sedang memberi kesempatan saya untuk berolahraga.. Sesampainya di tambal ban ketiga, kiosnya baru saja tutup! Saya melihat sendiri bapak tambal bannya baruuu saja memasukkan peralatannya ke dalam kios. Dengan berat hati dia menolak saya, "maaf neng, tutup.." Saya sempat kecewa saat itu, tapi yasudahlah, mungkin bapaknya mau istirahat. Lagian kalaupun dia mengiyakan, keluar-keluarin barangnya lama lagi siih, wkwk. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan mencari tambal ban lagi. Beruntung, di tambal ban yang keempat, buka. Alhamdulillah.. Antara bersyukur ada tambal ban yang buka, juga bersyukur karena akhirnya saya berhenti juga dorong motor. Haha. Ya bayangin aja, nyari tambal ban itu tidak semudah nyari alf*mart yang kalo tutup kita tinggal ke ind*maret sebelahnya aja (iya kan mereka suka sebelahan, heran deh). Kalau tambal ban kan kadang beberapa ratus meter baru nemu lagi. Jadi bayangin aja, saya sudah melewati 4 tukang tambal ban, jadi sejauh apa saya harus dorong motor. :')

Yak curhatnya segitu dulu ya. Singkat cerita, ban motornya selesai ditambal dan sayapun melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya. Di jalan, saya mikir. Peristiwa ban bocor ini bukan yang pertama, tapi saya baru benar-benar mengambil hikmahnya dari kejadian yang kemarin.

Sepanjang perjalanan saya berpikir, bahwa hidup ini sejatinya memang sebuah perjalanan. Seperti halnya saya, yang saat itu sedang menuju sebuah tujuan, dan menggunakan motor sebagai kendaraan. 

Ada kalanya, motor saya bensinnya habis, atau mogok, atau ada bagian yang rusak sehingga perlu diservis secara berkala untuk mengembalikan kondisinya agar kembali prima. Ya, servis adalah hal yang biasa untuk menjaga performa sebuah kendaraan. Jika tidak diservis, kerusakan akan makin parah, bahkan berujung tidak bisa digunakan lagi. *Para "Valentino Rossa" pasti mengerti lah yaa~ hehe.

Namun sebagus-bagusnya kendaraan, tidak akan jalan jika tidak ada pengemudinya atau kondisi pengemudinya tidak prima. Disamping kondisi kendaraan yang baik, kondisi pengemudi juga perlu prima dong. Jika pengemudi sakit dan memaksa menyetir, justru membahayakan keselamatannya. Jika pengemudi lelah, terkadang di jalan ia harus berhenti dulu untuk mengembalikan tenaga, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Baik kendaraan maupun pengemudi, sama-sama membutuhkan kondisi yang prima agar sampai di tujuan dengan lancar dan selamat.

Begitu pula dalam hidup ini. Hari ini kita juga sedang melakukan suatu perjalanan bukan? Perjalanan menuju akhirat dengan surga sebagai destinasi terakhir yang tentunya kita semua berharap bisa sampai kesana. 

Saya menganalogikan fisik kita sebagai kendaraannya, dan ruh/jiwa kita sebagai pengemudinya. Ruh dan jasad; dua komponen penting yang membuat manusia disebut manusia. Pada awalnya jasad kita tidak bernyawa, lalu di usia janin yang ke-4 bulan, sebuah ruh ditiupkan oleh Allah sehingga hiduplah jasad kita. Maka fisik yang saat ini kita gunakan adalah 'kendaraan' yang Allah pilihkan agar ruh kita bisa menjelajah di bumi dan menjalankan tujuan penciptaannya. Ya, ruh sebagai pengemudinya karena yang sebenarnya melakukan perjalanan adalah ruh, bukan jasad. Ketika manusia meninggal, ruh akan kembali kepada Allah, sementara jasad kembali menjadi tanah karena masa pakainya sudah selesai. 

Maka, jika hidup adalah sebuah perjalanan panjang menuju sebuah tujuan, perlu kondisi yang prima dari 'kendaraan' maupun 'pengemudi'nya. Keduanya butuh 'servis' secara berkala. Namun apa yang seringkali menjadi perhatian kita? Kebanyakan orang hanya memperhatikan keperluan fisik semata; makan enak, cari hiburan ke mall, perawatan wajah/badan, belanja baju baru, dan seterusnya. Sementara jiwanya ia biarkan lapar, haus, sakit, tidur, bahkan mati. 

Lalu apa akibatnya jika jiwa dibiarkan tanpa 'makan'? Dirinya akan bingung dengan arah hidupnya karena kemudi dan pengarah jalannya tidak berfungsi dengan baik. Hati-hati dengan jiwa yang sakit, karena sebagus apapun fisik, secantik apapun paras, tetap tidak akan selamat jika jiwa atau ruhiyahnya tidak terisi dan tidak hidup.

Jika selama ini kita masih sering mengabaikan kebutuhan jiwa kita, sudah saatnya kita serius merawatnya. Barangkali kegelisahan yang selama ini kita rasakan dikarenakan jiwa kita yang kehilangan tempat bergantungnya yaitu Allah. Barangkali kesedihan yang kita rasakan dikarenakan jiwa kita yang tidak dekat dengan sumber bahagianya yaitu Allah. Barangkali ketakutan yang tak kunjung hilang dikarenakan jiwa kita sudah lama tidak dibersamai Allah yang Maha Menjaga. 

Rawat jiwa kita seserius kita merawat fisik kita. Karena sekali lagi, kendaraan dan pengemudi, perlu sama-sama dalam kondisi prima untuk bisa selamat hingga tujuan. Recharge jiwa kita dengan asupan ruhiyah terbaik sehingga Allah senantiasa menjaga dan melindungi perjalanan kita hingga selamat sampai ke surga. Aamiin!

Senin, 15 April 2019

Monday Love Letter #37 - Mendeteksi Kebahagiaan

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabarnyaa sisterkuu? Kok saya kangen ya rasanya, nulis Monday Love Letter. Padahal kan jeda waktunya sama aja, dari Senin ke Senin. Hahaha. Mungkin karena sepekan kemarin saya menghadapi hari-hari yang lumayan hectic jadi waktu terasa lamaaa sekali berlalunya :')

By the way, Ramadhan makin dekat ya, kerasa makin deg-degan nggak? Takut siap-siapnya kurang, tapi juga berharaaap sekali usia bisa sampai di bulan Ramadhan. Allahumma ballighna Ramadhan, Ya Rabbana.. Semoga kita bisa bertemu Ramadhan lagi ya tahun ini, tentunya dengan persiapan yang lebih baik dan komitmen yang lebih kuat. Aamiin.

Sebelumnya maafkan suratnya datang malam-malam begini, semoga sambil beristirahat, surat ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama ya.. Saya cukup lama mengendapkan tulisan ini di-draft, mengetiknya pun hampir seharian. Jadi bacanya pelan-pelan aja ya sambil diresapi :)

My sister, pernah nggak mendengar, katanya manusia itu hidup untuk mencari bahagia. Bahkan ada teori, jika seseorang ditanya alasan mengapa dia melakukan sesuatu, alasan paling akhir adalah agar bahagia. Saya pernah mendengar seseorang ditanya tentang alasan mengapa dia datang ke sebuah kelas menulis. Percakapannya kurang lebih seperti ini;

"Kenapa kamu datang kesini?"
"Mau belajar nulis"

"Kenapa mau belajar nulis?"
"Karena mau jadi penulis."

"Kenapa kamu mau jadi penulis?"
"Karena saya suka menulis."

"Kenapa suka menulis?"
"Hmm, kalau saya sih nulis biar nggak stress. Biar lega, bisa membebaskan pikiran dan perasaan."

"Kenapa kamu harus merasa lega? Kenapa nggak mau stress?"
"Simpel saja, karena saya mau bahagia."

Ternyata, dari hal kecil untuk menemukan alasan dibalik mengapa seseorang hadir ke sebuah kelas menulis, alasan paling akhirnya adalah agar bahagia.

Contoh lain, saya pernah menghadiri sebuah sharing kecil-kecilan bersama teman-teman pengurus mesjid waktu saya kuliah dulu. Waktu itu pembicaranya membahas tentang pentingnya membuat tujuan. Dia memulai sharingnya dengan satu pertanyaan; "Kita kan mau bahas tentang pentingnya tujuan nih, emang kenapa sih kita harus menentukan tujuan?"
"Supaya hidup kita terarah," jawab salah seorang teman.
"Kenapa hidup kita harus terarah?"
"Ya supaya jelas hidupnya mau kemana," jawab teman saya yang lain.
"Kenapa menjalani hidup harus jelas?" tanyanya lagi, kita semua mikir.
"Biar nggak terombang-ambing hidupnya, ya jelas aja gitu." Kami semua mulai buntu memikirkan jawabannya.
"Iya memangnya kenapa hidup kita harus terarah, harus jelas, jangan terombang-ambing tuh kenapa?"
"….." semua berpikir. Begitupun saya. Iya ya, kenapa ya? Apa yang saya rasakan ketika punya tujuan?
"Hmm, bahagia?" Akhirnya saya menjawab.
"Nah! Tepat."

See? Bahkan untuk hal yang besar seperti menetapkan tujuan saja ternyata ujungnya kita ingin bahagia. Cobain deh, bertanya kepada diri dengan 5 lapisan pertanyaan "mengapa?", ujungnya kita akan menemukan bahwa kita itu sebenarnya ingin bahagia.

Tapi kemudian saya berpikir, apakah benar bahagia yang menjadi tujuan dari hidup manusia? Pasalnya, saya banyak melihat, ketika seseorang akhirnya berhasil "menjemput kebahagiaan"-nya, ternyata hidupnya tetap saja merasa hampa. Ada (bahkan banyak) orang-orang yang merasa hampa dalam kebahagiaannya, seakan bukan itu sebenarnya yang dia cari.. Seperti ada hal lain yang seharusnya masih ia capai.  Apakah kamu pernah merasakannya juga?

Kalau begitu, pertanyaannya seharusnya masih berlanjut ya? Dilanjut dengan; "Kenapa harus bahagia? Kalau udah bahagia terus apa?" Pertama kali saya menanyakan pertanyaan ini kepada diri sendiri, saya jawab, "Ya udah, abis bahagia ya udah, mati." 

Tapi apakah semua orang siap mati dengan beragam kebahagiaan yang telah dicapainya? Apakah setelah punya uang banyak, setelah keinginan naik jabatan terwujud, setelah menikah dan punya anak, setelah populer dan jadi terkenal, lantas semua kebahagiaan itu membuat seseorang siap mati? Belum tentu, kan? Ternyata diberlimpahi oleh kebahagiaan dunia belum tentu menjadikan kita siap untuk menghadap Allah dan menghadapi Hari Pertanggungjawaban.

Disini saya baru paham bahwa ternyata ada kebahagiaan yang semu, yaitu kebahagiaan yang tidak bernilai ketika berhadapan dengan kematian. Sebab, kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita berhasil menjawab satu pertanyaan ini; "Apakah setelah mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan itu, kamu siap kembali kepada Allah?" Jika jawabannya ya, maka hal yang kita kejar hari ini, bisa jadi adalah hal yang benar.

Jika jawabannya tidak, mungkin kita harus mendefinisikan ulang makna sukses dan bahagia versi kita. Karena bisa jadi bukan cita-cita atau keinginan kitanya yang salah, tapi niatnya. Kita hanya berpikir pendek sehingga bahagia itu sebatas apa-apa yang bisa kita dapatkan di dunia, padahal maknanya lebih dari itu. Kebahagiaan yang selama ini kita upayakan, mestilah bernilai jika berhadapan dengan kematian.

Memang, manusia itu hidupnya mencari bahagia. Sayangnya banyak manusia mengejar kebahagiaan yang semu, padahal sebetulnya jauh di alam bawah sadarnya, bukan kebahagiaan dunia yang ia inginkan, melainkan kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah. Jauh di alam bawah sadar manusia, yang benar-benar manusia inginkan adalah akhir kematian yang baik.

Tak heran, panggilan Allah untuk merekapun begitu menenangkan,
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." -QS. Al-Fajr (89) : 27-30

Ya, kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika Allah memanggil kita kembali, dan kita berbahagia karenanya.. Sebab kita telah menemukan tujuan kita yang sebenarnya. Menuju Allah.

Jangan salah memilih keinginan, jangan salah menentukan tujuan, jangan salah mengupayakan sebuah kebahagiaan. Karena (bisa jadi) tidak semua kebahagiaan yang kita kejar, ada nilainya jika berhadapan dengan kematian.

Senin, 08 April 2019

Monday Love Letter #36 - Mengejar Berkah, Mengikis Sombong

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Sudah tahu belum, Sister of Deen Project sekarang punya website loh.. Masih sederhana banget sih, tapi seiring berjalannya waktu insya Allah akan semakin dikembangkan. Mohon doanya ya! Untukmu yang baru bergabung dan penasaran dengan isi surat-surat sebelumnya, bisa juga membacanya melalui website. Yuk berkunjung ke "rumah" kami di:  bit.ly/sisterofdeenproject :)

Anyway, beberapa hari lalu saya membaca inbox di email Sister of Deen sambil mencicil membalas beberapa pesan yang belum terbalas, lalu ada satu email yang pertanyaannya cukup menarik. Pertanyaannya adalah, "Teh, bagaimana cara agar kita terhindar dari merasa lebih baik dari orang lain?" Saya tersenyum membacanya. Setidaknya, pertanyaan seperti ini juga pernah menggelisahkan saya ketika saya merasa lebih tahu atau merasa lebih baik dari orang lain.

Ketika kita melihat orang yang baru saja berhijrah misalnya, pernahkah terbersit perasaan bahwa diri ini lebih baik dari orang itu? Atau ketika kita baru saja mempelajari suatu ilmu, lalu kita tinggi hati dan merasa paling pandai dengan ilmu yang kita miliki. Atau ketika kita memiliki jabatan yang lebih tinggi, kita berlagak senior dan merasa lebih hebat daripada junior kita. Banyak sekali celah untuk kita merasa lebih baik dari orang lain padahal bisa jadi kesombongan-kesombongan kitalah yang jutstru membuat diri kita buruk di mata Allah. Na'udzubillah..

Kamu pernah dengar tidak, bahwa ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawadhu'. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.

Adanya rasa sombong, justru menandakan bahwa ilmu yang kita miliki masih sangat dangkal. Akibat dangkalnya ilmu yang dimiliki, muncullah perasaan lebih mulia, lebih hebat, lebih pintar, bahkan memandang rendah orang lain yang belum berilmu seperti dirinya. Semoga kita terhindar dari sifat sombong ini ya, sister.

Lalu ditahap kedua, seorang yang terus menuntut ilmu akan menjadi orang yang tawadhu', yaitu merasa rendah hati. Seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk. Dan seiring dengan bertambahnya ilmu yang dipelajari, semakin ia akan menyadari bahwa masih banyaaak sekali ilmu yang belum ia ketahui. Semakin ia sadar bahwa ilmu Allah itu amat luas, semakin ia merasa haus ilmu dan terus merasa kurang akan ilmu. Maka ia akan terus mencari, mencari, dan menambah khazanah keilmuannya.

Imam Syafi'I pernah berkata, "Setiap aku mendapat pelajaran dari masa, setiap itu pula aku tahu segala kekurangan akalku. Setiap ilmuku bertambah, setiap itu pula bertambah pengetahuanku akan kebodohanku."

Sekaliber ulama besar seperti Imam Syafi'I saja berkata seperti itu. Tidak akan sempat merasa sombong, ia yang terus menambah ilmunya, sebab sadar bahwa ilmu yang ia pelajari hanyalah setitik dibandingkan ilmu Allah yang luasnya melebihi langit dan bumi. Ini yang perlu kita sadari; bahwa kita ini kecil, lemah dan bodoh jika dihadapan Allah. Apa yang bisa disombongkan? Jika ada satu yang boleh sombong, ya hanya Allah.

Tapi bicara tentang ilmu, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Bukan tinggi atau banyaknya ilmu yang kita kejar, tapi keberkahannya. Rasulullah SAW tidak hanya meminta ilmu yang banyak, tapi juga ilmu yang berkah. Seperti apa ilmu yang berkah itu? 

Ilmu yang berkah adalah ilmu yang diamalkan, ilmu yang memunculkan keinginan beribadah kepada-Nya, ilmu yang menumbuhkan ketakwaan. Karena percuma jika kita mempelajari banyak ilmu, tapi ilmu tersebut tidak kita amalkan dan tidak menjadikan kita menjadi hamba yang semakin taat kepada-Nya.

Di sebuah kajian diskusi, seorang sahabat pernah berkata kepada saya, "Yang dinilai Allah kan amal sholeh, bukan ilmu sholeh." Kalimat itu langsung mengena ke dalam hati dan selalu terngiang hingga sekarang sebagai reminder bahwa yang Allah lihat adalah sejauh mana kita bisa mengamalkan ilmu yang kita miliki. Untuk bisa beramal, kita butuh ilmu. Maka menuntut ilmu haruslah berdampak kepada bertambahnya amal sholeh kita.

Nah, coba pikir deh. Bukankah tenteram, jika kita berfokus kepada pengamalan atas ilmu yang kita miliki? Kayaknya nggak akan ada tuh ceritanya nyinyir sama orang lain, merendahkan orang lain, merasa benar dan lebih baik dari orang lain, karena kita berfokus kepada peningkatan kualitas iman dan amal kita dihadapan Allah. Jika ingin membanding-bandingkan diri, bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri kita yang kemarin. Sudahkah diri kita lebih baik, lebih taat, lebih shalehah?

Lalu apakah kita tidak usah menyampaikan ilmu kepada orang lain atau mengingatkan orang lain? Tentu saja tidak. Kejar saja dulu keberkahannya dan rasakan manfaat ilmu itu untuk diri kita sendiri. Nanti jika kita sudah merasakan manfaat atas ilmu yang kita miliki, kita akan dengan sendirinya menyampaikan kepada orang lain agar orang lain juga mendapat manfaat dari ilmu yang pernah kita pelajari. Insya Allah.

Selamat meraih keberkahan ilmu, sister! Semoga setiap ilmu yang kita pelajari dan kita amalkan, membawa kita kepada kualitas diri yang lebih baik dihadapan Allah. Aamiin.

Monday Love Letter #35 - "Mencuri" Mindset

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya mohon maaf ya sister, Monday Love Letter dari saya baru bisa dikirim Selasa pagi dikarenakan malam tadi jatah kirim email per harinya sudah melebihi batas yang disediakan oleh layanan email marketing yang kami gunakan. Semalam kami cukup panik karena email yang sudah disiapkan ternyata tidak bisa dikirim, tapi juga bahagia di saat yang sama karena jumlah sisters of Deen yang bergabung semakin banyak. Untukmu yang baru saja bergabung, selamat datang ya, sister!

Bagaimana kabarmu selama sepekan kemarin? Bisa jadi banyak ups and downs-nya ya, tapi percayalah, di setiap takdir dari-Nya, Allah sedang menyiapkan hikmah terbaik untuk kita. Persoalan selanjutnya adalah apakah kita cukup peka untuk menangkap hikmah itu. Semangat ya!

Anyway, kamu suka nggak sih berselancar di media sosial? Biasanya apa yang dilihat atau ditonton? Hari gini, siapa sih ya nggak suka buka sosmed. Saya juga suka soalnya. Hehe. Saya selalu meluangkan waktu setiap harinya untuk setidaknya mengintip dunia maya. Baik itu membuka instagram, menonton youtube, atau membaca blog orang lain.

Dulu sih, buka sosmed untuk sekedar mengisi waktu luang, tapi biasanya malah jadi keterusan. Hehe. Jadi sebulan ke belakang saya sudah mulai mengurangi intensitas berselancar dunia maya dan hanya melihat hal-hal yang bermanfaat saja. Saya mulai mengalihkan fungsi media sosial yang awalnya digunakan sebagai hiburan saja, menjadi tempat untuk saya mencari informasi, serta membaca atau membagi sesuatu yang positif. Tapi sebenarnya bukan tentang sosmednya yang ingin saya bahas, melainkan tentang konten yang biasanya kita nikmati.

Akhir-akhir ini, saya sedang suka dengan video-video yang berisi wawancara orang-orang yang sukses di bidangnya. Tidak hanya itu, saya juga suka membaca caption-caption instagram yang isinya berisi kisah inspiratif dari pemilik akun yang bersangkutan. Saya juga sangat menikmati membaca beberapa blog inspiratif yang saya follow karena bisa membuka sudut pandang saya dan seringkali saya mendapat banyak ilmu dari sana.

Hal-hal tersebut saya lakukan, karena saya percaya, kesuksesan setiap orang itu pasti berawal dari mindsetnya. Dan konten-konten yang menginspirasi saya adalah konten yang berhasil mengubah mindset saya menjadi lebih baik. Jadi jika kita ingin menjadi penulis yang sukses, coba deh, tonton atau baca kisah-kisah penulis sukses dan temukan bagaimana cara dia berpikir. Jika ingin menjadi pebisnis sukses, cari tahu kisah sukses mereka dan "curi" bagaimana mindset orang tersebut.

Ya, semua berawal dari mindset atau pola pikir. Di seminar-seminar motivasi mungkin kita sering mendengar bahwa pola pikir membentuk sikap dan tindakan, tindakan membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter membentuk nasib kita. Maka, merubah nasib dimulai dengan mengubah mindset. Mengubah karakter, juga dimulai dari mengubah mindset.

Kemudian saya jadi berpikir tentang keberhasilan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Mereka telah sukses membuktikan diri menjadi hamba yang Allah ridhoi, mereka telah berhasil melewati segala ujian hidup di dunia dan berhasil memenangkan tiket masuk syurga dari Allah. Kira-kita seperti apa ya mindset mereka sehingga mereka bisa sehebat itu? Jika selama ini kita selalu berpikir bagaimana mindset dan cara seseorang dalam mendapatkan kesuksesan dunia, apakah kita juga se-kepo itu untuk menyelami kisah sukses para shahabat dan shahabiyah terdahulu?

Pernahkah kita menyadari bahwa ada mindset yang luar biasa yang membuat seorang budak bernama Bilal bin Rabbah rela disiksa dan dicambuk sambil ditindih batu besar di atas padang pasir yang panas? Tidakkah kita penasaran pada mindset seorang Abu Bakar r.a yang senantiasa membenarkan perkataan Rasulullah dan menjadi pendukung nomor 1 beliau? Lantas bagaimana mindset manusia teragung sepanjang sejarah, Rasulullah SAW, sehingga beliau bisa bertahan di tengah ancaman, serangan, dan hinaan kaum musyrikin kepada dirinya? Sungguh, jika ada mindset yang perlu kita tiru, mindset merekalah jawabannya.

Adalah Allah, yang selalu memenuhi pikiran mereka dan selalu menjadi tujuan bagi mereka. Lafadz Laa Ilaha Illallah yang terucap dalam syahadat mereka ternyata tidak hanya di lisan saja, melainkan benar-benar dibuktikan dengan berjuang di jalan-Nya. Kesaksian mereka bahwa Muhammad adalah utusan Allah benar-benar teruji dengan selalu menyertai dan menolong Rasulullah dalam dakwah dan perjuangannya.

Sedangkan kita, katanya merindu syurga namun Allah masih ditempatkan di nomor kesekian. Kita, yang katanya bertuhankan Allah, namun tidak menjadikan Allah satu-satunya tujuan. Astaghfirullah, semoga Allah memaafkan segala khilaf dan lupa. :')

Hari ini, kita bertekad memperbaiki semuanya, yuk! Kita "curi" mindsetnya para Nabi dan Rasul, para syuhada, para shadiqin dan para shalihin. Kita kembalikan mindset kita menuju Allah minded; bahwa hanya Allah yang kita cinta, hanya Allah yang kita sembah, dan hanya Allah yang kita tuju.

Selamat memperbaiki hubungan dengan Allah, selamat berjuang untuk meluruskan mindset-mindset yang selama ini keliru atau berbelok. Selamat meneladani kehidupan orang-orang sholeh terdahulu, sister shalehah pembelajar! :)
 

Senin, 25 Maret 2019

Monday Love Letter #34 - Berjalan Bersama-Nya


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabar hatimu, sister? Bagaimana kabar imanmu? Semoga seiring dengan semakin dekatnya kedatangan Ramadhan, hati kita semakin bersih dan iman kita semakin bertambah.

Sepekan kemarin saya sedang dalam proses membaca shirah shahabiyah yang walaupun isinya bercerita tentang keteladanan para sahabat wanita terdahulu, namun cerita tentang bagaimana Rasulullah SAW berjuang untuk mendakwahkan Islam tidak pernah gagal untuk membuat saya takjub dan semakin cinta pada beliau SAW. Jika bukan karena perjuangan beliau yang tanpa henti, tentu iman dan islam ini tidak akan sampai dan terasa oleh hati. Semoga Allah merahmati dan memuliakan Rasulullah dan para shahabat dan shahabiyah yang setia menyertainya. Aamiin..

Masih tentang bulan Rajab, saya sedang dibuat jatuh cinta oleh sebuah ayat yang bercerita tentang suatu peristiwa besar yang terjadi di bulan Rajab. Apakah itu? Ya, peristiwa Isra Mi'raj. Peristiwa dimana Rasulullah diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidhratul Muntaha dan menerima perintah shalat 5 waktu. Semuanya dilakukan hanya dalam waktu semalam saja.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." -QS. Al-Israa (17) : 1

Melalui peristiwa Isra Mi'raj, Allah memperlihatkan kekuasaan dan kebesaran-Nya. Bagaimana tidak, jarak Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lebih dari 1000 km jauhnya dan dengan teknologi saat itu yang masih menggunakan unta untuk bepergian, sangat mustahil perjalanan tersebut dilakukan dalam waktu semalam. Apalagi sampai ke langit ketujuh. Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya bahwa yang mustahil bagi manusia, amat mudah bagi Allah.

Di samping itu, saya menangkap hal yang menyentuh dari ayat tersebut. Dalam kalimat "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya…", menjelaskan bahwa perjalanan Rasulullah adalah perjalanan spiritual yang diperjalankan oleh Allah, yang berarti Rasulullah tidak berjalan sendiri melainkan didampingi, dibimbing, dan berada dalam perlindungan dari Allah. Ditambah lagi, redaksi kata yang digunakan adalah bi'abdihi yang berarti hamba-Nya. Kita juga termasuk hamba-Nya, bukan?

Ternyata jika dikaji lebih dalam, ayat ini bukan hanya sekedar cerita sejarah. Ayat ini sangat berkaitan dengan keadaan kita hari ini. Sadar tidak, bahwa kita juga sebenarnya sedang diperjalankan oleh Allah? Terasa tidak, bahwa Allah menghadirkan kejadian demi kejadian yang Dia rencanakan dengan cermat sehingga kita bisa merasakan hidayah dari-Nya? Terasa tidak, bahwa Allah punya berbagai cara untuk membuat kita senantiasa istiqomah di jalan-Nya?

Ayat ini begitu menyentuh bagi saya karena tiba-tiba saja saya merasa disayang oleh Allah. Jika bukan karena pendampingan dari Allah, mungkin saat ini saya masih terjebak dalam lumpur kejahiliyahan. Namun rangkaian skenario-Nya membuat saya sedikit demi sedikit terangkat dari kebodohan dan ketidaktahuan akan ilmu-Nya.

Jika bukan karena bimbingan dari Allah, kita tidak akan bisa memahami petunjuk-Nya, tidak akan bisa merasakan nikmatnya beriman dan berislam. Jika bukan karena perlindungan dari Allah, kita tidak akan sanggup menahan diri dari berbuat dosa dan melakukan maksiat. Sadarkah kita bahwa itu adalah bukti kasih sayang dan bukti kebesaran-Nya?

"Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman).." -QS. Al-Baqarah (2) : 257

Maka, bukti kebesaran Allah sebenarnya tidak jauh. Bukti kebesaran Allah salah satunya adalah diri kita yang diperjalankan oleh-Nya. Diri kita yang dikeluarkan Allah dari kegelapan menuju cahaya. Diri kita yang diselamatkan Allah dari jurang neraka menuju jalan menuju syurga (Insya Allah).

Setiap orang pasti punya ceritanya masing-masing bagaimana Allah memperjalankan dirinya dari keadaan gelap menuju cahaya. Apapun ceritanya, semoga kita bisa bersyukur atas nikmat yang paling besar ini dengan senantiasa istiqomah dalam ketaatan dan kesiapan yang penuh untuk meniti jalan menuju-Nya. Selamat melanjutkan perjalanan!


Senin, 18 Maret 2019

Monday Love Letter #33 - Welcoming Ramadhan

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen!

Alhamdulillah hari ini sudah memasuki 11 Rajab, hari demi hari terus berlalu dan Ramadhan terasa semakin dekat. Apa perasaanmu saat ini? Kalau saya, excited sekaligus deg-degan bakal kedatangan Tamu Agung itu sebentar lagi. Semoga Allah memberkahi kita di bulan Rajab dan Sya'ban, dan menjadikan usia kita sampai pada bulan Ramadhan. Jangan lupa bersiap ya, sister!

Mungkin kamu sudah tahu, tahun lalu, saya dan Novie sempat membuat seri tulisan di Instagram bertajuk #PersiapkanRamadhanmu yang kami tulis selama bulan Sya'ban. Kami berdua sepakat bahwa kedatangan Ramadhan memang perlu dipersiapkan sehingga project #PersiapkanRamadhanmu itupun dieksekusi. Ramadhan adalah bulan terbaik dimana kita bisa memanen pahala, meraih ampunannya dan akselerasi diri menuju takwa.

Menjelang Ramadhan, saya melihat orang-orang semakin sibuk. Hari-hari menuju Ramadhan, banyak orang berkumpul untuk munggahan. Mereka yang memiliki bisnis, mulai berhitung dan mempersiapkan berbagai promo untuk meraih omset yang lebih besar di bulan Ramadhan. Bahkan, agenda buka bersama mungkin sudah terjadwal bahkan sebelum kita menjalani shaum di hari pertama Ramadhan.

"Ah, santai lah. Ramadhan kan masih lebih dari sebulan. Ngapain sih siap-siap dari sekarang." Mungkin itu sempat terlintas di pikiranmu. Eits, jangan salah.. Dua minggu lalu, saya pergi ke sebuah supermarket yang cukup besar dan disana sudah terlihat gunungan kardus-kardus sirup maupun kue lebaran yang disusun sangat tinggi. Di pinggir jalan pun saya sering melihat info terkait tiket mudik lebaran yang bahkan sudah bisa dipesan sejak H-90. Wow! Supermarket dan layanan jasa mudik saja sudah bersiap sejak 2 bulan sebelum Ramadhan datang, kita sudah mempersiapkan apa ya?

Persiapan yang besar hanya dilakukan untuk menyambut sesuatu yang besar. Jika ada presiden yang berencana datang ke suatu desa, saya bisa jamin desa tersebut pasti akan melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Jika kamu adalah panitia dari sebuah event besar yang melibatkan ribuan bahkan ratusan ribu peserta, apakah mungkin bersiap hanya dalam waktu seminggu? Pasti dari berbulan-bulan sebelumnya, kan?

Ramadhan adalah bulan yang sangat besar kemuliaannya. Maka mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya adalah bukti bahwa kita memuliakan Ramadhan. Tapi, apa yang perlu kita persiapkan? Apakah sebatas kebutuhan perut dan penampilan untuk menyambut hari lebaran saja?

Konon, Rasulullah dan para sahabatnya mempersiapkan datangnya Ramadhan sedari Rajab. Bulan Rajab dan Sya'ban menjadi bulan persiapan dan pembiasaan sebelum menghadapi Ramadhan. Salah satu peristiwa besar di Bulan Rajab yaitu terjadinya Isra Mi'raj serta turunnya perintah shalat 5 waktu. Maka akan sangat cocok jika Rajab kita jadikan sebagai ajang latihan memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kita dan sarana mendekatkan diri kita kepada Allah. Bukankah persiapan menjadi salah satu kunci keberhasilan? Tak heran, banyak kemenangan-kemenangan kaum muslimin yang terjadi di bulan Ramadhan. Selain karena Allah menghendaki kemenangan tersebut dan menurunkan pertolongan-Nya, tentu tak lupa disertai ikhtiar dan persiapan yang matang dari Rasulullah SAW dan para sahabat.

Jadi, apa yang akan kau menangkan di bulan Ramadhan nanti? Yuk, bersiap sejak sekarang! Jadikan bulan Rajab ini sebagai momentum perbaikan kualitas diri kita dengan Allah. Insya Allah, saya akan menemani perjalananmu selama mempersiapkan Ramadhan melalui surat-surat selanjutnya. Semoga Allah sampaikan kita pada bulan Ramadhan. Aamiin :')

Senin, 11 Maret 2019

Monday Love Letter #32 - Hidupmu dalam Genggaman-Nya

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my sister of Deen! Terima kasih ya sudah selalu setia membaca, bahkan menunggu hadirnya Monday Love Letter ke inbox-mu, semoga surat-surat kami bisa menjadi teman untukmu merenungi kehidupan dan menangkap hikmah-hikmah dibaliknya.

Pekan lalu banyak kejadian yang lumayan membuat saya kaget, salah satunya adalah suatu kejadian yang terjadi hari ahad kemarin. Iya, kemarin banget. Siang itu saya sedang mengendarai motor bersama adik, hendak mengantarkan adik kembali ke rumah. Perjalanan kami tidak jauh, hanya berjarak sekitar 10 menit saja tanpa harus melalui jalan raya.

Saat itu saya melalui sebuah pertigaan yang cukup padat oleh kendaraan kemudian belok ke kiri. Sekitar 2 meter setelah belok, tiba-tiba saja muncul dua anak kecil dari arah kanan jalan, menyebrang dengan berlari, tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu. Alhasil, saya yang terlambat mengerem akhirnya menabrak mereka berdua. Mereka jatuh tertabrak, saya dan adik sayapun jatuh dari motor. Melihat kedua anak kecil itu tertimpa motor, saya langsung bangkit dan panik. Untungnya, ada beberapa bapak-bapak yang sigap menolong dan menggendong 2 anak itu ke klinik terdekat. Tapi ternyata 1 anak harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami patah tulang bahu.

Alhamdulillah saya dan adik saya tidak apa-apa, hanya lecet sedikit dan memar di lutut dan bahu. Tapi kejadian itu cukup membuat saya shock dan terus melamun seharian itu, bahkan malamnya sampai susah tidur karena bayangan kejadian siang itu terus terputar di otak saya; detik-detik saya menabrak 2 anak yang usianya sekitar 6-7 tahun, teriakan dan tangisan mereka setelah tertabrak, juga rasa bersalah karena salah satu dari mereka harus mengalami patah tulang. Kejadiannya terjadi cepat sekali dan tanpa firasat apapun. Sedang mengendarai motor, lalu ada 2 anak kecil menyebrang, sedetik kemudian tabrakan terjadi, dan kami berempat jatuh ke aspal. Subhanallah, biidznillah.

Hari ini, saya sudah cukup tenang setelah tadi siang menjenguk anak yang patah tulangnya, alhamdulillah dia sudah dalam proses pengobatan. Bahkan hari ini saya sudah mengendarai motor lagi walaupun dengan badan yang masih sakit-sakit (hehe)  dan tentu saja, berusaha menyetir dengan lebih hati-hati. Sepanjang hari ini saya berusaha menggali hikmah dari apa yang baru-baru saja terjadi belakangan ini.

Saya belajar (lagi) tentang qudroh dan irodah-Nya. Kejadian apapun, bisa terjadi karena Allah yang mengizinkannya untuk terjadi. Kenapa saya harus melalui jalan itu di jam segitu, dan kenapa di saat yang sama 2 anak kecil itu berlari menyebrang, semuanya sudah kehendak dan kuasa-Nya. Apa yang terjadi bukanlah untuk dipertanyakan apalagi diratapi, melainkan diterima dan dicari hikmahnya. Karena saya percaya, everything happens for a reason.

Di samping itu, ada hikmah lain yang cukup menohok bagi saya; bahwa Allah betul-betul berkuasa atas diri kita, dan kita sama sekali tidak berdaya didalam kekuasaan-Nya. Saya masih ingat betul, sebelum tabrakan itu terjadi saya masih mengobrol dengan adik saya sambil tersenyum. Bahkan sepersekian detik sebelum saya menabrak 2 anak itu, saya masih melihat mereka berlari sambil tertawa. Namun sepersekian detik kemudian, tawa dan senyum itu kemudian berubah menjadi tangis dan teriakan kesakitan. Secepat itu Allah berkuasa mengubah tawa menjadi tangis, secepat itu pula Allah berkuasa mengubah keadaan yang awalnya sehat dan kuat menjadi sakit dan lemah.

Dalam hidup, berapa banyak kejadian semacam itu terjadi di diri kita? Pagi kita sehat, siang menjadi sakit. Siang bahagia menerima gaji, sorenya dompet kita hilang dan uang kita raib. Sore masih mengobrol dengan orang lain, malamnya orang tersebut meninggal. Baru saja tertawa-tawa bersama teman-teman, 5 menit kemudian meringis kesakitan karena kaki tersandung meja. Sadarkah, bahwa kita benar-benar tidak berdaya didalam kekuasaan-Nya? Karena ketika Allah bilang kun!, maka terjadilah --saat itu juga. Kita tidak memiliki kuasa apapun bahkan atas diri kita sendiri.

Sehari sebelum kejadian tabrakan itu, saya juga mendengar kabar bahwa salah satu guru saya masuk ruang ICU karena tiba-tiba pingsan dan kejang, padahal sebelumnya beliau sehat. Bahkan hari ini pun Allah memperlihatkan lagi kuasa-Nya. Tadi siang saya berangkat pergi, suami saya masih sehat di rumah. Malamnya ketika saya pulang, suami sakit demam dan meriang. Saya seperti sedang diajak ngobrol sama Allah, "Na, Aku memang seberkuasa itu atas hidupmu. Detik ini juga, Aku bisa membuatmu tertawa atau menangis. Detik ini juga, Aku bisa memberimu harta atau bahkan menghilangkan semua hartamu. Detik ini juga, aku bisa membiarkanmu hidup atau bahkan mematikanmu. Hidup dan matimu ada di tangan-Ku, Na. Maka pantaskah kau merasa sombong walau setitik? Pantaskah menyia-nyiakan hidup walau sedetik?" #JLEBJLEBJLEB

Kita ini, sebagai manusia, harus sadar diri.
Allah Maha Mulia, sedangkan kita hina jika tidak dimuliakan oleh-Nya.
Allah Maha Kaya, sedangkan kita tidak punya apa-apa jika tanpa pemberian-Nya.
Allah Maha Berkuasa, kita tidak berdaya jika tanpa pertolongan-Nya.
Allah Maha Kuat, kita ini lemah jika tidak dipinjami kekuatan oleh-Nya.
Allah Maha Besar, kita bahkan lebih kecil dari sebutir debu jika dihadapan-Nya.

Kita perlu sadar diri, bahwa kita ini tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya tanpa Allah. Sadar diri, bahwa sebenarnya kita ini amat sangat bergantung pada Allah. Sadar diri, bahwa tidak ada hal lain yang kita butuhkan selain Allah. Sadar, bahwa kita tidak patut sombong dan merasa bisa sendiri tanpa Allah. Sadar, bahwa kita tidak patut berpaling kepada selain Allah. Sadar, bahwa kita ini sudah sepatutnya menyerahkan diri kita kepada Allah; mentaati-Nya, mencintai-Nya, berkorban untuk-Nya.

Semoga masih cukup waktu kita, untuk menyadari hakikat diri kita di hadapan-Nya. Semoga masih masih cukup waktu kita, untuk memperbaiki diri dan menebus segala khilaf. Semoga masih cukup waktu kita, untuk kembali kepada Allah dengan kondisi jiwa yang tetap terjaga dalam fitrah pengabdian kepada-Nya.