Senin, 24 Februari 2020

Monday Love Letter #73: Tok Tok! Sudah Siapkah Menyambutku?

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Hari ini, saya kembali melihat kalender hijriyah di aplikasi Qur'an yang saya miliki. Ternyata, mulai maghrib ini kita sudah masuk ke bulan Rajab. Masya Allah, rasanya baru kemarin Ramadhan bertamu dan kini ia akan hadir kembali dalam 2 bulan, insya Allah. Allahumma balighna Ramadhan.. Ya Allah, sampaikanlah kami pada Ramadhan.. Refleks, doa itu langsung saya pintakan kepada Allah. Bagaimana denganmu, tentu kamu juga merindukan hadirnya bulan Ramadhan bukan? Kita siapkan sejak sekarang yuk! :)

Entah kenapa, bagi saya persiapan Ramadhan kali ini terasa agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya saya merasa sangat excited, semangat, dan sangat menunggu-nunggu kehadirannya, kali ini, ada rasa yang lain yang juga saya rasakan, yaitu takut. Takut tidak cukup siap dan tidak cukup baik dalam menyambutnya. Bukan tanpa alasan, perasaan itu hadir sepertinya karena akhir-akhir ini saya merasa.. well.. sepertinya "kelelahan".

Rasanya, berbagai rutinitas mulai kehilangan maknanya tanpa saya sadari. Pekerjaan yang harus dikerjakan, amanah yang harus ditunaikan, masalah yang harus diselesaikan, tanpa sadar mulai memenuhi pikiran. Menghasilkan lelah yang tak terlihat, sebab bukan fisik yang lelah, tapi hati yang putus nyambung koneksinya dengan Allah karena kehilangan fokus. Kemudian bulan Rajab datang menyapa, mengingatkan bahwa Tamu Agung itu sebentar lagi hadir. Saya merasa senang, tapi masih terlalu sibuk dengan urusan yang ada. Apakah kamu pernah tahu rasanya kedatangan tamu penting di saat rumah atau kosanmu sedang berantakan? Pasti panik, bukan? Kurang lebih itu yang sedang saya rasakan saat ini.

"Ramadhan, maaf, kami masih sibuk dengan aktivitas kami. Kedatanganmu sering kali hanya kami jadikan ritual tahunan yang minim makna, kecuali mengubah jam makan, jam kerja, dan istirahat kami." adalah sebuah kalimat menohok yang ditulis oleh Ahmad Rifa'i Rif'an dalam bukunya Ramadhan, Maaf, Kami Masih Sibuk (bahkan judulnya saja sudah menohok). Untungnya, tamu itu bukan datang besok, tapi 2 bulan lagi. Semoga masih ada waktu untuk kita bersiap; menyuburkan kembali ibadah-ibadah ritual yang mungkin sudah lama kita tinggalkan, membuka kembali Al-Quran yang mungkin sudah lupa kapan terakhir kali kita membacanya, mengurangi distraksi yang kiranya membuat kita hilang fokus pada tugas utama kita, serta menjadwalkan diri untuk bermuhasabah --mengevaluasi bagaimana selama ini kinerja kita sebagai hambanya Allah.

"Latih otot-otot ibadah kita untuk menyambut Ramadhan," ucap guru saya beberapa hari lalu. Mengingat ibadah di bulan Ramadhan itu seperti marathon, nasihat itu ada benarnya juga. Maka ada baiknya jika dari sekarang kita mulai memangkas aktivitas yang tidak bermanfaat dan menambah slot-slot waktu untuk kita beribadah, belajar, menjemput ilmu, dan berbagai kegiatan bermanfaat yang lainnya.

Semoga kita semua dikuatkan agar bisa memimpin diri ini untuk senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah. Dan semoga Allah senantiasa membimbing dan menuntun kita menuju ketakwaan kepada-Nya.

Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya'bana, wa balighna ramadhan.. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin..


Yang juga sedang bersiap,
Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #71 - Sudah Lembar Keberapa?

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Apa kabar jiwamu? Apa kabar imanmu? Apa kabar hatimu? Semoga senantiasa dalam keadaan baik dan terpaut pada-Nya. Alhamdulillah, hari-hari terus berlalu dan kita masih diberi nikmat oleh Allah untuk menyapa matahari pagi tadi, masih diberi kesempatan untuk mengumpulkan lagi amal-amal shalih, dan masih diberi karunia berupa kebaikan-kebaikan dari-Nya yang mengalir tanpa henti. Semoga setiap nikmat yang kita terima dari Allah, bisa kita sadari dan rasakan, serta kita syukuri dengan ketaatan yang semakin bertambah setiap harinya.

Beberapa hari yang lalu mertua saya memperlihatkan kepada saya sebuah buku, "Teh, sudah baca buku ini belum? Bagus deh, ini Bunda punya dari tahun 2013 lho," katanya. Saya pun membuka buku itu, dan benar saja, di halaman pertamanya tertulis tanda tangan beliau dan angka 2013 di bawahnya. Buku tersebut adalah sejenis buku motivasi islami yang terdiri dari beberapa kumpulan tulisan pendek ditiap babnya. Sayangnya, saya lupa judulnya, jadi plis jangan tanya ya judulnya apa, hehe.

Judul-judul tulisan dalam buku itu sebetulnya menarik, tapi karena hari itu saya cukup lelah selepas menyetir seharian, saya tidak begitu bersemangat membacanya. Saya hanya sempat membaca satu tulisan saja dari buku itu. Siapa sangka, satu tulisan yang saya baca itu membuat saya kepikiran sampai besok-besoknya.

"Sudah Lembar Keberapa Hari Ini?" Tulisan paling pertamanya diawali dengan pertanyaan tersebut, kalau saya tidak salah. Awalnya saya kira penulisnya akan membicarakan tentang semangat membaca lembar demi lembar Al-Quran. Ternyata saya salah, lembar yang dimaksud oleh penulis bukanlah lembaran Al-Quran, lebih dalam dari itu, sang penulis sedang membicarakan lembaran hidup. Bagaimana maksudnya?

Sister, sadar nggak sih, jika hidup kita ini ibarat sebuah buku, setiap lembarnya adalah hari-hari yang kita lalui. Setiap kita bertemu dengan hari baru, maka terbukalah lembar yang baru. Lalu saat kita menutup mata untuk tidur di malam hari, tertutuplah lembarannya. Esoknya, lembaran yang baru terbuka lagi, tertutup, terbuka lagi, dan seterusnya sampai akhirnya kita sampai pada lembaran terakhir dan buku itupun ditutup. Lembarannya telah habis dan selesailah hidup kita.

Kira-kira, hari ini, saya sudah sampai di lembar ke berapa ya? Adalah sebuah kalimat tanya yang mau tidak mau jadi membuat saya kepikiran. Pasalnya, tidak sedikit orang-orang yang saya kenal, yang sudah sampai pada 'lembar terakhir'nya. Cepat atau lambat, saya juga akan menyusul mereka. Suka tidak suka, saya juga akan sampai pada 'lembar terakhir' saya. Saya (dan kita semua) tidak bisa mengelak dari takdir-Nya yang satu itu; kematian. Lalu mau kau isi dengan apa lembaran-lembaran hidupmu, wahai Husna?

Sementara itu, banyak manusia yang terlalu sibuk 'membaca' lembar demi lembar yang telah berlalu sehingga dia terjebak pada masa lalunya. Tak sedikit pula yang sibuk menerka lembaran-lembaran berikutnya sehingga membuatnya tenggelam dalam imajinasi masa depan. Bukan tidak boleh, tapi jika yang telah berlalu dan yang akan datang membuat kita lupa bahwa kita memiliki hari ini, bukankah itu sama saja dengan membiarkan 'lembaran hari ini' berlalu sia-sia?

Bagaimanapun, kita ini adalah hamba-Nya yang diberi jatah hidup di dunia untuk membuktikan keimanan dan mempertanggungjawabkan tugas kehambaan kita di hadapan-Nya. Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang disukai-Nya atau tidak disukai-Nya. Pena itu ada di tangan kita, maukah kita isi lembaran hidup kita dengan kebaikan dan prestasi-prestasi yang kelak bisa dibanggakan di hadapan-Nya?

Dimulai dari lembar hari ini.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Selasa, 04 Februari 2020

Masak


Bahan-bahan capcay, sudah aku aku beli dan siap diolah.
Tapi ditengah menyiapkan bahan, tiba-tiba aku tergerak untuk bertanya, "Aa, mending bikin capcay atau sayur sop?"
"Emang bisa bikin capcay?"
"Ya,, bisa sih.. Tapi pasti nggak bakal seenak mamang-mamang gerobak. Haha"
"...." eh, kok doi diem aja ya..
"Jadi mending bikin sayur sop aja?" tanyaku lagi.
"Iya sop aja."
Diiihhh nggak percayaan banget sama akuuuuu wkwkwkwk

***

"Neng, ayamnya enak, sayur sopnya juga enak. Jazakallah ya.." katanya setelah makan.
Hihiiw gapapa tadi sempat diragukan, kalo endingnya dipuji gitu, senang sayah. Hahaha..

Makan

Suatu hari, suami pulang ke rumah. 
"Aa mau makan?" tanyaku sambil siap-siap nyalain kompor, mau goreng ayam.
"Yaudah boleh gorengin aja dulu ayamnya."

Setelah ayam digoreng, aku tanya lagi, "Aa mau makan sekarang?"
"Nggak, nanti." Doi stand by depan komputer, kerja.
"Oke."
Lalu akupun rebahan di kasur sambil nonton TROS. btw, sedih deh favorit aku Naeun sama Gunhoo hiatus dulu dari TROS hikss

5..4..3..2..1
Baru aja rebahan 5 detik, tiba-tiba suami bilang,"Neng, mau makan."
Kenapa siiiihh,,, nggak bisa liat istrinya santai dikit emang yaaa 😂

Senin, 27 Januari 2020

Monday Love Letter #69 - Memeluk Diri, Mencoba Adil pada Diri Sendiri

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah senang sekali bisa menulis surat untukmu lagi. Walaupun Monday Love Letter mendarat di email-mu sepekan sekali, tapi karena ditulis bergantian dengan Novie, saya jadi menulis dua pekan sekali yang membuat saya jadi merindukanmu dua kali lipat. Tapi tak apa, kerinduan ternyata menyimpan energi. Rasanya saya jadi lebih semangat berbagi untukmu, stay tune with me ya, sister! :)

Bicara tentang surat menyurat, saya termasuk orang yang senang menulis surat. Beberapa sahabat saya pernah saya tulisi surat, juga keluarga saya, bahkan orangtua dan suami sendiri pun pernah. Biasanya saya mengambil momen di hari spesial mereka seperti hari ulang tahun, hari kelulusan, hari perpisahan, atau kadang random aja gitu tiba-tiba ngasih. Sebenarnya tujuannya sederhana saja, yaitu untuk sekedar menyampaikan bahwa dirinya berharga untuk saya, juga bentuk terima kasih saya memiliki seseorang yang spesial seperti dirinya. Sebab, diri yang introver ini sering kesulitan mengungkapkan perasaannya sehingga menyampaikan lewat surat selalu menjadi andalan. Tak jarang, saya mendapat balasan yang membuat saya terharu. Siapa sangka, hal sesederhana menulis surat ternyata bisa menularkan kebahagiaan satu sama lain. Apakah kamu tertarik mencobanya? Cobain deh :)

Di zaman yang serba digital ini, kebiasaan menulis surat dengan tulisan tangan mulai terkikis. Adanya media sosial, membuat saya bisa menulis surat menggunakan blog, membuat postingan di Instagram tentang orang yang bersangkutan, dan... ini nih salah satunya, berkirim surat melalui email seperti ini juga menyenangkan. Internet membuat saya bisa menjangkau lebih banyak orang untuk saya kirimi surat, yaah walaupun menulis surat dengan kertas dan pena sensasinya nggak ada yang ngalahin siiih, hehe.


Mengapa saya tiba-tiba cerita tentang surat? Karena beberapa hari yang lalu saya baru saja mendapat "surat". Seorang teman dari kota lain membuat postingan tentang saya di Instagramnya. Tak ada angin tak ada hujan, sudah lama tak berkomunikasi juga, tiba-tiba ada notifikasi di Instagram saya bahwa seseorang menandai saya di postingannya. Membacanya, saya terharu sekali. "Terima kasih, it means a lot to me," balas saya di kolom komentarnya. Komentar singkat yang benar-benar saya tulis dari hati. Pasalnya, tulisan itu hadir di saat yang tepat, di saat saya sedang "berjauhan" dengan diri saya sendiri karena ada bagian dari diri saya yang sedang tidak saya sukai. Dan di saat saya sedang "membenci diri" seperti itu, tiba-tiba ada tulisan darinya, yang bilang terima kasih pada saya, yang secara tidak langsung berkata bahwa ada bagian dari diri saya yang berharga untuknya. Saat itu saya jadi berpikir; Jika orang lain melihat saya begitu berharga, mengapa saya tidak bisa melihat bahwa diri saya berharga? Mengapa saya menghancurkan diri saya dengan tidak menghargai diri sendiri?

Malam itu saya amat berterima kasih pada teman saya itu, pada surat yang ditulisnya, juga pada Allah yang membuat waktu dan momen secara tepat untuk menyelamatkan diri saya yang sedang kehilangan cinta dari dirinya sendiri.

Dari kejadian itu saya belajar banyak hal. Terkadang manusia itu aneh dan sulit dimengerti. Bagaimana bisa kita begitu gampangnya menganggap diri kita tidak berharga, gagal, memalukan, merasa tidak pantas, padahal jika kita bertanya pada orang-orang terdekat kita yang menyayangi kita, mereka justru bilang bahwa kita adalah berlian, kita adalah bintang, kita adalah orang yang hebat, yang kuat, pantang menyerah, bahkan menganggap kita adalah dunianya.


Pernahkah kamu merasa gagal, tapi ternyata orang-orang terdekatmu justru bangga pada gigihnya usahamu? Mereka tentu saja ikut bersedih dengan kegagalanmu, tapi mereka merangkulmu dan berkata bahwa usahamu sudah cukup baik dan membanggakan. Lihatlah, orang lain tidak meninggalkanmu saat kau gagal, mereka tetap mendukungmu dan mengapresiasi usahamu. Tapi kenapa kita begitu mudah menilai diri ini buruk dari hasil yang ada sehingga lupa memberi apresiasi pada usaha kita sendiri?

Di beberapa kesempatan, mungkin kita pernah ada di posisi menjadi "teman" yang menghibur kegagalan dari sahabat atau keluarga kita. Bukankah kita tetap akan terus ada di sampingnya dan memberi dukungan untuknya? Kita tidak akan membenci atau menjauhinya hanya karena dia gagal kan? Jika kita saja bisa se-suportif itu pada orang-orang yang kita sayang, mengapa kita begitu mudah "meninggalkan" diri kita sendiri, mencap diri kita bodoh, mencap diri kita gagal, dan mengasingkan diri dari diri kita yang sebetulnya butuh pelukan itu?

Kita maklum jika orang lain gagal dan kita dengan amat bijak berkata, "Nggak apa-apa gagal, yang penting kamu udah berusaha. Nggak apa-apa gagal, besok kita coba lagi. It's okay dear, you did well." Tapi kenapa kita tidak bisa merangkul diri kita sendiri? Bukankah kita juga membutuhkan kalimat itu untuk dan dari diri kita sendiri?

Kita mampu untuk menilai orang bukan dari hasil dan prestasinya, tapi dari kerja kerasnya. Lalu kenapa pada diri sendiri kita menentukan standar sukses kita dari hasil, sementara kita tau bahwa prosesnya jauh lebih penting? Kenapa kita seringkali merutuki diri sendiri padahal kita tahu bahwa kita sudah melakukan yang terbaik yang kita mampu?

Satu pertanyaanku; apakah itu adil untuk diri kita?


Mungkin, saat ini kamu juga sedang merasakan hal tersebut. Mungkin saat ini kamu sedang membenci dirimu sendiri. Mungkin saat kamu melihat pantulan wajahmu di cermin, ada perasaan kesal atau jijik pada dirimu sendiri. Mungkin kamu merasa dirimu memalukan atau tidak cukup baik. Tenang, kamu tidak sendiri. I've been there, too. Sometimes I lost myself too.

Tapi ingatlah, bahwa di saat-saat seperti itu, kita paling membutuhkan diri kita sendiri. Kita membutuhkan diri yang menerima kekurangan kita, kita membutuhkan diri yang tetap suportif dan memberikan apresiasi pada diri kita, kita membutuhkan rangkulan dan pelukan dari diri kita sendiri.

Peluklah dirimu, katakan kata-kata apresiasi yang menguatkan untuk dirimu, cobalah untuk adil pada diri sendiri. Jika orang lain bisa melihat berlian dalam diri kita, kita yang seharusnya lebih tahu dan melihat itu lebih dulu. Jika kita bisa cinta dan hadir untuk orang lain, seharusnya kita juga bisa cinta dan hadir untuk diri kita sendiri.

Selamat memeluk diri, selamat mencoba adil pada diri sendiri.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #67 - Menjadi Hamba Profesional

Bismillahirrahmanirrahim. 
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Bagaimana kabarmu? Lama tak berkirim surat, rasanya kami rinduuu sekali. Sebelumnya kami mohon maaf jika jeda kemarin terasa begitu tiba-tiba untukmu. Ada beberapa hal yang harus kami tata ulang dan kami maknai kembali. Alhamdulillah, Allah membelajarkan banyak hal melalui proses jeda tersebut and here we are, kembali menyapamu dengan surat-surat cinta di setiap Senin, dengan sedikit penyesuaian. Jika sebelumnya setiap suratnya kami tulis berdua, mulai hari ini kami akan menulis bergantian di setiap pekannya.

Dan surat hari ini akan dimulai oleh saya, Husna. :)

***

Sedikit bercerita tentang kontemplasi saya di akhir tahun lalu, ternyata ada banyak sekali pembelajaran yang Allah berikan kepada saya di tahun 2019. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup banyak tekanan, namun di awal tahun ini saya baru menyadari bahwa berbagai macam tekanan itu Allah berikan bukan untuk membebani saya, tapi justru sebagai media Allah dalam menyiapkan saya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan dewasa. 

Tahun 2019 kemarin, saya membuat resolusi berdasarkan peran-peran yang saya miliki. Alih-alih berisi rentetan bucket list atau impian-impian yang ingin dicapai, saya lebih memilih untuk berusaha lebih optimal pada peran-peran yang saya miliki. Hal ini tentu saja bukan tanpa sebab. Jika kamu mengikuti Monday Love Letter dari awal tahun lalu, saya pernah menulis surat judulnya "Jika Tahun 2019 Menjadi Tahun Terakhirku" yang membuat target-target saya berubah drastis, dari yang asalnya ingin ini dan itu menjadi fokus pada perbaikan-perbaikan diri.

Jika membayangkan kematian ada di depan saya, saya jadi merenung panjang bahwa kita tidak akan ditanya tentang apa-apa yang belum kita miliki, tapi kita akan ditanya tentang apa-apa yang telah Dia beri. Sudah dipakai apa, sudah berbuat apa, dan sudahkah kita bersyukur akan itu. 

Kelak di akhirat nanti, Allah tidak akan bertanya tentang pencapaian dunia kita. Allah tidak akan bertanya mengapa kita lebih tertinggal dari orang lain dalam banyaknya harta. Allah tidak akan bertanya mengapa kita tidak seterkenal orang lain. Bahkan ngerinya, bisa jadi apa-apa yang kita upayakan belum tentu bernilai di hadapan Allah. Kan sedih, udah capek-capek mengorbankan banyak hal, tapi di mata Allah tidak ada nilanya. :(

Dan bicara tentang peran, sebelum peran yang lain tersemat pada diri, peran yang paling pertama dan utama adalah peran kita sebagai hamba Allah. Maka sebetulnya yang PALING PERTAMA berhak atas resolusi dan target kita adalah Allah. Coba tengok lagi, adakah Allah dalam resolusi kita? Apakah kita sudah menjadi hamba yang lebih baik dari tahun lalu, atau justru kita dan Allah semakin jauh? Adakah rencana untuk mendekatkan koneksi kita dengan Allah dalam target-target kita? 

Setelah itu, baru kita bicara tentang peran yang lain yg beririsan dengan manusia. Sudahkah kita menjalani peran sebagai anak dengan baik, sebagai kakak, sebagai adik, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai tetangga, sebagai anggota masyarakat, sebagai profesi yg kita jalani, dan lain-lain. Sudahkah kita menjalani peran-peran itu dengan baik? Atau justru kita menjadi beban di keluarga, masyarakat, atau lingkungan pertemanan kita. Bukankah selain habluminallah juga ada habluminannas? Keduanya perlu seimbang dan profesional; sebagai hamba, juga sebagai khalifah-Nya. 

Jangan sampai resolusi kita hanya tentang pencapaian-pencapaian dunia yang tujuannya untuk memuaskan diri kita sendiri. Tidak ada hubungannya dengan peran kehambaan kita, pun kekhalifahan kita. Semoga Allah melindungi kita agar tidak menjadikan hawa nafsu sebagai raja di hati.

Jika Allah menakdirkan kita meninggal di tahun ini, apakah pencapaian-pencapaian dunia itu yang akan Allah tanya? Tidak. Allah akan bertanya tentang amalmu, tentang waktumu, tentang seberapa baik engkau menjalani tugas kehambaanmu. Allah tidak akan bertanya tentang mengapa kamu belum punya rumah, belum punya mobil, belum menikah, belum naik jabatan, dan sebagainya. 

Karenanya,, coba tengok lagi resolusimu. Semoga isinya adalah tentang bagaimana agar diri menjadi hamba yang lebih taat dan pribadi yang lebih bermanfaat. Jika ternyata tidak, masih belum terlambat kok untuk merevisinya :)

Semoga kita bisa menjadi hamba yang profesional, yang optimal di setiap peran, dan optimal menjalani tugas kehambaan. Barakallahu fiik..

Bagaimana denganmu? Apa saja resolusi atau targetmu di tahun ini? Apa saja hikmah yang kau dapatkan selama tahun 2019? Jika ingin berbagi, balas pesan ini ya. I would love to hear your story ;)

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Sabtu, 07 Desember 2019

Pijit

"Neng pijitin Aa dong, Aa pegel banget nih," pinta suami di suatu malam.
Aku yang seharian pergi dari pagi dan pulang malam hari, langsung memelas, "Ih aku juga capek tau seharian ini kan aku pergi, pegel-pegel badan aku juga.."
"Aa dulu pijit aku.." lanjutku.
"Ga mau ih, pijitin aa atuh.."
"Iya aku mau pijitin aa, tapi aa pijitin aku dulu biar aku ada tenaga buat pijitin aa.."
Hahaha, tapi suami tetap bersikeras ga mau pijitin aku duluan. Lalu akhirnya perdebatan kami berakhir dengan tidak ada yang saling memijit. XD
Maafkan aku yang sudah terlalu lelahh :') 

Sabtu, 30 November 2019

Grabwhat?

Suatu malam, suami tiba-tiba ngomong dari balik gorden.
"Neng, mau kopi ngga"
"Mau"
"Grabfud mau?"
"Mau"
"Yaudah sini atuh"
"Hah?" aku ngga mudeng
"Siniii"
"Ngapaiin?" si gue mager karena lagi rebahan sambil main henpon
"Sini pegang kaki aa"
Itu GRAB FOOT woooy -___-

Selasa, 19 November 2019

Monday Love Letter - Jeda

Bukankah kita membutuhkan ruang jeda untuk memberi makna pada apa-apa yang ada?

JEDA.

Assalamu’alikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Apapun kondisi perasaanmu hari ini, kami berharap surat ini cukup tepat waktu untuk sampai kepadamu sore ini. Kamu tahu, diantara puluhan bahkan ratusan surat yang pernah kami layangkan untukmu, mungkin inilah satu-satunya surat yang paling membuat perasaan kami campur aduk. Di satu sisi kami bagaikan tidak sanggup untuk menuliskannya, namun di sisi lain kami merasa sangat perlu menuliskannya karena ada sesuatu yang ingin kami kabarkan padamu.

Hmm, sulit sekali menuliskannya! Dari mana kami harus memulainya?

Belakangan ini, kami semakin sering bertemu banyak orang, baik dalam kegiatan-kegiatan offline di berbagai kota, kelas-kelas online, atau bahkan pertemuan-pertemuan tanpa sengaja. Sebenarnya, sebagian besar dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan Sister of Deen Project, namun, nyatanya kegiatan-kegiatan itu seringkali menjadi pintu temu yang mempertemukan kami denganmu, our beloved sister of Deen. Tak jarang kami mendapati cerita dan apresiasi yang bernada sama. Katanya, “Terima kasih sudah menulis Monday Love Letter, sister!”

Entah bagaimana, kami hampir selalu merasa kehabisan kata-kata untuk meresponnya. Sebab, tahukah kamu, siapa yang lebih layak mendapatkan ucapan terima kasih itu? Bukan kami, tapi kamu. Terima kasih karena sudah membersamai dan menerima kami dengan seluruh yang kami miliki atau pun yang tidak kami miliki. Ruang penerimaanmu itu luaaaas sekali, meski kami banyak kurangnya, minim ilmunya, dan … ah, sudahlah. Jazakillah khairan katsir, ya!

Dengan keberanian yang rasanya tak kunjung cukup, hari ini kami ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, bahwa kami ingin mengambil jeda. Karenanya, barangkali ini adalah surat terakhir sebelum kita bertemu kembali. Di ruang jeda yang sedang kami masuki ini, kami tidak bermaksud pergi atau berlari agar dicari, juga tidak sedang iseng bersembunyi agar ditemukan. Kami hanya sedang memperbaiki segala sesuatu yang tersembunyi seraya berjalan di jalan-jalan sunyi untuk memberi makna pada apa-apa yang sedang belajar kami maknai.

“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?” – Dee Lestari

Bagaimana pun, kami memahami bahwa tak ada seorang pun yang nyaman dengan perpisahan, tapi kita juga tidak dapat selalu bergantung pada kebersamaan. Mohon doanya, kami berharap agar kami dapat memanfaatkan waktu dan ruang jeda dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan apa-apa yang telah dimulai dan memperjuangkan apa-apa yang lebih dari sekedar layak untuk diperjuangkan.

Selama kami sejenak tak ada, semoga tak terlepas jiwamu dari mengingat dan menghamba kepada-Nya. Selesaikan juga urusan-urusanmu dengan sebaik-baiknya, semoga Allah memudahkan senantiasa. Sampai bertemu Januari 2020, insyaAllah. Baarakallahu fiik.

Yang pergi untuk kembali,
Your sister of Deen,

Novie Ocktaviane Mufti dan Husna Hanifah

Selasa, 12 November 2019

Sang Maha Romantis yang Senang Disebut Nama-Nya

Malam ini, nggak sengaja buka OneNote di laptop. Disitu ada Page judulnya 'Books to Buy'. Isinya wishlist buku-buku yang aku pengen. Banyak banget, berderet. Ada lebih dari 20 judul buku yang aku tulis disitu. 

Deretan judul buku yang ingin aku miliki itu, pertama kali aku tulis di tanggal 16 Desember 2018. Masih inget banget, bikin wishlist itu karena saat itu lagi banyak buku bagus yang aku ingin beli tapi uang aku nggak cukup untuk beli semuanya. Awalnya cuma 4 buku, yang kalau ditotal sekitar 500ribuan. Sayang aja gitu kan, duit segitu keluar buat beli buku sementara keperluan rumah tangga juga kan banyak. Ternyata setelah aku list semua buku yang ingin kubeli, malah nambah totalnya jadi 20-an buku.

Di titik itu, bisa apa lagi aku, selain minta sama Allah. Iseng-iseng, di sebelah deretan wishlist bukuku itu, aku nulis:

Yaa Wahhab yang Maha Memberi,,
Yaa Razzaq yang Maha Memberi Rezeki,,
Yaa Fattaah yang Maha Pembuka,,
Yaa Mujiib yang Maha Memperkenankan,,
Yaa Barru yang Maha Dermawan,,
Yaa Ghaniyy yang Maha Kaya,,
Yaa Mughniiy yang Maha Mencukupi..
Pengen beli buku ya Allaaaah :''''')
Pengen gitu kalau mau beli buku teh nggak usah mikir XD :''')

Berdoa sambil menyelipkan nama-nama Allah yang kira-kira nyambung sama keinginanku untuk dilapangkan hartanya, simply karena ingin bebas buat beli buku tanpa mikir :')
Receh banget emang keinginannya, tapi waktu itu tuh beneran sepengen ituu! XD

Lalu hari ini, hampir setahun setelahnya, aku baru ngeh kalau 6 buku diantaranya udah kebeli.. Dan otw 3 buku lagi juga sudah masuk rencana akan dibeli bulan depan (karena bulan november ini aku udah beli 4 buku, haha).

Jadi, kalau dipikir-pikir, Allah ternyata beneran ngabulin keinginan aku ituuu! Entah bagaimana, pelan tapi pasti, pintu-pintu rezeki tiba-tiba pada kebuka aja gitu satu-satu. Sampai-sampai aku bisa nggak mikir untuk beli minimal 2 buku setiap bulannya. Uang bulanan yang awalnya harus aku irit-irit dan harus bener-bener ngatur cashflow, sekarang jadi sangat lebih dari cukup.

Mungkin, itu salah satu keajaiban Asma'ul Husna. Seorang guru pernah bilang, kalau minta sesuatu itu, "panggil" Allah-nya. Sebut nama-Nya. Kalau ingin diberi rezeki, panggil Allah-nya Yaa Razzaq.. Ingin dipermudah urusan, sebut Yaa Fattaah.. Jadi aku aplikasikan deh. 

Manusia aja senang kalau diingat dan disebut namanya. Mungkin Allah juga begitu. Akan lebih ngena kalau kita berdoa sambil menyebut nama-nama Allah. Konon, para Nabi juga ketika berdoa sering menyebut nama Allah didalam doanya. 

Malam ini, aku merasa bersyukur sekali karena ternyata diam-diam Ia mengabulkan doaku yang bahkan aku sudah lupa pernah meminta hal itu pada-Nya. Emang Maha Romantis Allah tuuh :')

Malam ini, dengan segala kerendahan hati, aku kembali membuka deretan nama-Nya yang tertulis dalam mushaf Quran milikku. Aku tulis lagi nama-Nya satu per satu. Kali ini bukan tentang buku. Tapi tentang harapanku yang lain, tentang satu doaku yang masih Ia tahan. Berbeda dengan doa-doa yang selama ini kupanjatkan, kali ini, aku meminta dengan menyebut beberapa nama-Nya..

Yaa Rahmaan Yang Maha Pengasih,,
Yaa Rahiim Yang Maha Penyayang,,
Yaa Qudduus Yang Maha Suci,,
Yaa Muhaimin Yang Maha Memelihara,,
Yaa Jabbaar Yang Maha Kuasa,,
Yaa Mutakabbir Yang Maha Memiliki Kebesaran,,
Yaa Khaliiq Yang Maha Pencipta,,
Yaa Baari' Yang Maha Mengadakan,,
Yaa Mushawwir Yang Maha Membuat Bentuk,,
Yaa Samii' Yang Maha Mendengar,,
Yaa Wahhaab Yang Maha Pemberi,,
Yaa Mujiib yang Maha Memperkenankan,,
Yaa Waarits Yang Maha Mewarisi,,
Ya Allah, izinkan aku menjadi seorang ibu..

Senin, 11 November 2019

Sakit

Suatu hari, aku sakit flu dan demam.
Aku: Aa, aku sakit nih.
Suami: *pegang dahi dan tangan buat ngecek suhu* ih iya, panas neng badannya..
Aku: *pasang muka tak berdaya*
Suami: Sini sini tangannya ke punggung Aa-in neng, enak anget.. 
Aku: -____-

Monday Love Letter #66: Stress-Free, Mungkinkah?


Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!
Ada candu pada setiap kesempatan menulis surat untukmu. Candu itu berisi kerinduan, semangat untuk menceritakan hal-hal baru terkait kehidupan, juga tentunya kesempatan terbaik untuk terlebih dahulu menasehati diri sendiri sebelum menasehati orang lain. Jika misalnya suatu hari nanti surat ini terhenti dan berjeda, akankah kita sama-sama bersedia untuk menukar rindu dengan selaksa doa-doa?

Bagaimana kabar hatimu hari ini? Kami dengar, katanya kamu sedang merasa seperti berada di tengah-tengah keriuhan, ya? Mungkin, rasanya seperti seseorang yang berjalan dengan tenang menyusuri labirin-labirin, namun ternyata bertemu dengan sebuah pagelaran orkestra yang, alih-alih terdengar syahdu dan memanjakan telinga, suara-suaranya malah bising dan memekakkan telinga. Atau, seperti tidurmu terganggu oleh suara-suara petasan dan kembang api pada malam tahun baru. Ah, riuh sekali! Seperti ingin pulang saja, namun entah kemana. Bukankah begitu?

Sisterku sayang, bolehkah aku memelukmu dulu sebentar? Dalam pelukan itu, aku ingin membisikkan sesuatu, bahwa dunia ini memang sedemikian riuhnya. Betapa tidak, bukankah dunia memang didesain sebagai ruang kelas raksasa dimana kita diuji untuk membuktikan keimanan kita kepada-Nya? Maka, wajar kiranya jika ia terasa riuh, sebab, diantara keriuhan itu kita sedang diminta berjuang melewati halangan dan rintangan, bertahan meski banyak hal terasa menyesakkan, bergantung pada sebaik-baik sandaran, dan tentunya menjadikan semua keriuhan itu sebagai ladang subur untuk kita memanen sebaik-baik bekal kepulangan.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” – QS. Al-Ankabut : 2-3

Mendapat ujian adalah sebuah keniscayaan, kita jelas tak punya kuasa untuk menangguhkan atau berlari dari padanya. Apapun bisa terjadi tanpa kita duga, seringnya bahkan yang tak kita suka, hingga mungkin terbersit di benak kita, “Allah, belum cukupkah Engkau mengujiku dengan yang sebelum-sebelumnya? Kali ini, benarkah Engkau memintaku untuk berjuang lagi? Rasanya, energiku bagaikan sudah habis, aku harus bagaimana lagi?”

Stress! Mungkin itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan hari-hari kita belakangan ini. Selayaknya manusia, tak pernah ada yang merasa nyaman dengan kondisi itu. Inginnya segera terbebas, terlepas, melesat landas pada apa yang kita kira kebahagiaan. Bukankah begitu? Namun, sayangnya, hidup tanpa masalah itu adalah sebuah kemustahilan. Stress-free itu tidak mungkin terjadi selama kita masih hidup di dunia. Baik itu kebahagiaan atau kesedihan, keduanya sama-sama bentuk ujian yang harus kita menangkan dengan cara menjawabnya dengan sebaik-baik jawaban.

Kabar baiknya, stress jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda adalah rahmat bagi kita. Sebab, tanpa stress kita tidak belajar dan tidak punya ladang subur untuk mendulang pahala kesabaran. Jika kondisi kita selalu baik-baik saja, bagaimana kita menumbuhkan harap kepada Allah? Jika kita selalu bahagia, bagaimana rasa takut kepada Allah bisa hadir di hati kita? Jika semua yang kita inginkan dengan mudah kita dapatkan, bagaimana kita belajar makna berjuang?

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” – QS. Al-Baqarah : 155-156

Ketika stress datang, semoga kita menerimanya dengan lapang, agar tak lama berpaku tangan dan langsung bergegas kembali pada satu-satunya sumber harapan: Allah. Semangat, sister! Semoga Allah memudahkan apapun yang sedang diperjuangkan, melapangkan apapun yang sedang menyulitkan, dan memberkahimu dengan petunjuk-Nya untuk selalu kembali “pulang.” Baarakallahu fiik.

Your sister of Deen,
Novie Ocktaviane Mufti dan Husna Hanifah

Senin, 28 Oktober 2019

Monday Love Letter #65 - Dimana Rasa Takutku?

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! 

Alhamdulillah tak terasa sudah sampai di penghujung Oktober dan semakin mendekati penghujung tahun 2019. Semoga semangat kita tetap terjaga untuk mengupayakan karya demi karya menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat. 

Sebelum melanjutkan surat ini, kami mohon maaf karena akhir-akhir ini Monday Love Letter sering terlambat sampai ke emailmu, melebihi jam 16.00 WIB seperti yang pernah kami janjikan. Ada beberapa faktor yang membuat kami kesulitan mengirim surat tepat pada waktunya. Semoga bisa memaklumi dan tetap saling mendoakan. 

Siap berkontemplasi? Mari kita mulai dengan membaca ayat berikut:
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk." (QS. Az-Zumar (39): 23)

Mungkin kamu pernah membaca ayat tersebut. Dan kita patut bersyukur sebab Al-Quran adalah hal yang begitu lekat di keseharian kita. Kita patut bersyukur sebab kita masih bisa mendengar lantunan bacaan ayat quran dari masjid dekat rumah. Sementara di belahan bumi lainnya, banyak orang-orang yang masih merasa asing dengan Al-Quran. 

Kita patut bersyukur sebab Al-Quran hadir dalam hidup kita, lalu ia menjelma menjadi keyakinan dan keimanan hingga kita merasakan betapa nikmatnya hidayah yang telah kita dapatkan. Kita merasakan betapa Allah sangat menyayangi kita sebab kita adalah  salah satu dari milyaran manusia yang dipilih Allah untuk dekat dengan petunjuk-Nya. 

Sebagai bentuk syukur, kita akhirnya mulai mendalami Al-Quran lebih dalam. Kita mulai memupuk keimanan kita dengan hadir ke kajian demi kajian. Kita memulai lembaran pertemanan yang baru, memperbanyak sahabat dari lingkungan pertemanan yang lebih baik. Kitapun sering berbicara tentang keindahan iman yang singgah di hati kita. Tentang romantisme ukhuwah yang akhirnya kita syukuri.

Tapi apakah di saat yang sama, kita juga merasa gemetar jika kita bersinggungan dengan kemaksiatan? Apakah kita merasa takut kepada Allah saat melakukan perbuatan yang Allah larang? Apakah kita masih santai-santai saja ketika kita melakukan hal yang tidak disukai-Nya?

Seringkali, kita sibuk memupuk keimanan tapi lupa membasmi "hama"nya. Kita sibuk meng-install hal-hal baik kepada diri kita tapi lupa memasang antivirusnya. Kita berjalan menuju Allah tapi ternyata kaki kita yang lain masih terjerat oleh jebakan hawa nafsu dan godaan setan. Hingga tanpa sadar, kita mengotori jiwa yang sudah Allah arahkan kepada kebenaran. Naudzubillah, semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita.

Milikilah rasa takut dan peliharalah rasa malu, sebab keduanya adalah tameng ketika hati kita terkotori oleh niat dan tindakan yang menyimpang. Rasa malu adalah sebagian dari iman, dan takut adalah pangkal dari ketakwaan. Orang yang beriman akan merasa takut kepada Rabbnya jika melakukan kesalahan dan akan merasa malu jika tidak cukup melakukan kebaikan. 

Semoga bukan hanya kebaikan yang kita upayakan, tapi juga dibarengi dengan menghindari keburukan. Semoga bukan hanya keimanan yang kita pupuk, tapi juga rasa takut kepada-Nya. Semoga Allah tidak hanya menunjuki kepada kebenaran, tapi juga memberi perlindungan dari kedzaliman dan kejahiliyahan. 

"Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya'qub), dan dari orang yang telah kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis." QS. Al-Hasyr (19): 58

Ya Allah, lembutkanlah hati kami..

Your Sister of Deen, 
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #64 - Menyadari Yang Tak Disadari

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Tak terasa kita sudah memasuki penghujung Oktober. Sejauh ini, Sister of Deen sudah 64 kali mengirim surat ke-inboxmu. Terima kasih banyak sudah setia membaca dan bersabar dengan segala kekurangan dan keterbatasan kami. Alhamdulillah, meski hanya di dunia maya, perasaan bahagia karena punya banyak saudara ini benar adanya.

Sister, tahukah kamu apa masalah penting dan utama yang sering terjadi pada diri kita yang sering terjadi meski tanpa kita sadari? Ialah ketidaksadaran kita terhadap posisi kita di hadapan Allah. Kita sering lupa dan kehilangan kesadaran bahwa kita ini adalah hamba, kita adalah ciptaan-Nya. Sementara, Allah adalah Rabb, yang menciptakan kita dan seluruh alam semesta beserta isinya.

Selayaknya ciptaan dan yang menciptakan, sudah barang tentu bahwa yang menciptakan memiliki kendali penuh terhadap apa yang diciptakannya. Bayangkan saja sesuatu yang sederhana yang sering terjadi pada kehidupan kita sehari-hari, masak misalnya. Bukankah kita sebagai yang memasak punya kendali apapun atas bahan makanan kita? Mau kita masak dengan cara apapun, mau kita satukan dengan bahan makanan yang manapun, bukankah kita berkuasa untuk melakukannya? Analogi lain, bayangkan jika kita adalah seorang pembuat robot. Secanggih apapun robot yang kita buat, bukankah kita yang paling tahu tentang apapun yang berkaitan dengan robot tersebut sehingga kita pulalah yang paling paham tentang apa yang seharusnya dilakukan terhadap robot tersebut? Yup! Begitu pulalah Allah dan kita. Kita tak punya kendali apapun atas diri dan hidup kita, sebab Allah adalah yang menciptakan kita, yang berhak apapun atas hidup kita.

Masalahnya, kesadaran mendasar bahwa kita adalah hamba yang diciptakan-Nya ini seringkali hilang dari diri kita, meski tanpa kita sadari. Ketidaksadaran itu membuat kita seolah memiliki legitimasi untuk melakukan respon apapun atas segala yang telah ditetapkan-Nya.

Yuk, kita telusuri apa yang sering terjadi pada diri! Berapa kali kita protes pada-Nya, “Ya Allah, mengapa harus aku? Mengapa ini yang terjadi?” padahal Allahlah yang Maha Mengetahui, segala takdir yang terjadi telah tepat diukur dan diaturnya agar bisa terpikul dan tertangani. Berapa kali kita menggerutu pada-Nya, “Ya Allah, mengapa aku tidak mendapatkan apa yang sudah aku usahakan? Aku sudah bekerja keras, mati-matian. Mengapa ini yang Engkau berikan?” padahal Allahlah yang Maha Menetapkan hasil akhir, yang tak harus berbanding lurus dengan apa yang pernah menjadi usaha-usaha kita. Berapa kali kita mendikte-Nya, “Ya Allah, aku maunya begini, harus begini ..,” padahal sejatinya kita tak pernah punya daya tawar kepada Allah, untuk menangguhkan kebaikan atau menghindarkan diri dari ujian.

Tak salah lagi, ketidaksadaran kita akan posisi diri dan Allah inilah yang menimbulkan masalah, membuat kita tak berlaku sopan kepada-Nya sebab menganggap segala hal berpusat dari dan pada diri kita. Tentang hal ini, seorang kakak pernah memberi nasehat kepada kami, bahwa sikap seorang mukmin adalah menerima segala ketetapan-Nya, tanpa tawar menawar. Ibaratnya, jika dicelupkan ke tinta merah, menerima; pun jika dicelupkan ke tinta biru, menerima juga. Diberi kondisi apapun, penerimaan dalam bingkai ketaqwaanlah yang menjadi responnya.

Tanpa kita sadari mengeluh adalah salah satu pertanda ketidaksadaran diri akan posisi di hadapan Allah. Sedih sekali kami mendengar nasehat ini, sebab sadar bahwa diri ini masih sering mengeluh, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak pantas untuk kami keluhkan. Ah, tapi kesedihan itu tak boleh membuat kita jadi tak berdaya, bukan? Maka, bersama-sama denganmu, kami ingin menjadi lebih baik lagi, utamanya dalam menerima segala ketetapan terbaik.

Hmm, andai saja kita tahu bahwa semua yang Allah tetapkan adalah yang terbaik, bahwa hitungan dan takarannya selalu tepat, dan bahwa tak sedikit pun Allah berniat untuk mendzalimi kita, mungkin tak akan sedikit pun terpikir di benak kita untuk menentang-Nya, melakukan tawar-menawar dengan-Nya, seolah kitalah yang paling tahu tentang yang terbaik bagi diri kita. Astaghfirullah, yang berlalu sudah menjadi debu, semoga kita senantiasa berbenah dan memperbaiki diri setiap kali menyambut hari yang baru.

Selamat merenda kesadaran tertinggi bahwa Allah adalah Rabb dan kita adalah hamba, hingga tak ada lagi ruang di hati dan benak kita untuk tawar-menawar dengan-Nya.

Your sister of Deen,
Novie Ocktaviane Mufti dan Husna Hanifah

Monday Love Letter #63 - Mensyukuri Hidayah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! 

Bagaimana kabarmu hari ini? Rasanya baru kemarin kami mengirim Monday Love Letter untukmu, entah kenapa akhir-akhir ini waktu berjalan cepat sekali. Maafkan surat yang terlambat ini ya, dikarenakan satu dan lain hal, suratnya baru sampai malam ini. 

Tapi tak apa, sebab malam hari adalah waktu yang tepat untuk berkontemplasi setelah mungkin seharian ini kita disibukkan oleh berbagai aktivitas. Sesibuk apapun, Allah selalu bisa menjadi tempat pulang. Jangan lupa bersyukur, ya! 

Bicara tentang syukur, sekilas jika kita mendengar kata syukur, yang terpikir adalah bersyukur tentang hal-hal yang tampak. Seperti harta, rumah, mobil, dan benda-benda lainnya yang bersifat materi. Tapi bersyukur juga tidak hanya tentang materi, banyak hal-hal tak nampak seperti kesehatan, ketenangan hati, kepekaan untuk bisa merasa, bahkan hidayah. 

Ya, hidayah adalah salah satu rezeki dari Allah yang hanya diberikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Hidayah diberikan kepada mereka yang terpilih. “Sesungguhnya Allah ta’ala memberi harta kepada siapa yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Dan Allah tidak memberi keimanan kecuali kepada yang Dia cintai.” (HR. Bukhari) 

Hidayah itu rezeki. Seperti Nabi Muhammad SAW yang didampingi malaikat Jibril dan Mikail saat melakukan perjalanan Isra Mi'raj, ada peran Jibril yang bertugas menurunkan hidayah dan ilmu Allah saat kita menghadiri sebuah majelis ilmu serta peran Mikail dalam memberikan rezeki berupa pemahaman dan keyakinan dari ilmu tersebut. Sehingga jelaslah bahwa sejatinya setiap hamba “diperjalankan” oleh Allah dalam kehidupannya. 

Rangkaian kejadian dalam hidup dari mulai kita dilahirkan ke dunia hingga hari ini, bertemunya diri dengan ujian-ujian kehidupan, pertemuan demi pertemuan yang mungkin terkesan seperti sebuah 'kebetulan', bahkan perjuangan menuju cita-cita yang terasa jauh dan berkelok-kelok, itu semua adalah bukti kebesaran Allah bahwa Allah adalah pengatur skenario terbaik bagi kehidupan kita. Mungkin suatu waktu kita pernah mempertanyakan takdir Allah, namun percayalah bahwa melalui takdir itu Dia memberikan berbagai pelajaran hidup dan hikmah pada kita. 

Kita yang terlahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian Allah ajarkan banyak hal melalui perantara-Nya. Kita yang mungkin dulunya terjebak dalam keburukan, lalu Allah hantarkan menuju kebaikan. Dari yang dulunya kongkow-kongkow tanpa tujuan, Allah tunjukkan teman-teman yang saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Dari yang dulunya jauh dari Allah, kini mendekat kepada-Nya adalah sesuatu hal yang sangat dirindukan. 

Bukankah indah, ketika menyadari bahwa Allah sudah terlampau baik dengan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya? Bukankah bersyukur, ketika kita sudah dipilihkan Allah jalan hidup dan wadah terbaik untuk kita menumbuhkan benih-benih fitrah ketauhidan kita? Apalagi ketika kita paham bahwa hidayah itu diberikan kepada orang-orang yang terpilih saja atas kehendak Allah. Dan kitalah yang terpilih itu. Kitalah yang oleh Allah diberi kesempatan merasakan cahaya iman dan islam di saat orang lain banyak yang masih belum keluar dari kegelapannya. 

Maka kepada diri, jemputlah terus hidayah itu, seperti halnya rezeki yang perlu diupayakan. 

Kepada orang lain, bagilah keindahan itu, agar keMahaBaikan Allah tidak hanya dirasakan oleh kita seorang. 

Dan kepada Allah, berterima kasihlah, dengan sekuatnya mengupayakan syukur.

Barakallahu fiik, sister. Semoga kita bisa senantiasa menjaga nikmat hidayah ini sampai ruh berpisah dari jasad untuk kemudian kembali kepada-Nya dalam keadaan yang terbaik. Aamiin..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Rabu, 09 Oktober 2019

OOTD

Suamik mau pergi ke RSGM doang padahal, tapi bajunya kayak yang mau pergi latihan militer :v
"Aa serius mau pake baju itu? Kaos biasa aja ih."
"Biarin, kan OOTD. Tau ga kamu OOTD?"
"Tau lah, sini foto dulu atuh. Orang-orang kalo mau OOTD kan difoto dulu."
*Terus dia bergaya tp mukanya sengaja dijelek2in*
Ya udah aku rekam aja sekalian.

Senin, 07 Oktober 2019

Monday Love Letter #62 - Menghidupi Perjalanan, Menjalani Kehidupan

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!
Bertemu lagi di Monday Love Letter, sebuah surat cinta dari kami berdua para founder Sister of Deen. Jika ini menjadi surat pertamamu, selamat bergabung ya sister. Semoga tak ada hal lain yang kamu dapatkan dari surat ini selain kebaikan dan kebermanfaatan. Dan untukmu yang sudah mengikuti Sister of Deen dari mulai awal perjalanannya, kami ucapkan terima kasih banyak, semoga kita tetap bisa menjadi sahabat bertumbuh yang suportif satu sama lain. 
Surat hari ini akan diawali dengan sedikit wawasan mengenai psikologi, mengingat ada salah seorang dari kami yang sedang mendalami ilmu tersebut. Tapi tentu saja akan disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti, selamat menyimak ya! :)
Kata orang, beranjak dewasa berarti memasuki waktu-waktu dimana kita mulai mempertanyakan banyak hal tentang hidup ini. Salah satunya adalah tentang makna dari hidup itu sendiri, yang seringnya menjadi pertanyaan kontemplatif saat sedang diam sendiri, “Apa sih makna hidup ini?” Apakah kamu juga pernah bertanya-tanya tentang pertanyaan yang sama?
Dalam dunia Psikologi (dan atau Psikiatri) ada seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa yang berasal dari Austria, beliau bernama Viktor Frankl. Pengalamannya dikurung dalam sebuah kamp konsentrasi di tahun 1942 membuatnya berpikir analitis dan kontemplatif sehingga pada akhirnya ia menawarkan sebuah corak baru dalam psikoterapi, yaitu Logoterapi. Adakah yang pernah mendengarnya? Logoterapi adalah sebuah terapi psikologi atau psikiatri yang mengakui adanya dimensi spiritualitas, yang beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna adalah motivasi utama yang dimiliki seorang individu untuk meraih kehidupan yang didambakannya. 
Berkaca pada apa yang menjadi pandangan Frankl, katanya manusia hidup sebab menginginkan kehidupan yang bermakna. Seperti awan mendung yang menggantung, konsepsi ini seperti berujung pada pertanyaan lain yang jadi menggantung, “Iya sih ingin hidup bermakna, tapi memangnya hidup yang seperti apa sih yang disebut hidup bermakna itu?” Pertanyaan itu masih menggantung hingga suatu ketika seorang sahabat menuliskan dalam sebuah hand lettering cantiknya,

“Life is a journey from Allah to Allah.”

Ah yaa! Ini lebih dari sekedar bermakna. Makna hidup nyatanya memang sebuah perjalanan, dari Allah menuju Allah. Sebab, Allahlah yang menciptakan kita, membuat kita terlahir ke dunia, dan kepada-Nyalah nanti kita akan kembali. Seperti surat cinta dari Allah dalam Al-Qur’an,
“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
– QS. Al-Baqarah : 28
 
Menariknya, perjalanan hidup selalu menawarkan begitu banyak dinamika, sehingga perjalanan hidup itu sendiri mengalami pendalaman makna: ada tentang bertahan, berjuang, memberi, menerima, bersabar, bersyukur, dan masih banyak lagi yang tentunya juga termasuk didalamnya tentang memaknai kematian dan kepergian. 
Setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang hidup, sebab masing-masing kita memiliki cerita dan jalan-jalan hidup yang berbeda. Tapi, selama masih dalam koridor yang benar, muara pemaknaan akan berujung pada memaknai hidup sebagai sebuah perjalanan; dari Allah menuju Allah. Maka, ketika kita sedang mencari dan ingin memberi makna pada kehidupan kita, datanglah kepada Dia yang memberi kehidupan kepada kita sebab pada Allah-lah tersimpan semua jawaban. Semoga dalam perjalanannya, kita tidak salah jalan dan berani melangkah di jalan yang benar. 
Selamat menghidupi perjalanan, selamat menjalani kehidupan. Baarakallahu fiik :”)

Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #61 - Andai Aku Boleh Memilih

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, tak terasa sudah sampai di Monday Love Letter ke-61. Terima kasih untukmu yang masih setia menunggu dan membaca surat-surat kami. Semoga kami bisa terus menemani proses perjalananmu untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik setiap harinya. Mohon doanya juga untuk kelancaran proses pengerjaan naskah buku kami agar kelak semakin banyak inspirasi dan semakin luas manfaat dari Sister of Deen. Terima kasih sudah bersabar menunggu ya!

Ada sebuah tema yang terbersit untuk memulai surat kali ini, yaitu tentang jawaban doa. Adalah hal yang lumrah, kita sebagai manusia memiliki (sederet) keinginan. Dan banyak dari kita yang mengekspresikannya dengan berdoa kepada Allah. Tentu ini baik, apalagi berdoa adalah salah satu ibadah yang Allah sukai. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga memiliki keinginan yang sedang dimintakan kepada Allah?

Manusia boleh memiliki keinginan, tetapi Allah punya kehendak. Allah yang paling tahu jawaban apa yang paling terbaik atas doa kita. Dan jawaban terbaik itu ada dalam salah satu dari tiga jawaban YA;
Iya, sekarang.
Iya, nanti.
Iya, tapi Aku punya yang lebih baik.

Dari 3 jawaban itu, kira-kira jawaban mana ya yang paling enak? Kalau kamu, akan pilih yang mana?

Sepertinya kebanyakan orang akan memilih jawaban doa yang pertama, Iya, sekarang. “Baik hambaku, doamu Aku kabulkan sekarang,” lalu.. taraaaa.. apa yang kita inginkan langsung terrwujud. Kira-kira bagaimana perasaan kita? Pasti senang sekali. Logis sih, siapa sih yang nggak mau, berdoa minta sesuatu, lalu keinginannya itu langsung diwujudkan sesuai dengan keinginan kita. Seperti Nobita setiap kali curhat ke Doraemon, permintaan apapun Doraemon pasti akan mengabulkannya, di detik itu juga. Enak ya kayaknya kalau hidup semudah itu, nggak susah kayak Ferguso. Hehehe..

Sekarang, coba bayangkan kalau Allah kasih kita jawaban yang kedua. Iya, nanti. "Iya doamu akan Ku kabulkan, tapi nanti ya, karena waktu yang terbaiknya bukan sekarang.." Kira-kira bagaimana perasaan kita seandainya Allah bilang begitu? Respon pertama mungkin sedih dan kecewa ya? Udah doa serius-serius, tapi jawabannya nanti. :(

Jadi, apakah menurutmu lebih enak jawaban yang pertama? Eits, tunggu dulu.. Sadar nggak sih, ketika Allah memberi jawaban NANTI, itu berarti Allah sedang merencanakan hadiah tambahan untuk kita? Kita minta ke Allah A, ketika kita ikhlas dan bersabar dalam masa tunggu, biasanya nantinya Allah akan kasih A+. Pernah ngalamin nggak? Berdoa sesuatu dan ternyata jawabannya Allah tunda, ketika terkabul pasti ada tambahan bonus-bonusnya. Bonus-bonus itu mungkin semacam "upah menunggu" dari Allah karena kita berhasil sabar dan ikhlas dengan ketetapan-Nya.

Coba deh, inget-inget pengalaman kita berdoa sama Allah. Mungkin kita pernah berdoa kepada Allah untuk bisa langsung kuliah selepas lulus SMA. Ternyata, Allah baru mengabulkannya setahun kemudian. Tapi di masa tunggu itu ternyata kita diterima kerja sehingga di tahun setelahnya bisa menjalani kuliah dengan uang sendiri tanpa minta lagi ke orangtua. Adapula yang sudah berumah tangga, berdoa kepada Allah untuk segera memiliki anak dan baru Allah kabulkan 3 tahun kemudian. Ternyata, ketika hamil, anaknya kembar. Double repotnya, tapi double juga kebahagiaannya. Bagaimana denganmu, apakah punya kisah serupa? We would love to hear your story :)

Selain itu, adanya proses menunggu seringkali membuat kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur ketika mendapatkan apa yang kita inginkan itu. Rasanya seperti mendengar adzan maghrib saat berbuka puasa, senangnya double! Dan lagi, kita jadi lebih menghargai makanan yang kita makan.

Nah, dalam berdoa pun sama, ketika Allah memberi jawaban NANTI, Allah sebetulnya sedang menyimpan double kebahagiaan untuk nanti diberikan ke kita. Allah juga ingin mengajarkan tentang seni berada di ruang tunggu, sehingga ketika kita akhirnya mendapatkan apa yang telah Allah janjikan, kita jadi lebih menghargai hal itu. Jadi, mau jawaban doanya SEKARANG ataupun NANTI, keduanya sama baiknya kan? ;)

Belum selesai sampai disitu, sekarang kita bahas jawaban doa yang ketiga. Iya, tapi Aku punya yang lebih baik. "Iya Aku akan kabulkan, tapi bukan yang itu, Aku punya yang lebih baik dari itu." Coba, gimana rasanya kalau Allah bilang begitu ke kita? Jawaban ini seringkali menguji keimanan kita. Kalau orang yang nggak percaya sama Allah, mungkin akan protes, "Kok gitu sih ya Allah? Aku kan maunya itu, kenapa malah dikasih yang lain?" Dirinya merasa bahwa pilihannya adalah yang terbaik sehingga protes ketika permintaannya Allah kabulkan dengan jawaban yang lain.

Tapi kalau orang yang percaya penuh pada Allah, walaupun mungkin awalnya dia bertanya-tanya, pada akhirnya ia akan menerima saja apa yang menjadi ketetapan-Nya. Sebab dia yakin bahwa jawaban Allah itu adalah yang terbaik untuknya. Sudah jelas Allah firmankan dalam QS. 2:216, bahwa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah, dan yang buruk menurut kita bisa jadi baik baik menurut Allah. Allah Yang Maha Tahu, kita jangan sok tahu. :)

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ketika aku meminta sesuatu kepada Allah, jika Allah memberinya padaku, aku gembira sekali. Namun, jika Allah tidak memberinya padaku, aku akan gembira sepuluh kali lipat. Sebab, yang pertama itu pilihanku, sedangkan yang kedua itu pilihan Allah.”

Pernahkah kamu mengalami jawaban doa seperti demikian? Minta kepada Allah A, tetapi Allah memberi kita C. Percayalah, didalam jawaban C itu ada banyak hikmah yang tidak bisa kita hitung, ada rasa syukur berlipat-lipat yang nanti akan kita rasakan. Tugas kita hanya satu; percaya pada apa yang menjadi ketetapan Allah.

Kebahagiaan dalam berdoa sebetulnya tidak terletak pada terkabul atau tidaknya doa kita, kebahagiaan ada pada proses berdoa itu sendiri. Dimana ketika kita berdoa, kita merasa didengarkan oleh Allah, merasa terkoneksi dengan Allah, merasa bahwa Allah selalu ada untuk kita KAPANPUN kita butuhkan. Hal ini persis seperti apa yang pernah disampaikan oleh Umar bin Khathab: “Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa.”

Maka, teruslah berdoa, sebab doa adalah bukti bahwa kita membutuhkan Allah. Doa adalah bentuk pengakuan diri bahwa kita lemah tanpa Allah, bahwa kita amat sangat membutuhkan-Nya. Berdoalah karena doa adalah ibadah dan Allah menyukai hamba yang berdoa kepada-Nya. Apapun jawaban Allah, kita tentu sudah tahu bahwa ketetapan dari-Nya, pastilah itu yang terbaik.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, jika kita berdoa, lalu Allah memberikan beberapa opsi jawaban, mana yang akan dipilih?

A. "Oke, sesuai inginmu, Aku akan kabulkan doamu."

B. "Iya doamu akan Kukabulkan, tapi nanti ya, karena waktu yang terbaiknya bukan sekarang.."

C. "Iya Aku akan kabulkan, tapi bukan yang itu, Aku punya yang lebih baik dari itu."

D. Gimana Allah aja.

Mau berbagi jawaban dengan membalas surat ini boleh, mau jawab didalam hati juga boleh :)

Barakallahu fiik, sister.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti