Senin, 07 November 2022

Di Detik yang Terakhir

 *dikutip dari Monday Love Letter #178, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Saat sedang memulai menulis surat ini, sejujurnya saya sedang tidak ingin menulis. Otak saya masih berusaha mencerna untuk menemukan pesan apa yang sebetulnya ingin Allah sampaikan atas banyak hal yang terjadi sepekan ke belakang. Awal pekan lalu, dalam berbagai refleksi diri di waktu-waktu menjelang akhir tahun 2022 ini, saya menyadari satu hal bahwa di tahun ini Allah banyak mengingatkan saya perihal kematian. Ada banyak berita kematian selama setahun ini dari mulai sahabat, keluarga, sampai orang yang tidak saya kenal namun ada kesan baik atas kematiannya.

Dan dalam satu pekan ke belakang, pendidikan yang sedang Allah berikan untuk saya, mungkin tema besarnya adalah kematian. Di hari Selasa lalu, takdir membawa saya pada sebuah pelatihan pemuliaan jenazah, yang mana saya tidak menjadwalkan untuk berada di forum tersebut, tetapi skenario Allah seakan menggiring untuk saya berada di sana. Selain untuk menjadi supir yang mengantarkan pemateri, saya juga ditunjuk untuk menjadi operator yang mengoperasikan laptop. Saya dengarkan materinya dan saya saksikan proses demi proses simulasi pemuliaan jenazah (yang diperagakan oleh manekin) dari mulai mentalkinkan, memandikan, mengafani, hingga menyolatkan. Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu, sister? Baru saja seluruh materi selesai disampaikan, muncul notifikasi di HP saya yang memberitakan bahwa uwa saya atau kakak ipar dari ibu saya, meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.. Ya Allah, baru aja membicarakan kematian, langsung dapat berita kematian.

Tidak sampai di situ, di hari Sabtu malam, ibu dari sahabat saya juga berpulang ke rahmatullah. Saat saya takziyah ke rumah duka, jenazahnya sedang dimandikan oleh keluarga. Dan saat sudah masuk proses mengkafani, saya dipersilakan masuk ke dalam rumah untuk menyaksikan. Perasaan saya campur aduk ketika itu. Baru Selasa lalu saya menyaksikan manekin dikafani, malam itu saya melihat langsung jenazah yang sedang dikafankan. Ya Allah, betapa kematian itu begitu dekat.. :''''

Dan berita-berita internasional yang viral memberitakan kematian massal di berbagai belahan dunia, yang mungkin kamu juga mengetahuinya. Kita semua seakan sedang diberi pesan yang sama oleh Allah untuk kembali menyadari dan memahami kembali makna innalillahi wa inna ilaihi rajiu'un. Bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka kematian adalah hal yang pasti datang kepada setiap yang bernyawa.

"Teh, dulu aku denger berita kematian tuh jauh, tapi semakin ke sini, berita kematian datang dari orang-orang yang dekat.." ucap salah seorang sahabat saya saat kemarin kami sedang bertakziyah. Saya sangat amat setuju dengan pernyataannya. Bahkan, kalimat serupa juga disampaikan oleh pemateri yang beberapa hari lalu mengisi pelatihan pemuliaan jenazah. Semakin bertambah usia, berita kematian semakin sering kita dengar. Dari orang-orang dekat, dari keluarga sendiri, dan pasti akan tiba saatnya suatu hari kita juga akan meninggalkan dunia ini.

Bagaimana tidak overthinking? Berita kematian selalu memberi pesan terbaik sekaligus tamparan keras bagi kita (terutama saya) yang masih sering terlena dengan kesenangan dunia. Seiring dengan banyaknya dan seringnya kita mendengar berita kematian, rasanya keterlaluan ya kalau kita masih saja bermalas-malasan untuk beramal sholeh? Jika sudah banyak orang-orang di sekitar kita yang sudah lebih dulu menghadap kepada-Nya, bukankah bisa jadi giliran kita akan tiba sebentar lagi? Maka apa yang sudah kita siapkan untuk menyambut kematian terbaik?

Di satu sisi, saya takut dan amat khawatir. Rasanya, mau berapa kalipun berkaca, amal sebanyak apapun yang diri ini lakukan sepertinya tidak akan pernah cukup untuk bisa membeli surga. Tapi Allah tentu tidak menghendaki kita untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Di sisi lain, saya merasa cukup lega dan bersyukur saat mendengar bahwa orang-orang yang saya kenal yang berpulang di tahun ini, mereka meninggal dalam keadaan yang baik.

Mertua dari sahabat saya, meninggal dalam keadaan sedang mengisi ceramah subuh di bulan Ramadhan lalu. Sahabat saya sewaktu kuliah, meninggal dalam keadaan sakit kanker, namun masyaallah, Allah memanggilnya bukan sedang dalam kondisi kritis. Melainkan dalam keadaan tidur, setelah sebelumnya telah menunaikan shalat tahajud terlebih dahulu. Ibu dari sahabat saya, alhamdulillah sempat mengucap laa ilaha illallah saat sedang ditalkinkan. Semoga mereka semua husnul khatimah dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah. Aamiin.

Lalu ada pula berita yang sempat ramai menghiasi social media saya di tahun ini, yaitu meninggalnya salah seorang ustadzah saat sedang memimpin pengajian. Dan juga meninggalnya salah seorang mualaf mantan pastur, yang ternyata kondisi mayatnya saat dimandikan bersih tanpa kotoran, jenazahnya wangi, banyak sekali yang menyolatkan, banyak sekali yang mendoakan.

Saya iriiii sekali pada orang-orang yang 'dijemput' oleh Allah dalam keadaan yang baik, keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan membawa segunung 'prestasi' yang membanggakan di hadapan Allah. Berita-berita seperti itu, seperti menumbuhkan harapan untuk saya bahwa husnul khatimah is actually reachable. Selama kita mencita-citakan itu, tulus minta sama Allah dan senantiasa mengupayakannya, insyaallah Allah akan mengabulkannya.


Sejalan dengan sebuah hadits yang pernah saya baca, "Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus (benar), niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." -HR Muslim.

Dan itulah yang saya lakukan. Diam-diam, walau sambil menahan malu kepada Allah karena diri ini masih banyak memiliki kehinaan, saya selalu berharap agar kelak saat saya dipanggil pulang oleh-Nya, saya bisa 'dijemput' dalam keadaan yang baik, dalam keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan sedang beribadah dan berjuang untuk-Nya. Aamiin.. :")

Semoga saya dan kamu yang membaca surat ini, diberi hadiah terbaik dari Allah di detik-detik terakhir waktu kita di dunia, yakni kematian yang husnul khatimah dan digolongkan bersama orang-orang yang mati syahid. Aamiin yaa Rabbal 'Alamiin..

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Maukah Kita Bersabar Sedikit Lagi?

 *dikutip dari Monday Love Letter #171, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah senang sekali akhirnya bisa kembali menyapamu setelah sekitar 1 bulan mungkin ya emailmu sepi dari Monday Love Letter. Hehe. Kabarmu baik-baik saja, sister? Dalam keadaan apapun dirimu saat ini, semoga selalu dalam perlindungan dan penjagaan terbaik-Nya, ya. Aamiin.

Saya akhir-akhir ini berpikir bahwa setiap manusia yang hidup tentu tidak mungkin lepas dari ujian dari-Nya. Setiap kita pasti memiliki ujian, masalah, hambatan, tantangan atau apapun itu kamu menyebutnya. Pasti ada aja gitu kan hal-hal atau peristiwa yang bikin kita kelabakan atau bikin hati nggak nyaman, yang tentunya semua itu tidak lepas dari ketetapan yang sudah diskenariokan oleh Allah untuk kita.

Di dalam Quran, Allah berfirman, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," -QS. Al-Baqarah (2) :155

So, kita sebetulnya tidak akan mungkin menghindari hal-hal yang barangkali membuat kita takut dan serba kekurangan karena ujian adalah sebuah keniscayaan yang pasti Allah hadirkan. Akan tetapi, di akhir ayat itu Allah juga memberi petunjuk bahwa kunci untuk menghadapi semua kesulitan itu adalah dengan bersabar.

Di surat yang lain Allah menambahkan, "Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." QS. Az-Zumar (39): 10

Lihatlah, betapa istimewanya sebuah kata kerja bernama sabar. Tentu sabar disini bukan berarti diam berpasrah dan tidak melakukan apa-apa. Sabar yang sebenernya justru adalah sikap tangguh dan pantang menyerah untuk terus memproseskan diri di jalan-Nya. Sabar yang insya Allah akan membuat kita mendulang pahala yang besar dan menjadi kunci surga untuk kita.

Eits, tapi nih tapiii sabar itu kan nggak mudah, sist! Hehe, mungkin itu yang terbersit di pikiranmu. Pada kenyataannya, bersabar memang tak semudah mengatakannya. Saya juga masih sering remedial kok perkara sabar ini. Ada momen-momen tertentu yang mungkin membuat kita terasa seperti berjalan di lorong gelap yang cahaya di ujungnya belum juga terlihat. Tentu rasanya sangat frustrasi karena titik terang itu belum juga muncul sedangkan diri sudah mulai lelah untuk berjalan dan bertahan. Di saat seperti ini, kepada siapa lagi kita menggantungkan harap jika bukan kepada Allah?

Sisterku, ingat kembali bahwa janji Allah itu pasti. Selama kita mau terus berupaya dan bersabar menjalani proses, selama kita mau terus menjaga dan menahan diri untuk tidak berbalik ke belakang, selama itu pula Allah sebetulnya sedang menyiapkan pahala dan ganjaran yang besar untuk kita.

Seandainya kita diperlihatkan oleh Allah bahwa kesabaran kita hari ini yang ternyata akan membawa kita kepada surga-Nya, akankah kita menyerah? Tentu tidak kan? Kita justru akan semakin semangat untuk berjuang karena tahu bahwa semua keperihan ini akan berakhir indah.

Hanya saja, yang namanya reward tentu tidak akan ditaruh di depan. Yang namanya reward, pasti diberikannya belakangan. Maka kita perlu memupuk keyakinan kepada Allah bahwa segala jerih payah di jalan-Nya dan demi mendapatkan ridho-Nya, pasti akan ada reward-nya. Maukah kita bersabar sedikit lagi?

Ada sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang bagi saya sangat menarik, mungkin kamu pernah mendengar juga hadits ini. Rasulullah SAW bersabda: Tidak seorang pun yang  masuk surga lalu ingin kembali ke dunia walaupun bagaimana besar kekayaannya di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia mengharapkan kembali ke dunia hingga dibunuh kembali sepuluh kali dalam (perang sabilillah). Karena kemuliaan yang dilihatnya (yang diberikan kepadanya). Dalam riwayat lain: Karena melihat keutamaan mati syahid. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ternyata, para syuhada yang wafat di medan perang, justru malah ingin kembali ke dunia dan terbunuh lagi, dikarenakan saking nikmat dan indahnya jamuan yang diberikan Allah di surga-Nya. Terbayang nggak sih oleh kita, kembali ke dunia dan terbunuh lagi itu berarti tertusuk pedang sekali lagi, tertombak anak panah sekali lagi, tertebas bagian tubuhnya sekali lagi, dan sakaratul maut sekali lagi. Tapi mereka bersedia untuk melaluinya lagi. Artinya, segala perih di dunia tidak ada apa-apanya dibanding nikmat yang sudah Allah siapkan di surga-Nya.

Maka dari itu, sister. Jika kita yakin pada janji Allah, stok sabar kita pasti tidak akan ada batasnya. Sabarlah dalam berjuang di jalan-Nya, sabarlah untuk mengejar ridho-Nya, sabarlah untuk tidak menyerah dan berbalik ke belakang, sabarlah menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya. Sabarlah, tidak lama, hanya selama di dunia-- untuk kemudian menikmati reward tanpa batas dari-Nya di akhirat.

 

Yang juga sedang belajar sabar,
Your sister of Deen,

Husna Hanifah

Rabu, 06 April 2022

From Tears to Blessing

*dikutip dari Monday Love Letter #157, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sejak 2 pekan ke belakang akhirnya saya mulai aktif lagi beraktivitas ke luar rumah. Setelah insiden kaki terkilir di akhir Januari lalu, saya yang sering main ke luar ini mau tidak mau harus membatasi pergi ke luar rumah. Bagaimana tidak, untuk jalan saja sudah susah, apalagi menyetir motor atau mobil, haha. Tak disangka pemulihannya membutuhkan waktu lebih dari sebulan sampai akhirnya saya bisa menyetir motor lagi.

Saat sudah siap "berkelana" kembali, ternyata Allah memberikan waktu tambahan selama 2 pekan untuk diam di rumah karena saya dan suami sakit secara berbarengan dan kami harus isoman. Subhanallah.. Awalnya saya sempat bertanya-tanya mengapa ujiannya terasa bertubi-tubi tanpa jeda? Bahkan sebelum kami sakit, keluarga besar sudah terlebih dulu sakit secara bergantian. Bisa dibilang kami ini kebagian sakit di kloter terakhir. Hehe..

"Akhirnya semua harus kebagian.. Alhamdulillah, semoga menjadikan kita semua orang-orang yang lebih taat kepada Allah.. Menjelang Ramadhan dosa-dosa berguguran dan keimanan meningkat. Semoga.. Aamiin.. Semangat sehat, Teh, Mas.." Sebuah pesan dari ibu saya muncul di layar HP saat membuka grup keluarga. Masya Allah, ada benarnya juga. Bagi seorang muslim, sakit adalah salah satu cara Allah mengugurkan dosa-dosa. Maka, ujian sakit yang diberikan oleh Allah semestinya menjadi hal yang seharusnya kita syukuri dibanding kita keluhkan.

Mungkin karena mau Ramadhan, jadi kita ini sedang "dibersihkan" oleh Allah agar nanti ketika tiba saatnya bertemu Ramadhan, kita sudah dalam keadaan jiwa yang lebih bersih dan keimanan yang meningkat. Cara pandang ini membuat saya akhirnya mensyukuri ujian sakit yang Allah berikan, bahkan mampu menikmati setiap rasa sakit yang terasa oleh badan. Berharap dari setiap rasa sakit itu, secara bersamaan Allah juga menggugurkan setiap dosa.. Aamiin ya Allah..

Tentu saja cara Allah membersihkan setiap orang akan berbeda. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang diuji dengan masalah hidup, ada yang diuji dengan kerugian materi, ada yang diuji dengan kehilangan orang tersayang, dan masih banyak lagi. Adakah dari semua yang saya sebutkan sedang dialami olehmu, sister? Saya doakan semoga setiap rasa sakit yang terasa, baik itu di raga maupun di hati, menjadi jalan untuk luruhnya dosa-dosa serta menjadi jalan untuk semakin dekat dan taat kepada Allah ya, sisterku..


Menerima ketetapan-Nya yang bagi kita buruk, tentu tidak selalu mudah. Apalagi sampai mensyukuri dan berterimakasih pada takdir yang pernah membuat kita terluka. Tetapi jika kita memandang bahwa semua itu adalah cara Allah untuk membersihkan jiwa kita, maka semoga hati kita bisa lebih lapang untuk menerima.

Bukankah para penghuni syurga adalah mereka yang jiwanya bersih? Rasanya tak mungkin bisa mendapat kenikmatan untuk bertemu Allah jika kita masih terkotori oleh dosa-dosa karena Allah adalah Dzat yang Maha Suci. Nggak pantes banget kan menghadap kepada Raja Langit dan Bumi dalam keadaan diri kitanya "gembel". Heu.. :(

Maka berterimakasihlah atas segala ujian dan tempaan yang Allah berikan untuk kita, karena itu adalah bentuk sayangnya Allah kepada kita. Bersyukurlah atas segala ujian yang Dia hadirkan, sebab itu adalah bentuk cinta Allah agar kelak kita bisa kembali "pulang" dengan selamat dan pantas untuk bertemu dengan-Nya.. Semangat terus dalam berproses untuk menjadi sebaik-baik hamba-Nya, sister! Bangkit dan berjuang lagi, yuk! :)

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Selasa, 01 Maret 2022

Hamba yang Berpura-pura

*dikutip dari Monday Love Letter #154, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Hari ini tanggal merah ya? Bertepatan dengan peristiwa Isra Mi'raj yang terjadi di tanggal 27 Rajab. Tidak terasa bulan Rajab sudah mau habis dan Ramadhan sudah semakin dekat. Sekitar 33 hari lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan, insya Allah. Semoga Allah masih memberi usia untuk kita bertemu dengan Ramadhan ya, sister. Yuk aamiin bareng-bareng! Aamiin.. :')

Bicara tentang Isra Mi'raj, dulu saya melihat peristiwa Isra Mi'raj hanya dari kacamata sejarah, sebagai sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu, sebagai salah satu mukjizat besar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW. That's it.

Lambat laun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, pemaknaan saya terhadap peristiwa Isra Mi'raj juga semakin bertambah. Salah satunya adalah tentang perintah shalat yang sering disebut orang sebagai "oleh-oleh" dari perjalanan beliau SAW yang ternyata turunnya perintah shalat justru bukanlah beban, melainkan sebuah kabar gembira bagi umat mu'minin saat itu karena mereka bisa terhubung langsung dan berdoa kepada Allah dalam shalatnya tanpa sekat. Maasyaa Allah, semoga shalat juga bisa semenggembirakan itu ya untuk kita, sister.

Tapi, saya juga baru saja mendapat sebuah pemaknaan baru dari peristiwa Isra Mi'raj ini yang berhasil membuat diri saya merasa malu di hadapan Allah sekaligus menaruh harap dan niat agar diri ini mau dan siap untuk terus berupaya dalam sebuah perjalanan panjang menjadi seorang hamba Allah yang sebenar-benarnya. Izinkan saya bagikan untukmu juga ya, sisterku.. :)

***

"Subhaanalladzii asraa bi'abdihi.. Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya." Dalam sebuah forum kajian, QS. Al-Israa ayat pertama dibacakan.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan, "Ayat ini turun di tahun ke-10 atau 11 kenabian. Saat di mana Rasulullah sudah mengalami banyak hal dalam perjalanan kerasulannya; dicaci, dimaki, disebut majnun (gila), disakiti, bahkan menjadi buronan karena hendak dibunuh. Setelah Rasulullah mengalami semua itu, Allah panggil beliau dengan sebutan 'abdihi, hamba-Ku. Yuk, hamba-Ku, aku perjalankan engkau."

Saya masih terkesima dengan cerita perjuangan Rasulullah SAW sampai beliau (pemateri) melanjutkan, "Kita selama ini ngaku kalau diri kita hamba Allah, tapi sudah sejauh mana pengorbanan yang kita berikan untuk Allah sementara Rasulullah dipanggil Allah dengan sebutan hamba saat sudah mengalami semua itu? Rasanya kok malu ya ngaku-ngaku kalau kita ini hamba Allah," ujar beliau sambil tersenyum dan menatap kami. Badan saya langsung merinding ketika mendengarnya.

Saya tidak akan lupa kalimat demi kalimat itu. Lebih tepatnya, tidak ingin melupakan nasihat itu, sehingga saya tulis di sini. Ternyata, ada sebuah pesan penting yang barangkali ingin Allah sampaikan hanya dari satu kalimat "subhaanalladzii asraa bi'abdihi.." supaya kita melakukan evaluasi besar-besaran tentang bagaimana kinerja kita selama ini dalam menghamba kepada-Nya. Wallahu 'alam.

Saat ayat ini dimaknai untuk menjadi muhasabah diri, bagi saya, rasanya JLEBB banget dan pengen nangiss. Huhu. Malu banget nggak sih, menyebut diri kita ini hamba Allah tapi apakah dalam keseharian kita benar-benar menghamba kepada Allah??

Predikat 'hamba Allah' ini tentu bukan hanya sematan yang diberikan Allah untuk manusia. Bukan sekedar status yang jika kita ditanya 'kita ini siapanya Allah?' lalu otomatis dijawab 'hamba-Nya Allah', kemudian selesai. Tapi dengan disematkannya status 'hamba' ini, ada sebuah tanggungjawab yang juga mengiringi status tersebut, yakni untuk hidup dan bersikap selayaknya seorang hamba.

Apakah pantas disebut hamba jika kita masih pilih-pilih dalam menaati aturan-Nya? Apakah pantas disebut hamba jika masih berat dalam mengorbankan harta, jiwa, waktu, tenaga dan pikiran untuk melaksanakan apa-apa yang diinginkan dan disukai-Nya? Apakah pantas disebut hamba jika tak juga menjauhi dan melepaskan diri dari aktivitas yang tidak disukai-Nya? Karena semestinya seorang hamba adalah ia yang siap diatur oleh Tuhannya dan siap mengorbankan apapun untuk menjalankan tugas dari Tuhannya. Sudahkah kita benar-benar menjadi seorang hambanya Allah?

Jika saya harus menjawab pertanyaan yang terakhir itu, tentu saya akan berpikir berkali-kali untuk mengatakan 'sudah'. Dalam prakteknya, mungkin saya belum benar-benar bisa dikatakan hamba Allah. Namun, adakah status yang pantas disematkan kepada kita selain hamba Allah sementara yang mencipta dan memelihara hidup dan kehidupan kita adalah Allah?

Pada akhirnya, kita sebenarnya tidak akan bisa lepas dari status kita sebagai hamba Allah. Sebab Allah adalah satu-satunya yang menciptakan kita dan berkuasa penuh atas diri kita, maka sudah selayaknya kita tunduk dan berkorban penuh untuk-Nya.

***

Ternyata, memantaskan diri sebagai seorang hamba adalah perjalanan yang harus kita lakukan sepanjang hidup kita ya, sister. Karena itu, kesadaran akan status ini harus terus dijaga agar setiap aktivitas kita tidak melenceng dari tugas kehambaan kita kepada Allah. Sulit, iya. Berat, pasti. Tapi harus terus diupayakan.

Lalu bagaimana sebaik-baiknya cara menjadi seorang hamba? Rasulullah SAW adalah contoh terbaik. :)

Bismillah, yuk kita sama-sama terus berupaya memantaskan diri untuk menjadi sebaik-baik hamba-Nya. Barakallahu fiik, sister.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Kamis, 17 Februari 2022

Nikmat-Nya Selalu Mahal dan Berharga

*dikutip dari Monday Love Letter #151, yang kutulis untuk Sister of Deen

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Saya ingin mengawali surat ini dengan sebuah do'a. Allahumma bariklanaa fii rajaba wa sya'bana wa balighna ramadhan.. Aamiin ya Rabb.. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu kita sudah memasuki bulan Rajab. Sebuah kabar gembira karena itu berarti Ramadhan sudah semakin dekat! Perasaan saya saat ini excited karena sebentar lagi Insya Allah akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Tapi di sisi lain, diri ini juga masih perlu berkaca dan melatih diri agar penyambutanku untuk Ramadhan jangan sampai seadanya. Semoga kita bisa menggunakan sebaik-baiknya kehadiran bulan Rajab dan Sya'ban untuk melakukan muhasabah dan "pemanasan" terbaik agar di Ramadhan nanti kita bisa mempersembahan ibadah yang optimal sehingga Allah berkenan mengampuni dan mensucikan diri kita. Yuk, semangat yaa kita!
 
Saya mau cerita nih, sister. Sepekan yang lalu pergelangan kaki saya terkilir cukup parah yang membuat saya sama sekali tidak kuat berjalan. Pergelangan kaki kanan saya membengkak dan tidak kuat menopang badan saya sendiri. Rasanya sakit sekali saat bertumpu pada kaki kanan saya. Beruntungnya, hari itu saya langsung bisa diurut sehingga bisa meminimalisir keparahannya. Walaupun rasanya beuuhh sedap dan nikmat sampai bikin nangis-nangis, wkwkwk..
 
Alhamdulillah, hari ini bengkaknya sudah semakin kempis dan saya sudah mulai kuat berjalan walau masih harus dengan bantuan kruk. Di mata orang lain, mungkin saya terlihat kasihan. Kaki bengkak, tidak bisa berjalan, tidak bisa kemana-mana. Tapi sejujurnya, saya merasa bersyukur Allah menghadirkan kejadian ini dan memberi saya kesempatan untuk merasakan sakit seperti ini. Ternyata ada hikmah besar di balik ini semua, salah satunya saya jadi lebih menghargai satu dari sekian nikmat Allah, yakni nikmat bisa berjalan.
 
Kita yang selama ini bisa pergi kesana kemari dengan bebas, bisa mengendarai motor atau mobil dengan leluasa, bisa berolahraga, berkebun, menyapu, bersih-bersih rumah, tidak mungkin semua itu bisa kita lakukan dengan baik jika kita tidak bisa berjalan. Saya, selama ini menganggap bahwa berjalan ya hanyalah sebuah aktivitas harian yang sudah sangat biasa. Bangun tidur, kemudian berjalan ke kamar mandi, rasanya biasa saja. Sebuah kemampuan yang terasa sudah sepaket dengan hidup. Ya,, take it for granted gitu deh. Daan ketika nikmat mampu berjalan itu Allah cabut, baru saya merasakan betapa repotnya pergi ke kamar mandi dalam keadaan kaki saya tidak kuat berjalan. Huhuhu, saat nikmat-Nya sedang Dia tahan, kita bisa apa..? T_T
 
Padahal, setiap kali kita melangkah, ada banyak otot, sendi, tulang, urat, dan syaraf yang bekerja sehingga tubuh kita kuat dan mampu untuk berjalan. Ternyata, saat Allah bikin terkilir satu saja pergelangan kaki ini, kemampuan untuk berjalan bisa hilang seketika. Subhanallah.. Betapa kita ini kecil dan selemah itu di hadapan Allah..
 
Ini baru ngebahas satu nikmat lho, kebayang ada berapa kebaikan dan karunia dari Allah yang selama ini kita nikmati, tapi tidak benar-benar kita syukuri?? Kemampuan kita untuk melihat, mendengar, meraba, mengecap, mengunyah, menelan, berkedip, bersin, dan masih banyak lagi yang mungkin selama ini kita kira bahwa itu adalah mekanisme normal dari tubuh kita yang sudah seharusnya bekerja. Padahal, di balik itu ada Allah yang mengatur setiap detil dari pergerakkan kita, sekecil apapun gerak yang kita lakukan. Dan jika Allah berkehendak untuk mengambil nikmat itu dari kita, sangat amat mudah bagi-Nya dan bisa dilakukan-Nya hanya dalam waktu sepersekian detik saja.
 
Saya jadi ingat salah seorang tetangga yang suatu hari tiba-tiba lumpuh setengah badannya. Kemudian saat dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa beliau terserang stroke. Subhanallah. Ya, setiba-tiba itu Allah mampu membuat tubuh kita lumpuh seketika. Setidakberdaya itulah kita di hadapan Allah. Maka apa yang patut kita sombongkan?
 
Tidak ada nikmat Allah yang kecil. Semua nikmatnya begitu mahal dan berharga. Semoga kita bisa senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan, baik yang kita sadari maupun yang tidak, baik yang kita minta ataupun yang tidak kita minta. Semoga, sebelum Allah ambil kembali nikmat yang selama ini Dia berikan, kita mampu menggunakan berbagai nikmat itu dengan baik dan menjadikannya media dan sarana untuk beribadah dan lebih taat kepada-Nya.

 
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?" -QS. Ar-Rahman
 
 
Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Jeda, Hikmah, dan Harapan

*dikutip dari Monday Love Letter #148, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Akhirnyaa setelah sekian lama akhirnya saya bisa menulis Monday Love Letter lagii, yeaay alhamdulillah. Bagaimana nih kabarmu, sister? Semoga selalu dalam keadaan keimanan yang baik, ya! Selama kurang lebih 2 bulan saya mengambil jeda dari Sister of Deen, saya bisa bilang kalau itu adalah sebuah jeda yang cukup baik untuk saya maupun untuk kehidupan saya. Sebenarnya, dalam 2 bulan itu, saya mengambil jeda bukan hanya dalam urusan Sister of Deen, tapi juga saya berusaha untuk melambatkan laju di banyak hal. Bukan untuk lari, tapi untuk kembali memaknai segala hal dalam hidup dan mengembalikan kesadaran dalam menjalaninya.

Kamu sering nggak sih, merasa waktu cepat sekali berlalu? Tiba-tiba sudah sore lagi, tiba-tiba sudah Senin lagi, tiba-tiba sudah berganti bulan atau tahun, tanpa benar-benar memaknai setiap jam dan menit yang kita lalui. Itu yang sedang saya rasakan selama beberapa bulan terakhir. Tentu saja semua itu tidak terjadi tiba-tiba, ada beberapa faktor yang seringkali membuat saya kehilangan fokus dalam menjalani hidup. Seperti rutinitas, masalah hidup, stres, hingga interaksi dengan gadget. Jujur, yang terakhir sepertinya penyumbang terbesar dari hilangnya fokus deh, hehehe.

Setelah  pengumuman jeda dari Sister of Deen diumumkan, malam itu juga saya membuat list mengenai apa-apa saja yang akan saya "benahi" dalam 2 bulan itu, salah satunya adalah mengurangi interaksi dengan gadget dan sosial media. Tidak selalu berhasil, tapi cukup untuk setidaknya banyak mengurangi screen time dan menambah aktivitas bermanfaat di luar dunia maya. Hehe.


Saya ingat, bulan November lalu, untuk pertama kalinya saya berhasil menulis Jurnal Syukur selama 30 hari. Saking bangganya dengan diri sendiri, saya bahkan membuat rekapnya di excel. Ternyata dalam 30 hari itu saya berhasil menulis 18.210 kata dengan total waktu 13 jam selama 30 hari menulis Jurnal Syukur. Alhamdulillah, setelah berkali-kali gagal akhirnya berhasil juga :')

Di bulan Desember, Allah memberikan waktu yang lebih banyak untuk saya berinteraksi bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga. Qadarullah, nenek saya yang tinggal satu-satunya, masuk rumah sakit selama sekitar seminggu yang pada akhirnya wafat di hari terakhir tahun 2021. Di malam tahun baru, saya sama sekali tidak sempat memikirkan tentang resolusi dan sebagainya. Saya hanya banyak merenung, mengingat bahwa selama tahun 2021 Allah telah mengambil kakek, om, dan nenek saya di tahun yang sama. Mungkin pesan tersirat dari-Nya adalah supaya saya lebih menghargai kehadiran keluarga dan bersyukur atas kehadiran mereka. Selama mereka masih ada, dan selama saya juga masih ada umur, semoga kehadiran keluarga selalu menjadi sesuatu yang saya syukuri.

Alhamdulillah, di tahun ini, Allah masih memberi umur. Banyak hal mulai kembali ditata, dari hal yang kecil seperti pengelolaan emosi hingga hal-hal penting terkait berbagai amanah dan tanggungjawab. Lalu, bagaimanakah Sister of Deen akan berlanjut di tahun inii??

Naah ada kabar gembira untukmu nih, sister! Alhamdulillah beberapa hari lalu tim Sister of Deen sudah mengadakan meeting perdana dan merencanakan program-program yang insya Allah akan dijalankan di tahun ini. Yay! Semoga dengan bekerja sebagai tim, manfaat yang bisa diberikan bisa semakin meluas dan semakin banyak pula perempuan yang terbantu dengan adanya Sister of Deen Project ini. Mohon doanya ya, sister!

Saya punya harapan, semoga di tahun ini saya bisa hidup dengan lebih "sadar" sehingga kesia-siaan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Menjaga agar setiap detik penuh dengan ibadah, manfaat, dan amal shaleh, tentu tidaklah mudah. Tapi ketika kita sudah berniat, kita akan setidaknya mencoba dan menjaga agar tindakan kita sesuai dengan apa yang kita niatkan. Dan semoga Allah memberi pahala untuk setiap jatuh bangun yang kita hadapi.

Kalau kamu, punya harapan apa di tahun ini? ;)

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Rabu, 03 November 2021

Masa Kritis Menjelang Akhir Tahun

  *dikutip dari Monday Love Letter #146, yang kutulis untuk Sister of Deen

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Saya baru saja menyadari satu hal. Semakin mendekati akhir tahun, biasanya saya semakin banyak berkontemplasi. Lebih banyak hening, lebih banyak mengamati, lebih banyak mengobrol dengan diri sendiri. Apa karena sudah memasuki musim hujan, ya? Suasana akhir-akhir ini sering membuat saya menjadi lebih banyak merenung dan ingin melakukan me-time. Kamu juga begitu nggak, sih? Apa saya saja? Hehe.

Tapi memang, sejauh yang saya ingat, masa-masa di akhir tahun seringkali menjadi "masa kritis", khususnya bagi saya. Sudah banyak waktu terlalui yang menguras energi, namun di sisi lain, masih ada beberapa minggu yang harus dihadapi yang seringkali berkejaran dengan target-target yang masih ingin dikejar. Ingin berjalan santai, tapi waktu tinggal sebentar lagi. Ingin berlari, tapi sudah mulai capek. Dilema yang sungguh menyebalkan, bukan? Wkwkwk :')

Masa-masa seperti ini juga menjadi masa di mana saya semakin membuat jarak dengan media sosial. Membuka medsos menjadi lebih cepat bosan, karena yang riuh bukan hanya timeline feeds tapi juga pikiran di dalam kepala saya, hehe. Intensitas posting konten juga secara otomatis menjadi berkurang drastis karena energi lebih banyak terkuras di dunia nyata. Pokoknya sesuatu sekali, deh!

Menjelang akhir tahun, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di kepala saya adalah, "Tahun ini sudah ngapain aja, ya?" Rasanya takut dan panik kalau tiba-tiba menyadari bahwa ternyata lebih banyak kesia-siaan yang dilakukan sehingga pertumbuhan diri menjadi tidaklah seberapa. Rasa takut dan panik ini sungguh terasa seperti ujian, karena di satu sisi bisa membuat makin pesimis dan semakin malas berubah. Tapi di sisi lain, fase seperti ini sebetulnya bisa digunakan sebagai momentum dalam mengembalikan keberhargaan diri.

"Masa sih, selama setahun ini kamu tidak berprogres? Masa sih selama setahun ini tidak ada pencapaian yang berhasil kamu raih? Coba ingat-ingat lagi, sekecil apapun itu, apresiasi yuk!"

Bertanya seperti itu kepada diri sendiri adalah cara saya agar bisa menghargai pencapaian-pencapaian kecil, mengapresiasi usaha diri, mensyukuri berbagai nikmat yang Allah berikan sehingga tidak terlalu berfokus pada ketidakberdayaan diri yang saya rasakan.


Bahkan jika diperlukan, saya sampai lihat-lihat lagi buku agenda, buku harian, tulisan-tulisan di blog, feeds dan IG stories selama setahun ke belakang, untuk menelusuri hal-hal apa saja yang sudah saya lakukan selama setahun ini sehingga akhirnya saya menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang berhasil saya capai yang mungkin selama ini luput untuk saya apresiasi. Dan semakin saya mengapresiasi keberhasilan-keberhasilan kecil itu, semakin saya sadar bahwa ada banyak nikmat dan pertolongan dari-Nya yang sering sekali luput untuk disyukuri. Subhanallah walhamdulillah.. :')

"Jadi, siapa bilang kalau selama ini kamu sama sekali tidak berprogres? Siapa bilang kalau selama berbulan-bulan lalu kamu tidak memiliki pencapaian apapun?"

Perlahan, keberhargaan diri saya kembali lagi. Dengan semangat yang baru, rasanya menjadi lebih enteng untuk menghadapi hari-hari ke depan. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa, tapi juga tidak terlalu santai. Tugas kita hanyalah berikhtiar seoptimal yang kita bisa dan biarkan tangan Allah yang bekerja memberikan tuntunan dan pertolongan-Nya, seperti halnya keberhasilan-keberhasilan kita di masa lalu yang tak mungkin tercapai jika tanpa bimbingan dan pertolongan dari-Nya.


Dan atas kegagalan yang telah terjadi atau harapan yang masih belum terkabul, semuanya adalah cara Allah untuk mengajarkan kepada kita arti sabar-syukur-ikhlas-tawakal, menguatkan iman kita agar senantiasa bergantung pada-Nya, serta cara-Nya mengenalkan bahwa bentuk cinta-Nya tidak hanya dengan memberi kita bahagia, tapi juga dengan ujian kegagalan, kesedihan dan ketakutan agar kita tidak terjerumus pada jebakan kesombongan yang membuat kita lupa pada-Nya.

Selamat berkontemplasi, sister! Apapun kondisi yang sedang kau lalui, semoga hati dan jiwa selalu terhubung dengan-Nya, sehingga akal selalu memiliki ruang untuk mampu berbaik sangka pada setiap ketetapan-Nya dan langkah tidak pernah berhenti dalam menapaki perjalanan meraih ridha-Nya. Barakallahu fiik.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Pantaskah Aku Disebut Muslim?

 *dikutip dari Monday Love Letter #144, yang kutulis untuk Sister of Deen 


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Kenapa ya rasanya kok waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin bulan berganti dari September ke Oktober, lalu sekarang sudah tanggal 11 saja, subhanallah.. Semoga seiring berjalannya waktu, bertambah pula amal sholeh kita dan semakin cukup bekal kita untuk menghadapi perjalanan menuju kampung akhirat. Aamiin Ya Rabb..

Belakangan ini, saya kembali belajar dan berusaha memaknai ulang tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani kehidupannya. Ternyata, Islam menjelaskan semuanya, lengkap. Dari mulai cara berpikir hingga pola tindak, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari interaksi dengan diri sendiri hingga interaksi dengan masyarakat, bagaimana menjalani peran yang ada, dan seterusnya. Semakin saya belajar, semakin ciut hati saya karena masih banyak sekali PR yang harus dikerjakan untuk bisa menjadi pribadi muslim yang ideal menurut Allah dan Rasul-Nya.

Seorang muslim adalah etalasenya Islam. Kalimat itu selalu terngiang di kepala saya. Saya yakin, kamu juga pasti pernah mendengarnya dari ceramah-ceramah di masjid atau di kajian-kajian keislaman. Dengan menjadi seorang muslim/muslimah, sadar maupun tak sadar, kita sebetulnya sedang mencitrakan Islam. Dan orang lain di luar sana, yang mungkin sedang belajar Islam, atau bahkan tidak mengenal Islam sama sekali, akan "melihat" Islam dari orang-orang muslim yang mereka lihat. Jika akhlak kita baik, maka indahlah Islam di mata mereka. Sebaliknya, jika kita menampilkan akhlak yang buruk, maka bisa jadi dapat tercoreng pula Islam di mata mereka.

So, it's time to reflect, sister. Apakah selama ini kita mencitrakan kebaikan atau keburukan terhadap agama kita sendiri? Semua dilihat dari bagaimana kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. Apakah life style kita adalah life style-nya seorang muslim? Atau jangan-jangan kita malah terbawa arus tren dari Barat atau hype-nya Korea? Hmm..

Terlebih lagi, kita adalah seorang perempuan. Hijab yang kita kenakan adalah identitas keislaman yang semua orang bisa lihat dan kenali. Sadarkah bahwa sebagai perempuan yang diperintahkan Allah untuk berhijab, kita sedang diberikan peran penting oleh Allah untuk menampilkan citra Islam di mata dunia? Maka cara kita bertutur, cara kita bersikap, cara kita merespon sesuatu, cara kita menyelesaikan masalah, bahkan cara kita berpendapat, seharusnya sesuai dengan bagaimana Islam mengatur semuanya.

Menyadari hal tersebut, jujur pundak saya menjadi terasa agak berat. Rasanya seperti sedang dibebankan peran maha penting di pundak (hehehe sok penting banget ceunah), ditambah lagi ketika saya berkaca pada diri sendiri, duhhh rasanya jauh sekali dari profil muslim yang seharusnya. Ya masih belum sempurna ibadahnya, sholat kadang masih dientar-entar (ditunda-tunda maksudnya), masih banyak kekurangan menjalani peran sebagai istri-anak-menantu-kakak-kakak ipar-tetangga-dst, masih belum profesional kalo bermuamalah dengan orang lain, daaan lain-lainnyaa.. Takutnya malah makin mencoreng nama Islam ya kaaaan, hikss.

Tapi, inilah indahnya Islam. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk senantiasa menyeimbangkan antara rasa takut (khauf) dan rasa penuh harap (roja'). Jika kita terus minderan sebagai seorang muslim, lalu mau kapan mulai memperbaiki diri? Jika kita terus merasa tak pantas untuk mendapat surga, lalu mau kapan memulai mengumpulkan amal shalih untuk menutupi dosa-dosa yang telah lalu? Jika kita terus menerus merasa terbebani sebagai duta Islam, bagaimana Islam akan menyinari dunia jika para muslim dan muslimahnya tak percaya diri dalam menampilkan citra Islam?

Semoga kita semua dapat menyadari dan merasakan bahwa menjadi seorang muslim/muslimah adalah anugerah. Tidak semua orang Allah berikan hidayah dan diberikan nikmat iman dan islam. Di luaran sana, ada banyak orang yang masih terjebak dalam kejahiliyahan, kehilangan makna dan tujuan hidup, bahkan sama sekali tidak mengenal Islam and maybe they're suffering to find the truth, to find peace.

Bersyukurlah karena saat ini kita dikelilingi oleh informasi-informasi keislaman, begitu mudahnya mengakses kajian, dan diberikan kebebasan untuk beribadah. Hanya satu yang kita perlukan: KEMAUAN. Mau untuk belajar, mau untuk melangkahkan kaki ke majelis ilmu, dan yang paling penting mau mulai mengamalkan ilmu yang kita tahu. Menjalankan perintah-Nya tanpa kecuali, tanpa tapi, tanpa pilih-pilih.


Kita sama-sama ya, sister. Menjadi muslimah yang ideal memang akan membutuhkan waktu seumur hidup kita. Tapi Maha Baiknya Allah adalah Allah tidak pernah melihat hasil. Allah selalu melihat upaya kita, kesungguhan kita, dan kesabaran kita dalam menapaki jalan kebenaran ini. Semoga Allah mampukan kita untuk istiqomah. Aamiin.. :')

 

So, are you proud to be a muslimah?

Yes, I am.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Kamis, 16 September 2021

Kau Tetaplah Seorang Ibu

Sudah lebih dari 5 tahun. Tepatnya, 5 tahun 4 bulan.

Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian, namun juga bukan waktu yang lama untuk memutuskan berhenti berikhtiar. Entah berapa "tamu bulanan" telah terlalui, yang perlahan mengajariku bagaimana menata rasa kecewa saat kenyataan belum juga bertemu dengan harapan.

Dalam 5 tahun ini, kualihkan energi untuk fokus menumbuhkan diri. Kucurahkan jiwa keibuanku untuk menumbuhkan orang lain, sampai akhirnya aku jadi curiga..

Jangan-jangan tangki cinta yang aku punya, jauh lebih besar dari yang aku pikir. Jangan-jangan kasih sayangku kepada sesama, memiliki energi besar yang berpotensi meluaaas sekali. Jangan-jangan jiwa keibuan di dalam diriku, terlalu besar untuk hanya mengasuh dan membesarkan 2, 3, atau 4 orang anak. Jangan-jangan kapasitasku jauh lebih besar dari itu.

Mungkin karena potensi yang besar itu, Allah ingin membuatku mencintai dengan bebas. Allah ingin aku merdeka dalam mengekspresikan sayang. Allah ingin aku menyayangi sesama dengan lingkup yang seluas-luasnya, dengan anak-anak ideologis sebanyak-banyaknya, tanpa harus dibatasi bilangan 2, 3, atau lebih anak biologis..

Mungkin, jika saat ini aku diberikan anak biologis, cintaku akan terbatas, menyempit sebatas memikirkan dan mengurusinya saja, tak lagi punya banyak waktu untuk menumbuhkan anak-anak manusia lainnya. Sementara potensiku mengasihi dan mendidik, ternyata lebih besar dari itu.

Mungkin, ada hal-hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, sebelum Dia menitipkan malaikat kecil-Nya di keluarga kecil kami. Persiapan, pendidikan dan bekal menjadi orangtua yang tak pernah kami tahu, yang menjadi kurikulum-Nya dalam mematangkan kedewasaan kami.

Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, prasangka-prasangka baik yang berusaha kubangun untuk membesarkan hatiku.

Tulisan ini bukan untuk mengkerdilkan peran ibu-ibu yang memiliki anak-anak biologis tentu saja. Anak adalah sebuah amanah yang besar, dan syurga insya Allah telah menanti untuk mereka para ibu yang berusaha menjaga amanah-Nya dengan baik. Semoga Allah selalu memampukan dan menguatkan para ibu yang sedang berjuang dalam medan juangnya..

Tulisan ini adalah untukku. Hiburan dan penguat untuk diriku sendiri bahwa dalam masa penantian, tetap ada banyak hal yang bisa dilakukan dan dikaryakan untuk-Nya.

Amanah tetaplah amanah. Baik mereka yang lahir melalui rahimmu, maupun mereka yang hadir karena mewarisi buah pikirmu. Pada akhirnya, hamil ataupun tidak, aku tetaplah seorang ibu. Dan pada keduanya, ada pintu kemuliaan yang Dia sediakan untukku.

Walaupun, tak kupungkiri, sering ada perasaan rindu ingin memeluk buah hati dari rahimku sendiri. Ada jiwa keibuan yang tak bisa kutolak yang merindukan kehadiran bayi mungil di dalam keluarga kami. Namun seiring waktu, akhirnya aku mampu berbesar hati.

Tak apa, jika tidak di dunia, semoga kelak aku bisa menjadi ibu bagi anak-anak syurga.

Minggu, 05 September 2021

My Husband's Super Power (?)

Salah satu keunikan dan keanehan suamiku adalah dia tuh tajem banget indra penciumannya ga ngerti lagii. Bahkan dia tuh bisa mencium bau yang bahkan aku ga tau itu tuh baunya kayak apa.

Pernah suatu hari kami lagi rebahan di kasur, terus tiba2 doi bangkit dan bilang, "Neng, ada bau kecoa." 

"Aku gak nyium apa2.."

"Ih beneran ini bau kecoa," sambil bangkit dari kasur dan nyariin kecoanya!

"Emang kecoa ada baunya ya? Gimana sih bau kecoa tuh??" Aku ketawa-ketawa sendiri aja liat kelakuannya, setengah ga percaya sama dia yang kayaknya yakin banget gitu kalo ada kecoa di sekitar kita.

Eeh beberapa menit kemudian... "Aa, ini ada kecoa!" Aku ngeliat kecoa lagi jalan-jalan di sekitar pintu kamar. Lahhhh beneran ada kecoa dooooong.. Kok dia bisa tauu cuma dari nyium baunya aja (???)

Dan kejadian bau kecoa ini nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Kalo dia tiba-tiba bilang ada bau kecoa, pasti gak lama kemudian kecoanya beneran muncul. Magic.


Pernah juga di hari yang lain, pas aku pulang ke rumah, suamiku cerita, "Neng, tadi Aa kan mau ke kamar mandi, terus kecium bau telor lalat gitu, nggak taunya di bawah tempat sampah ada telur-telur lalat banyak banget, hiii!"

Denger cerita itu aku antara takjub bisa-bisanya sama doi kecium bau telur lalat (kayak gimana sih baunya??? Wkwk), campur jijik ngebayangin telur-telur itu ada disana (biasanya terjadi kalo aku abis ngolah daging ikan/ayam mentah dan sampahnya kelamaan gak dibuang), campur bersyukur untung suamiku nemunya masih dalam bentuk telur, coba ketauannya pas udah menetas, dapurku akan penuh belatung T_T


Pernah juga di suatu pagi. Aku tuh udah beberapa bulan ini rajin bikin pupuk kompos. Jadi sampah-sampah dapur yang organik aku pisahin dan aku kumpulin untuk aku jadiin kompos. Kebetulan malam sebelumnya aku abis bersihin tampungan sampah yang di wastafel. Karena udah malem banget, jadi sampahnya aku simpen semaleman di wadah terbuka, rencananya besok baru mau aku masukin ke ember kompos.

Paginya suamiku mau makan dan ngambil nasi (rice cookernya deket wastafel), terus dia bilang, "Neng itu sampah kompos segera diurus hari ini ya, udah ada bau telor lalat soalnya." 

0_o


Memang hidung suamiku sepertinya punya kekuatan super.

Selasa, 31 Agustus 2021

Enjoy Your Every Growth

Ada kalanya, aku yang ritme hidupnya cenderung slow-but-sure ini, tiba-tiba ingin lari dan ingin buru-buru sampai. I think I should do better, I think I can do more, I need to accelerate myself. Pikiran-pikiran semacam itu biasanya muncul dalam beberapa bulan sekali. Tidak salah sih, tapi ternyata ketergesa-gesaan itu yang justru bikin aku kewalahan sendiri.

Ada kalanya aku silau dengan panggung orang lain, merasa bahwa jika orang lain sudah sampai di titik tertentu, aku juga harus segera sampai di titik itu. Padahal aku juga punya perjalananku sendiri dan hanya perlu menjalani semuanya seoptimal yang aku bisa. 

Enjoy every step, e-v-e-r-y step. Nanti lama-lama juga kamu akan sampai. Kamu hanya perlu melakukan apa yang kamu bisa, melakukan hal-hal baik yang membawa manfaat, menyambut peluang-peluang amal shalih yang Allah hadirkan. Nanti juga kamu akan jadi besar dan sampai di garish finish-mu sendiri.

Betul, fokus ke depan memang perlu. Tapi coba berhenti sejenak dan lihat sudah berapa banyak anak tangga yang berhasil kau tapaki di bawah sana. Sudahkah mensyukuri pencapaianmu hari ini?

Terkadang, saking inginnya mengejar sesuatu, kita jadi lupa untuk mensyukuri satu demi satu anak tangga yang sudah kita lalui. Lupa menikmati dan menghargai setiap proses dari tumbuhnya diri.

Tugasmu hanyalah terus dan terus tumbuh. Menguatkan akar, mengokohkan batang, meninggikan cabang, merimbunkan ranting, menghasilkan buah. Sampai bagaimana? Tidak ada batasnya. Bertumbuh tidak ada batasnya, bukan?

Tidak ada pohon yang akan berhenti tumbuh selama dia masih hidup. Dan tidak ada indikator kapan sebuah pohon dikatakan telah mencapai batas optimalnya.

Apakah jika tingginya sudah puluhan meter? Atau jika lebarnya sudah belasan meter? Atau jika sudah menghasilkan buah sekian ratus ribu? Tidak, kan? Selama dia hidup, dia akan terus tumbuh. Tanpa batas.

Sampai penciptanya sendiri yang memutuskan batasnya, yaitu ketika pohon itu akhirnya mati. Barulah ia berhenti tumbuh.

Maka, bertumbuh bukanlah tentang seberapa tinggi kamu meraih langitmu, melainkan tentang tetap bertumbuhnya dirimu inci demi inci, sampai Allah sendiri yang kelak memutuskan kapan kamu harus berhenti.

So, just keep growing and enjoy your every growth.

Senin, 30 Agustus 2021

Menyalakan Kembali Pijar Hati

 *dikutip dari Monday Love Letter #136, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, masih dalam nuansa pergantian tahun hijriyah, semoga api semangat dalam diri kita terus berkobar untuk terus berupaya menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi. Bertepatan juga dengan bulan Agustus yang identik dengan kemerdekaan, semoga kita bisa menjadi hamba yang merdeka, yang terbebas dari segala hal yang berpotensi menghambat penghambaan kita kepada-Nya. Sebab, hanya di dalam kepengaturan-Nya-lah kita bisa meraih kemerdekaan sejati, yakni merdeka dalam beribadah hanya kepada-Nya.

Apa kabarmu, sister? Bagaimana kabar keimananmu? Bagaimana hubunganmu dengan Allah saat ini, apakah sedang sangat dekat atau justru sedang merenggang? Bagaimana kualitas shalatmu dan ibadahmu yang lain, apakah tetap mampu mempertahankan kekhusyukan atau hanya sekedar menjalankan rutinitas dan menggugurkan kewajiban semata?

Makin hari, rasanya makin berat saja ya untuk bertahan dalam menampilkan performa terbaik sebagai seorang hamba. Kita pernah berada dalam masa dimana pintu masjid terbuka lebar untuk siapapun dan sebanyak apapun orang. Kita pernah berada dalam masa dimana kajian digelar dimana-mana, dari mulai di masjid besar sampai di rumah guru-guru kita. Support system dalam menjaga iman tersebar dimana-mana, mudah sekali menemukan tempat "isi ulang" untuk jiwa-jiwa kita yang rapuh dan hampa. Beruntunglah jika kamu masih bisa menjaga iman dalam situasi seperti ini.

Saya pernah berada pada masa dimana jiwa terasa begitu kosong. Berminggu-minggu terlewati dengan perasaan gelisah. Aktivitas dilakukan dengan perasaan hampa. Berusaha menghibur diri dengan pergi ke alam, menonton ceramah atau video motivasi, bersilaturahim dengan teman, terkadang curhat juga, namun tetap saja, kosong. Seperti ada lubang besar di dalam hati dan saya tidak tahu lagi harus mengisinya dengan apa.

Lama kelamaan, ibadah mulai kehilangan maknanya. Dijalankan hanya sebatas rutinitas saja. Beberapa amalan rutin harian ditinggalkan, tergantikan oleh aktivitas lain yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Ah, biar sajalah buang-buang waktu seperti ini, pikirku saat itu. Sedih sekali jika saya ingat kembali masa itu. Saat saya seharusnya sedang merasa paling butuh dengan Allah, malah dengan sengaja menjauh dan mengabaikan-Nya. Sebuah kesalahan dan kebodohan yang nyata dari seorang hamba yang tidak tahu diri.

Setelah sekian lama, akhirnya saya merasa lelah. Lelah berlari dari-Nya. Lelah karena terus-menerus menolak fitrah jiwa yang terus memberi sinyal bahwa jalan yang saya tempuh sudah salah dan melenceng dari jalur. Ada rasa gelisah dan rasa bersalah yang tidak bisa saya hindari sehingga membuat saya akhirnya berhenti dan berbalik arah, mencoba menemukan kembali arah jalan "pulang".

Ternyata, proses kembali tersebut tidak semulus yang saya bayangkan. Saat saya mulai kembali membaca al-Quran dengan harapan diri ini dapat kembali tercahayai, ternyata hati saya tetap hampa. Saat saya berusaha khusyuk dalam shalat, saya sulit sekali merasa terhubung dengan-Nya, sekuat apapun saya berusaha fokus. Saat saya bersilaturahim atau menghadiri kajian untuk berusaha "mengisi ulang" jiwa, tetap saja tidak mampu mengisi bejana jiwa saya yang kosong. Ya Allah, kenapa? Ada apa ini? Kondisi ini lebih membuat saya gelisah, seakan sedang tersesat dan tidak juga bertemu jalan pulang. Saya seperti sedang kehilangan diri sendiri.

Berhari-hari saya menghadapi kebingungan itu. Hingga suatu hari seorang sahabat menyampaikan sebuah perenungan tentang suatu hikmah yang didapatkannya dari suatu kajian dan sampai menangis saat menyampaikannya. Saat itulah saya betul-betul sadar bahwa ada yang salah dengan hati saya. Di saat seperti itu, biasanya saya akan ikut menangis atau setidaknya terharu dan merasa hangat jika mendengar sebuah hikmah. Tapi ketika itu, rasanya kosong. Tidak ada yang bergetar sedikitpun di dalam hati saya. Dingin. Kaku.

"Hei hati, kamu kemana? Kamu kenapa?" Saya takut sekali saat itu, takut hati saya menjadi mati. Bagaimana bisa hati ini tidak bergetar saat ayat-ayat-Nya dibacakan? Ya Allah, saya ingin kembali!

Malam itu saya sulit tidur. Masih dengan harapan mendapatkan secercah cahaya untuk menembus jiwa, saya akhirnya berusaha tidur dengan sebelumnya berdoa terlebih dahulu. "Ya Allah, jika Engkau masih mau memberikan jalan untukku kembali, tolong bangunkan aku di waktu tahajud."

Ternyata, Allah mendengar doa saya. Tanpa alarm, saya bangun sendiri pukul 3 pagi, tidak lama setelah saya tertidur. Saya tangkap ini sebagai sinyal baik dari Allah sehingga saya bergegas ke kamar mandi dan berwudhu. Akhirnya, saya shalat tahajud lagi, setelah sekian lama.

Saya punya memori baik tentang shalat tahajud, waktu-waktu tahajud memang waktu-waktu paling syahdu dimana saya bisa berduaan dengan Allah, curhat dan berdoa sepuas-puasnya hingga menangis tersedu-sedu. Tapi malam itu berbeda. Saya tidak merasa betul-betul hadir dan tidak merasakan kehadiran Allah kekhusyuk apapun saya mencoba. Rakaat demi rakaat terlalui, dan hingga shalat itu selesai, saya tidak juga merasakan ketenangan yang saya rindukan itu. Frustrasi!

Akhirnya saya duduk di atas sajadah, beristighfar sebanyak-banyaknya. Saya teringat memori lama saat saya beristighfar setelah tahajud dan saya sesegukan setelahnya. Maka saya praktekkan kembali istighfar saat itu, berharap hati yang dingin ini dapat menghangat kembali. Tapi aneh! Istighfar dan dzikir-dzikir yang saya dawamkan saat itu, tidak juga membuat hati saya menghangat. Rasanya masih kaku, seperti ada sesuatu yang menghambat entah apa. Ya Allah, ini kenapa..

Setelah berdzikir, biasanya saya melanjutkan dengan doa. Tapi saat itu saya terdiam lama, tidak tahu harus berdoa apa. Jika dzikir-dzikir barusan tidak bisa membuatku terhubung dengan-Nya, bagaimana saya bisa berdoa dengan kondisi seperti ini? 

Perasaan hati saya sudah tidak karuan ketika itu. Saya hanya ingin kembali kepada-Nya, namun mengapa shalat dan dzikir saya tidak bisa menghantarkan diri saya kepada-Nya? Sampai-sampai saya tidak tahu harus berdoa apa untuk bisa "memanggil"-Nya. Bahkan saya tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan hati saya sendiri.

Di tengah kefrustrasian itu, karena saya tidak tahu harus dengan cara apa lagi agar bisa terhubung dengan-Nya, saya memanggil-Nya dengan suara yang sangat lirih, "Rabbi..." Di saat itulah, di saat saya berada dalam titik yang paling pasrah dan tidak tahu harus bagaimana lagi selain memanggil nama-Nya, air mata saya akhirnya keluar. 

"Rabbi.." saya memanggil-Nya lagi dan tiba-tiba saya merasa sedang dipeluk oleh-Nya. Saat mengucap kata Rabbi, saya teringat kembali ayat tentang setiap ruh yang sudah pernah berjanji dan mengikrarkan bahwa Allah adalah Rabb-nya. Maka air mata yang saat itu keluar, pastilah merupakan dorongan dari dalam ruh (jiwa) yang sudah sangat rindu untuk kembali pada fitrahnya menghamba. Ya Allah, ternyata Engkau masih mau menerima hamba-Mu yang sudah sombong ini! :''''(

"Rabbi.." air mata saya tidak berhenti mengalir, rasa bersyukur dan merasa bersalah melebur jadi satu. Rasanya lega sekali ketika saya akhirnya bertemu dengan jalan pulang dan "rumah" yang selama ini saya rindukan.

Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Setelahnya, doa-doa yang malam itu saya panjatkan terasa nikmaat sekali. Besar harapan saya, agar Allah tidak mencabut kembali kenikmatan ini. Semoga saya bisa terus menjaga rasa syukur ini dengan lebih berhati-hati dalam bertindak. Pasti ada banyak dosa yang sebelumnya saya abaikan. Ada banyak kelalaian yang tidak segera saya taubati sehingga menutupi cahaya yang Dia hadirkan. Bismillah, semoga Allah menuntun saya dan kita semua dalam mengerjakan perbaikan-perbaikan diri hingga bisa mencapai derajat paling mulia di hadapan-Nya, yakni derajat takwa.

Sister, jika akhir-akhir ini kamu sedang merasa lelah dan gelisah, pertemuanmu dengan suratku ini pasti bukanlah kebetulan. Bisa jadi ini adalah sinyal baik dari-Nya untukmu memanggil kembali hati dan jiwa yang mungkin pendar cahayanya sedang terhalang. Jangan menunda terlalu lama. Kembalilah segera, semoga kamu pun menemukan rumah bagi jiwamu dan mendapatkan ketenangan yang selama ini hatimu rindukan. Allah pasti akan menuntunmu menemukan jalan pulang.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Saat Semua Tinggal Kenangan

 *dikutip dari Monday Love Letter #133, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sejujurnya, saya belum tahu mau menulis apa ketika saya mulai menulis surat ini. Tapi saya punya satu cerita yang masih hangat sekali terjadi, yaitu kemarin malam saat saya melakukan zoom bersama keluarga dari ayah saya. Malam itu, seharusnya saya bergabung dengan para tetangga untuk nyate bersama, selain untuk menjalin silaturahim, tentu saja untuk menghabiskan daging-daging qurban yang masih banyak! Hehe.. Tapi karena ada pertemuan online bersama keluarga, akhirnya saya di rumah saja. Ternyata, selepas zoom mata saya malah sembab karena banyak menangis. Nah lhooo, kenapa??

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, sudah sebulan lebih Kakek (dari ayah) saya wafat. Kemudian 2 minggu setelahnya, Om saya juga wafat menyusul Kakek saya yang sudah lebih dulu berpulang. Pertemuan zoom kemarin malam dimaksudkan untuk mengenang kedua almarhum, membaca yasin, dan berdoa bersama. Tentu saja saya senang karena bisa bertegur sapa dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota. Melihat wajah mereka di layar alhamdulillah sedikit mengobati kerinduan saya kepada mereka.

Lalu, ayah saya membuka forum dan ternyata acara pertama adalah memberikan pesan atau hikmah yang didapat oleh masing-masing anggota keluarga tentang kedua almarhum. Ah, saya sudah feeling bahwa saya pasti akan menangis. Akhirnya satu per satu anggota keluarga bergantian menceritakan kesan mereka terhadap kedua almarhum. Dan seperti yang sudah saya duga, semua kesan dari keluarga adalah kesan yang positif. Kami semua merasa dicintai dan merasa di sayang oleh almarhum dan keduanya punya tempat spesial di hati kami masing-masing. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni dan melapangkan kubur mereka, aamiin.. :')

Sampai akhirnya tiba giliran saya untuk bercerita. Tiba-tiba di kepala saya berkelebat kenangan-kenangan dari Kakek dan Om saya yang sebenarnya cukup banyak. Dan tanpa bisa saya tahan, air mata mengalir begitu saja, membuat suara saya menjadi parau dan sulit melanjutkan bercerita. Akhirnya tidak banyak cerita yang bisa sampaikan saat itu karena jika dilanjutkan pasti tangisan saya semakin menjadi. Dan betul saja, semakin saya mendengar cerita dari keluarga yang lain, terlebih adik-adik saya yang juga memiliki banyak kenangan bersama kedua almarhum, membuat air mata saya tidak juga berhenti. Sesekali saya menjauh dari layar supaya nggak ketahuan kalau lagi nangis, takutnya malah bikin vibes-nya jadi sediih hahaha~ :''D

Saya sendiri sebetulnya tidak menyangka bahwa saya akan sesedih itu. Padahal ibu dan ayah saya selalu mengingatkan bahwa kita tidak perlu terlalu menangisi orang yang sudah meninggal, karena mereka sudah kembali kepada Allah. Apalagi jika meninggalnya dalam keadaan yang baik, husnul khatimah. Maka sepatutnya kita berbahagia karena dia akan segera menyongsong kehidupan yang lebih baik dan membahagiakan di akhirat. Tapi ternyata, rasa sedih akan kehilangan tak bisa begitu saja saya tepis. Rasanya sedih setiap kali mengingat bahwa saya tidak bisa bertemu mereka lagi dan segala hal tentang mereka hanyalah tinggal kenangan.

Setelah saya pikir lagi, kedua almarhum ternyata memiliki tempat spesial di hati saya. Saya cukup lama hidup bersama-sama dengan Kakek sejak kecil, maka peran beliau bukan hanya sebagai kakek, tapi juga rasanya seperti memiliki ayah kedua yang banyak mendidik saya dan memberi pelajaran hidup dengan caranya. Sedangkan Om saya, usia kami hanya terpaut 19 tahun dan beliau seperti sosok kakak laki-laki bagi saya. Beliau sangat dekat dengan keponakan-keponakannya, termasuk saya dan adik-adik saya. Kami sama sekali tidak merasa canggung berinteraksi dan bercanda dengan beliau, seorang yang baik dan kehadirannya dapat menghidupkan suasana. Kangen sekali rasanya :')

Berkali-kali saya mengajak ngobrol diri saya sendiri, "Kenapa harus sesedih itu sih, Na? Nggak apa-apa, nanti juga di akhirat insya Allah akan ketemu lagi.." Saya sadar bahwa orang-orang yang wafat dalam keadaan yang baik, sebaiknya tidak dilepas dengan tangis, tapi lepaslah dengan senyuman. Sebab "waktu ujian" dari Allah untuk mereka telah selesai, maka insya Allah mereka hanya tinggal menunggu reward-nya.

Yang justru harus kita khawatirkan adalah kita semua yang masih hidup, yang masih belum selesai mengerjakan ujian demi ujian yang disediakan-Nya di dunia. Waktu ujian kita belum berakhir sehingga belum saatnya bagi kita hari ini untuk pulang. Maka kepada mereka yang telah berpulang terlebih dulu, lepaslah mereka dengan senyuman, lalu bilang, "Alhamdulillah masa ujianmu sudah selesai, tunggu aku yah yang masih berkutat dengan soal-soal ujian dari-Nya, nanti aku menyusul, ya!"

Semoga kita semua bisa kembali pulang kepada Allah tanpa penyesalan apapun karena sudah berusaha memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan dalam menyelesaikan ujian-ujian dari-Nya. Semoga kita bisa kembali pulang dengan hati yang riang dan mendapatkan "hasil ujian" yang baik, serta reward terbaik yang disiapkan-Nya untuk kita.

Ya Allah, ampunilah kami, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang muslim, baik yang masih hidup maupun yang sudah berpulang kepada-Mu.. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin..


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Adakah yang Benar-benar Menjadi Milik Kita?

 *dikutip dari Monday Love Letter #131, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Pertanyaan 'apa kabarmu?' seringkali terdengar membosankan dan terkesan basa-basi, tapi sejak second wave pandemi hadir, bertanya apa kabar menjadi pertanyaan yang benar-benar kita ingin tahu jawabannya, setidaknya untuk saya. Apakah kamu juga begitu? Bagaimana kabarmu, sister? Semoga dalam keadaan sabar dan syukur yang baik.

'Alhamdulillah, baik' seringkali menjadi template balasan ketika ada orang lain yang menanyakan kabar kita. Sekarang, jawabannya beragam dan tak jarang membuat khawatir.

"Aku lagi isoman.."

"Keluargaku positif covid.."

"Saudaraku ada yang meninggal.."

"Aku lelah harus lembur terus karena pasien lagi banyak-banyaknya.."

Itu semua adalah jawaban dari pertanyaan apa kabar yang saya tanyakan kepada teman-teman saya. Tidak sedikit pula berita duka yang saya dapatkan, bahkan dari keluarga sendiri. Ya Allah, saat ini kita benar-benar sedang diuji dan diingatkan terus-menerus bahwa sakit dan kematian betul-betul berada di tangan-Nya. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan iman untuk menghadapinya.

Hari ini dan beberapa minggu ke belakang, mungkin menjadi hari yang gloomy bagi sebagian besar orang. Sejujurnya, akhir-akhir ini saya pun merasakan itu. Tapi malam ini saya membaca sebuah tulisan yang saya tulis setahun yang lalu, yang mengingatkan untuk kembali bersyukur.

Tahun lalu, saya membaca sebuah tulisan dari akun @berceritahikmah yang ditulis oleh seorang ibu yang baru saja kehilangan janin yang masih dikandungnya di usia kehamilan 4 bulan, di Hari Idul Fitri. Hari itu, ibu itu tiba-tiba pendarahan, keguguran dan bayinya harus dikeluarkan. Tapi masya Allah, penulisnya berhasil menemukan hal yang disyukurinya dengan sangat baik. "Untukmu yang juga sedang kehilangan, saat ada yang hilang dari kehidupan kita, lihatlah ada jauh lebih banyak hal yang Allah selamatkan" begitu tulisnya. Membacanya, saya mengangguk setuju. Sebab yakin bahwa di situasi apapun pasti ada banyak nikmat Allah yang bisa disyukuri.

Seporak-poranda apapun hidup kita saat diterjang badai, ternyata Allah banyak menyelamatkan banyak hal. Kalau dalam kasus ibu tersebut, dia bersyukur karena masih bisa melihat wajah tampan anaknya, bisa menggendongnya, dan bersyukur bisa diberi kesempatan untuk hamil walau hanya 4 bulan. Bagaimanapun, apa yang Allah beri itu adalah milik Allah, maka ketika diambil pun seharusnya tak menjadi masalah, sebab pemiliknya telah selesai menitipkan "titipan"-Nya. :')

Setelah saya renungi lebih jauh, Allah tuh ternyata nggak pernah ngasih kurang lho ke kehidupan kita. Ada jauuuh lebih banyak yang Allah beri, walaupun di saat yang sama kita berdoa berkali-kali meminta hal yang lain. Tidak apa sebenarnya meminta Allah untuk diberikan sesuatu, tapi kembali lagi ke konsep kepemilikan, bahwa apa yang menjadi milik kita tidak pernah betul-betul menjadi milik kita. Maka ketika meminta sesuatu, kita juga harus siap jika pemberian Allah itu diambil-Nya kapan saja. Ketika kita mendapatkan sesuatu dan mencintai sesuatu (atau bahkan seseorang) maka kita juga harus siap akan kehilangannya.

Cerita ibu tadi cukup menjadi pengingat bagi saya yang hingga hari ini masih berdoa untuk kehadiran buah hati. Bahwa ternyata anak bisa menjadi ujian bagi orangtuanya. Lalu jika saya mendengar cerita keguguran atau cerita ibu yang anaknya meninggal, suka langsung berpikir, kalau aku jadi ibu dan Allah memanggil pulang anakku lebih dulu, apakah aku siap? Sebab sejatinya anak bukanlah untuk dimiliki dan diatur semua kita, melainkan titipan yang harus dijaga sebaik-baiknya dan dihantarkan pada kepulangan yang baik kepada-Nya.

Konsep ini mirip konsep menggembala ya. Seorang penggembala bertanggungjawab menjaga gembalaannya, merawat dan mengurus hewan-hewan gembalaannya, memastikan makanan dan kebutuhan mereka terpenuhi. Tapi penggembala ini bukanlah pemilik hewan-hewan tersebut. Ia hanya bekerja untuk tuannya dan seorang penggembala yang bertanggungjawab adalah yang menjaga gembalaan tuannya tersebut dengan profesionalitas yang baik.

Lalu apakah ketika pemiliknya memutuskan mengambil/menjual semua hewan gembalaannya, atau menyembelih gembalaan yang menjadi miliknya, si penggembala ini patut marah? Harusnya kan nggak ya, karena pekerjaannya ya selesai sampai di situ.

Ya, sama seperti konsep kepemilikan kita di dunia. Harta benda, anak, pasangan, keluarga, waktu, kesehatan, bukankah semuanya hanyalah titipan? Tugas kita adalah menjaga semua titipan itu sesuai kehendak pemiliknya, yaitu Allah. Berpikir bagaimana titipan-titipan tersebut harus dijaga dan dikembalikan dalam keadaan yang baik.

Semoga kita bisa menjadi hamba yang amanah terhadap apa-apa yang dititipi oleh Allah kepada kita. Sebab sejatinya, seorang hamba tidak pernah memiliki apa-apa. Semua hanya pinjaman dan titipan, yang kelak akan ditanya oleh Allah tentang bagaimana kita menggunakan, mengurus, atau memeliharanya.

Yang sudah waktunya pergi, relakanlah untuk pergi karena memang sudah waktunya untuk kembali kepada Dzat yang memiliki. Namun, saat ada yang hilang dari kehidupan kita, lihatlah ada jauh lebih banyak hal yang Allah selamatkan dan ada jauh lebih banyak yang masih harus kita jaga sebelum diambil kembali oleh pemilik-Nya.


Yang sedang belajar melepas kepemilikan,

Your sister of Deen,
Husna Hanifah