Sabtu, 01 Maret 2025

Kenangan Ramadhan dan Pesan yang Ayah Tinggalkan

Sejak malam pertama Ramadhan tadi, aku teringat sebuah momen bersama keluarga, saat kami menginap di sebuah villa di Bandung. Tepat setahun yang lalu, aku dan keluarga suami berkumpul 2 hari 1 malam, yang mana malam itu adalah malam pertama bulan Ramadhan. Ayah, bunda, semua anak-anak dan menantu, lengkap hadir. Bahkan saat itu anggota keluarga kami baru bertambah satu personil karena adik iparku baru saja menikah.

Selama 2 hari itu kami menghabiskan waktu dengan berenang, bermain game, masak bareng, tarawih bareng, dan di malam harinya kami melakukan sesi coaching keluarga yang dipandu oleh salah satu adik iparku, @dibawahnol.id hingga subuh. Esok paginya, kami pulang dengan hati yang penuh. Sebab telah saling islah dan saling mengapresiasi satu sama lain. Happyy dan hangat sekali. Core memory unlocked! 🔓🥰


Namun, ada satu hal yang tak pernah kami bayangkan. Tanpa kami tahu dan tanpa kami pernah menyangka, ternyata Allah telah berencana untuk mengambil salah satu dari kami di penghujung Ramadhan tahun itu. Orang itu adalah ayah kami. Allahu yarham🤲

Selama setahun ini, ada satu pesan dari almarhum ayah yang terus terngiang di pikiranku. Momen itu terjadi saat sesi coaching keluarga, di akhir sesi, saat setiap anggota keluarga diminta untuk memberi pesan untuk satu sama lain. Saat itu, aku dan suami maju ke depan, dan ayah adalah orang pertama yang memberi pesan.

Kukira ayah akan langsung bicara, tapi ayah terdiam dulu sejenak. Matanya menerawang seperti sedang mengingat sesuatu atau sedang berpikir untuk merangkai kata-kata. Na, dengar baik-baik! Ini pasti penting, bisikku pada diri sendiri. Aku bersiap mendengarkannya dengan seksama.

Lalu sambil menatap aku dan suami, ayah berkata, "Nanti di yaumil akhir, seorang syuhada bisa menyelamatkan keluarganya.."

Ayah terdiam sebelum melanjutkan. Aku semakin menyimak.

"Jadilah itu, ya, Nak." Tutupnya.

Deg. Sebuah pesan yang sangat singkat, namun aku bisa merasakan pesan dan harapan yang dalam dari cara ayah bertutur.

Saat mendengar pesan itu, aku paham bahwa menjadi syuhada yang dimaksud ayah adalah meninggal dalam keadaan sedang berjuang dan mengkaryakan diri di jalan-Nya, apapun peran dan aktivitasnya. Jujur, ini adalah pesan yang besar dan berat, namun itu juga adalah sebuah cita-cita yang sedang berusaha aku (dan pastinya keluarga kami) ikhtiarkan.

Aku bersyukur bisa mengingat dengan baik pesan ayah saat itu, karena ternyata 28 hari kemudian, ayah dipanggil pulang oleh-Nya. Sedih. Patah. Terguncang kami dibuatnya. Tapi pada akhirnya kami bisa melepasnya dengan tenang dan kelegaan yang luar biasa.

Kurasa, justru ayah yang telah mencapai kesyahidan itu lebih dulu. Sebab kami semua menjadi saksi bagaimana ayah selalu bersegera dalam menjemput amal-amal shalehnya. Selama Ramadhan hingga hari-hari terakhirnya, padat sekali ia dengan aktivitas hablumannallah dan habluminannas-nya. Semua dilakukan dengan sukacita dan dengan penuh pengharapan mencapai rahmat dan maghfirah Allah.


Aku iri sekali dengan bagaimana cara Allah mewafatkan ayah. Ketika pemakaman malam itu, saat penduduk bumi menangis melepas jasad ayah, penduduk langit mungkin sedang tersenyum menyambut ruhnya. Semoga Allah betul-betul menerima dan memeluk ruh ayah kedalam golongan para syuhada. Yah, kalau nanti kami kesulitan di padang mahsyar atau tertahan di mizan, panggil kami ya, Ayah. Ajak kami ke syurga bersamamu. :")

Tak terasa momen itu sudah setahun yang lalu. Rasa rindunya masih besar. Tangis kami pun sesekali masih ada. Tapi rasa syukur kami juga tak kalah besar. Ayah telah mengajari kami bagaimana seharusnya Ramadhan dijalani. Bahkan bukan hanya di Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, ayah selalu menunjukkan keteladanan tentang bagaimana hidup harus dijalani. Semoga kami bisa mewarisi semangat dan jejak juangnya, serta kelak diwafatkan juga dalam keselamatan dan limpahan rahmat-Nya. Aamiin Ya Mujiib.. 🤲

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Al-Fatihah.

Always miss you, Yah.

Rabu, 15 Mei 2024

Sewindu

"Happy anniversary~" sambil tersenyum, aku menghampiri suami yang sedang duduk di depan komputernya. Masya Allah, udah 8 tahun aja.

"Eh iya, happy anniversary.." jawabnya sambil memelukku.

"Aa ridho nggak sama aku selama 8 tahun ini?" 

"Ridho."

"Alhamdulillah. Makasih ya udah bermudah-mudah memberi ridho untuk aku."


Lalu aku bertanya lagi, "Aa maafin aku nggak, aku banyak kurangnya loh selama 8 taun ini.."

"Iya, aman." Aku pasti pernah bikin salah, tapi kata "aman" ini kuanggap kesalahanku berarti masih termaafkan olehnya. Alhamdulillah.

"Walaupun aku jarang masak?" Tanyaku lagi, memastikan. Soalnya aku beneran sejarang itu masaknya.

"Iya, gapapa."

"Tapi kan kalau aku jarang masak aku jadi ngabisin uang aa lebih banyak?" Kali ini aku bertanya dengan setengah bercanda.

"Nah iya. Uang aa teh abis.. Sekarang mah harus sering masak ah"

😂😂😂

Tapi walaupun doi bilang begitu, istrinya ini tetep aja nggak diprotes kalo pesen Syopifood dan tetep dibeliin kalau aku minta jajan ini itu wkwkwk. Semoga Allah selalu melapangkan rezekimu ya suamik <3

***

Happy anniversary, sayangnya akoohh!🥳

Agak geli sebenarnya ngetiknya, tapi karena postingannya bisa dijadiin hashtag bagus, jadi gapapa sekali2😂

Intinya sih, nggak ada yang kepikiran selain ingin bilang makasih. Dan terima kasihku yang paling besar adalah:

Terima kasih sudah bermudah-mudah memberi ridho dan maafmu untukku, walau aku sebagai istri banyak sekali kurangnya.

Lega sekali rasanya setiap kali mendengar dari mulutmu sendiri, bahwa aku diridhoi dan dimaafkan. Rasanya seperti dilapangkan jalanku menuju surga.. 🥹

Terima kasih yaa sudah bersabar membersamai aku yang masih terus belajar jadi istrimu. Semoga dengan mengantongi ridhomu, Allah berkenan menurunkan ridho-Nya untukku :')

Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kita untuk menjalani setiap amanah-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga dan menuntun kita dalam naungan kasih sayang-Nya. Semoga Allah karuniakan untuk keluarga kita, hasanah di dunia dan di akhirat.

Terus sama-sama sampai syurga ya.. Insya Allah, nanti bareng anak-anak juga (semoga Allah kehendaki🤲)

#sewindubersamamu #cie

Selasa, 14 Mei 2024

Pacaran

Aku dan suami punya langganan beli bakmie/nasi goreng jawa yang enak banget di depan komplek rumah mertuaku. Yang jualan bapak dan ibu yang merupakan sepasang suami dan istri. Makanannya beneran seenak itu dan saking seringnya kami beli di sana, bapak dan ibu penjualnya sampe hafal dan selalu ngajak ngobrol.

Sampai suatu hari di bulan Syawal kami kesana lagi beli nasi goreng. Si ibu menyapa dengan ramah seperti biasa, lalu si bapak sigap mengolah dan memasak bahan masakan. Kami mengobrol cukup lama sembari menunggu makanan siap.

Lalu sebelum kami pamit, si ibu nanya ke suamiku, "Ini teh kalian suami istri?"

"Iya.."

"Ooh kirain teh masih pacaraan," 

"Udah 8 taun nikahna ge Buu," kata suamiku sambil terkekeh.

Haha, ngakak dengernya. Umur udah kepala 3 masih dikira anak muda lagi pacaran ya ampuun wkwk. Alhamdulillah ya berarti kami awet muda XD

Tapi nggak salah sih Bu, kami emang masih pacaran kok. Pacaran halal :D

Selasa, 07 Mei 2024

Sebulan Tanpamu

Tak terasa sudah bertemu tanggal 7 lagi. Berarti sudah sebulan ayah berpulang. Campur aduk ternyata rasanya ya. Rindu, namun (alhamdulillah) masih tetap dengan perasaan lega yang sama, sebab masih segar dalam ingatan, kepergian ayah yang insya Allah husnul khatimah.

Tanpa bisa ditolak, pikiranku mengingat kembali ke tanggal 7, sebulan yang lalu. Seperti film yang sedang beralur mundur, otakku memutar kembali momen saat jasad ayah sedang dibaringkan di tengah-tengah rumah dalam kondisi tertutup kain samping, menunggu dimandikan.

Saat itu rumah duka belum begitu ramai karena jenazah ayah baru saja sampai diantar oleh mobil ambulans. Hanya ada satu orang sahabat ayah yang sedang mengaji di samping jenazah. Aku memandang jenazah yang tertutup kain itu dengan perasaan setengah tak percaya. Aku dekati jasad itu, tapi tak berani membuka kain yang menutupi wajah dan tubuhnya. Sambil berjongkok di sampingnya, aku pegang tangan ayah yang bersedekap di atas dadanya. Dingin. 

Ayah, beneran udah nggak ada? Tanyaku dalam hati. Aku elus-elus tangannya yang sudah dingin itu. Mungkin nggak ya, ayah bangun lagi? Walau hati kecilku sebenarnya tahu, itu adalah kesempatan terakhirku berdekatan dengan ayah secara fisik. Pada momen itu, aku hanya bisa mendoakan ayah sambil terus kuelus tangannya. Dan tentu saja, sambil menahan air mata karena tak mau melepas ayah dengan tangis.

Lalu aku bangkit dengan niat mau bergabung dengan para perempuan yang berkumpul di ruang tamu. Namun kakiku terhenti saat melewati kaki ayah. Seketika teringat momen-momen saat aku memijat kakinya. Tidak, aku tak bisa melewatkannya. Akhirnya aku terduduk lagi di dekat jenazah ayah, kali ini di depan telapak kakinya. Aku pegang kedua kaki ayah yang tak bergerak itu. Dingin juga. Aku pijat perlahan untuk yang terakhir kalinya. Kenapa kok ayah seperti masih ada, ya? Sungguh, aku akan rindu sekali dengan raga yang jiwanya sudah berpulang ini. :'(

Rasanya aku ingin berlama-lama bersama jasad ayah yang nanti tak akan bisa kutemui lagi, tapi aku sadar kemelekatan yang terlalu erat tentu tidak sehat untuk jiwa. Akhirnya, saat sudah dirasa cukup, aku "lepas" jasad itu. Aku terima kepergiannya sambil berusaha melapangkan hati. Hak jenazah ayah pun dituntaskan dengan melakukan proses memandikan, mengafani, menyolatkan, hingga memakamkan. Ada perasaan lega saat jenazah ayah selesai dimakamkan, tunai sudah tugas kami mengantarkan ayah pulang. Bersamaan dengan itu, ada rindu yang harus kami tanggung sepulang dari pemakaman.

Sepekan pertama setelah ayah dimakamkan, rasanya aneh sekali. Ada masa-masa dimana aku bertanya dalam hati, beneran udah nggak ada ini teh ayah? Ibarat ruangan yang awalnya penuh dengan barang, lalu tiba-tiba kosong entah kemana isinya. Otakku seperti masih mencerna dan belum terbiasa dengan ketiadaan ini. Sudah terbiasa ada ayah, tapi sekarang udah nggak ada. Sudah terbiasa kalau berkunjung ke rumah mertua pasti ada ayah, tapi sekarang udah nggak ada ayah lagi di sana. Sudah terbiasa kalau mau ngontak ayah tinggal chat atau telepon, tapi sekarang udah nggak bisa lagi. Kayak lagi buffering gitu otaknya. Sedih dan bingung jadi satu.

Tapi yang lebih aneh lagi justru fase setelahnya. Setelah itu justru mikirnya jadi "Ih ini mah rasanya ayah masih ada.." Pernah ada momen aku lagi di motor mau ke rumah mertua, rasanya kayak lagi mau ketemu ayah. Kayak ayah masih ada aja gitu, lagi nungguin aku di rumahnya. Jikapun aku tak menemukan ayah di rumahnya, seperti ayah sedang pergi kerja saja. Ada "kehadiran" yang sulit dijelaskan, tapi ya rasanya kayak ayah masih ada aja. 

Dan walau saat ini sudah 1 bulan ayah berpulang, ayah seperti tetap hadir. Hanya saja, kehadiran ayah ada dalam bentuk yang lain. Walau jasad ayah kini sudah kembali ke bumi, tapi ayah tetap hidup dalam obrolan-obrolan kami tentang ayah yang tak pernah habis.

Beberapa kali aku bertemu dengan teman-teman ayah, hampir selalu terselip topik tentang ayah. Begitupun obrolanku bersama bunda atau adik-adik. Ada saja obrolan tentang ayah dan segala kebaikannya. Ayah tak pernah habis dibicarakan dan selalu tersimpan di hati setiap orang yang menyayanginya. Hal ini membuatku lega karena ternyata ayah begitu berbekas di banyak hati orang yang mengenalnya.

Inilah yang membuat ayah terasa tetap ada. Kebaikannya abadi dan masih terus diperbincangkan hingga hari ini. Segala memori tentangnya masih terus dikenang hingga hari ini. Pesan dan nasihatnya masih terus diingat sampai hari ini. Jejak-jejak juangnya masih dilanjutkan hingga hari ini. Dan insya Allah, masih banyak yang mendoakan ayah hingga hari ini.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Semoga Allah merahmatinya, memuliakannya, melapangkan dan menerangi kuburnya.

***

Ayah, sungguh bangga kami padamu. Begitu nyata legacy yang kau tinggalkan sehingga saat kau sudah dipanggil oleh-Nya pun, kau tetap hidup, menjadi teladan dan memberi kehidupan untuk kami yang kau tinggalkan. Kalau aku punya anak nanti, aku pasti akan ceritakan tentang kakeknya. Anak-anakku harus tahu siapa kakeknya. :)

Kau ternyata selalu ada, ya, Yah. Walau begitu, aku tetap rindu.

Senin, 29 April 2024

April

Sejak ayah berpulang, bulan April tak lagi sama di mataku. Rasanya aneh berulangtahun di bulan yang sama dengan bulan wafatnya ayah. Tapi mungkin ini cara Allah untuk mengingatkanku bahwa hari kelahiran justru adalah untuk merenungi hari kematian yang bisa datang kapan saja. Sebab berulangnya hari lahir berarti jatah usiaku semakin berkurang. Entah berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan.

Terima kasih untuk Ramadhan tahun ini yang berhasil membuatku memandang hidup dari kacamata hari akhir. Sejak Ramadhan kemarin, aku belum pernah memikirkan kematian sesering ini --memikirkan seperti apa keadaanku saat mati nanti.

Dari kepulangan ayah di Ramadhan kemarin, aku banyak mendapat kisi-kisi bagaimana mengupayakan kematian yang indah. Aku menjadi lebih serius mencita-citakan kematianku sendiri agar husnul khatimah. Walau masih sesekali dibayangi rasa khawatir, akankah aku berpulang seperti yang aku idam-idamkan?

Mulai April tahun ini, rasanya hari lahir bukan lagi untuk dirayakan, melainkan untuk merenungi sudah sebanyak apa bekal pulang, sudah sesungguh-sungguh apa memproseskan takwa, serta untuk lebih menghargai dan mensyukuri orang-orang tersayang yang masih ada.

Semoga Allah perkenankan saat tiba waktunya pulang nanti.. aku bisa 'dijemput' dalam keadaan yang baik, dalam keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan sedang beribadah dan berjuang untuk-Nya. Aamiin.. :')

Barakallah fi umriik, Na.. :)

Rabu, 24 April 2024

Mencari yang Tersirat

Aku selalu penasaran apa yang ada di kepala ayah sehingga semangat juangnya sehebat itu. Lalu aku mendapat rezeki yang membuat tanyaku sedikit terjawab.

Malam ini, bunda memberi lihat buku catatan ayah kepadaku. Tintanya masih baru sebab itu catatan ayah di bulan Maret. Tak sampai sebulan sebelum kepulangannya.

Secuplik yang bisa kubagi dari sekian banyak :)

Sebagai seseorang yang suka menulis, aku paham sekali bahwa ada banyak hal yang tersirat di balik yang tersurat. Membacanya, aku seperti sedang membaca isi pikiran ayah. Apa yang penting bagi ayah, apa yang memenuhi pikirannya, apa yang sedang diperjuangkannya dan apa yang melandasinya, semuanya tertuang dalam buku catatan yang masih baru itu.

Membacanya, aku bergumam dalam hati, tak heran kiprah ayah sehebat itu dan kematiannya seindah itu. Ternyata isi kepalanya hanya tentang program berdarmabakti kepada-Nya, bahkan hingga hari-hari terakhirnya. Apa yang ayah sampaikan di forum-forum diskusinya adalah apa yang tercatat pada bukunya. Apa yang ayah lakukan adalah implementasi dari apa yang tertuang dalam catatannya. Sungguh sangat walk the talk.

Ayah, hari ini aku belajar lagi darimu.
Masih dengan buku catatanmu di tanganku, aku menangis lagi.
Kali ini, aku menangisi diriku sendiri.
Menangisi diriku yang masih terseok memproseskan diri sebagai hamba-Nya.
Mempertanyakan diriku sendiri, bisakah aku mewarisi buah pikirmu dan meneladani jejak-jejak juangmu?
Semoga masih ada waktu untukku memperbaiki segala kurang hingga nanti bisa tersenyum saat tiba panggilan pulang.

Yah, di tahun-tahun terakhirmu, sering sekali aku mendengar kalimat "Ayah bangga sama kalian." yang kau ucapkan untuk anak-anakmu.

Malam ini, aku ingin bilang, aku bangga punya ayah seperti ayah.

Rabu, 17 April 2024

Rezeki

Suatu pagi di bulan Oktober, jam 8 pagi aku udah diajakin jalan-jalan dan jajan-jajan sama suami. Tujuan utamanya mau beli Kopi Aroma di tengah kota (jaraknya lumayan jauh dari rumah kami). Terus melipir beli dendeng batokok ijo favorit kami di deket terminal (udah lama banget ga makan ituu karena belinya jauhh huhu). Lanjut beli takoyaki mentai favorit di buah batu karena punya voucher diskon 20ribu yang batas berlakunya hari itu. What a perfect morning!

Kami nyampe rumah lagi jam 10an. Sambil nyuap takoyaki, suami nyeletuk, "Asalnya Aa mau ajak temen buat beli kopi dan makan dendeng bareng. Tapi dia nggak bisa dikontak. Mau ngajak adik, dianya masih tidur. Berarti ini mah rezeki kamu, Neng. Banyak rezekinya ya kamu teh."

"Iya alhamdulillah." Aku merespon sambil senyum seneng.

Tapi kemudian aku mikir. Yang bayar semua itu kan suami ya? Jadi yang sebenernya banyak rezeki siapa hayo? Aku atau suami? Wkwkwk. Bisa jadi suamiku yang sebenernya banyak rezeki karena sayang dan baik sama istrinya. Hehehe.

Alhamdulillah, i'm a lucky wife. I'm a happy wife. <3

***

Di hari yang lain, aku sedang berboncengan sama suami dan melihat "insiden" seorang bapak2 muda pengendara motor yang marah-marah ke supir taksi blue bird. Aku nggak sempat lihat duduk perkaranya, tapi keliatannya nggak ada yang jatuh atau terluka, jadi si bapak marah-marahnya kenapa juga kayak nggak jelas aja gitu. Kalau kata suami sih, katanya supir taksinya nggak nabrak, cuma ngeklakson aja. Tapi mungkin bapak itu lagi sensitif jadi ngegas benerr..

Dan bapak itu tuh nggak sendiri, ada istrinya yang duduk di jok belakang. Kuperhatiin istrinya cuma ngusap-usap punggung suaminya tanpa berkata sepatah katapun. Tapi si suami tetep marah-marah sampai si taksi berlalu.

Aku yang menyaksikan itu rasanya antara takut sekaligus heran. Ai si bapak kunaon..? Masalah hidupnya berat banget kayaknya ya.. :v

Lalu ada celetukan dari suami, "Itu dia ke orang lain yang nggak dikenal aja marah-marahnya sampe kayak gitu, gimana ke orang deket?"

"Ih iya, aku juga mikirin istrinya tadi. Jangan-jangan di rumahnya sering marah-marah juga. Heu.."

Lalu aku melanjutkan, "Untung suami aku mah baik." Sambil memberikan senyum yang nggak bisa dilihat suami karena posisiku di jok belakang.

Aku bersyukur dalam hati. Dan kayaknya doi mesem-mesem dalam hati karena tiba-tiba dipuji wkwk