Senin, 17 September 2018

Monday Love Letter #9 - Solusi Itu Dekat


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Semoga selalu dalam keadaan baik dan semoga Allah memberkahi segala aktivitasmu apapun itu. Pekan ini seruu sekali bagi saya karena sepekan ini saya sedang membenahi beberapa urusan dan project yang sedang dijalankan, termasuk Sister of Deen Project ini pastinya. Hehe. Doakan ya semoga lancar dan tidak ada kendala berarti :)

Seiring saya membereskan satu per satu urusan, disaat yang sama saya merasa bahwa Allah sedang mendidik saya melalui ini semua. Tidak ada yang lebih melegakan ketika saya masih merasakan kasih sayang Allah lewat pembelajaran yang diberikan-Nya melalui kehidupan ini. Alhamdulillah, Allah Yaa Rahman Yaa Rahiim.. Semoga hati ini selalu diberi kepekaan agar bisa menangkap hikmah dari-Mu.

Salah satu pembelajaran dari Allah kepada saya sepekan kemarin adalah tentang hambatan. Bahwa Allah memberi hambatan bisa jadi untuk menguji kesungguhan kita. Pernah nggak sih ketika kita sedang memperjuangkan sesuatu lalu ketika melangkah kok adaaa aja hambatannya. Kok rasanya susaah sekali. Masalahnya bisa beragam, dari mulai masalah teknis hingga masalah motivasi. Kondisi seperti ini tentunya akan sangat menguji kita apakah akan memutuskan untuk terus maju, atau berhenti saja. Untukmu yang sedang mengalami kondisi seperti itu, semoga Allah memberi kekuatan kepadamu untuk bertahan ya! Saya percaya setiap niat baik pasti ada jalannya.

Saya jadi teringat pada kisah Siti Hajar yang mencari-cari air karena Ismail kecil terus menangis karena lapar. Siti Hajar sampai harus berlari-lari antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Lalu ketika ia sudah berada di titik terlelahnya, ternyata air malah mengalir dari bawah kaki Ismail. Adapula kisah Nabi Musa yang terjebak didepan laut merah ketika dikejar-kejar oleh pasukan Fir'aun, ternyata jalan keluar ada pada tongkat dalam genggamannya yang kemudian dapat membelah lautan atas izin Allah.

Dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah bahwa solusi itu bisa jadi amat sangat dekat. Bahkan mungkin tidak sampai selangkah dari tempat kita berdiri. Tapi mengapa Allah menjadikan jalannya begitu sulit? Kita dibuat harus berbelok dulu, harus mengambil jalan memutar, bahkan mungkin harus menemui jalan buntu dulu sebelum menemukan jalan keluar. Tidak lain karena Allah ingin menguji kita! Seberapa besar kesungguhan kita dan seberapa sabar kita untuk mewujudkan niat baik kita. Dan yang paling penting, seberapa kuat kita bergantung kepada Allah.

Jika mengingat-ingat perjalanan hidup kita ke belakang, mungkin ujian kesungguhan ini juga pernah datang kepada kita. Saya pernah tertatih-tatih mengerjakan skripsi ketika masih kuliah dulu. Rasanya sulit sekali dan banyak tekanan. Tapi ketika saya memperbaiki dan menguatkan niat, ternyata kemudahan datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan prosesnya selesai lebih cepat dari yang dibayangkan. Adakah yang sedang mengerjakan skripsi atau tesis? Semangat ya, semoga Allah memberi kemudahan dalam prosesnya. :)

Ceritamu mungkin berbeda, ada yang mungkin kesana kemari mencari jodoh tapi ketika memasrahkan urusan kepada Allah, ternyata Allah mendatangkan jodoh yang tidak lain adalah tetangganya sendiri. Atau mungkin ada yang pernah mengalami stress berkepanjangan, mencari teman bercerita kesana kemari, tapi ternyata ketenangan muncul dari keningnya yang ditempelkan keatas sajadah untuk bersujud di sepertiga malam. Mungkin ada yang pernah mengalami kesulitan ketika persalinannya, kondisi janin yang mengkhawatirkan dan kondisi ibu yang sudah lelah membuat seakan tak ada harapan, tapi kemudahan tiba-tiba saja hadir setelah mencium tangan ibu dan meminta maaf. Ada yang mungkin sedang dalam keadaan kalut karena ditolak banyak kesempatan kerja, tapi jalan keluar muncul ketika dia tidak sengaja membantu orang asing yang kesulitan di jalan dan ternyata orang itu sedang mencari karyawan sehingga selesailah masalah pekerjaan yang sedang dihadapinya.

Skenario Allah memang misteri. Tugas kita bukanlah memikirkan ranah hasil, tapi ranah ikhtiar. Upaya mana yang kira-kira belum optimal. Cara mana yang kira-kira perlu diperbaiki. Seserius apa kita meningkatkan kepantasan diri dan seberapa besar kesungguhan kita dalam mewujudkannya, mungkin itu yang ingin Allah lihat dari kita sebelum Dia memberikan jalan keluarnya.

Solusi itu dekat, dear.. Jika solusi itu terasa jauh, mungkin yang jauh adalah kepantasan kita. Jalan keluar itu bisa jadi tidak sampai selangkah dari tempat kita berdiri. Namun jika jalannya terasa berkelok-kelok, mungkin yang membuatnya berkelok adalah karena tidak lurusnya niat kita.

Apapun medan juangmu, jangan berhenti sebelum memberikan ikhtiar terbaik.

Senin, 10 September 2018

Monday Love Letter #8 - Be With Allah and Allah Will Protect You


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sister! Alhamdulillah, jika kamu menunggu-nunggu hadirnya Monday Love Letter di hari Seninmu, saya juga selalu menunggu-nunggu hari Senin agar bisa mengeluarkan isi pikiran menjadi tulisan yang penuh hikmah dan menjadi reminder diri. Jika ternyata tulisan itu kemudian menginpirasimu, all thanks to Allah! Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali atas izin-Nya.

Di Love Letter kali ini, mungkin topik yang dibahas akan sedikit serius. Harap maklum, karena seminggu kemarin saya banyak berpikir serius tentang fenomena yang akhir-akhir ini saya lihat. Ada rasa miris, sedih, takut, sekaligus greget ingin berusaha mengubah. Apa tuh? Penasaran, simak ya..

Mungkin kamu pernah mendengar hadits ini. Rasullah SAW bersabda, "Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (HR. Tirmidzi)

Sadarkah kita? Kitalah yang sekarang sedang hidup di zaman itu. Kini makin nyata tanda-tanda akhir zaman dengan maraknya kemaksiatan, tindak kejahatan, dan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga rasanya suliiiit sekali menjaga iman ini. Kemaksiatan kini mulai dianggap wajar. Pemikiran dan gaya hidup barat kini menjadi hal yang biasa. Islam menjadi semakin asing dan orang-orang yang berpegang teguh memegang ajaran Islam semakin terasing.

Akhir-akhir ini saya mengamati betapa dunia ini begitu gemerlap dengan segala perhiasannya. Kebanyakan orang berlomba-lomba mengumpulkan "perhiasan" itu; kekayaan, kekuasaan, gaya hidup mewah, popularitas, pujian dan tepuk tangan. Perhiasan yang sebetulnya hanya untuk memuaskan hawa nafsu, ego, dan prestise belaka di hadapan orang lain. Banyak orang hidup untuk mendapat pengakuan dan memenuhi ekspektasi orang lain, bukan untuk memenuhi harapan Penciptanya. Semoga itu bukan kita.

Saya sedih sebetulnya melihat fenomena itu. Banyak orang yang lelah mengejar mimpinya, banyak orang yang sibuk dengan pekerjaannya, banyak orang yang (katanya) berjuang tapi kebanyakan mereka malah berujung stress, tertekan, depresi, bahkan ada yang berujung bunuh diri. Padahal jika ditanya untuk apa mereka melakukan itu semua, semuanya pasti akan menjawab, untuk kehidupan yang bahagia. Tapi mengapa yang terjadi malah kebalikannya?

Inilah zaman kita. Zaman dimana memegang kebenaran seperti memegang bara api, sulit sekali. Belum lagi sindiran, cemoohan, isu yang bertebaran dan komentar dari sana-sini, yang terkadang membuat ragu dan goyah atas kebenaran yang diyakini. Kita seperti sedang berada dalam badai besar dengan angin yang sangat kencang, tanpa tempat berlindung tentulah kita tidak akan selamat. Berlindung dari badai didalam bangunan yang kokoh, itulah yang kita perlukan.

Bangun dan sadarlah! Carilah perlindungan terbaik untuk diri kita karena jika kita tidak bergantung dan berlindung pada Dia yang Maha Melindungi, iman kita akan tergerus, ideologi kita terbawa arus, dan diri kita akan terjerumus. Naudzubillah min dzalik.

Maka, kunci untuk setiap manusia akhir zaman adalah kembali kepada Allah dan bergantung hanya kepada-Nya yang memberikan kekuatan dan keteguhan hati. Hanya Allah tempat berlindung yang paling aman. Bahkan iblis saja tidak mampu menggoda mereka yang teguh imannya.

Namun untuk mendapat perlindungan Allah tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus "merayu" Allah agar Allah mau menolong kita. Apalagi yang kita minta adalah perlindungan untuk sesuatu hal yang besar; fitnah akhir zaman dan keselamatan dunia akhirat. Memangnya Allah akan memberikannya secara cuma-cuma tanpa menyeleksi kepantasan hamba-Nya?

Pantaskah kita meminta perlindungan dari Allah tanpa membangun hubungan yang dekat dengan Allah? Sholat wajib dinanti-nanti, baca quran sesempatnya, hadir ke kajian malas, berinfak se-sisa-nya, berdoa sama Allah kalau ada maunya saja. Bahkan kita masih menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Astagfirullah. Bagaimana Allah akan menolong?

Yuk, mulai serius mendekat kepada Allah. Mulai perbaiki hubungan kita dengan Allah. Jika kondisi "gelap" di sekitar kita hanya bisa dilawan dengan "cahaya", maka dekat-dekatlah dengan sumber cahaya. Dimulai dengan baca, pelajari, dan amalkan surat cinta dari Allah (Al-Quran) yang merupakan pedoman hidup kita, tingkatkan kualitas ibadah kita, hadiri majelis ilmu yang bisa mengokohkan ketauhidan kita, berkumpullah bersama orang-orang sholeh(ah) yang juga mencita-citakan keselamatan akhirat karena kita akan semakin kuat jika berjamaah.

Semoga dengan begitu Allah makin menyayangi kita dan memberikan perlindungan dan pertolongannya kepada kita baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin..

"…Maka dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah.
Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." 
-QS. Al-Hajj (22) : 78-

Senin, 03 September 2018

Monday Love Letter #7 - Syukur Ver 2.0

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah sudah sampai di Senin yang ketujuh sejak Monday Love Letter pertama ditulis. Bahagia sekali rasanya ketika sadar bahwa ternyata diri yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan ini masih bisa menginspirasi orang lain. Bisa konsisten menulis seperti ini menjadi pencapaian tersendiri bagi saya, yang biasanya menulis ketika memang sedang ingin saja. Alhamdulillah Allah mampukan :')

Akhir-akhir ini saya sedang banyak berpikir dan mengamati bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, baik itu di media sosial maupun dengan bertemu langsung. Dan untuk pertama kalinya dalam fase hidup saya, saya bertanya kepada diri sendiri, pertanyaan yang tidak pernah saya sangka akan saya tanyakan kepada diri saya sendiri, "Tuh lihat, si A udah mencapai ini, si B udah jadi itu, si C lagi bikin project keren tuh, kamu udah apa?"

Buat saya yang punya karakter cuek, pertanyaan seperti itu terasa aneh bagi saya. Tidak biasanya saya membandingkan diri saya dengan orang lain. Dan mindset ini menjadi racun bagi saya sendiri karena saya malah jadi merasa minder karena membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain sementara saya kok rasanya masih begitu-begitu saja. Jangan dicontoh ya, karena ini sungguh tidak baik untuk kesehatan hati, jiwa, dan pikiran. Hehe.

Sampai suatu hari saya tiba-tiba teringat pada sebuah istilah yang sering disebut-sebut, yang katanya akan teralami oleh orang-orang di usia 20-an menjelang 30-nya. Quarter Life Crisis. Sebuah fase yang membuatmu mengulang lagi pertanyaan tentang tujuan dan makna hidup. Ya, kurasa saya sedang mengalaminya.

Yang saya pelajari dari fase ini adalah bahwa jawaban yang harus kau temukan tidak hanya sekedar tujuan hidupmu adalah untuk ibadah, seperti yang kita semua tahu dalam QS. 51:56. Tapi ada sebuah pertanyaan lanjutan yaitu peran apa yang ingin kamu ambil untuk ibadahmu? Dan secara naluriah kita akan berusaha mencari peran yang besar manfaatnya untuk orang lain. Ya, di fase ini kita mulai mencari makna diri kita untuk orang lain, masyarakat, bahkan dunia. Tidak lagi memikirkan hanya untuk diri sendiri.

Maka, mulailah melihat kepada dirimu. Apa yang kau punya? Apa "harta" yang Allah titipkan untuk dirimu? Jika hartamu adalah kemampuan berbisnis dan bernegosiasi, maka jadilah seperti Siti Khadijah r.a, shahabiyah dermawan yang membesarkan bisnisnya untuk kepentingan umat.
Jika hartamu adalah kecerdasan intelektual, punya gelar S1, S2 atau S3, maka jadilah cendekiawan muslim yang memperkaya pengetahuan dunia dan memajukan peradaban.

Jika hartamu adalah kemampuan berdiplomasi dan berorganisasi, latihlah dirimu menjadi pemimpin yang berpengaruh untuk menyebarkan nilai-nilai Islam.

Jika hartamu adalah kemampuan menulis, maka tulislah karya terbaik yang bisa menembus pikiran banyak orang dan membuat mereka terinspirasi untuk menjadi sebaik-baik manusia di hadapan Allah.

Jika hartamu adalah anak dan keluargamu, maka jadilah seorang istri dan ibu terbaik yang mencetak generasi shalih dan shalihah, serta mengupayakan ikhtiar terbaik agar keluargamu terlindung dari api neraka.

Apapun itu, setiap "harta" sejatinya hanyalah titipan, hanyalah pinjaman dari Allah. Dan yang namanya titipan, tentu tidak bisa kita pakai seenaknya semau kita, bukan? Tetap ada hak Allah didalamnya.


Inilah yang dinamakan syukur ver. 2.0 (istilah karangan saya, hehe), yaitu bentuk syukur yang lain yang sudah ter-upgrade. Syukur yang bukan sekedar berterima kasih atas apa yang telah Allah berikan, tetapi syukur yang membuat kita melakukan sesuatu yang terbaik dengan menggunakan segala potensi yang Allah berikan kepada kita. Potensi yang kemudian digunakan untuk kepentingan Allah, untuk kepentingan Islam, serta untuk kepentingan akhirat diri, keluarga, dan umat. 
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun," (QS. At-Taghabun (64): 16-17)
Ah ya, ada satu yang perlu kau ingat. Hartaku, belum tentu sama dengan hartamu. Begitupun sebaliknya. Maka tidak usah membandingkan diri kita dengan orang lain, biarlah orang lain "berinfaq" dengan harta miliknya, karena kita juga punya harta sendiri yang harus kita persembahkan untuk Allah. :)

Selamat mengupayakan syukur terbaikmu kepada Allah, dengan definisi syukur yang sudah ter-upgradeFastabiqul khairat.

Senin, 27 Agustus 2018

Monday Love Letter #6 - Find Your "Two Eases"


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Waah sudah bertemu hari Senin lagi, bagaimanakah harimu seminggu ke belakang? Semoga hari-harimu selalu dipenuhi dengan aktivitas yang positif dan bermanfaat yaa, sister :)

Seminggu ke belakang saya merasakan kepadatan aktivitas yang cukup hectic sebenarnya. Hampir setiap hari saya pulang ke rumah selepas isya dalam keadaan sangat lelah. Apalagi Bandung seminggu kemarin terasa panas sekali di siang harinya. Anehnya, saya merasa senang dalam lelah itu! Walaupun fisik saya lelah, tapi hati ini merasa lega, adem. Membuat saya mengimani dalam hati bahwa setiap lelah karena lillah tidak akan akan terasa lelahnya. Subhanallah ya :')

Suatu hari, ketika saya sedang mengendarai motor menuju ke suatu tempat, saya tiba-tiba teringat pada sebuah video yang beberapa minggu lalu saya tonton. Video berdurasi kurang dari 5 menit itu berbicara tentang 2:1 Ratio Life Hack. Wah, Apa tuh?? Ternyata life hack ini diambil dari surat al-Insyirah, bahwa dalam surat itu Allah mengulang 2 ayat yang isinya sama; "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" dan ayat ini diulang 2 kali secara beriringan. Ini berarti bahwa di setiap kesulitan kita, di saat yang sama Allah juga memberi 2 kemudahan. Jika kita yakin akan hal ini, tentu menghadapi masalah akan lebih tenang bukan? Bermodalkan keyakinan ini, setiap kali kita menghadapi suatu masalah, yakinlah bahwa Allah memberi kita kemudahan dalam urusan yang lain.

Pernahkah kamu mengalami hal semacam itu? Dihimpit oleh suatu masalah tapi ternyata Allah memberi jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Atau ketika sedang ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu waktu, satu pekerjaan bermasalah, tapi pada pekerjaan lainnya Allah memberi kemudahan sehingga kita bisa menyelesaikan semuanya dengan usaha yang mungkin tidaklah seberapa.

Lihatlah betapa Allah begitu adil, Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan tanpa jalan keluar. Bukankah seberat apapun beban yang kita pikul, selalu saja ada alasan untuk bisa bersyukur? Tinggal seberapa besar kepekaan kita untuk bisa menemukan dan mensyukuri "kemudahan" yang Allah berikan itu.

2:1 Ratio Life Hack itulah yang saya praktekkan selama ke-hectic-an seminggu kemarin. Ketika menghadapi keadaan yang genting, tidak lantas menjadi panik karena yakin bahwa Allah pasti memberikan kemudahan-kemudahan lain. Dan benar saja, selang beberapa waktu, situasi kembali aman terkendali.

Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kesulitan dalam hidupmu? Atau justru sedang mengalaminya saat ini? It's okay, dear.. Kalau kata video yang saya tonton itu, "Find your two eases". Temukan 2 kemudahan dalam 1 kesulitan yang kamu hadapi, pasti ada! Bersyukurlah dengan yang 2 itu, bukan meratapi 1 kesulitan terus-menerus. Dengan mempraktekkan hal ini, insya Allah kita akan menjadi lebih mudah bersyukur dan merasakan kehadiran Allah.

Tenanglah, karena bersama Allah, semua akan baik-baik saja.


PS. 
Untukmu yang penasaran  isi videonya, silakan klik disini
Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 20 Agustus 2018

Monday Love Letter #5 - Bersabarlah untuk Dirimu


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Senang sekali bisa menulis lagi dan mengirim surat cinta untuk perempuan hebat sepertimu! Tetap bersinar dan jadi berharga ya sister, karena orang pertama yang harus mencintai dirimu adalah dirimu sendiri tentu saja! :D

Tapi sebagai sesama perempuan, saya juga pernah merasakan bahwa mencintai diri sendiri adalah hal yang membutuhkan proses. Apalagi jika kita pernah punya memori masa lalu yang tidak menyenangkan dan membuat kita membenci diri sendiri, prosesnya tentu akan lebih berat lagi.

Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri, karena sebetulnya setiap diri kita pasti tahu caranya. Hanya saja, kita perlu untuk bersabar untuk menjalani prosesnya. Setiap yang membutuhkan proses, tentu membutuhkan waktu. Dan setiap yang membutuhkan waktu, tentu membutuhkan kesabaran. Maka bersabarlah untuk dirimu sendiri.

Seperti ulat yang tetap menikmati setiap proses dalam kepompongnya hingga ia menjadi kupu-kupu yang cantik. Bayangkan jika ulat tersebut tidak cukup sabar menjalani prosesnya, sayap-sayapnya tidak akan menjadi kuat dan indah. Ia tidak akan mampu terbang karena proses yang belum sepenuhnya selesai. Bahkan ia bisa saja mati jika memaksa untuk keluar dari kepompong sebelum waktunya. Begitupun kamu, dear.. Nikmatilah setiap proses metamorfosismu sampai kamu bisa menerima dan mencintai dirimu sendiri seutuhnya.

Kamu pernah mengunduh aplikasi di ponselmu, kan? Bukankah hal sesederhana mengunduh dan meng-install aplikasi atau software pun ada prosesnya? Kira-kira apa yang akan terjadi jika kita meng-cancel proses itu sebelum 100%? Gagal. Harus mengulang dari awal. Butuh waktu lagi. Butuh menunggu dengan waktu yang lebih lama. Hanya karena kita tidak bersabar menunggu, akhirnya kita harus membayarnya dengan waktu yang lebih lama.

Kita yang selama ini mungkin terbiasa merendahkan diri sendiri, terbiasa meracuni pikiran kita dengan hal-hal yang negatif, terbiasa memandang negatif terhadap diri sendiri, lalu di satu waktu ingin berusaha mengubahnya secara instan, tentu tidak akan semudah itu. Tapi bagaimanapun juga, apresiasilah dirimu yang ingin berubah menjadi lebih baik! Karena keinginan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik adalah hal yang patut disyukuri dan disambut dengan baik.

Setelahnya, bersedialah untuk menjalani prosesnya. Kita harus mau berproses untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dengan yang lebih baik. Misalnya dengan melatih diri untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki, melatih diri tersenyum di depan cermin dan mengatakan "aku mencintaimu, diriku." Atau dengan membuat surat untuk dirimu sendiri untuk mengungkapkan rasa terima kasih terhadap dirimu sendiri. Ya, dirimu harus diapresiasi! Oleh dirimu sendiri.

Bersabarlah disetiap prosesnya. Sampai kebiasaan-kebiasaan baik itu berhasil ter-install kedalam dirimu dan kamu bisa dengan bangga berdiri di atas kakimu sendiri karena rasa cinta dan penerimaan yang besar terhadap dirimu sendiri. Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan biarkan impianmu untuk terbang kalah oleh dirimu sendiri. Ingat, Allah bersamamu.


PS. Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 13 Agustus 2018

Monday Love Letter #4 - Hidup kayak Air Mengalir? Bisa sih, tapi...


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Alhamdulillah bertemu lagi dengan hari Senin setelah melewati satu pekan yang -bagi saya sih- sepekan kemarin berjalan cepat sekali. Apakah kamu merasakannya juga? :)

Anyway, sudah 2 bulan ini saya sedang membiasakan diri lagi untuk membuat buku jurnal harian, yaitu sebuah buku khusus yang berisi aktivitas sehari-hari beserta serangkaian to do list-nya. Tujuannya agar saya bisa "melihat" sudah sejauh apa perkembangan diri saya selama sepekan, sebulan, bahkan setahun. Memiliki jurnal harian membuatku bisa mengukur produktivitas selama sepekan; sudah melakukan apa, sudah bisa apa saja, target mana yang sudah tercapai, besok harus melakukan apa, dsb. Dan tentu saja, dengan cara ini  akan lebih mudah mengevaluasi diri di setiap minggunya karena progresnya terlihat dan bisa diukur.

Memiliki jurnal harian juga menjadi sarana pribadiku untuk lebih bersyukur. Begitu terasa Ke-MahaBaik-an Allah karena masih memberikan kesempatan untuk bertumbuh dan beramal shaleh. Selain itu, saya juga jadi lebih menghargai waktu. Bukankah dari setiap tanggal di kalender yang bergerak maju, menunjukkan bahwa setiap hari jatah hidup kita berkurang? Setiap kali kita bernafas, bukankah kita baru saja menggunakan jatah sedetik waktu kita, tanpa kita tahu berapa detik waktu lagi yang menjadi jatah kita. Ya, setiap orang diberi jatah waktu oleh Allah, sudah bijakkah kita menggunakannya?

"Kenapa sih kok kayaknya hidup harus seribet itu? Harus susah-susah bikin target, harus repot-repot evaluasi, kayaknya menjalani hidup seperti biasa pun hidup saya fine-fine aja tuh. Kayak air mengalir ajalah hidup mah.." Hehe, adakah yang berpikiran begitu? Memang sih, kita bisa saja hidup walau tanpa tujuan. Sekolah, kuliah, lalu lulus. Mencari uang lalu menghabiskannya. Bekerja, menikah lalu menikmati hidup hingga tua. Bisa saja. Tapi apakah hidup kita jadi bermakna?

Hal itu sama saja seperti kita mengendarai mobil, tapi langsung jalan tanpa tujuan. Bodo amat mau kemana deh, yang penting jalan. Bisa jalan mobilnya? Bisa sih, tapi nggak jelas kemananya. Yang ada malah ngabisin energi dan ngabisin bensin. Bisa juga malah nyasar. Kan sayang energinya, sayang waktunya, sayang bensinnya. Dipakai, habis, tapi tidak membawa kemana-mana.

Hidup pun begitu. Tanpa tujuan, kita hanya akan menghabiskan energi kita, waktu kita, materi kita, untuk sesuatu yang tidak membawa kita kemana-mana dan tidak menjadi siapa-siapa. Merasa sudah berjalan jauh padahal kaki kita masih berada dibelakang garis start. Rugi atau rugi banget?

So, penting ya ternyata untuk menentukan tujuan? Jika kita naik mobil dengan tujuan jadinya akan terukur, berapa kilo sih jaraknya? Butuh bensin berapa liter ya? Harus ke rest area atau nggak? Perlu siapin uang berapa? Semuanya akan jadi efektif dan efisien karena kita menghabiskan uang, waktu, dan tenaga untuk sesuatu yang jelas. Hidup pun begitu, kawan. Kita tidak bisa sekedar menggunakan jatah waktu kita tanpa kita tahu kita mau kemana, hidup kita untuk apa, mau mencapai apa.

"Baiklah, mulai saat ini saya akan membuat tujuan hidup saya! Saya akan jadi orang sukses, jadi orang kaya, jadi terkenal, keliling dunia, dan sebagainya." Eits, tunggu dulu. Menentukan tujuan memang penting, tapi jangan asal. Mulailah dari bertanya mengapa kita hidup. Bukankah Allah menciptakan kita dengan tujuan? Maka selaraskanlah tujuan kita dengan tujuan Dia yang menciptakan. Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan kita, masa' kita hidup semau kita sih? Da kita mah apa atuh, ibarat debu yang dibelah triliyunan kali. Cuma seorang hamba, lemah pula. Ga akan bisa hidup kalo nggak diatur sama Allah!

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" 
(QS. Adz-Dzariyat (51) : 56))

Nah, ketika kita sudah menemukan tujuan Allah menciptakan kita, maka hiduplah dengan tujuan itu. Dengan memegang tujuan bahwa hidup kita adalah untuk beribadah, akan mudah bagi kita untuk mengukur diri. Sudah belum aktivitas kita ditujukan untuk dan kepada Allah? Kita nggak akan rungsing sama distraksi dari lingkungan. Diajak ini hayu, diajak itu hayu. Nggak akan pusing sama pencapaian orang. Orang punya ini, mau. Orang punya itu, pengen. Orang bisa ini itu, galau. Jelas lah, karena kita nggak fokus sama apa yang menjadi tujuan kita. Malah sibuk sama perjalanan orang lain dan mengabaikan perjalanan hidup kita sendiri.

Ingat, ladies. Waktu kita terbatas. Jangan habiskan waktu kita dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan kita. Itu sama saja seperti menghabiskan bensin ke tempat yang bukan menjadi destinasi kita. Lebar ih da bensin teh sekarang mahal.. Hehe bercanda. Intinya, gunakanlah jatah waktu kita dengan bijak, efektif dan efisien sesuai dengan tujuan Allah menciptakan kita. Jangan tergiur dengan pencapaian orang lain karena kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain, tapi dengan diri kita sendiri. Dan jangan lupa kumpulkan bekal untuk kembali "pulang". Kita di dunia cuma transit, sist.

Senin, 06 Agustus 2018

Monday Love Letter #3 - Why You Should Be Grateful

Assalamu'alaikum sisters fillah :)

Kamu mungkin masih ingat, minggu lalu saya menulis tentang produktivitas, lalu terjadilah satu minggu yang tiba-tiba penuh dengan agenda. Seakan Allah ingin memvalidasi pernyataan saya Senin lalu. Nah lho, dengan agenda sebanyak ini, bisa nggak ngatur waktunya? Bisa nggak lawan malasnya? Hehe. Alhamdulillah semuanya terlewati dengan lancar, tentunya tidak lepas dari pertolongan Allah juga :)

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu atau ketika sedang merenungi tentang apa saja yang sudah saya lakukan hari itu, saya selalu merasa bahwa Allah sangat baik. Terlalu baik malah, sampai-sampai saya sering bertanya-tanya, pantaskah saya menerima begitu banyak kebaikan dari Allah ini. Ketika saya meminta sesuatu, lalu Allah kabulkan. Ketika doa saya belum diperkenankan oleh-Nya, ternyata saya mendapat sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya pintakan itu. Ketika saya berusaha dengan ikhtiar yang seadanya, Allah beri hasil yang banyak sekali, lengkap dengan bonusnya! Banyak sekali kejadian-kejadian dalam hidup yang membuatku semakin membenarkan bahwa Allah memang Maha Baik, seperti bunyi ayat pertama dalam surat pembuka dalam al-Quran, bahwa Allah itu; Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Kamu mungkin pernah bertemu banyak orang baik di dunia ini. Entah itu keluargamu, sahabatmu, bahkan sekedar orang asing yang tak sengaja bertemu denganmu di jalan. Di dunia ini memang selalu saja ada orang-orang baik dengan hati yang tulus, tak segan memberi dan tak berharap dibalas. Bayangkan jika setiap hari kita didatangi orang seperti itu, mencurahkan kebaikan yang tanpa henti kepada kita, apa rasanya? Awal-awal mungkin kita sangat berterima kasih, lama-lama jadi merasa nggak enak karena dia terlalu baik. Hehe, lucu ya manusia, bisa merasa nggak enakan sama orang yang terlalu baik.

Biasanya hal ini terjadi jika kita ada di posisi "sering menerima" sehingga muncullah perasaan tidak enak karena kita merasa kurang cukup membalas kebaikannya. Begitu pula dengan menerima terlalu banyak. Bayangkan saja jika kita melakukan pekerjaan yang upahnya hanya setara dengan dengan seratus ribu rupiah, tapi kita dibayar dengan uang satu juta, bukankan respon normal orang kebanyakan adalah tercengang dan menolak terlebih dulu? Kenapa? Karena kita sadar bahwa pekerjaan kita tidak layak untuk dibayar sebesar itu.

Nah! Allah jauuuuh lebih baik daripada orang baik yang ada di belahan bumi manapun! Tentu kalian setuju bahwa Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang sangaaat banyak. Tidak usah jauh-jauh melihat harta benda yang kita miliki. Kita sedang diam seperti saat inipun, sudah banyak sekali nikmat Allah yang bisa kita sebutkan. Pernahkah kita meminta oksigen kepada Allah agar kita bisa bernafas? Pernahkah kita memantau setiap degup jantung dan aliran darah di tubuh kita? Pernahkah kita membayangkan seandainya mata kita tidak bisa berkedip, atau sistem percernaan kita terganggu, atau kulit kita tidak memiliki kemampuan menutup luka dengan sendirinya? Begitulah Maha Baiknya Allah, nikmatnya senantiasa tercurah tanpa henti, baik yang kita minta, maupun yang tidak kita minta. Sadarkah kita?

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." -QS. An-Nahl (16) : 18

Coba pikirkan, bagaimana jika kita diharuskan membalas semua kebaikan dari Allah, sanggupkah? Bagaimana jika kita harus membayar nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, mampukah? Menghitungnya saja tidak mampu, apalagi membalasnya. Lantas, adakah sedikitnya rasa malu kita terhadap Allah? Pernahkah kita merasa "nggak enak" kepada Allah sementara kita sudah begitu banyak menikmati berbagai rezeki dan fasilitas yang Allah berikan. Kita telah menerima banyak, tapi hanya bisa membalas sedikit, bahkan lebih parah dari itu-- kita selalu saja merasa kurang.

Meningkatkan syukur adalah PR besar kita. Syukur yang tidak sekedar ucapan hamdallah, tapi menjelma dalam langkah. Syukur yang bukan sebatas di hati, melainkan sampai menjadi amal dan ketaatan. Bukankah Allah tidak meminta banyak dari kita selain agar kita hidup dalam taat dan mau diatur dengan aturan-Nya.. Maka tidak bisakah kita menjadi seorang hamba yang taat sebagai wujud syukur dan terima kasih kita kepada-Nya?

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah, ketika kita berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya, Allah kelak akan hadiahkan surga untuk kita. Wujud syukur yang kita niatkan untuk membalas kebaikan Allah, malah Allah balas lagi dengan nikmat yang tak terhitung besarnya. Lihatlah, betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang! :')

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" -QS. Ibrahim (14): 7

Mari kita sama-sama mengupayakan syukur terbaik kepada Allah.

Senin, 30 Juli 2018

Monday Love Letter #2 - Say Hi to Your Productive Day!

Assalamu'alaikum! Alhamdulillah bisa sampai di Monday Love Letter yang kedua, buat kamu yang terlewat membaca yang pertama, bisa cari di label "Monday Love Letter" yang ada di sebelah kanan blog ini. Dan kalau kamu ingin mendapatkan suratnya secara personal ke emailmu, bisa dengan cara meninggalkan emailmu di komentar, ya! Nanti setiap hari Senin kamu akan mendapatkan 2 Monday Love Letter dariku dan dari partnerku (we're planning a project now, this is just a spoiler, hehe). Syaratnya satu untuk bisa subcribe: ini khusus UNTUK PEREMPUAN :)


***
Pernahkah kamu merasakan "haahhh today I don't feel like doing anything" di awal harimu? Susah beranjak dari kasur, leyeh-leyeh main gadget sementara banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Ah, kurasa semua orang pasti pernah begitu. Jika mengawali hari dengan bermalas-malasan seperti itu, yang biasanya terjadi adalah kemungkinan besar kamu memang tidak akan melakukan apa-apa hari itu, say bye to productive day. Bahkan terkadang kita membuat pemakluman kepada diri sendiri, "biarlah sekali-kali malas-malasan seharian, pekerjaan hari ini akan kukerjakan besok". Nyatanya, besok pekerjaan malah menumpuk dan kita jadi keburu malas mengerjakan serangkaian to do list yang bejibun. Hayooo siapa yang pernah begituu? Tenang, saja juga pernah kok. Hehe.

Tapi apakah jika manusia memang punya sifat malas, lantas kita memakluminya? Apakah setelah kita tahu betapa merugi orang yang menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, kita tetap membiarkan 24 jam kita yang berharga berlalu begitu saja?

Hari ini sebetulnya saya sedang merasa ingin bermalas-malasan. Tapi nyatanya, diri ini tidak merasa tenang karena saya tahu jika saya tidak bisa produktif hari ini, saya pasti akan menyesal di akhir hari. Lalu bagaimana caranya memutus rasa malas? Tidak ada cara lain selain MEMAKSAKAN DIRI. Jika kamu harus menulis skripsi, maka segeralah bangkit dan buka laptopmu. Jika kamu sedang malas kuliah, maka segeralah bersiap dan berangkat ke kampus. Jika kamu seorang ibu rumah tangga yang sedang malas memasak, maka siapkan bahan-bahan dan mulailah memasak. Jika kamu bekerja di kantor dan harus menginput arsip yang begitu banyak, mulailah dengan mengerjakan satu arsip. Tidak ada rumus agar tidak malas kecuali kamu bergerak! Hanya itu yang bisa mengalahkan kemalasanmu. Tapi percayalah, once you get started, you'll keep going.

Pagi tadi, untuk menghalau rasa malas saya bergegas wudhu dan melakukan shalat Dhuha. Lalu sebuah ayat yang sangat saya hafal terlintas di kepala; wa minannaasi may-yasyrii nafsahubthighooa mardhotillah, wallahu raufum bil 'ibaad.. Surat Al-Baqarah ayat 207 yang artinya, "Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." Ayat ini tentu saja bukan sekedar kalimat berita yang hanya perlu ditanggapi dengan "oohh begitu.." lalu selesai, bukankah seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah saya yang termasuk kepada "diantara manusia" yang Allah sebutkan? Jika redaksi katanya adalah minannaas, maka berarti tidak semua manusia begitu, pada nyatanya hanya sebagian kecil saja. Masukkah saya pada yang sebagian kecil itu?

Sebetulnya semua manusia itu berkorban, bedanya adalah kepada apa dia berkorban. Ada yang berkorban untuk Allah dan ada yang berkorban kepada selain Allah. Kita kuliah, pasti banyak yang dikorbankan. Kita menikah, menjadi ibu, menggapai cita-cita, berkarir, akan ada banyak sekali hal yang dikorbankan oleh manusia demi tujuannya masing-masing. Pertanyaannya, itu semua untuk siapa? Jangan-jangan itu semua kita lakukan hanya sekedar memenuhi ambisi atau keinginan pribadi kita saja tanpa disambungkan kepada Allah atau kepada cita-cita akhirat kita. Kita bekerja siang malam, demi mewujudkan hal-hal yang mungkin hanya sampai pada sebatas tujuan duniawi saja. Jika untuk hal yang bersifat duniawi kita bisa mengorbankan banyak hal, apakah untuk Allah usaha kita juga sebesar itu?

Hmm.. Jadi kalau dipikir-pikir, sebetulnya orang malas itu tidak ada, ya? Semua orang pasti sibuk beraktivitas, menghabiskan 24 jam yang sama, yang membedakan adalah apakah aktivitasmu itu untuk Allah atau selain Allah? Jika kita bisa menghabiskan malam untuk mengerjakan tugas dari dosen, seharusnya kita juga bisa bangun di malam hari untuk shalat tahajud. Jika kita punya waktu untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di sosial media, seharusnya kita juga bisa menyediakan waktu untuk membaca quran. Jika kita sampai rela menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli gadget baru, kita juga seharusnya bisa menabung untuk berinfak atau berqurban. Hanya kita yang bisa menilai diri kita sendiri, sebenarnya selama ini saya sibuk menghabiskan waktu saya, untuk (si)apa?

Tulisan ini juga untuk diri saya sendiri. Saya pun sedang berlatih sedikit demi sedikit untuk memindahkan orientasi dunia saya kepada orientasi akhirat sepenuhnya. Tidak mudah memang, karena kita cenderung dibiasakan oleh lingkungan dan oleh stereotype yang berlaku di masyarakat bahwa punya harta banyak, punya jabatan tinggi, bisa menikah muda, atau menjadi terkenal itu keren. Seakan ridhonya Allah tidak lebih berharga dari itu semua. Hati-hati ah, kalau sudah begini, bisa-bisa kita tanpa sadar mengecilkan nilai dari keridhoan Allah itu sendiri sehingga merasa berat untuk berkorban dan merasa tidak worth it untuk kita jadikan tujuan. Ngeri.

Lho, kok dari malas jadi nyambung ke berkorban untuk Allah ya? Saya juga sempat heran kenapa ayat itu yang terpikir ketika saya sedang malas pagi tadi. Ternyata memang nyambung kok. Ingat, malas itu tidak ada. Jika saya merasa malas, sebenarnya saya bukan sedang malas, tapi kesibukan saya sedang bukan kepada Allah. Astagfirullah.

Alhamdulillah. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat yang sebetulnya lebih tepat untuk ditujukan kepada diri sendiri ini. Selamat menjalani sisa hari Seninmu dan hari-hari berikutnya dengan lebih produktif, semoga kita termasuk satu dari sebagian manusia yang mengorbankan diri untuk keridhoan Allah. Aamiin..

Senin, 23 Juli 2018

Monday Love Letter #1 - Deep Lesson from Prophet Ibrahim's Story

Assalamu'alaikum! Mau ada sedikit pengumuman niih.. Insya Allah blog ini akan rutin posting setiap hari Senin karena sekarang aku lagi bikin project kecil namanya Monday Love Letter. Semacam tulisan yang dibikin ala-ala kayak surat gitu deeehh.. Kalo nggak kayak surat, ya anggep aja surat lah yaa.. wkwkwk.. Yah seperti yang kita tahu, bagi sebagian orang hari Senin adalah hari yang cukup bikin mager karena harus memulai lagi aktivitas setelah kita bersantai-santai di weekend ya kann.. Haha. Semoga Monday Love Letter ini bisa melecutkan semangat di hari Senin dan bikin kita bisa memulai pekan yang produktif. Bismillah!

So, Stay tune on my blog every monday and you'll find a new post insya Allah (jamnya terserah aku weh yah, mengingat inspirasi itu kadang datengnya ga menentu haha). Thank you! 

***

Di Love Letter perdana ini ada sesuatu yang ingin aku bagi. Jadi kemarin itu ada acara Hujan Safir Sharing Session, temanya Finding the True Love sambil mengangkat dan meneladani kisahnya keluarga Nabi Ibrahim a.s. Kalau denger kata "Ibrahim", tentu kita familiar banget dong sama kejadian fenomenal dimana Nabi Ibrahim harus melaksanakan perintah Allah yaitu menyembelih Ismail, anaknya.

Yang menarik adalah, satu keluarga itu (Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail kecil) semuanya KOMPAK dan SEPAKAT untuk melaksanakan perintah Allah yang secara logika sangat nggak masuk akal itu. Perintahnya nggak main-main loh, nyembelih anak sendiri! Orangtua mana yang tega, coba? Tapi ketika Nabi Ibrahim bertanya kepada istrinya Siti Hajar dan kepada Ismail anaknya, keduanya kompak menjawab, "Jika itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah." Fyuhh, aku nggak kebayang kalau aku ada di posisi mereka, tauhidnya udah level tinggi banget itu mah. Tidak peduli pada logika yang bisa saja berteriak betapa tidak masuk akalnya perintah itu. Pun tidak gentar oleh rasa sayang orangtua kepada anaknya, rasa cinta anak kepada orangtuanya, semuanya dikorbankan demi menaati perintah Allah.

Hingga akhirnya perintah itupun dilaksanakan dan Ismail Allah ganti dengan seekor domba yang besar sebagai tebusan. Sampai-sampai kejadian ini Allah abadikan dalam QS. 37: 102-111 dan menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban. 

Kisah itu Allah ceritakan dalam al-Quran bukan sebatas sebuah dongeng belaka, melainkan untuk kita teladani. Bisakah kita seperti Nabi Ibrahim yang rela "menyembelih" kecintaan terhadap anaknya demi kecintaaan kepada Allah? Sanggupkah kita meneladani Siti Hajar yang sigap mematuhi perintah Allah dan sukses mendidik anaknya menjadi seperti itu? Sudahkah kita mencontoh Ismail yang tak gentar pada satu perintah yang bahkan bisa saja merenggut nyawanya? Masya Allah. Maka tak heran jika Nabi Ibrahim dijuluki bapak Tauhid, karena ia betul-betul sukses menanamkan ketauhidan pada diri istri dan anaknya hingga bisa melahirkan karakter yang siap berkorban apapun demi Allah. Semuanya atas izin Allah.

Luar biasa ya? Sepertinya diri ini masih harus banyak bercermin dan merefleksi diri. Kisah ini jadi contoh nyata bahwa cinta akan selalu meminta pengorbanan. Begitupun cinta kepada Allah, pasti akan Allah uji hingga terbukti bahwa memang kita hanya mencintai Allah saja. Laa ilaaha illallah. Tidak ada yang patut disembah, diibadahi, dan dicintai, kecuali Allah.

Yuk, kita sama-sama belajar mulai sekarang untuk mulai mengikis satu per satu hal-hal yang bisa menjauhkan kita dari cintanya Allah. Mungkin keegoisan kita, kesombongan kita, ambisi, rasa malas, kebergantungan kepada manusia, kecintaan berlebih kepada selain Allah, dan yang lainnya.  Pelan-pelan belajar menyembelih "ismail-ismail" yang kita cintai untuk mengejar satu-satunya cinta yang hakiki, yaitu cinta kepada Allah. Siapkan stok sabar yang banyakk :)

Kamis, 17 Mei 2018

Seandainya Keinginanmu Bertemu dengan Kematian

Manusia itu hidupnya banyak ingin. Dan akan senang sekali jika keinginannya itu terwujud. Bahkan setelah terwujud pun, selalu muncul lagi keinginan yang baru. Terus begitu. Maka jika hidupmu adalah tentang mewujudkan keinginan demi keinginan, tidak akan pernah selesai dan tidak akan ada habisnya, ya kan? Mengaku sajalah.

Kamu, apa keinginanmu?

Pernahkah bertanya kepada dirimu sendiri; bagaimana jika hidupmu berhadapan dengan kematian, apakah itu yang betul-betul kau inginkan?


Kutanya sekali lagi; jika hidupmu dihadapkan dengan kematian, apakah apa yang kau harapkan dan yang kau usahakan saat ini adalah yang benar-benar yang kau inginkan? 

Jika jawabannya iya, selamat. Itu artinya, jika hidupmu berakhir detik ini juga, kamu akan merasa puas dengan pencapaianmu dan merasa bahagia karena bisa kembali pulang dengan hati yang siap kepada Dia yang menciptakanmu. Bukankah begitu?

Jika jawabannya tidak, selamat karena telah berani jujur kepada diri sendiri. Tidak semua orang bisa mendengar dan mengakui isi hatinya sendiri. Tidak semua orang bisa menyimpan ego, nafsu dan logikanya untuk mendengar jeritan dan keinginan hati. Ego selalu berujung pada kesombongan, nafsu seringnya membutakan, sementara logika jika terlalu dituruti akan membuatmu kehilangan Tuhan. Karena hati itu tidak berisik --ia berbisik, ia hanya menjerit jika kamu sudah keterlaluan mengabaikannya. Bagaimana bisa mendengar jeritan hati, jika dirimu dikuasai itu semua?

Jika jawabanmu tidak, saatnya kembali pada hatimu. Masih terasakah ia? Bagaimana keadaannya? Bisa jadi ia sedang terhimpit oleh egomu, bisa jadi ia rusak oleh nafsumu, bisa jadi ia babak belur oleh hantaman logikamu. Selamatkan.. Dengarkan apa maunya. Kau akan menemukan bahwa ia hanya ingin satu: kembali pada Tuhanmu. Hanya itu yang bisa menyembuhkannya. Bukankah begitu?

Bijaklah dalam memilih keinginan. Karena tidak semua yang kita inginkan, adalah yang benar-benar kita inginkan, jika berhadapan dengan kematian.


Jadi, apa sebenarnya keinginanmu?

Rabu, 16 Mei 2018

Marhaban Yaa Ramadhan


Marhaban yaa Ramadhan.. Alhamdulillah, Ramadhan sudah di depan mata. Dan ini adalah tulisan penutup dari kumpulan tulisan #PersiapkanRamadhanmu.

Aku perlu berterima kasih sama partnerku @novieocktavia, karena sebenarnya ajakan kolaborasi ini yang bikin aku jadi belajar lagi dan mempersiapkan diri lebih lagi untuk Ramadhan.. Dan kadang takjub juga sama skill dia ngedit tulisan biasa jadi mengena dan punya ruh. Aaahh diam-diam aku ngefans.. XD

Banyak cerita di balik pembuatan tulisannya. Dari mulai menentukan tema dan membuat timeline, juga tantangan mengatur waktu dengan aktivitas masing-masing. Tak jarang kami baru mulai menulis di waktu-waktu mendekati posting, atau berdebat soal susunan kalimat. Hahaha.. Tapi aku percaya, setiap niat baik pasti akan Allah tolong. Maka dari setiap kalimat yang menancap ke hatimu bukanlah karena penulisnya, tapi karena ada pertolongan Allah di baliknya.

Semoga kumpulan tulisan sederhana dari kami berdua bisa menjadi lecutan semangat untuk memberikan penyambutan terbaik kepada Ramadhan, khususnya bagi kami sebagai penulisnya. Mohon maaf atas segala khilaf, juga atas kesalahan menghitung countdown hehe. Semoga kita bisa menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Selamat menikmati jamuan Allah melalui Ramadhan! Semoga kita termasuk hamba yang bersyukur atas setiap rezeki yang Allah beri, termasuk rezeki kembali bertemu Ramadhan di tahun ini.

Special thanks to @ayambisu yang sudah mendesain seluruh gambar untuk project ini. Terima kasih sudah menjadi bagian dari project kebaikan ini yaa..

Mari menangkan Ramadhan.

Senin, 14 Mei 2018

Ramadhan Mode: ON


Pernahkah kamu merasa ingin menepi karena lelah dengan riuhnya dunia? Keriuhan itu datangnya bisa dari mana saja, berbeda sebab pada setiap orang. Tapi, sebab yang paling mungkin adalah karena melihat orang lain yang begini dan begitu di dunia nyata maupun maya, sementara yang terjadi pada kita mungkin adalah yang sebaliknya: sudah mengetuk banyak pintu kesempatan tapi belum ada satu pun yang terbuka, sudah meminta dengan segenap pinta tapi belum ada jawabannya, sudah berupaya tapi belum kunjung sampai pada ujung tepinya, sudah mengupayakan yang (menurut kita) terbaik tapi ternyata masih gagal, dan seterusnya. Riuhmu, terjadi atas sebab yang mana?

Entah bagaimana, keriuhan itu sedikit banyak membuat hati kita kehilangan ketenangannya, pun diri kita pun kehilangan fokus untuk menjalankan tugas dan amanah-amanah dari-Nya. Ah, ada apa ini? Apakah ternyata kita tengah terikat dunia dengan sedemikian kencangnya?

Dunia memang diciptakan untuk menjadi riuh, hanya pulang kepada-Nya yang membuat kita menemukan kembali ketenangan itu. Bagaimana caranya? Ramadhan adalah cara Allah mengajak kita menepi dari keriuhan-keriuhan dunia, sebab di dalamnya banyak sekali aktivitas-aktivitas ibadah yang dapat membuat kita mengembalikan hati dan jiwa kepada-Nya. Tapi, apakah kita mau untuk menepi, meninggalkan banyak hal menarik tentang dunia, dan menyediakan waktu untuk mendekat kepada-Nya?

Pulanglah, kembali pada Allah. Seperti halnya seorang anak yang merasa lelah dengan hidup lalu ia berlari ke pangkuan ibunya untuk sejenak memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut khas seorang ibu. Seperti itu pula seorang hamba yang kembali pada Tuhannya; menenangkan dan mentenagai. 

Selamat menepi dari keriuhan dunia, selamat berjuang menjadi sebaik-baik hamba, selamat melepas rindu pada Dia yang sebetulnya jauh lebih merindukan kita. Ramadhan mode: ON. 


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 10

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Jumat, 11 Mei 2018

Persiapkan Kemenanganmu


Setiap ujian ada indikatornya. Skripsi kita lulus dari pembimbing, ada indikatornya. Penelitian kita diterima di publikasi jurnal internasional, ada indikatornya. Bahkan, ujian sederhana serupa mengerjakan tugas-tugas harian juga ada indikatornya. Begitu pula dengan ujian dan pembinaan Ramadhan, semua ada indikatornya. 

Jika Ramadhan seumpama sebuah madrasah tempat kita dibina, dilatih dan diuji, tentu ada indikatornya untuk dapat menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak. Tanpa kita sadari, seleksi tersebut dimulai sejak jauh di awal, sebab peserta Ramadhan hanyalah untuk mereka yang beriman. Kemudian, seleksi itu terus berlangsung hingga akhir, dimana disana akan lebih terseleksi lagi siapakah diantara hamba Allah itu yang mendapat kemenangan. Pertanyaannya, akankah kemenangan itu menjadi milik kita?

Hari-hari pertama Ramadhan biasanya masih terasa euforianya. Semua yang menjadi target harian dilakukan dengan penuh semangat. Hal yang terjadi di mesjid atau surau juga tidak jauh beda: orang-orang memenuhi seluruh penjuru ruangan dan jejeran sandal-sandal di mesjid pun berhamburan. Tapi, apa yang terjadi setelahnya, setelah hari-hari Ramadhan berlalu hingga hampir mencapai akhirnya? Bukankah semakin sedikit mereka yang bisa mempertahankan semangat itu? Belum lagi ketika menjelang Idul Fitri dimana fokus kita mulai terbagi dengan baju lebaran, kue lebaran, masakan-masakan khas tanah kelahiran, THR, dan hal lain yang tanpa sadar membuat fokus kita bergeser hingga lupalah kita bahwa di 10 hari terakhir Allah sedang membuka pintu ampunan.

Hmm, tapi, itu adalah diri kita yang dulu. Biarlah itu semua menjadi catatan saja sebab seluruhnya telah berlalu. Saat ini, kita dihadapkan pada sebuah kesempatan baru: kesempatan menghidupkan 30 hari Ramadhan dengan perbaikan-perbaikan agar kita dapat memenuhi indikator kelulusan yang membuat kita layak mendapatkan kemenangan. 

Mungkin harapan ini masih terlalu cepat, tapi semoga kita termasuk orang-orang yang nantinya bergembira bersama takbir kemenangan di malam terakhir Ramadhan, bersama ketakwaan kita yang juga meningkat karena Ramadhan.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 9

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Kamis, 10 Mei 2018

Hold Yourself


Pernahkah kita merenungkan mengapa ketika berpuasa kita dilarang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar seperti makan, minum dan biologis (bagi yang sudah menikah)? Tentu ada hikmah besar di dalamnya. Esensi mendasarnya adalah supaya kita belajar untuk menahan diri karena Allah tahu bahwa manusia memiliki sifat tidak pernah merasa puas. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali! 

Tapi, memangnya apa arti menahan diri? Menahan diri berarti menahan dan mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang kehadirannya adalah karena hawa nafsu. Luar biasanya, pelatihan terhadap hawa nafsu ini dilakukan dengan puasa; sebuah ibadah rahasia, dimana hanya kita dan Allah yang benar-benar mengetahuinya.

Satu hal yang penting untuk menjadi catatan adalah bahwa mengendalikan keinginan selama berpuasa bukan berarti memupuk keinginan hingga menggunung dan memuaskan seluruhnya dalam satu hitungan ketika waktu berbuka tiba. Hal yang sama perlu dilakukan juga atas keinginan kita dalam keseharian.

Puasa ibarat perisai untuk menahan keinginan kita yang begitu banyak. Saking banyaknya, seringkali kita banyak menuntut kepada Allah, merasa bahwa rencana kitalah yang paling baik. Padahal, siapa yang paling paham tentang apa yang paling kita butuhkan? 

Maka, di bulan pembinaan terbaik ini, yuk belajar untuk menahan diri dari berbagai keinginan. Keinginan tidak sama dengan kebutuhan, bukan? Yuk cerdas membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Semoga Allah mampukan.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 8

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

We Need Allah's Help


Pekan menggulung hari hingga tanpa terasa Ramadhan akan segera tiba dalam waktu yang tinggal sebentar lagi. Bagaimana persiapan kita? Sudahkah kita punya target Ramadhan? Sudahkah kita merencanakan amalan terbaik yang akan dipersembahkan kepada Allah? Sudahkah kita siap berjuang untuk meraih sebaik-baik gelar di hadapan Allah? Dan yang terakhir, sudahkah kita menerbangkan setiap rencana itu kepada Allah dan memohon agar Dia memampukan kita dalam menjalaninya? 

Berbekal pemahaman bahwa Ramadhan adalah bulan terbaik dengan sedikit atau banyak rasa takut bahwa ini akan menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup, kita telah menargetkan banyak hal. Dari target harian, pekanan, sampai sebulan. Sadarkah ada satu hal yang terlupa? Ya, kita lupa meminta kepada-Nya agar memampukan kita dalam berupaya dan menjalaninya.

Benar bahwa Allah memerintahkan kita untuk beribadah dan berpuasa agar kita bertakwa, tapi nyatanya kita tidak bisa ibadah tanpa pertolongan-Nya. Tamatnya puasa tahun kemarin, memangnya siapa yang memampukan kalau bukan Dia? Shalat yang setiap hari kita lakukan, memangnya siapa yang melangkahkan kalau bukan Dia? Semua ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, bisakah itu semua bisa terjadi tanpa kehendak-Nya? Tidak, sebab kita membutuhkan-Nya, serupa kita membutuhkan Ramadhan hadir mendidik jiwa kita. 

Maka, atas semua niat ibadah yang telah kita azzamkan, semoga kita senantiasa rendah hati untuk selalu meminta kepada Allah agar dimampukan untuk menjalankannya. Jangan sombong dan bergantung pada diri sebab merasa mampu. Tanpa-Nya, kita bukan (si)apa-(si)apa. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 7

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Sabtu, 05 Mei 2018

Amal Terbaik untuk Ramadhan


Bagi kamu yang senang berbelanja, atau sekedar window shopping ke mall, pasti hafal kalau kebanyakan mall biasanya suka mengadakan diskon besar-besaran saat menjelang akhir tahun, Idul Fitri, atau pada event tertentu lainnya. Diskonnya tidak sedikit, bisa 70-80% bahkan lebih dari itu. Waktunya pun biasanya terbatas, bisa dalam sebulan, 2 minggu, bahkan ada yang dalam semalam saja. Bisa ditebak, pasti akan banyak sekali orang yang berebut memilih barang yang akan dibelinya hingga rela berdesak-desakan dengan pembeli lain agar barang pilihannya tidak diambil orang. Apa alasannya? Mumpung! Mumpung murah maka diborong. Kapan lagi bisa mendapatkan harga semurah itu?

Sadarkah kita? Ramadhan pun menawarkan banyak sekali penawaran menarik. Hanya saja bukan barang yang diobral, tapi pahala! Ada banyak sekali peluang kita untuk panen pahala di bulan Ramadhan. Tadarus Al-Quran, menghadiri kajian, tarawih, i'tikaf, sedekah, menyiapkan makanan bagi orang berbuka dan sahur, bahkan tidur di bulan Ramadhan pun bernilai pahala. Jika untuk barang diskonan yang hanya terpakai untuk duniawi saja kita begitu gesit mengejarnya, apakah kita akan diam ketika melihat bursa pahala yang ditawarkan Allah di bulan Ramadhan?

Kabar gembiranya, banyak juga amalan biasa yang pahalanya menjadi luar biasa saat Ramadhan, berkali-kali lipat. Dalam waktu 30 hari, ada kesempatan emas bagi kita untuk bisa panen pahala sebesar-besarnya dan juga mendapat kesempatan akan ampunan Allah seluas-luasnya. Nah, apa yang akan kita lakukan? Dengan amalan seperti apakah kita ingin memenuhi hari-hari di Ramadhan? Apakah hanya dengan semangat yang biasa-biasa saja seperti biasanya?

Yuk, kita jadikan Ramadhan sebagai bulan terbaik kita untuk mengoptimalkan amal dan berburu pahala. Selamat berjuang! Menangkan!

____

#PersiapkanRamadhanmu - Day 6

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu