Senin, 14 Januari 2019

Monday Love Letter #24 - Bangun, Wahai Jiwa!


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah sudah hari Senin lagi! Bagaimana kabarmu sepekan kemarin, sister? Saya cukup kaget karena ternyata hari ini adalah tanggal 14 Januari, berarti sudah hampir setengah bulan terlalui di tahun 2019 ini. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sekali.

Sepekan ke belakang, saya merasa hidup saya seperti menjalani rutinitas biasa. Seperti ada energi yang tertahan sehingga menjalani aktivitas sehari-hari dengan biasa saja. Dibilang bersemangat, tidak. Dibilang tidak bersemangat, juga tidak. Tidak nyaman sebenarnya, karena saya merasa seperti sedang kehilangan diri sendiri. Merasa asing dengan diri sendiri. Apakah kamu pernah merasakannya juga?

Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan. Sambil tetap beraktivitas seperti biasa, saya berusaha meningkatkan kepekaan hati pada setiap aktivitas saya. Baik itu di urusan rumah tangga, di pekerjaan, di setiap pertemuan dengan orang lain, di setiap ibadah ritual saya, juga di setiap kejadian yang Allah hadirkan dengan harapan semoga Allah menyelipkan hikmah dan jawaban atas keresahan yang sedang saya alami. Apakah kemudian saya berhasil menemukan kembali diri saya? Ternyata tidak semudah itu. Sepertinya Allah masih merahasiakan hikmah yang ingin Dia berikan kepada saya.

Lalu di suatu kesempatan, Allah mengingatkan saya dengan cara-Nya. Weekend kemarin saya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan 2 hari 1 malam dimana ada momen api unggun di malam harinya. Saya mendengarkan ungkapan dari teman-teman saya satu per satu sambil menatap kobaran api di depan saya dengan agak sedikit melamun. Hingga saya mendengar salah seorang teman berkata, "Kita bisa jadikan momen ini sebagai momen pengingat bagi kita. Kalau kita masuk neraka, ya hanya ada api yang panas seperti di depan kita. Tidak akan ada udara dingin, hanya ada api yang panas, dan kita harus menjalaninya tanpa akhir," kurang lebih begitu yang dikatakannya. Kemudian pikiran saya jadi melayang memikirkan betapa pilunya kehidupan saya jika harus berakhir di neraka. A'udzubillahi min dzalik..

Momen api unggun itu kemudian ditutup oleh doa bersama. Dari sekian doa yang dipintakan, ada satu doa yang membuat saya tercekat, "Semoga Engkau memampukan kami agar bisa mempertanggungjawabkan amanah kami kelak di hadapan-Mu Ya Allah.." JLEBB tiba-tiba saja hati saya seperti ditusuk anak panah. Refleks, saya mengingatkan diri sendiri, "Tuh, denger! Bangun, wahai jiwa! Bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkan hidupmu kelak di hadapan Allah?! Bagaimana kamu akan berbicara di mahkamah agung pengadilan Allah kelak di akhirat jika hidupmu seperti ini?!"

Rasanya lutut saya langsung lemas. Teringat bahwa diri ini adalah milik-Nya dan kelak akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan hidup selama di dunia. Bagi manusia yang yakin akan adanya hari akhir dan paham rute perjalanan hidupnya, tentu tahu bahwa akan datang kepadanya suatu masa dimana ruh yang sudah berpisah dari jasad dibawa ke hadapan Allah untuk diadili tentang banyak perkara dalam hidupnya.

Nabi SAW bersabda, "Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat sehingga ia ditanya tentang lima hal; tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari (ilmu) yang ia ketahui." (HR. At-Tirmdzi)

Malam itu, menjadi peringatan yang telak untuk saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kelak saya akan menjawab segala pertanyaan dari Allah tentang penggunaan harta, ilmu, waktu luang, waktu sehat, usia, masa muda dan seluruh kehidupan saya jika tidak digunakan dalam rangka memenuhi keinginan Allah terhadap diri saya. Sejatinya semua milik Allah, manusia hanya dititipi. Termasuk jasad dan hidup kita, juga adalah titipan-Nya untuk dipergunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dan setiap titipan, kelak akan Allah tanya, digunakan untuk apa?

Guru saya pernah berkata bahwa arti dasar dari kata taqwa adalah takut. Dan sebutan muttaqin (orang yang bertaqwa) adalah sebaik-baik gelar dari Allah untuk manusia. Semuanya berasal dari rasa takut. Takut mengkhianati titipan Allah kepada dirinya.

Dititipi harta oleh Allah, takut dibelanjakan selain untuk keperluan ibadah dan berjuang di jalan Allah. Dititipi kemampuan dan kesehatan, takut dipergunakan selain untuk kepentingan ibadah dan dakwah. Dititipi masa muda dan waktu luang, takut dipergunakan selain untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan disukai-Nya. Dititipi usia dan kesempatan hidup di dunia, takut dipergunakan selain untuk mengabdi kepada Allah dan memberikan persembahan dan karya yang terbaik untuk-Nya. Ternyata, kehidupan yang mulia dan kepulangan yang selamat dimulai dari rasa takut. Takut mengkhianati amanah dan titipan-Nya.

Fyuuuhh menulis paragraf di atas saya langsung menghela nafas panjang dan merefleksi diri, "Dimana rasa takutmu kepada Allah, Na?" Sudah siap jika disuruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Allah atas segala hal yang Allah titipkan padamu? Sudah siap jika diminta mempertanggungjawabkan kesempatan hidup di dunia yang diberikan oleh-Nya? Bangun, wahai jiwa! Persiapkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) terbaik untuk dibawa ke hadapan Allah. Sungguh, waktumu tidak banyak..

Terima kasih sister, sudah membaca curhatan saya yang panjang ini. Semoga bisa memberikan hikmah yang besar juga untukmu ya. Pada akhirnya, kita memang tidak punya pilihan selain totalitas mengabdi pada-Nya dan berjuang mati-matian menjalankan amanah tujuan penciptaan kita. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita, menjaga keistiqomahan kita dan memampukan kita agar bisa mempertanggungjawabkan setiap amanah yang Ia titipkan kepada kita.

Senin, 07 Januari 2019

Ketika Ketulusan Menembus Hati Manusia

Hari ini aku mendapat sebuah pesan whatsapp dari seorang sahabat. Isinya sebuah foto surat tulisan tangan yang pernah aku berikan untuknya di hari ulang tahunnya 3 tahun yang lalu. Dia bilang, tulisan itu selalu menjadi penyemangatnya dan selalu dia baca berulang-ulang setiap kali dia merasa butuh dikuatkan. Katanya, setiap membacanya, dia seperti mendapat energi baru.

Dibilang gitu, tentu saja aku terharu. Aku bahkan hampir lupa bahwa aku pernah menulis surat itu. Tapi ternyata surat itu selalu dia bawa, bahkan dibaca berulang-ulang. Sejak kapan coba tulisan aku bisa se-magic itu. Hahaha. 

Dipikir-pikir, selain nulis buku harian, aku emang hobby sih ngasih surat ke orang-orang. Biasanya momen yang tepat adalah ketika hari ulang tahun. Aku kasih mereka surat sebagai hadiah ulang tahunnya, ditulis pake tulisan tangan. Selain bisa jadi alternatif kalo pengen ngasih hadiah tapi nggak punya duit, surat tulisan tangan terasa lebih berkesan dan lebih kerasa juga effort dan ketulusannya, dibanding surat online via caption Instagram atau blog. Jadi pengen ngerutinin lagi kebiasaan ngirimin surat tulisan tangan ke orang-orang :)

Ketulusan memang bisa menembus hati manusia. Dan bagiku, menulis surat menjadi latihan untuk melembutkan hati karena ketulusan hanya bisa lahir dari hati yang lembut. Aku jadi belajar untuk melihat kebaikan-kebaikan yang ada pada orang itu dan mensyukuri keberadaannya sebagai salah satu orang yang berharga di kehidupanku. Bagiku, setiap orang itu punya arti dan karena kehadiran merekalah, hidup kita menjadi lebih berwarna. Aku belajar untuk mengutarakan rasa terima kasih itu kepada orang yang kukirimi surat. Terlebih jika surat itu aku berikan di hari ulang tahunnya, rasanya seperti ingin mengatakan, "Terima kasih karena telah lahir ke dunia." Nggak jarang, mereka yang baca suratku, pasti nangis, minimal bilang terharu lah. Aku juga mau siiihhh di suratiiiinnn biar terharu-terharu gituuuu wkwkwk

Dan Allah dengan segala skenario-Nya, membawa aku pada kegiatan bersurat lagi dengan adanya Monday Love Letter. Monday Love Letter ini agak sedikit berbeda karena nulisnya buat banyak orang. Jadi kadang mikir juga karena tema dan gaya bahasanya harus dibikin general. Nggak seluwes kalau nulis surat ke perorangan. Tapi bikinnya nggak kalah seru sih. Soalnya banyak yang balesin dan berterima kasih juga sama suratnya. Bahkan banyak yang bilang, "Kok pas sih suratnya sama keadaan aku sekarang." Ya kalau soal yang itu aku juga nggak tahu. Mungkin Allah emang ngasih ilhamnya sesuai dengan kebutuhan pembaca juga kali. Hehe.

Intinya, aku seneng banget nulis. Dan ada kesenangan tersendiri ketika menulis surat untuk orang lain. Ada apa ya sebenarnya dengan aku dan menulis surat? Kok kita kayak jodoh, ketemu lagi, ketemu lagi. Apa aku bikin jasa nulis surat aja gitu? Hahaha.

Monday Love Letter #23 - Sebuah Jeda Untuk Diri Sendiri

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu sister? Sejujurnya saat ini saya sedang tidak baik-baik saja. Saat ini rasanya bukan saat yang tepat bagi saya untuk menulis surat untukmu, karena sayapun sebenarnya sedang perlu inspirasi, perlu bahu untuk bersandar, perlu dikuatkan. Tapi terkadang keimanan menuntut kita untuk mengorbankan perasaan, sebab mengajak orang-orang pada kebaikan bukan berarti dirinya sudah sepenuhnya baik. Menjadi da'i bukan berarti telah menjadi yang paling sholeh. Maka saya putuskan untuk tetap menulis, walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri.

Sedikit bercerita, saya dulu pernah mempunyai masalah dengan kepercayaan diri. Saat di sekolah, saya adalah anak yang pemalu, kurang bisa bergaul, tidak berani mengutarakan pendapat atau mengajukan pertanyaan di depan banyak orang. Bahkan, saya pernah menangis di depan kelas ketika disuruh membaca puisi. Bertahun-tahun seperti itu, bertahun-tahun pula saya membenci diri saya sendiri. "Bodoh kamu Na, gitu aja nggak bisa." "Kenapa sih harus nangis? Emang nggak bisa ditahan ya air matanya?!" Saya sering sekali merutuki diri saya sendiri, melampiaskan kekecewaan saya kepada diri sendiri.

Di hadapan orang lain, saya merasa bukanlah apa-apa. Saya selalu merasa kalah dari mereka yang jauh lebih pintar dari saya sehingga saya tidak memiliki keberanian untuk mencoba lebih jauh. Pikir saya, saya pasti tidak akan bisa menjadi sebaik mereka. Mungkin banyak yang tak menyangka, tapi itulah kenyataannya.

Tapi dibanding rasa tidak percaya diri di depan orang lain, tidak ada yang lebih buruk dibanding rasa tidak percaya diri di hadapan Allah. Saya sering sekali merasa diri ini hina dan penuh dosa sehingga tidak mungkin punya kesempatan untuk bertaubat. Saya sering sekali merasa amal sholeh yang saya lakukan tidak bisa menutupi dosa yang kemarin-kemarin, lalu berputus asa dengan dalih kepalang tanggung. Tanggung sekalian jelek aja maksudnya. Astaghfirullah.

Kini, semuanya sudah jauh lebih baik. Saya mulai bisa menerima diri sendiri, saya mulai percaya bahwa diri saya memiliki berlian diri yang tidak orang lain miliki. Saya jadi lebih berani "keluar kandang" untuk mengaktualisasikan potensi dan percaya pada kelebihan yang saya miliki. Saya menjadi lebih bisa bersyukur.

Namun, sekeras apapun saya melatih diri ternyata perasaan inferior itu tidak hilang sepenuhnya, menyisakan residu yang masih sesekali muncul. Seperti hari ini, dimana saya sedang merasa kecewa terhadap diri sendiri. Lagi-lagi, saya menyalahkan diri saya sendiri, lalu berakhir dengan perasaan putus asa. Jika tubuh saya bisa dibagi dua, ingin rasanya berdiri di hadapan diri sendiri dan menampar-nampar pipi saya sendiri sambil berteriak,"Sadar, hei!"

Di saat seperti ini, rasanya lebih enak jika saya menghilang saja meninggalkan tanggungjawab. Rasanya ingin menyewa orang saja untuk menyelesaikan masalah. Tapi sayangnya cara Allah mendidik tidak begitu. Jika Allah memberi ujian, berarti Allah sedang memproses kita untuk naik kelas. Jika Allah memberi amanah yang lebih besar berarti Dia sedang memproses kita untuk menjadi mulia. Jika Allah memberi beban yang lebih berat berarti Dia mempercayai kita untuk memikulnya. Berhusnudzon kepada Allah selalu menjadi penyelamat saya.

Pagi tadi, saya membaca 3 ayat yang sepertinya Allah memberikan kisi-kisi yang begitu jelas kepada hamba-Nya yang sedang dzalim pada dirinya seperti saya ini.
 
Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu (Al-Quran) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya. 

QS. Az-Zumar (39) : 53-55)

Pertama, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih ada waktu dan kehidupan, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Kedua, kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Jadilah sebaik-baik hamba yang hanya fokus pada Tuhannya. Ketiga, buktikan berserahnya diri kita dengan mengikuti Al-Quran. Laksanakan perintah-Nya dan jauhi segala hal yang membuat-Nya murka. Sederhana, asalkan kita mau. Selama orientasi hidup kita adalah Allah, insya Allah selalu ada jalan bagi mereka yang ingin terus mengadakan perbaikan. Semoga Allah mampukan kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya.

Yah, jadi curhat panjang nih saya, surat ini lebih cocok ditujukan untuk diri saya sendiri sih sepertinya, hehe. Memang ya, jalan menuju Allah itu mendaki lagi sukar. Dan tidak ada yang bisa membuat kita sampai selain ketersediaan iman. Percaya bahwa janji Allah itu benar. Jika mulai merasa lelah, cek ketersediaan iman kita, jangan-jangan sudah di bawah batas aman. Istirahat boleh, asalkan setelahnya lanjutkan mendaki. Oh ya, satu lagi. Jangan sendirian.

Senin, 31 Desember 2018

Monday Love Letter #22 - Jika 2019 Menjadi Tahun Terakhirku...


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabaaar sister? Alhamdulillah, tinggal beberapa jam lagi kita akan berganti tahun. Kalau saya sih di rumah aja, nggak keluar-keluar karena pasti macet, hehe. Akhir tahun tentunya sangat lekat pada evaluasi, tidak sedikit dari kita yang menapaktilasi kembali perjalanan hidup kita setahun ke belakang.

Bagaimana 2018-mu? Tentunya ada bahagia dan kesedihan yang dengan adil Allah pergilirkan. Tentunya ada berbagai nikmat dan ujian yang Dia hidangkan untuk kita. Berterimakasihlah untuk semua itu, berterimakasihlah untuk tahun 2018 yang telah menjadikan diri kita yang sekarang. Tanpa disadari kita ternyata semakin kuat, semakin bijaksana, semakin pandai bersyukur, karena apa-apa yang terjadi setahun ke belakang. Allah Maha Baik, kan? :)

Besok, tentu tidak akan jauh berbeda. Masih akan ada bahagia dan sedih yang akan Allah pergilirkan di tahun depan, pun nikmat dan ujian untuk kita. Tapi sebagai manusia biasa, tentu kita memiliki harapan. Kalau bisa, hari-hari yang akan kita lalui nantinya akan selalu bahagia. Semoga, target dan cita-cita kita semuanya tercapai. Semoga, tidak ada lagi kegagalan di tahun depan. Dan semoga-semoga yang lainnya. Lumrah saja, karena kita punya keinginan. Namun, Sayyidina Umar bin Khathab r.a justru berkata, "Aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang lebih baik untukku." Masya Allah. Pada akhirnya, semua dikembalikan lagi kepada Allah, karena Allah-lah yang paling tahu yang terbaik untuk kita.

Saya masih ingat betul, di awal tahun 2018 saya mulai menulis resolusi dengan mindset yang berbeda. Saya memulai target-target saya dengan 1 kalimat; "Jika 2018 menjadi tahun terakhir saya, saya akan…" Hasilnya, impian dan harapan saya ternyata tidak lagi tentang hal-hal yang bersifat pencapaian materi, kebanyakan adalah tentang memperluas kebermanfaatan dan program-program untuk meningkatkan ketaatan.

Pernahkah kamu mencobanya? Pernahkah mencoba menyusun impian dan cita-cita bersamaan dengan kesadaranmu bertemu kematian? Hal ini bisa membantu menemukan hal apa yang sebenarnya kita inginkan. Sebelum membuat sederet resolusi, ada baiknya kita bertanya kepada diri, "Jika 2019 adalah tahun terakhirku, apa yang benar-benar ingin aku wujudkan?"

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." -QS. Al-Hasyr (59) : 18

Perencanaan itu penting, bahkan Allah menyuruh kita untuk berencana. Tapi jangan lupa bahwa hidup adalah tentang perjalanan menuju kampung akhirat, maka bijaklah dalam menyiapkan bekalnya. Tahun yang berganti adalah jatah waktu yang Allah berikan agar kita bijak menggunakannya. Bukan berarti mengabaikan dunia, tapi jadikan dunia sebagai alat dan kendaraan kita dalam rangka menyiapkan persembahan terbaik untuk-Nya.

Let's start from the end. Apapun target dan resolusi kita, semoga semua dalam rangka menuju-Nya, dalam rangka meninggikan bangunan cinta kita kepada-Nya, dalam rangka mempersiapkan pertemuan dengan-Nya. Bismillah, Ya Allah, kami bertawakal kepada-Mu, dan tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu. Kita saling mendoakan ya, my sister of Deen..

Senin, 24 Desember 2018

Monday Love Letter #21 - Karena Aku Milik-Mu


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu, my sister of Deen? Jazakillah khairan katsiran untuk kamu yang sudah mengikuti mailing list Sisters of Deen Project, membaca Monday Love Letter setiap Senin, membalasnya, bahkan mem-forwardnya kepada sahabatmu. Mohon doanya semoga kebermanfaatannya bisa semakin meluas ya, please~ doakan.. Hehe.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan satu draft tulisan untuk dikirim hari ini, tapi sejak Sabtu malam kemarin saya mendengar berita tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di sekitar Selat Sunda, saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Allah lagi-lagi mengingatkan kembali tentang satu nikmat yang masih sering saya lupakan, yaitu nikmat hidup. Alhamdulillah hari ini masih bisa hidup. Alhamdulillah hari ini masih sehat dan bisa beraktivitas. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk beribadah. Alhamdulillah masih diberi waktu untuk mengumpulkan lagi pundi-pundi amal sholeh sebagai bekal menuju akhirat. Bahkan doa bangun tidur saja, dimulai dengan alhamdulillah. Ini menunjukkan bahwa bisa bangun tidur dan masih hidup hingga hari ini, merupakan sebuah nikmat yang besar yang patut kita syukuri.

Innalillahi wa innailahi raji'un. Adalah kalimat yang biasa kita dengar atau kita ucapkan ketika musibah menimpa kita. Tapi maknanya jauh lebih dalam dari itu. Guru saya pernah berkata, bahwa innalillah adalah tentang kesadaran bahwa kita ini miliknya Allah. Hidup kita ini bukan milik kita sehingga kita bisa bebas hidup semau kita. Hidup kita juga bukan milik orangtua kita, pasangan, ataupun anak kita sehingga semangat hidup kita tergantung pada hadirnya mereka. Hidup kita ini milik Allah. Allah yang menjadi sumber semangat, Allah yang menjadi tujuan, Allah yang berhak menerima setiap pengorbanan dan perjuangan terbaik dari diri kita. Dan paling penting, Allah yang paling berhak atas ketaatan kita.

Konsep innalillah ini membantu saya untuk lebih tenang dan lebih siap dalam menghadapi hidup dengan berbagai dinamika dan tantangan didalamnya. Ya karena saya milik Allah. Allah yang paling tahu yang terbaik tentang apa-apa yang dimiliki-Nya, jadi terserah Allah mau ngasih skenario seperti apa ke hidup kita. Karena yang namanya memiliki, sepaket dengan menguasai. Jadi, jika ada ketetapan atau takdir dari Allah yang dirasa berat, coba untuk tarik nafas, lalu bilang, "Silakan ya Allah, aku milik-Mu, hidupku juga milik-Mu, langit dan bumi ini milik-Mu, maka kuterima dengan lapang dada segala ketentuan dari-Mu." Insya Allah, hati jadi lebih tenang.

Setelah innalillah, disambung dengan kalimat innailahi raji'un. Semua milik-Nya, akan kembali kepada-Nya. Konsep kembali kepada Allah mungkin identik dengan kematian, padahal kembali kepada Allah tidak harus menunggu mati. Sayyid Quthb mengatakan, "Semua orang akan kembali kepada Allah setelah dia wafat. Akan tetapi, orang yang bahagia adalah orang yang kembali kepada Allah ketika dia masih hidup."

Kembali kepada Allah adalah tentang mengembalikan diri dan kehidupan kita kepada yang memilikinya, yaitu Allah. Sudahkah kita "kembali" pada-Nya? Sudahkah sepenuhnya menjadi milik-Nya? Atau jangan-jangan kepemilikan diri kita masih terbagi-bagi dengan yang lain? Maka jangan heran kalau Allah sesekali memberikan ujian dan peringatan agar kita kembali ingat kepada Allah. Ujian itu tanda Allah sayang karena kalau nggak gitu, susah kita ingatnya :')

Alhamdulillah atas nikmat hidup ini. Alhamdulillah atas kesempatan yang masih Dia beri. Yuk, segera kembali pada Allah. Kembalikan tujuan kita sepenuhnya kepada Allah. Kembalikan ketaatan kita sepenuhnya kepada Allah. Kembalikan hidup kita kepada Allah, sebelum kelak Allah benar-benar memanggil kita untuk kembali kepada-Nya.

Senin, 17 Desember 2018

Monday Love Letter Special Edition- A Letter to My Partner, Novie Ocktavia


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh my sister of Deen, Novie! Kamu tau nggak apa rasanya baca suratmu pagi tadi? Aku bersyukur karena kamu menyampaikannya lewat surat! Jadi kamu nggak bisa lihat mukaku yang senyum-senyum sendiri antara malu, salting, dan bahagia jadi satu. Rasanya hampir sama kayak waktu dilamar suami. Hahaha. Habisnya suratnya so sweet banget siih.. (oh ya, barangkali ada yang belum tau, aku sudah menikah sisters~ tapi aku masih muda kok *ehem)

Tapi Nov, syaratnya susah sekali, aku gagal untuk tidak menangis membaca suratmu. Awalnya aku cukup percaya diri karena hampir di setiap kalimat aku membacanya dengan tersenyum. Tapi menjelang akhir surat air mataku mulai keluar, untung pas mau nangis suratnya udahan. Kalau masih lanjut mungkin aku bakal sesegukan sendiri di kamar. Hehe.

Nov, aku selalu percaya bahwa di dunia ini tidak pernah ada yang namanya kebetulan. Pertemuan denganmu hari itu, pasti sudah diatur-Nya dengan sangat cermat dan Allah pasti punya alasan mengapa Dia mempertemukan kita. Benar saja, setelahnya ada saja hal-hal yang membuat kita keep in touch dan tetap melanjutkan pertemanan walau tanpa direncanakan. Heran nggak sih? Kayak air mengalir aja gitu; tiba-tiba ketemu lagi, lalu ketemu lagi, tiba-tiba keidean bikin project bareng, lalu tiba-tiba yang asalnya hanya ada kita, sekarang ada mereka. Iya, mereka… our sisters of Deen. #ciee

Nov, kamu ngerasa juga nggak, semenjak pertemuan kita bulan Juli lalu membahas Sister of Deen Projects dan membuat mailing list untuk Monday Love Letter, sejak saat itu rasanya hidupku sudah tak sama lagi. Jika pikiran kita punya kotak-kotak untuk memikirkan banyak hal, kini ada satu kotak tambahan bernama Sisters of Deen Projects yang tidak bisa diabaikan keberadaannya.

Jika hati kita punya ruang-ruang untuk menyimpan hal-hal yang berharga, kini ada satu ruang dimana para sisters of deen menghuni satu tempat di hati kita. Tentu saja bukan hal yang mudah pada awalnya, butuh penyesuaian dengan ruang-ruang yang lain, butuh berbagi dengan kotak-kotak yang lain, but we effortly made it! Mungkin karena project ini adalah project yang longlasting, tidak seperti project-project lain yang setelah selesai bisa kita bongkar dan buang begitu saja sehingga ia butuh perlakuan khusus dan kesediaan hati yang luas. Semoga Allah selalu lapangkan hati kita ya, Nov :')

Yes, the struggle is real, tapi bahagianya juga banyaaaak banget! Bismillah. Mungkin memang ini rencana Allah untuk kita. Dengan segala skenario-Nya Allah memilih kita untuk menjadi pelaksana dari rencana-Nya yang mulia; to serve our Deen by serve our sisters of Deen. This is such a blessing ever, ya kan. Dan aku bersyukur karena partnerku adalah kamu. Terima kasih ya Nov, karena sudah banyak bersabar dan memberi ruang, sudah membuatku banyak belajar dan tak henti-hentinya mengingatkan untuk menjadi seorang hamba yang profesional. Nggak sabar deh menantikan kejutan-kejutan apa yang Allah hadirkan untuk kita kedepannya.

Kini, hidup kita bukan lagi tentang diri sendiri. Seperti katamu, ada banyak hati perempuan yang perlu ditolong untuk kembali kepada Allah. Kini, hidup bukan hanya tentang bersenang-senang, tapi tentang berjuang mengumpulkan pundi-pundi amal sholeh sebagai bekal kita menuju negeri akhirat. Biarlah sekarang berlelah-lelah, insya Allah tidak akan lama. Cuma di dunia aja kok lelahnya.

Selamat berjuang lagi ya, kita! Saling menyaksikan selama di dunia agar di akhirat nanti bisa saling bersaksi di hadapan Allah bahwa kita pernah sama-sama berbuat sesuatu untuk-Nya. Semoga project ini menjadi salah satu pemberat amal kebaikan dan mengundang ampunan-Nya. Kalau tetanggaan di surga sih aku juga mauuuuuu. Aamiin yaa Allah. Aamiin yaa Rabbal 'Alamiin.

Your sister of deen,
Husna Hanifah

_________

Novie adalah partner menulisku di Monday Love Letter. Kami berdua rutin mengirimkan surat setiap hari Senin melalui email kepada para perempuan yang terdaftar di mailing list Sister of Deen Projects. Kalau kamu ingin mendapatkan 2 surat juga untuk dikirim ke email-mu setiap Senin, silakan subcribe melalui tinyurl.com/mondayloveletter untuk join ke mailing list kita. Khusus perempuan ya! ^_^

Senin, 10 Desember 2018

Monday Love Letter #20 - Menuai Sabar dan Syukur yang Tak Terbatas

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister, semoga rahmat dan kasih sayang-Nya senantiasa tercurah untuk kehidupanmu ya! Dan semoga selalu ada stok syukur, sabar, dan ikhlas di hatimu dalam menjalani setiap fase kehidupan dan setiap ketetapan dari-Nya.

Memang ya, hidup ini tidak bisa lepas dari syukur dan sabar. Dan dalam menjalani keduanya, seharusnya tidak ada batasnya. Tapi saya pribadi juga masih belajar untuk berusaha bagaimana agar stok sabar dan syukur tetap tersedia. Kan nggak mungkin juga bilang ke Allah, "Maaf ya Allah, ujiannya boleh berhenti dulu nggak, stok sabar saya lagi habis nih." Hehe.

Indikasi yang paling kentara ketika kita kekurangan stok sabar dan syukur adalah ketika kita sering mengeluh. Dikasih rezeki sama Allah bilangnya,"yah.. kok cuma segini.." padahal terimakasih aja dulu, nanti juga Allah bakal kasih lagi kalau kita bersyukur. Dikasih musibah dan bertubi-tubi masalah, ngeluhnya "Ya Allah, kenapa harus akuu?"padahal Allah lagi berbaik hati mau ngasih pahala sabar, kalo ngeluh ya jadinya hangus.

Yang membuat sabar dan syukur kita jadi terbatas adalah karena tidak adanya keikhlasan. Bersyukur tanpa rasa ikhlas hanya akan membuat kita tidak pernah merasa cukup. Bersabar tanpa rasa ikhlas akan membuat kita terus menerus menyalahkan keadaan. Ya intinya jadi banyak mengeluh deh hidupnya.

Ikhlaslah yang membuat sabar dan syukur kita menjadi tidak terbatas. Ikhlas itu lekat dengan penerimaan. Penerimaan atas segala sesuatu yang datang kepada kita dan atas segala sesuatu yang dihadirkan oleh Allah, baik itu nikmat maupun ujian.

Kunci pertamanya adalah menerima pemberian Allah. Luaskan hati kita untuk menerima segala nikmat dan rezeki dari Allah, maka kita akan selalu merasa cukup. Luaskan hati kita untuk menerima segala ujian hidup yang Allah hidangkan, maka segalanya akan terasa lebih ringan. Pokonya terima saja dulu. Seringkali yang bikin berat itu karena ekspektasi kita adalah mendapatkan yang lain. Lupa bahwa Allah yang paling tahu apa yang kita butuh.

Setelahnya, kita juga harus ikhlas dalam menjalani. Yang berarti kita menjalaninya karena Allah. Niat kita untuk Allah. Tiada sebab kita bersyukur dan bersabar kecuali karena Allah.

Bersyukur itu butuh energi, bukan cuma "alhamdulillah ya Allah atas pemberian-Mu", lalu selesai. Bersyukur berarti memikirkan bagaimana agar pemberian dari Allah bisa kita persembahkan lagi kepada Allah. Namun seringnya kita tergoda menggunakannya untuk kepentingan pribadi, untuk kesenangan yang semu. Maka ikhlaslah yang akan jadi penyelamatnya. Karena ikhlas mengembalikan niat dan tujuan kita.

Ikhlas dalam bersabar apalagi. Dalam keadaan terdesak dan terhimpit, akal sehat kita diuji, apakah iman masih kita pegang atau kita gadaikan dengan dunia. Karena sabar bukan sekedar menerima ketetapan Allah, tapi juga mempertahankan keimanan dalam menjalaninya. Seperti sabarnya Nabi Ismail mematuhi perintah untuk disembelih, seperti sabarnya Bilal bin Rabah mempertahankan ketauhidannya, atau sabarnya Siti Mashithoh yang rela diri dan anak-anaknya direbus hidup-hidup karena tidak rela imannya terenggut. Dan ikhlas, lagi-lagi menyelamatkan kesabaran yang hampir habis. Singkatnya; jika bukan karena tujuanku Allah, aku pasti sudah menyerah.

Maka tidak bisa syukur dan sabar, tanpa ikhlas. Lalu jika kamu bertanya bagaimana caranya agar ikhlas, sungguh, itu adalah suatu proses yang panjang. Karena ikhlas berarti menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, satu-satunya pemilik dan penguasa diri, serta satu-satunya yang Maha Unggul sehingga kita sadar bahwa kita ini lemah tanpa pertolongan-Nya, celaka jika tidak menuju kepada-Nya, hina jika tidak dalam ketaatan kepada-Nya, . Ya, seperti dalam QS. Al-Ikhlas.

Milikilah keikhlasan, maka sabar dan syukurmu tidak akan ada batasnya. Selamat berlatih!

Selasa, 04 Desember 2018

Monday Love Letter #19 - Hidup Ini Butuh Ilmu

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah sudah Desember! Gimana, deg-degan nggak sebentar lagi kita (insya Allah) mau memasuki tahun yang baru? Kalau saya sih deg-degan. Masih ada sih beberapa target yang harus selesai sebelum akhir tahun, tapi juga excited menanti skenario apa yang Allah siapkan untukku di tahun 2019 nanti. Tentunya dengan harapan bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi di mata Allah :)

Sebulan ke belakang, saya merasa bahagia dan bersyukur sekali karena saya banyak bertemu dan berdiskusi dengan perempuan-perempuan yang sedang memulai kembali mendalami ilmu agama mereka. Padahal kita mungkin sudah diajari tentang Islam ya sejak kecil, tapi entah kenapa semakin dewasa justru merasa semakin banyak nggak tahunya. Semakin mempelajari Islam, semakin sadar bahwa ternyata yang selama ini saya pelajari barulah seujung kuku! Apalagi soal mempraktekkannya, wah kalau praktek rukun iman atau rukun islam ada raportnya, mungkin masih banyak merahnya dan masih banyak yang perlu di-remedial. Lagi-lagi saya merasakan kebesaran Allah dengan hadir ke majelis ilmu dan bersilaturahim bahwa ternyata pemilik segala ilmu memang Allah, sementara yang bisa dipelajari oleh manusia hanya sedikiiiiiiiiit saja.

Dari pertemuan bersama para perempuan pembelajar itu, saya jadi semakin sadar bahwa mencari ilmu memang tidak ada batasnya, tidak ada ujungnya. Saya juga teringat pada pesan orangtua dan guru-guru saya bahwa jika melakukan sesuatu itu, harus ada dasarnya! Bukan atas dasar ikut-ikutan kebanyakan orang, atau karena dengar dari sana-sini yang tidak jelas sumbernya. Maka lakukanlah sesuatu karena memang kita tahu ilmunya dan jelas sumber asalnya sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk urusan hidup ini.

Ya! Bagaimana kita menjalani hidup? Jika hidupmu terombang-ambing, gampang bosan, tidak ada semangat, jangan-jangan standar yang kau tetapkan untuk hidupmu adalah standar dari kebanyakan orang yang tentu saja siklusnya sudah tertebak; sekolah-kuliah-kerja-nikah-punya anak-dst. Bagaimana kau menetapkan cita-cita dan impianmu? Jangan-jangan pilihan kita jatuh pada hal-hal yang dinilai keren oleh orang kebanyakan; punya harta banyak, punya aset, travelling keliling dunia, atau bahkan punya pasangan dan anak-anak yang lucu. Maka jangan heran jika hidupmu seakan hampa, tidak ada "ruh"nya dan dirundung gelisah atas segala pencapaian orang lain. Bisa jadi karena kita kurang ilmu. Ilmu menjalani kehidupan. Loh, emang ada? Ada dong!

Jika kita tinjau ulang dari mengapa kita ada di dunia ini, tentu Allah menciptakan kita bukan tanpa maksud. Lalu Allah memberitahukan kepada kita bahwa maksud Allah menciptakan manusia adalah untuk ibadah. Kira-kira, bisakah kita beribadah tanpa ilmu? Tentu tidak, bukan?

Kemudian jika memikirkan tentang akhir hidup manusia, setiap kita akan menemui kematian yang akan menjadi jembatan kita menuju alam kubur dan alam akhirat. Apa sih yang paling dibutuhkan manusia pada kehidupan setelah matinya? Tidak lain adalah amalnya. Karena semua yang kita miliki selama di dunia akan kita tinggalkan, hanya amal yang kita bawa hingga ke hadapan-Nya. Dan untuk bisa beramal, tidak mungkin tanpa ilmu.

Maka kedudukan ilmu sangatlah penting dalam hidup kita, bahkan sampai terbawa dampaknya di kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Pelajarilah ilmu yang tidak sekedar berguna di dunia saja, tapi juga berguna dan menyelamatkan sampai ke akhirat. Jika kita bahas disini tentu akan panjang sekali sehingga surat ini lebih kepada ajakan untuk semangat mencari, mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu yang Allah sampaikan dalam Al-Quran, yang tidak lain isinya memang menunjukkan kita kepada ketentraman hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat kelak.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar. Tidak ada kata terlalu tua atau terlalu bodoh untuk mulai lagi mendalami tentang hakikat hidup ini. Jangan lelah mencari tahu, jangan bosan menghadiri majelis ilmu dan tetaplah rendah hati. Semoga hati kita terjaga dari hal-hal yang bisa mengotorinya sehingga Allah menghendaki hidayah-Nya turun kepada kita dan menjaga kita dalam kebenaran. Aamiin..

Senin, 26 November 2018

Monday Love Letter #18 - Tentang Sabar

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, my sister of deen? Maafkan surat yang terlambat ini karena beririsan dengan pekerjaan lain. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan kita untuk bertegur sapa melalui surat ini dan saling melangitkan doa-doa baik. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayang-Nya untuk kita semua ya :)

Tak terasa sudah sampai di penghujung November dan kita hampir sampai di penghujung tahun. Bagaimana rasanya menghadapi sisa-sisa hari di tahun 2018? Mungkin banyak hal-hal kurang mengenakkan yang terjadi di hari-hari kemarin, mungkin banyak jejak-jejak jerih payah kita menghadapi kehidupan di bulan-bulan kemarin, tapi semoga di ujung perjuangan kita, kita menemukan akhir kisah yang bahagia.

Sepekan kemarin Allah banyak mendidik dan mengingatkan saya tentang kesabaran. Bahwa sabar itu bukan diam, tapi justru bergerak mengupayakan ikhtiar terbaik kita. Sabar itu bukan meratapi keadaan, melainkan aktif dan berusaha mencari jalan. Dan upaya untuk menuju-Nya, upaya untuk istiqomah di jalan-Nya, amat sangat membutuhkan kesabaran. Jika bisa disederhanakan menjadi satu kata, sabar itu berarti berjuang. Perjuangan yang tidak asal berjuang, tapi perjuangan yang ditujukan karena-Nya dan untuk-Nya.

Bukankah perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan mendaki lagi sukar? Bukankah untuk menjadi manusia yang layak di hadapan-Nya, kita harus melewati berlapis-lapis ujian? Maka perjuangan sejati adalah perjuangan menuju Allah untuk menjadi sebaik-baik hamba di hadapan-Nya. Menariknya, walaupun ini adalah perjalanan menuju Allah, kita tetaplah butuh pertolongan-Nya dan sabar menjadi salah satu prasyaratnya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." -QS. 2:153

Bicara tentang sabar, sangat erat kaitannya dengan iman. Bukankah mustahil sabar tanpa iman? Karena dalam sabar, ada keyakinan bahwa janji Allah adalah benar. Dalam sabar, ada keyakinan bahwa akhir perjuangan ini akan indah. Dalam sabar, ada keyakinan bahwa Allah akan menolong kita. Iman yang bisa membuat kita semangat berjuang, iman pula yang membuat kita bertahan dalam perjuangan. Ya, keimanan adalah bahan bakar bagi kesabaran kita.

Setiap orang memiliki medan juangnya masing-masing. Ada yang mungkin masih tertatih memperbaiki diri setelah taubatnya, ada yang sedang memperbaiki kualitas ibadahnya, ada yang mulai terjun mengambil peran untuk kebermanfaatan umat. Apapun medan juangmu, semoga menjadi jalan bertambahnya keimanan dan ketakwaan. Semoga Allah mengganti semua lelah kita dengan tiket menuju syurga.

Seperti salah satu firman-Nya, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar." -QS. 3:142

Selamat mengoptimalkan sabar! Jika lillah, insya Allah tidak terasa lelah :)

Senin, 19 November 2018

Monday Love Letter #17 - Karena Kita Sudah Dewasa


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabarmu sister? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh rasa syukur atas segala takdir yang Allah tetapkan untuk hidupmu. Aamiin. Sebelumnya, MLL kali ini akan lebih personal karena sebagiannya adalah curhat, hehe. Tapi semoga tetap ada hikmah yang bisa diambil ya. Here we go!

Dari Monday Love Letter #16 Senin lalu yang judulnya Memberi Apapun Yang Bisa Diberi, saya menerima sebuah balasan email yang berisi pertanyaan, "Kak, pernah nggak merasa hidup terasa begitu berantakan dan bingung mau mulai darimana merapikannya?" Sewaktu membacanya saya hanya tertawa dan rasanya ingin teriak, "Pernah banget! Itu aku banget!" Hahaha.. 

Jadi selama sebulan terakhir ini otak kayaknya overload banget, rungsing melulu. Sampai curhat sama partnerku dan minta time-out ngerjain Sister of Deen Project untuk "membereskan" kehidupanku. Udah nggak fokus banget soalnya! 

Akhirnya kami sepakat untuk take-time selama seminggu supaya fokus sama kehidupan masing-masing dan nggak bahas project ini dulu. Saya saat itu tentu saja merasa lega karena untuk sementara bisa melepas beban pikiran untuk project ini setidaknya selama seminggu. Esoknya, saya langsung merencanakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan selama seminggu ke depan dalam rangka "beberes" ini dan menyelesaikan PR-PR yang kebanyakan belum selesai karena saya menunda pengerjaannya (menunda itu emang musuh banget ya bagi produktivitas, grrr). 

Rencananya, selama seminggu itu saya ingin banyak di rumah saja, kan namanya juga me-time. Banyakin baca buku dan kontemplasi aja lah sama ngerjain kerjaan-kerjaan yang belum beres. Kecuali untuk jadwal-jadwal tertentu yang mengharuskan saya keluar rumah, tidak saya skip.

Tapiiiii Allah sepertinya memang punya cara sendiri untuk mendidik hamba-Nya ini. Bayangan saya untuk bisa sedikit santai di rumah kandas sudah karena yang terjadi justru malah kebalikannya. Adaaa saja kejadian dan agenda mendadak yang membuat saya harus keluar rumah, bahkan pulang malam. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk "beberes", saya tetap mengerjakan PR-PR saya sesuai dengan yang direncanakan walaupun konsekuensinya saya harus tidur lebih malam.

Terus begitu selama seminggu hingga rasanya ingin protes ke Allah, "Ya Allah, terus kalau begini terus kapan istirahatnya? Mau membereskan hidup kok malah dikasih sibuk sih?" Tapi lagi-lagi karena saya sudah berkomitmen pada diri sendiri, rasa lelah itu tetap saya telan dan saya tetap berusaha mengerjakan apa yang harus saya kerjakan.

Di sela-sela kontemplasi, saya membuat satu kesimpulan. Saya curiga, jangan-jangan pekerjaan saya sebenarnya memang sebanyak ini. Jangan-jangan yang Allah amanahkan kepada saya memang seberat ini. Masalahnya bukan terletak pada pekerjaannya yang banyak, melainkan pada diri saya sendiri yang tidak meluaskan penerimaan terhadap setiap amanah yang datang dari-Nya. Masalahnya ada pada diri saya sendiri yang malah meminta-Nya untuk mengurangi masalah saya padahal kadar masalah saya memang segitu kata Allah. Tidak bisa dikurangi karena memang jatahnya segitu! DEG.

Kalau flashback ke waktu kita kecil dulu, masalah kita sebesar apa sih? Paling cuma rebutan permen sama adik. Masuk sekolah, apa yang digalauin? Paling karena nilai jelek atau karena takut gak punya temen. Menjelang lulus kuliah, yang dipusingkan beda lagi. Apalagi kalau sudah menikah dan jadi orangtua, lebih kompleks lagi masalah yang dihadapi. See? Kita tidak akan mendapat masalah yang sama di setiap fase, dan kadarnya memang akan selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan berpikir kita.

Jadi jika masalah kita semakin banyak dan ujian yang kita hadapi semakin berat, wajar saja. Karena kita sudah dewasa! Ujian orang dewasa tentu berbeda dengan anak TK. Masalahnya orang dewasa tentu berbeda dengan anak SMA yang baru lulus kemarin sore. Masa mau minta masalah kita disamain lagi sama anak TK? #jlebjlebjleb

Duuh saya jadi malu sama Allah. Padahal Allah ingin meningkatkan kapasitas hidup saya dengan berbagai ujian, tapi bukannya dihadapi, malah minta dikurangi. Bukannya diterima, malah diratapi. Alhamdulillah, ternyata Allah masih sayang dan masih memberi kesempatan agar diri yang hina ini bisa berproses menjadi mulia. Kini, bukan lagi kemudahan yang diminta, tapi penerimaan atas setiap takdir-Nya, pundak yang kuat untuk mengemban amanah-amanah-Nya, serta keberanian dan keteguhan hati untuk tetap istiqomah mengupayakan apa-apa yang disukai-Nya dan segala yang mengundang ridho-Nya. 

Semoga hati kita semakin lapang menerima segala ketentuan-Nya, semoga seiring dengan bertambahnya beban dan tanggungjawab hidup kita, bertambah juga keimanan kita kepada-Nya dan bertambah sayang pula Allah kepada kita. Selamat menjadi orang dewasa! :)

Selasa, 13 November 2018

Mungkin Kita Hanya Lupa..


Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa segalanya terasa berat, kenapa masalah seolah tidak berhenti datang, kenapa rasanya lelah dan sulit sekali, kenapa jalan keluar tak kunjung terlihat, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita depresi dan frustasi..

Mungkin karena kita lupa.. 

Lupa ada Allah. Lupa bahwa Allah tidak mungkin membebankan sesuatu di luar kesanggupan kita. Lupa bahwa Dia yang menghadirkan masalah, maka Dia juga yang menggenggam solusinya. 

Karena jika kita ingat, mungkin kita akan menghabiskan waktu-waktu senggang kita untuk berdoa pada-Nya, mungkin kita akan membenamkan diri pada sujud-sujud terbaik di sepertiga malam; meminta petunjukNya, memohon kekuatan untuk menghadapi semuanya.

____

Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa apa yang dikejar tak juga didapatkan, kenapa setiap pencapaian tidak pernah memberi kepuasan, kenapa setiap mendapat sesuatu selalu saja merasa kurang, kenapa kebahagiaan itu terasa jauh, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita merasa "haus" atau "kosong"..

Mungkin karena kita lupa..

Lupa tujuan hidup. Lupa kita hidup untuk apa. Lupa bahwa kita ini hambanya Allah yang tugasnya ibadah. Lupa bahwa yang kita inginkan hanyalah ridha-Nya. 

Karena jika kita ingat, segala impian dan cita-cita akan ditujukan untuk-Nya, segala aktivitas penuh oleh perbuatan yang disukai-Nya, waktu dan energi kita tidak akan terbuang untuk tujuan dari selain-Nya, serta kebahagiaan kita tidak akan tersasar pada hal-hal yang semu.

____

Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa ibadah terasa hambar, kenapa berbuat baik terasa malas, kenapa maksiat tetap saja dijalankan, kenapa untuk berhijrah tak juga mau memulai, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita diam di tempat..

Mungkin karena kita lupa..

Lupa bahwa kita akan meninggalkan dunia ini dan kembali ke Allah. Lupa harus menyiapkan bekal pulang. Lupa bahwa segala yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya. 

Karena jika kita ingat, masih beranikah kita bermaksiat atau bermalas-malasan sementara giliran kematian kita mungkin tidak sampai sehari lagi? Bukankah kita akan merasa takut jika malaikat maut datang saat kita tidak sedang beribadah kepada-Nya? Bukankah kita akan mengoptimalkan waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan amal terbaik sebagai persembahan ketika kelak bertemu dengan-Nya?

____

Jadi, atas semua perkara kehidupan yang kita pertanyakan, barangkali jawabannya tidak rumit: 

Mungkin kita hanya sedang lupa.. 

Maka tak heran jika salah satu kriteria orang yang beruntung yang Allah sebut dalam QS. Al-Ashr adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena kita sering lupa, dan butuh teman untuk saling mengingatkan..

Senin, 12 November 2018

Monday Love Letter #16 - Memberi Apapun Yang Bisa Diberi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah yaa sekarang sudah musim hujan! Di Bandung terkadang sehari sampai 2 kali hujan. Jaga kesehatan ya, sister! Semoga harimu tetap produktif dan bahagia :D

Hujan tuh kadang bikin nostalgia. Siang tadi, saya teringat pada satu kejadian bersama ayah saya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu kami sedang berada di rumah lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah mengantarkan sebuah kiriman untuk ayah saya. Ternyata itu dari teman ayah. Saya lupa barang (atau makanan?) apa yang waktu itu dikirim, tapi saya tidak pernah lupa pada apa yang dikatakan ayah saya ketika beliau menerima kiriman itu. "Duh, gimana balasnya ya?" gumamnya saat itu.

Sejak saat itu, membalas kebaikan orang lain adalah hal yang selalu berusaha saya lakukan ketika saya menerima sesuatu dari orang lain. Jika saya sedang tidak memiliki sesuatu yang bisa diberi, ada hal sederhana yang juga bisa menjadi sebuah hadiah bagi yang menerimanya, yaitu doa yang tulus. Ya, jika sedang tidak bisa membalas kebaikan orang lain, doakan saja!

Dengan selalu memberi, tanpa sadar kita sedang menanam kebermanfaatan diri yang mungkin saja dampaknya baru akan kita panen di kemudian hari. Seperti nasihat-nasihat orangtua kita yang baru kita mengerti maksudnya beberapa tahun kemudian. Atau tulisan-tulisan harian kita di internet yang diniatkan untuk berbagi, lama-kelamaan menjadi banyak dan menjadi buku. Banyak-banyaklah memberi. Tanam kebaikanmu dimanapun. Tebar kebaikan kepada siapapun. Karena bisa jadi, kebaikan yang kau tanam kemarin-kemarin itu sedang menyiapkan "buah"nya.

Seperti ucapan ayah saya tadi yang masih saya ingat hingga hari ini, yang akhirnya menjadi nasihat tersirat yang selalu saya contoh. Maka bukan tidak mungkin, ucapan-ucapan baik kita yang dulu-dulu masih diingat oleh orang lain. Nasihat baik kita yang bertahun-tahun lalu kita berikan kepada adik atau sahabat kita, mungkin masih mereka ingat dan mereka praktekkan. Tulisan-tulisan baik kita yang sudah lama ditulis yang bahkan kitapun sudah lupa kita pernah menulis itu, ternyata masih diingat oleh orang lain karena berhasil mengubah mindsetnya menjadi lebih baik. Bahkan barangkali, doa-doa yang pernah kita ucapkan untuk orang lain, masih menjadi harapan yang diperjuangkannya hingga hari ini.

Mungkin ada saat-saat dimana kita merasa apa yang kita lakukan tidak akan berdampak apa-apa. Atau merasa "useless", merasa tidak berguna dan tidak bisa menjadi sebaik orang lain dalam menebar manfaat. Tapi percayalah, kita selalu punya sesuatu untuk diberikan. Dan kita akan selalu mendapatkan hasil dari apa yang pernah kita berikan. Jika tidak sekarang, mungkin beberapa tahun lagi. Jika tidak di dunia, mungkin di akhirat.


"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)." 
- QS. Ar-Rahmaan : 60

Jadi siapa bilang kebaikan yang kita lakukan hari ini akan sia-sia? Pasti berbuah! Keep up the good work and continue doing your good deeds, sisters!

Senin, 05 November 2018

Monday Love Letter #15 - Menutup Hari dengan Syukur


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister? Semoga hari Seninmu menyenangkan dan penuh hikmah. Sebelumnya mohon maaf ya Monday Love Letter-nya baru dikirim malam-malam begini. Karena satu dan lain hal, suratnya baru bisa diselesaikan sekarang.

Di jam-jam segini, kamu mungkin sedang istirahat di rumah, atau baru saja pulang selepas seharian tadi bepergian, atau sedang di perjalanan pulang, atau bahkan masih berada di luar rumah membereskan urusanmu hari ini. Dimanapun kamu, baik itu sedang di rumah, di tempat kerja, di kampus, di perjalanan, selelah apapun itu, you did great today, sister! Semoga malam ini bisa kita tutup dengan senyum, dengan penuh rasa syukur, sambil mengantongi hikmah yang banyak dari pembelajaran yang diberikan Allah hari ini kepada kita dan semoga Allah memaafkan segala khilaf dan kesalahan kita hari ini. Aamiin..

Setiap hari adalah kesempatan baru. Saya selalu merinding setiap membaca ayat yang satu ini, "Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar (39) : 42).

Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah menggenggam ruh manusia ketika tidur. Ada ruh yang Allah tahan sehingga ia meninggal dalam tidurnya, ada pula yang Allah kembalikan ruhnya sehingga ia dapat bangun kembali. Maka setiap hari dan setiap kita membuka mata dari tidur, sejatinya adalah kesempatan yang Allah berikan. Karena bisa saja Allah tidak mengembalikan ruh kita ke dalam jasad ketika kita sedang tidur. Nikmat hidup, sudahkah kita syukuri?

Hikmah lain yang bisa kita ambil dari ayat itu adalah bahwa kita ini memang milik Allah; penguasa mutlak atas diri kita yang mana hidup dan mati kita ada di tangan-Nya. Maka hiduplah di dunia dengan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik Allah. Yang tidak membantah, yang setia pada-Nya, yang menjadikan Allah satu-satunya prioritas dalam hidup dan kelak kembali dengan ridho-Nya. Semoga Allah mampukan kita ya :')

Dan yang pasti, karena kita ini milik Allah, maka kita akan kembali ke Allah. Kita akan pulang ke kampung akhirat, kampung halaman kita yang sebenarnya. Setiap Allah memberi kesempatan kita untuk melihat matahari pagi, berarti satu kesempatan untuk mengumpulkan bekal pulang lebih banyak lagi. Mudik atau pulang traveling aja kita suka ditagih oleh-oleh kan sama orang rumah? Masa' pulang ke akhirat mau ketemu Allah, nggak nyiapin apa-apa dan nggak bawa apa-apa? Ahh, kematian memang tidak pernah gagal menjadi nasihat bagi diri yang sering lupa ini. Semoga hati kita senantiasa peka menangkap pesan-pesan dari-Nya.

Alhamdulillah, kita patut bersyukur hari ini karena Allah telah memberi (lagi) kesempatan hidup kepada kita sejak kita bangun dari tidur pagi tadi. Maka tutuplah hari ini dengan penuh rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Berterima kasihlah atas hal-hal menyenangkan yang terjadi hari ini, berterima kasihlah karena Allah masih bersama kita dan memberikan pertolongan-Nya walaupun hari ini kita menghadapi situasi yang sulit. Jika Allah beri kita kesempatan lagi esok hari, semoga hari esok bisa lebih baik dari hari ini dan semoga syukur kita kepada-Nya melebihi syukur kita hari ini. Aamiin..

Selamat beristirahat, sister. Semoga mimpimu indah :)

Senin, 29 Oktober 2018

Monday Love Letter #14 - Stop Playing Victim


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister? Bagaimana hari Seninmu? Semoga hari ini menjadi awal yang baik untuk hari-harimu sepakan ke depan ya!

Seperti judulnya, surat kali ini adalah tentang berhenti merasa menjadi korban. Akhir-akhir ini saya diresahkan dengan orang-orang yang terus memelihara "mental korban"-nya. Mengapa fenomena playing victim ini menjadi penting untuk dibahas, karena sadar ataupun tidak, hal itu adalah racun bagi pikiran kita dan sangat-sangat mempengaruhi kehidupan kita.

Mungkin kita pernah berpikir, atau mendengar orang-orang di sekitar kita mengatakan hal-hal seperti ini:
"Yaah dia sih bisa sukses karena orangtuanya kaya, sementara keluargaku buat makan aja susah."
"Dia bisa jadi pembicara dan bikin karya gitu karena waktu luangnya banyak, aku mana bisa, kerjaanku di kantor numpuk terus dan bosku galak."
"Keluargamu harmonis itu karena suamimu pengertian banget, suami saya cenderung cuek dan kami juga LDR."
"Pantes aja jualannya laku, relasinya banyak siih. Kalau aku kan pemalu, ga bisa supel kayak dia."
"Jelas aja hidupnya bahagia, lingkungannya nge-support dia banget! Aku? Ortu cerai, lamaran kerja ditolak mulu, temen-temenku juga pada sibuk sendiri-sendiri."
"Aku sebenernya pengen mewujudkan mimpiku itu, tapi liat keadaanku sekarang, semenjak kecelakaan kerjanya bolak-balik RS mulu, gak mungkin lah."
"Aku udah nggak punya harapan hidup lagi semenjak aku kehilangan orangtuaku."
"Hidupku udah hancur banget, masa laluku juga kelam banget, aku gak pantes punya masa depan yang bahagia."
Daaaan mungkin masih banyak lagi pikiran-pikiran semacam itu yang datang dari orang-orang bermental korban. Semoga itu bukan kita.

Pola pikir seperti itu tuh bahaya banget. Alih-alih bergerak maju, orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung akan diam di tempat dan tanpa sadar sibuk meratapi keadaannya. Dia akan mencari pembelaan atas kehidupannya yang terpuruk dengan menempatkan dirinya sebagai korban atas kesalahan yang dibuat oleh orang lain misalnya, menempatkan dirinya sebagai korban atas kejadian buruk yang menimpa dirinya, atau menempatkan dirinya sebagai korban atas kesalahan dirinya di masa lalu yang menjadikannya larut dalam penyesalan. Sekali lagi, semoga itu bukan kita, ya :')

Jika ada orang yang berpikir seperti itu, mungkin tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga, karena manusia punya mekanisme "self-defense" yang digunakan untuk mempertahankan harga dirinya. Sayangnya kebanyakan kita menempatkan dirinya sebagai korban dengan menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan dirinya sendiri dibanding menempatkan diri sebagai sosok yang bertanggungjawab.

Ya, jadilah sosok bertanggungjawab atas dirimu sendiri dan atas kehidupan yang tengah kau jalani. Semua hal yang terjadi di dunia ini pada awalnya adalah netral, kitalah yang sepenuhnya memegang kendali atas pikiran, sikap, dan tindakan kita. Mau sedih karena hal yang terjadi? Bisa. Mau menciptakan bahagia? Juga bisa.
Mau terus-terusan terpuruk karena masa lalu yang (menurut kita) buruk? Bisa. Mau berusaha bangkit dan mengambil hikmah? Juga bisa.
Mau marah karena disakiti orang lain? Bisa. Mau memaafkan dan melepas beban amarah? Juga bisa.
Mau hidup kita disetir oleh orang lain? Bisa. Mau memperjuangkan kebebasan mewujudkan impianmu? Juga bisa.
Kita selalu punya pilihan. Dan kita selalu bisa memilih. Maka pilihlah keputusan yang menguntungkan dirimu, yang membahagiakan dirimu, yang membuat kualitas hidupmu meningkat.

Dan lagi, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup yang dijalani orang lain. Maka rugi sekali jika kita menghabiskan waktu dengan menyimpan dendam terhadap orang lain, menyimpan amarah terhadap keadaan, atau terus-menerus mengasihani diri sendiri. Waktu kita terlalu berharga untuk memikirkan itu. Hidup kita terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hal-hal yang merusak diri kita sendiri.

Jadilah diri yang bertanggungjawab, bukan yang bermental korban. You deserve to be happy, you deserve to be succees, you deserve a better life, if you feel like you deserve to.

Is it good or bad, happy or sad, you choose.

Senin, 22 Oktober 2018

Monday Love Letter #13 - Be The Best Version of Yourself


Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister shalihah? Terima kasih banyak yaa sudah bersama dengan kami sampai saat ini dan rela emailnya diberisikin setiap Senin. Hehehe.. 

Biasanya setiap hari Senin saya banyak di rumah dan menghabiskan beberapa jam khusus untuk menulis MLL. Tapi Monday Love Letter kali ini cukup spesial bagi saya karena tulisan ini saya tulis di dalam kereta sambil melakukan perjalanan pulang dari Solo ke Bandung. Finally I'm hoooome :))

Sedikit bercerita, saya bersama teman-teman komunitas pergi ke Solo selama 5 hari untuk mempersiapkan agenda seminar woman empowerment dan merencanakan untuk bikin "gara-gara" (maksudnya bikin kegiatan atau event yang positif tapi berdampak besar gitu, aamiin ) bersama teman-teman lainnya untuk mengembangkan komunitas di Solo. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Solo dan ternyata Solo tuh nyaman sekali yaa. Mungkin karena orang-orang yang saya temui juga semuanya baik-baik banget. Adakah yang orang Solo disini? :)

Selama jauh dari rumah dan beraktivitas beberapa hari ke belakang, notes saya cukup padat dengan beberapa ide tulisan dan hikmah-hikmah yang saya dapatkan. Salah satunya adalah tentang perlunya menyadari potensi diri untuk bisa menginspirasi. Di Solo, saya bertemu dengan banyak perempuan hebat! Kebanyakan mereka masih mahasiswa yang karyanya luar biasa, kepeduliannya tinggi dan sangat pembelajar. 

Saya jadi teringat pada hadits Rasul yang menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Disana, saya seperti sedang melihat hadits itu dalam bentuk "nyata" dengan bertemu orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk orang lain. Dan yang lebih keren lagi, alasan dari mereka melakukan semua itu bukanlah demi uang atau popularitas, tapi memang tulus berbuat untuk orang lain dan diniatkan untuk Allah. Haaahh saya jadi banyak merenung dan berkontemplasi memikirkan diri sendiri, sudah sebesar apa manfaat saya untuk orang lain. Karena sebetulnya saya mudah sekali iri dengan mereka yang aktif memberikan manfaat dan berkontribusi untuk sesama. Tentu iri yang positif, yang membuat saya jadi termotivasi untuk melakukan sesuatu. Apalagi ketika saya tahu bahwa ternyata Allah-lah yang menjadi 'strong why' mereka. Beuhh, cakep..

Dan ada satu hal penting yang saya dapatkan tentang menjadi bermanfaat, yaitu kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk bisa menginspirasiBe the best version of yourself. Jadilah diri sendiri. Fokuslah pada kekuatan yang kita miliki lalu jadilah versi terbaik dari diri kita sendiri. 

Saya jadi mengerti mengapa Allah menciptakan setiap manusia itu berbeda dan unik. Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya dan tidak ada manusia yang 100% sama dengan manusia yang lain. Artinya, kita memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri yang tidak orang lain miliki. Ini seharusnya menjadi kabar gembira! Kita jadi tidak perlu iri dengan apa yang dimiliki orang lain karena diri kita juga memiliki sesuatu yang sama berharganya dengan apa yang orang lain miliki. Ya kan?

Maka penting sekali mengenal dan memahami diri sendiri. Penting sekali untuk mencari, mengembangkan, dan menggunakan kekuatan yang ada pada diri kita. Karena itulah sebaik-baik modal kita untuk menjadi bermanfaat. Kita memang tidak mungkin menjadi sempurna dan hebat dalam segala hal, tapi lagi-lagi Allah menyimpan rencana yang indah dengan segala perbedaan manusia, yaitu agar kita bisa saling mengisi satu sama lain dan saling berkolaborasi untuk membuat kebermanfaatan yang lebih besar dan meluas. 

Jadi, untukmu yang terkadang masih suka merasa inferior atau rendah diri, masih suka merasa (kalau kata orang sunda) 'da aku mah apa atuh', kikis dan buang jauh-jauh perasaan itu dan mulailah temukan apa yang menjadi potensi terbaikmu. Jadilah manusia bermanfaat yang bahagia, tanpa membanding-bandingkan dengan karya atau pencapaian orang lain. 

Jika masih bingung dengan kekuatan kita, tidak apa-apa, teruslah mencari sambil meminta petunjuk-Nya. Karena yang paling tahu tentang diri kita, tentu hanya Dia yang menciptakan kita. Semangat fastabiqul khairat. Semoga Allah selalu membimbing setiap langkah kita. Aamiin..