Senin, 16 September 2019

Monday Love Letter #58 - Melirik Jejak

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Senang sekali rasanya karena masih bisa menyapamu melalui love letter di hari Senin ini. Meski dengan cara yang sederhana, semoga surat-surat ini bisa begitu bermakna, menemanimu belajar dan bertumbuh di setiap waktunya. Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga tak lagi terrantai dengan kesalahan-kesalahan masa lalu yang masih menghantuimu hingga kini.

Kemarin, salah satu dari kami bertemu dengan seorang adik. Ia menceritakan tentang kasus-kasus yang sedang ramai diperbincangkan diantara teman-teman sepermainannya. Salah satu kasus yang menjadi bahan perbincangan mereka adalah kasus aborsi yang dilakukan oleh salah satu temannya karena sebuah “kecelakaan”. Kami tentu tidak kaget mendengar cerita ini terjadi di hari ini. Bukan berarti memaklumi, tentu saja tidak! Namun, di zaman dimana dinamika yang terjadi sudah seperti sekarang ini, cerita semacam itu bukan lagi sesuatu yang pertama kali kita dengar, kan?

Entah apa yang dirasakan oleh pelaku aborsi tersebut hari ini, kami tidak bisa benar-benar menebaknya. Hanya saja, dengan melihat bahwa kejadian itu telah menjadi sesuatu yang tidak bisa terlepas dari dirinya sebab sudah menjadi sebuah pengalaman yang tak bisa ditiadakan, kami merasa prihatin sekali. Tak terbayang di benak kami bagaimana seorang perempuan harus hidup dalam bayang-bayang dosa dan kelamnya masa lalu seperti itu. Sebanyak apapun cara dilakukan untuk mengubur atau melupakannya, suatu ketika ingatan tentang hal itu pasti akan muncul ke permukaan. Subhanallah. Semoga Allah memperkenankannya untuk menjadikan pengalaman ini sebagai jalan terbaik untuk kembali menemui-Nya.

Bagaimana pun, kita sebagai manusia tentu pernah punya kesalahan. Sebagian bisa kita terima dan maafkan dengan mudah, tapi sebagian lagi tidak. Mengapa bisa demikian? Tentu saja karena kita adalah manusia biasa, tempat bersarangnya salah dan lupa. Melakukan kesalahan itu jadi sesuatu yang niscaya. Barangkali, dengan itulah kita diminta-Nya untuk benar-benar menyadari bahwa kita adalah manusia, yang tidak selalu ideal, tidak selalu sempurna. Meskipun demikian, kita bisa memandang ini dari sisi yang lainnya, bahwa kesalahan adalah sarana belajar yang paling besar, sarana taubat yang paling handal, juga sarana bertumbuh yang paling dahsyat. Syaratnya, kita berani mengakui bahwa kita memang berbuat salah, lalu bersedia untuk bangkit dan memperbaikinya.

Apakah satu kesalahanmu yang begitu teringat saat kamu membaca surat ini? Kesalahan itu tak harus selalu tentang pengalaman masa lalu yang sudah terlewati bertahun-tahun yang lalu, sebab kemarin pun sudah menjadi masa lalu, bukan? Apapun ingatanmu tentang itu, sudahlah. Jika sudah terjadi berarti Allah menghendakinya untuk terjadi, meskipun menghendaki tidak sama dengan meridhoi. Bagaimana perasaanmu ketika mengingat kesalahan itu? Jika yang muncul adalah penyesalan, sudahlah, sempitkan ruang bagi penyesalan itu. Bukankah seringkali hanya menyesal tidak lantas menjadikan suatu perubahan? Seperti yang dikatakan dalam sebuah hadist, jangalah mengatakan ‘seandainya…’
 
“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu” tetapi katakanlah, “Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki,” karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan setan.”– HR. Muslim
 
“Tapi nasi sudah menjadi bubur, lalu aku harus bagaimana?” Setelah menyadari bahwa menyesali perbuatan yang membuat kita ingin kembali ke masa lalu itu tidaklah dianjurkan, mungkin pertanyaan tersebut saat ini terbersit di kepalamu. Bagaimanapun, masa lalu tetaplah masa lalu, ia akan tetap disana, seingin apapun kita kembali kesana. Jadi, daripada energi kita habis untuk meratapi hari yang kemarin, akan lebih bermanfaat jika energi tersebut digunakan untuk melukis masa depan yang bisa kita warnai dengan hal-hal yang lebih baik.
 

Kami tahu, bagi sebagian orang, melepas diri dari belenggu masa lalu tentu amatlah berat. Maka dari itu, cara-cara berikut ini bisa kamu coba untuk membantumu melangkah dan membuat jejak yang baru.

1. Reframing mistake.
Ubah sudut pandang kita atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Alih-alih menyesalinya berlarut-larut, alangkah baiknya jika kita melihat sisi lain dari kesalahan tersebut, bahwa itu adalah sebuah pembelajaran mahal yang tak setara dengan nilai tukar apapun. Tanpa kita sadari, sebuah kesalahan seringkali banyak memberikan hikmah dan pembelajaran berharga. Contohnya, kesalahan bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam bertindak, mengikis kesombongan dan perasaan lebih baik dari manusia yang lain, membuat kita kembali kepada Allah, memiliki semangat untuk beramal sholeh, dan sebagainya. Fokus pada hikmahnya, bukan masalahnya.

2. Akui bahwa diri memang melakukan kesalahan.
Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, bahkan manusia pertama yang Allah ciptakan pun melakukan kesalahan. Kita semua pasti tidak asing dengan cerita Nabi Adam AS yang Allah kisahkan dalam Al-Quran, tentang ia dan istrinya Siti Hawa yang melakukan kesalahan dengan mendekati dan memakan buah khuldi padahal Allah telah melarang. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka langsung menyesal, mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Allah. Tidak berkelit atau membuat-buat alasan, bahkan menyalahkan syetan yang menggodanya pun tidak.

Sebagian dari kita, mungkin akan mencari-cari alasan atau mencari seseorang/sesuatu untuk disalahkan untuk membela diri dari kesalahan yang jelas-jelas kita lakukan. Padahal, apa gunanya berkelit kepada Dia Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Tahu, dan Maha Mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya? Justru dengan kita melakukan kesalahan, sadarilah bahwa itu adalah petunjuk dari-Nya, reminder terbaik untuk kembali menyadarkan bahwa kita hanyalah manusia: tak mulia tanpa dimuliakan-Nya, tak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

3. Evaluasi diri dan memohon ampunan kepada Allah.
Akui kesalahan, evaluasi diri, dan mohon ampunlah kepada Allah. Seperti Nabi Adam dan Siti Hawa yang langsung berdoa dan memohon ampun kepada Allah sebagai bentuk taubat dan penyesalahannya. Rabbanaa dzalamna anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasyiriin. “Ya Tuhan kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” -QS. Al-A’raf (7) : 23

4. Buat rencana perbaikan.
Permintaan maaf butuh pembuktian, begitu pula permintaan maaf kepada Allah. Sebab, taubat yang sebenar-benarnya adalah ketika kita mengakui kesalahan, bertekad dengan sungguh-sungguh tidak akan melakukannya lagi, dan melakukan perbaikan diri setelahnya. Membuat rencana perbaikan diperlukan agar kita tidak lagi jatuh ke lubang yang sama, sekaligus sebagai bukti keseriusan atas taubat kita kepada Allah.

5. Perbaiki.
Go on. Melangkahlah ke depan dengan membawa tekad yang baru untuk berproses menjadi hamba-Nya yang lebih baik dan tidak lagi mengecewakan-Nya. Jangan berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah, sebab kasih dan sayang-Nya jauh lebih besar dan lebih luas dari murka-Nya.

Barakallahu fiik, sister..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #57 - Untukku Yang Mengaku Hijrah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah kami senang sekali bisa menyapamu kembali lewat surat ini. Bagaimana hari-harimu sepekan kemarin? Semoga surat ini bisa menjadi semacam jeda untuk berkontemplasi dan mengumpulkan kembali energi serta niat yang mungkin mulai luntur agar pekan setelahnya bisa kita hadapi dengan lebih jernih, semangat dan tentu saja, lebih bahagia :)



Kemarin, di beberapa titik jalan-jalan di Indonesia ada sebuah pemandangan menarik. Sekumpulan orang-orang, ada tua maupun muda, meramaikan jalan-jalan itu dengan pawai obor sambil menyenandungkah shalawat. Di sini, di Bandung yang kami cintai ini, pemandangan itu pun kami saksikan. Bagaimana dengan di kotamu? Apakah kamu juga melihat pemandangan itu? Pawai tersebut menandakan bawa kita baru saja memasuki bulan Muharram yang mengawali pergantian tahun Hijriah. Bagi sebagian orang, pergantian tahun ini mungkin hanya sebatas momen tahun baru biasa, tapi tahukah kamu bahwa ada peristiwa besar di balik sejarah 1 Muharram? Ya, peristiwa itu adalah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta umatnya dari Mekkah ke Madinah.

Hijrah. Kata yang saat ini sudah tidak asing lagi kita dengar. Dalam beberapa tahun ke belakang, kata ini menjadi hits, terutama di kalangan anak muda. Tapi, sebenarnya hijrah itu apa, sih?

Sederhananya, hijrah artinya berpindah. Berpindahnya dari mana ke mana? Dari keburukan menuju kebaikan, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju cahaya. Konkritnya bisa dilakukan dengan melakukan perbaikan diri dari yang awalnya tidak disukai Allah, menuju kepada hal-hal yang disukai dan diridhoi-Nya.

Tapi apakah mudah melakukannya? Tentu saja tidak. Sebab, bagi sebagian orang, tak ada yang jauh lebih menakutkan daripada keluar dari zona nyaman. Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan masa lalu lengkap dengan seluruh pola-polanya dalam berpikir, merasa dan bertindak dirasa sebagai sesuatu yang berat dan bahkan tidak masuk akal. Bagaimana tidak, seluruhnya telah menjadi akar-akar yang kuat yang tidak hanya mengakar pada hatinya, tapi juga pada hidupnya. Bukankah kita pun merasakannya?

Barangkali memang disitulah letak perjuangan kita, membayar “harga” yang terasa mahal demi selautan cinta-Nya. Bayangkan saja, terkadang ketika kita memantapkan diri untuk mau menjadi lebih baik, adaaa saja godaannya. Akhirnya diri kita kembali terjebak pada keburukan itu dan jatuh lagi ke lubang yang sama.

“Tau sih di Qurannya harus begitu, tapi kan…”
“Iya aku tuh ngerti kalau ini salah, tapi gimana dong susah banget lepasnya…”
“Hmm, iya tau kok Allah tuh nggak suka kalau aku begini, tapi nanti gimana kalau…”

Familiar dengan monolog diatas? Ironisnya, banyak keburukan atau kesalahan yang dilakukan dalam kondisi pelakunya sadar betul bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Entah karena berbenturan dengan hawa nafsu, ego pribadi, atau lemahnya iman. Akhirnya kesalahan yang berulang itu selalu berakhir dengan penyesalan dan perasaan bersalah kepada Allah. Tentu ini hal yang baik, setidaknya Allah tidak mematikan hati kita atau membuat kita berpaling untuk bertaubat kepada-Nya. Namun, terkadang banyak juga penyesalan yang berakhir dengan pengulangan terhadap kesalahan yang sama. “Duh padahal kemarin udah nyesel tapi ternyata susah ya untuk nggak melakukannya lagi.” monolog seperti itupun terjadi lagi.

Itulah bedanya manusia dengan makhluk Allah yang lain. Ia memiliki kecenderungan kepada ketakwaan namun juga di saat yang sama harus berperang melawan hawa nafsunya. Maka derajat manusia di hadapan Allah akan melesat naik apabila ia berhasil menang dari hawa nafsunya, namun juga terancam untuk menjadi serendah-rendahnya makhluk apabila dikuasai nafsunya sendiri.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.” Begitulah Allah berfirman dalam QS. At-Tin: 4-6

Pernahkah kita berpikir mengapa jalan kebenaran harus sesulit ini? Sebab hadiahnya mahal. Coba, hadiah apa sih yang bisa setara dengan syurga dan keridhan Allah? Tidak ada. Itulah mengapa, meski di jalan hijrah ini semua orang bagai sedang berperang dengan medan juangnya masing-masing, tapi semua medan juang itu berharga untuk dimenangkan. Manusia mana yang ingin direndahkan oleh Tuhannya? Orang beriman mana yang tak ingin mendapat rahmat dari Rabb-nya? Tidak ada. Maka, berjuang untuk menjadi sebenar-benarnya hamba dan sesejati-sejatinya mu’min adalah satu-satunya jalan bagi mereka yang mengarap syurga dan ampunan-Nya.

Malu adalah sebagian dari iman, jika kita masih saja melakukan keburukan, jangan-jangan rasa malu kita kepada Allah sudah luntur bahkan tak ada lagi. Sementara rasa takut adalah pangkal dari takwa. Orang yang bertakwa tidak akan berani untuk bermaksiat dan melakukan hal-hal yang tak disukai-Nya sebab takut kepada Dia Yang Maha Melihat. Tapi bagaimana jika dalam memperjuangkannya kita gagal, gagal, dan gagal lagi? Tidak mengapa, asal kita mengambil pelajaran, memtik hikmah, dan berjuang untuk tidak mengulanginya lagi.

Rasa bersalah kepada Allah, rasa malu dan hinanya diri saat melakukan kesalahan, semua adalah anugerah yang harus kita syukuri. Beruntungnya kita sebab rasa-rasa itu masih diizinkan-Nya hadir, hingga kita pun masih diizinkan-Nya untuk menyadari keburukan diri untuk kemudian berjuang kembali kepada-Nya. Allah tidak pernah menolak siapapun yang melakukan kesalahan lalu berpulang kepada-Nya, bukan?

Allah, kami tak ingin berpulang dalam keadaan seperti ini. Jangan dulu engkau putuskan kesempatan hidup kami, sebab kami masih ingin berjuang untuk berpulang dengan kondisi jiwa yang selamat. Semoga Engkau berkenan memberi kesempatan, sekali lagi.

Your Sister of Deen,
Husna Hanifah & Novie Ocktaviane Mufti

Senin, 26 Agustus 2019

Monday Love Letter #56 - Cahaya di Atas Cahaya

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! 

Terima kasih sudah setia bersama kami di Sister of Deen Project sampai hari ini. Kami memohon banyak maaf darimu jika selama ini kami masih banyak salahnya, kurangnya, dan mungkin masih jauh dari yang kamu harapkan. Terima kasih juga sudah bersabar menunggu buku kami. InsyaAllah kami masih sedang berproses dan berprogres. Selain itu, saat ini kami juga sedang menyiapkan sesuatu yang lain dan beradaptasi dengan amanah-amanah baru di dunia nyata, sehingga ada sedikit pergeseran jadwal. Buku kami insyaAllah akan menyapamu di awal tahun depan.

Bagaimana kabar jiwamu sepekan ke belakang? Semoga jawabanmu bukan sekedar baik-baik saja, tapi juga bisa menjelaskan apa makna di balik kata baik-baik saja itu.

Sabtu lalu, salah satu dari kami berkesempatan untuk mengisi sebuah kajian muslimah di salah satu mesjid yang ada di Kota Bandung. Materi yang saat itu menjadi tema kajiannya adalah tentang menjadi cahaya di atas cahaya. Familiarkah kamu dengan frasa tersebut? Ya, itu adalah istilah terkenal yang disebutkan-Nya dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 35. Dalam sejarah sastra di Indonesia, ada juga satu buku terkenal yang membuat kita mengingatnya saat membahas hal ini, yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang yang ditulis oleh RA. Kartini.
 
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – QS. An-Nur : 35
 
Bicara tentang cahaya, mungkin kita jadi bertanya-tanya, cahaya apa yang dimaksud? Cahaya itu adalah istilah yang menggambarkan petunjuk Allah. Tanpa cahaya tersebut, seperti yang disampaikan-Nya dalam Adh-Dhuha ayat 8, kita tak ubahnya hanya seperti seseorang yang bingung.
 
“Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” – QS. Adh-Dhuha : 7
 
Pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi diri kita hari ini? Apakah sudah menemukan cahaya di atas cahaya itu dan sudah tertunjuki karenanya? Atau, apakah kita justru dalam keadaan yang sebaliknya, dalam kebingungan dan kegelapan yang entah dimana ujungnya?
 

Jika kita renungkan lebih dalam, tidak ada makhluk hidup di bumi ini yang tidak membutuhkan cahaya. Secara fisik, manusia membutuhkan cahaya matahari agar bisa hidup –begitu pula dengan hewan dan tumbuhan. Tanpa cahaya matahari, mungkin tidak akan ada kehidupan di bumi, sebab cahaya matahari memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup kita. Namun kita boleh jadi lupa, bahwa tidak hanya fisik kita yang membutuhkan cahaya, tetapi juga jiwa kita. Jiwa kita perlu hidup sebagaimana raga yang perlu dirawat dan diberi makan. Jiwa kita juga membutuhkan “makanan” dan sumber kehidupannya sendiri, yaitu cahaya Allah.
 
Tanpa cahaya Allah, seterang apapun dunia melingkupi kita dengan segala yang kita punya, cahaya dunia itu tidak akan pernah cukup untuk menerangi. Ia bahkan masih saja akan membuat kita terlonta-lonta dan kebingungan dalam menapaki banyak hal di depan mata. Pernah melihat (atau bahkan mengalami) seseorang yang memiliki ini dan itu tapi tetap saja hampa yang terasa? Mungkin saja hal itu disebabkan oleh jiwa yang kosong, yang meronta karena membutuhkan “nutrisi” dan dikalahkan oleh rakusnya ambisi.

Memang, dunia ini sungguh menyilaukan. Ada harta, tahta, dan cinta yang bergantian berpendar menarik perhatian kita dan membuat kita lupa bahwa hati dan jiwa kita hanya butuh satu cahaya, yaitu yang berasal dari-Nya. Satu-satunya cahaya yang kita butuhkan hanyalah cahaya Allah, sebab cahaya itulah yang akan menerangi, melingkupi dan juga menunjuki kita pada kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
 
Lalu dimanakah kita bisa menemukan cahaya itu? Mendekatlah kepada sumber cahaya, kepada sang pemilik jiwa kita; Allah. Temukanlah cahaya-Nya, dalam perkenalan-perkenalan kita dengan Allah, dengan kitab-Nya, dengan jalan lurus-Nya, juga dengan diri kita sendiri yang terlahir sebagai hamba-Nya. Sampai hati kita terasa penuh, jiwa kita terasa utuh, benih keimanan dalam diri kita tumbuh hingga tertanam rasa takut kepada Allah, rasa cinta dan bergantung kepada-Nya, serta kerelaan berkorban untuk-Nya.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” – QS. Muhammad: 17


Semoga Allah senantiasa menjaga jiwa kita dan menerangi hidup kita dengan cahaya-Nya sebagai petunjuk dan penerang langkah-langkah kita di dunia hingga selamat sampai ke akhirat. Aamiin.

Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #55 - Bicara Dunia

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Hari demi hari terus berganti, tak terasa sudah Senin lagi. Sadarkah kita bahwa bersamaan dengan bergantinya hari, Allah juga mengurangi jatah waktu kita di dunia? Semoga semakin dewasa, kita semakin siap melepaskan “genggaman” kita pada dunia untuk kemudian kembali kepada-Nya.

Belakangan ini, saat waktu sudah memasuki bulan Agustus, beberapa kali kami melihat pertanyaan kontemplatif di sosial media, katanya, “Delapan bulan berlalu, apa kabar resolusimu?” Ketika membacanya, tak jarang orang menjadi tertegun dan bertanya-tanya, “Hmm, iya ya, apa kabar hidupku selama ini? Apakah aku sedang mendekati tujuanku atau ternyata sebaliknya?” Tapi, ngomong-ngomong tentang resolusi, kami jadi tergelitik untuk membicarakan satu topik yang selalu hits untuk dibicarakan kapan saja: pencapaian.

Selama ini mungkin kita sibuk berhitung tentang banyaknya pencapaian kita di dunia. Cermat sekali membuat target dari tahun ke tahun agar cita-cita dunia kita tercapai. Tentang rencana kuliah, rencana menikah, rencana punya rumah, rencana bisnis, rencana kolaborasi karya, rencana membuat project A, membuat gerakan B, membuat konten C, semuanya kita pikirkan dan kita rencanakan dengan matang. Tapi apakah perjalanan menuju akhirat kita rencanakan seserius itu? Apakah rencana untuk meningkatkan kualitas diri kita di hadapan Allah juga dipersiapkan dan diprogramkan dengan sebaik mungkin? Kebanyakan orang mungkin akan menunduk malu sambil menggeleng lemah menjawab pertanyaan tersebut. Apakah kita juga termasuk di dalamnya? Semoga tidak, ya!

Disadari atau tidak, hari ini banyak orang yang menilai kebahagiaan dirinya dari eksistensi materi semata. Kekayaan harta misalnya. Merasa hebat dan bahagia ketika segala bentuk materi bisa dipamerkan. Atau popularitas, dimana derajat diri kita seakan dilihat dari berapa banyak jumlah followers yang kita miliki, berapa banyak likes yang kita dapatkan dari sebuah postingan kita di media sosial. Atau pasangan dan anak, seakan yang sudah bertemu jodohnya lebih mulia dan jomblo dipandang hina. Yang memiliki anak, merasa keluarga sudah lengkap dan merendahkan perempuan yang lain yang belum dikaruniai keturunan. Parahnya lagi, katanya, hidup kita tidak bahagia dan tidak mulia jika tidak memiliki semua itu. Benarkah?

Memangnya tidak lelah menilai kesuksesan hanya dari yang terlihat di permukaan? Memangnya tidak jengah melihat berbagai manusia yang berusaha memberi makan kepuasan dirinya yang tak pernah habis? Memangnya tidak gerah melihat diri kita sendiri yang sibuk tampil dan berusaha dilirik oleh manusia yang lain? Memangnya tidak kasihan dengan diri sendiri yang menggantungkan kebahagiaan diri pada apresiasi dari orang lain?

Dunia ini tidak akan pernah bisa mengenyangkan kepuasan kita, karena itu kita selalu dirundung kegelisahan bersama dengan setiap pencapaian duniawi yang kita upayakan. Kita merasa harta bisa membuat kita tenang, nyatanya kita malah dirundung kekhawatiran akan kehilangannya. Kita merasa popularitas bisa membuat kita tenteram, nyatanya kita malah dibombardir dengan rasa keharusan untuk membahagiakan semua orang. Kita merasa dengan menikah dan berkeluarga adalah pangkal dari kebahagiaan hidup, nyatanya tantangan dan masalah yang dihadapi lebih banyak dan lebih berat dibanding ketika kita masih hidup sendiri. Lantas apa yang sebenarnya sedang kita cari?

Begitulah, ketika hidup kita hanya didedikasikan untuk materi duniawi serta apresiasi manusia semata, ketenangan justru tidak akan pernah kita dapatkan. So, just look into yourself! Sadari bahwa sejatinya kita adalah seorang hamba. Kita tidak pernah diminta untuk memuaskan diri dengan dunia. Sebaliknya, kita diminta untuk menjadikan dunia sebagai alat, sarana, kendaraan, atau apapun itu kita menyebutnya, agar dunia bisa menghantarkan kita pada keselamatan hidup di akhirat. Bagaimana pun, dunia sementara, akhirat selamanya.

Kami tahu ini tak mudah, kami pun sama berjuangnya sepertimu untuk bisa menggeser fokus dari dunia kepada yang seharusnya. Kita belajar sama-sama, ya!

Your Sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #54 - Merelakanmu, Melepasmu Pergi

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Kami senang sekali bisa berkirim surat denganmu saat masih dalam suasana lebaran Idul Adha seperti ini. Apakah tahun ini kamu berqurban? Jika ya, semoga Allah menerima amalan qurbanmu dan memberkahi harta kau yang keluarkan untuk-Nya. Namun jika kesempatan berqurban belum bisa terlaksana tahun ini, semoga Allah meluaskan hatimu dan melapangkan rezekimu untuk bisa menunaikannya di tahun depan. Sebab berqurban tentu bukan hanya tentang penyembelihan hewan qurban, ada banyak bentuk pengorbanan yang bisa kita lakukan sebagai bentuk pembuktian ketaatan kita kepada Allah.

Gema takbir kemarin malam tentu masih hangat-hangatnya kita dengar, rasanya belum terlambat jika kita ingin menepi sejenak untuk merenungi makna ibadah qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s dan keluarganya. Kita maknai bersama yuk, sister! Stay tune sampai akhir, ya!

Ribuan tahun sebelum hari ini, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim mendapat amanah maha penting dari Allah untuk menyembelih anaknya yang bernama Ismail. Bukan mudah, amanah ini tentu sangat luar biasa, terlebih karena Ismail adalah anak yang kelahirannya pernah ditunggu sangat lama oleh keluarga Nabi Ibrahim. Apakah kemudian Nabi Ibrahim menolak? Tidak, beliau tetap menjalankan amanah itu dengan penuh ketaatan dan kerelaan kepada Allah. Begitu pula dengan Ismail, ketika mengetahui bahwa ia akan disembelih dan itu adalah perintah dari Allah, ia pun dengan penuh ketaatan dan kerelaan mempersilahkan ayahnya untuk melaksanakannya.

Hmm, kalau saja itu terjadi pada kita, mungkin kita sudah melakukan berbagai upaya unjuk rasa agar Allah tidak memberikan amanah yang tidak masuk akal itu kepada kita, “Ya Allah, masa sih? Ini yang bener aja, dong!” Hehe. Ah, namanya juga kita, kualitas iman kita recehnya luar biasa! Mana mungkin bisa tahan dengan ujian sehebat yang diberikan Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim. Terus, di momen penting di bulan Dzulhijjah ini, apa yang bisa kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita kepada Allah seperti yang pernah dilakukan oleh keluarga Nabi Ibrahim?

Kita tahu bahwa hari ini perintah untuk menyembelih anak sendiri itu tentu sudah tidak ada lagi. Tidak akan terdengar lagi seorang ayah yang akan menyembelih anaknya dan mengaku bahwa itu perintah Allah. Tapi, apakah saat ini kita bisa memastikan bahwa di hati kita, termasuk juga di ruang-ruang terdalamnya, sudah terbebas dari ‘Ismail-Ismail’ yang membelenggu keseharian kita? Jangan bercanda, tentu saja tidak bisa!

Coba ingat-ingat lagi! Keengganan untuk berqurban kemarin-kemarin karena takut rezeki berkurang dan lupa bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, apakah itu bukan ‘Ismail’?

Kekhawatiran akan urusan-urusan dunia dan lupa bahwa Allah yang Maha Mengatur segalanya, apakah itu bukan ‘Ismail’?

Rasa iri dan dengki saat melihat update kehidupan orang lain yang mereka kabarkan di media sosial, lalu mulai membandingkan dengan diri sendiri, apakah itu bukan ‘Ismail’?

Khawatir meninggalkan gaya hidup yang lama setelah berita tentang kebenaran itu hadir, apakah itu bukan ‘Ismail’?

Dan bahkan, perasaan-perasaan yang tak jelas namanya, yang terpaut pada seseorang yang juga tidak jelas peranannya di dalam hidup kita, apakah itu tidak layak disebut ‘Ismail’?
 

Jika kita telusuri lagi dan lagi, akan ada sederet ‘Ismail’ yang kita temukan di kedalaman hati kita. Keangkuhanlah yang mungkin membuat kita tidak menyadarinya. Untuk kembali menjalani hidup di jalan keselamatan, kita tentu tidak punya cara lain selain ‘menyembelihnya’ bukan? Maka, di hari yang berbahagia ini, semoga tidak ada lagi keengganan di lisan dan hati kita untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya.

Lepaskan, tinggalkan, dan kembalikanlah segala urusan kepada Allah; sibukkan diri dengan ilmu dan amal; serta berbetahlah dalam duduk bersama-sama dengan orang shalih(ah) yang dengannyalah kita dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dengan begitu, semoga Allah mampukan kita untuk menyelamatkan diri dari ‘Ismail-Ismail’ yang ada di dalam hati. Selamat lebaran, sister!

Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Senin, 12 Agustus 2019

Monday Love Letter #53 - Allah, Maaf Aku Tak Tahu Diri

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa dalam keadaan baik dengan hati yang selalu terpaut pada Allah, ya! Oh iya, listrik di rumahmu sore ini sudah menyala, kah?

Seperti yang kita semua tahu, ada rentetan kejadian yang cukup mengejutkan yang terjadi akhir-akhir ini. Jumat lalu, kita semua dikagetkan oleh gempa yang terjadi di sekitar Banten yang getarannya cukup terasa hingga ke beberapa kota di sekitarnya, termasuk Bandung. Lalu kemarin, beberapa kota di Jawa Barat mengalami mati listrik secara serentak dalam waktu yang cukup lama sehingga kita cukup kewalahan dibuatnya.

Kamu juga mungkin menyaksikan baik secara langsung maupun di media sosial, orang-orang "ribut" membicarakan hingga mengeluhkannya. Jika kita renungi bersama, Allah pasti menyimpan banyak hikmah di baliknya. Salah satunya, mungkin karena Allah ingin membuat kita menyadari suatu fakta bahwa diri kita ini memang lemah dan selalu butuh untuk bergantung pada sesuatu.

Kejadian mati listrik kemarin cukup membuat kita mati gaya, bukan? Beberapa aktivitas pun terhambat sebab banyak diantara keperluan kita yang membutuhkan listrik. Baru satu nikmat yang Allah cabut, kita sudah serepot itu. Bagaimana jika Allah juga memutus curahan nikmat kita yang lain? Selemah itu manusia jika tidak "diurus" oleh penciptanya.

Guncangan gempa kemarin juga cukup membuat beberapa wilayah panik dan berlarian keluar dari rumahnya. Di saat seperti itu, bisa bergantung pada siapa lagi manusia-manusia yang lemah ini selain kepada Allah? Mulut yang jarang berdzikir pun tiba-tiba menyebut nama Allah, dosa yang biasanya diabaikan tiba-tiba ditangisi, doa-doa dilangitkan meminta keselamatan diri. Di saat seperti itu baru kita merasa diri ini lemah dan kembali ingat pada status kehambaan kita. Alhamdulillah Allah masih menjaga, bisakah kita bayangkan jika Allah mencabut perlindungan-Nya untuk kita? Di titik ini, semoga kita semua sudah cukup menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan kepada kita begitu banyak nikmat dan karunia yang tak terhingga nilainya. Maka tak ada kekuatan dan kemampuan selain dari Allah.

Kita butuh bergantung kepada-Nya. Tapi, haruskah kita ditegur dulu agar kembali pulang kepada-Nya? Haruskah kita diguncang dulu agar kembali mengingat kemahaan-Nya? Haruskah kita dicoba dan diuji dulu untuk kembali menyebut nama-Nya?

Kalau ada cinta yang bertepuk sebelah tangan, mungkin itu adalah cinta antara Allah dan kita. Allahnya cinta, kitanya sebaliknya. Coba kita ingat, pernahkah Allah memberhentikan aliran rezeki-Nya meski kita bolong-bolong shalatnya? Pernahkah Allah mengurangi kadar oksigen yang menjadi kebutuhan kita meski kita lupa bersyukur kepada-Nya? Pernahkah Allah “cuti” mengurus hidup kita meski kita sedang tak punya alasan untuk mengingat-Nya? Tidak. Maha Baik Allah, Dia tidak pernah melakukan itu semua.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” – Adz-Dzariyat : 56-58

Allah tidak butuh kita, tapi kita butuh Allah. Allah tidak pernah meninggalkan kita, tapi kita sering meninggalkan Allah. Allah senantiasa mengurus dan mencintai kita, tapi kita senantiasa melakukan yang sebaliknya.

Belum terlambat, kita masih bisa memperbaiki semuanya. Semoga kejadian dan bencana yang sedang terjadi di negeri ini bisa mendorong kita untuk menjadi hamba yang tahu diri, yang mendahulukan hak-Nya daripada hak diri kita sendiri.

Your sister of Deen,
Husna Hanifah & Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #52 - Dimanakah Tepi Dari Kehebatanmu?

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! 


Hari ini Bandung masih dingin dan berangin, bagaimana dengan kotamu? Apapun cuaca yang melingkupi harimu, semoga tak menghentikan semangatmu untuk tetap melaksanakan semua amanah dengan baik, ya! Oh iya, ada kabar terbaru nih dari Sister of Deen, kami semakin berbahagia melanjutkan proses dan progress buku(-buku) kami. Semoga bisa sampai di tanganmu tepat pada waktu-Nya. Mohon doanya.

Ok, back to our weekly habit, hari ini kami punya cerita seru untukmu…

Sebelumnya, pernah enggak sih kamu merasa aman dan terjamin karena hal-hal yang melekat pada dirimu seperti misalnya kecerdasanmu dalam menuntut ilmu, karena harta milikmu atau milik orangtuamu, karena keberadaan pasangan hidup dan anak-anakmu, karena keluargamu terpandang di masyarakat, atau mungkin juga karena popularitas atau status sosial yang kamu punya? Kalau jawaban spontanmu adalah tidak, coba perhatikan monolog-monolog berikut ini:

“Ah, aku kan pinter ini, skripsi doang mah kecil. Tenang aja, cumlaude pasti gampang diraih.”

“Ngapain pusing, sih? Mama dan Papa kan punya banyak uang, aku pasti enggak harus berusaha sekeras orang lain hanya untuk dapat pekerjaan.”

“Aku kan cantik, laki-laki manapun yang aku suka pasti mau menikah denganku.”

“Mohon maaf ya, bisnisku kan sukses. Aku mah enggak khawatir tuh sama masa depan.”

“Aku punya banyak teman. Butuh bantuan apapun tinggal telepon. Tenang aja!”

Pernahkah hal ini terlintas di benakmu? Permukaan logika dan hatimu mungkin berkata tidak. Tapi, jika ini benar-benar kamu tanyakan pada hati kecilmu, apakah kamu mengakui bahwa kamu pernah bersandar pada hal-hal semacam itu? Sudah bukan rahasia lagi bahwa kita telah banyak mendengar orang-orang yang merasa hidupnya hampa padahal mereka seolah sudah memiliki semuanya: tingkat pendidikan yang tinggi, kekuasaan, power, popularitas, harta benda, dst. Lantas, apa yang membuat kehampaan itu ada?


Sekarang, bayangkan tentang seorang pilot yang hebat dan terlatih. Skill menerbangkan pesawatnya sudah tak usah kamu ragukan lagi. Begitupun dengan pesawat yang dibawanya, bermesin kelas premium dengan avtur terbaik. Banyak orang yang sudah menunggu dan mau membayar mahal untuk bisa pergi dengan pesawat itu bersama si pilot kebanggan. Tapi sayangnya, ternyata pilot itu tak punya landasan. Tak ada bandara manapun yang mau menerimanya untuk mendarat. Dia tak punya tempat. Kalaupun ia terbang dengan membawa seluruh kehebatan yang dimilikinya, ia akan hanya berputar-putar di udara sebab tak bisa mendarat. Ujung-ujungnya apa? Mungkin pesawat itu dan seluruh penumpang di dalamnya, termasuk juga pilot tadi, akan celaka. Entah terjun di laut, terhempas ke hutan, atau jatuh di dataran yang tak tertebak dimana letaknya.

Hmm … jika kita tarik analogi ini pada diri, mungkin sebab kehampaan itu ada meski kita memiliki semuanya adalah itu; kita tidak punya landasan tempat mendarat, tidak ada tempat bergantung, tidak tahu siapa tempat pulang. Bukankah begitu?

Apalah artinya kecantikan, kecerdasan, kekayaan, kemapanan hidup, kekuasaan, popularitas dan penghargaan jika tanpa keimanan? Sebab tanpa iman, hanya hampa dan resah yang kita rasa. Sebab jika tak bergantung pada-Nya, jatuh dan terpuruk hanyalah masalah waktu.

Ingatkah kita bahwa Allah ialah Dzat yang Maha Mengadakan dan Meniadakan? Amat mudah bagi Allah untuk mengambil kembali segala yang kita miliki dan membuatnya menjadi seakan tak berharga lagi. Lantas, jika segala hal duniawi yang melekat pada diri telah diambil kembali oleh-Nya, masihkah kita punya “nilai” di hadapan Allah? Ya, setidakberharga itulah diri kita di mata Allah jika tanpa iman.

Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari ketergantungan terhadap selain Allah?

Satu hal yang utama, ada hal yang perlu kita sadari bahwa yang namanya makhluk itu pasti butuh tempat bersandar dan bergantung. Tidak ada satupun ciptaan Allah yang tidak bersandar pada sesuatu. Satu-satunya yang mampu untuk berdiri sendiri ya hanya Allah saja, seperti salah satu sifat-Nya yaitu qiyamuhu binafsihi. Maka, ketika kita menyandarkan diri kita kepada selain Allah, sama halnya seperti kita bersandar pada dahan yang rapuh. Mudah sekali untuk terjatuh. Lalu ketika kita terjatuh, apakah kita menyalahkan dahan rapuh tersebut? Tentu saja kita yang salah, sudah tahu dahan tersebut rapuh, masih saja digunakan untuk bersandar.

Begitupula dengan hidup, tak ada satupun hal yang bisa kita jadikan tempat bersandar selain Allah. Tak bisa kita bergantung kepada selain Allah. Jikapun bisa, tunggulah waktunya, cepat atau lambat hanya rasa kecewa yang akan kita dapatkan.

Yuk, mulai belajar untuk melepaskan kebergantungan kita kepada selain-Nya. Sebab, tanpa bersandar kepada-Nya, sejatinya kita hanya sedang bersandar di dahan-dahan yang rapuh. Baarakallahu fiik.

Your sister of Deen,
Novie Ocktaviane Mufti dan Husna Hanifah

Monday Love Letter #51 - Racun Di Balik Rutinitas

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Bagaimana kabarmu di hari Senin ini? Tidak terasa ya, sudah Senin lagi. Setelah berjibaku dengan beragam aktivitas dan rutinitas pekan lalu, yang bahkan mungkin weekend-mu juga terasa sibuk, pada akhirnya kita memulai kembali segala aktivitas itu di awal pekan. Alhamdulillah, Allah masih memberikan waktu dan kesempatan untuk kita meraup sebanyak-banyak amal sholeh di dunia. Semoga rutinitas tidak hanya sekedar menjadi rutinitas, namun tetap dijiwai dan diselipkan niat karena Allah didalamnya.

Memang sih, rutinitas itu terkadang menjadi racun. Saking seringnya dilakukan dan terus berulang, tak jarang di tengah jalan sebagian dari kita mulai kehilangan maknanya. Racun ini bisa jadi menyerang disetiap peran yang kita emban baik itu menjadi mahasiswa, karyawan, owner bisnis, freelancer, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Padahal setiap peran memiliki peluang ibadah, namun karena kita terjebak dengan rutinitas, peran-peran tersebut menjadi sebatas kewajiban yang harus tunai saja. Hilang makna inilah yang seringkali membuat hati kita hampa dan lelah karena tak lagi menyertakan Allah didalamnya. Duuh, ngeri ya. Ini perkara serius loh, sebuah hadits menyebutkan bahwa amal itu tergantung niatnya. Takutnya kita sudah capek-capek bekerja, tapi karena tidak diniatkan karena dan untuk Allah, semua lelah itu menjadi sia-sia di hadapan Allah. Duarr! Sakitnya tuh disiniii. *nunjuk dada sambil meringis

Karenanya, penting sekali bagi kita untuk mengambil jeda atau sering-sering menengok kedalam hati, masihkah ada Allah disana?

Jangan-jangan niat kita sudah berbelok tanpa sadar. Jangan- jangan di hati kita, posisi Allah sedikit demi sedikit mulai bergeser dan tergantikan dengan ambisi pribadi. Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan dan perlu untuk segera diluruskan.


Ya ya, kami tahu, nasihat 'luruskan niat' adalah nasihat yang mungkin sangaaat sering kamu dengar. Tapi jika nasihat itu berulang-ulang disampaikan di kesempatan yang berbeda dan mungkin juga kamu sering mendengar dari orang yang berbeda, itu artinya meluruskan niat memang sepenting itu. Bahkan di dalam Al-Quran pun, tak jarang kita menemui ayat-ayat yang sering diulang -saking pentingnya. Dan mungkin karena Allah juga tahu betul bahwa makhluknya yang bernama manusia ini sering lupa sehingga perlu terus diingatkan. Huhuhu, maafkan kami ya Allah.

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tentang pentingnya niat ini, kami pernah mendengar cerita tentang sebuah analogi. Bayangkan di sebuah gelanggang olahraga diadakan turnamen lari. Setiap peserta yang ikut pada turnamen tersebut mendaftar terlebih dahulu kepada panitia sehingga namanya terdaftar dalam administrasi dan mendapatkan nomor punggung untuk berlari. Tak lama kemudian, ada seseorang yang suka sekali berlari. Ketika melihat turnamen itu ia langsung masuk ke track lari dan berlari bersama peserta-peserta tadi tanpa mendaftar, tanpa punya nomor punggung. Di putaran terakhir, kecepatannya ternyata mampu mengalahkan seluruh peserta lainnya hingga ia berteriak, “Yes! Aku juaranya.” Ia pun meminta hadiah kepada panitia, tapi kemudian panitia menolaknya. Tentu saja, bagaimana bisa ia mendapat hadiah sementara ia tidak terdaftar sebagai peserta?

Tidakkah cerita ini serupa dengan kita? Berkata bahwa aktivitas kita lillah, tapi lupa menyertakan Allah dan niat beribadah kepada-Nya saat melakukannya. Berkata inginkan syurga, tapi lengah dalam proses mencapainya. Berkata ingin mengejar ridhonya Allah, tapi melupa Allah dalam dalam perjalanannya.

Tahukah kamu mengapa ketika kita shalat, setiap kali kita ganti gerakan, kita selalu mengucap Allahu akbar? Karena sejatinya, dalam setiap apapun yang kita lakukan, tak ada yang lain yang menjadi tujuan selain mengakbarkan Allah, melaksanakan tugas ibadah dan tugas kehambaan kepada-Nya, dan mengejar apa yang menjadi ridho-Nya.

Berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan mari kita perbaiki niat kita. Semoga Allah memudahkan setiap aktivitas kita yang ada nama-Nya di dalamnya. Baarakallahu fiik,

Your sisters of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Senin, 15 Juli 2019

Monday Love Letter #50 - Aku Boleh Gagal, Tapi...

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah akhirnya Allah mengizinkan kita untuk kembali bertemu hari Senin dengan Love Letter yang berbeda. Sudah baca e-mail dari kami Jum’at lalu, kan? Hadirnya satu lagi hari Senin untuk kita seolah memberi kita sebuah pembelajaran bahwa jika satu hari baru datang berarti kesempatan kita untuk beramal dan berjuang diperpanjang. Besok? Entahlah apakah waktu dan kesempatan masih menjadi milik kita atau tidak. Satu hal yang terpenting, hari ini harus lebih baik dari kemarin, meski segagal apapun hari-hari yang sudah kita lewati.

Bicara tentang gagal, sepertinya hal ini sedang menjadi perbincangan menarik di kalangan teman-teman yang saat ini sedang berjuang untuk kuliah (lagi). Beberapa adik-adik kami bahkan bercerita bahwa pengumuman kelulusan, entah itu dari ujian masuk perguruan tinggi ataupun kelulusan menjadi penerima beasiswa, membuat pacuan adrenalin menjadi tinggi, terutama saat mendekati waktu pengumuman itu tiba. Masalahnya satu: takut gagal, takut perjuangan yang selama ini dilakukan tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Apakah kamu sedang sama ketar-ketirnya seperti adik-adik kami?

Kalau kita melihat hidup dalam perspektif yang lebih luas, sebenarnya masalah gagal ini tak hanya melulu tentang sekolah atau pendidikan. Banyak sekali kegagalan yang pernah menjadi episode tertentu dalam hidup kita, yang beberapa diantaranya meninggalkan luka yang masih kita rawat sampai sekarang. Ada yang berjuang melamar sebuah perusahaan besar dan sudah sampai pada tahap wawancara, ternyata gagal. Ada yang sudah belajar dan berjuang mati-matian untuk membangun bisnis, ternyata tak sesuai kebutuhan pasar, akhirnya gagal. Ada yang sudah mengincar seseorang untuk dijadikannya pendamping hidup, ternyata tak sampai harapannya karena ia menikah dengan orang lain, katanya itu juga namanya gagal. Ada yang dengan penuh semangat membuat masakan untuk anggota keluarga, eh tapi lupa menanak nasi saat waktu masak tiba, gagal juga.

Hmm, coba deh kita absen kegagalan-kegagalan lain yang mungkin pernah kita atau orang di sekitar kita alami, pasti banyak, kan? Banyak sekali! Tak hanya itu, perasaan gagal ini juga ternyata bisa muncul di berbagai lini peran yang kita emban. Ada yang merasa gagal sebagai anak, isteri, ibu, nenek, guru, kakak, dan seterusnya. Sebab, tak semua standar yang kata kebanyakan orang baik bisa kita penuhi, bukan?

Sebelum kita lanjutkan lagi, coba deh kamu pikir-pikir, kegagalan apa yang pernah terjadi dalam hidupmu yang kamu persepsikan sebagai suatu kegagalan terbesar? Bagaimana kegagalan itu membentukmu menjadi dirimu yang lebih baik di hari ini?
 

Kalau kita pikir lagi, siapa sih manusia yang tidak pernah gagal dalam hidup ini? Gagal itu sebenarnya adalah hal yang biasa dalam hidup. Bertumbuhnya kita hari ini, suksesnya kita hari ini, pasti ada andil kegagalan didalamnya. Kaki yang bisa berlari hari ini, dulu pernah jatuh berkali-kali saat kita masih belajar berjalan. Tangan yang lihai memasak, pasti pernah teriris pisau atau terkena panas api dalam proses belajarnya. Kegagalan merupakan suatu proses alamiah yang akan senantiasa menemani setiap proses kita menuju keberhasilan.

Unfortunately, some people can’t deal with their failure. Bahasa milenialnya, banyak yang susahmove on dari kegagalan-kegagalan mereka. Ketika gagal, dunia seakan runtuh dan membuatnya takut untuk mencoba lagi. Ketika gagal, impiannya ikut jatuh bersama dengan kepercayaan dirinya. Kamu pernah begitu juga? Bagaimana caramu mengatasinya?

Eh tapi, tunggu deh, jika semua hal perlu didefiniskan berdasarkan apa kata Allah, apakah kegagalan yang kita alami itu adalah sebenar-benar kegagalan? Apakah dalam kamus Allah ada kata gagal? Jangan-jangan apa yang sedang kita ratapi saat ini hanya perkara kecil saja di mata Allah. Hemm..
 
“.. Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
–QS. Az-Zumar (39) : 15
 
Di mata Allah, kegagalan yang sebenarnya adalah ketika kita tidak mampu menuntun dan memimpin diri kita hingga ke syurga. Kerugian yang paling besar adalah ketika kita melakukan hal-hal yang dimurkai Allah sehingga menyebabkan kita jatuh ke jurang neraka. Malapetaka yang paling berbahaya adalah ketika kita mendustakan hari pertemuan dengan Allah dan lupa akan Hari Pertanggungjawaban. Sungguh, tidak ada kemalangan yang lebih besar dibanding semua itu.

Maka, jika kegagalan kecilmu hari ini membawamu kembali kepada Allah, membuatmu menyadari kebutuhanmu bergantung kepada Allah, dan menjadikan dirimu semakin taat dan mendekat kepada Allah, itu bukan merupakan suatu kegagalan. Justru itu adalah suatu keberhasilan yang besar! Berbahagialah dengan semua ujian kegagalan yang Allah berikan jika karenanya kamu bisa menemukan kembali jalan menuju Allah dan mengokohkan iman. Rayakanlah cintamu bersama-Nya sebab berkat kegagalan-kegagalan kecil itulah Allah menjaga imanmu dan mengajarkan makna sabar dan syukur yang kita sering lupa.

Yuk bangkit! Sebab ada kesuksesan hakiki yang perlu kita kejar, yaitu syurga dan keridhaan-Nya..

Your sister of Deen,
Novie dan Husna

Senin, 08 Juli 2019

Monday Love Letter #49 - Sebuah Jeda di Pertengahan Tahun

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Sudah bersyukur hari ini? Bersyukur dulu banyak-banyak yuk, sebelum mata ini terpejam hingga lelap. Selelah apapun harimu, semoga selalu ada tempat di hati untuk merenda syukur kepada Allah.

Alhamdulillah kita sudah sampai di pertengahan tahun 2019, apakah kamu termasuk yang membuat resolusi di awal tahun? Banyak yang bilang, pertengahan tahun merupakan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri selama 6 bulan ke belakang, seperti menghitung persentase ketercapaian tujuan kita, memperbaiki cara yang kurang efektif, serta membuat strategi baru yang lebih segar untuk mengejar target-target kedepannya.

Dan tentunya yang tak kalah penting adalah meluruskan niat; apakah Allah suka terhadap apa yang saya upayakan selama ini? Apakah niatku masih lurus karena Allah? Perkara meluruskan niat ini tentu saja sangat penting, kita tentu nggak mau dong kalau ternyata lelah kita tidak bernilai di hadapan Allah? Maka perlu dipastikan agar semua aktivitas kita adalah karena dan untuk Allah. Tetap semangat ya sister untuk menyambut hari-hari ke depan! Semoga Allah masih memberikan jatah usia agar kita bisa mengukir karya dan manfaat yang lebih banyak, lebih panjang dan lebih luas dalam hidup kita. :)

Tapi tahukah kamu? Dalam perhitungan kalender Hijriah, justru kita sedang mendekati akhir tahun dikarenakan saat ini kita sudah memasuki awal bulan Dzulqa'dah yang mana adalah bulan ke-11 dalam bulan Hijriah. Setelah itu, datanglah bulan Dzulhijjah sebagai penutup tahun yang sungguh istimewa karena ada 2 momen penting di bulan itu, yaitu pelaksanaan ibadah haji dan perintah untuk berqurban sebagai sebuah simbol pengorbanan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Sister, jika kamu mendengar kata pengorbanan, apa yang terpikir? Kalau saya, refleks akan menjawab bahwa pengorbanan adalah bukti dari cinta. Dalam konteks ini, tentu saja cinta kepada Yang Menciptakan kita, Allah. Bulan Dzulhijjah merupakan bulan dimana Allah melatih dan meminta pengorbanan terbaik kita di akhir penghujung tahun. Allah ingin melihat mana diantara hamba-Nya yang mencintai-Nya dan rela berkorban untuk-Nya.

Melalui perintah qurban, Allah ingin mengajarkan kita untuk belajar melepaskan kecintaan kita terhadap harta serta menyembelih rasa kepemilikan kita terhadap titipan-Nya karena pada hakikatnya semua adalah miliknya Allah. Dengan perintah qurban pula, kita dibelajarkan untuk mengingat dan mengembalikan hakikat diri kita sebagai seorang hamba Allah.

Ibadah haji apalagi, haji meminta semuanya darimu: mengeluarkan harta yang tidak sedikit; pergi jauh dan meninggalkan keluarga; meninggalkan pekerjaan dan perniagaan dengan manusia; menanggalkan jabatan, tahta dan status sosial, bahkan menuntut ketahanan fisikmu dalam setiap rukunnya. Semuanya mesti dilepas, ditinggalkan dan dikorbankan demi memenuhi perintah Dia yang kita ibadahi. Apa yang bisa membuat kita rela berkorban setotalitas itu selain keimanan dan kecintaan kepada-Nya?

Bulan Dzulhijjah memang masih 3 minggu lagi. Namun saya ingin mengajakmu untuk mulai berlatih "ber-qurban" sejak hari ini sebelum Allah benar-benar meminta qurban kita yang sebenarnya. Lepaskan sejak sekarang, hal-hal yang sekiranya menutupi dan memberatkan pengorbanan kita kepada Allah. Berlatihlah untuk meninggalkan serta menanggalkan segala kepemilikan dan kecintaan kita yang menjadi penghalang atas bertahtanya Allah di hati kita.

Ingat, kita ini hamba-Nya Allah, dan Allah ingin kita hanya jadi hamba-Nya. Selamat berlatih!

Dariku yang juga masih berlatih,
Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 01 Juli 2019

Monday Love Letter #48 - Bersama-Mu Aku Hebat

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Apa kabarnya? Semoga selalu baik-baik saja ya. Selama hati kita senantiasa terkoneksi dengan Allah semua akan selalu baik-baik saja kok. Nah, hal itulah yang akan saya bahas di Love Letter kali ini karena saya juga baru mendapat sebuah insight yang mungkin bisa jadi hikmah kita bersama :)

Pasti kita semua tidak asing dengan surat Al-Ikhlas ya kan? Biasanya sih surat ini sering jadi andalan untuk dibaca ketika sholat ya karena pendek hihihi. Tapi tahukah kita bahwa jika diresapi, surat yang berjumlah 4 ayat ini sangat dalam maknanya. Sebuah surat yang menjadi pengingat dan peringatan bahwa Allah hanya ingin dijadikan satu-satunya.

Namun tentu saja di surat kali ini saya tidak akan membahasnya secara detail apalagi sampai dirinci kandungan ayat per ayatnya karena pasti akan sangat panjang sekali. Saya hanya ingin mencoba berbagi hikmah dan makna dari ayat terakhir dari surat Al-Ikhlas.

Wa lam yakullahu kufuwan ahad.
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Pasti kita sangat familiar dengan ayat tersebut bukan? Bahkan jika diminta menterjemahkannya pun mungkin kita sudah hafal di luar kepala. Dalam kalimat tersebut ada kata 'kufu' yang berarti setara. Yang setara sama Allah saja tidak ada ya, apalagi menandingi. Ini menunjukkan bahwa level Allah dengan makhluk-Nya itu beda dan tidak bisa bahkan tidak mungkin disamakan. Ayat ini mempertegas keunggulan dan keMahaBesaran Allah.

Seorang guru pernah berkata kepada saya, "Ayat terakhir ini memberitahukan bahwa Allah yang Maha Unggul sehingga hanya Allah yang patut kita unggulkan. Karena itu, hanya Allah saja yang patut kita sembah, kita cintai, kita jadikan tujuan bahkan kita jadikan sumber ketenangan."

Allah sumber ketenangan. Kalimat itu terus terngiang dalam pikiran saya. Memang betul sih Allah itu sumber ketenangan, tapi bagaimana hubungannya dengan ayat terakhir Al-Ikhlas ini? Mari kita jawab dengan menggunakan perumpamaan. Jika kita mengikuti sebuah perlombaan memasak dan ditemani oleh seorang master chef, kira-kira kita jadi percaya diri nggak? Walaupun kita tidak jago memasak tapi jika dipasangkan dengan seseorang yang jago memasak, bukankah kita akan jadi lebih tenang dan percaya diri?

Contoh lain, jika kita butuh servis mobil pasti kita akan datang kepada seorang teknisi. Apakah kemudian kita merasa khawatir ketika teknisi tersebut memeriksa atau membongkar mesin kendaraan kita? Tentu tidak kan, karena kita tahu bahwa dia ahli dalam urusan servis.

Begitupun dalam hidup. Jika kita yakin bahwa kita dibersamai oleh Allah yang Maha Unggul, bukankah hati kita akan senantiasa diliputi ketenangan? Bukankah seharusnya kita menjadi lebih percaya diri dan lebih kuat dalam menjalani ujian-ujian kehidupan?

Lihat saja Nabi Muhammad SAW yang berani dicaci dan diserang oleh kafir Quraisy, apakah beliau gentar? Tidak sama sekali. Atau Bilal, dapat kekuatan darimana sehingga ia mampu bertahan dalam siksaan yang hampir saja merenggut nyawanya? Khadijah dan Fatimah r.a pun tak kenal lelah dalam membersamai dakwah Rasulullah SAW walaupun berat namun tetap mereka jalani. Darimana kesabaran, kekuatan, dan keberanian itu mereka dapatkan jika bukan dari keyakinan kepada Allah?

Saya jadi merenung, jangan-jangan sebab dari lemahnya jiwa, rapuhnya hati, mudah putus asa, minder, pesimis, khawatir berlebihan dan emosi negatif lainnya adalah karena kita tidak yakin bahwa kita ini dibersamai oleh Dzat Yang Maha Unggul, Yang Maha Besar, Yang Maha Hebat. Jika kita yakin Allah selalu membersamai kita, segala kekhawatiran pasti akan sirna dan berganti dengan ketenangan. Kita pasti akan merasa hebat, kuat, berani dan percaya diri dalam menghadapi bukit-bukit terjal yang kita temui di setiap episode kehidupan kita. Bukan karena kita yang hebat, melainkan karena kita dibersamai oleh Allah Yang Hebat, yang menjadi sumber kekuatan dan ketenangan.

Semoga sepetik hikmah ini bisa kita pegang erat-erat, diyakini didalam hati dan dihujamkan kedalam jiwa agar senantiasa mengunggulkan Allah. Bersama-Nya, kita akan selalu baik-baik saja. Bersama-Nya kita akan menjadi lebih kuat, lebih hebat.

Sister, jika kamu punya sudut pandang yang lain dalam memetik hikmah dari surat Al-Ikhlas, jangan sungkan untuk berbagi ya! I'd love to read it <3

Senin, 24 Juni 2019

Monday Love Letter #47 - Sabarmu Akan Diuji

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Saya menebak, surat ini akan sampai di emailmu mendekati tengah malam, hiks. Maafkan ya, saya baru sampai rumah jam 9 malam dan baru menulis sesampainya di rumah. Tapi diam-diam saya merasa bersyukur bisa Allah mampukan untuk menulis surat di setiap Senin, karenanya saya jadi dituntut untuk lebih peka dalam menangkap hikmah, alhamdulillah. Terima kasih ya sister, sudah menjadi pembaca setia Monday Love Letter. Jika kamu merasa surat-surat dari kami bermanfaat, silakan forward dan beri tahu teman-temanmu, ya! :)

Di perjalanan pulang tadi, tiba-tiba saya teringat pada sebuah potongan ayat dari QS. 17:11 yaitu "Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa" yang kemudian menjadi inspirasi judul Monday Love Letter hari ini. Hmm, tapi memang benar kan? Kita ini sering sekali inginnya serba cepat. Apalagi jika sedang memiliki keinginan, pasti maunya terwujud secepatnya, saat itu juga.

"Kenapa sih kok skripsiku nggak beres-beres, aku kan ingin cepet luluuus..!"
"Udah lamar pekerjaan sana sini tapi ditolak mulu, aku tuh ingin cepet kerjaaa"
"Kapan sih aku bisa naik gaji, aku kan pengen cepet kaya."

"Kok jodohku belum datang juga ya, aku kan udah mau nikaaaaahh!"

"Ya Allah, aku udah ikhtiar ini itu biar punya anak tapi kok belum dikasih juga.."

"Mulut aku tuh udah sampe berbusa tau ngingetin dan nasehatin dia, kok dia nggak berubah juga sih!"

"Astagfirullah.. Kok gagal lagi gagal lagiiii?? Kapan berhasilnyaaa??!"


Merasa familiar dengan monolog di atas? Hehe. Ngeri juga ya manusia kalau sifat tergesa-gesanya sedang keluar. Kayaknya rungsing gitu ya hidupnya, sibuk mikirin hasil yang lama-kelamaan bisa berdampak pada kestabilan emosi dan jiwanya. Padahal mungkin kita sudah paham bahwa semua butuh proses. Tapi ya gitu deh, tetep aja inginnya segera terwujud. Huft~

Satu hal yang saya pelajari dari sabar adalah tentang ketundukan kita pada Allah. Dengan memberi penundaan dan memperpanjang waktu kita untuk bersabar, sebetulnya Allah sedang mengajarkan kita agar tunduk setunduk-tunduknya kepada Allah. Sadar nggak sih, ketika kita tidak sabar, tanpa sadar kita sedang menuhankan ikhtiar kita? Tidak sabarnya kita adalah bukti bahwa sebetulnya diri ini belum sepenuhnya ikhlas dalam upaya atau perjuangan kita sehingga meminta hasilnya diberikan saat itu juga.

Mungkin Allah memang sengaja mengulur waktu lebih lama agar kita pertama-tama tunduk pada ketetapan-Nya. Mungkin Allah memang sengaja menyuruh kita untuk berupaya sedikit lebih keras agar terasa oleh kita bahwa kita ini lemah dan amat butuh pertolongan-Nya. Bukankah kita sudah banyak mendengar kisah tentang mereka yang Allah beri pertolongan, justru ketika ia merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah?

Nabi Ayyub a.s diuji dengan kehilangan harta dan keluarga, juga diberi penyakit yang membuatnya harus terusir dari tempat tinggalnya. Namun berkat kesabarannya dalam ujian yang Allah beri, Allah sembuhkan penyakitnya dan Allah ganti harta dan anak-anaknya lebih banyak lagi.

Nabi Yunus a.s diuji dengan kaumnya yang tak juga menerima dakwahnya hingga ia meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Namun Allah tegur dengan kejadian demi kejadian hingga ia terdampar dalam perut ikan paus yang gelap hingga menjadikannya tunduk dalam taubat dan kembali pada Allah. Setelah Allah selamatkan, ia pun kembali kepada kaumnya dan mendapati kaumnya telah berubah dan menerima dakwahnya.

Tentunya masih banyak lagi kisah pada Nabi dan para sahabat yang Allah uji dalam sabarnya. Semua ujian kesabaran itu Allah hadirkan tidak lain untuk mensucikan hati dan jiwa agar hanya ada Allah saja didalamnya.

Jika sabarmu tak Allah uji, mampukah hatimu bersih dari niat-niat selain Allah? Jika sabarmu tak Allah uji, mampukah jiwamu tunduk dan merendah pada Allah? Maka bergembiralah dengan ujian sabar yang sedang Allah hadirkan, itu berarti Allah masih sayang kepada kita karena sedang memberi kesempatan untuk kita membersihkan jiwa dari selain-Nya dan meluruskan orientasi pikir hanya kepada-Nya.

Jangan lelah dilatih Allah untuk sabar ya :)
Sabar dalam apa? Dalam ketaatan kepada-Nya dan dalam berjuang di jalan-Nya.

Senin, 17 Juni 2019

Monday Love Letter #46 - Ketika Kamu Merasa Ingin Berhenti


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana kabarmu hari ini? Saya harap hatimu sedang dalam keadaan baik, perasaanmu dalam keadaan positif dan senantiasa terpaut pada Allah. Walaupun perasaanmu hancur, ingatlah ada satu yang tak boleh hancur, yaitu keimananmu. :)

Apakah saat ini kamu sedang memperjuangkan sesuatu? Atau sedang menantikan hal yang baik agar lekas terjadi? Pasti adakalanya kita merasa lelah atau jenuh ya. Apalagi jika "garis finish"nya belum juga terlihat dan kita masih merasa hidup disini-sini aja. Di saat seperti ini, rawan sekali untuk kita merasa ingin berhenti. Pernah atau sedang merasakannya?

Tapi saya yakin, tidak sedikit dari kita yang memilih untuk bertahan dan meneruskan perjuangan walaupun keadaan diri sudah amat payah bahkan hampir putus asa. Saya juga sering berada di posisi itu dan entah kenapa walau sudah amat lelah dan jenuh, tetap saja ada hal yang mentenagai agar terus bertahan. Apakah itu? Yaitu adanya HARAPAN.

Seseorang yang berani berjuang dan bertahan dalam prosesnya adalah dia yang yakin dan percaya bahwa ada hal indah yang menanti di masa depan. Yakin dan percaya bahwa akhir perjuangannya akan berujung indah.

Masihkah ada harapan itu di hatimu, sister? Masihkah hadir imajinasi bahagia yang akan menanti di depan sana seandainya kau teruskan perjuanganmu hari ini? Mungkin imajinasi itu adalah orangtuamu yang tersenyum bangga, air mata bahagia, pelukan selamat, ucapan terimakasih dari orang-orang yang merasakan manfaat dari manisnya perjuanganmu, hingga ucapan salam dari malaikat diiringi langkah kaki yang menginjak syurga.

Selamat untukmu yang masih memiliki harapan. Selama masih ada harapan, selama itupula kita masih punya alasan untuk bertahan. Walaupun gagal berkali-kali, walaupun jatuh bertubi-tubi, memiliki harapan tidak pernah gagal untuk membuat kita bangkit lagi dan mau mencoba lagi. 

Bukankah Rasulullah SAW dan para sahabatnya sudah mencontohkan perjuangan terbaik untuk kita teladani? Bertubi-tubi penderitaan telah mereka alami, tak jarang untaian doa dan air mata nememani sujud-sujud mereka di sepertiga malam. Apa yang mentenagai mereka untuk terus bertahan? Tidak lain karena mereka memiliki harapan agar cahaya Islam tersebar di seluruh penjuru dunia serta harapan agar Allah ridho terhadap hidupnya. Masya Allah, tabarakallah..

Selamat menyemai kembali harapan-harapan itu di hatimu, sister. Berharaplah yang tinggi, berharaplah bukan untuk sekedar urusan duniawi tapi juga untuk kebahagiaan akhirat yang hakiki dan abadi. Yakinlah akan ada hal indah yang menanti di akhir perjuanganmu. Percayalah bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Selamat kembali berjuang!

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 10 Juni 2019

Monday Love Letter #45 - Dibalik Ujianmu, Ada Cinta-Nya

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Huaaa kok kangen ya rasanya.. Selama libur lebaran saya marathon ke luar kota jadi kayaknya sepekan kemarin tuh berasa lamaa gitu. Hehe. Kalau kamu, lebaran kemana saja? :)

Setelah melalui kepadatan jadwal silaturahim selama sepekan kemarin, sepertinya baru hari ini saya mendapat jeda dan memberi waktu untuk diri saya sendiri. Me-time saya sederhana saja, cukup diberi waktu sendiri dan merenung santai, itu sudah menjadi momen istimewa untuk saya pribadi. Dan hari ini saya cukup banyak melamun. Setelah saya pikir lagi, jika saya flashback sekitar 1-2 bulan ke belakang, ada cukup banyak rentetan peristiwa yang semuanya mengerucut kepada satu hikmah yang sama, yaitu (lagi-lagi) tentang syukur dan sabar.

Entah bagaimana, selama 2 bulan ke belakang, saya terus-menerus mendengar berita yang membuat saya kaget dan "speechless" tentang ujian-ujian kehidupan yang sedang dialami oleh sahabat-sahabat saya. Kalau teman jauh sih ya nggak terlalu masalah ya, tapi jika cerita itu berasal dari sahabat-sahabat terdekat kita, yang sering ketemu sama kita, yang sering kontakan dan masih menjaga silaturahim dengan kita, tentu saja lain cerita; pasti jadi ikut kepikiran.

Rangkaian "cerita mengejutkan" itu betul-betul mengasah rasa empati saya untuk mau mendengarkan dan tidak melakukan judgement serta berhasil menggali rasa syukur saya yang paling dalam karena terkadang saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan saya lakukan jika saya berada di posisi mereka dan mengalami ujian seperti yang sedang mereka alami. Belum tentu saya bisa sekuat itu. Di saat saya merasa hidup saya sedang banyak diberi kemudahan oleh Allah, orang-orang terdekat saya justru sedang berjalan tertatih untuk memenangkan pertempuran demi pertempuran dalam kehidupannya. Yeah, everyone has their own battles.

Sister, jika kamu sedang mengalami ujian hidup yang berat, surat ini untukmu. Mungkin kita belum pernah bertemu, mungkin kita hanya saling mengenal lewat dunia maya, mungkin kita jarang bersua dan tak sering bertatap muka, tapi saya yakin, kamu juga pasti memiliki "medan juang"-mu sendiri. Maafkan saya yang tak bisa banyak membantu selain doa. Doa yang benar-benar tulus ingin saya mintakan kepada Allah, agar Allah senantiasa menguatkanmu. Semoga Allah beri jalan keluar jika kamu sudah mulai merasa buntu. Semoga Allah beri keteguhan kepada hati dan jiwa yang mulai melemah lantaran lelah. Semoga Allah jaga imanmu ketika mungkin kamu hampir menyerah dan berburuk sangka pada-Nya. Semoga setiap air mata yang jatuh segera Allah ganti dengan senyum syukur dan pahala kesabaran yang berlipat-lipat. Keep strong, my dear sister :')

Sedangkan untukmu yang saat ini sedang diberi banyak kemudahan hidup oleh Allah. Jangan terlena hingga melupakan syukur. Lihat di sekelilingmu, ada banyak orang yang perlu dibantu, perlu dikuatkan, perlu dirangkul, perlu mendapat support, serta perlu doa-doa terbaik untuk ikut kau pintakan juga kepada Allah. Semoga kita masih diberi kepekaan dan kelembutan hati untuk mau menolong orang lain dan hadir untuk orang-orang tersayang di hidup kita.

Sembari tilawah tadi, ada satu ayat yang begitu mengena untuk saya, "…Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk agar mereka kembali (kepada kebenaran)." -QS. Al-A'raf (7) : 168

Ternyata, mau itu nikmat yang saat ini sedang menghiasi hari-hari kita, ataupun ujian yang saat ini membuat kita merasa payah, maksud Allah hanya satu; yaitu agar kita kembali pada-Nya. Agar kita senantiasa mengingat Allah dan datang kepada Allah --baik datang dengan membawa kebersyukuran maupun datang kepada Allah untuk memohon kesabaran.

Maka tetaplah bersyukur bersama segala nikmat yang Allah beri dan jaga diri kita dari kekufuran. Tetaplah bersabar bersama segala ujian yang Allah hadirkan dan jaga diri kita dari berburuk sangka kepada-Nya. Karena tiada nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita selain agar kita bersyukur dan tiada ujian yang Allah bebankan melainkan karena Allah tahu bahwa kita sanggup memikulnya.


Saya punya sebuah doa favorit, yaitu sebuah doa yang pernah dimintakan oleh Nabi Sulaiman a.s kepada Allah. Jika merasa sangat bahagia dan bersyukur, saya selalu baca ini. Pun ketika sedih, merasa kecewa atau emosi negatif lainnya. Bahasa arabnya silakan dibaca di Al-Quran masing-masing ya, terjemahannya kurang lebih begini:

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh."
-QS. An-Naml (27) : 19

Semoga apapun keadaannya, kita selalu ingat, bisa, dan mampu untuk 
memahami bahasa cinta-Nya, bersyukur dan kembali kepada-Nya serta terus mengupayakan ridha-Nya. I'll keep you in my du'a, sister.

Senin, 03 Juni 2019

Monday Love Letter #44 - Mampukah Kita Tanpa Ramadhan?


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Sore tadi saya menangis sedih, sebab ingat bahwa Ramadhan akan segera pergi. Mengingat kebaikan Allah di Ramadhan kali ini, saya tak bisa berkata-kata, karena lagi-lagi saya menemukan banyak kebaikan dari Allah dari Ramadhan tahun ini. Besar harapan diri ini bisa bertemu dengan Ramadhan di tahun depan, namun jikalau Allah tidak menghendaki, semoga setiap amal sholeh yang dilakukan di bulan ini diterima dan dirihoi-Nya. Aamiin..

Apakah kamu sedang sibuk dengan persiapan lebaran, sister? Baju apa ya yang akan dipakai, makanan apa ya yang akan dimasak, keperluan mudik, dan seterusnya. Sebentar, tahan dulu.. Mengantar kepergian Ramadhan yang hanya datang sekali dalam setahun, mari sejenak kita renungkan tentang apa yang membuat Ramadhan menjadi bulan yang sangat istimewa. Mari kita berusaha memahami bagaimana Ramadhan bisa menjadi bulan yang sangat menggembirakan dan ditunggu-tunggu oleh banyak umat muslim di seluruh dunia.

Biasanya, salah satu cara untuk menghargai kehadiran sesuatu atau seseorang adalah ketika kita kehilangan sesuatu atau seseorang itu.. Ketika ia hilang atau pergi, baru kita sadar betapa berharga kehadirannya. Kepergian Ramadhan, mungkin bisa kita jadikan bahan renungan untuk lebih memaknai keberadaannya.

Coba bayangkan, jika tanpa Ramadhan, apakah kita masih sanggup menamatkan tilawah Quran 1 juz setiap hari?

Jika tanpa Ramadhan, apakah kita masih mampu menghidupkan malam-malam kita dengan qiyamullail?

Jika tanpa Ramadhan, apakah tangan kita masih ringan untuk mengeluarkan sedekah dengan nominal yang lebih besar dari biasanya?

Jika tanpa Ramadhan, apakah masjid-masjid tetap akan ramai di subuh dan malam harinya?

Jika tanpa Ramadhan, apakah majelis ilmu dan majelis dzikir akan tetap menjamur dan sesak oleh lautan manusia?

Jika tanpa Ramadhan, mampukah kita untuk beristighfar sepanjang malam dan menangis karena mengemis ampunan-Nya?

Sadarkah kita, bahwa semua itu secara intens hanya ada di bulan Ramadhan? Itulah yang membuatnya istimewa, karena Ramadhan mampu menyuburkan ibadah, mampu mengeratkan persaudaraan sesama muslim, mampu membuat kita ringan tangan untuk bersedekah, mampu melembutkan hati yang sudah lama jauh dari Allah, mampu membuat para pendosa menangis dan kembali ke jalan Rabb-nya. Tanpa hadirnya Ramadhan, manusia bisa jadi terlalu sibuk dengan urusan dunianya dan lupa untuk mengembalikan tujuan hidupnya kepada Allah.

Seandainya kita memahami keutamaan dan keistimewaan Ramadhan, tentunya kita akan berharap bahwa setiap bulan adalah bulan Ramadhan. Sebab, selepas kepergian Ramadhan mungkin akan lebih sulit bagi kita untuk mempertahankan kebaikan yang telah berhasil kita istiqomahkan. Untuk itulah, kehadirannya (Ramadhan) patut kita syukuri.

Sayangnya, seingin apapun kita agar Ramadhan tetap tinggal, ia tetap harus pergi. Ramadhan boleh pergi, namun spirit-nya harus tetap tinggal di dalam jiwa kita. Serap baik-baik pelajaran dari Allah, isi kantong syukur kita sebanyak-banyaknya dengan mengingat segala kebaikan Allah selama Ramadhan, lalu bungkus semuanya menjadi baterai jiwa yang mentenagai hari-hari kita di 11 bulan kedepan serta menjaga konsistensi kita dalam beribadah dan beramal sholeh.

Ingat, bersama perginya Ramadhan, ada Syawal yang menanti peningkatan kualitas diri dan jiwa kita selepas "training intensif" yang telah Allah suguhkan lewat Ramadhan. Selamat meningkatkan kualitas diri dan melesatkan prestasi, sister! Bismillah.

Senin, 27 Mei 2019

Monday Love Letter #43 - Hidup dengan cara-Nya

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana kabarnya di 10 hari terakhir Ramadhan ini? Sudah dapat hikmah banyak? Sudah semeningkat apa iman kita? Sudah sekuat apa koneksi kita dengan Allah? Masih ada waktu, insya Allah. Selamat menghidupkan hari-hari terakhir Ramadhan ya. Ayo kita tetap semangat! :)

Saya ingin bercerita tentang sebuah hikmah yang saya dapatkan dari hasil diskusi dan sharing saya bersama sahabat-sahabat saya. Hari Sabtu kemarin adalah jadwal rutin kajian kami, pembahasannya sebenarnya simpel saja, kami saling bicara tentang harapan-harapan apa yang ingin diwujudkan dari silaturahim yang kami jalin.

Tak sedikit dari kami yang mengawalinya dengan curhat tentang kehidupan masing-masing yang terkadang hampa atau dipenuhi kegelisahan pada awalnya, lalu kemudian menemukan teman-teman yang saling mengingatkan dan ternyata pertemuan itu memberikan ketenangan dan jalan keluar dari kehampaan hati yang dirasa.

Namun yang ingin saya garis bawahi bukan tentang itu, melainkan tentang sebuah cerita dari seorang sahabat yang selama ini saya bersamai perjalanan hijrahnya. Dia bercerita bahwa cara dia memandang hidup hari ini sudah jauh berbeda dengan cara pandangnya dulu. Bertahun-tahun sebelum hari ini, hidupnya adalah tentang bagaimana dirinya mencari kebahagiaan dan kepuasan dari dunia. Cita-citanya adalah tentang dunia yang sungguh-sungguh ia capai namun lupa menyertakan Allah di dalamnya.

Dia memulai ceritanya. "Beberapa dari kalian tahu lah, dulu aku sangat berorientasi pada dunia. Tapi lama kelamaan aku menemukan bahwa hidup dengan cara kita sendiri tuh bikin lelah, bikin gelisah. Nggak percaya? Silakan buktikan sendiri. Ternyata yang paling bener itu memang kita tuh harus hidup dengan cara Allah, bukan dengan cara kita sendiri."

Hidup dengan cara Allah, bukan dengan cara kita sendiri. 

Kalimat itu terus terngiang di pikiran saya hingga hari ini. Jujur, itu juga yang pernah saya rasakan. Ketika saya hidup semaunya, ketika saya merasa bahwa saya ini yang paling berhak mengatur kehidupan saya sendiri, ternyata yang ada hanya rasa puas yang tidak ada habisnya dan berujung lelah.

"Sama seperti kita mau naik gunung dan hanya mengandalkan diri kita sendiri. Nggak tanya guide, nggak nanya warga sekitar, nggak bareng-bareng sama orang-orang yang hafal jalan kesana, kira-kira nyampe nggak? Nggak. Kalaupun nyampe, pasti riweuh kitanya," lanjutnya lagi. Riweuh itu bahasa sunda yang jika diterjemahkan kurang lebih artinya repot. Nyampe sih ke puncak, tapi repot! Coba pake guide, coba nanya warga, pasti akan jauh lebih mudah.

Adanya Al-Quran sebagai guidance sebetulnya untuk mempermudah hidup kita. Tapi terkadang kita suka sok pede dan merasa paling tahu sehingga mengatur hidup kita dengan aturan yang kita buat sendiri, dengan prasangka yang berasal dari pengetahuan kita yang sangat terbatas. Ya pantas saja hidup jadi ribet.

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar engkau menjadi susah."
QS. Thohaa (20) : 2

Hidup ini akan jauh lebih mudah jika kita menyerahkan diri kepada Allah. Menyerahkan diri untuk diatur sepenuhnya oleh Allah; nurut sama apa yang Allah perintahkan dan nurut untuk menjauhi apa-apa yang Allah larang. Menyerahlah kepada Dia yang menciptakan kita karena Dia yang paling tahu bagaimana cara terbaik dalam menjalani kehidupan.

Tapi apakah mudah merubah mindset 'saya yang paling tahu' menjadi 'Allah yang paling tahu'? Apakah mudah mengubah mindset 'menurutku seharusnya begini' menjadi 'menurut Allah seharusnya bagaimana ya?' Atau 'yang penting saya senang' menjadi 'yang penting Allah suka'. Memang tidak semudah itu, butuh proses dan latihan yang panjang. Apalagi jika kita terbiasa mengikuti ego dan hawa nafsu kita.

Pada akhirnya, pilihan tetap ada di tangan kita. Apakah masih mau menjalani hidup dengan cara sendiri, atau bergegas menyerah dan kembali kepada Allah dan hidup dengan cara-Nya? Jika kita mencari ketentraman dan keselamatan hidup, tentu kita sudah tahu kan harus memilih yang mana? :)