Senin, 31 Agustus 2020

Monday Love Letter #98: Rasanya Baru Kemarin

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Huwaaa besok sudah September! Di awal tahun ini kita digemparkan oleh adanya corona, lalu tak terasa 2020 sudah memasuki bulan ke-9.. Rasanya baru kemarin pula kita merasakan Ramadhan dalam kondisi yang berbeda, tak terasa, ternyata itu sudah 4 bulan yang lalu. Kini kita masuk ke lembaran baru, di bulan pertama tahun 1442 Hijriyah, bulan Muharram. Waktu tuh sering nggak berasa, ya? Perasaan baru kemarin saya mengeluh ingin cepat besar karena waktu kecil banyak dilarang ini itu, sekarang rasanya ingin lupa hari ulangtahun biar nggak cepet tua. Hahaha..

Namun berjalan bersama waktu juga ada hikmahnya tersendiri. Pernahkah kita mengalami masa-masa sulit dalam hidup? Masa dimana waktu terasa berjalan lambat sekali dan kita bertanya-tanya kapan semua kesulitan akan berakhir. Ternyata seiring berjalannya waktu, segala lelah dan payah yang dulu kita keluhkan, hari ini sudah tak terasa lagi. Kejadian yang awalnya terasa lama saat dijalani, ketika sudah selesai, semua otomatis menjadi kenangan yang lagi-lagi membuat kita berkata, "Rasanya baru kemarin saya berjuang sepayah itu, alhamdulillah sekarang ada di titik ini." 

Ketika kita tersadar bahwa waktu ternyata berjalan cepat sekali, pernahkah kita merenungi, apa jadinya jika kita sudah sampai ke negeri akhirat. Apakah puluhan tahun hidup di dunia ternyata juga akan terasa seperti baru kemarin?

Ada sebuah percakapan yang Allah firmankan dalam Al-Quran ketika kita telah dibangkitkan selepas langit dan bumi Allah ratakan.
Dia (Allah) berfirman, "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung."
Dia (Allah) berfirman, "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui."
-QS. Al-Mu'minun (23) : 112-114

Ternyata bertahun-tahun tinggal di bumi terasa lebih sebentar dari setengah hari! Tidak hanya itu, masa tunggu di alam kubur hingga hari berbangkit yang katanya ratusan hingga ribuan tahun, juga akan terasa sangat sebentar. Dalam QS. Al-Isra' (17) : 52, Allah mengabarkan, "yaitu pada hari (ketika) Dia memanggil kamu, dan kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya, dan kamu mengira, (rasanya) hanya sebentar saja kamu berdiam diri (di dalam kubur)." Subhanallah.

Maka benar adanya, ketika kita sering mendengar bahwa kematian itu dekat, atau hari kiamat itu dekat. Jangan-jangan memang sedekat itu. Sebab ketika kita sudah melalui semuanya, jarak antara hari ini dan hari kiamat, bisa jadi lebih cepat dari kedipan mata kita. Tidak terasa, hari ini masih di dunia, seketika sudah di alam kubur, lalu tiba-tiba sudah sampai padang mahsyar.

Jangan sampai kita baru sadar betapa berharganya waktu di saat itu, lalu protes sama Allah, "Kok sebentar banget di dunianya, ya Allah? Kembalikan aku sebentar saja maka aku akan banyak beramal sholeh.." Padahal, Allah sudah kasih waktu. Namun banyak dari manusia terlena dan menyia-nyiakan begitu saja waktu yang Allah berikan. Naudzubillahi min dzalik, semoga kita semua dilindungi dari sifat kufur terhadap nikmat waktu dan usia yang Allah berikan ya, sister.. :'(

Tak heran, Allah sampai bersumpah atas nama waktu dan berkata bahwa kebanyakan manusia merugi dan celaka dalam menggunakan waktunya. Artinya banyak sekali yang lalai terhadap waktu yang diberikan oleh-Nya. Mari kita azzam-kan, mulai detik ini, kita akan berusaha untuk lebih bijak dalam menggunakan waktu. Mengisi waktu hanya dengan hal-hal bermanfaat yang berdampak pada peningkatan kualitas iman kita, mengisinya dengan banyak-banyak melakukan amal shaleh, serta berkegiatan yang dikerangkai dalam rangka saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Bismillah.

"Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." -QS. Al-'Asr


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #96: Menjadi Diri yang Merdeka

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Bagaimana hari Seninmu? Menyenangkan atau menyebalkan? Apapun itu, semoga kita bisa menutup hari ini dengan hati dan jiwa yang tenang, terlelap dalam keadaan sedang memeluk syukur. Iya, sudah bersyukur kan hari ini? Dengan bersyukur dan menghitung-hitung nikmat dari-Nya hari ini, segala lelah, kesal bahkan sesal, insya Allah akan luruh dengan sendirinya. Luangkan waktu untuk banyak-banyak bersyukur sebelum tidur, ya!

Dalam 2 hari ini, kata merdeka terus menerus hinggap di kepala saya. Tidak hanya karena momen 17 Agustusan atau karena postingan orang-orang yang saat ini banyak sekali meneriakkan slogan "Merdeka!", tapi momen ini menjadi bahan saya bermuhasabah, merefleksi kembali tentang arti merdeka dan merdeka seperti apa yang seharusnya saya pahami dan jalani.

Merdeka seringkali disandingkan dengan kata "bebas". Bebas dari sesuatu yang mengikat, bebas dari keterjajahan. Tapi bebas yang seperti apa? Apakah jika kita bebas melakukan apa yang kita mau, bahkan hingga menabrak nilai dan norma, itu juga dikatakan merdeka? Ternyata jika kita renungi lebih dalam lagi, kebebasan yang benar-benar bebas itu tidak ada. Kita, manusia, butuh keteraturan. Kita butuh untuk diatur, kita butuh batas-batas yang sebenarnya fungsi batas itu bukan untuk mengekang, tapi menyelamatkan kita.

Seperti bagaimana Allah menciptakan segala ciptaannya dengan segala keteraturan yang sempurna. Bumi menjadi sebegini indahnya tidak lain adalah karena seperangkat aturan yang sudah dirancang oleh-Nya. Matahari yang terbit dan terbenam, awan yang menurunkan hujan, daun-daun yang berfotosintesis, komposisi lautan dan daratan yang seimbang, juga berbagai jenis hewan yang tinggal dan berperan penting dalam keseimbangan alam.

Jangankan bumi, tubuh kita sendiri saja terdiri dari seperangkat "aturan" yang jika salah satu bagiannya tidak berjalan sebagaimana mestinya, sakitlah tubuh kita. Ada sistem pernapasan, sistem pencernaan, alur mengalirnya darah, degup jantung, hela nafas, kedipan mata yang telah diatur-Nya sedemikian rupa sehingga bagian-bagian tubuh kita bisa berfungsi dengan baik dan sehat.

Faktanya, kita tak pernah bisa lepas dari segala keteraturan itu. Termasuk juga (seharusnya) kita tak lepas dari bagaimana Allah mengatur diri dan kehidupan kita. Seperti segala ciptaan-Nya yang tunduk dalam aturan yang dibuat oleh-Nya, kita sebagai manusia juga seharusnya tunduk pada apa yang menjadi aturan-Nya.

Namun, saya pribadi, terkadang masih merasa bahwa aturan-aturan dari Allah terhadap hidup saya, terasa mengekang dan memberatkan sehingga terkesan "tidak bisa bebas" dalam menjalani hidup. Tanpa sadar, terbersit rasa ingin bebas, yang sebenarnya jika digali lebih dalam lagi, rasa ingin bebas itu berujung pada: keinginan untuk bebas dari aturan Allah. DEG. Astaghfirullah.. :(

Memang inilah ujian terberat manusia. Manusia diberi keleluasaan oleh Allah untuk memilih, apakah ia akan hidup dengan caranya sendiri atau dengan caranya Allah? Apakah hidup dengan menuruti keinginannya sendiri atau hidup menuruti kehendak Allah terhadap dirinya? Apakah hidup memakai aturan yang dibuatnya sendiri atau hidup dengan aturan dari Allah? Kedua pilihan ini rasanya seperti magnet yang terus menarik kita dari dua arah yang berlawanan. Hanya jiwa yang merunduk yang bisa dengan mudah menuju Allah dan lepas dari jeratan hawa nafsunya.

Apakah kita masih sering merasa terbebani dengan aturan-aturan dari-Nya? Apakah keikhlasan dalam beribadah selalu menjadi PR yang tak pernah selesai? Apakah kita masih terus saja terjerumus pada kesalahan yang itu-itu lagi? Apakah kita masih merasa kesulitan menyelaraskan ilmu yang kita tahu dengan amal yang seharusnya kita lakukan? Jika kebanyakan jawabannya adalah ya, alih-alih menjadi diri yang merdeka, itu adalah pertanda bahwa kita masih menjadi diri yang terjajah. Terjajah oleh kesombongan kita sendiri, oleh hawa nafsu kita, oleh cinta kepada dunia, oleh kebergantungan kepada selain Allah.

Mungkin ketika kita bisa terlepas dari aturan Allah, kita merasa menjadi jiwa yang bebas, sebab bisa menjalani hidup sebagaimana maunya kita. Tapi, setidaknya sejauh yang pernah saya alami, kita tak akan pernah menemukan jiwa yang tenteram. Hidup akan dirundung kegelisahan yang tak ada habisnya, dipenuhi oleh rasa hampa yang tak juga mereda. Mengapa bisa begitu? Sebab kita menyalahi apa yang menjadi kodrat kita yaitu sebagai hamba dan ciptaan-Nya Allah, menyalahi apa yang menjadi kecenderungan alami jiwa kita yaitu beribadah dan tunduk kepada Allah.

Menjadi merdeka adalah tentang melepaskan diri kita dari keterjajahan kecenderungan diri kepada selain Allah serta MENYERAH dan BERSERAH sepenuhnya kepada Allah, maka kita akan menemukan jiwa yang BEBAS, yang penuh dengan rasa tenteram sebab berhasil mengikatkan dan menggantungkan diri kepada yang seharusnya, Allah.

Allah menetapkan aturan-aturan, memberikan batasan-batasan, semata-mata bukan untuk mengekang kita. Allah justru ingin membebaskan kita dari kebergantungan kita kepada diri sendiri dan kepada selain-Nya. Definisi bebas yang sesungguhnya ialah bebas dari hal-hal yang menghalangi kita dalam mewujudkan ketaatan kepada Allah. Berada dalam kepengaturan Allah, adalah merdeka yang sesungguhnya.

Jadi, sudahkah diri kita merdeka?


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #94: Akankah Berakhir Sia-Sia?

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Bagaimana suasana Idul Adha di tempatmu? Kira-kira apa yang bisa termaknai dari Idul Adha tahun ini? Semoga bukan hanya daging dan bakar-bakar sate saja ya yang kita dapatkan, hehe, tapi kita juga bisa merenungi makna dibalik momen besar ini.

Bagi saya pribadi, sepertinya ini adalah bulan Dzulhijjah paling berkesan yang pernah saya lewati. Bulan pengorbanan, katanya. Dimana ada sebuah event besar rutinan di penghujung tahun (Hijriyah) dan di event itu Allah meminta pengorbanan terbaik dari hamba-hamba-Nya untuk ditukar dengan kebaikan yang berlipat-lipat, insya Allah.

Ibarat sebuah pesta dimana orang-orang pasti menampilkan pakaian terbaik, riasan terbaik dan kendaraan terbaik, maka momen Idul Adha menjadi ajang "pamer" di hadapan Allah untuk memberikan persembahan terbaik untuk diqurbankan.

Saya pribadi merasa terharu, ketika ada seorang kawan yang selalu menyambut ajakan berkurban dan ketika ditanya alasannya, "kalau saya sih mumpung ada, diusahakan. Karena kita nggak pernah tau tahun depan masih diberi kesempatan berqurban atau tidak," jawabnya mantap.

Tak sedikit juga yang ragu-ragu sebab situasi saat ini yang masih dalam pandemi, bersamaan dengan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, membuat beberapa dari kita menjadi lebih banyak berhitung. Tapi ternyata tidak semua begitu. Ada orang-orang yang tetap semangat berupaya, memberanikan diri untuk memberikan segenap harta yang dimiliki, menepis segala rasa khawatir sebab yakin bahwa Allah pasti mencukupkan rezeki. Masya Allah :"

Ada pula yang tidak hanya berqurban untuk dirinya, tapi juga membantu saudaranya yang ingin sekali berqurban agar saudaranya ini dapat berqurban. Ini sih lebih terharu lagi, tak ada yang lebih indah dari saling tolong menolong agar sama-sama bisa melaksanakan perintah Allah. Diam-diam saya berdoa, semoga suatu saat saya juga bisa seperti itu. Aamiin!

Di sisi lain, ada pula sebagian lainnya, yang walau telah berupaya sebaik mungkin, hartanya tetap tak cukup untuk membeli hewan qurban untuk disembelih. Tapi karena mengerti bahwa ibadah qurban adalah juga tentang memaknai esensi, maka diberikanlah segenap harta terbaiknya dalam bentuk shodaqoh qurban. Ada pula yang berqurban dalam bentuk tenaga, membantu memfasilitasi mereka-mereka yang hendak berqurban. Masya Allah, semuanya berlomba memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Bagi saya pribadi, cerita-cerita itu membuat diri saya memaknai lebih dalam momen bulan Dzulhijjah ini. Bahwa untuk menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita memang harus seberjuang itu!

Idul Adha ini event besar! Kesempatan besar untuk "cari muka" di hadapan Allah, peluang besar untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Sebuah kesempatan emas bagi hamba-hamba yang ingin membuktikan cinta dan pengabdian kepada-Nya. Ya Allah, kemana saja aku ini, baru sadar kalau momen Idul Adha tuh ternyata maknanya sedalam itu! :"

Lalu setelah dua hari kemarin saya membantu prosesi penyembelihan, berkali-kali menyaksikan satu per satu domba dan sapi disembelih, yang terpikir oleh saya adalah, "Ya Allah, inilah hewan qurban yang dipersembahkan oleh pada muqorrib untuk-Mu.. Semoga amal kami semua bisa Kau terima ya, Allah.."

Kita tentu tahu, uang yang harus dikeluarkan untuk menyembelih satu ekor domba atau kambing saja, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan, ada yang harus menabung hingga berbulan-bulan untuk bisa membelinya. Apa jadinya jika ternyata amalan yang kita lakukan tidak diterima oleh-Nya? Sia-sialah selama ini perjuangan.

Maka Nabi Ibrahim a.s mengajarkan, selepas kita mengupayakan sesuatu untuk Allah, berdoalah pada-Nya; Rabbana taqobbal minna innaka antassamii'ul aliim.. Ya Allah terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kita tak pernah tahu, apakah ada hal-hal dari diri kita yang menghalangi sampainya amal kita, mungkin dosa-dosa kita, mungkin niat yang tak lurus, atau apa saja. Maka selepas ibadah yang kita lakukan, mintalah kepada Allah, semoga semuanya tak jadi sia-sia di hadapan-Nya.

Bismillah, terimalah amal kami, ya Allah.. Semoga apapun yang kita persembahkan untuk-Nya di momen Dzulhijjah ini, baik dalam bentuk harta maupun jiwa, dapat diterima oleh-Nya sebagai sebentuk cinta, pengorbanan dan rasa syukur kepada-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #92: Aku Ingin Pulang dengan Selamat

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, saya masih bisa diberi kesempatan untuk menyapamu di hari Senin ini. Walau masih dalam pandemi, beberapa dari kita mungkin sudah mulai beraktivitas, sudah mulai bepergian walau dengan intensitas yang tentunya sangat dibatasi. Belum lagi protokol kesehatan kini diberlakukan dimana-mana, walau tidak semua tempat umum masih belum diperbolehkan beroperasi. Bagaimana perasaanmu? Semoga sudah cukup terbiasa dengan perubahan ini, ya! Kalau ada apa-apa, curhatin aja sama Allah. Kita punya Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur, serta tak pernah lengah dalam mengurus makhluk-Nya. Karena itu segala kebutuhan kita pasti akan dicukupkan oleh-Nya. Insya Allah semua akan baik-baik saja :)

Anyway, pekan lalu, ada suatu urusan yang membuat saya harus pergi keluar kota, pulang pergi. Perjalanan kami tidak jauh, hanya berjarak 1 jam saja dari kota Bandung menggunakan tol. Entah kenapa, setiap bepergian keluar kota atau bepergian agak jauh, saya sering merasa sedikit khawatir. Pasalnya, kita tidak pernah tahu kan apa yang akan terjadi dengan kita di tengah jalan? Apalagi saat itu masih segar berita kecelakaan yang menimpa rekan-rekan saya beberapa waktu lalu. Alhamdulillah masih Allah selamatkan, walau mobil yang mereka tumpangi ringsek tak bisa diperbaiki lagi. Subhanallah.

Hal ini membuat saya merenung, jika kita baru saja bepergian jauh, sesampainya di rumah, tentunya kita bersyukur bahwa kita bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat.

Kira-kira ada berapa data kecelakaan per harinya yang terjadi di jalanan? Banyak! Maka ketika kita sedang di perjalanan, sebetulnya ada banyak sekali potensi kita (naudzubillah) tidak selamat sampai rumah. Ada peluang kecelakaan yang tinggi ketika kita melakukan perjalanan, apalagi perjalanan jauh. Maka dari itu Rasulullah SAW ajarkan kita berdoa ketika mau bepergian atau naik kendaraan agar perlindungan Allah senantiasa ada bersama kita. Bagi saya, berdoa cukup mengurangi kekhawatiran saya selama di perjalanan.

Nah, pernah nggak sih berpikir bahwa di dunia ini juga kita sedang melakukan perjalanan, lho. Namun bedanya, tujuan akhir perjalanannya bukan rumah atau kampung halaman kita, melainkan pulang ke negeri akhirat. Bukankah dunia ini hanya tempat transit? Setelah kita "berjalan-jalan" di bumi, numpang sama raga (jasad) kita, mampukah kita kembali "pulang" dengan selamat?

Kelak ketika kita bertemu dengan malaikat maut, dimulailah gerbang perjalanan kita yang baru menuju negeri akhirat, ke pemberhentian terakhir yang entah saat ini masih belum jelas apakah kelak kita akan sampai disana dengan selamat dan masuk ke surga-Nya, atau terjadi "kecelakaan" di tengah jalan sehingga neraka menjadi tempat dimana kita menghabiskan keabadian. Naudzubillahi min dzalik..

Sebelum perjalanan panjang itu dimulai, ada baiknya kita mulai bertanya ke diri kita sendiri, "Apakah bekalku cukup? Apakah aku sudah cukup ilmu tentang bagaimana caranya pulang dengan selamat? Apakah aku sudah cukup waspada terhadap ancaman dan rintangan yang bisa mencelakakanku?"

Sungguh, kita kelak akan melakukan sebuah perjalanan yang penuh dengan kekhawatiran jika tidak mempersiapkannya. Tidak seperti perjalanan-perjalanan kita di dunia yang bisa kita lakukan sambil bersenda gurau dan bermain-main. Namun Allah menjanjikan perjalanan paling nyaman jika kita berhasil mempersiapkan kepulangan kita sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Rabbanaa aatinaa fi dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaabannaar.. Semoga kebaikan dan keselamatan senantiasa Allah limpahkan kepada kita, bukan hanya untuk perjalanan-perjalanan di dunia, tapi juga perjalanan kita ke negeri akhirat kelak.

Semoga kita semua bisa kembali pulang dengan selamat ya, sister. Pulang ke rumah di surga. Aamiin..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 06 Juli 2020

Monday Love Letter Special Edition: Untukmu yang Baru Saja Menggenap

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa terteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." -QS. Ar-Rum (30):21

Alhamdulillah, sebuah kabar bahagia datang dari our beloved sister of Deen, Novie Ocktaviane Mufti, yang baru saja melangsungkan pernikahan di tanggal 4 Juli lalu. Surat kali ini, saya khususkan untuknya, sebagai hadiah kecil atas pernikahannya.


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my dear sister, Novie..

Tentu kamu sepakat, bahwa hidup ini penuh dengan pertemuan demi pertemuan. Sejak kita lahir ke dunia hingga detik ini, sudah tak terhitung banyaknya orang-orang yang dipertemukan dengan kita. Ada pertemuan yang hanya sekejap hingga sulit untuk kita ingat lagi, ada pertemuan-pertemuan sementara yang kemudian berpisah karena tak sejalan lagi, tapi ada juga pertemuan yang seringkali tak terduga pada awalnya, namun ternyata bertahan lama sekali. Bahkan, tak hanya bertahan lama, pertemuan itu menjadi pembuka pintu manfaat yang lebih luas untuk orang banyak. Katanya, itu yang disebut pertemuan yang berkah. Karenanya, aku berdoa, semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam keberkahan dan kebaikan yang banyak. Dan semoga pertemuan denganmu dan dengannya, dapat menjadi perantara keberkahan untuk lebih banyak orang. Aamiin..

Tapi kurasa, jodoh bukan hanya tentang pertemuan seorang laki-laki dan perempuan yang kemudian menikah, bukan? Ternyata, kita juga jodoh, dari sister of Deen, jadi sister beneran. Wkwkwk.. Kalau takdir ini sudah Allah tulis dengan sangat rapi di Lauhul Mahfudz-Nya, aku tuh suka ngebayangin lagi ketika Allah menakdirkan pertemuan kita yang pertama kali di training waktu itu (2016 nggak sih kalo nggak salah), ternyata Allah sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk kita berdua 4 tahun kemudian! Ih merinding banget kan, wkwk. Waktu kita di training itu posisiku sudah dilamar, sedang menunggu hari-H pernikahan. Ternyata eh ternyata, 4 tahun kemudian adik iparku melamar kamu. Jadi sister weh kita teh. Hahaha, ada-ada aja yah takdir hidup ini.

Memang sih, benar apa kata ayat di atas, bahwa dipersatukannya dua insan dalam ikatan pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya. Aku yakin, ada banyak rasa takjub yang kamu rasakan saat melalui proses demi proses hingga akhirnya janji suci itu terucap. Aku juga sangat yakin, ada rasa syukur yang meluap-luap bersamaan dengan rasa cinta yang tiba-tiba saja hadir sebab sang hati telah dijaga untuk mencintai-Nya. Ternyata mudah, untuk mencintai seseorang yang mencintai Allah lebih dulu, ya kan? :')

At the end, hati yang dijaga dengan baik, pada akhirnya akan dipersatukan dengan pasangannya, dengan cara terbaik menurut-Nya. Semoga sakinah selalu ada dalam keluarga kalian, semoga mawaddah dan rahmah dapat selalu menghiasai rumah dan hati kalian berdua, sampai nanti punya anak-anak yang shaleh dan shalehah, (mungkin) sampai nanti menua bersama, dan yang pasti, sampai kelak dipersatukan lagi di surga. Aamiin!

Selamat merayakan cinta atas kesabaran yang berhasil dijaga dengan baik selama berada di 'ruang tunggu'.

Selamat berbahagia atas dua genggam tangan yang kini dapat saling bertaut 'tuk saling memberi kekuatan.

Selamat melepas sebanyak-banyaknya syukur untuk setiap kebaikan yang ada pada pasanganmu dan untuk setiap cinta yang Dia tumbuhkan di antara kalian berdua.

Selamat meluaskan sabar atas kekurangan satu sama lain, pada kerikil-kerikil yang mungkin akan menemani perjalanan agar setiap ujian dapat disikapi dengan bijak dan dinikmati hikmahnya.

Selamat menyiapkan ruang penerimaan seluas-luasnya, saling memberi ruang belajar yang jika kau temukan pasanganmu dengan segala kurang, ingatlah bahwa ini pertama kalinya ia menjalani peran yang baru.

Selamat berjuang untuk saling membahagiakan, saling menguatkan, saling menenteramkan.

Semoga cinta pada-Nya tetap menjadi landasan atas segala rasa yang ada, hingga kelak bahtera rumah tangga kalian berlabuh di surga.


Dariku yang ikut berbahagia, sebab kita menjadi keluarga <3
Your sister,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #89: Menjaga Niat

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sejujurnya, banyak sekali bisikan-bisikan yang membuat saya tidak ingin menulis hari ini. Bahkan jika ingin beralasan, ada banyak alasan untuk tidak melanjutkan surat ini; letihnya fisik setelah bepergian seharian, flu dan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang, asma yang sedang kambuh, hingga perasaan tidak enak karena ini sudah cukup malam untuk mengirimkan Monday Love Letter untukmu. Iya, maaf ya, jika suratnya baru sampai di malam hari begini.. Tapi rasa rindu membuat saya ingin menyapamu hari ini dan mungkin saja, kamu termasuk yang menunggu-nunggu surat ini, hehehe.. And here I am, dengan sisa-sisa tenaga, berusaha menulis untukmu, sister. Alhamdulillah, Allah yang pinjami kekuatan :)

Di bulan Juni yang bersisian dengan bulan Syawal ini, saya mendengar ada begitu banyak berita bahagia, tentang mereka-mereka yang melangsungkan pernikahan. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa bulan Syawal menjadi bulan favorit dimana banyak pasangan menjadikan Syawal sebagai sebuah awal yang baru melanjutkan hidup bersama pasangannya. Bagaimana denganmu, sudah mendapat berapa banyak undangan di bulan ini? Atau justru kamu adalah yang menyebarkan undangan atas berita pernikahanmu? Hehehe.

Banyak orang-orang terdekat saya yang menikah, walau tidak semua bisa saya hadiri lantaran berbagai protokol harus dipatuhi, salah satunya adalah tidak mengundang orang banyak-banyak. Tapi tak apa, walaupun raga tak dapat berjumpa, biarkan doa-doa yang melangit, sebab doa tak memerlukan jarak untuk sampai kepada mereka yang kita doakan.

Berita-berita bahagia ini, membuat tema pernikahan -mau tidak mau- menjadi top of mind di kepala saya. Dari mulai flashback proses-proses saya ketika akan menikah dulu hingga berbagai hikmah yang terselip dari setiap proses sebelum, saat, dan setelah menikah. Rasanya ingin senyum-senyum sendiri, setiap kali mereka-mereka yang akan menikah ini bercerita tentang berbagai kekhawatiran dan rasa deg-degannya. Hahaha..

Tapi kunci ketenangan dalam hal apapun, ternyata sama saja, yaitu dengan senantiasa menghadirkan Allah di hati kita dan di SETIAP aktivitas dan peran hidup kita. Mereka-mereka yang tetap tenang dalam proses menuju maupun setelah pernikahan, adalah mereka yang yakin kepada Allah dan menggantungkan kehidupannya kepada Allah bahwa ketetapan dari-Nya adalah yang terbaik; dari mulai kapan waktunya, dengan siapa dia menikah, tantangan yang dihadapi sebelum maupun setelah menikah, susah dan senang yang mewarnai perjalanan rumah tangganya, dan sebagainya.

Keimanan dan rasa percaya kita kepada Allah akan menghentikan laju kekhawatiran dan kecemasan kita dalam menjalani fase demi fase kehidupan. Kesadaran bahwa kita ini adalah hambanya Allah, membuat segala keputusan dan perjuangan menjadi terbingkai dengan niat untuk ibadah kepada-Nya.

Sulit menjadi istri yang taat, ikhlas, serta menurunkan ego jika niat ibadah kepada-Nya tidak menjadi landasan dalam menjalani peran tersebut. Sebaliknya, jika kita memiliki niat yang kuat untuk mengejar ridha-Nya, niat ini akan menjadi energi yang sangat besar untuk membuat seseorang yang pada awalnya jauh dari kata pantas untuk menjadi seorang istri, menjadi mau dan bersedia untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam menjalani peran mulianya itu.

Pada akhirnya, hidup ini adalah tentang bagaimana membuat Allah suka, senang dan ridha terhadap kita. Dalam peran sebagai anak, cara kita membuat Allah senang adalah dengan berbakti pada orangtua karena Allah yang menyuruh kita begitu. Dalam peran sebagai istri, cara kita membuat Allah ridha adalah dengan taat pada suami (selama tidak bertentangan dengan perintah-Nya), melayaninya dengan setulus hati, dan terus berupaya agar menjadi istri yang dia ridhai. Dalam peran sebagai ibu, cara kita membuat Allah cinta adalah dengan menjadi sebaik-baik madrasah pertama yang menjaga kefitrahan anak-anaknya, menghantarkan anak-anak menjadi sebaik-baik pejuang di mata Allah dan Rasul-Nya.

Kesemuanya itu, memerlukan energi yang sangat besar agar kita bisa mencapainya. Dan cara mengisi energi dan daya untuk perjuangan itu adalah dengan terus menerus mengecek dan memperbaharui niat kita, apakah masih kita melakukannya karena dan untuk Allah?

Semoga niat kita untuk beribadah kepada-Nya dan untuk menjadi hamba yang diridhai-Nya, selalu bersemayam dalam hati dan jiwa. Agar tak sibuk khawatir dengan berbagai 'bagaimana jika?' yang kita cemaskan dan tak sibuk berprasangka ini dan itu yang membuat kita meragukan kebaikan-kebaikan yang akan Allah hadiahkan.

Yuk kita menyelam ke dasar hati, barangkali ada niat selain-Nya yang harus kita bersihkan dan kita tata ulang. Selamat berkontemplasi, sister.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 15 Juni 2020

Monday Love Letter #87: Mau Mempertanyakan atau Mempercayakan?

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Alhamdulillah, masih dalam nuansa Syawal yang semoga masih tetap membuat kita semangat dalam mewujudkan syukur bersamaan dengan banyaknya nikmat yang Allah limpahkan. Sepanjang bulan Syawal ini, ada saja kejutan dari Allah yang terus membuat saya mengucap syukur, kucuran nikmat-Nya betul-betul tak terbendung, deras sekali hingga memenuhi tangki bahagia di hati saya. Di tengah segala keterbatasan dan cerita-cerita sedih selama pandemi, ternyata Allah mempergilirkan tawa dan tangis dengan sangat adil.

Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah ayat yang masya Allah JLEB di hati, tapi juga menyejukkan. Sampai-sampai saya buat postingan pendeknya di Instagram. Mungkin kamu sudah membacanya, tapi izinkan saya untuk sharing lebih banyak di surat kali ini.

Dalam ayat tersebut, Allah berfirman:
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. Al-Hadid (57) : 22-23)

Seperti yang kita tahu, tahun 2020 merupakan tahun yang cukup berat bagi banyak manusia di bumi. Dalam pandemi, banyak dari kita memutar otak untuk menghadapi kenyataan, dari mulai mencari pundi-pundi rezeki untuk menyambung hidup hingga melawan kebosanan selama di rumah saja. Belum lagi, banyak urusan perasaan yang harus dibereskan, mengingat kadar kecemasan dan kekhawatiran mungkin makin meningkat seiring bergantinya hari. Tentang rencana-rencana yang harus tertunda atau bahkan dibatalkan sama sekali. Mungkin, banyak dari kita yang belum juga bisa berdamai dengan keadaan ini.

Coba deh, resapi kembali ayat di atas. Ayat itu tuh bikin lega karena statement Allah di ayat tersebut harusnya bikin kita kalem-kalem aja ngejalanin hidup, ya nggak sih? Sebab semuanya sudah Allah tulis di Lauh Mahfudz mengenai apa-apa aja yang akan terjadi di bumi dan pada diri kita sendiri. Nikmat dan bencana, kegembiraan dan kesedihan, semuanya sudah tercatat bahkan sebelum Allah ciptakan bumi ini. Sudah ada tuh catatannya di Allah, kapan kita dikasih kenikmatan, kapan kita dikasih kesulitan, kapan kita dikasih sedih, kapan kita dikasih gembira. Semuanya Allah pergilirkan dengan cermat kepada setiap manusia, bahkan kepada para Nabi dan Rasul sekalipun.

Iya, bukankah para Rasul juga mengalami pasang dan surut di setiap perjuangannya? Rasulullah SAW saja, manusia paling mulia dan dijamin syurga, kemudahan dan kesulitan hidupnya Allah pergilirkan juga kok. Ada kalanya Rasulullah SAW dan umatnya dihimpit berbagai kesulitan, tapi ada pula masa-masa dimana Allah beri pertolongan dan kemenangan. Maka untuk setiap scene yang telah Allah tetapkan atas hidup kita, ya itulah yang terjadi. Itulah ketetapan Allah atas hidup kita. Semoga kita bisa dengan ikhlas menerima setiap ketetapan Allah yang terjadi di kehidupan kita.

"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." Kalimat ini tuh harusnya bikin kita tenang. Bersedih secukupnya, karena nanti juga Allah bikin kita tertawa lagi. Bergembira secukupnya, siapa yang tahu besok-besok ternyata dikasih banjir air mata. Tidak ada yang lebih baik antara kesedihan dan kegembiraan, sebab keduanya sama-sama bisa membuat derajat kita meningkat, tapi juga bisa menjerumuskan kita jika kita terlalu terlarut dalam perasaan tersebut.

Maha suci Allah yang sudah merancang semuanya. Biar kita nggak terlalu depresi, juga nggak terlalu melambung tinggi sampai lupa diri. Allah keep the balance for us, supaya kita tetap bisa mengharap pelangi saat diterjang badai, dan tetap bisa menjaga kewarasan ketika gembira berlebihan. Saya rasa ini adalah salah satu bentuk keadilan dan penjagaan Allah atas diri kita.

Nikmat dan tenang banget kayaknya ya, kalau kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Tak melulu mempertanyakan takdir sebab kita percaya bahwa setiap episode kehidupan kita beserta lika-liku perasaan didalamnya adalah yang terbaik untuk kita. Lagi pula mau dipertanyakan pun, semuanya itu sudah menjadi ketetapan-Nya, tak ada yang bisa kita ubah lagi. Tugas kita adalah memastikan bahwa dalam setiap episode kehidupan itu, kita selalu berada dalam keselamatan dan selalu berada dalam ridha-Nya.

Kira-kira.. sudah belum ya, kita memberi kepercayaan SEPENUHNYA kepada Allah untuk menyetir kehidupan kita?

Semoga kita tidak termasuk orang yang sombong, yang terlalu percaya diri bahwa skenario hidup yang terbaik adalah yang ada dalam bayangan imajinasi kita. Big NO... :(


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Kamis, 04 Juni 2020

Hidup Tuh Harusnya Kalem Aja..

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"ㅤㅤ
(QS. Al-Hadid (57) : 22-23)


Kalem aja berarti yah, sedih dan gembira pasti Allah pergilirkan. Udah ada catetannya tuh di Allah, kapan kita dikasih sedih, kapan kita dikasih gembira.

Harusnya dengan tau ini, hati kita jadinya ya tenang-tenang aja, ya nggak? Sedih secukupnya, karena nanti juga Allah bikin kita ketawa lagi. Gembira juga ya secukupnya, siapa yang tau besok-besok dikasih banjir air mata.

Maha suci Allah yang sudah merancang semuanya. Biar kita nggak terlalu depresi, juga nggak terlalu melambung tinggi sampai lupa diri. Allah keep the balance for us, supaya kita tetap bisa mengharap pelangi saat diterjang badai, dan tetap bisa menjaga kewarasan ketika gembira berlebihan.

Nikmat dan tenang banget kayaknya ya, kalau kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Tinggal fokus ikhtiar dan fokus berproses jadi hamba yang diridhoi aja sebenarnya kita tuh.

Kira-kira.. sudah belum ya, kita memberi kepercayaan SEPENUHNYA kepada Allah untuk menyetir kehidupan kita?

Semoga kita tidak termasuk orang yang sombong, yang terlalu percaya diri bahwa skenario hidup yang terbaik adalah yang ada dalam bayangan imajinasi kita. Big NO... :(

Senin, 25 Mei 2020

Anugerah di Tengah Pandemi

Awalnya aku sempat bertanya-tanya, di tengah pandemi seperti ini, bagaimana kami harus menyambutmu wahai Ramadhan? Tak bisa kami kunjungi masjid-masjid, akses silaturahim menjadi sangat terbatas, bahkan Idul Fitri tahun ini kami rayakan di rumah saja.

Tapi belakangan kusadari, ternyata hadirmu di tengah pandemi adalah anugerah. Di saat waktu luang kami ada banyak sekali, engkau hadir menyalakan semangat kami, menciptakan suasana yang kondusif untuk menghidupkan ibadah dari rumah-rumah kami, mensucikan jiwa kami dan mengembalikan fokus kami kepada-Nya.

Mungkin jika tanpa Ramadhan, hati kami akan terus gelisah memikirkan masa depan yang rasanya semakin tak pasti. Mungkin jika tanpa Ramadhan, kecemasan itu tak juga hilang sebab jiwa ini tak diajak untuk kembali bergantung pada-Nya. Mungkin jika tanpa Ramadhan, kami akan semakin kebingungan bagaimana mengisi waktu-waktu luang ini sehingga deretan kesia-siaan rasanya semakin bertambah panjang saja setiap harinya.

Maka bagiku, hadirmu adalah anugerah. Kehadiranmu membuat kami mampu menjaga hati, jiwa, pikiran, serta aktivitas harian kami agar dapat kami curahkan untuk-Nya. Hadirmu membuat kesadaran kami terjaga bahwa kami adalah hamba-Nya. Alhamdulillah.


Semoga aku sedang tidak salah menerka, tapi kurasa di tahun ini Ramadhan ingin mengajariku tentang menjaga istiqomah. Bahwa taat tetaplah harus dilakukan walau dalam keadaan ringan maupun berat. Di satu waktu, menjalani hari dengan ibadah dan aktivitas positif, terasa sangatlah mudah. Tak disangka, di waktu yang lain tiba-tiba menjadi sangat menantang. Disinilah istiqomah diuji, apakah kewajiban dan target Ramadhan tetap dapat tertunaikan dengan baik?

Walau dengan tertatih, aku berusaha kerahkan yang kubisa untuk tetap menghidupkan jiwa di hari-hari terakhirku bersama Ramadhan. Menyalakan harapan semoga jiwaku dapat kembali suci, sembari mengemis ampunan dari-Nya yang selalu berbenturan dengan ketidakpercayaan diri bahwa.....akankah diri ini Dia ampuni?

Ternyata, perjuangan membuktikan taat dan upaya pensucian jiwa memang tidak akan ada akhirnya. Pun kemenangan yang kita rayakan di Hari Raya ini bukanlah euforia sesaat, melainkan tentang membawa mental juara di bulan-bulan selanjutnya untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih tinggi lagi.

Selamat jalan Ramadhan, kuambil pelajaran darimu, kusimpan semangatmu untuk kugunakan di 11 bulan selanjutnya, hingga kita (semoga bisa) bertemu kembali di kesempatan yang lain. Salam rindu <3

Senin, 18 Mei 2020

Monday Love Letter #85: Hadiah Terbaik dari Ramadhan

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah masih bisa menulis dan menyapamu di surat kali ini. Setelah pertemuan kita di kelas online kemarin, saya semakin merasa bersyukur bisa diberi kesempatan oleh Allah untuk mengasuh dan membersamai sisterhood ini. Apakah kamu termasuk sister yang baru saja bergabung selepas Deep Talk with Sister of Deen pekan lalu? Kalau iya, selamat datang yaa.. Big hug for youu, sister! :)

Sejujurnya, saat ini saya sedang merasa aneh. Entahlah, sepertinya setiap mendekati perpisahan dengan Ramadhan, hati saya mulai tidak karuan. Ada perasaan berat saat harus melepas Ramadhan kembali pergi. Sedih, tentu saja. Tapi suami saya bilang, seharusnya kita bahagia, karena sebentar lagi akan menyambut hari kemenangan. Huhu aamiin, semoga saya memang layak atas kemenangan itu. Ya Allah, semoga Engkau izinkan kemenangan itu menjadi milik kami semua.. Aamiin.. :')

Di tahun ini, walaupun datang dengan kondisi yang berbeda, Ramadhan kali ini menyimpan kesan tersendiri di hati saya. Ketika keadaan 'memaksa' saya untuk sebisa mungkin melakukan segala sesuatu dari rumah, waktu luang otomatis terasa lebih panjang dari biasanya. Awalnya saya sempat mati gaya, tapi ternyata lewat ini semua, Allah ingin mengajak saya untuk menyelami diri lebih dalam lagi tentang apa-apa saja yang masih perlu diperbaiki.

Ternyata, saya masih kurang disini dan disitu, dimana-mana! Namun saya terima semua ini sebagai bentuk kasih sayang Allah karena jika Dia menampakkan berbagai kekurangan di berbagai lini, tandanya Allah ingin saya berbenah diri. Pas sekali dengan momen Ramadhan kali ini.

Allah teramat baik, di saat diri ini terlalu sibuk dengan berbagai amanah yang ada, Dia memberi kesempatan untuk mengembalikan fokus pada-Nya, memperbaiki koneksi dan kedekatan dengan-Nya yang mungkin tanpa sadar mulai merenggang.
 

 
Hadiah terbaik dari Ramadhan untuk saya di tahun ini adalah kemudahan dalam beribadah. Khusyu'nya shalat, ringannya tilawah dan dzikir, nikmatnya berdoa, hadirnya pertolongan Allah di saat-saat saya harus berbagi, adalah harta paling mahal yang saya dapatkan selama Ramadhan ini. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dimana saya perlu mendorong diri sendiri untuk berlari mengejar berbagai target yang sudah diniatkan untuk Ramadhan. Maka berbagai kemudahan beribadah di tahun ini adalah suatu hal yang sangat sangat saya syukuri. Alhamdulillah.

Ah, jika saya jabarkan rasa syukur saya yang lain, surat ini pasti takkan cukup untuk menampungnya. Bagaimana denganmu sister? Apa pembelajaran terbaikmu dari Ramadhan kali ini? Apa hadiah terindah yang Ramadhan berikan untukmu di tahun ini? Saya yakin, hadiah untukmu pasti tak kalah hebat dari yang saya dapatkan. Boleh kok, kalau mau deep talk part 2 dengan membalas surat ini. Hihi..

Di hari-hari terakhir bersama Ramadhan, pastikan kita memberikan yang terbaik yang kita bisa. Bukankah cara terbaik untuk berpisah adalah dengan memberi kesan yang paling baik? Maka pastikan Ramadhan meninggalkan kita dengan senyum, sebab saat-saat kita bersamanya dan berbagai program 'karantina' darinya, berhasil membuat jiwa kita bersih kembali dan menjadi hamba yang terampuni. Semoga.

Selamat menikmati waktu-waktu terbaik bersama Ramadhan!

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Pijit (2)

"Ih Aa udah lama ya nggak pijitin Neng, sini Aa pijitin," si suamiku ini kadang suka tiba-tiba baik hati, tiba-tiba aja gitu menawarkan diri buat pijitin aku.
Ya tentu saja tak akan kutolak!
Tapi suamiku ini juga adalah orang yang sama yang kalau mijit cuma bentar doang, baru juga aku ngerasain enaknya dipijit doi, tiba-tiba doi berhenti.
"Kok udahaan? Bentar amaat.." protesku.
"Itu tadi tuh trial. Kalo mau lama, beli serial numbernya"
Whaaat?!?!?! -___-

Jumat, 15 Mei 2020

Untuk Diriku Tahun 2012


"Do something today that you will thank yourself in the future."

So nostalgic, nemu notes ini ditempel di loker lamaku yang ada di rumah orangtua. Sampe senyum sendiri bacanya. Ooh jadi gini rasanya, berterima kasih sama diriku di masa lalu. So proud of her. ❤

ㅤㅤㅤ

***

ㅤㅤㅤ
Dear Husna di tahun 2012, aku sudah lupa apa yang terjadi padamu di tahun itu. Tapi.. terima kasih ya, karena sudah berjuang dan tidak menyerah di saat itu. Terima kasih sudah menyikapi setiap takdir-Nya dengan amat bijaksana dan mewariskan kebiasaan syukur itu kepadaku hari ini.

Dari semua support system yang kupunya, ternyata kamulah yang terbaik. Semoga aku di hari ini, juga bisa sehebat kamu ya, bahkan lebih hebat lagi.

Doakan aku, supaya aku juga bisa mewariskan pola pikir, pola sikap, pola tindak, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik untuk diriku di masa depan.

Semoga diriku di masa depan juga bisa berterima kasih kepadaku, seperti aku yang berterima kasih kepadamu hari ini.

Love you, and so proud of you!

-dari Husna di tahun 2020

Selasa, 05 Mei 2020

Refleksi 28 Tahun

Ulangtahunku udah lewat beberapa hari lalu. Biasanya tiap ultah aku pasti nulis refleksi di diari. Tapi akhir-akhir ini lagi males nulis buku harian, jadi langsung nulis di blog sajalah.

Ulangtahunku tahun ini menarik. Nggak banyak orang yang ingat. Seperti biasa, satu-satunya orang yang nggak pernah lupa ngucapin adalah ambu, ibuku.

Ulangtaun paling flat pokoknya kemarin tuh karena minim ucapan banget. Tapi aku nggak masalah sama sekali sih. Karena makin kesini makin ngerasa nggak ada yang spesial dari ulangtaun. Justru itu aku jadiin momen aku dan diriku sendiri aja. Untuk evaluasi dan muhasabah diri. Nggak perlu perayaan-perayaan atau selamet-selametan.

Ulangtahun yang ke-28 ini, yang ada di pikiranku cuma 2;
Pertama, 28 tahun ini bukan waktu yang sebentar men untuk hidup di dunia. 28 tahun tuh cukup lama, apalagi bentar lagi mau 30. Udah banyak kesempatan waktu yang Allah kasih untuk aku hidup di dunia ini. Membuatku bertanya kepada diriku sendiri tentang satu pertanyaan besar: kamu udah ngapain, Na? Udah sebermanfaat apa di hidup yang udah 28 tahun ini?

Kedua, karena 28 adalah waktu yang cukup lama untuk hidup di dunia, aku jadi mikir, sisa waktuku berapa lagi ya? Sampe umur 30-ankah? 40 kah? 50? berapa? Nggak ketebak sama sekali. Bahkan bisa jadi sisa waktuku cuma beberapa bulan lagi, atau beberapa hari lagi? Who knows? Dan ini bikin aku jadi mulai berpikir tentang kematian.

Beberapa minggu lalu menjelang Ramadhan, ada seorang saudara yang meninggal. Dan aku ikut nganter ke makam dan melihat prosesi pemakamannya. Dari mulai parkir, terus menyusuri jalan sampai akhirnya nyampe ke depan liang lahat, saat itu tuh aku berasa kayak lagi simulasi kematian. Nih Na, kalau nanti meninggal, nanti kamu kayak gini.. Aku ngingetin diriku sendiri.

Terus pas mayatnya dimasukin ke kuburan kan dia diadzanin dulu ya. Disitu aku mikir, Ya Allah.. Hidup tuh singkat banget ya, cuma dari adzan ke adzan.. :"

***

Hari ini, rasanya udah nggak pantes buat ngurusin perkara dunia doang.

Hari ini.. saatnya lebih fokus menebarkan manfaat dan menebarkan cahaya untuk orang lain, biar dapet banyak amal jariyah pas udah masuk kubur nanti.

Hari ini.. saatnya lebih serius mengerjakan proyek-proyek untuk akhirat dan nggak itungan buat ngorbanin apa yang dipunya selama dipakenya untuk tabungan akhirat.

Hari ini.. saatnya lebih fokus untuk bekal mati.

Senin, 04 Mei 2020

Ulangtahun

Hari itu, tanggal 25 April. Tiba-tiba suami nyamperin, terus bilang, "Neng, bentar lagi ada yang ulang taun tau."
"Iya gitu?" jawabku sambil ketawa.
"Neng, Aa lupa siah ulang taun neng tanggal berapa. Hahaha."
"Hahaha, parah sih parah.. Masa ulangtaun istrinya ngga inget?"
"Iya abisnya banyak yang ulangtaunnya tanggal 20-an, lupa ih.. Pokoknya ulangtaun neng tuh kalau nggak tanggal 23, tanggal 25, atau 27"
Aku cuma bisa ketawa. Nggak sebel sama sekali, karena sebetulnya ini tuh bodor hahaha. Orang ultah aku tanggal 29, dan tanggal itu nggak disebut sama doi. wkwkwk!
"Tanggal 23 da yey, udah lewat tau," kata aku, bercanda.
"Udah lewat ya, masa sih?" Asli mukanya polos banget, beneran lupa lah ni orang hahaha.
"Hahaha, tanya ambu gih sana, ambu  tuh satu-satunya orang yang nggak pernah lupa ngucapin selamat ulangtaun ke aku."
"Oh iya bener.." sedetik doi menyangka itu ide bagus, tapi sedetik kemudian dia sadar, "Ah nggak mau! Nanti Aa diomelin lagi sama ambu, masa lupa sama tanggal ulangtaun istri?!" 
Hahaha, kena deh! Tau aja doi apa yang ada di pikiran aku.
Akhirnya setelah beberapa menit minta clue, doi kembali kerja ke depan komputer. Percakapan kami berakhir, dan aku cuma bisa ngikik2 dalam hati. Kapan lagi jailin suami cobaaa hahaha..

Malam hari, aku lagi main hape di kasur. Tiba-tiba doi dateng, "Neng, liat mata Aa, Aa bakal nebak ulangtaun Neng." 
Buahahahaha ngakak langsung aku! Ternyata doi masih penasaran tanggal ulangtaun aku.
"Cepet ih! Liat mata Aa...!" kata dia sambil ketawa-tawa juga.
"Mau ngapaiiiin?" Aku masih belum berhenti ketawa.
"Pokonya liat mata Aa ya.. Aa bakal perhatiin mata Neng" katanya mulai serius. Akhirnya aku nurut sambil nahan ketawa.
"Tanggal ulangtaun neng tanggal 26 ya..?"
Hening.
"27..28..29..30.." dia sebutin semua tanggal sambil ngeliat mata aku. "Aaah Aa tau! Ulangtaun Neng tanggal 29 yaaaaa??" kata dia sambil ketawa lebar, yakin kalo tebakannya bener.
Aku cuma bisa diem dan nggak nyalahin jawaban doi karena emang bener. wkwk.
"Tadi soalnya pas disebut 29 mata Neng gerak dikit. Hohoho." kata dia sambil ketawa puas.
Dalam hati aku ngebatin, belajar dari mana coba teknik macam gitu. Kalau aku jadi dia, aku bakal cari data laah, liat KTP aku atau liat KK gitu buat liat tanggal ultah aku. Ini malah sok-sokan kayak magician. wkwkwk..

Lalu ketika tiba tanggal 29..
"Neng neng, hari ini ada yang ulangtaun!" doi bilang gitu hampir sepanjang hari sambil ketawa jail.

Haaah~ suamiku emang unik. wkwkwk
*tapi sayang kok #eh

Sabtu, 02 Mei 2020

Ngomelin Pasangan Tanpa Konflik

Kita kembali lagi ke tema married life, hehe. Bicara tentang pernikahan, komunikasi antar pasangan jadi sebuah tantangan sendiri sebenarnya. Kan kita nggak mau ya jadi orang yang tanpa sengaja menyakiti hati pasangan kita baik dengan perbuatan maupun dengan kata-kata.

Aku dan suami sebenarnya sama-sama tipe yang agak sulit mengungkapkan apa yang dirasakan. Aku lebih parah lagi, kalau lagi marah, bukannya ngomel-ngomel, yang ada aku nangis tanpa bisa menjelaskan apa-apa. Hahaha.

Aku juga tipenya adalah orang yang sangat menghindari konflik. Sebisa mungkin jangan sampe ada suara-suara dengan nada tinggi yang terdengar di rumah. Jadi sekesel apapun, aku tuh gak bisa marah-marah.

Tapi namanya manusia, makhluk emosi, ya marah dan kesel mah ada aja. Biasanya kalau ada tindakan atau ucapan suami yang bikin kesel, aku menahan emosi di saat itu. Pokonya diem aja dulu. Setelah tenang, aku bilang ke doi, "Aa tau nggak, tadi ada yang marah-marah tau ke aku. Sebel aku tadi tuuh.." Jadi cara menyampaikannya tuh aku nggak langsung "nyemprot" dia. Aku menyampaikan perasaanku secara tidak langsung dengan menceritakan hal yang sudah berlalu. Cara ini cukup berhasil, karena pertama, cara ini nggak bikin doi sakit hati atau merasa disemprot, dan kedua, tidak memancing konflik baru karena dikemas dengan bentuk cerita. Jadinya ngomel yang tersirat gitu.

Contoh lain, misalnya suami bilang mau buang sampah. Eeh taunya gak dilakuin juga sampe berjam-jam. Daripada ngomel "Aa katanya mau buang sampah?? Manaa??" yang beresiko ngebuat doi kesel karena ngerasa disuruh-suruh plus disalahin, aku lebih memilih bisikin doi terus bilang, "Aa tau nggak, tadi ada yang mau buang sampah tapi nggak jadi-jadi tau." Jatohnya jadi bercanda, padahal mah ya nyuruh-nyuruh juga wkwkwk.

Pokoknya hampir di semua hal deh, yang sifatnya menyuruh dan kesel-kesel aku sampeinnya dengan cara ini.
"Aa perasaan tadi ada yang bilang mau mandi deh, tapi sampe sekarang belum mandi juga.."
"Aa tau nggak, kemaren ada yang marah-marah seharian gara-gara kalah main game. Terus aku juga kena semprot ikut dimarah-marahin juga. Ngeselin banget emang tuh orang" lalu dia cerita "iyaa Aa tuh kesel banget kemariin soalnya blablabla.." dan berujung minta maaf.
"Aa tadi ada yang ngabisin cemilan aku dooong. Pas aku mau ngemil terus buka laci, taunya snacknya ga ada!" iya, sampe yang receh kayak gini juga aku nyampeinnya pake metode itu wkwkwk.

Daan hal ini juga ditiru sama suami buat nasehatin aku. Hahahaa..
"Neng, tau nggak? Tadi ada yang tidur kebluk banget, dibangunin nggak bangun-bangun," kalo aku kesiangan bangun. Lalu aku jawab, "ih iya yaampun parah banget emang, maapin ya Aa, haha.."
"Neng tadi teh asa ada yang mau ngambilin makan tapi kok makanannya nggak dateng-dateng yaa?" kalo aku kelupaan ngambilin makan. "Ih iya lupaaa" lalu aku buru-buru ngambilin makan.
"Neng, tau nggak. Kemaren ada yang kesel-kesel terus nangis.." kalo aku nangis karena badmood. "Ih iya tau, kemarin tuh aku kesel gara-gara......(lalu cerita)" dan aku minta maaf.

Ya begitulah, jadi seruu, yang ada malah ketawa-ketawa kitanya. Sesuatu yang bisa berujung konflik jadi bisa teredam dengan komunikasi macam begini. Win-win solution juga buat masing-masing pasangan karena tidak merasa dituduh dan tersudutkan, dan jadi punya kesempatan untuk menjelaskan kenapa tadi tuh dia marah, kenapa tadi tuh dia nangis, kenapa tadi pagi susah bangun, dll.

Mungkin bisa dicoba di keluarga anda? Walaupun saya juga tidak tahu apakah cara ini bisa berhasil di setiap pasangan atau tidak. Whehehe..

Yaa,, walaupun nggak semua hal bisa dikomunikasikan dengan cara begini. Kalo ngobrolnya agak serius ya serius.. Hohoho

Senin, 27 April 2020

Menuju ke Puncak Takwa


Jika puncak gunung itu ibarat gelar takwa yang untuk mencapainya kita harus siap mendaki bukit-bukit, melewati semak belukar, menghadapi tebing terjal dan jurang, melawan binatang buas, bahkan melawan lelah kita sendiri, maukah kita tetap mengupayakannya?

Jalan menuju Allah memang mendaki lagi sukar, namun Allah itu Asy-Syakuur, Maha Mensyukuri. Sedikit saja Ia melihat upaya serius seorang hamba ketika menuju-Nya, berbagai kenikmatan langsung Ia siapkan untuk hamba tersebut. Layaknya sambutan seorang ibu kepada anaknya yang sudah lama tak pulang; didekap rindu, disayang dan dimanja, dipenuhi segala kebutuhannya.

Ketika jalan menuju-Nya mulai terasa berat dan melelahkan, Ia ada, hadir utuh untuk kita, memberi pertolongan, meminjamkan kekuatan, memberi angin segar untuk mengeringkan keringat dan air mata kita. Ah, andaikan kita tahu bahwa Allah menjaga kita dengan penjagaan terbaik melebihi yang kita bayangkan. Sempurna sekali Dia menjaga, sesempurna Dia memberi cinta.

Maka perjuanganmu yang belum seberapa itu, jangan sampai berhenti. Cinta-mu tengah menanti di puncak sana, bersiap menyambutmu dengan sambutan terbaik yang pernah ada; malaikat-malaikat yang mengucap salam, mahkota kemuliaan yang Ia janjikan, istana-istana yang sempurna keindahannya, pertemuan dengan baginda Rasul yang tersenyum lega melihat umatnya pulang dengan selamat, serta pertemuan dengan-Nya yang menjadi nikmat tertinggi dalam sejarah perjalanan hidup dan matimu. Hidup bahagia selamanya di syurga, tanpa rasa khawatir, dendam, lelah dan sedih hati.

Saat itulah, saat semua kenikmatan sempurna itu kau dapatkan, kau akan benar-benar merasakan bahwa perjuanganmu itu amatlah layak untuk dilakukan dan dibalas dengan sangat baik oleh-Nya. Bahkan jika kau harus kembali ke dunia dan mengulang perjuangan yang sama pun, kau akan mengiyakannya tanpa ragu, turun lagi berjuang walau harus mengorbankan darah dan nyawa sekali lagi.

#RamadhanRoadtoTaqwa

Kamis, 23 April 2020

Epilog #MenjemputRamadhan


Alhamdulillah, akhirnya yang dijemput datang juga. Bersyukur tak terkira, Allah masih memberi kesempatan bertemu dengan Tamu Agung-Nya. Semoga kesempatan ini bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Masa persiapan telah selesai, hari ini menjadi permulaan metamorfosis diri. Semoga selepas 'karantina' Ramadhan, kita semua termasuk pemenang-pemenang yang lahir kembali dengan diri yang baru; yang lebih kuat tauhidnya, lebih tangguh dalam sabar menjalankan syariat-Nya, lebih cantik akhlaknya, lebih luas manfaatnya.

Seneng banget serial tulisan #MenjemputRamadhan nya alhamdulillah lancaar. Kadang ada saat-saat bingung mau nulis tentang apa lagi, tapi tiba-tiba Allah kasih aja gitu idenya. Dan memang niatan awalnya bener-bener buat diri sendiri, makanya rata-rata bahasanya galak-galak reflektif gitu XD

Daan mau bilang jazakillah khairan katsiran buat Fikikuuu @fikriarosyida buat desain2 cantiknyaa. Apalah aku tanpa sentuhan kreativitasmu Fik wkwk. Inget banget awal bikin project ini tuh gara-gara jengah dan sedih sama seliweran berita corona yang menggeser awareness orang-orang kalo bentar lagi Ramadhan. Makasih udah menyambut baik ide aku, semoga Allah balas kebaikanmu berlipat-lipat ya Fiik :*

Terima kasih juga untuk temen-temen udah yang ngikutin perjalananku mempersiapkan Ramadhan. Makasih yang udah ngeshare, walaupun tulisannya buat diri sendiri, tapi jadi kebahagiaan tersendiri loh ketika ada yg ngeshare tuuh <3

Selamat menghidupkan Ramadhan di rumah, selamat menikmati pelatihan jiwa yang Allah siapkan untuk kita dan keluarga. Semoga kita semua kembali kepada jiwa yang suci dan mendapatkan medali takwa dari Allah.. 

Mohon maaf lahir batin ya :)

Bagaimana Jika Ini Ramadhan Terakhirku?


Kematian tak pernah gagal memberi nasihat terbaik. Kematian adalah pengingat yang paling mujarab untuk menampar jiwa yang terlalu lekat pada dunia.

Setiap jiwa akan kembali kepada Pemiliknya, dan tidak ada yang bisa menebak kapan giliran kita dipanggil. Tak ada pula seorangpun yang dapat menjamin bahwa kita akan bertemu Ramadhan selanjutnya.

“Jadikan Ramadhanmu deadline. Seolah ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidupmu. Mengapa? Agar kita berusaha keras menggapai tangga ketakwaan tertinggi di Ramadhan ini. Karena jika tidak tercapai di Ramadhan ini, kita tidak akan ada waktu lagi. Jika Ramadhan ini terlewat, hilanglah Ramadhan terakhir kita.” Begitu kata Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis buku Ramadhan, Maaf, Kami Masih Sibuk.

Di hadapan kematian, bukankah setiap detik menjadi sangat berharga? Bukankah shalat kita akan menjadi shalat terkhusyu’? Bukankah lisan kita akan selalu basah dengan istighfar dan dzikrullah? Bukankah kita akan sibuk berburu amal shalih? Bukankah waktu yang sering kita abaikan tiba-tiba menjadi sangat bernilai? Hingga sama sekali tak ada waktu untuk memikirkan keburukan dan kesia-siaan. Bisakah Ramadhan kita seperti itu?

Seandainya ini Ramadhan terakhir, inilah kesempatan terbaik bagi jiwa-jiwa yang ternoda menjadi kembali pada kesuciannya. Jikapun kelak Allah memang memanggil kita, setidaknya kita berhasil “pulang” dan menghadap kepada-Nya dalam keadaan bersih, selamat, husnul khatimah.

Karena itu, selamat berjuang wahai jiwa yang merindu perjumpaan dengan Rabb-nya. Selamat berbenah diri untuk menjadi hamba yang sejati.

Bukan mati yang seharusnya kau takuti, sebab semua makhluk bernyawa tak ada yang abadi. Takutlah, jika kematianmu tidak dalam keadaan diri yang Dia ridhoi.

___

dari @una_ha2 dan @fikriarosyida
H-1 #MenjemputRamadhan 1441 H