Senin, 30 Agustus 2021

Sebelum Selesai Masa Tugas

 *dikutip dari Monday Love Letter #129, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Akhirnya bisa kembali menyapamu setelah dua pekan lalu saya bercerita tentang hikmah silaturahim. Bagaimana kabarmu, sister? Di penghujung hari Senin ini, semoga ada banyak rasa syukur yang bisa kamu ungkapkan kepada Allah sebelum terlelap. Semoga segala amarah, sedih dan gundah yang barangkali sempat kau rasakan hari ini, dapat menguap dan berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan di dalam hati. Jangan lupa bersyukur, ya!

Kali ini, walaupun lagi-lagi suratnya baru bisa kau baca di malam hari, saya tak sabar ingin berbagi cerita denganmu tentang sesuatu yang saya dapatkan dalam dua pekan belakangan ini. Saya yakin, setiap kejadian yang menimpa diri saya tak mungkin Allah hadirkan ke dalam kehidupan saya, jika tidak ada hikmah maupun pelajarannya. Begitu juga dengan kejadian yang menimpa orang lain. Saat kita mungkin tanpa sengaja mendengar suatu berita tentang kejadian yang menimpa orang lain, saya yakin Allah juga sebetulnya menyimpan pesan cinta-Nya lewat cerita yang Dia "hadirkan" untuk kita dengar. Karenanya saya selalu berdoa, semoga saya (dan kita semua) senantiasa diberikan kepekaan dan kejernihan hati untuk bisa menangkap pesan-pesan tersirat itu dan mengambil hikmah besarnya.

Dan tahukah apa "pesan" yang paling sering saya dengar dalam dua pekan terakhir, sister? Ternyata ada banyak berita kematian yang saya dengar, juga berita tentang ujian-ujian berupa sakit dari orang-orang yang saya kenal. Seperti ada pesan maha penting yang ingin Allah sampaikan sehingga berita tentang sakit dan kematian dihadirkannya lagi dan lagi, dan sukses membuat rentetan berita itu hinggap di dalam kepala saya dalam beberapa hari.

Saya masih ingat, ada sebuah kalimat yang betul-betul membuat saya tertohok saat membaca pesan salah seorang sahabat di salah satu grup whatsapp ketika ia mengabarkan sebuah berita kematian. "Innalillahi wa inna ilaihi rajiu'un, ayah fulan sudah selesai tugasnya di dunia.." ujarnya. Hanya sebaris kalimat yang ditulisnya, namun berhasil membuat hati saya terasa bergetar, seakan diingatkan kembali bahwa kehadiran saya di dunia ini tidak lain hanyalah untuk melaksanakan tugas dari Allah semata. Maka nasihat terbaik dari sebuah berita kematian adalah untuk mengingatkan bahwa akan ada saatnya kita yang masih hidup ini akan kembali kepada Allah untuk kemudian ditanya perihal tugas yang diamanahkan-Nya kepada kita, sudahkah dijalankan dengan baik?

Membayangkan hari pertanggungjawaban di "Pengadilan Allah" nanti, tak pernah gagal untuk membuat hati ini meringis karena sadar tidak banyak amal yang bisa kubanggakan. Masih banyak menit yang berlalu begitu saja tanpa bisa kupastikan apakah ia bernilai ibadah di hadapan-Nya? Masih banyak penundaan atas berbagai peluang kebaikan sehingga kesempatan untuk mendapatkan amal shaleh pun hilang. Lebih parahnya lagi, hilangnya kesempatan itu seringnya tak meninggalkan penyesalan, as if it wasn't a big deal for me. Sementara itu, di zaman ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya masih hidup, para sahabat Rasul akan merasa sangat menyesal jika tertinggal shalat berjamaah di masjid dan bersedih luar biasa jika tidak bisa ikut berperang bersama Rasulullah. Huhuhu, kualitas iman yang masih jauh sekali jika dibandingkan dengan mereka.. :'(((

Tapi Allah mungkin masih sayang kepada hamba-Nya yang imannya penuh dengan tambalan ini. Tanpa pernah kurencanakan, Dia merancang sebuah pertemuan tak terduga dengan salah seorang guru. Seseorang yang saya tahu betul bahwa hampir tidak ada ucapannya yang tidak mengandung hikmah. Yang jika dipandang, wajahnya teduh dan memancarkan ketenangan. Kebijaksanaan yang tak mungkin terpancar jika tanpa tempaan yang mengokokohkan iman. Di akhir pertemuan, saya mendapatkan peluk dari beliau serta beberapa pesan yang satu di antaranya ialah, "Semoga terus semangat dalam beramal shaleh, ya.."

Entah bagaimana, pesan itu terus terngiang di kepala saya dan selalu muncul setiap kali ada keinginan saya untuk menunda atau mengurungkan niat saat bertemu peluang-peluang amal shaleh. "Yuk, kerjain Na, kata Ibu harus semangat dalam beramal shaleh!" begitu suara di dalam kepala saya berbicara. Pertemuan yang awalnya tak disengaja itu, pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat saya syukuri.

Dari perjalanan perenungan selama beberapa hari ini, ternyata ada berbagai pengingat yang Allah sisipkan dari setiap kejadian. Pesan-pesan yang berisi kasih sayang dari-Nya agar diri ini selalu memperhatikan setiap gerak dan langkah untuk selalu berada dalam pelaksanaan tugas sebagai hamba-Nya. Semoga dalam keadaan apapun, kita mampu untuk senantiasa dalam keadaan sedang bertugas untuk-Nya, sampai nanti Allah panggil kita untuk kembali kepada-Nya, "Masa tugasmu di dunia sudah selesai hamba-Ku.."

Semoga kita bisa menyambut panggilan pulang itu dengan senyum dan tanpa penyesalan. Semangat beramal shaleh, sister!


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

 

Tentang Cerita yang Tak Pernah Kudengar

*dikutip dari Monday Love Letter #127, yang kutulis untuk Sister of Deen

Beberapa hari belakangan saya sedang berusaha meningkatkan kualitas relasi dengan teman-teman terdekat. Kebanyakan interaksi saya selama ini paling hanya sekedar melihat atau mengomentari Instagram Stories, sedangkan menelepon atau mengirim pesan biasanya hanya kalau ada perlunya saja.

Padahal, pertanyaan 'gimana kabarnya?' yang dengan tulus kita lontarkan kepada orang-orang terdekat bisa jadi amat bernilai untuk mereka. Atau ketika kita menawarkan 'ketemuan yuk!' kepada sahabat-sahabat kita untuk mendengar ceritanya, mungkin pertemuan hari itu akan menjadi pertemuan yang berkesan untuk mereka.

Banyak orang bilang, semakin dewasa biasanya lingkaran pertemanan kita semakin sempit. Saya justru berharap sebaliknya, semoga saya diberi Allah cukup waktu dan energi untuk bisa memelihara silaturahim dengan banyak orang. Lho, mengapa?

Interaksi saya dengan beberapa orang akhir-akhir ini membuka banyak sekali obrolan yang tidak hanya meluas topiknya, tapi juga mendalam tentang cerita apa saja yang selama ini terjadi di hidup mereka. Tak disangka, ternyata ada banyak kisah yang berisi perjuangan untuk menghadapi realita dan takdir ditetapkan Allah untuk hadir di kehidupan mereka. Tak jarang pula, isak tangis menjadi pengiring dalam kisah yang mereka suguhkan untukku. Membuatku tersadar, "Wah.. Setiap orang ternyata diberi oleh Allah ujian yang berbeda-beda."

And the struggle is real! Ada banyak cerita yang membuatku tercengang sekaligus takjub ketika mendengar ujian-ujian hidup yang harus dihadapi oleh beberapa teman. Yang mungkin jika saya ada di posisinya, saya tak akan kuat, saya pasti tak akan bisa sabar. Tapi Allah memang Maha Mengenal hamba-Nya. Maka pastilah ujian yang Dia timpakan untuk seseorang sudah dalam takaran yang teliti sekali perhitungannya dan hamba-Nya itu pasti akan mampu melewatinya.

Silaturahim juga membuat saya menyadari bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Sekuat-kuatnya kita, kita tetap butuh orang lain untuk membantu kita di kala kesusahan, di kala kita butuh semangat, atau mendengarkan cerita kita agar sekedar merasa lega.

Satu lagi hikmah yang saya dapatkan, ternyata menjalin silaturahim itu tidak harus selalu menjadi seseorang yang serba bisa untuk sahabat kita. Terkadang sesederhana menjadi pendengar yang baik, sudah cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian.

Namun, ada pesan guru saya yang selalu saya ingat, bahwa makna dari silaturahim sejatinya ialah menyambungkan kasih sayang Allah. Maka sebaik-baik silaturahim adalah pertemuan yang tak hanya mempertemukan jasad, tapi juga pertemuan antar ruh (jiwa) untuk sama-sama mengingat Allah dan tujuan penciptaan kita di dunia, serta saling tolong menolong untuk keselamatan di dunia dan akhirat.

Jadi, kapan terakhir kali kamu menyapa sahabat dan orang-orang terdekatmu dan mendengarkan "the untold stories" mereka? Semoga silaturahim yang kita jalin dengan orang-orang tersayang, membawa kita pada kebersamaan yang kekal. Yang tidak hanya bersama-sama di dunia, tapi juga hingga ke syurga-Nya. Aamiin..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Rabu, 19 Mei 2021

Harap dan Juang Demi Pembebasan

Dunia kembali ramai. Al-Aqsha diserang, Gaza kembali dibombardir. Darah kembali tumpah walau luka-luka kemarin masih belum sepenuhnya kering. Sedih, pilu, perih hati ini mendengar ledakan, teriakan dan tangisan mereka di sana. Semoga Allah jaga saudara-saudara kita di Palestina dengan sebaik-baik penjagaan.

Di tengah-tengah menelusuri berita tentang Al-Aqsha, saya tiba-tiba teringat pada rangkaian fakta sejarah bahwa banyak pembebasan suatu negeri terjadi, saat Islam sudah berjaya.

Pembebasan Mekkah (Futuh Makkah), terjadi saat Islam telah berjaya di masa Rasulullah dengan Madinah sebagai ibukotanya.

Penaklukkan Persia yang dipimpin Khalid bin Walid dilakukan di masa kekhilafahan Umar bin Khattab. Masih di masa Umar, ada pula penaklukkan Mesir yang dipimpin oleh Amr bin Ash.

Pembebasan Palestina oleh Salahudin Al-Ayyubi terjadi di masa kejayaan Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah.

Pembebasan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih terjadi saat kesultanan Turki Utsmani sedang berjaya.

Dan masih banyak lagi.

Semua pembebasan di suatu negeri, selalu terjadi saat Islam sudah menang, sudah mencapai masa kejayaannya.

Jika kita lihat pola sejarahnya, maka kunci dari pembebasan Palestina saat ini, besar kemungkinan harus diawali dengan kebangkitan umat islam yang mencita-citakan dan memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam.

Saat Islam telah menang, terang dan berjaya di suatu negeri, maka cahayanya akan otomatis menyinari wilayah di sekitarnya, membantu negeri-negeri lain lepas dari keterjajahan. Persis seperti keadaan Madinah dulu. Tak heran Rasulullah menamai kota suci itu dengan sebutan Madinah Al-Munawwarah, kota yang bercahaya.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang masih terjajah, dimanapun berada.

Semoga cahaya Islam segera tampak dan bersinar di seluruh penjuru Bumi. Dan semoga kita menjadi bagian dari yang menyalakan sinar Islam, pertama-tama di diri kita, lalu menerangi seluas-luasnya. Insya Allah.

Selasa, 30 Maret 2021

Menjadi Diri yang Menerima

Bertahun-tahun saya belajar dan kemudian hasil pemahaman saya menyimpulkan bahwa menerima qadha dan qadar-Nya, adalah STEP AWAL untuk bisa menerima diri ini diatur dengan aturan-aturan dari-Nya.

Untuk menjadi hamba yang sepenuhnya taat, diri kita harus lebih dahulu selesai dari prasangka-prasangka buruk tentang Allah, mempertanyakan takdir-Nya, ataupun mengeluh atas ketetapan yang telah Dia pilihkan dan diizinkan terjadi dalam hidup kita.

Sebab, tak mungkin kita bisa taat sepenuhnya kepada Allah, mencintai Allah dengan penuh, apalagi mengorbankan segalanya untuk Allah, jika kita masih memiliki "trust issues" dengan Allah. 

Tak mungkin ada rasa tentram di hati kita apabila kita tidak "merasa aman" saat bersama dengan Allah. Tak mungkin ada perasaan tenang di jiwa kita apabila kita tidak "percaya" pada Allah.

Allah tak pernah salah, Allah tak pernah jahat, Allah tak pernah menghendaki kesukaran untuk hamba-Nya. Allah selalu memberi yang terbaik. Allah selalu memberi apa yang hamba-Nya butuhkan. Allah senantiasa menyayangi kita dengan cara-Nya. Ya, kita mengakui itu, tapi tak benar-benar meyakininya. Kita mengakui itu, tapi hati masih berat menerima ketetapan-Nya. Kenapa?

Kesalahan terbesar kita adalah kita sering merasa lebih tahu daripada Allah, kita merasa lebih bisa daripada Allah, kita merasa bahwa skenario yang terbaik adalah yang ada dalam pikiran kita, kita merasa bahwa hidup akan menjadi lebih baik jika kita hidup dengan cara kita sendiri. Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita mengambil alih peran Allah dalam menetapkan dan mengatur tentang bagaimana kita harus hidup.

Maka, penerimaan pertama yang harus kita akui, adalah menerima bahwa kita adalah hamba-Nya. Yang tak bisa apa-apa jika tak dipinjami kekuatan oleh-Nya, yang takkan tahu apa-apa jika tak diilhamkan ilmu dari-Nya, yang tak bisa hidup benar dan selamat kecuali dengan tuntunan dari-Nya.

Sungguh, perkara menerima tak pernah menjadi hal yang mudah. Ada ego di dalam diri yang betul-betul harus ditundukkan untuk mengakui betapa rendah, lemah dan hinanya diri kita di hadapan Allah sehingga muncul kebutuhan untuk bergantung pada Allah dan hidup sesuai keinginan-Nya.

Terimalah dengan penuh, bahwa dirimu adalah seorang hamba Allah. Hanya dengan cara itu, dirimu bisa merdeka dalam taat. Dan hanya dengan cara itu pula, kita bisa lebih dekat dengan kemuliaan dan keselamatan. Sudahkah menerima?


Senin, 22 Februari 2021

Monday Love Letter #115: Mendamba Surga yang Sama

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, Sister!

Kamu sedang apa ketika membaca surat ini? Bagaimana hari Seninmu? Lebih banyak produktifnya atau lebih banyak rebahannya? Hehe.. Masih dalam masa pandemi, bekerja atau belajar dari rumah sepertinya masih akan menjadi "new normal" bagi sebagian besar dari kita hingga beberapa waktu ke depan. Dan kondisi yang serba daring ini terkadang memberi "jebakan" atas waktu luang yang rasanya menjadi semakin banyak, sebab rutinitas berangkat keluar rumah sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Semoga dalam setiap waktu yang Allah titipkan, kita selalu bisa mengisinya dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, agar Allah menurunkan berkah kepada kita di hari ini dan seterusnya. Aamiin..

Tentu saja, doa itu juga berlaku untuk diri saya sendiri. Karena jujur saja, perihal memanfaatkan waktu saya juga masih jauh dari sempurna. Kalau dipikir-pikir, masih banyak waktu yang saya gunakan untuk istirahat daripada berkarya dan berjuang untuk-Nya. Kalaupun berhasil produktif, saya selalu merasa produktivitas itu harus "dibayar" oleh me time dengan waktu yang sama (tak jarang malah kebablasan) sebagai bentuk apresiasi karena saya telah berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat atau produktif di hari itu. Hmm, sebenarnya tidak ada yang salah dengan me time, hanya saja, jika me time yang dilakukan hanya sebatas untuk memuaskan hawa nafsu kita yang ingin bersenang-senang, apakah kita bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kalau itu adalah bagian dari ibadah kita untuk-Nya?

Ada sebuah kalimat dari seorang guru, yang membuat saya terhenyak saat mendengarnya. Masih sangat fresh karena nasihat ini baru saya dengar 3 hari yang lalu. Beliau bilang, "Kita mendamba surga yang sama dengan Rasulullah dan para sahabatnya, tapi hidup kita dipenuhi dengan kenyamanan, kira-kira bisa sampai ke surga nggak? Kalau mau surga yang sama, ya kerepotannya harus sama dengan mereka.." Haaaaahhh, hati saya menangis ketika mendengarnya. Ketika berkaca kepada diri, rasanya kerepotan saya dalam perjuangan dan ketaatan, tak sampai seujung kuku jika dibandingkan dengan loyalitas dan pengorbanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

 


Konon, setelah wahyu pertama turun kepada Rasulullah Muhammad SAW, beliau SAW berkata kepada istrinya, "Waktu tidur dan istirahat sudah tak ada lagi, Khadijah." Dan seperti yang kita semua tahu, setelah hari itu, betul-betul tak ada istirahat bagi beliau SAW dan orang-orang yang berjuang bersamanya. Sejak hari itu, harta dan jiwa dicurahkan siang dan malam untuk Allah dan perjuangan dakwahnya. Seluruh harta habis di jalan dakwah, seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan untuk amanah-amanah dari Tuhannya, bahkan ketika nyawa harus dipertaruhkan beliau SAW tak gentar sedikit pun. Masya Allah, tabarakallah yaa Habiballah.. :")

Sebuah hikmah yang sangat berharga bagi kita untuk kembali merenungi, apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup kita? Apa yang selama ini mengisi hati dan pikiran kita? Aktivitas apa saja yang mengisi hari-hari kita? Sudah sejauh apa kita menguswah kepada Rasulullah SAW, apakah kisahnya hanya kita pandang sebagai cerita masa lalu atau sebuah cara hidup benar yang harus kita ikuti?

Saya merasa masih banyak PR, untuk terus memantaskan diri menjadi sebenar-benarnya hamba yang menjadikan Allah sebagai pusat semesta diri. Istiqomah di berada di jalan-Nya, memang tantangan yang sangat berat, dan memang itu yang ingin Allah uji dari kita hamba-Nya. Tak pernah ada jalan pintas menuju surga, bahkan untuk para Rasul-Nya sekalipun. Para nabi, rasul, dan syuhada terdahulu yang Allah jamin surga baginya, adalah mereka yang telah lulus ujian keimanan selama di dunia. Maka jika kita mengharap surga yang sama dengan mereka, bersiaplah untuk ujian keimanan dari-Nya.

Tapi tenang saja, Allah tak pernah memberi ujian di luar batas kemampuan kita. Dan Allah tak pernah menguji kita tanpa memberi rumus jawabannya. Sejak dulu, rumus hidup selamat tak pernah berubah, yaitu dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Selama kita berpegang pada keduanya dan bersabar dalam keteguhan melaksanakannya, insya Allah surga yang kita dambakan bisa terwujud. :)

Bismillah, kita mulai coba kurang-kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat, yuk, Sister. Kita ganti dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang lebih mengundang manfaat, mengundang ridho-Nya, dan bernilai ibadah di hadapan-Nya. Semoga kita semua dikuatkan Allah dalam sabar, dalam keistiqomahan menjalankan perintah serta amanah-amanah dari-Nya. Semoga atas kesabaran dalam menjalankan perintah Allah itu, Allah hadiahkan surga untuk kita. Aamiin ya Rabbal 'alamiin..

"Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid (syuhada) dan orang-orang shaleh (shalihin). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." -QS. An-Nisaa (4) : 69-70

Barakallahu fiik, sister! Tetap semangat, ya! :D

 

Salam sayang,

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Jumat, 08 Januari 2021

Pertama Kali Pegang Dummy "Dear, Sister of Deen"



Ga bisa nyembunyiin excitednya aku waktu pertama kali liat dummy buku Dear, Sister of Deen. Huhu gemes banget, langsung jatuh cinta! <3 <3 <3
ㅤㅤㅤ
Rasanya langsung mau terima kasih sama desainernya untuk hasil tangan ajaibnya, bukunya bener-bener berasa kayak hadiah dan layoutnya rapi bangeett..
ㅤㅤㅤ
Partner nulisku, Novie, jadi saksi banget deh gimana noraknya aku tadi waktu pegang bukunya, se-excited dan seterharu itu. Untung tadi pake masker, kalo nggak, bakal keliatan bangetlah aku yang cengar-cengir terus selama di percetakan tadiii wkwkwk
I rely a lot on her in the whole process and i really thankful for her patience and kindness untuk nemenin perjalanan menulisku yang masih newbie ini. Ternyata seru ya, nulis buku. Mau lagi ah, insya Allah <3
ㅤㅤㅤ
Teman2 semua, doakan ya, semoga proses cetak, packing dan pengirimannya berjalan lancar sampai akhirnya bukunya bisa sampai ke rumahmu dan mengisi rak bukumu.. :)
ㅤㅤㅤ
Dan yang terpenting, doakan karya ini agar berkah, yang atas izin-Nya mampu menggerakkan para perempuan (terlebih kepada penulisnya) untuk bersegera dalam proses perjalanan diri menjadi sebaik-sebaik hamba yang dicintai dan diridhoi-Nya.
ㅤㅤㅤ
Last call! Masih ada waktu untuk pesan sampai malam ini jam 23.59 WIB, segera ke admin kami di bit.ly/pre-orderdsod dan amankan bukumu! ;)

Kamis, 07 Januari 2021

Dear, Sister of Deen: Apa kata mereka tentang buku ini? (3)

 

"Aku berlangganan Monday Love Letter setelah berdiskusi dengan salah satu pengirimnya. Membacanya setiap hari Senin seringkali membuatku terkejut karena merasa ada orang yang meneropong bagian paling sakral, paling dalam, dari hati ini. Ah. Surat-surat ini bukan semata keresahan dua perempuan. Ini dicahayai cinta-Nya Allah. Begitu pun surat-surat yang kubaca dalam buku Sister of Deen. Sebagai perempuan, aku merasa ada saudara seperjuangan yang mengerti dan bisa kupercaya dengan hadirnya buku ini. Terasa hangat, penuh ikatan, dan menggerakkan!"
- Kartini F. Astuti, Penulis, Founder Teman Cerita, CEO Linimasa Esa Inspirasa



"Membaca buku ini seperti berdialog dengan diri yang ada kalanya perlu “diingatkan” supaya tak kelewat batas. Ada kalanya kelembutan mengambil alih sebagai bentuk apresiasi diri setelah melewati berbagai perjuangan yang berat, melelahkan, namun sarat hikmah. Barakallah fiikum Husna dan Novie, tulisan kalian begitu menyentuh hati kerena aku selalu percaya hati kalian pun diikutsertakan saat menulisnya. Uhibbuki fillah."
-Meyda Sefira, Aktris, Penulis dan Founder @hujansafirID



"Buku ini bukanlah sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di hidup kita. Namun, buku ini adalah sebuah dukungan untuk menemukannya. Membacanya seperti dirangkul dan duduk bersama sahabatmu, mendengarkannya bercerita dan melihat sudut pandang baru."
-Aji Nur Afifah, Ibu Rumah Tangga dan Penulis “Melangkah Searah”



"Sebelas tahun jadi sister of deen in real life-nya Husna, and now, one of her million dreams come true. Buatku, Husna sudah menjadikan kekuatan menulisnya untuk kebaikan banyak orang. Aku jadi saksi melihat buku diarinya yang menumpuk, jadi penerima surat tulisan tangannya yang selalu sukses meneguhkan hatiku. Seorang sahabat dalam perjalanan sabar dan belajarku. Dan Novie, adalah seseorang yang juga sama gigihnya untuk merefleksikan pengalaman hidupnya untuk dibagikan kepada banyak orang. Insyaallah, buku Dear, Sister of Deen dapat merajut beragam hikmah. Bagi perempuan yang sesekali lemah, buku ini cocok jadi teman berbenah yang dibungkus dengan tali ukhuwah yang indah. Membaca bukunya jadi merasa nggak berjuang sendirian. Barakallah!
-Lutfiah Hayati, Community Enthusiast @scaleyouup @hujansafirID dan Mompreneur @ahakids.id

__

Alhamdulillah. Terimakasih banyak untuk teman-teman yang sudah bersedia membaca naskah mentah buku "Dear, Sister of Deen" dan dengan tulus memberikan testimoni. Semua menjadi penguat bagi kami untuk terus membumikan pesan-pesan cinta Allah ke dalam karya, khususnya buku ini.
ㅤㅤㅤ
Pre-order buku "Dear, Sister of Deen" ditutup tanggal 8 JANUARI 2021, ya! Selain Indonesia, kami juga melayani shipping ke Malaysia. Silakan klik bit.ly/pre-orderdsod atau klik link di bio untuk langsung terhubung dengan admin kami, ya! Yuk, segera amankan bukumu! ;)

Senin, 04 Januari 2021

Dear, Sister of Deen: Apa kata mereka tentang buku ini? (2)

"Hhh, nyesek. Itu kesan pertama ketika menyudahi buku ini. Diawali dan diakhiri dengan tangisan, cukup menggambarkan jika tulisan di buku ini disajikan dengan deretan aksara menyentuh hati dan insyaallah sampai ke hati. Rasanya bukan hanya perempuan, tapi siapa pun bisa dan boleh banget baca buku ini. Proud!" -Syaputri Febrina Sari, Karyawan Swasta/Digital Campaign Fundraising Specialist, Sister of Deen asal Tangerang Selatan

"Membaca buku ini, saya merasa setiap kalimatnya mampu kembali menyegarkan jiwa. Beberapa bagian membuat saya berpikir, terdiam, dan menangis sebab tersadar akan banyaknya hal yang seringkali kita lupakan selama ini, khususnya tentang bagaimana Muslim menjalani hidup. Buku ini cocok sekali untuk teman-teman yang ingin kembali memperbaiki diri atau sedang dalam pencarian terhadap makna dan hikmah kehidupan ini. Bahasa yang digunakan dalam buku ini ringan sehingga sangat mudah dipahami. Baarakallahu fiik, Teh Una dan Teh Novie! Ditunggu karya Sister of Deen berikutnya." -Widya Rizkiana Putri, Mahasiswa , Sister of Deen asal Bandung


"This book is well worth reading at least once in your life! Bagaikan seorang kawan diskusi, buku perdana dari Sister of Deen ini membersamai kamu yang membacanya untuk sejenak duduk, sembari berpikir dan memaknai kembali "eksistensi diri" dalam perjalanan panjang kehidupan —bahwasanya, hidup di dunia adalah rangkaian fase berbenah dan berbekal menuju kehidupan kekal abadi, akhirat." -Muthi'ah 'Aabidah, Mahasiswa, Sister of Deen asal Bandung

***

Terima kasih tak terhingga dari kami, untuk semua sister of deen yang telah menjadi bagian dari perjalanan Sister of Deen Project hingga hari ini. Kami bersyukur bisa menemukan saudara-saudara baru dari seluruh Indonesia. Mudah-mudahan tulisan-tulisan di dalam buku ini bisa membuatmu merasa sedang duduk bersama kami, bercerita, dan mendiskusikan apa saja tentang menjadi perempuan kebanggaan-Nya. Semoga persaudaraan karena Allah ini bisa terus terjaga. Yuk, bersama menjadi hamba Allah yang berdaya!

***

Pre-order buku "Dear, Sister of Deen" masih dibuka! Silakan klik bit.ly/pre-orderdsod untuk langsung terhubung dengan admin buku ini, ya!

Dear, Sister of Deen: Apa kata mereka tentang buku ini? (1)

"Sebagai pembaca setia Monday Love Letter dari hari pertama, saya selalu jatuh cinta dengan setiap untaian kata yang mengirim banyak sekali pesan di dalamnya. Ketika tahu Sister of Deen akan ada bukunya, saya merasa senang sekali. Saat akhirnya berkesempatan untuk membaca buku ini, saya bahkan merasa seperti sedang ngobrol berdua atau bertiga dengan Teh Novie dan Teh Una, setiap kalimat langsung sampai ke hati dengan penyampaian yang lembuuuut sekali. Iya, seperti sedang dinasehati dengan cinta. Selalu sukses dalam menyampaikan pesan dan membawa ketenangan. Bersyukur bisa membaca buku ini." -Ulva Yuni, Ilustrator, Sister of Deen asal Batam


"Buku ini mampu menggugah para muslimah, terutama yang sedang mengalami kebingungan dengan dirinya sendiri. Buku ini mengingatkan kembali mengenai apa tujuan saya hidup di bumi Allah dan bagaimana saya menyikapi dinamika kehidupan ini. Menariknya lagi, penulis berhasil mengaitkan dinamika kehidupan sehari-hari dengan ayat-ayat Allah tanpa menggurui. Sungguh, tulisan yang mampu menyentuh hati dengan lembut." -Nur Sopiah Wahidah, Guru SMA, Sister of Deen asal Bandung


"Buku ini dengan penuh keberanian berhasil memaparkan kegelisahan saya. Seolah-olah saya sedang dipaksa menghadapi ketakutan dan kegelisahan tersebut. Akhir-akhir ini, diam-diam saya terkadang memikirkan tentang tujuan kita ada di dunia, tentang siapa diri kita sebenarnya, dan bagaimana kelak kita mengakhiri kisah. Bagi saya, buku ini bukanlah bacaan yang bisa habis dalam satu kali duduk. Karya ini adalah bacaan untuk kalbu yang patut direnungkan sehingga mampu melahirkan pemaknaan yang personal bagi masing-masing pembaca. Barakallaah." -Dian Kusuma Hapsari, Mahasiswa Mapro, Sister of Deen asal Solo

***

Terima kasih tak terhingga dari kami, untuk semua sister of deen yang telah menjadi bagian dari perjalanan Sister of Deen Project hingga hari ini. Kami bersyukur bisa menemukan saudara-saudara baru dari seluruh Indonesia. Mudah-mudahan tulisan-tulisan di dalam buku ini bisa membuatmu merasa sedang duduk bersama kami, bercerita, dan mendiskusikan apa saja tentang menjadi perempuan kebanggaan-Nya. Semoga persaudaraan karena Allah ini bisa terus terjaga. Yuk, bersama menjadi hamba Allah yang berdaya!

***ã…¤

Pre-order buku "Dear, Sister of Deen" masih dibuka! Silakan klik bit.ly/pre-orderdsod untuk langsung terhubung dengan admin buku ini, ya!

Jumat, 01 Januari 2021

Dear, Sister of Deen: Isi bukunya apa aja, sih?




Kurang lebih seperti itulah daftar isi bukunya. Seperti tagline-nya, buku Dear, Sister of Deen adalah sebuah catatan dan pesan cinta tentang menjadi perempuan yang memaknai perjalanan menuju-Nya. Sebuah hadiah dari kami, terkhusus untuk para perempuan, untuk menemani fase-fase perjalanan hidup sampai kepada persiapan pulang menuju Allah. Lengkap dengan pesan-pesan cinta di setiap permulaan bab, sebab kami ingin membersamai para pembaca dalam memaknai perjalanan itu. 

Apapun peran dan fase hidup yang sedang kamu jalani hari ini, selama kamu adalah perempuan, maka buku ini untukmu. Yuk, jadikan buku ini sebagai teman perjalananmu dalam menelusuri pesan-pesan cinta Allah tentang keistimewaanmu sebagai seorang perempuan. Sampai bertemu dalam lembar-lembar aksara! :)

Pre-order buku ini masih dibuka. Segera lakukan pemesanan melalui bit.ly/pre-orderdsod untuk langsung terhubung dengan admin buku ini, ya!

Kamis, 31 Desember 2020

Dear, Sister of Deen: Pre-Order Sudah Dibuka!




Alhamdulillah. A dream comes true banget, dari yang tadinya seneng nulis di blog sama diari doang, akhirnya bisa nulis buku.

Buku ini aku tulis bersama sahabatku yang qodarullah sekarang jadi adik iparku, bukunya berisi catatan perenungan-perenungan kami tentang hidup, dari mulai menemukan siapa diri ini di hadapan Allah, mengenal Allah, menjadi muslimah berdaya, sampai persiapan menuju kepulangan kembali kepada Allah.

Buku yang diberi judul "Dear, Sister of Deen" ini insya Allah cocok banget untuk menemani perjalananmu dalam memaknai hidup agar sesuai dengan kehendak Allah. Cocok juga jadi hadiah untuk sahabat-sahabat perempuanmu yang sedang mencari makna hidupnya. :)

Yang penasaran sama bukunya, bisa langsung pesan ke bit.ly/pre-orderdsod untuk langsung terhubung dengan admin buku kami, ya! Pemesanan pre-order dibuka sampai tanggal 8 Januari 2021. Oiya, ada komunitasnya juga di Instagram @sisterofdeen, kepoin aja untuk yang mau tau, hehe.

Senin, 28 Desember 2020

Buku Perdana dan Rasa Takut


Ini pukul 1:08 pagi, dan aku masih terjaga. Entahlah, ada yang aneh malam ini. Biasanya jam segini aku sudah terlelap, atau setidaknya sudah mengantuk. Tapi kali ini, walaupun mataku terasa lelah, tapi badanku sepertinya masih belum mau diajak beristirahat.


Sejak jam 10 malam tadi, aku mengirim undangan soft launching buku Dear, Sister of Deen, buku pertamaku yang malam ini insya Allah akan dilakukan peluncurannya. Aku mengirim undangan ke grup keluarga, kepada teman-teman dekat, serta beberapa orang yang kuanggap penting dalam hidup. Sambil meminta doa, betul-betul meminta doa dari mereka agar karya ini menjadi karya yang berkah. Perasaanku saat ini tidak karuan, excited tentu saja, tapi ada satu perasaan yang sangat dominan, yaitu rasa takut.


Bukan, bukan takut bukunya tidak laku atau hanya sedikit yang membeli, bukan itu. Tapi rasa takut diri ini akan menjadi seseorang yang lain, yang terbang terlalu tinggi sehingga lupa di mana dia harus berpijak. Takut apresiasi membuat diri ini menjadi sombong padahal segala puji hanyalah bagi Allah. Takut aku yang menulis buku tidaklah sebaik apa yang orang-orang kira, takut dicap Allah jadi orang yang mengatakan apa-apa yang tidak dia kerjakan. Dan aku takut, tenggelam dalam kekecewaan atas diriku sendiri karena tak cukup baik dalam mengamalkan apa-apa yang kutulis di dalam buku. Malam ini rasanya gelisah, walaupun mungkin kegelisahan itu tak nampak dari raut wajahku. Tapi rasa takut itu benar adanya.


Allah, di saat seperti ini, aku sangat butuh tuntunan-Mu agar apa yang kulakukan tetap berada dalam jalur yang benar.


Allah, di saat seperti ini, aku sepertinya perlu lebih banyak merapal syukur agar selalu ingat bahwa segala pencapaian dan keberhasilan adalah karena kuasa-Mu.


Allah, di saat seperti ini, aku sangat butuh untuk dikuatkan dalam memegang niatku hanya untuk-Mu. Sungguh aku sangat takut ada tujuan lain yang menumpang dalam perjalananku mengukir karya yang ingin kupersembahkan hanya untuk-Mu.


Allah, karya ini merupakan karya yang tak seberapa, tapi jika pesan-pesan di dalamnya membuat banyak orang untuk semakin dekat kepada-Mu, lancarkanlah dan jadikanlah karya ini karya yang meluas.


Allah, semoga karya ini bisa mengalirkan pahala jariyah untukku yang kelak akan terbujur kaku di dalam tanah. Semoga ada banyak kebaikan berantai-rantai yang dihasilkan dari karya ini untuk menggantikan dosa-dosa yang aku sesali dan ingin aku tobati. Semoga karya ini bisa menjadi inspirasi agar semakin banyak hamba-hamba-Mu yang bersyukur dengan menghasilkan karya-karya besarnya, menampilkan citra muslim yang baik dan mengharumkan Islam dengan berjamurnya muslim-muslim berkualitas.


Allah, kuatkan aku, bimbing dan tuntun aku, istiqomahkan aku, agar ini tidak menjadi karya yang terakhir. Semoga tak ada kata berhenti untukku mewujudkan syukur sampai Engkau berhentikan jantung ini pada degup yang terakhir.


Allah, aku rindu. Tapi bekalku belum cukup untuk pulang. Semoga masih ada waktu.


Senin, 23 November 2020

Monday Love Letter #102: (Jangan) Melewatkan Doa

 Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Senang rasanya bisa menyapamu lagi. Kabarmu baik-baik saja, kan? Semoga apapun keadaannya kita selalu bisa menemukan hikmah yang bisa dipetik serta syukur yang selalu terjaga. Anyway, sebetulnya saya sudah tidak sabar untuk bercerita kepadamu tentang sebuah hikmah yang saya dapatkan belakangan ini. Jadi kita langsung saja, ya! Bismillah.

Sisterku, kamu pernah tidak merasa malas melakukan sesuatu, padahal kamu tahu betul aktivitas tersebut bernilai kebaikan? Pernah tidak merasa beraaat sekali untuk bangkit mengerjakan sederet to-do-list atau suatu hal yang menjadi kewajiban atau tanggungjawab kita? Padahal kita tahu itu adalah bagian dari tanggungjawab kita, padahal kita paham ada pahala yang menanti serta imbalan tak terduga yang mungkin sedang Allah siapkan. Tapi karena alasan capek, tidak mood atau malas, peluang amal shaleh itu akhirnya kita tinggalkan.

Kalau jawabannya pernah, sama sih, saya juga pernah. Hehe. Bahkan sedang terjadi di 2 minggu belakangan ini. Ada sebuah tugas rumah tangga yang rasanya malas sekali untuk saya lakukan padahal saya tahu ada peluang amal shaleh jika saya melakukannya. Apakah itu? Sebetulnya ini adalah tugas yang sangat sederhana, yaitu memasak.

Alasan saya tidak memasak biasanya karena aktivitas yang agak padat atau memang sedang malas atau bosan memasak saja. Memang sih, suami saya tidak meminta untuk selalu memasak, asalkan makanan selalu tersedia walaupun beli, itu juga tidak apa-apa. Tapi lama tidak memasak, lama-lama ada perasaan bersalah juga di diri saya.

Akhirnya setelah berhari-hari tidak masak, pagi itu saya memaksakan diri untuk pergi berbelanja dan memasak lagi. Tentu saja masakan ala kadarnya. Berbekal kangkung dan tahu yang saya beli dari warung, jadilah tumis kangkung dan tahu goreng sebagai lauknya. Agak tidak percaya diri juga karena setelah saya cicipi ternyata rasanya tidak seenak biasanya. Tapi yasudahlah, yang penting sudah masak lagi setelah sekian lama, begitu pikir saya. Saya pun menyajikannya untuk sarapan suami tanpa berharap pujian apapun.

Tak disangka, selesai makan beliau bilang, "Neng, enak masakannya. Alhamdulillah Aa punya istri yang bisa masak, jazakallah ya.." Wow! Terkejut saya mendengarnya. Sebetulnya saya biasa mendengar pujian itu setiap kali suami memakan masakan saya, bisa jadi karena masakan saya benar-benar enak atau sebagai bentuk apresiasi saja supaya istrinya ini lebih rajin memasak, hahaha. Tapi mendengar pujian yang dikatakannya pagi itu, saya tiba-tiba seperti diilhami sebuah hikmah berharga dari Allah.

Saya baru sadar, saya sudah lama tidak mendengar kalimat apresiasi itu dari mulut suami, karena saya sudah lama tidak memasak. Deg. Lebih sedih lagi, ketika saya sadar bahwa bukan hanya apresiasi yang saya lewatkan, tapi saya juga melewatkan sebuah doa darinya; jazakallah. Sebuah doa agar kebaikan yang saya lakukan digantikan oleh Allah dengan yang lebih baik. Hiks, pantesan kok rasanya 2 minggu kemarin itu uring-uringan nggak jelas :(

Saya jadi berpikir, jika saya memasak setiap hari dan didoakan oleh suami seperti itu, ada berapa banyak kebaikan ya yang akan saya dapatkan? Atau sebaliknya, jika saya tidak memasak berarti ada sebuah doa dari suami yang saya lewatkan, kira-kira ada berapa kebaikan ya yang saya lewatkan? Astaghfirullah,, ini baru perkara kecil seputar memasak. Lalu jika saya mengabaikan kewajiban yang lain hanya karena malas atau tidak mood, ada berapa banyak lagi kebaikan yang saya lewatkan? Huhuhu..

Jazakallah khairan katsira, adalah doa yang dalam jika kita memahami arti di baliknya. Bukan hanya sekedar ungkapan terima kasih, tapi juga sebuah doa agar Allah membalas kebaikan yang kita lakukan dengan kebaikan yang lebih lagi. Doa ini bisa kita dapatkan ketika kita menolong orang lain, ketika kita berbagi makanan, berbagi ilmu, berbagi rezeki, atau berbagi apapun yang bermanfaat kepada orang lain. Bahkan, doa ini bisa kita dapatkan dari hanya sekedar berkunjung ke rumah teman atau mengirim chat untuk sekedar menyapa kabar dan mendengar keluh kesahnya. Maka, tak heran jika orang-orang yang ringan tangan untuk menolong orang lain, Allah mudahkan kehidupannya. Pertama karena ia mengutamakan membantu urusan orang lain dibanding dirinya, kedua bisa jadi karena doa-doa baik yang diberikan dari mereka yang ia tolong.

Ternyata, kita tak pernah rugi apapun jika kita berbuat baik kepada orang lain, yang ada justru kebaikan untuk kita yang nantinya akan bertambah-tambah. Hikmah dari mogok masak itu ternyata membawa saya untuk lebih bersemangat dalam berbuat baik, baik dalam skala keluarga, tetangga, teman dan sahabat, maupun skala yang lebih besar lagi. Insya Allah. Selain itu, saya juga jadi terpacu untuk lebih sering mendoakan orang-orang baik yang ada di sekitar saya, yang selalu ada untuk saya dan menghargai keberadaan saya. Alhamdulillah Allah karuniakan mereka di hidup saya, semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan di dunia dan di akhirat untuk mereka.. Aamiin..

Tentu saja, untukmu juga, sister. Saya sering sekali merasa terharu jika mendapat balasan surat dari para sister of Deen, tak hanya sekedar memberikan apresiasi, kami juga sering mendapati doa-doa baik untuk kami berdua, masya Allah. Jazakillah khairan katsiran untukmu, dan untuk semua sister yang tergabung dalam mailing list ini, yang terkadang harap-harap cemas menunggu datangnya surat di setiap Senin, hehe. Terima kasih untuk masih bersama-sama dengan kami sampai saat ini, memberi support dan doa-doa baik yang tersampaikan maupun yang terucap dalam hati. Tiada harapan dari kami selain agar kita terus bersama untuk saling menguatkan dalam perjalanan menjadi hamba Allah yang sejati hingga menuju kemuliaan hakiki.

Jangan lelah dalam mengupayakan kebaikan. Saling mendoakan ya, sister. Barakallahu fiik :)

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah


Senin, 21 September 2020

Monday Love Letter #100: Malam Penuh Syukur

 Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sebelumnya, bagi kamu yang bertanya (atau bertanya-tanya) mengapa Senin lalu tidak ada surat yang masuk ke inbox-mu, kesalahan bukan terletak di email-mu kok, tapi pekan lalu kami memang tidak mengirimkan Monday Love Letter. Maaf ya sister, jika kamu yang sudah menunggu-nunggu. Karena satu dan lain hal, dengan berat hati Monday Love Letter #100 harus tertunda.

But.. Here we are! Alhamdulillah senang sekali bisa kembali menulis surat untukmu lagi. Melihat angka seratus, saya excited! Angka seratus memang bukan angka yang besar untuk dirayakan, tapi juga bukan angka yang kecil untuk sebuah pencapaian. Memulai sesuatu mungkin adalah hal yang mudah, tapi bicara konsistensi, itu lain cerita. Alhamdulillah, di tengah berbagai aktivitas, Allah masih mampukan kami untuk mengasuh sister of Deen dan menulis surat untukmu di setiap Senin.

Sejujurnya, tadinya kami bermaksud mengumumkan sebuah kejutan untukmu di Monday Love Letter ke-100 ini, sister. Tapi ternyata "hadiah" itu harus tertunda. Mohon doanya, ada project kebaikan baru yang sedang kami rencanakan yang insya Allah bisa segera kamu nikmati.. :)

Di surat kali ini, saya hanya ingin bercerita. Sejujurnya, belum tahu mau menulis apa. Saya baru saja menghapus beratus-ratus kata yang isinya berisi curhatan tentang apa yang saya rasakan belakangan ini yang jadinya tulisannya ngalor ngidul kemana-mana, haha. Entahlah, akhir-akhir ini saya sering mengalami writer block. Jadi topik hari ini yang ringan-ringan saja ya. Biasanya jika sedang tak tahu mau menulis apa, cara terakhir saya untuk menuangkan pikiran menjadi kata-kata adalah dengan memikirkan hal-hal apa saja yang saya syukuri. Bersyukur tak pernah membuat saya kehabisan kata, karena nikmat Allah tak terhitung saking banyaknya!

Satu hal paling besar yang kini sedang amat saya syukuri adalah kehadiran keluarga. Kemarin, selepas bepergian menyetir seharian, saya menyempatkan diri ke rumah orangtua saya. Alhamdulillah kedua orangtua saya sedang ada di rumah. Kami cukup lama mengobrol sambil bercanda, rasanya sudah lama tidak mengobrol selepas itu bersama orangtua. Sejak menikah, entah mengapa saya menjadi lebih berani bercerita dan mengungkapkan apa yang saya pikirkan atau rasakan kepada orangtua. Bahkan memeluk dan mencium kedua pipi mereka yang dulu amat sulit dilakukan, kini terasa lebih mudah. Hal ini membuat saya semakin menghargai keberadaan mereka. Rasa sesal dan kesal yang dulu pernah ada, kini hilang entah kemana, berganti dengan rasa syukur yang luar biasa karena Allah hadiahkan mereka di dalam hidup.

Rasa syukur kedua yang amat-amat saya syukuri sejak sepekan yang lalu adalah ketika sahabat dekat saya, yang sempat menjauh karena suatu hal, mengajak bertemu kembali setelah sekian lama. Dia bercerita tentang rekan-rekan kerjanya saat ini yang sangat jauh dari kata islami. Dua tahun bersama-sama dengan mereka sampai hampir "terwarnai" membuat dia akhirnya sampai di puncak kegelisahan sebab tak nyaman berada di tengah-tengah arus yang deras tanpa pegangan. "Aku ingin mulai ngaji lagi Na, aku takut lama-lama kebawa sama mereka," katanya. Hangat sekali saya mendengarnya. Sekaligus bersyukur karena Allah masih menjaganya walau berada ditengah-tengah lingkungan yang kurang kondusif untuk mempertahankan iman. Siapa yang mampu menjaga rasa gelisah saat banyak melihat yang salah? Siapa pula yang mampu menggerakkan hati untuk mantap kembali menjemput hidayah, jika bukan karena-Nya? Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari keburukan dan menuntun kita agar istiqomah di jalan-Nya. Aamiin :")

Dan rasa syukur yang paliiing besar adalah ketika Allah masih mengizinkan saya menjadi perantara untuk menyampaikan pesan-pesan indah-Nya kepada orang lain. Padahal siapalah saya ini, dosa banyak, akhlak masih banyak remedial, masih banyak yang harus diperbaiki dari diri yang penuh kekurangan ini. Tapi saya masih diizinkan oleh-Nya untuk berbagi, untuk menebarkan manfaat, menjadi perantara cahaya bagi hati yang berteriak hampa. Persis seperti apa yang pernah saya mintakan kepada Allah.

"Allah, jika Kau butuh lisan untuk menyampaikan pesan-pesan kebenaran kepada manusia, pilihlah aku menjadi salah satunya. Tunjuk aku untuk menjadi orang yang dengan lantang menyuarakan kebenaran dari-Mu.. 

Allah, jika Kau butuh lengan untuk menuliskan berjuta-juta nikmat dan kebesaran-Mu, pilihlah aku menjadi salah satunya. Jadikan goresan tinta dari tanganku menjadi perantara menyadarkan jutaan kepala tentang kebesaran-Mu.

Allah, jika Kau membutuhkan kaki untuk berkelana di bumi-Mu. Tunjuklah aku menjadi salah satunya. Gunakan kakiku untuk mengarungi luasnya bumi ciptaan-Mu, untuk mensyiarkan nilai-nilai islam ke seluruh penjuru dunia. 

Apapun ya Allah, apapun yang ada padaku dan itu bisa kugunakan untuk berjuang di jalan-Mu. Ambillah, gunakanlah. Jadikan aku perantaranya."

Ternyata, Allah masih izinkan. Allah masih perkenankan. Hingga diri ini dipersaksikan kebesaran-Nya dalam membolak-balikkan hati dan menumbuhkan iman di dalam setiap hati. Semoga dengan potensi yang tak seberapa ini, dengan upaya yang masih seadanya ini, segala amal bisa bernilai ibadah dan menjadi jariyah. :"

Masya Allah, ini baru bicara tentang 3 hal yang disyukuri tapi rasanya sudah sebegini terharu. Gimana kalau jabarin syukur yang lain-lainnya. Huhuhu.. Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat yang telah, sedang dan akan selalu Kau berikan. Maafkan jika wujud syukurku masih tak seberapa. Semoga Engkau selalu menuntun dan memampukanku untuk menjadi hamba yang tahu terima kasih.

Nah sister, kita penuhi langit malam ini dengan untaian syukur kita kepada Allah, yuk! Kalau kamu, apa saja hal yang paliing disyukuri saat ini? ;)

Yang masih belajar mewujudkan syukur,
Your sister of Deen,

Husna Hanifah

Kamis, 03 September 2020

Ketika Dunia Tidak Berputar Untukku

Tulisan ini adalah tulisan yang saya tulis dalam kulwap (kuliah WhatsApp) untuk Sister of Deen pada 12 Mei 2020 lalu, di malam ke-20 Ramadhan, 1441 H. Sepenggal cerita kehidupan yang semoga bisa diambil hikmahnya.

***

APA TITIK TERENDAH SAYA?

Sebenarnya, jika saya flashback perjalanan hidup saya bertahun-tahun ke belakang, saya sering kesulitan menjawab jika ada orang yang bertanya tentang titik terendah saya. Seingat saya, saya belum pernah mengalami ujian hidup yang ekstrim yang membuat saya stress berkepanjangan. Masalah hidup tentu saja ada, tapi jika saya mendengar pengalaman hidup orang lain, rasanya masih banyak orang-orang yang ujian hidupnya jauh lebih berat dari saya. Sementara untuk saya, rasanya banyak mudahnya dibanding sulitnya. Apakah menyenangkan? Sejujurnya iya, tapi tidak otomatis membuat hidup saya terasa "penuh". Kok bisa? Nanti saya ceritakan.

 

Walaupun begitu, saya pernah mengalami pahitnya ditampar oleh realita ketika saya menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi. Seperti ketika saya berekspektasi pada suami saya di awal menikah dulu, ketika saya mempercayakan sebuah tugas penting kepada orang lain dan berpikir bahwa hasilnya akan sempurna jika ia yang mengerjakannya, ketika saya menceritakan impian saya namun tidak diterima, dan seterusnya. Melelahkan sekali menjalani hidup dengan bergantung pada ekpektasi. Tanpa sadar, saya jadi sering mengeluh, susah bersyukur dan lebih mudah marah, membuat saya jadi lebih sulit bahagia. 

 

BERDAMAI DENGAN EKSPEKTASI

Perlu beberapa kali Allah memberi "tamparan" itu sampai akhirnya saya menyadari bahwa apa yang ada di luar diri saya adalah di luar kendali saya. Tidak semua orang harus sempurna dan tidak semua keadaan harus selalu terkendali. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah pikiran, perasaan, dan tindakan kita ketika menghadapi itu semua. Apakah mau menuntut keadaan terus-menerus atau menjadi yang menerima dan memperbaiki diri lebih dulu?

 

Sejak saya sadar bahwa rumus berdamai dengan keadaan pertama-tama adalah menerima, ini yang kemudian saya latih terus menerus ketika saya bertemu realita yang tak sesuai harapan. Awalnya sulit tentu saja, sebab hati ini sudah terlalu terbiasa untuk berkeluh kesah.

 

Untungnya, hati kita tidak bisa melakukan 2 hal dalam satu waktu. Jika saya mendapati diri saya mengeluh, saya langsung menepisnya dengan syukur. Daripada mencari banyak hal untuk dikeluhkan, saya paksa diri saya untuk menemukan hal-hal yang bisa disyukuri. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah pula, kebiasaan mengeluh itu kini sudah berkurang banyak.

 

Kita mungkin tidak bisa menghentikan masalah yang datang, tapi kita bisa mengontrol energi kita, apakah energi tersebut mau kita fokuskan untuk mengeluh, atau mau kita gunakan untuk berikhtiar dan merapal syukur? Keduanya sama-sama membutuhkan energi, tinggal kita memilih, mau fokus pada yang mana?

 

PERJUANGAN SABAR YANG TAK MUDAH

Saya juga pernah mengalami ketika ikhtiar yang saya lakukan terasa begitu jauuh garis finishnya hingga menguras energi dan emosi saya. Seperti ketika saya menyelesaikan skripsi saya beberapa tahun lalu, membuat saya harus menahan malu karena baru lulus di semester ke-11, menyisakan beberapa kenangan buruk yang sejujurnya tidak ingin saya ingat lagi.

 

Ada pula beberapa ikhtiar kebaikan yang terkadang membuat saya berkali-kali ingin menyerah, membuat bimbang antara apakah saya perlu untuk tetap maju dan bertahan, atau memilih tidak peduli dan menghentikan perjuangan. Salah satunya, ketika datang masa-masa dimana saya mulai merasa "lelah" saat berikhtiar memiliki keturunan. Sebenarnya ini jarang terjadi, tapi terkadang menyisakan tanya didalam hati, "harus menunggu berapa lama lagi?" 


Atau ketika saya diamanahi melakukan sebuah project kebaikan. Nyatanya, mengupayakan kebaikan tidak selalu lancar dan disambut baik oleh orang lain. Jika sedang di puncak lelah, rasanya ingin menjadi orang yang juga melepas kepedulian dan menghentikannya. Tapi saya tahu ini pikiran yang salah, lalu saya beristighfar dan mencoba bangkit sekali lagi.

 

Memang, ketika kita mengupayakan sesuatu, ada saat-saat dimana kesabaran kita benar-benar diuji. Ketika menghadapi situasi seperti ini, jika saya hanya fokus kepada hasil, yang ada hanyalah frustasi dan kecewa. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya saya menemukan formulanya, bahwa bersabar adalah tentang menjalani proses, bukan menunggu hasil. Fokus kita adalah pada proses ikhtiarnya. Selama niat kita benar karena Allah dan bertujuan dalam rangka ibadah kepada Allah, tidak ada alasan untuk berhenti dari medan perjuangan. Hasil itu urusan Allah, maka tawakkal adalah kunci agar hati kita terselamatkan dari rasa kecewa.

 

TERNYATA, BERSYUKUR PUN TAK SEMUDAH ITU

Seperti yang tadi saya ceritakan di awal, dibanding ujian kesabaran, berbagai nikmat dan kemudahan hidup ternyata lebih membuat saya gelisah dan lebih nyata tantangannya untuk saya. Menerima banyak kebaikan dari Allah dan merasakan kasih sayang-Nya yang tiada henti, membuat saya merasa "berhutang" kepada Allah. Saya jadi berpikir, apa kiranya yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan Allah ini? Apa yang bisa saya persembahkan sebagai wujud terima kasih kepada-Nya?

 

Bagi saya ini jauh lebih sulit karena kenyamanan hidup seringkali membuat saya terlena menikmatinya, membuat saya hanya memikirkan diri sendiri tanpa tahu bahwa banyak orang lain yang perlu dibantu. Sebab kita ini diamanahi Allah bukan hanya untuk menjaga hubungan kita dengan Allah, tapi juga menjalin silaturahim dengan sesama manusia. Tak cukup hanya taat, kita juga harus jadi bermanfaat.

 

APAPUN JALANNYA, BERJUANG ADALAH PILIHAN

Dari perjalanan hidup saya itu, saya mendapat kesimpulan bahwa selain bersabar, ternyata ada perjuangan yang juga sama beratnya, yaitu: mewujudkan syukur. Syukur terhadap apa saja! Terhadap harta kita, keluarga kita, kesehatan kita, waktu kita, bahkan terhadap hidayah Allah untuk kita.

 

Karena itu saya berusaha sekuat mungkin untuk mengupayakan istiqomah, sebab itulah hal terbaik yang bisa saya berikan kepada Allah atas nikmat iman, nikmat islam, nikmat ibadah, dan nikmat ukhuwah. Karena itu saya memaksa diri saya untuk terus melakukan project-project kebaikan; dengan menulis, dengan berbagi ilmu, dengan mengasuh komunitas, dengan program sosial, dengan apa saja yang membuat kebaikan itu jadi berantai-rantai dan membuat saya bisa meneruskan kasih sayang Allah yang rasakan kepada orang lain. :”)

 

Ternyata.. mau bersabar ataupun bersyukur, sama-sama tidak ada yang mudah. Keduanya sama-sama meminta perjuangan dan pengorbanan kita, serta kebergantungan kita kepada-Nya. Pada akhirnya, tugas kita adalah menjalani kehidupan ini dengan sebaik-sebaiknya sesuai dengan ketentuan-Nya dan kembali pulang kepada Allah dengan membawa buah dari perjuangan sabar dan syukur yang kita jalani selama di dunia.

Sekian. Wallahu’alam bisshawab..