Kamis, 22 Juni 2023

Mimpi

Suatu siang di bulan Ramadhan, aku pulang ke rumah dan mendapati suamiku sedang tidur.

"Aa, aku pulang.. Aa udah sholat kan?" bisikku di telinganya.

Sambil masih agak ngantuk, doi bangun dan cerita, "Tadi Aa mimpi, marah-marah ke Neng karena Neng pulangnya telat..."

Memang sebelum aku pulang, Aa watsap aku, ngingetin untuk udah ada di rumah sebelum jam 3 karena doi mau pergi. Dan aku nyampe rumah sebelum jam 3 kok seperti yang dia minta. Tapi mungkin setelah nge-whatsapp itu dia tidur dan kebawa mimpi kali ya. Haha.

"Hahaha, kalo marah-marah berarti batal dong puasanya," kataku menanggapi.

"Iya, sampe batal puasa Aa." Maksudnya batal puasa di mimpi ya.. wkwk

Aku cuma ngikik aja sambil ngebayangin kayaknya marah-marah dia di mimpi itu heboh dan drama banget kali ya? XD

"Maafin aku atuh ya, di mimpi Aa aku pulang telat dan bikin Aa marah," kataku dengan nada bercanda (yang sebenernya nggak perlu juga minta maap ya kan, karena itu cuma mimpi haha). Kukira udah beres tuh di situ perkara mimpi ini.

Eeh ternyata beberapa menit kemudian dia bilang lagi, "Neng, maafin Aa ya tadi di mimpi marah2 ke Neng.." Lucunya, mukanya keliatan agak menyesal gitu, kayak abis ngelakuin kesalahan besar, padahal kan itu cuma di mimpi, tapi penyesalannya kebawa sampe pas udah bangun XD

Tapi ini kocak sih, saling minta maaf sama kesalahan yang ada di mimpi. Padahal kan itu cuma mimpi yak, ngapain juga pake minta maap segala ya kan, orang kita sebenernya nggak ngelakuin kesalahan wkwkwkwk. Aja-aja ada.

Sabtu, 17 Juni 2023

Pijit (3)

cerita pijit (1) di sini

cerita pijit (2) di sini

Tadi malem, aku lagi pijitin suami karena doi lagi kurang enak badan. Kalo lagi sakit gitu tuh aku suka lebih tulus gitu kalo mijitin, karena ya kasian.. Dan ngeliat suami tidak berdaya cuma bisa rebahan di kasur tuh aku jadi lebih merasa dibutuhkan gituu(ceilah), makanya mijitnya juga lebih niat wkwk. *maapkan aku suami

Lagi pijit2 tangannya, iseng aku nyeletuk, "Aa kalo lagi aku pijitin gini, ngerasa disayang banget sama aku nggak?" Pertanyaan iseng tapi serius karena aku kepo apakah dia punya momen2 bersamaku yang itu tuh bikin dia ngerasa disayang/diperhatiin banget sama akuu..

Nggak pake mikir, ternyata doi langsung jawab, "Nggak dipijitin juga ngerasa disayang kok."

Haaahhh meleleh aku dengernyaaa wkwkwk.. Muka aja sok cool padahal dalem hati mah jerit2 seneng. Hahaha XD

*maap ya kalo norak, pak suami ini soalnya jarang2 ngomongnya manis kek gitu wkwk

Senin, 29 Mei 2023

Selesai, Tapi Bukan Akhir

2016-2023 😊

Allah, apa yang Kau titipkan, kini kukembalikan pada-Mu.. Memang tidak dalam keadaan yang terbaik, tapi setidaknya sudah lebih baik sejak aku menerimanya pertama kali.

Kuserahkan pada Engkau sebaik-baik penjaga. Semoga apa yang telah ditanam, tetap menghujam akarnya, kokoh batangnya, lebat buahnya, meneduhkan bagi sekitarnya dan terus meluas manfaatnya 🀲

Setelah hari ini, mungkin tak semua mekar bisa aku saksikan. Tak setiap buah bisa aku jumpai. Tak lagi bisa kubersamai tumbuhnya inci demi inci. Tapi kutitipkan pada-Mu lewat doa-doa, semoga penjagaan-Mu tak pernah lepas dan cahaya-Mu selalu menyinari.

Semoga Engkau terima setiap amal, Engkau ampuni setiap kelalaian, Engkau sempurnakan apa-apa yang kurang, Engkau jadikan semakin baik untuk yang akan datang. Rabbanaa taqobbal minna innaka antassamii'ul 'aliim.. 🀲

Bandung, 28 Mei 2023




Allah.. jika aku boleh meminta.. dan jika permintaan ini baik untukku, berikan aku pengganti dari apa yang telah Engkau ambil dariku..

Selasa, 23 Mei 2023

Rindu Itu Datang Lagi

Pagi tadi, rinduku untuk menjadi ibu mencuat lagi. Tangisku sering pecah jika melihat anak-anak shaleh shalehah dari saudara-saudaraku seiman. Melihat anak-anak laki-laki yang shalat, anak-anak perempuan yang berkerudung, hampir selalu menjadi trigger rasa rindu itu muncul dan jiwa keibuanku meronta lagi.

Selintas terpikir, mungkin mengapa Allah belum memberiku anak, karena Allah tahu betul, dari sekian doa yang aku pintakan pada-Nya, doa ini yang paling tulus, yang paling sering kuulang, yang terus menerus aku harapkan. Doa yang membuatku terhubung kepada Allah paling kuat. 

Mungkin ketulusan itu yang Allah sukai, mungkin ada pahala yang besar dari doaku itu, sehingga Allah menunda hingga bertahun-tahun agar pahala atas doa ini terus mengalir dan terus ada..

Sehebat inikah kekuatan doa yang tulus ya Allah? Apakah agar aku memiliki amalan unggulan di akhirat kelak? Jika memang iya, aku rela berlama-lama menunggu anak asalkan berdoa kepada-Mu bisa terus sesyahdu ini.. πŸ₯Ί

Mungkin, jika anak itu saat ini Kau beri, aku belum akan mampu ya untuk berdoa setulus ini..? :')

Kuserahkan (lagi) pada-Mu ya Allah, jika memang saat ini berdua lebih baik bagi kami, ilhamkan kepada kami untuk senantiasa berdoa kepada-Mu. πŸ€²

Terima kasih yaa Allah yaa Rahiim, dari proses penantian ini aku memahami dan meyakini bahwa berdoa kepada-Mu memang tidak pernah sekalipun mengecewakanku.. πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ’—

***

Mungkin perkara menanti ini juga relate dengan banyak orang. Ada yang juga sedang menanti anak, menanti jodoh, menanti pekerjaan, menanti apapun yang sampai rasanya setulus dan se-desperate itu kita meminta.

Bagaimana jika doa-doa tulus itu yang menjadi pemberat amal sholeh kita kelak? Bagaimana jika Allah memberi 'upah' besar di hari akhir nanti, atas khusyuknya kita saat berdoa? Jangan-jangan, menunda sebenarnya adalah tanda Allah sayang, sebab Allah tahu bahwa kita belum mampu untuk khusyuk dalam ibadah atau doa yang lain.

Inilah indahnya berbaik sangka kepada Allah. Penundaan yang awalnya membuat kecewa, perlahan berganti menjadi rasa syukur. Dan hati jadi lebih lapang untuk menerima bahwa takdir terbaik adalah apa yang dihadirkan-Nya saat iniπŸ’—

Rumah untuk Jiwaku

Ramadhan udah lewat sebulan, bahkan Syawal aja udah lewat, tapi rasanya masih ngeganjel kalau nggak nulis #refleksiramadhan tahun ini. Buat aku baca lagi nanti-nanti.

Sebelum Ramadhan datang, hati gelisah nggak karuan, ada rasa hampa yang nggak bisa dijelaskan walau berusaha kutepis dengan banyaknya ibadah. Saking frustrasinya, aku memulai malam Ramadhan dengan tangis, mengaku pada Allah bahwa ada yang salah dengan diri, memohon maaf-Nya, dan meminta pada-Nya satu hal: Ya Allah, tunjukkan jalan pulang untuk jiwaku.. πŸ₯ΊπŸ€²

Maha Baik Allah, Ramadhan selalu hadir membawa pendidikan bagi setiap hamba, tak terkecuali untukku. Sesuai doaku, dari Ramadhan kemarin, Allah seperti mengajakku untuk memaknai kembali makna pulang. Tangis yang awalnya tangis frustasi, perlahan berubah menjadi tangis penyesalan, lalu berubah lagi menjadi tangis syukur, sebab Allah benar-benar menuntun untuk menemukan jawaban dari apa yang aku minta.

Namun dalam perjalanan menemukan jawaban itu, aku bertemu banyak kenyataan pahit. Butuh keberanian untuk mengakuinya, dan butuh keberanian yang lebih besar untuk mau memulai memperbaikinya.

Ternyata, ada banyak salah yang belum benar-benar aku taubati.
Ternyata, aku masih saja bergantung pada diri.
Ternyata, aku belum sepenuhnya jujur mengakui kelemahan dan kehinaan diri di hadapan-Nya.
Ternyata, aku belum seingin itu untuk meraih ridho-Nya.

Hebat sekali ya, racun hati bernama kesombongan itu, datangnya halus sekali sampai-sampai tak sadar bahwa diri telah tergerogoti. 😭

Alhamdulillah, hadirnya Ramadhan menyadarkanku dari apa yang luput. Ternyata, Allah tidak pernah kemana-mana. Aku yang selama ini tanpa sadar menjauh.

Perlahan, kuketuk lagi pintu rumah itu.
Rumah untuk jiwaku.
Tempat dimana aku kembali bertemu dengan diriku sendiri.
Tempat dimana aku merasa terhubung dengan-Nya.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, tangis itu akhirnya pecah. Tangisan syukur. Tergugu di atas sajadah, aku berbisik dalam hati, "Allah.. Aku pulang.."

Lega.. πŸ₯ΊπŸ˜­

Pelajaran terbaik Ramadhan tahun ini: pulangkan jiwamu pada Allah, sebelum Allah benar-benar memanggilmu 'pulang'..

Minggu, 22 Januari 2023

Purpose of Pain

*dikutip dari Monday Love Letter #187, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Perasan saya hari ini baik, sangat merasa bersyukur dan menikmati hectic-nya hari demi hari karena ada beberapa program yang sedang dijalankan. Lelah sudah pasti, tapi entah kenapa dalam lelah itu saya merasa senang dan lega. Lelah yang bahkan tidak memberi ruang untuk mengeluh, tapi malah menghujani saya dengan syukur. Saya sering merasa takjub bahwa mixed feeling semacam itu ternyata ada. Lelaaah sekali secara fisik dan pikiran, tapi rasanya lega, senang, dan amat bersyukur. Hal ini seringkali terjadi pada saya jika sedang mengerjakan proyek kebaikan atau proyek dakwah. Intinya aktivitas yang dilakukan untuk kemaslahatan orang lain, bukan memikirkan diri sendiri. Kalau kamu, sedang merasakan apa sekarang? Boleh kalau mau cerita :)

Paragraf di atas cukup sebagai aliran rasa saja, karena sebetulnya ada hal lain yang ingin saya bahas di surat kali ini yang mungkin akan membantumu juga dalam menjalani kehidupan ini. Saya mengawali awal tahun ini dengan membaca sebuah buku berjudul Healing The Emptiness yang ditulis oleh Yasmin Mogahed. Seperti judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk menyadari mengapa rasa hampa di dalam jiwa bisa terjadi dan bagaimana cara mengisi ruang kosong itu. Baru membaca 2 bab saja saya sudah banyak tercerahkan oleh tulisannya. Salah satu tulisan favorit saya ada di bab 1 judulnya Purpose of Pain.

Pain is a messenger. Sebuah kalimat sederhana, namun terdengar seperti sebuah pesan penting bagi saya sehingga kalimat itu saya beri underline dan stabilo di bukunya. Analoginya, misalkan ada yang terasa sakit dari badan kita, bukankah itu adalah sebuah pesan bahwa ada yang bermasalah dari badan kita? Sakit gigi, sakit perut, sakit kepala, adalah sinyal dari tubuh untuk memberi pesan bahwa ada masalah dengan badan kita. So, yeah, pain is a messenger.

Bagaimana dengan jiwa? Kurang lebih sama. Ketika kita terlalu banyak merasa takut, cemas, gelisah, sedih, kecewa, itu adalah sinyal dari jiwa bahwa ada yang bermasalah dengan jiwa kita. Buka berarti kita tidak boleh merasa takut, cemas, dan sedih, hanya saja jika berlebihan tentu tidak baik.

Merasakan pain atau sakit tentu tidak nyaman, repot dan bikin kita uring-uringan. Tapi yang lebih repot adalah jika kita mengabaikan pain tersebut dan tidak mencarikan obatnya. Suffering is what happens when we repeatedly ignore the message of our pain, tulis Yasmin Mogahed dalam bukunya. Sebab, tidak semua luka bisa sembuh sendiri. Sebagian luka perlu segera ditangani dan diobati agar tidak semakin memburuk dan merugikan kita.

Namun, dalam menangani luka, penting sekali untuk mengetahui sumber masalahnya agar penanganannya tepat. Misalnya kita sakit gigi karena ada infeksi, tentu penanganan terbaik adalah mengobati infeksi tersebut bukan hanya sekedar memberi penahan rasa sakit. Sakitnya mungkin hilang, tapi tidak benar-benar menyembuhkan karena infeksi yang dibiarkan tentu akan terus menyebar dan semakin berbahaya.

Sama halnya dengan jiwa kita, emosi negatif yang kita rasakan sebaiknya tidak dibiarkan atau langsung didistraksi dengan hal-hal yang membuat kita senang tanpa terlebih dahulu menangkap pesan dibaliknya. Ingat, pain is a messenger. Jangan diabaikan sebelum kita menemukan sumber masalahnya.

Lalu apa obat dari hati yang kosong? Jawabannya hanya satu: kembali pada-Nya. Terkoneksi kembali dengan Allah adalah obat dari segala penderitaan. Pain and suffering is different. Kita mungkin bisa merasakan sakit, kita boleh saja diuji dengan berbagai masalah, tapi merasa menderita adalah pilihan. Semakin kita jauh dari Allah, semakin jauh pula obat dari segala kegelisahan dan kekosongan jiwa.

Sometimes when we feel empty, we don't realize that our soul is crying out. That our heart is starving for God. Instead, we look to disctract ourselves with other things, other people, other activities. - Yasmin Mogahed

Kesalahan terbesar kita adalah saat kita menganggap bahwa kita akan merasa lebih baik dengan mendistraksi atau lari dari sumber masalah. Memilih mencari hiburan dan melupakan Allah sebagai pemberi solusi sama halnya seperti meminum pereda sakit saat kita sebetulnya butuh obat untuk infeksi. Mungkin akan berhasil untuk sementara waktu, tapi kekosongan dalam jiwa kita pasti akan datang lagi dengan kondisi yang semakin menganga.


Semenjak menyadari hal ini, sudut pandang saya terhadap masalah dan ujian hidup perlahan berubah. Hidup ini memang tempatnya ujian dan terkadang kita tidak bisa menghindari pain. Kita juga tidak bisa memaksa untuk terus hidup dalam kesenangan terus menerus, karena memang tidak mungkin. Tapi kita bisa berdamai dengan keadaan saat melihat luka dan rasa sakit dari sudut pandang yang lain, yakni sebagai pembawa pesan bahwa ada yang salah dengan diri, sehingga kita bisa segera menyadari akar masalahnya dan segera mengobatinya.

Dengan ini, saya semakin yakin bahwa apapun yang datang dari Allah dan apapun yang menjadi ketetapan-Nya untuk terjadi dalam hidup kita, adalah PASTI YANG TERBAIK. Kesulitan hidup yang membuat kita kembali pada Allah merupakan anugerah. Namun kemudahan hidup yang menjadikan kita lupa pada Allah, justru adalah bencana yang sebenarnya.

Semoga kita selalu mampu menghadirkan Allah dalam keadaan apapun. Insya Allah hati akan selalu terasa penuh dan tenang senantiasa bersemayam dalam jiwa.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Rabu, 04 Januari 2023

Takjub pada Cara-Nya Mengantarkan Rezeki

Akhirnya punya buku ini :')

Panjang perjalanan sampai akhirnya buku Healing The Emptiness - Yasmin Mogahed ini bisa tiba di tanganku. Tapi biar kuceritakan dulu kenapa aku ngincer banget buku ini.

Tahun 2016, pertama kalinya aku mendengar nama Yasmin Mogahed. Salah seorang sahabatku merekomendasikan aku untuk baca buku beliau yang berjudul Reclaim Your Heart. Dia ngirim buku itu ke emailku dalam bentuk pdf, versi bahasa inggris. Gak tau sih ini legal atau nggak, soalnya di masa itu pdf nya bener-bener beredar banget jadi aku sempet mikir baik banget penulisnya bagi-bagiin pdf gratis? Wkwk. Ya wallahu 'alam sih, tapi kalo ternyata itu dari pembajakan, mohon maap aku gatau huhu.

Akhirnya aku baca buku itu and i loveeeed it so much! Walaupun bahasa inggris, tapi pemilihan katanya sederhana jadi masih bisa dimengerti. Dan aku suka banget sama pembahasannya. Tegas, lugas, banyak jleb-nya, tapi tidak menggurui. Juga banyak pemikirannya yang mindblowing dan bikin aku tergugah untuk terus balik lagi ke Allah. Masya Allah, tabarakallah..

Sejak saat itu, kunobatkan buku Reclaim Your Heart sebagai buku favoritku. Dan aku bercita-cita pengen punya buku aslinya. Pernah ada di toko buku versi terjemahan bahasa Indonesianya, tapi entah kenapa kurang sreg gitu sama terjemahannya, jadinya aku nggak beli. Baca yang bahasa inggrisnya lebih nampol, serius deh.

Tapi Allah mah Maha Baik dan Maha Mendengar doa, tahun 2018 aku coba kontak bibiku yang lagi tinggal di Amerika untuk cariin buku itu. Dan ternyata beneran dibeliin dooong huhuhu. Akhirnya buku Reclaim Your Heart resmi menjadi milikku setelah bibiku pulang ke Indonesia 2 bulan setelahnya. Alhamdulillah, senengnya bukan main! <3

Nah, jadilah pas tahun 2022 lalu Yasmin Mogahed ngumumin kalo dia launching buku baru yang judulnya Healing Your Emptiness, aku langsung ngincer bangettt. Cuma ya awal-awal launching harus sabar karena pasti susah banget dapetnya. Bulan-bulan pertama setelah launching aku cuma bisa liat review orang-orang aja di IG beliau sambil ngiler. πŸ˜ƒ

***

Beberapa bulan berlalu, ada berita kalo September 2022 Yasmin Mogahed mau ke Jakarta. Sudah pasti bukunya dijual doong.. Aku langsung nitip sama sahabatku yang jadi panitia volunteer acara di sana. Katanya harganya 378.000, jujur pas denger harganya langsung kepikiran, hmm mahal ya ternyata. Tapi karena saking pengennya, aku beraniin diri tetep pengen beli, uang mah bisa dicari lagi lah. Tapiii qadarullah, ternyata nggak dapet karena kehabisan :')

Akhir September 2022, bibiku yang pernah ngebeliin buku Reclaim Your Heart ngabarin kalau beliau mau ke Amerika bareng suaminya selama 1 bulanan lebih. Langsung kumanfaatkan momen ini untuk nitip buku Healing The Emptiness, dan di-iya-kan oleh bibiku, katanya nanti kalo udah sampe New York, bakal mampir ke toko buku langganannya.

Ternyata oh ternyata, sesampainya di Indonesia bulan Desember, bibiku ngabarin kalau katanya beliau udah cari ke beberapa toko buku seperti Strand dan Barns & Noble yang biasanya ada koleksi lengkap, tapi ternyata bukunya nggak dijual. Di Strand sama sekali nggak ada, di Barns & Nobel hanya jual online (nggak bisa pick up di tokonya), sementara waktu beliau di New York tinggal beberapa hari lagi jadi nggak memungkinkan pesen online di sana. Jadi nggak beli deh. Yah sudahlah ya..

Sebenernya bibiku itu sempet nawarin untuk beli online di Indonesia dan kalau aku punya link toko buku di marketplace yang jual minta dikirimin ke beliau. Tapi yang jual di marketplace ternyata belum banyak, sekalinya ada, harganya 395.000, hikss mahal banget. Jadinya aku nggak enak minta beliinnya (padahal kalo beli di New York pun sama sih harganya sekitar 25 dollar, sekitar 400ribu jugak wkwk). Akhirnya keinginan beli buku itu aku pendam lagi.

Meanwhile, di bulan yang sama, Desember 2022, salah satu sahabatku ngabarin kalau dia mau ke Singapura dan mau coba cari buku Healing The Emptiness juga di sana. Aku akhirnya nitip pengen jastip, tapi pas dikasih tau harganya ternyata 395.000 juga, hiks. Emang kayaknya buku ini tuh mahal yaa, sementara budget-ku maksimal di 300ribu. Dan jujur lagi bokek juga waktu itu wkwk, akhirnya dengan berat hati aku bilang ke dia kalo aku nggak jadi ikutan jastip.

Dia sempet ngasih tau aku, ada toko buku impor Konyv yang ternyata disana harganya lebih murah, 285.000 aja tapi PO-nya ternyata udah tutup dari bulan Oktober. Haha. Dan ternyata di akhir Desember sempet buka PO lagi tapi aku ketinggalan info. Hhhhh dah lah capek aku mah pasrah, kapan-kapan aja deh punya bukunya :'')

***

Nahh! Di titik pasrah inilah biasanya keajaiban terjadi. Kemarin, lagi bobo cantik di kasur, tiba-tiba HP geter ada telpon. Taunya dari mamang paket. Sempet bingung karena aku lagi nggak ada belanjaan atau paket yang ditunggu. Pas buka chat WA, mamangnya ternyata fotoin paket aku dan ternyata pengirimnya bernama Fitri. Fitri ini sahabatku yang pergi ke Singapura itu, dan 3 bulan lalu emang sempet nanya alamat rumahku sih. Oh mungkin emang waktu itu niatnya mau ngirim paket dan baru kirim sekarang, pikirku.

Pas paketnya dateng, lah tapi kok bentuknya buku? Aku bertanya-tanya isinya apaan. "Ah masa iya buku Healing The Emptiness. Nggak mungkin sih, itu kan mahal," kataku dalam hati. Eeh taunya pas dibuka beneran dooong isinya buku yang aku damba-dambakan ituu. Huaaa pengen nangiiiiissss 😭😭

   

Mana manis banget lagi dikasih surat segala. Ternyata dia emang udah berniat ngasih buku ini tapi nggak bilang-bilang aku.. Huaaa baik banget sih sobat aku iniiii. Surprise-nya berhasil banget karena aku nggak expect sama sekaliii. πŸ’—πŸ’—

Kaget, takjub, terharu, bengong, jadi satu pas aku akhirnya bisa pegang buku itu. Cuma satu yang ada di pikiran aku, ALLAH BAIK BANGETT. Ternyata, rezeki bisa bermacam-macam bentuknya, salah satunya berupa sahabat yang baik dan sayang aku huhuhu.. :")

Dan gemes aja gitu sama cara Allah merancang skenario. Dipikir-pikir, kalo ketika pas September itu aku langsung dapet bukunya, mungkin rasanya nggak akan sebersyukur ini. Ini udah mah dapetnya gratis, dibeliin sahabat sendiri sebagai hadiah, ada suratnya pula. Kesan secara emosionalnya jadi dapet banget. Dan jadi bersyukuuuur banget sama pemberian Allah ini. Alhamdulillah, makasih ya Allah.. Aku bahagia banget.. :")

Mpit, kalau kamu baca ini, makasih ya sekali lagi. Jazakillah khairan katsiran. Semoga Allah limpahkan kebaikan, keberkahan, kebahagiaan dan keselamatan untuk hidupmu. Makasih sudah menjadi sahabat yang baik selama 17 tahun ini. Walau jauh, tapi kamu selalu punya tempat tersendiri di hati aku. See you when i see you, insya Allah πŸ’–

***

Terus kuheran deh, kenapa temenku yang namanya Fitri pada baik-baik banget. Seminggu sebelum ini, Fitri yang lain beliin aku tas. Niat awal kami untuk ngobrol dan makan di sebuah cafe. Aku datang duluan dan nunggu sekitar 30 menit lebih awal. Eeh Fitri ini dateng-dateng langsung ngasih tas ke aku. "Haah, apaan? Buat aku?" Kataku, kaget.
"Iya, tadi tuh di jalan aku tiba-tiba dibelokin Allah mampir ke Eiger terus milih-milih tas dulu buat kamu."
"Iiihhh apaan siih random bangett, tapi jazakillah khair yaah," kaget, heran, seneng, dan terharu jadi satu. Random banget atulahh. 😭

Tapi lewat kejadian itu, lagi-lagi aku dibuat takjub dengan bagaimana skenario Allah bekerja. Sebenernya, sebelum pergi ke cafe tempat kami ketemuan, aku tuh sempet bingung mau pake tas apa. Karena aku berencana bawa mukena, tumblr dan dompet. Yang mana kalau pake tas selempang nggak muat (aku punyanya tas selempang kecil yang muat dompet sama hp doang), tapi kalau aku pake ransel kegedean.. Akhirnya aku berangkat bawa totebag ukuran sedang. Ternyata, tas yang Fitri beli itu ransel yang ukurannya pas, nggak terlalu kecil dan nggak terlalu besar. Pokoknya pas untuk kebutuhan aku deh. Masya Allah ya. πŸ˜‡

Pitong, kalau kamu baca ini, makasih banyak ya untuk segala kebaikanmu dan perhatianmu untuk aku selama ini. Nggak kerasa udah 14 tahun sejak kita saling mengenal. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih dan penjagaan-Nya yang terbaik. Jazakillah khairan katsiran say πŸ’–

***

Pelajaran yang aku dapatkan adalah ternyata Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan doa, maupun mengantarkan rezeki untuk kita. Semesta ini milik-Nya, dan mudah saja untuk Allah menggerakkan apa saja agar rezeki itu sampai ke tangan kita. Saat doa kita ditunda, percayalah Allah tidak diam. Allah sedang merancang skenario terbaik agar doa itu terkabul di waktu yang paling tepat untuk kita.

Semoga kita bisa selalu sabar dan berhusnudzon kepada Allah dalam menyikapi doa dan harap yang masih sedang "bergerak" menuju waktu terbaiknya. Yang perlu kita yakini adalah bahwa Allah pasti selalu mendengar dan selalu fast response dalam memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan kita.

Semoga atas setiap nikmat dari-Nya, semakin bertambah pula rasa cinta dan wujud syukur kita kepada-Nya. 

Selasa, 03 Januari 2023

Mengisi Hidup

Dalam sebuah sesi perkenalan, masing-masing orang diminta menjawab satu pertanyaan, "Jika hidupmu ibarat sebuah buku, bab untuk episode hidupmu saat ini akan kau beri judul apa?"

Cukup lama aku memikirkan jawabannya sampai akhirnya kujawab: Mengisi Hidup.

Entah bagaimana, setahun terakhir adalah tahun yang penuh dengan nasihat kematian. Membuatku semakin sadar bahwa hidup punya durasi, dan kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir, lama ataukah sebentar lagi?

Maka usaha terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah bagaimana mengisi waktu-waktu yang tersisa.

Tidak perlu terlalu memikirkan peran yang belum ada, kita hanya perlu fokus pada peran yang sudah Allah beri, baik yang kita minta ataupun tidak kita minta.

Sebab kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas peran yang sudah atau sedang melekat, bukan atas peran yang belum diberikan-Nya atau peran yang sedang/masih kita impikan.

Tidak mudah, tentu saja. Masih sering kalah oleh ego. Masih sengit bertarung dengan hawa nafsu. Masih sering abai pada kebutuhan jiwa. Masih jauh dari sebutan hamba profesional yang menjadikan Allah sebagai prioritas utama.

Namun, dengan segala badai yang terjadi di dalam maupun di luar diri, akan kupastikan diriku bertahan dan berupaya untuk terus berjalan. Menjalani amanah, menghadapi ujian, sampai tugas hidupku selesai dan Allah panggil pulang.

Semoga di episode hidup saat ini dan seterusnya, bisa terus berupaya mengisi hidup dengan amal-amal terbaik.

Senin, 26 Desember 2022

Menyadari, Menerima, Mensyukuri Cinta-Nya

 *dikutip dari Monday Love Letter #184, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Saya menulis surat ini sambil berbaring di atas kasur karena sedang sakit. Mohon maaf suratnya terlambat sampai, ya. Seharian kemarin saya full istirahat, semoga bisa cepat pulih. Kamu jaga kesehatan yaa, sister! :)

Kondisi sedang sakit begini, apa lagi yang dipikirkan selain mensyukuri nikmat sehat, ya nggak? Cuaca akhir-akhir ini sudah cukup lama kurang bersahabat, berbulan-bulan saya lalui dengan baik-baik saja. Sehat-sehat saja. Sampai akhirnya Kamis lalu badan saya tiba-tiba drop, saya baru menyadari bahwa kondisi sehat saya sebelum ini, tidak benar-benar saya syukuri. Hiks.

Yang bikin agak menyesal adalah karena ada beberapa urusan yang harus saya kerjakan, tapi saya tunda, lalu saya keburu sakit. Alhasil semakin tertundalah urusan-urusan itu. Ternyata benar nasihat Rasulullah SAW yang dinyanyikan oleh sebuah grup nasyid, yaitu untuk selalu mengingat 5 perkara sebelum 5 perkara, salah satunya sehat sebelum sakit. Bersegeralah saat kau sehat, karena kau tak pernah tahu kapan waktu sakitmu. Hiks (2).

Astaghfirullah, kadang suka nggak sadar kalau lagi dzolim sama diri sendiri. Kadang masih suka terlena dengan segala nikmat yang Allah berikan. Yang harusnya dipakai untuk bersyukur, malah kufur. Dasar aku. Semoga kita semua dilindungi Allah dari sifat kufur ya, sister.

By the way, ada satu hal menarik yang saya sadari ketika sakit. Tentu kamu setuju kan, orang sakit makannya nggak bisa sembarangan. Tubuh kita akan secara otomatis menolak makanan-makanan yang "kurang sehat" seperti yang berbasis goreng-gorengan, tepung, atau tipe junk food lainnya. Jangankan makan makanan tersebut, membayangkannya saja saya sudah mual duluan. Selama sakit ini, saya hanya makan bubur, nasi tim, dan cream soup saja. Itupun beberapa jam kemudian keluar lagi karena mual. Heuheu..

Menariknya, di hari ke-3 saya sakit, saya ngidam buah. Bener-bener pengen makan buah karena memang stok buah lagi nggak ada. Saking inginnya, saya sampai ikut suami saya keluar rumah karena dia kurang ngerti cara milih buah yang bagus. Akhirnya, berbekal jaket dan kaos kaki, sambil agak lemas saya naik motor untuk cari buah. Untungnya, tidak jauh dari rumah kami ada toko buah yang baru buka. Tanpa pikir panjang, kami langsung turun dari motor dan saya langsung bersemangat mengambil buah mangga gedong, apel, dan lengkeng. Sempat mampir juga untuk beli jus jambu sebelum pulang.

Tubuh seperti tahu apa yang sedang dibutuhkan. Kondisi sedang sakit, kepikiran makan ayam goreng favoritpun nggak sama sekali. Malah kepengennya buah. Saya terima "ngidam" itu sebagai sinyal dari tubuh untuk memenuhi nutrisi yang dia butuhkan. Alhamdulillah, rasanya jadi punya tenaga lebih dan mood juga jadi bagus ketika makan buah.

Ternyata kita dikaruniai tubuh yang keren ya sama Allah. Di saat yang sama, kita juga dikaruniai Allah banyak buah-buahan tropis yang mudah dijangkau. Dan betapa cocoknya tubuh kita dengan makanan ciptaan Allah. Buah dan sayur mampu menutrisi tubuh kita, dan tubuh kita pun cocok dengan makanan yang Allah tumbuhkan dari alam.

Ini baru contoh kecil. Faktanya, masih banyak hal ciptaan Allah yang diperuntukkan untuk kita, manusia. Cocok dengan manusia, bermanfaat untuk manusia, bahkan bisa menyelamatkan manusia. Ya, seperti Al-Quran, misalnya. Bukan hanya mempermudah hidup kita, tapi bahkan bisa sampai menyelamatkan kehidupan kita di akhirat nanti. :)

Maka, sebetulnya cinta Allah untuk kita, dapat selalu kita rasakan saat kita menyadari bahwa banyak sekali urusan kita yang diatur dan diperhatikan oleh-Nya. Dan apa yang hadir dari-Nya, selalu baik, bahkan terbaik. Kita hanya butuh kelapangan hati, untuk mau menyadari, menerima, dan mensyukuri setiap cinta dari-Nya.

Barakallahu fiik, sister!


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Kebaikan yang Menumbuhkan Cinta

 *dikutip dari Monday Love Letter #181, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Bagaimana hari Seninmu? Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahi kehidupanmu ya, sisterkuu <3

Hari ini (21 November 2022) saya senang sekali karena baru saja berkumpul kembali dengan tim Sister of Deen Project setelah berbulan-bulan kami hanya bertemu lewat layar. Selain melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, membicarakan program Sister of Deen tentu tidak luput dari obrolan. Tunggu saja ya, insya Allah di tahun 2023 nanti akan ada program baru yang akan kami launching. Mohon doanya sister, semoga Allah mudahkan proyek-proyek kebaikan ini.

By the way, boleh cerita nggak sister, apa saja sih kesan yang kamu rasakan saat menerima surat-surat Monday Love Letter dan menikmati berbagai konten Sister of Deen di media sosial? Kalau mau mengalirkan rasa dan menyampaikan pesan-pesan kepada kami, boleh reply surat ini ya sister ;)

Bicara tentang proyek kebaikan, saya jadi terpikir bahwa karakter dan pemikiran kita hari ini, bisa jadi terbentuk oleh berbagai macam proyek kebaikan yang orang lain lakukan. Bayangkan jika orangtua kita tidak mendidik apapun kepada kita, mungkin hari ini kita akan jadi anak yang tidak tahu aturan. Bayangkan jika tidak ada yang berinisiatif membangun sekolah, mungkin hari ini dunia akan dipenuhi banyak orang bodoh. Bayangkan jika para ustadz tidak merencanakan untuk menggelar ceramah, mungkin kita akan jadi manusia yang tidak beragama. Lebih jauhnya lagi, bayangkan jika dulu Rasulullah SAW tidak merancang program-program dakwah, mungkin pesan-pesan Islam itu tidak akan pernah sampai kepada kita. 

Lewat tangan-tangan orang lain, Allah menitipkan pendidikan-Nya kepada kita sehingga kita bisa mengerti bagaimana hidup ini harus dijalani. Lewat gerak kebaikan yang orang lain lakukan, kita akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya disayang oleh Allah.

Saya jadi teringat obrolan dengan salah seorang sahabat saya, "Na, aku ingin bisa terus menjadi perantara kasih sayang Allah dengan cara menyayangi orang-orang terdekatku. Karena kebaikan yang kulakukan pada hakikatnya adalah bentuk Allah mencintai mereka. Aku ingin menjadi perantara cintanya Allah untuk orang lain sehingga mereka sadar bahwa sebetulnya mereka dicintai oleh Allah."

Hmm, iya juga ya. Kalau dipikir lagi, Allah itu bisa "hadir" dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang orang lain lakukan kepada kita. Saat kita bisa merasakan cinta dari orang lain, saat itu pula sebetulnya Allah sedang menunjukkan cinta-Nya kepada kita. Bahwa Dia menjaga, mengerti kita, dan selalu memenuhi kebutuhan kita, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Inilah mengapa bagi banyak orang, meneruskan kebaikan adalah hal yang membuat nagih. Saya pribadi, jika menerima kebaikan yang tidak disangka-sangka dari orang lain, hati saya langsung  terasa hangat, bahagia, dan ada rasa syukur yang otomatis muncul karena merasa bahwa Allah begitu baik. Tentu kamu juga pernah kan, mendapat kebaikan atau pertolongan dari orang lain, lalu berterima kasihnya kepada Allah?

Maka, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pernah lelah mengupayakan kebaikan. Jangan pernah berhenti menjalankan proyek-proyek kebaikan. Apapun itu, teruslah sibuk untuk menampilkan akhlak yang baik kepada orang lain, teruslah sibuk melakukan gerak-gerak amal shalih. Sebab, kita tidak pernah tahu, dari amal kebaikan kita yang mana, yang itu menjadi jalan bagi orang lain menyadari kasih sayang Tuhannya.

Semoga kita semua bisa menjadi perantara kasih sayang Allah untuk banyak orang. Begitu pula dengan Sister of Deen Project ini, semoga bisa menjadi jalan agar banyak perempuan dapat merasakan bahwa cinta Allah padanya, amatlah besar.

Barakallahu fiik, sister!


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 07 November 2022

Di Detik yang Terakhir

 *dikutip dari Monday Love Letter #178, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Saat sedang memulai menulis surat ini, sejujurnya saya sedang tidak ingin menulis. Otak saya masih berusaha mencerna untuk menemukan pesan apa yang sebetulnya ingin Allah sampaikan atas banyak hal yang terjadi sepekan ke belakang. Awal pekan lalu, dalam berbagai refleksi diri di waktu-waktu menjelang akhir tahun 2022 ini, saya menyadari satu hal bahwa di tahun ini Allah banyak mengingatkan saya perihal kematian. Ada banyak berita kematian selama setahun ini dari mulai sahabat, keluarga, sampai orang yang tidak saya kenal namun ada kesan baik atas kematiannya.

Dan dalam satu pekan ke belakang, pendidikan yang sedang Allah berikan untuk saya, mungkin tema besarnya adalah kematian. Di hari Selasa lalu, takdir membawa saya pada sebuah pelatihan pemuliaan jenazah, yang mana saya tidak menjadwalkan untuk berada di forum tersebut, tetapi skenario Allah seakan menggiring untuk saya berada di sana. Selain untuk menjadi supir yang mengantarkan pemateri, saya juga ditunjuk untuk menjadi operator yang mengoperasikan laptop. Saya dengarkan materinya dan saya saksikan proses demi proses simulasi pemuliaan jenazah (yang diperagakan oleh manekin) dari mulai mentalkinkan, memandikan, mengafani, hingga menyolatkan. Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu, sister? Baru saja seluruh materi selesai disampaikan, muncul notifikasi di HP saya yang memberitakan bahwa uwa saya atau kakak ipar dari ibu saya, meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.. Ya Allah, baru aja membicarakan kematian, langsung dapat berita kematian.

Tidak sampai di situ, di hari Sabtu malam, ibu dari sahabat saya juga berpulang ke rahmatullah. Saat saya takziyah ke rumah duka, jenazahnya sedang dimandikan oleh keluarga. Dan saat sudah masuk proses mengkafani, saya dipersilakan masuk ke dalam rumah untuk menyaksikan. Perasaan saya campur aduk ketika itu. Baru Selasa lalu saya menyaksikan manekin dikafani, malam itu saya melihat langsung jenazah yang sedang dikafankan. Ya Allah, betapa kematian itu begitu dekat.. :''''

Dan berita-berita internasional yang viral memberitakan kematian massal di berbagai belahan dunia, yang mungkin kamu juga mengetahuinya. Kita semua seakan sedang diberi pesan yang sama oleh Allah untuk kembali menyadari dan memahami kembali makna innalillahi wa inna ilaihi rajiu'un. Bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka kematian adalah hal yang pasti datang kepada setiap yang bernyawa.

"Teh, dulu aku denger berita kematian tuh jauh, tapi semakin ke sini, berita kematian datang dari orang-orang yang dekat.." ucap salah seorang sahabat saya saat kemarin kami sedang bertakziyah. Saya sangat amat setuju dengan pernyataannya. Bahkan, kalimat serupa juga disampaikan oleh pemateri yang beberapa hari lalu mengisi pelatihan pemuliaan jenazah. Semakin bertambah usia, berita kematian semakin sering kita dengar. Dari orang-orang dekat, dari keluarga sendiri, dan pasti akan tiba saatnya suatu hari kita juga akan meninggalkan dunia ini.

Bagaimana tidak overthinking? Berita kematian selalu memberi pesan terbaik sekaligus tamparan keras bagi kita (terutama saya) yang masih sering terlena dengan kesenangan dunia. Seiring dengan banyaknya dan seringnya kita mendengar berita kematian, rasanya keterlaluan ya kalau kita masih saja bermalas-malasan untuk beramal sholeh? Jika sudah banyak orang-orang di sekitar kita yang sudah lebih dulu menghadap kepada-Nya, bukankah bisa jadi giliran kita akan tiba sebentar lagi? Maka apa yang sudah kita siapkan untuk menyambut kematian terbaik?

Di satu sisi, saya takut dan amat khawatir. Rasanya, mau berapa kalipun berkaca, amal sebanyak apapun yang diri ini lakukan sepertinya tidak akan pernah cukup untuk bisa membeli surga. Tapi Allah tentu tidak menghendaki kita untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Di sisi lain, saya merasa cukup lega dan bersyukur saat mendengar bahwa orang-orang yang saya kenal yang berpulang di tahun ini, mereka meninggal dalam keadaan yang baik.

Mertua dari sahabat saya, meninggal dalam keadaan sedang mengisi ceramah subuh di bulan Ramadhan lalu. Sahabat saya sewaktu kuliah, meninggal dalam keadaan sakit kanker, namun masyaallah, Allah memanggilnya bukan sedang dalam kondisi kritis. Melainkan dalam keadaan tidur, setelah sebelumnya telah menunaikan shalat tahajud terlebih dahulu. Ibu dari sahabat saya, alhamdulillah sempat mengucap laa ilaha illallah saat sedang ditalkinkan. Semoga mereka semua husnul khatimah dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah. Aamiin.

Lalu ada pula berita yang sempat ramai menghiasi social media saya di tahun ini, yaitu meninggalnya salah seorang ustadzah saat sedang memimpin pengajian. Dan juga meninggalnya salah seorang mualaf mantan pastur, yang ternyata kondisi mayatnya saat dimandikan bersih tanpa kotoran, jenazahnya wangi, banyak sekali yang menyolatkan, banyak sekali yang mendoakan.

Saya iriiii sekali pada orang-orang yang 'dijemput' oleh Allah dalam keadaan yang baik, keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan membawa segunung 'prestasi' yang membanggakan di hadapan Allah. Berita-berita seperti itu, seperti menumbuhkan harapan untuk saya bahwa husnul khatimah is actually reachable. Selama kita mencita-citakan itu, tulus minta sama Allah dan senantiasa mengupayakannya, insyaallah Allah akan mengabulkannya.


Sejalan dengan sebuah hadits yang pernah saya baca, "Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus (benar), niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." -HR Muslim.

Dan itulah yang saya lakukan. Diam-diam, walau sambil menahan malu kepada Allah karena diri ini masih banyak memiliki kehinaan, saya selalu berharap agar kelak saat saya dipanggil pulang oleh-Nya, saya bisa 'dijemput' dalam keadaan yang baik, dalam keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan sedang beribadah dan berjuang untuk-Nya. Aamiin.. :")

Semoga saya dan kamu yang membaca surat ini, diberi hadiah terbaik dari Allah di detik-detik terakhir waktu kita di dunia, yakni kematian yang husnul khatimah dan digolongkan bersama orang-orang yang mati syahid. Aamiin yaa Rabbal 'Alamiin..

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Maukah Kita Bersabar Sedikit Lagi?

 *dikutip dari Monday Love Letter #171, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah senang sekali akhirnya bisa kembali menyapamu setelah sekitar 1 bulan mungkin ya emailmu sepi dari Monday Love Letter. Hehe. Kabarmu baik-baik saja, sister? Dalam keadaan apapun dirimu saat ini, semoga selalu dalam perlindungan dan penjagaan terbaik-Nya, ya. Aamiin.

Saya akhir-akhir ini berpikir bahwa setiap manusia yang hidup tentu tidak mungkin lepas dari ujian dari-Nya. Setiap kita pasti memiliki ujian, masalah, hambatan, tantangan atau apapun itu kamu menyebutnya. Pasti ada aja gitu kan hal-hal atau peristiwa yang bikin kita kelabakan atau bikin hati nggak nyaman, yang tentunya semua itu tidak lepas dari ketetapan yang sudah diskenariokan oleh Allah untuk kita.

Di dalam Quran, Allah berfirman, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," -QS. Al-Baqarah (2) :155

So, kita sebetulnya tidak akan mungkin menghindari hal-hal yang barangkali membuat kita takut dan serba kekurangan karena ujian adalah sebuah keniscayaan yang pasti Allah hadirkan. Akan tetapi, di akhir ayat itu Allah juga memberi petunjuk bahwa kunci untuk menghadapi semua kesulitan itu adalah dengan bersabar.

Di surat yang lain Allah menambahkan, "Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." QS. Az-Zumar (39): 10

Lihatlah, betapa istimewanya sebuah kata kerja bernama sabar. Tentu sabar disini bukan berarti diam berpasrah dan tidak melakukan apa-apa. Sabar yang sebenernya justru adalah sikap tangguh dan pantang menyerah untuk terus memproseskan diri di jalan-Nya. Sabar yang insya Allah akan membuat kita mendulang pahala yang besar dan menjadi kunci surga untuk kita.

Eits, tapi nih tapiii sabar itu kan nggak mudah, sist! Hehe, mungkin itu yang terbersit di pikiranmu. Pada kenyataannya, bersabar memang tak semudah mengatakannya. Saya juga masih sering remedial kok perkara sabar ini. Ada momen-momen tertentu yang mungkin membuat kita terasa seperti berjalan di lorong gelap yang cahaya di ujungnya belum juga terlihat. Tentu rasanya sangat frustrasi karena titik terang itu belum juga muncul sedangkan diri sudah mulai lelah untuk berjalan dan bertahan. Di saat seperti ini, kepada siapa lagi kita menggantungkan harap jika bukan kepada Allah?

Sisterku, ingat kembali bahwa janji Allah itu pasti. Selama kita mau terus berupaya dan bersabar menjalani proses, selama kita mau terus menjaga dan menahan diri untuk tidak berbalik ke belakang, selama itu pula Allah sebetulnya sedang menyiapkan pahala dan ganjaran yang besar untuk kita.

Seandainya kita diperlihatkan oleh Allah bahwa kesabaran kita hari ini yang ternyata akan membawa kita kepada surga-Nya, akankah kita menyerah? Tentu tidak kan? Kita justru akan semakin semangat untuk berjuang karena tahu bahwa semua keperihan ini akan berakhir indah.

Hanya saja, yang namanya reward tentu tidak akan ditaruh di depan. Yang namanya reward, pasti diberikannya belakangan. Maka kita perlu memupuk keyakinan kepada Allah bahwa segala jerih payah di jalan-Nya dan demi mendapatkan ridho-Nya, pasti akan ada reward-nya. Maukah kita bersabar sedikit lagi?

Ada sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang bagi saya sangat menarik, mungkin kamu pernah mendengar juga hadits ini. Rasulullah SAW bersabda: Tidak seorang pun yang  masuk surga lalu ingin kembali ke dunia walaupun bagaimana besar kekayaannya di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia mengharapkan kembali ke dunia hingga dibunuh kembali sepuluh kali dalam (perang sabilillah). Karena kemuliaan yang dilihatnya (yang diberikan kepadanya). Dalam riwayat lain: Karena melihat keutamaan mati syahid. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ternyata, para syuhada yang wafat di medan perang, justru malah ingin kembali ke dunia dan terbunuh lagi, dikarenakan saking nikmat dan indahnya jamuan yang diberikan Allah di surga-Nya. Terbayang nggak sih oleh kita, kembali ke dunia dan terbunuh lagi itu berarti tertusuk pedang sekali lagi, tertombak anak panah sekali lagi, tertebas bagian tubuhnya sekali lagi, dan sakaratul maut sekali lagi. Tapi mereka bersedia untuk melaluinya lagi. Artinya, segala perih di dunia tidak ada apa-apanya dibanding nikmat yang sudah Allah siapkan di surga-Nya.

Maka dari itu, sister. Jika kita yakin pada janji Allah, stok sabar kita pasti tidak akan ada batasnya. Sabarlah dalam berjuang di jalan-Nya, sabarlah untuk mengejar ridho-Nya, sabarlah untuk tidak menyerah dan berbalik ke belakang, sabarlah menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya. Sabarlah, tidak lama, hanya selama di dunia-- untuk kemudian menikmati reward tanpa batas dari-Nya di akhirat.

 

Yang juga sedang belajar sabar,
Your sister of Deen,

Husna Hanifah

Rabu, 06 April 2022

From Tears to Blessing

*dikutip dari Monday Love Letter #157, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sejak 2 pekan ke belakang akhirnya saya mulai aktif lagi beraktivitas ke luar rumah. Setelah insiden kaki terkilir di akhir Januari lalu, saya yang sering main ke luar ini mau tidak mau harus membatasi pergi ke luar rumah. Bagaimana tidak, untuk jalan saja sudah susah, apalagi menyetir motor atau mobil, haha. Tak disangka pemulihannya membutuhkan waktu lebih dari sebulan sampai akhirnya saya bisa menyetir motor lagi.

Saat sudah siap "berkelana" kembali, ternyata Allah memberikan waktu tambahan selama 2 pekan untuk diam di rumah karena saya dan suami sakit secara berbarengan dan kami harus isoman. Subhanallah.. Awalnya saya sempat bertanya-tanya mengapa ujiannya terasa bertubi-tubi tanpa jeda? Bahkan sebelum kami sakit, keluarga besar sudah terlebih dulu sakit secara bergantian. Bisa dibilang kami ini kebagian sakit di kloter terakhir. Hehe..

"Akhirnya semua harus kebagian.. Alhamdulillah, semoga menjadikan kita semua orang-orang yang lebih taat kepada Allah.. Menjelang Ramadhan dosa-dosa berguguran dan keimanan meningkat. Semoga.. Aamiin.. Semangat sehat, Teh, Mas.." Sebuah pesan dari ibu saya muncul di layar HP saat membuka grup keluarga. Masya Allah, ada benarnya juga. Bagi seorang muslim, sakit adalah salah satu cara Allah mengugurkan dosa-dosa. Maka, ujian sakit yang diberikan oleh Allah semestinya menjadi hal yang seharusnya kita syukuri dibanding kita keluhkan.

Mungkin karena mau Ramadhan, jadi kita ini sedang "dibersihkan" oleh Allah agar nanti ketika tiba saatnya bertemu Ramadhan, kita sudah dalam keadaan jiwa yang lebih bersih dan keimanan yang meningkat. Cara pandang ini membuat saya akhirnya mensyukuri ujian sakit yang Allah berikan, bahkan mampu menikmati setiap rasa sakit yang terasa oleh badan. Berharap dari setiap rasa sakit itu, secara bersamaan Allah juga menggugurkan setiap dosa.. Aamiin ya Allah..

Tentu saja cara Allah membersihkan setiap orang akan berbeda. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang diuji dengan masalah hidup, ada yang diuji dengan kerugian materi, ada yang diuji dengan kehilangan orang tersayang, dan masih banyak lagi. Adakah dari semua yang saya sebutkan sedang dialami olehmu, sister? Saya doakan semoga setiap rasa sakit yang terasa, baik itu di raga maupun di hati, menjadi jalan untuk luruhnya dosa-dosa serta menjadi jalan untuk semakin dekat dan taat kepada Allah ya, sisterku..


Menerima ketetapan-Nya yang bagi kita buruk, tentu tidak selalu mudah. Apalagi sampai mensyukuri dan berterimakasih pada takdir yang pernah membuat kita terluka. Tetapi jika kita memandang bahwa semua itu adalah cara Allah untuk membersihkan jiwa kita, maka semoga hati kita bisa lebih lapang untuk menerima.

Bukankah para penghuni syurga adalah mereka yang jiwanya bersih? Rasanya tak mungkin bisa mendapat kenikmatan untuk bertemu Allah jika kita masih terkotori oleh dosa-dosa karena Allah adalah Dzat yang Maha Suci. Nggak pantes banget kan menghadap kepada Raja Langit dan Bumi dalam keadaan diri kitanya "gembel". Heu.. :(

Maka berterimakasihlah atas segala ujian dan tempaan yang Allah berikan untuk kita, karena itu adalah bentuk sayangnya Allah kepada kita. Bersyukurlah atas segala ujian yang Dia hadirkan, sebab itu adalah bentuk cinta Allah agar kelak kita bisa kembali "pulang" dengan selamat dan pantas untuk bertemu dengan-Nya.. Semangat terus dalam berproses untuk menjadi sebaik-baik hamba-Nya, sister! Bangkit dan berjuang lagi, yuk! :)

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Selasa, 01 Maret 2022

Hamba yang Berpura-pura

*dikutip dari Monday Love Letter #154, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Hari ini tanggal merah ya? Bertepatan dengan peristiwa Isra Mi'raj yang terjadi di tanggal 27 Rajab. Tidak terasa bulan Rajab sudah mau habis dan Ramadhan sudah semakin dekat. Sekitar 33 hari lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan, insya Allah. Semoga Allah masih memberi usia untuk kita bertemu dengan Ramadhan ya, sister. Yuk aamiin bareng-bareng! Aamiin.. :')

Bicara tentang Isra Mi'raj, dulu saya melihat peristiwa Isra Mi'raj hanya dari kacamata sejarah, sebagai sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu, sebagai salah satu mukjizat besar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW. That's it.

Lambat laun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, pemaknaan saya terhadap peristiwa Isra Mi'raj juga semakin bertambah. Salah satunya adalah tentang perintah shalat yang sering disebut orang sebagai "oleh-oleh" dari perjalanan beliau SAW yang ternyata turunnya perintah shalat justru bukanlah beban, melainkan sebuah kabar gembira bagi umat mu'minin saat itu karena mereka bisa terhubung langsung dan berdoa kepada Allah dalam shalatnya tanpa sekat. Maasyaa Allah, semoga shalat juga bisa semenggembirakan itu ya untuk kita, sister.

Tapi, saya juga baru saja mendapat sebuah pemaknaan baru dari peristiwa Isra Mi'raj ini yang berhasil membuat diri saya merasa malu di hadapan Allah sekaligus menaruh harap dan niat agar diri ini mau dan siap untuk terus berupaya dalam sebuah perjalanan panjang menjadi seorang hamba Allah yang sebenar-benarnya. Izinkan saya bagikan untukmu juga ya, sisterku.. :)

***

"Subhaanalladzii asraa bi'abdihi.. Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya." Dalam sebuah forum kajian, QS. Al-Israa ayat pertama dibacakan.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan, "Ayat ini turun di tahun ke-10 atau 11 kenabian. Saat di mana Rasulullah sudah mengalami banyak hal dalam perjalanan kerasulannya; dicaci, dimaki, disebut majnun (gila), disakiti, bahkan menjadi buronan karena hendak dibunuh. Setelah Rasulullah mengalami semua itu, Allah panggil beliau dengan sebutan 'abdihi, hamba-Ku. Yuk, hamba-Ku, aku perjalankan engkau."

Saya masih terkesima dengan cerita perjuangan Rasulullah SAW sampai beliau (pemateri) melanjutkan, "Kita selama ini ngaku kalau diri kita hamba Allah, tapi sudah sejauh mana pengorbanan yang kita berikan untuk Allah sementara Rasulullah dipanggil Allah dengan sebutan hamba saat sudah mengalami semua itu? Rasanya kok malu ya ngaku-ngaku kalau kita ini hamba Allah," ujar beliau sambil tersenyum dan menatap kami. Badan saya langsung merinding ketika mendengarnya.

Saya tidak akan lupa kalimat demi kalimat itu. Lebih tepatnya, tidak ingin melupakan nasihat itu, sehingga saya tulis di sini. Ternyata, ada sebuah pesan penting yang barangkali ingin Allah sampaikan hanya dari satu kalimat "subhaanalladzii asraa bi'abdihi.." supaya kita melakukan evaluasi besar-besaran tentang bagaimana kinerja kita selama ini dalam menghamba kepada-Nya. Wallahu 'alam.

Saat ayat ini dimaknai untuk menjadi muhasabah diri, bagi saya, rasanya JLEBB banget dan pengen nangiss. Huhu. Malu banget nggak sih, menyebut diri kita ini hamba Allah tapi apakah dalam keseharian kita benar-benar menghamba kepada Allah??

Predikat 'hamba Allah' ini tentu bukan hanya sematan yang diberikan Allah untuk manusia. Bukan sekedar status yang jika kita ditanya 'kita ini siapanya Allah?' lalu otomatis dijawab 'hamba-Nya Allah', kemudian selesai. Tapi dengan disematkannya status 'hamba' ini, ada sebuah tanggungjawab yang juga mengiringi status tersebut, yakni untuk hidup dan bersikap selayaknya seorang hamba.

Apakah pantas disebut hamba jika kita masih pilih-pilih dalam menaati aturan-Nya? Apakah pantas disebut hamba jika masih berat dalam mengorbankan harta, jiwa, waktu, tenaga dan pikiran untuk melaksanakan apa-apa yang diinginkan dan disukai-Nya? Apakah pantas disebut hamba jika tak juga menjauhi dan melepaskan diri dari aktivitas yang tidak disukai-Nya? Karena semestinya seorang hamba adalah ia yang siap diatur oleh Tuhannya dan siap mengorbankan apapun untuk menjalankan tugas dari Tuhannya. Sudahkah kita benar-benar menjadi seorang hambanya Allah?

Jika saya harus menjawab pertanyaan yang terakhir itu, tentu saya akan berpikir berkali-kali untuk mengatakan 'sudah'. Dalam prakteknya, mungkin saya belum benar-benar bisa dikatakan hamba Allah. Namun, adakah status yang pantas disematkan kepada kita selain hamba Allah sementara yang mencipta dan memelihara hidup dan kehidupan kita adalah Allah?

Pada akhirnya, kita sebenarnya tidak akan bisa lepas dari status kita sebagai hamba Allah. Sebab Allah adalah satu-satunya yang menciptakan kita dan berkuasa penuh atas diri kita, maka sudah selayaknya kita tunduk dan berkorban penuh untuk-Nya.

***

Ternyata, memantaskan diri sebagai seorang hamba adalah perjalanan yang harus kita lakukan sepanjang hidup kita ya, sister. Karena itu, kesadaran akan status ini harus terus dijaga agar setiap aktivitas kita tidak melenceng dari tugas kehambaan kita kepada Allah. Sulit, iya. Berat, pasti. Tapi harus terus diupayakan.

Lalu bagaimana sebaik-baiknya cara menjadi seorang hamba? Rasulullah SAW adalah contoh terbaik. :)

Bismillah, yuk kita sama-sama terus berupaya memantaskan diri untuk menjadi sebaik-baik hamba-Nya. Barakallahu fiik, sister.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah