Minggu, 27 Maret 2016

Tok Tok!

Sabar. Sesuatu yang belum waktunya tidak akan pernah datang jika memang belum waktunya. Pun tidak akan datang jika kamu merasa ini sudah waktunya. Tidak, Allah lebih tahu kapan waktu yang lebih tepat. Allah lebih tahu kapan ketika kau benar-benar siap.

Walaupun kau merengek-rengek berkata bahwa kau membutuhkannya, jika Allah bilang bahwa kau belum butuh, Dia tetap tidak akan memberikannya. Walaupun kau bilang bahwa semua masalahmu akan selesai jika kau memilikinya, nyatanya Allah lebih tahu apa yang kau butuhkan.

Hanya memang belum waktunya saja. Kau hanya perlu ikhlas dengan ketetapan-Nya, dan bersyukur dengan apa yang ada. Kau tinggal menyerahkan hati dan jiwamu sepenuhnya kepada-Nya.

Sampai tiba waktunya hati itu dijatuhkannya pada hati yang lain untuk kemudian menjadi satu. Lalu kau pun tersenyum. Menyadari bahwa waktumu sudah sampai.

Jumat, 25 Maret 2016

Ketika Pemberian-Nya adalah Yang Terbaik

Diingatkan lagi tentang kesiapan mengemban amanah. Amanah apapun itu. Bahwa ternyata ada saja orang yang tidak siap dengan ketentuan-Nya. Padahal jelas-jelas pemberian dari Allah adalah yang terbaik, lalu ditolak. Punya apa memangnya diri ini, sehingga berani-beraninya menolak pemberian dari-Nya?

Merasa punya yang lebih baik? Memangnya apa yang kamu punya? Kamu nggak pernah memiliki apa-apa karena semua hanya milik Allah.
"Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi." -QS. 14:2

Merasa pantas dapat yang lebih baik? Memangnya siapa kamu, berani-beraninya sombong dengan berpikir pemberian Allah adalah buruk bagimu?
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." -QS. 2:216

Atau justru sebaliknya, merasa tidak pantas dengan pemberian terbaik dari Allah itu? Hoo.. Itu namanya kamu rendah diri. Dan dengan kamu merasa rendah diri, sama saja dengan kamu merendahkan Sang Pencipta. Padahal Allah tahu kamu sanggup, lalu mengapa harus merasa tak pantas?
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." -QS. 2:286

Mau mencari apalagi memangnya, ketika Allah sudah menetapkan sesuatu yang terbaik menurut-Nya?

Ya Allah, jadikanlah aku ridho dengan keputusan-Mu, sehingga aku tidak suka meminta dipercepat apa yang Engkau tunda, dan meminta ditunda apa yang Kau percepat.
-Doa Umar bin Abdul Aziz

Selasa, 15 Maret 2016

Semangat.

Gak boong deh, makin kesini makin kerasa banget yang namanya masalah tuh makin kompleks. Apalagi ngeliat temen-temen yang udah pada nikah, udah punya anak. Urusan dan tanggungjawab mereka yang bertambah-tambah. Nggak heran banyak yang stress, depresi, pengen lari dari kenyataan, bahkan mungkin terpikir untuk bunuh diri. Naudzubillahi min dzalik.

Seiring bertambahnya usia, kita pasti dihadapkan pada tantangan yang lebih besar dan masalah yang lebih kompleks. Namun bersama dengan meningkatnya level tantangan itu, ternyata pertolongan Allah mah selalu ada aja. Karena dimana ada tugas, disitu pasti ada fasilitas. Pada akhirnya akan ada jalan untuk kita melewatinya.

Menurutku peran sahabat sangat penting. Sebagai pengingat hidup kita buat apa. Sebagai pengingat bahwa kita punya sandaran dan pegangan untuk mengadu: Allah. Maka perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu. Kajilah ilmu Allah. Serulah nama Allah di pagi dan senja hari bersama mereka. (QS. 18:28)

Laa yukallifullahu nafsan illaa wus'ahaa.. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dgn kemampuannya. Seberat apapun yang akan dijalani ke depan, kita pasti bisa melewatinya. Bukankah kita hari ini adalah bentukan dari masalah2 masa lalu yang sudah terlewati? 

Maka, seperti dulu, tantangan hari ini pasti akan terlewati, yang setelahnya akan menjadikan kita semakin 'naik kelas'. Semangat untuk siapapun kamu yang sedang berjuang. :))

Sabtu, 20 Februari 2016

Create Your Best Future

Sometimes people with the worst past end up creating the best future.”  
(Umar bin Khatab r.a.)

Seorang Umar bin Khatab, dulunya menjadi musuh Islam. Mengolok-olok, menghina, bahkan mencoba membunuh Rasul. Aku berimajinasi, ketika Umar menyatakan keislamannya, bagaimanakah perasaannya saat itu? Mungkin di saat yang sama dia merasa bersyukur sekaligus merasa bersalah. Bersyukur karena datangnya hidayah, dan merasa bersalah karena dia hampir saja membunuh kekasih Allah yang menyaksikan keislamannya itu.

Bisa jadi, untuk menebus kesalahannya itu beliau lalu berjuang mati-matian membela Rasulullah, melindungi Rasulullah dari musuh-musuh Islam, menjadi perisai yang disegani oleh musuh-musuhnya. Sampai menjadi salah satu khulafaur rasyidin dan menjadi salah satu pemimpin yang membuat rakyatnya sejahtera hingga ia kesulitan mencari umat yang berhak menerima zakat.

Begitulah, satu dari sekian banyak contoh manusia yang gelap masa lalunya, namun menemukan cahaya lalu menjadi bersinar di masa depan.

Bukti bahwa seburuk apapun masa lalu, sebetulnya tidak akan menjadikan masa depanmu sama buruknya. Semua masih bisa diperbaiki, tergantung seperti apa masa depan yang akan kau ukir..

Let's create our best future! 

Senin, 01 Februari 2016

Aku dan Skripsi (Part 2)

Tulisan sebelumnya: Aku dan Skripsi (Part 1)

23 Desember 2015 adalah tanggal dimana aku sidang. Hanya orang-orang terdekat aja yang tahu. Abis gimana ya, di pikiran aku tuh kalau aku gembor-gembor mau sidang, entah bakal jadi berita bahagia buat mereka atau berita malu-maluin. Malu-maluin karena hari gini baru mau sidang. Jadi seolah nggak ada perasaan bangga aja gitu ke akunya dengan gembar-gembor kalau aku mau sidang. Mungkin akan lain cerita kalau ini terjadi dua tahun yang lalu. Hehe.

Menjelang hari-H kelimpungan. Bukan karena gugup mau sidang, tapi karena bingung lah kok perasaan yang ada malah kayak gini sih, jadi nggak ada apresiasi ke diri sendiri gini. Akhirnya sibuk benerin mindset dan nenangin diri dengan nulis sambil selftalk. 

Tak usah berpikir tentang orang lain, karena perjalanan menuju sidang adalah tentang mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan diri yang malas, mengalahkan diri yang menunda-nunda, mengalahkan diri yang penakut, mengalahkan diri yang nggak mau fokus. Lewat sidang, kamu telah membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu mampu menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Walaupun mungkin waktumu lebih lama dari orang lain, hiraukan saja. Sudah kubilang ini adalah pertarungan dengan dirimu sendiri, bukan dengan orang lain.

Kamu hebat, Na, karena bisa mengalahkan dirimu yang pemalas. Aku paham betul betapa inginnya kamu putus dengan si skripsi, tapi kamu mampu bertahan dan menyelesaikannya. Aku tahu, puluhan kali terlintas dalam kepalamu untuk berhenti dikarenakan betapa susahnya nyari teori, betapa rumitnya statistika, betapa cueknya dosen pembimbingmu (yang tiba-tiba jadi detil di akhir-akhir), tapi kamu tetap bertahan untuk menyelesaikannya. 

Aku juga tahu bahwa banyak air mata yang kau keluarkan, karena frustasi, karena merasa susah, karena keadaan yang tidak ideal, karena tekanan dari orang lain, bahkan air mata syukur karena orangtua yang sepenuhnya mendukung dan peduli. Tapi kamu berhasil melewati semuanya. Kamu hebat, Na. 

Memang tidak ada skripsi yang sempurna, yang membuat sempurna adalah perjuanganmu yang tuntas. Selamat karena telah menang pada pertarungan melawan diri sendiri. Jangan berbangga terlalu banyak karena akan ada pertarungan-pertarungan lain yang akan menanti. But, congratulation, Na.. You did well.. ^_^

Pada akhirnya, walaupun aku membenci si skripsi, dia memberi banyak pelajaran untukku. Perjuangan yang panjang dan berat pasti akan memberikan hikmah yang sama banyaknya. Dan skripsi, adalah salah satu tantangan untuk bisa menang dengan pertarungan melawan diri sendiri. And I won. Alhamdulillah. 

Setelah ini, selamat berjuang untuk pertarungan-pertarungan selanjutnya. Jangan lupa selalu sertakan Allah di setiap langkah. Bismillah.

Selasa, 05 Januari 2016

Aku dan Skripsi (Part 1)

I hate skripsi so much. Terlepas dari berhasilnya aku nyelesain itu skripsi, ternyata si skripsi walaupun udah pergi tetep aja masih ninggalin sisa-sisa gondok di hati. Dia (si skripsi) tetap menyebalkan sampai akhir. Ternyata kita nggak bisa putus dengan cara baik-baik ya Skrip, ngeselin banget sih kamu. Hish!

Jujur ya, pengerjaan skripsiku memakan waktu 2 tahun. Dan jadwal sidangnya bahkan deketan sama temen seangkatan aku. Bedanya, aku sidang skripsi, sedangkan dia sidang tesis. Ngeselin kan. Telat banget.

Aku ngerjain skripsi hampir selalu dengan keterpaksaan. Makanya nundanya lamaaaa banget, karena aku paling susah dan paling ngeyel kalo disuruh ngerjain hal yang nggak aku suka. So jalannya bener-bener ga mulus. Susah banget men buat aku. Susahnya bukan karena nggak bisa, tapi karena nggak suka.

Udah mah nggak suka, jadinya nunda, ditambah dosen pembimbingnya nggak cocok sama si gue. Si dosen adalah tipe yang tahu beres, sementara aku tipe yang harus dituntun detil per detil. Jadinya nggak ketemu. Setiap habis bimbingan bukannya dapet pencerahan, malah tetap dengan kebingungan yang sama, bahkan bertambah -_-" Alhamdulillah dapet temen yang ngerti dan mau jelasin dan bantuin, plus dapet bantuan juga buat ngerjain bagian itung-itungan statistiknya.

Udah nggak keitung lah malam-malam yang terlewati dengan air mata (halah lebay), sempet beberapa kali mikir juga buat nyerah. Tapi sayang, tinggal satu step lagi soalnya. Juga dukungan dari orangtua yang ga berhenti-berhenti menghantui nanyain progres skripsi aku. Kadang bikin stress sih pertanyaannya, tapi bersyukur karena ada yang nanyain dan mantau. Kalau nggak digituin soalnya nggak akan beres-beres pasti. Hahahaha..

Akhirnya aku kerjain tuh skripsi setelah ditunda berbulan-bulan. Selalu di malam hari soalnya kalo ngerjain harus hening, dan harus sendirian. Jadi udah pasti begadang-begadang. Abis itu bimbingan, kadang setelah bimbingan dianggurin lagi karena kedistract sama kegiatan yang lebih seru. Terus diingetin lagi sama orang lain, akhirnya ngerjain lagi, bimbingan, kedistract lagi. Gitu aja terus selama 2 tahun. Kadang (sering malah) enek karena terpaksa tea ngerjainnya. Tapi ya gimana, dijalani ajalah mau sampe nangis-nangis juga sebodo teuing. Sebenernya nggak bagus sih kayak gini, kasian ke hati, capek. Sempet nyoba buat rubah mindset dan berusaha mencintai skripsi, tapi nggak bisa. Nggak ngerti deh aku juga, padahal biasanya bisa tuh ngontrol hati. #eaa

Singkat cerita, setelah berminggu-minggu sidang skripsinya diundur (ini juga ngeselin soalnya aku males ngeladenin orang-orang yang nanya kapan aku sidangnya), akhirnya lulus juga. Sambil sok sok tebel muka, sok cuek nahan malu karena sidangnya bareng sama angkatan 2011 sementara aku sendirian doang yang 2009. Pas sidang dibantai sama dosen penguji, nguji mental gitu dosennya, pokoknya meninggalkan kenangan buruk lah. ENOUGH. Haha!

Lebih herannya lagi, pas pengumuman yudisium dan dinyatakan lulus, aku nggak ngerasa bahagia sama sekali. Lega sih lega, tapi nggak bahagia. Diantara anak-anak 2011 yang haha hihi foto-foto pake balon, aku mah lempeng aja, langsung pulang. Banyak orang ngasih selamat pas tau aku udah sidang. "Wah unaaaa selamat yaa akhirnyaaa.. Ikut seneeeng" Yang sidang kan aku, tapi kenapa orang lain yang seneng? Akunya mah nggak :(

Terus di perjalanan pulang aku nangis sambil naik motor. Tangisan yang nggak tau tangisan apa, aku nggak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan saat itu. Yang pasti rasa yang dominan adalah marah. Marah ke skripsi (kurang absurd apa coba gue) karena dia udah bikin aku nunda banyak mimpi aku dan bikin aku berhenti dari ngerjain hal-hal yang aku suka. Udah mah ngerjainnya susah, banyak yang direnggut, di akhir ngasih kenangan buruk pula. Lengkap sudah dendam aku sama dia. Ngeliat 3 tumpuk skripsi yang harus direvisi rasanya pengen aku bakar habis itu semua. Dan tiap ada orang yang nanya "gimana kemarin sidangnya? cerita dong", aku langsung bilang "yah gitulah pokoknya, udah yah nggak usah nanya-nanya. Pokoknya lulus alhamdulillah." Titik.

Tapi 2 tahun yang menyebalkan ini adalah 2 tahun yang juga memberikan banyak  sekali pelajaran hidup. Dan aku bersyukur atas pilihanku untuk terus maju, untuk tidak menyerah, dan akhirnya berhasil menyelesaikannya. Nanti kuceritakan di part 2 ya, soalnya tulisannya udah kepanjangan ;)

Senin, 28 Desember 2015

I trust You

Pernah nggak sih, ngerasa heran sama hidup sendiri. Udah berencana ini, taunya dikasih itu. Udah yakin bakal dapetin itu, taunya takdir berkata lain. Lalu akhirnya bertanya-tanya sendiri, "Jadi sebenarnya maunya Allah itu apa sih ke aku?" 

Ini bukan bentuk protes dari takdir yang Allah tetapkan ya, tapi ya kadang suka keheranan sendiri aja gitu sama skenario-skenario tak terduga yang diberikan-Nya. Sebenarnya hal apa yang menanti di depan dengan Dia memberikan skenario seperti ini? Pertanyaan itulah yang akhir-akhir ini hinggap di kepalaku, karena keterbatasanku sebagai manusia yang sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menerawang masa depan.

Satu hal yang kuyakini, semua takdir-Nya baik. Selalu baik. Dan selalu terjadi untuk sebuah alasan. Alasan yang mungkin tidak kita ketahui hari ini, tapi di kemudian hari akan membuat kita bersyukur karena pernah mengalami semuanya.

Percayakan saja hidupmu pada Allah, tugasmu cukup mengabdi saja.

Senin, 07 Desember 2015

It's About Her

Aku ingin bercerita tentang seseorang. Seseorang yang telah membersamai diri ini selama lebih dari 10 tahun. Yang tau segalanya tentang aku dari mulai jaman alay sampai hari ini. Nggak ada yang mengenal aku sebaik dia.

Dia adalah partner dari segala partner. Ketawa bareng, mendiskusikan banyak hal, berantem, alay bareng, nangis bareng, we did a lot of things together. Too precious. I thank her for all the things that she did.

Dia adalah sahabat sekaligus orang yang paling kukagumi. Aku menjadi saksi perubahan hidupnya hingga menjadi orang sehebat dan semenyenangkan sekarang. Ia yang sekarang adalah buah yang manis setelah ditempa badai. Ia yang sekarang adalah berlian indah setelah dipoles-dipanaskan-dan proses menyakitkan lainnya. Yang kalau aku ada di posisinya mungkin aku tidak akan sekuat itu. I adore her so much.

Dia adalah keluarga. Satu-satunya (betul-betul satu-satunya) yang tak pernah kuanggap tamu dari semua teman yang pernah datang ke rumah. "Ambil sendiri ya", "Masak sendiri ya", "Aku lagi di luar, kamu kerumah aja nggak apa-apa", adalah kalimat yang sering terlontar saking sudah bukan orang lain dia untukku dan keluargaku. Yang justru kalau di rumah seringnya ngobrol sama adik-adikku daripada sama aku, dan mendapat cinta yang sama dari ibuku. 

Dia adalah pendengar sekaligus penasihat terbaik. Sifatnya yang toleran dan wawasannya yang luas (asli luas banget!!) bikin aku jadi nyaman cerita banyak hal dan diskusi kita selalu membuatku memiliki perspektif dan sudut pandang yang lebih luas dalam memandang sesuatu.

She's not feminime, but very good with children. She's not romantic in words, but very romantic in action. She's not perfect, but complete me so well. She's amazing.

She's Imeh, one of my bestfriend. 
You know, Meh, a thousand "Thank you!!" is never enough to show my gratitude to have you as a very best bestfriend I ever had. 

Be rock on your 24th, Meh!! I love you!!

Selasa, 01 Desember 2015

See You!

"Aku bakal S2 di Jogja, besok berangkat."
"Setelah nikah aku bakal ikut suami tinggal di Mesir.."
"Aku harus tinggal di Banjar sekarang Teh, bantuin bapak di pabrik."
"Minggu ini pindahan ke Cirebon dan stay di sana"
"Mulai minggu ini aku officially move to Jakarta"

Dan entah akan ada berapa kali lagi pemberitahuan macam itu. Bandung menjadi pertemuan kita, tapi juga menjadi perpisahan di waktu yang lain.

Ada perasaan berat ketika tahu teman-teman dekat kita satu per satu pergi menjalani kehidupannya masing-masing. Sebagai orang Bandung aku jadi merasa ditinggalkan. Haha..

Tapi seberapa jauhpun jarak, dimensi doa akan selalu menjadi tempat bertemu dan terpautnya hati kita. Take care kalian :')

Kamis, 26 November 2015

Sakau Nulis

Postingan terakhir blog ini 5 November 2015. Udah lama juga nggak nulis di blog. Bahkan diaripun dibiarin aja, entah kenapa lagi males banget nulis. 

Tapi ya gimana, dasar emang udah jadi habit, jadi kalau nggak nulis tuh rasanya ada yang kurang. Berkali-kali buka dashboard dan rasanya pengen banget nulis tapi nggak ada ide. Tutup lagi. Buka lagi. Berhari-hari kayak gitu.

Sampai di satu titik udah pengen nulis banget tapi ternyata masih tetep nggak ada ide. Saatnya pake jurus terakhir: TULIS AJA APAPUN YANG ADA DI PIKIRANMU SEKARANG. Yah lumayan, sampai detik ini ternyata jadi juga 3 paragraf. Hahahaha..

Begitulah, terkadang kita selalu menunggu ide/inspirasi/mood/feel atau apalah itu namanya buat bisa nulis. Tapi satu-satunya cara menghasilkan tulisan adalah dengan menulis. Jadi ya tulis aja sih, tulis apapun.

Sama halnya kalau mau melakukan sesuatu kadang kita suka nunggu-nunggu, kapan waktu yang tepat, padahal ya udah sih lakuin aja gak usah banyak mikir. Kita sering sekali menunggu kesempatan untuk menjadi sempurna, tapi kita lupa bahwa langkah atau aksi kitalah yang akan menjadikannya sempurna. *Ngomong ke diri sendiri ya, Na?

Dan, di titik ini tiba-tiba banyak ide bertebaran di otak. Pengen nulis ini itu. Saking banyaknya hal yang ingin ditulis jadinya bingung mau ngomongin yang mana dulu. Mungkin kita bahas lain kali ya. Yang penting tulisan ini akhirnya jadi juga. Ahahahaha.. *walaupun agak geje. Biarin. Namanya juga lagi sakau nulis. Yang baca terima nasib aja :P

Jumat, 06 November 2015

Problematika Anak Kantor

Aku nggak tahu sih yah gimana rasanya dunia kerja (da aku mah apa atuh, sidang skripsi aja baru mau bulan ini,hiks). Eh pernah deng, kerja jadi guru bimbel, guru privat, dan pengajar les bahasa inggris. Tapi berhubung aku suka mengajar, jadi buat aku sih itu bukan bekerja sih. Semacam ngelakuin hal yang disuka gitu dan karena emang seneng ketemu orang-orang dan ngebantu mereka untuk mengerti sesuatu.

Haha, jadinya ketauan deh kalau definisi kerja bagi aku itu bukan profesinya, tapi tentang kegiatan kerja itu sendiri. Di benak aku, yang namanya kerja itu duduk di kantor dari pagi sampe sore, dari senin sampe jumat (bahkan sampe sabtu, bahkan sampe minggu kalau kerjaan numpuk, haha). Capek banget men ngebayanginnya, apalagi kalau nggak ada interaksi sosial. Tapi balik lagi sih, tergantung pekerjaannya itu apa. Kalo si pelaku kerja enjoy sama aktivitas kerjanya sih ya kayaknya enjoy aja ya hidupnya walau dengan ritme begitu.

Sedikit banyak tau dunia kerja dari temen-temen yang udah pada kerja (kerja dengan definisi yang kusebut di atas tadi ya) dan kebanyakan kayaknya hidupnya frustasi gitu kenapa ya? Hahaha..

Dari sekian banyak problematika anak kantor, salah satu masalah yang kesebut adalah tentang rekan kerja. Kemarin pagi aku dapet telepon dari temenku yang kerja jadi konsultan keuangan di Jakarta dan bilang "kangen unaaa.. kenapa sih ga ada yang sedewasa dan seasik dirimu di sini". Hahahaha.. Cuma bisa ketawa karena jujur aja gue rada ngapung dibilang gitu (wkwk), juga karena aku paham banget si temenku ini sifatnya kayak apa-agak tergantung sama lingkungan dan cenderung suka ilfeel gitu kalau liat orang lain yang nyebelin.

Biasanya sih ini balik lagi ke cara pandang dalam melihat seseorang. Kadang kita ngejudge, ini orang ngebosenin. Padahal sebetulnya, nggak ada orang yang bener-bener ngebosenin kalau kita bisa mengenal orang itu. Sebetulnya, nggak ada orang yang bener-bener ngeselin, kalau kita tahu gimana cara berpikir dia. 

Setiap orang emang diciptakan berbeda, dimana perbedaan itu kadang bikin kita nggak cocok di satu atau beberapa hal. Tapi apakah juga nggak ada persamaan antara kita dan orang lain? Menurutku sih, pasti ada. Dan mencari persamaan (minat, latar belakang, kota lahir, masa lalu, dll) adalah usaha pertama yang bisa bikin kita dekat dan kenal sama orang lain yang kemudian merasa cocok.

Karena pada dasarnya setiap orang butuh merasa nyaman berada di lingkungannya. Masalahnya adalah kita hanya tidak mau meruntuhkan ego untuk mau menyapa lebih dulu, untuk mau mendengar lebih banyak, untuk mau mengenal lebih dalam, untuk mau mengerti lebih jauh. Mulailah dari diri sendiri, dan ciptakan kenyamananmu sendiri.

P.S. Maaf kalau sok tau, karena emang sok tau. Hahahaha.. XD :P

Senin, 26 Oktober 2015

It’s Okay to Fail

Ada orang yang lelah. Bukan karena produktif, tapi karena berdiam diri. Diam atau bergerak, dua-duanya sama-sama melelahkan, sama-sama membuang energi. Bedanya, yang satu tidak menghasilkan apa-apa, sedangkan yang satunya lagi menawarkan 2 hal: keberhasilan dan kegagalan. 

Bergerak memang memberikan resiko kegagalan, lantas kenapa? Meski begitu, kegagalan bukan berarti tak memberi apapun, atau membuat pergerakanmu menjadi sia-sia.

Kegagalan memberikan pembelajaran. Pembelajaran tentang jalan mana yang perlu dihindari, cara mana yang tidak berhasil dan tak perlu lagi digunakan, sikap seperti apa yang harus ditunjukkan untuk menghadapi kekecewaan, bagaimana caranya bangkit setelah terjatuh, dan masih banyak lagi.

Kegagalan justru lebih mengajarkan kita banyak hal, dibanding sekali coba langsung berhasil. Keberhasilan tanpa kegagalan mungkin menyenangkan, tapi coba tanyakan kepada mereka yang berhasil, terkadang proses menuju berhasil terasa lebih menyenangkan daripada keberhasilan itu sendiri.

Semakin banyak mencicipi pahitnya kegagalan, akan semakin manis keberhasilan untuk dinikmati. Semakin banyak menelan pahitnya kegagalan, akan semakin sedap keberhasilan itu ketika diceritakan.

Karena itu, teruslah bergerak. Walau gagal, tak apa, karena skenario-Nya terlalu indah untuk dilewatkan.
:)

Jumat, 09 Oktober 2015

Beda Proses

Ada sesuatu yang membuatku takjub hari ini. Salah satu kegiatan rutin harian yang aku lakukan adalah membaca update blog orang-orang yang aku follow. Hari ini, aku menemukan tulisan ini: http://satriamaulana.tumblr.com/post/130727735216/kala#notes (yang bahkan nggak pernah ketemu dan nggak pernah tahu orangnya)

Membaca tulisannya, aku jadi teringat bahwa aku pernah menulis hal serupa di blogku, aku search di laman google dan menemukan tulisanku ini, tulisan 2 tahun yang lalu: http://lutfiahhanifah.blogspot.co.id/2013/11/semoga-panjang-umur.html 

WOW!! Tiba-tiba ngerasa takjub aja gitu kok bisa ada orang berpikiran sama, bertanya-tanya hal yang sama, lalu dengan proses yang berbeda, akhirnya menemukan jawaban yang sama. 

Ini menarik banget buatku. Walau dengan proses yang berbeda, kami menemukan satu kesimpulan yang sama. Bahkan di akhir tulisan sama-sama ditutup dengan doa semoga panjang umur.

Hari ini aku mendapatkan satu pemahaman baru, bahwa untuk mendapatkan suatu jawaban atau pencerahan atas pertanyaannya, seseorang bisa jadi harus melalui proses yang berbeda untuk mendapatkan pemahaman itu, namun pada akhirnya akan bermuara pada satu kesimpulan yang sama. 

Begitulah cara Allah memberi pemahaman, berbeda untuk setiap orang. Ini baru seputar persoalan sederhana tentang doa panjang umur, tentu masih ada pertanyaan yang lebih misteri lagi kan? Sudah menemukan jawaban atas pertanyaan yang lain? :)

Minggu, 30 Agustus 2015

Pintaku :')

Hal yang paling aku takutkan di dunia ini adalah menjadi sombong.
Ketika berhasil mencapai sesuatu, aku takut menjadi tinggi hati lalu meremehkan orang lain yang sedang berproses.
Ketika dinasehati, aku takut hatiku sulit menerima karena merasa lebih baik dan merasa sudah berusaha lebih dari cukup.
Ketika dipanggil untuk berbuat kebaikan, aku takut jika tidak terpanggil mengerjakannya sebab merasa sudah cukup baik.
Ketika diajak menaati aturan-Nya, aku takut menjadi pembangkang karena merasa diri sudah benar.
Ketika diingatkan untuk menjauhi larangan-Nya, aku takut tidak mendengar, karena merasa bahwa Allah tak melihat.
Bahkan setanpun dilaknat Allah karena kesombongannya. Sungguh, aku sangat takut menjadi sombong.
Semoga Allah melindungiku dan kita semua dari sifat sombong. Aamiin..

Dan hal yang paling aku harapkan adalah menjadi ikhlas. 
Aku ingin ikhlas menjadi hamba-Nya yang menyerahkan seluruh kehidupannya tanpa keluh kesah sedikitpun.
Aku ingin ikhlas ketika Allah mengujiku dengan perintah dan larangan-Nya.
Aku ingin ikhlas menggunakan segala pemberian-Nya untuk kugunakan untuk kepentingan-Nya pula.
Aku ingin ikhlas ketika Allah meminta segala yang aku miliki untuk Dia ambil lagi atau untuk dimintai pengorbanannya.
Aku ingin ikhlas menjalani setiap proses yang membuatku berlatih untuk menjadi ikhlas.
Semoga Allah tak pernah berhenti melatih keikhlasanku dan kita semua. Aamiin.. :')

Kamis, 06 Agustus 2015

Menangkan Syawal

Menurutku  ini bulan ujian. Karena peralihan kondisi dari Ramadhan ke Syawal cukup kontras. Aku baru menyadari bahwa ternyata mempertahankan berbuat baik lebih sulit daripada berbuat baik itu sendiri. Mempertahankan semangat lebih sulit dari menumbuhkan semangat itu sendiri. Tak heran jika Allah menyukai kebaikan kecil yang dilakukan secara istiqomah dibandingkan kebaikan besar tapi hanya sekali saja.

Syawal menjadi bulan penuh tantangan, karena kita harus mempertahankan hal-hal baik yang sudah dilakukan selama Ramadhan, plus meningkatkannya. Banyak "hadiah" Allah di bulan Syawal yang betul-betul menguras pikiran, tenaga, juga jiwa yang harus senantiasa hadir. Berasa penggemblengan part 2. Hihi. Nggak apa-apa, amanah dan ujian juga salah satu bentuk kasih sayang Allah kok, yang ingin menjadikan diri kita semakin bernilai di hadapan-Nya. Cintai saja prosesnya, lalu ridho pada ketetapan-Nya. :)

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS. At-Taubah (9) : 20)

Mari menangkan Syawal.

Minggu, 02 Agustus 2015

Terima kasih karena telah menulis, Na.

Sebagai seorang pencatat dan seorang yang gemar menulis, tulisanku tercecer dimana-mana. Banyak banget punya buku catatan-beli,belum habis,udah beli lagi. Kadang nyatet di buku catatan punya orang. Haha.. Pagi ini aku merapikan buku-buku catatanku yang tersebar di pojok-pojok rak. Dan menemukan satu tulisan self-talk di salah satu buku. Tidak ada tanggalnya, tapi sepertinya sekitar Februari 2014 aku menulis itu. Ingin ku tulis disini biar selalu ingat. Memang ya, tulisan di masa lalu bisa jadi berharga di kemudian hari. :)
***
Seorang mu’min, akan benar-benar termotivasi untuk bergerak apabila mengingat Allah. Aku, sudah mengingat Allah sekalipun, kenapa masih malas? Kenapa masih menunda? Pede banget emangnya bakal hidup lama? Mana semangatnya, Na? Masa orang mu’min begini?

Sukses itu ada harganya, surga itu ada harganya. Ini bukan tentang sempurnanya hidup. Bahkan jika keluargaku harmonis sekalipun, jika aku punya uang banyak sekalipun, jika semua orang mendukungku sekalipun, selama masih belum bisa bayar harganya, kesuksesan itu ga akan pernah aku dapatkan.

Selama ini aku ngeyel, ngeluh sama keadaan. Kenapa begini, kenapa begitu, kenapa dia seperti ini, kenapa dia seperti itu, tapi bagi orang-orang yang berani bayar harganya, semua itu tidak akan menjadi alasan.

Kesuksesan, dan syurga apalagi, harganya MAHAL! Dan cuma orang-orang yang mau berkorbanlah yang bisa dapetin itu. Mau mengorbankan waktunya yang sebentar untuk mendapatkan waktu indah yang abadi. Mau mengorbankan pikirannya, hartanya, jiwanya, sampai satu waktu pengorbanan itu telah cukup untuk ditukar dengan apa yang kita inginkan.

Ini tentang diri sendiri. Bukan bagaimana orang lain terhadap kita. Selama kita berani bayar harganya, selama kita yakin sama impian kita, ga ada satupun yang bisa menghentikan kita.

Sekali lagi, ini tentang diri sendiri. Mau sebanyak apapun orang yang ingin membantu, jika kitanya tidak mau dibantu, kita tidak akan pernah sampai. Butuh kerjasama antara yang membantu dan yang dibantu. Bukan berarti karena yang membantu mengeluarkan tenaganya untuk menarik kita lantas kita jadi tidak berusaha. Butuh usaha yang kuat dari kedua belah pihak. Terutama keinginan yang dibantu untuk maju, untuk sampai di puncak bersama-sama.

Berarti selama ini aku yang salah. Ya, aku yang salah karena aku ga mau ikut berusaha. Aku mengandalkan orang lain. Aku bergantung pada orang lain. Aku ingin semua orang mengerti keadaanku. Padahal salahku karena tidak mau melakukan apa-apa. Ya, aku yang ga mau. Aku ga mau, dan aku membuat dalih.

Padahal aku tahu, orang sukses ga pernah punya alasan untuk berhenti. Padahal aku tahu, hampir ga ada kesempurnaan dalam permulaan, langkah kitalah yang membuat apa yang kita lakukan menjadi sempurna. Dan terkadang, ada saatnya dimana keraguan hanya bisa dihilangkan oleh tindakan.

Berhentilah menyalahkan diri sendiri, apalagi menyalahkan orang lain. Kenapa harus meratapi keburukan diri dan orang lain terus menerus? Waktu masih memberikan kesempatan, semesta masih ciptakan banyak peluang. Tak bisakah kau fokus pada hal-hal itu saja? Fokus pada hal-hal yang membuatmu bersyukur. Bahwa kamu masih diberikan waktu untuk hidup dan memperbaiki semuanya. Bahwa kamu masih dikaruniai orang-orang yang peduli padamu. Bahwa kamu masih punya keluarga yang lengkap dan utuh. Bahwa kamu diberi kemampuan dari segi materi. Bahwa kamu berada di lingkungan dan dikelilingi orang-orang yang baik. Bahwa kamu selalu punya Allah untuk kembali.

Kenapa harus merasa kesulitan padahal nikmat yang Allah beri begitu banyak? Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Allah kurang baik apa sih? Mengurusimu, mengatur alam semesta ini untukmu, menjamin kehidupanmu, menjagamu, mengasihimu..

Dia yang mendetakkan jantung ini untukmu, Dia yang membuat darah ini mengalir, Dia yang membuat paru-paru ini membantuku bernafas plus Dia sediakan oksigennya. Dia menjamin rezekimu hingga kamu bisa hidup sampai saat ini. Dia berikan hati yang peka, Dia berikan akal yang cerdas, Dia memberiku hidayah-Nya. Jika tanpa-Nya, bagaimana aku bisa ada untuk kemudian merasakan kasih sayang-Nya yang luar biasa?

Aku tidak pernah meminta untuk diciptakan. Tapi sekali aku diciptakan, aku merasakan kecintaan yang luar biasa dari-Nya. Siapa di dunia ini yang bisa memberi cinta sebesar Dia?

Walaupun aku sering tak tahu diri, sering merasa sombong, tapi Dia tidak pernah berpaling. Dia tetap mengurusiku. Walaupun aku berbalik dari-Nya berkali-kali, nyatanya aku tak pernah sanggup mengabaikan-Nya dalam waktu yang lama. Tapi Dia tidak pernah menolakku ketika aku kembali. Siapa yang bisa memberikan cinta dan pengertian sampai sebesar itu?

Setiap kali kesendirian menemaniku, aku selalu sedih karena merasa tak sanggup menjadi yang terbaik untuk diri-Nya, dan merasa ingin lari saja, meminta supaya Dia membenciku saja, karena aku terus seperti ini. Tapi aku mau lari kemana? Tempat kembaliku lagi-lagi hanya kepada-Nya.

Pada kenyataannya, aku tetap tak bisa hidup tanpa Dia. Pada kenyatannya, aku tetap membutuhkan-Nya lebih dari apapun. Aku tak pernah sanggup meninggalkan-Nya.
Allah-ku, masih mau terima aku lagi?
Masih tersisa maaf untukku?
Masih bolehkah aku memiliki harapan agar aku bisa bertemu dengan-Mu?

Dan, pada akhirnya, aku tetap saja tak tahu diri.

-Aku,
yang masih susah payah mencintai-Mu.

***

Menarik. Tulisan hampir dua tahun yang lalu. Seperti tercermin masalah seperti apa yang dulu aku hadapi. Ada yang kini sudah bermuara pada solusi, ada yang masih dalam proses. Juga tentang mindset. Semua kembali pada mindset. Aku bersyukur ternyata aku masih memiliki mindset yang menyelamatkan hidupku, dan lebih bersyukur lagi, aku masih memelihara mindset itu sampai sekarang. Terima kasih karena telah menulis, Na.

Kamis, 02 Juli 2015

Teruntuk Sahabat Hujan Safir


Allah Sebaik-baik Pengatur. Tidak pernah ada yang kebetulan di dunia ini. Pertemuan kitapun sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya,  bukan karena kebetulan, tapi memang karena sudah kehendak Allah bahwa kita harus bertemu.

Dan siapa sangka, lewat komunitas ini aku bertemu orang-orang hebat. Aku bertemu orang-orang dengan kisah-kisah yang luar biasa, aku bertemu dengan orang-orang yang ilmunya lebih luas dan pengalamannya lebih banyak sehingga kita bisa sama-sama saling mengisi, sama-sama saling memberi inspirasi, tanpa ada niat untuk menggurui.

Aku semakin mendekat pada Allah. Sadar bahwa kemegahan dunia tidak bisa menggantikan ketenangan hati yang ditiupkan oleh Allah ke dalam hati kita. Sadar bahwa kegalauan-kegalauan karena bertemu dengan masalah hidup adalah karena Allah merindukan kita, merindukan doa-doa kita kepada-Nya. Sadar bahwa dengan ujianlah Allah meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya. Sadar bahwa nikmat dari Allah begitu banyak, tanda-tanda kebesaran Allah begitu nampak jelas di langit dan di bumi, maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan beribadah kepada-Nya. Alhamdulillah masih diberi nikmat sadar..

Aku menemukan potensiku. Semua manusia diciptakan hebat, begitupun aku. Tidak boleh lagi merasa kerdil, katakan tidak pada pesimis, dan tidak boleh lagi merasa minder. Karena kita diciptakan oleh-Nya dengan bentuk sebaik-baiknya, dan dengan berbagai potensi sebagai bekal kesuksesan kita di dunia dan dia akhirat.

Aku merapikan mimpi-mimpi yang terserak. Impian yang selama ini terkubur kini muncul lagi ke permukaan, memberikan energi yang lebih untuk beraktivitas setiap harinya, menjadikan kaki lebih mudah untuk melangkah dan lebih kuat untuk bertahan, karena aku memiliki tujuan untuk dicapai dan impian untuk diwujudkan.

Aku mendapat saudara baru, keluarga baru. Perasaan nyaman yang entah kenapa begitu saja terjalin walaupun kita baru bertemu satu sama lain. Mungkin beginilah persahabatan yang dijalin karena Allah, dijadikan-Nya dekat karena terikat oleh keyakinan aqidah yang sama..

Penutupan Sanlat kemarin bukanlah akhir. Tapi justru awal dari perjalanan kita. Tantangan sesungguhnya ada di luar sana. Perbuatan baik itu akan Allah uji, apakah betul kita sungguh-sungguh? Apakah lurus niat kita? Dan lagi, syetan tidak akan pernah tinggal diam ketika kita berjalan ke arah kebaikan, dan musuh Islam tidak akan tinggal diam melihat kebaikan yang terorganisir. Karena itulah kita butuh saling mengingatkan ketika semangat mulai turun, kita butuh saling menguatkan ketika ada saudara kita yang merasa lemah, kita butuh saling meluruskan apabila diantara kita ada yang mulai kehilangan arah.

Ada yang bilang, jika ingin berjalan cepat, pergilah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh, pergilah bersama-sama. Mari rapatkan barisan, karena Allah menyukai hamba-Nya yang berbaris rapi, kuat dan kokoh. Selamat berkarya dan selamat menjadi kontributor dengan memberikan sekecil apapun kontribusi.

Terima kasih dan selamat datang keluarga baru Hujan Safir.. Semoga syurga menjadi tempat berkumpulnya kita di negeri akhirat kelak.. Aamiin..

Kamis, 18 Juni 2015

Ini Untukmu, Lia..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang entah kenapa sudah seperti adik sendiri, 
ada rasa ingin melindungi yang lebih kepada adik satu ini..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang pernah memberi hadiah sederhana buatan tangan sendiri 
padahal waktu itu nggak ada hari spesial apa-apa. 
Sempat-sempatnya kamu mikir bikin sesuatu buat aku dek, makasih ya..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang kadang entah dimana keberadaannya 
tapi tau-tau muncul di kolom komentar satu atau dua postingan..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang entah kenapa walau jauh dalam jarak, 
tapi selalu terasa dekat..

Ini untukmu, Lia..
Bukan hadiah yang besar, tidak mewah, tidak mahal, 
hanya sebentuk cinta dan sayang yang terukir dalam sebuah surat dalam blog..

Ini untukmu, Lia..
Untuk mengirimkan rasa yang mungkin selama ini tak pernah terucapkan, 
bahwa kamu berarti, lebih dari yang kamu kira..

Ini untukmu, Lia..
Untuk mengabadikan doa dalam tulisan, 
semoga Allah menyayangimu selalu,
semoga Allah berkenan mengumpulkan kita lagi di syurga-Nya,
seperti halnya Dia berkuasa mempertemukan kita di dunia 
dalam persaudaraan yang semoga mengundang ridho-Nya.. Aamiin..

Barokallahu fi umriik, adik kesayangan.. :)

Kamis, 30 April 2015

Hi, 23rd..

29 April kemarin aku ulang tahun, rasanya beda sama tahun lalu. Ulang tahun ke-22 di tahun lalu aku sambut dengan ogah-ogahan, tiba-tiba ga pengen nambah umur aja, aneh. Walaupun akhirnya banyak juga hikmahnya yang kemudian aku tulis di postingan ini, tepat setahun yang lalu.

Ulang tahun ke-23 ini agak beda. Agak ga peduli awalnya, karena semacam jadi punya pemikiran, "Ya udah sih, emang kenapa kalo ulang tahun, toh tiap hari juga tambah tua." Jadi ya udah, woles aja, kayak hari biasa aja. Lagian hari itu ada satu momen terkait skripsi yang harus bikin aku stay di kampus dari jam 7 pagi, jadi perhatiannya tersita kesana. 

Tapi tiba-tiba ucapan ulang taun dateng dari mana-mana. Adik-adik tingkat angkatan 2011 yang bareng ngurusin skripsi sama aku (ngerakeun barengannya sama anak 2011. haha) pada ngasih selamat karena tahu hari itu aku ulang tahun, ada yang khusus dateng ke kampus buat ketemu aku terus ngasih kado (terharu lah, asa udah lama ga dapet kado. hahaha), ada yang ngucapin lewat fb, sms, wa, line, ada yang ngirim voice note pula nyanyi happy birthday, bahkan ada yang nulis di blognya yang sukses bikin aku speechless (tapi juga senyum-senyum sendiri) yang akhirnya bikin aku pengen nulis juga di blog. :D

Ngeliat perhatian yang luar biasa dari orang-orang gitu, bikin aku diem, speechless, terharu.. Karena aku merasakan doa-doa yang tulus dari mereka, dan aku jadi tau bahwa kehadiranku ternyata berdampak baik buat mereka, atau minimal berkesan.

I guessed... is this the feeling of being loved?

Soalnya banyak temen-temen yang udah lama ga ngontak jadi muncul lagi, jadi ngobrol lagi.. Ada juga orang yang kukira biasa aja, ternyata peduli.. Kata-kata yang mereka sampaikan, baik tersirat ataupun tersurat, menunjukkan bahwa ternyata ada satu bagian dari kehidupannya yang dia sediakan khusus untukku, entah porsinya besar atau kecil. Jadinya ngerasa terharu aja gitu, karena merasa dicintai. *semoga bukan geer. haha*

Allah juga baik banget sama aku, bersyukur banget banget banget dibersamai oleh orang-orang baik di sekeliling. Setiap hari ulang tahun punya cerita yang berbeda. Terima kasih Allah, untuk yang kesekian kalinya aku merasakan nikmat-Mu yang begitu banyak dan cinta-Mu yang begitu luas. Alhamdulillah.. Makasih semuanya :)

Jumat, 06 Maret 2015

You're Strong!

"Just remember one thing. 
There's a limit of being sick, but fear has no limits. 
Whether it's your heart or your body, you can endure pain. 
However, don't be afraid, no matter what happens."

Dapet quote ini pas lagi nonton film, dan kepikiran terus selama beberapa hari ke belakang. Respon pertama pas denger pemeran utamanya ngomong itu bengong dulu, "Eh? Iya juga ya.." terus dicatet karena quotable. :D

Dipost di blog, buat jadi reminder untuk diri sendiri. Ga ada alasan buat merasa takut, karena semenyeramkan dan semenyakitkan apapun yang akan dihadapi di depan sana, tubuh dan hatimu akan kuat bertahan. Because you are stronger than you think. 

Tentunya tanpa melupakan bahwa hakikatnya yang memampukan dan memberi kekuatan adalah Allah. :)

*Whether it's your heart or your body, you can endure pain. However, don't be afraid, no matter what happens.