Senin, 29 Oktober 2018

Monday Love Letter #14 - Stop Playing Victim


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister? Bagaimana hari Seninmu? Semoga hari ini menjadi awal yang baik untuk hari-harimu sepakan ke depan ya!

Seperti judulnya, surat kali ini adalah tentang berhenti merasa menjadi korban. Akhir-akhir ini saya diresahkan dengan orang-orang yang terus memelihara "mental korban"-nya. Mengapa fenomena playing victim ini menjadi penting untuk dibahas, karena sadar ataupun tidak, hal itu adalah racun bagi pikiran kita dan sangat-sangat mempengaruhi kehidupan kita.

Mungkin kita pernah berpikir, atau mendengar orang-orang di sekitar kita mengatakan hal-hal seperti ini:
"Yaah dia sih bisa sukses karena orangtuanya kaya, sementara keluargaku buat makan aja susah."
"Dia bisa jadi pembicara dan bikin karya gitu karena waktu luangnya banyak, aku mana bisa, kerjaanku di kantor numpuk terus dan bosku galak."
"Keluargamu harmonis itu karena suamimu pengertian banget, suami saya cenderung cuek dan kami juga LDR."
"Pantes aja jualannya laku, relasinya banyak siih. Kalau aku kan pemalu, ga bisa supel kayak dia."
"Jelas aja hidupnya bahagia, lingkungannya nge-support dia banget! Aku? Ortu cerai, lamaran kerja ditolak mulu, temen-temenku juga pada sibuk sendiri-sendiri."
"Aku sebenernya pengen mewujudkan mimpiku itu, tapi liat keadaanku sekarang, semenjak kecelakaan kerjanya bolak-balik RS mulu, gak mungkin lah."
"Aku udah nggak punya harapan hidup lagi semenjak aku kehilangan orangtuaku."
"Hidupku udah hancur banget, masa laluku juga kelam banget, aku gak pantes punya masa depan yang bahagia."
Daaaan mungkin masih banyak lagi pikiran-pikiran semacam itu yang datang dari orang-orang bermental korban. Semoga itu bukan kita.

Pola pikir seperti itu tuh bahaya banget. Alih-alih bergerak maju, orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung akan diam di tempat dan tanpa sadar sibuk meratapi keadaannya. Dia akan mencari pembelaan atas kehidupannya yang terpuruk dengan menempatkan dirinya sebagai korban atas kesalahan yang dibuat oleh orang lain misalnya, menempatkan dirinya sebagai korban atas kejadian buruk yang menimpa dirinya, atau menempatkan dirinya sebagai korban atas kesalahan dirinya di masa lalu yang menjadikannya larut dalam penyesalan. Sekali lagi, semoga itu bukan kita, ya :')

Jika ada orang yang berpikir seperti itu, mungkin tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga, karena manusia punya mekanisme "self-defense" yang digunakan untuk mempertahankan harga dirinya. Sayangnya kebanyakan kita menempatkan dirinya sebagai korban dengan menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan dirinya sendiri dibanding menempatkan diri sebagai sosok yang bertanggungjawab.

Ya, jadilah sosok bertanggungjawab atas dirimu sendiri dan atas kehidupan yang tengah kau jalani. Semua hal yang terjadi di dunia ini pada awalnya adalah netral, kitalah yang sepenuhnya memegang kendali atas pikiran, sikap, dan tindakan kita. Mau sedih karena hal yang terjadi? Bisa. Mau menciptakan bahagia? Juga bisa.
Mau terus-terusan terpuruk karena masa lalu yang (menurut kita) buruk? Bisa. Mau berusaha bangkit dan mengambil hikmah? Juga bisa.
Mau marah karena disakiti orang lain? Bisa. Mau memaafkan dan melepas beban amarah? Juga bisa.
Mau hidup kita disetir oleh orang lain? Bisa. Mau memperjuangkan kebebasan mewujudkan impianmu? Juga bisa.
Kita selalu punya pilihan. Dan kita selalu bisa memilih. Maka pilihlah keputusan yang menguntungkan dirimu, yang membahagiakan dirimu, yang membuat kualitas hidupmu meningkat.

Dan lagi, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup yang dijalani orang lain. Maka rugi sekali jika kita menghabiskan waktu dengan menyimpan dendam terhadap orang lain, menyimpan amarah terhadap keadaan, atau terus-menerus mengasihani diri sendiri. Waktu kita terlalu berharga untuk memikirkan itu. Hidup kita terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hal-hal yang merusak diri kita sendiri.

Jadilah diri yang bertanggungjawab, bukan yang bermental korban. You deserve to be happy, you deserve to be succees, you deserve a better life, if you feel like you deserve to.

Is it good or bad, happy or sad, you choose.

Senin, 22 Oktober 2018

Monday Love Letter #13 - Be The Best Version of Yourself


Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister shalihah? Terima kasih banyak yaa sudah bersama dengan kami sampai saat ini dan rela emailnya diberisikin setiap Senin. Hehehe.. 

Biasanya setiap hari Senin saya banyak di rumah dan menghabiskan beberapa jam khusus untuk menulis MLL. Tapi Monday Love Letter kali ini cukup spesial bagi saya karena tulisan ini saya tulis di dalam kereta sambil melakukan perjalanan pulang dari Solo ke Bandung. Finally I'm hoooome :))

Sedikit bercerita, saya bersama teman-teman komunitas pergi ke Solo selama 5 hari untuk mempersiapkan agenda seminar woman empowerment dan merencanakan untuk bikin "gara-gara" (maksudnya bikin kegiatan atau event yang positif tapi berdampak besar gitu, aamiin ) bersama teman-teman lainnya untuk mengembangkan komunitas di Solo. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Solo dan ternyata Solo tuh nyaman sekali yaa. Mungkin karena orang-orang yang saya temui juga semuanya baik-baik banget. Adakah yang orang Solo disini? :)

Selama jauh dari rumah dan beraktivitas beberapa hari ke belakang, notes saya cukup padat dengan beberapa ide tulisan dan hikmah-hikmah yang saya dapatkan. Salah satunya adalah tentang perlunya menyadari potensi diri untuk bisa menginspirasi. Di Solo, saya bertemu dengan banyak perempuan hebat! Kebanyakan mereka masih mahasiswa yang karyanya luar biasa, kepeduliannya tinggi dan sangat pembelajar. 

Saya jadi teringat pada hadits Rasul yang menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Disana, saya seperti sedang melihat hadits itu dalam bentuk "nyata" dengan bertemu orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk orang lain. Dan yang lebih keren lagi, alasan dari mereka melakukan semua itu bukanlah demi uang atau popularitas, tapi memang tulus berbuat untuk orang lain dan diniatkan untuk Allah. Haaahh saya jadi banyak merenung dan berkontemplasi memikirkan diri sendiri, sudah sebesar apa manfaat saya untuk orang lain. Karena sebetulnya saya mudah sekali iri dengan mereka yang aktif memberikan manfaat dan berkontribusi untuk sesama. Tentu iri yang positif, yang membuat saya jadi termotivasi untuk melakukan sesuatu. Apalagi ketika saya tahu bahwa ternyata Allah-lah yang menjadi 'strong why' mereka. Beuhh, cakep..

Dan ada satu hal penting yang saya dapatkan tentang menjadi bermanfaat, yaitu kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk bisa menginspirasiBe the best version of yourself. Jadilah diri sendiri. Fokuslah pada kekuatan yang kita miliki lalu jadilah versi terbaik dari diri kita sendiri. 

Saya jadi mengerti mengapa Allah menciptakan setiap manusia itu berbeda dan unik. Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya dan tidak ada manusia yang 100% sama dengan manusia yang lain. Artinya, kita memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri yang tidak orang lain miliki. Ini seharusnya menjadi kabar gembira! Kita jadi tidak perlu iri dengan apa yang dimiliki orang lain karena diri kita juga memiliki sesuatu yang sama berharganya dengan apa yang orang lain miliki. Ya kan?

Maka penting sekali mengenal dan memahami diri sendiri. Penting sekali untuk mencari, mengembangkan, dan menggunakan kekuatan yang ada pada diri kita. Karena itulah sebaik-baik modal kita untuk menjadi bermanfaat. Kita memang tidak mungkin menjadi sempurna dan hebat dalam segala hal, tapi lagi-lagi Allah menyimpan rencana yang indah dengan segala perbedaan manusia, yaitu agar kita bisa saling mengisi satu sama lain dan saling berkolaborasi untuk membuat kebermanfaatan yang lebih besar dan meluas. 

Jadi, untukmu yang terkadang masih suka merasa inferior atau rendah diri, masih suka merasa (kalau kata orang sunda) 'da aku mah apa atuh', kikis dan buang jauh-jauh perasaan itu dan mulailah temukan apa yang menjadi potensi terbaikmu. Jadilah manusia bermanfaat yang bahagia, tanpa membanding-bandingkan dengan karya atau pencapaian orang lain. 

Jika masih bingung dengan kekuatan kita, tidak apa-apa, teruslah mencari sambil meminta petunjuk-Nya. Karena yang paling tahu tentang diri kita, tentu hanya Dia yang menciptakan kita. Semangat fastabiqul khairat. Semoga Allah selalu membimbing setiap langkah kita. Aamiin..

Rabu, 17 Oktober 2018

Monday Love Letter #12 - Menanamkan Kesadaran sebagai Hamba


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap aktivitas kita ya sisters :)

Beberapa hari yang lalu, seseorang bertanya kepada saya, "Teh, gimana sih mengantisipasi iman kita yang kadang naik turun sehingga kita jadi sulit untuk istiqomah?" Hmm, sebuah pertanyaan yang juga masih menjadi PR bagi saya.

Jawabannya sebenarnya sederhana, yaitu dengan memiliki kesadaran yang penuh sebagai hamba Allah, 24 jam nonstop. Jika setiap detiknya kita sadar bahwa kita adalah hamba Allah, tentu tidak akan ada celah untuk turunnya iman, bukan? Karena seseorang yang memiliki kesadaran ini akan total mengabdi kepada Allah, tanpa jeda. Waah rasanya sulit ya? Apalagi dunia ini penuh dengan distraksi yang terkadang (bahkan sering) membuat kita lupa kepada Allah.

Walau sulit, namun kesadaran ini adalah sesuatu yang bisa dilatih. Manusia dikendalikan oleh pikiran sadarnya sebanyak 20% sementara 80% sisanya dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. Jadi kebanyakan tindakan kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. Nah, tugas kita adalah mencari cara agar kesadaran sebagai hamba Allah ini masuk kedalam pikiran bawah sadar sehingga menjadikan aktivitas kita senantiasa Allah-minded dan Allah-oriented. Bagaimana caranya? Dibiasakan.

Waktu kecil dulu, banyak dari kita mungkin pernah belajar mengendarai sepeda. Ketika baru mulai belajar rasanya susah sekali, harus jatuh dulu, harus terluka dulu. Tapi setelah berlatih setiap hari, aktivitas mengendarai sepeda menjadi aktivitas biasa yang bisa kita lakukan tanpa berpikir. Atau ketika kita berhasil membiasakan berolahraga setiap hari. Di minggu-minggu pertama mungkin terasa sulit dan melelahkan, tapi semakin kita lakukan, kita menjadi semakin terbiasa dan olahraga menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bahkan kebiasaan yang dibangun dengan konsisten akan membuat kita merasa butuh dan sulit dihentikan.

Maka untuk menjadi hamba yang senantiasa sadar akan status dirinya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, "hal apa yang kira-kira dapat membuat diri kita terus ingat kepada Allah? Kebiasaan-kebiasaan apa yang kira-kira perlu dibangun agar diri kita senantiasa ingat bahwa kita adalah seorang hamba Allah?" Temukan dan lakukan secara rutin hingga menjadi kebiasaan, hingga 'title' hamba Allah menjadi sesuatu yang melekat pada diri kita. Hasilnya? Kita tidak lagi lupa atau merasa terpaksa dalam menjalani segala perintah-Nya.

Untuk melakukannya tentu saja butuh kesabaran dan niat yang kuat, dan mungkin banyak proses jatuh bangun yang kita lewati hingga bisa mencapai titik itu. Tapi bukankah perjuangan kita menuju Allah akan selalu worth it? Karena dengan itulah kita mendapatkan ketentraman hati dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Allah telah memudahkan proses penanaman kesadaran ini salah satunya dengan ditetapkannya 5 waktu shalat. Dengan syariat shalat, setidaknya selama 5 x 10 menit setiap harinya kita mengingat Allah. Maka gunakanlah fasilitas dari Allah ini dengan sepenuhnya "hadir" di setiap shalat kita. Lalu tugas kita selanjutnya adalah menjaga kesadaran itu agar senantiasa "hadir" dalam aktivitas lainnya, tidak hanya ketika shalat.

Jika shalat masih dirasa kurang, kita bisa melatih diri kita dengan hal yang lain agar kesadaran kita tetap ON dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Contohnya dengan membiasakan dzikir, meruntinkan tilawah Qur'an, membaca buku-buku islami, menghadiri kajian, atau sesederhana kita meluangkan waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan tentang Allah dan ciptaan-Nya.

Selamat membangun kebiasaan agar senantiasa sadar terhadap status dan kewajiban diri kita sebagai hamba Allah. Semoga kita bisa sampai pada pribadi ya muhsin, yaitu mereka yang selalu merasakan kehadiran Allah dan merasa dilihat oleh-Nya sehingga senantiasa menjaga dan mengoptimalkan ibadah kepada-Nya. Aamiin.

Senin, 08 Oktober 2018

Monday Love Letter #11 - Bertumbuhlah dan Ciptakan Harmoni


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, sepekan telah berlalu dan kini saatnya kita mengupayakan agar sepekan ke depan bisa lebih baik dari kemarin. Semoga Allah menguatkan niat dan langkah kita ya, sister! Aamiin.

Di surat kali ini, saya ingin mengawalinya dengan sebuah cerita. Pada bulan Juni lalu, saya dan keluarga diundang ke sebuah perkemahan di daerah lembang untuk menghabiskan weekend disana. Lokasinya cukup luas dan terdapat berbagai macam komplek perkemahan dengan konsep yang berbeda-beda. Pada komplek perkemahan yang kami tempati terdapat belasan rumah sederhana dari kayu yang dibangun berkeliling membentuk lingkaran. Ditengahnya ada beberapa spot untuk tempat api unggun yang disekelilingnya terdapat kursi-kursi yang dibuat dari batang pohon. Sisanya dibiarkan apa adanya, tanah berumput dengan banyaknya pohon pinus yang tinggi-tinggi namun cukup berjarak. Suasananya adem sekali dan terasa teduh pada siang hari.

Sore harinya, sambil menikmati hidangan coffee break saya duduk di salah satu kursi kayu dan merenung cukup lama. Mata saya tidak berhenti memperhatikan pohon-pohon pinus yang berdiri kokoh di sekitar saya. Jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya cukup jauh, sekitar 4-5 meter, bahkan ada yang lebih jauh dari itu. Tapi ketika saya melihat ke langit, cabang dan daun-daun mereka saling bersinggungan di atas sana, membentuk harmoni dengan pohon lain sehingga terdengerlah gesekan-gesekan daun dan ranting ketika angin berhembus dan menjadi teduhlah perkemahan itu dari cahaya matahari.

Saya jadi sadar bahwa perasaan nyaman selama saya tinggal disana salah satunya disebabkan oleh pohon-pohon itu  yang memberi naungan bagi rumah-rumah kemah yang ada disana. Tanahnya pun terasa sangat luas karena cabang-cabang dari pohon-pohon itu sudah tumbuh sangat tinggi sehingga tidak ada daun atau semak yang menghalangi pandangan.

Lalu dari perenungan mengamati pohon-pohon itu, saya jadi terpikir bahwa diri kita bisa saja umpama sebuah pohon. Semakin kita bertumbuh, semakin bermanfaatlah kita. Manusia itu tidak cukup hanya berkembang, tapi juga perlu bertumbuh. Tidak cukup menjalani hidup sekedar mengikuti alur dan menjalani kehidupan dengan berpindah dari fase ke fase, tapi juga perlu upgrade ilmu, upgrade skill, menjalin relasi dan membangun koneksi agar ranah kebermanfaatan kita bisa semakin meluas, tidak hanya untuk diri kita atau keluarga kita sendiri saja.

Pohon yang tumbuh sendirian, hanya akan menaungi beberapa orang saja dibawahnya. Tapi jika pohon-pohon tersebut tumbuh berbarengan walaupun di tempat yang berbeda dan berjarak, nanti diatas sana ranting-ranting mereka akan saling bertemu sehingga bukan hanya beberapa orang dewasa yang bisa berteduh di bawahnya, pohon-pohon itu bahkan bisa menaungi satu wilayah. Belum lagi jika pohon-pohon itu menghasilkan buah yang bisa dimakan, semakin sejahteralah wilayah itu karenanya.

Bumi ini perlu dijaga. Dan dalam keadaan dunia yang semakin carut-marut ini, mungkin solusinya sederhana saja. Yaitu dengan bertumbuhnya orang-orang baik yang saling berkolaborasi dalam kebaikan. Orang baik di dunia ini sebetulnya ada banyak sekali, tapi terkadang mereka hanya mencukupkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri tanpa mengembangkan sumber daya yang dimilikinya dan membuat suatu karya yang dampaknya meluas.

Maka dengan segala peran yang kita miliki di masyarakat, baik itu sebagai mahasiswa, ibu rumah tangga, praktisi pendidikan, karyawan di sebuah perusahaan, dan sebagainya, jalanilah peran itu dengan sebaik-baiknya dan jadilah yang terbaik. Nanti ketika tiba di satu titik kamu merasa perlu mengembangkan "sayap", lakukanlah. Bertumbuhlah sambil melakukan kolaborasi-kolaborasi yang membuat kebermanfaatanmu semakin luas dan jadilah bagian dari orang-orang yang mengadakan perbaikan. Tidak apa-apa walau sedikit dan bertahap, insya Allah lama-kelamaan semakin banyak dan semakin meluas.

"Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah…" (HR. Muslim)

Jangan merasa sendiri, karena yang sedang berjuang untuk bertumbuh, bukan cuma kamu. Kita sama-sama, ya.

Senin, 01 Oktober 2018

Monday Love Letter #10 - Don't Stop Making Du'a


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Sebelum mulai menulis Monday Love Letter hari ini, saya ingin memulainya dengan doa-doa sederhana untukmu. Bagimu yang sedang dalam keadaan sakit, semoga Allah sehatkan dan dijadikan-Nya sebagai penggugur dosa-dosa. Bagimu yang sedang menghadapi kesulitan, musibah, atau ujian, semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa bersabar dan segera Allah tunjukkan jalan keluarnya. Bagimu yang hari ini sedang bahagia, semoga Allah memberkahi segala bentuk nikmat yang kau terima dan menjadikanmu hamba yang penuh syukur. Semoga setiap ketetapan Allah yang terjadi dalam hidup kita, bisa senantiasa kita sikapi dengan sikap terbaik yang Allah sukai. Aamiin..

Sejak saya tahu bahwa doa bisa menjadi obat bagi hati yang gelisah, saya selalu mempraktekkannya dalam keseharian saya. Sejak saya tahu bahwa mendoakan orang lain bisa menenangkan hati orang yang didoakan, bahkan bisa juga menenangkan hati saya sendiri, saya selalu berusaha agar setiap orang yang pernah hadir dalam hidup saya, saya tidak melewatkan doa untuknya.

Bagi saya, berdoa adalah aktivitas yang luar biasa jika kita renungi. Doa adalah salah satu bentuk kesadaran kita sebagai hamba yang lemah, sebagai kebutuhan karena kita perlu tempat bergantung. Jika sedang dalam keadaan susah, dalam keadaan payah, dalam keadaan dihimpit kesulitan, naluriahnya kita pasti berdoa. Doa adalah sebentuk pinta dari hati yang merasa takut sekaligus penuh harap agar Allah menolong dan memberi petunjuk kepada kita.

Doa adalah jalan agar kita bisa selalu terkoneksi dengan Sang Pencipta, agar setiap aktivitas selalu dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Bagaimana tidak, Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk selalu berdoa disetiap aktivitas. Dari mulai bangun tidur, bepergian keluar rumah, pulang ke rumah, masuk-keluar kamar mandi, berwudhu, bermuamalah, semua aktivitas dari mulai bangun hingga tidur lagi ada doanya --seminimal-minimalnya dengan mengucapkan basmallah. Kenapa sih harus repot-repot berdoa? Tidak lain agar setiap aktivitas selalu dimulai dan diakhiri dengan nama Allah serta niat beribadah kepada-Nya. Jika tanpa doa, mungkin segundang aktivitas kita layaknya buih di lautan, tidak ada artinya. Wah, bahaya sekali jika kematian datang menjemput dalam keadaan kita sedang tidak terkoneksi dengan Allah. Luar biasa ya contoh yang diajarkan Rasulullah, sholawat dulu yuk :)

Berdoa adalah perintah Allah, bagian dari ibadah yang disukai-Nya. Terlepas dari kapan dan bagaimana Allah mengabulkan doa hamba-Nya, aktivitas berdoa itu sendiri menjadi aktivitas yang disukai Allah.

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS.7 : 55)

"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."" (QS. 40 : 60)

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Quran yang isinya adalah doa. Tidak sedikit pula doa-doa para Nabi yang Allah abadikan dalam Al-Quran. Jika Allah saja mengajarkan kita untuk berdoa dalam setiap keadaan, alasan apa lagi yang membuat kita tidak berdoa kepada-Nya? Jika para Nabi dan Rasul saja semuanya berdoa kepada Allah, siapalah kita ini yang bisa-bisanya sombong dan merasa bisa tanpa Allah?

Mari buat koneksi dengan Allah melalui doa-doa kita. Mari merayu cinta Allah dengan doa-doa yang kita panjatkan dengan penuh harap dan takut kepada-Nya. Mari saling mendoakan agar hati kita terlatih untuk peka dan saling merasa. Kemana lagi kita meminta, kemana lagi kita berharap, kemana lagi kita mencari ketenangan, jika bukan kepada Allah.

Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita agar senantiasa mau merendahkan diri di hadapan-Nya.

Bagaimana denganmu, apa makna doa bagimu?

Senin, 24 September 2018

Monday Love Letter Special Edition - MLL's Untold Story

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Walaupun sudah sore, semoga tetap semangat dan bahagia ya! Seperti judulnya, Monday Love Letter kali ini adalah MLL edisi spesial yang isinya bercerita tentang behind the scene perjalanan MLL dan sekelumit perasaan yang saya alami selama 10 minggu kita bersama (ceilah).
Diawal masa lauching MLL, saya pernah mengumumkan bahwa MLL sebetulnya bukanlah main project dari project yang sedang kami kerjakan sekarang, MLL hanyalah project pendukung. Tapi partner saya suatu hari bertanya, "Teh, gimana kalau kita bikin Monday Love Letter?" sambil menjelaskan beberapa alasan dan tujuan kenapa harus bikin MLL. Waktu itu saya berpikir, "Apa?! Harus RUTIN bikin surat setiap Senin?" Euhh sebenarnya segala sesuatu yang menuntut keistiqomahan itu berat, apalagi rutinitas ini sepertinya tidak akan berakhir sampai batas waktu yang belum ditentukan. Haha. Tapi mengingat tujuan MLL ini penting untuk saya pribadi juga bagi main project yang sedang kami jalani, akhirnya saya menyanggupi.
Tanggal 23 Juli 2018 kami memposting MLL pertama di blog kami masing-masing, belum menggunakan email seperti sekarang. Lagipula saya pun tidak pernah terpikir untuk menggunakan konsep berkirim email semacam ini. Tapi partner saya lalu bertanya lagi, "Teh, gimana kalau kita bikin mailing list?" Haha baiklaah. Akhinya dibuatlah MLL berbasis email yang dibuat agar lebih tepat sasaran, mengingat target Sister of Deen Projects ini memang untuk para perempuan. Walaupun dalam prosesnya kami berdua harus pusing-pusing mencari sendiri cara tentang bagaimana membuat mailing list dan sebagainya, tapi seru! Setiap menemukan cara baru semisal cara meng-input kontak, membuat link arsip dll, kami selalu menyebutnya Penemuan! Hehe. Terima kasih teknologi! :D
Lalu bagaimana proses pembuatan tulisan MLL itu sendiri? Bagi saya pribadi, proses menulis MLL itu gampang-gampang susah. Tapi sisi positifnya adalah saya jadi lebih dituntut untuk bisa peka dalam menangkap ide-ide, entah itu dari yang saya lihat, dengar, atau rasakan. Pertama kali membuat tulisan MLL, prosesnya alhamdulillah, mudah. Nggak heran lah ya, karena saya selalu percaya bahwa langkah pertama itu akan selalu mudah. Diulang, se la lu mu dah. Diawal pengumuman MLL melalui Instagram saja, saya tiba-tiba mendapat DM dari seorang teman yang menawarkan diri ingin membuatkan banner untuk MLL. What a surprise! Kemudahan seperti ini selalu terjadi dalam hidup saya, apalagi untuk project-project kebaikan, entah kenapa ada saja kemudahannya jika mau memulai sesuatu. Mungkin karena semangatnya masih menggebu dan euforia strong why-nya masih sangat kuat sehingga prosesnya terasa lebih mudah. Namun apakah selanjutnya akan tetap mudah? Oh, tentu saja tidak.
Saya ingat sekali ketika saya menulis MLL kedua malaaaasnya minta ampun! Tapi hati kecil saya berteriak, "Nggak boleh malas, Na! Kamu kan udah declare bakal nulis MLL, itu subcribers-nya pada nungguin!" Walaupun yaa belum tentu juga sih ditungguin hahaha.. Akhirnya saya memaksakan diri saya untuk duduk di depan laptop dan saya malah menulis tentang produktivitas. Ceileeeh gaya bangeeettt nulis tentang produktivitas padahal sedetik sebelumnya aja abis males-malesannnn, saya meledek diri saya sendiri. Namun pesan-pesan yang saya tuliskan di MLL pada akhirnya memang kembali menjadi reminder untuk diri saya sendiri. Di MLL lainnya pun begitu, surat-surat itu dibuat sebetulnya untuk diri saya sendiri. Yang jika suatu hari saya "ngadat" lagi, pikiran saya akan ribut mengingatkan, "Heh, kok gitu?! Malu sama tulisan sendiri!"
Selain agar menjadi reminder bagi diri saya sendiri, sebetulnya ada lagi hal yang menjadi motivasi saya untuk tetap semangat menulis. Yaitu beragam bentuk apresiasi, doa dan terima kasih dari email balasan yang dikirim oleh para pembacanya, which is suuuper heartwarming. Saya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya bisa seberharga itu untuk orang lain. Siapa coba yang nggak terharu kalau dikasih apresiasi yang jujur dan doa yang tulus dari orang yang bahkan nggak kita kenal? Those words really touched my heart. Thank you, sisters :")
Dari MLL juga saya belajar, bahwa saya betul-betul tidak ada apa-apanya tanpa pertolongan Allah. Pernah suatu hari saya sedang sibuk-sibuknya dan mencoba menulis di jam-jam injury time. Belum tahu mau menulis apa, pokoknya gerakin jari aja deh di keyboard laptop. Terserah tulisannya mau dibawa kemana. Eh ternyata selesai juga di detik-detik terakhir, jari-jari saya ketika itu menulis tentang tema yang selalu saya suka; syukur. Subhanallah, kalau bukan karena pertolongan Allah kayaknya nggak akan mungkin selesainya tepat waktu gitu. :')
Segala puji hanya bagi Allah. Saya sama sekali tak pantas untuk berbangga diri atas setiap pujian yang datang, karena hakikatnya setiap pujian adalah untuk Allah. Allah yang membantu saya, Allah yang menolong saya, Allah yang mengizinkan lahirnya inspirasi dari apa yang saya tulis. Lagi-lagi ini menjadi ajang latihan bersyukur saya kepada Allah. Lewat MLL, saya belajar bersyukur lebih banyak. Semoga langkah syukur saya juga ikut melesat seiring dengan rasa syukur yang terus bertambah.
Terima kasih kepada semua subcribers dan pembaca setia Monday Love Letter, semoga Allah melingkupimu dengan kebaikan yang banyak dan kehidupan yang berkah dan diridhoi-Nya. Jika kamu juga sedang memperjuangkan kebaikan walau dalam bidang yang berbeda, semangat terus ya! Semoga Allah menguatkan langkah dan niatmu serta mencatat setiap peluhmu sebagai amal sholeh dan bernilai ibadah dihadapan-Nya. Aamiin.. Barakallahu fiikum.. :)

______
Mau subscribe Monday Love Letter dan mendapat dua tulisan inspiratif setiap hari Senin? Klik http://tinyurl.com/mondayloveletter lalu klik button "join our mailing list", isi form, done! Untuk perempuan saja ya :))

Senin, 17 September 2018

Monday Love Letter #9 - Solusi Itu Dekat


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, sister? Semoga selalu dalam keadaan baik dan semoga Allah memberkahi segala aktivitasmu apapun itu. Pekan ini seruu sekali bagi saya karena sepekan ini saya sedang membenahi beberapa urusan dan project yang sedang dijalankan, termasuk Sister of Deen Project ini pastinya. Hehe. Doakan ya semoga lancar dan tidak ada kendala berarti :)

Seiring saya membereskan satu per satu urusan, disaat yang sama saya merasa bahwa Allah sedang mendidik saya melalui ini semua. Tidak ada yang lebih melegakan ketika saya masih merasakan kasih sayang Allah lewat pembelajaran yang diberikan-Nya melalui kehidupan ini. Alhamdulillah, Allah Yaa Rahman Yaa Rahiim.. Semoga hati ini selalu diberi kepekaan agar bisa menangkap hikmah dari-Mu.

Salah satu pembelajaran dari Allah kepada saya sepekan kemarin adalah tentang hambatan. Bahwa Allah memberi hambatan bisa jadi untuk menguji kesungguhan kita. Pernah nggak sih ketika kita sedang memperjuangkan sesuatu lalu ketika melangkah kok adaaa aja hambatannya. Kok rasanya susaah sekali. Masalahnya bisa beragam, dari mulai masalah teknis hingga masalah motivasi. Kondisi seperti ini tentunya akan sangat menguji kita apakah akan memutuskan untuk terus maju, atau berhenti saja. Untukmu yang sedang mengalami kondisi seperti itu, semoga Allah memberi kekuatan kepadamu untuk bertahan ya! Saya percaya setiap niat baik pasti ada jalannya.

Saya jadi teringat pada kisah Siti Hajar yang mencari-cari air karena Ismail kecil terus menangis karena lapar. Siti Hajar sampai harus berlari-lari antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Lalu ketika ia sudah berada di titik terlelahnya, ternyata air malah mengalir dari bawah kaki Ismail. Adapula kisah Nabi Musa yang terjebak didepan laut merah ketika dikejar-kejar oleh pasukan Fir'aun, ternyata jalan keluar ada pada tongkat dalam genggamannya yang kemudian dapat membelah lautan atas izin Allah.

Dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah bahwa solusi itu bisa jadi amat sangat dekat. Bahkan mungkin tidak sampai selangkah dari tempat kita berdiri. Tapi mengapa Allah menjadikan jalannya begitu sulit? Kita dibuat harus berbelok dulu, harus mengambil jalan memutar, bahkan mungkin harus menemui jalan buntu dulu sebelum menemukan jalan keluar. Tidak lain karena Allah ingin menguji kita! Seberapa besar kesungguhan kita dan seberapa sabar kita untuk mewujudkan niat baik kita. Dan yang paling penting, seberapa kuat kita bergantung kepada Allah.

Jika mengingat-ingat perjalanan hidup kita ke belakang, mungkin ujian kesungguhan ini juga pernah datang kepada kita. Saya pernah tertatih-tatih mengerjakan skripsi ketika masih kuliah dulu. Rasanya sulit sekali dan banyak tekanan. Tapi ketika saya memperbaiki dan menguatkan niat, ternyata kemudahan datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan prosesnya selesai lebih cepat dari yang dibayangkan. Adakah yang sedang mengerjakan skripsi atau tesis? Semangat ya, semoga Allah memberi kemudahan dalam prosesnya. :)

Ceritamu mungkin berbeda, ada yang mungkin kesana kemari mencari jodoh tapi ketika memasrahkan urusan kepada Allah, ternyata Allah mendatangkan jodoh yang tidak lain adalah tetangganya sendiri. Atau mungkin ada yang pernah mengalami stress berkepanjangan, mencari teman bercerita kesana kemari, tapi ternyata ketenangan muncul dari keningnya yang ditempelkan keatas sajadah untuk bersujud di sepertiga malam. Mungkin ada yang pernah mengalami kesulitan ketika persalinannya, kondisi janin yang mengkhawatirkan dan kondisi ibu yang sudah lelah membuat seakan tak ada harapan, tapi kemudahan tiba-tiba saja hadir setelah mencium tangan ibu dan meminta maaf. Ada yang mungkin sedang dalam keadaan kalut karena ditolak banyak kesempatan kerja, tapi jalan keluar muncul ketika dia tidak sengaja membantu orang asing yang kesulitan di jalan dan ternyata orang itu sedang mencari karyawan sehingga selesailah masalah pekerjaan yang sedang dihadapinya.

Skenario Allah memang misteri. Tugas kita bukanlah memikirkan ranah hasil, tapi ranah ikhtiar. Upaya mana yang kira-kira belum optimal. Cara mana yang kira-kira perlu diperbaiki. Seserius apa kita meningkatkan kepantasan diri dan seberapa besar kesungguhan kita dalam mewujudkannya, mungkin itu yang ingin Allah lihat dari kita sebelum Dia memberikan jalan keluarnya.

Solusi itu dekat, dear.. Jika solusi itu terasa jauh, mungkin yang jauh adalah kepantasan kita. Jalan keluar itu bisa jadi tidak sampai selangkah dari tempat kita berdiri. Namun jika jalannya terasa berkelok-kelok, mungkin yang membuatnya berkelok adalah karena tidak lurusnya niat kita.

Apapun medan juangmu, jangan berhenti sebelum memberikan ikhtiar terbaik.

Senin, 10 September 2018

Monday Love Letter #8 - Be With Allah and Allah Will Protect You


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sister! Alhamdulillah, jika kamu menunggu-nunggu hadirnya Monday Love Letter di hari Seninmu, saya juga selalu menunggu-nunggu hari Senin agar bisa mengeluarkan isi pikiran menjadi tulisan yang penuh hikmah dan menjadi reminder diri. Jika ternyata tulisan itu kemudian menginpirasimu, all thanks to Allah! Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali atas izin-Nya.

Di Love Letter kali ini, mungkin topik yang dibahas akan sedikit serius. Harap maklum, karena seminggu kemarin saya banyak berpikir serius tentang fenomena yang akhir-akhir ini saya lihat. Ada rasa miris, sedih, takut, sekaligus greget ingin berusaha mengubah. Apa tuh? Penasaran, simak ya..

Mungkin kamu pernah mendengar hadits ini. Rasullah SAW bersabda, "Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (HR. Tirmidzi)

Sadarkah kita? Kitalah yang sekarang sedang hidup di zaman itu. Kini makin nyata tanda-tanda akhir zaman dengan maraknya kemaksiatan, tindak kejahatan, dan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga rasanya suliiiit sekali menjaga iman ini. Kemaksiatan kini mulai dianggap wajar. Pemikiran dan gaya hidup barat kini menjadi hal yang biasa. Islam menjadi semakin asing dan orang-orang yang berpegang teguh memegang ajaran Islam semakin terasing.

Akhir-akhir ini saya mengamati betapa dunia ini begitu gemerlap dengan segala perhiasannya. Kebanyakan orang berlomba-lomba mengumpulkan "perhiasan" itu; kekayaan, kekuasaan, gaya hidup mewah, popularitas, pujian dan tepuk tangan. Perhiasan yang sebetulnya hanya untuk memuaskan hawa nafsu, ego, dan prestise belaka di hadapan orang lain. Banyak orang hidup untuk mendapat pengakuan dan memenuhi ekspektasi orang lain, bukan untuk memenuhi harapan Penciptanya. Semoga itu bukan kita.

Saya sedih sebetulnya melihat fenomena itu. Banyak orang yang lelah mengejar mimpinya, banyak orang yang sibuk dengan pekerjaannya, banyak orang yang (katanya) berjuang tapi kebanyakan mereka malah berujung stress, tertekan, depresi, bahkan ada yang berujung bunuh diri. Padahal jika ditanya untuk apa mereka melakukan itu semua, semuanya pasti akan menjawab, untuk kehidupan yang bahagia. Tapi mengapa yang terjadi malah kebalikannya?

Inilah zaman kita. Zaman dimana memegang kebenaran seperti memegang bara api, sulit sekali. Belum lagi sindiran, cemoohan, isu yang bertebaran dan komentar dari sana-sini, yang terkadang membuat ragu dan goyah atas kebenaran yang diyakini. Kita seperti sedang berada dalam badai besar dengan angin yang sangat kencang, tanpa tempat berlindung tentulah kita tidak akan selamat. Berlindung dari badai didalam bangunan yang kokoh, itulah yang kita perlukan.

Bangun dan sadarlah! Carilah perlindungan terbaik untuk diri kita karena jika kita tidak bergantung dan berlindung pada Dia yang Maha Melindungi, iman kita akan tergerus, ideologi kita terbawa arus, dan diri kita akan terjerumus. Naudzubillah min dzalik.

Maka, kunci untuk setiap manusia akhir zaman adalah kembali kepada Allah dan bergantung hanya kepada-Nya yang memberikan kekuatan dan keteguhan hati. Hanya Allah tempat berlindung yang paling aman. Bahkan iblis saja tidak mampu menggoda mereka yang teguh imannya.

Namun untuk mendapat perlindungan Allah tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus "merayu" Allah agar Allah mau menolong kita. Apalagi yang kita minta adalah perlindungan untuk sesuatu hal yang besar; fitnah akhir zaman dan keselamatan dunia akhirat. Memangnya Allah akan memberikannya secara cuma-cuma tanpa menyeleksi kepantasan hamba-Nya?

Pantaskah kita meminta perlindungan dari Allah tanpa membangun hubungan yang dekat dengan Allah? Sholat wajib dinanti-nanti, baca quran sesempatnya, hadir ke kajian malas, berinfak se-sisa-nya, berdoa sama Allah kalau ada maunya saja. Bahkan kita masih menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Astagfirullah. Bagaimana Allah akan menolong?

Yuk, mulai serius mendekat kepada Allah. Mulai perbaiki hubungan kita dengan Allah. Jika kondisi "gelap" di sekitar kita hanya bisa dilawan dengan "cahaya", maka dekat-dekatlah dengan sumber cahaya. Dimulai dengan baca, pelajari, dan amalkan surat cinta dari Allah (Al-Quran) yang merupakan pedoman hidup kita, tingkatkan kualitas ibadah kita, hadiri majelis ilmu yang bisa mengokohkan ketauhidan kita, berkumpullah bersama orang-orang sholeh(ah) yang juga mencita-citakan keselamatan akhirat karena kita akan semakin kuat jika berjamaah.

Semoga dengan begitu Allah makin menyayangi kita dan memberikan perlindungan dan pertolongannya kepada kita baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin..

"…Maka dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah.
Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." 
-QS. Al-Hajj (22) : 78-

Senin, 03 September 2018

Monday Love Letter #7 - Syukur Ver 2.0

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah sudah sampai di Senin yang ketujuh sejak Monday Love Letter pertama ditulis. Bahagia sekali rasanya ketika sadar bahwa ternyata diri yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan ini masih bisa menginspirasi orang lain. Bisa konsisten menulis seperti ini menjadi pencapaian tersendiri bagi saya, yang biasanya menulis ketika memang sedang ingin saja. Alhamdulillah Allah mampukan :')

Akhir-akhir ini saya sedang banyak berpikir dan mengamati bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, baik itu di media sosial maupun dengan bertemu langsung. Dan untuk pertama kalinya dalam fase hidup saya, saya bertanya kepada diri sendiri, pertanyaan yang tidak pernah saya sangka akan saya tanyakan kepada diri saya sendiri, "Tuh lihat, si A udah mencapai ini, si B udah jadi itu, si C lagi bikin project keren tuh, kamu udah apa?"

Buat saya yang punya karakter cuek, pertanyaan seperti itu terasa aneh bagi saya. Tidak biasanya saya membandingkan diri saya dengan orang lain. Dan mindset ini menjadi racun bagi saya sendiri karena saya malah jadi merasa minder karena membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain sementara saya kok rasanya masih begitu-begitu saja. Jangan dicontoh ya, karena ini sungguh tidak baik untuk kesehatan hati, jiwa, dan pikiran. Hehe.

Sampai suatu hari saya tiba-tiba teringat pada sebuah istilah yang sering disebut-sebut, yang katanya akan teralami oleh orang-orang di usia 20-an menjelang 30-nya. Quarter Life Crisis. Sebuah fase yang membuatmu mengulang lagi pertanyaan tentang tujuan dan makna hidup. Ya, kurasa saya sedang mengalaminya.

Yang saya pelajari dari fase ini adalah bahwa jawaban yang harus kau temukan tidak hanya sekedar tujuan hidupmu adalah untuk ibadah, seperti yang kita semua tahu dalam QS. 51:56. Tapi ada sebuah pertanyaan lanjutan yaitu peran apa yang ingin kamu ambil untuk ibadahmu? Dan secara naluriah kita akan berusaha mencari peran yang besar manfaatnya untuk orang lain. Ya, di fase ini kita mulai mencari makna diri kita untuk orang lain, masyarakat, bahkan dunia. Tidak lagi memikirkan hanya untuk diri sendiri.

Maka, mulailah melihat kepada dirimu. Apa yang kau punya? Apa "harta" yang Allah titipkan untuk dirimu? Jika hartamu adalah kemampuan berbisnis dan bernegosiasi, maka jadilah seperti Siti Khadijah r.a, shahabiyah dermawan yang membesarkan bisnisnya untuk kepentingan umat.
Jika hartamu adalah kecerdasan intelektual, punya gelar S1, S2 atau S3, maka jadilah cendekiawan muslim yang memperkaya pengetahuan dunia dan memajukan peradaban.

Jika hartamu adalah kemampuan berdiplomasi dan berorganisasi, latihlah dirimu menjadi pemimpin yang berpengaruh untuk menyebarkan nilai-nilai Islam.

Jika hartamu adalah kemampuan menulis, maka tulislah karya terbaik yang bisa menembus pikiran banyak orang dan membuat mereka terinspirasi untuk menjadi sebaik-baik manusia di hadapan Allah.

Jika hartamu adalah anak dan keluargamu, maka jadilah seorang istri dan ibu terbaik yang mencetak generasi shalih dan shalihah, serta mengupayakan ikhtiar terbaik agar keluargamu terlindung dari api neraka.

Apapun itu, setiap "harta" sejatinya hanyalah titipan, hanyalah pinjaman dari Allah. Dan yang namanya titipan, tentu tidak bisa kita pakai seenaknya semau kita, bukan? Tetap ada hak Allah didalamnya.


Inilah yang dinamakan syukur ver. 2.0 (istilah karangan saya, hehe), yaitu bentuk syukur yang lain yang sudah ter-upgrade. Syukur yang bukan sekedar berterima kasih atas apa yang telah Allah berikan, tetapi syukur yang membuat kita melakukan sesuatu yang terbaik dengan menggunakan segala potensi yang Allah berikan kepada kita. Potensi yang kemudian digunakan untuk kepentingan Allah, untuk kepentingan Islam, serta untuk kepentingan akhirat diri, keluarga, dan umat. 
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun," (QS. At-Taghabun (64): 16-17)
Ah ya, ada satu yang perlu kau ingat. Hartaku, belum tentu sama dengan hartamu. Begitupun sebaliknya. Maka tidak usah membandingkan diri kita dengan orang lain, biarlah orang lain "berinfaq" dengan harta miliknya, karena kita juga punya harta sendiri yang harus kita persembahkan untuk Allah. :)

Selamat mengupayakan syukur terbaikmu kepada Allah, dengan definisi syukur yang sudah ter-upgradeFastabiqul khairat.

Senin, 27 Agustus 2018

Monday Love Letter #6 - Find Your "Two Eases"


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Waah sudah bertemu hari Senin lagi, bagaimanakah harimu seminggu ke belakang? Semoga hari-harimu selalu dipenuhi dengan aktivitas yang positif dan bermanfaat yaa, sister :)

Seminggu ke belakang saya merasakan kepadatan aktivitas yang cukup hectic sebenarnya. Hampir setiap hari saya pulang ke rumah selepas isya dalam keadaan sangat lelah. Apalagi Bandung seminggu kemarin terasa panas sekali di siang harinya. Anehnya, saya merasa senang dalam lelah itu! Walaupun fisik saya lelah, tapi hati ini merasa lega, adem. Membuat saya mengimani dalam hati bahwa setiap lelah karena lillah tidak akan akan terasa lelahnya. Subhanallah ya :')

Suatu hari, ketika saya sedang mengendarai motor menuju ke suatu tempat, saya tiba-tiba teringat pada sebuah video yang beberapa minggu lalu saya tonton. Video berdurasi kurang dari 5 menit itu berbicara tentang 2:1 Ratio Life Hack. Wah, Apa tuh?? Ternyata life hack ini diambil dari surat al-Insyirah, bahwa dalam surat itu Allah mengulang 2 ayat yang isinya sama; "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" dan ayat ini diulang 2 kali secara beriringan. Ini berarti bahwa di setiap kesulitan kita, di saat yang sama Allah juga memberi 2 kemudahan. Jika kita yakin akan hal ini, tentu menghadapi masalah akan lebih tenang bukan? Bermodalkan keyakinan ini, setiap kali kita menghadapi suatu masalah, yakinlah bahwa Allah memberi kita kemudahan dalam urusan yang lain.

Pernahkah kamu mengalami hal semacam itu? Dihimpit oleh suatu masalah tapi ternyata Allah memberi jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Atau ketika sedang ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu waktu, satu pekerjaan bermasalah, tapi pada pekerjaan lainnya Allah memberi kemudahan sehingga kita bisa menyelesaikan semuanya dengan usaha yang mungkin tidaklah seberapa.

Lihatlah betapa Allah begitu adil, Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan tanpa jalan keluar. Bukankah seberat apapun beban yang kita pikul, selalu saja ada alasan untuk bisa bersyukur? Tinggal seberapa besar kepekaan kita untuk bisa menemukan dan mensyukuri "kemudahan" yang Allah berikan itu.

2:1 Ratio Life Hack itulah yang saya praktekkan selama ke-hectic-an seminggu kemarin. Ketika menghadapi keadaan yang genting, tidak lantas menjadi panik karena yakin bahwa Allah pasti memberikan kemudahan-kemudahan lain. Dan benar saja, selang beberapa waktu, situasi kembali aman terkendali.

Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kesulitan dalam hidupmu? Atau justru sedang mengalaminya saat ini? It's okay, dear.. Kalau kata video yang saya tonton itu, "Find your two eases". Temukan 2 kemudahan dalam 1 kesulitan yang kamu hadapi, pasti ada! Bersyukurlah dengan yang 2 itu, bukan meratapi 1 kesulitan terus-menerus. Dengan mempraktekkan hal ini, insya Allah kita akan menjadi lebih mudah bersyukur dan merasakan kehadiran Allah.

Tenanglah, karena bersama Allah, semua akan baik-baik saja.


PS. 
Untukmu yang penasaran  isi videonya, silakan klik disini
Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 20 Agustus 2018

Monday Love Letter #5 - Bersabarlah untuk Dirimu


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Senang sekali bisa menulis lagi dan mengirim surat cinta untuk perempuan hebat sepertimu! Tetap bersinar dan jadi berharga ya sister, karena orang pertama yang harus mencintai dirimu adalah dirimu sendiri tentu saja! :D

Tapi sebagai sesama perempuan, saya juga pernah merasakan bahwa mencintai diri sendiri adalah hal yang membutuhkan proses. Apalagi jika kita pernah punya memori masa lalu yang tidak menyenangkan dan membuat kita membenci diri sendiri, prosesnya tentu akan lebih berat lagi.

Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri, karena sebetulnya setiap diri kita pasti tahu caranya. Hanya saja, kita perlu untuk bersabar untuk menjalani prosesnya. Setiap yang membutuhkan proses, tentu membutuhkan waktu. Dan setiap yang membutuhkan waktu, tentu membutuhkan kesabaran. Maka bersabarlah untuk dirimu sendiri.

Seperti ulat yang tetap menikmati setiap proses dalam kepompongnya hingga ia menjadi kupu-kupu yang cantik. Bayangkan jika ulat tersebut tidak cukup sabar menjalani prosesnya, sayap-sayapnya tidak akan menjadi kuat dan indah. Ia tidak akan mampu terbang karena proses yang belum sepenuhnya selesai. Bahkan ia bisa saja mati jika memaksa untuk keluar dari kepompong sebelum waktunya. Begitupun kamu, dear.. Nikmatilah setiap proses metamorfosismu sampai kamu bisa menerima dan mencintai dirimu sendiri seutuhnya.

Kamu pernah mengunduh aplikasi di ponselmu, kan? Bukankah hal sesederhana mengunduh dan meng-install aplikasi atau software pun ada prosesnya? Kira-kira apa yang akan terjadi jika kita meng-cancel proses itu sebelum 100%? Gagal. Harus mengulang dari awal. Butuh waktu lagi. Butuh menunggu dengan waktu yang lebih lama. Hanya karena kita tidak bersabar menunggu, akhirnya kita harus membayarnya dengan waktu yang lebih lama.

Kita yang selama ini mungkin terbiasa merendahkan diri sendiri, terbiasa meracuni pikiran kita dengan hal-hal yang negatif, terbiasa memandang negatif terhadap diri sendiri, lalu di satu waktu ingin berusaha mengubahnya secara instan, tentu tidak akan semudah itu. Tapi bagaimanapun juga, apresiasilah dirimu yang ingin berubah menjadi lebih baik! Karena keinginan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik adalah hal yang patut disyukuri dan disambut dengan baik.

Setelahnya, bersedialah untuk menjalani prosesnya. Kita harus mau berproses untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dengan yang lebih baik. Misalnya dengan melatih diri untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki, melatih diri tersenyum di depan cermin dan mengatakan "aku mencintaimu, diriku." Atau dengan membuat surat untuk dirimu sendiri untuk mengungkapkan rasa terima kasih terhadap dirimu sendiri. Ya, dirimu harus diapresiasi! Oleh dirimu sendiri.

Bersabarlah disetiap prosesnya. Sampai kebiasaan-kebiasaan baik itu berhasil ter-install kedalam dirimu dan kamu bisa dengan bangga berdiri di atas kakimu sendiri karena rasa cinta dan penerimaan yang besar terhadap dirimu sendiri. Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan biarkan impianmu untuk terbang kalah oleh dirimu sendiri. Ingat, Allah bersamamu.


PS. Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 13 Agustus 2018

Monday Love Letter #4 - Hidup kayak Air Mengalir? Bisa sih, tapi...


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Alhamdulillah bertemu lagi dengan hari Senin setelah melewati satu pekan yang -bagi saya sih- sepekan kemarin berjalan cepat sekali. Apakah kamu merasakannya juga? :)

Anyway, sudah 2 bulan ini saya sedang membiasakan diri lagi untuk membuat buku jurnal harian, yaitu sebuah buku khusus yang berisi aktivitas sehari-hari beserta serangkaian to do list-nya. Tujuannya agar saya bisa "melihat" sudah sejauh apa perkembangan diri saya selama sepekan, sebulan, bahkan setahun. Memiliki jurnal harian membuatku bisa mengukur produktivitas selama sepekan; sudah melakukan apa, sudah bisa apa saja, target mana yang sudah tercapai, besok harus melakukan apa, dsb. Dan tentu saja, dengan cara ini  akan lebih mudah mengevaluasi diri di setiap minggunya karena progresnya terlihat dan bisa diukur.

Memiliki jurnal harian juga menjadi sarana pribadiku untuk lebih bersyukur. Begitu terasa Ke-MahaBaik-an Allah karena masih memberikan kesempatan untuk bertumbuh dan beramal shaleh. Selain itu, saya juga jadi lebih menghargai waktu. Bukankah dari setiap tanggal di kalender yang bergerak maju, menunjukkan bahwa setiap hari jatah hidup kita berkurang? Setiap kali kita bernafas, bukankah kita baru saja menggunakan jatah sedetik waktu kita, tanpa kita tahu berapa detik waktu lagi yang menjadi jatah kita. Ya, setiap orang diberi jatah waktu oleh Allah, sudah bijakkah kita menggunakannya?

"Kenapa sih kok kayaknya hidup harus seribet itu? Harus susah-susah bikin target, harus repot-repot evaluasi, kayaknya menjalani hidup seperti biasa pun hidup saya fine-fine aja tuh. Kayak air mengalir ajalah hidup mah.." Hehe, adakah yang berpikiran begitu? Memang sih, kita bisa saja hidup walau tanpa tujuan. Sekolah, kuliah, lalu lulus. Mencari uang lalu menghabiskannya. Bekerja, menikah lalu menikmati hidup hingga tua. Bisa saja. Tapi apakah hidup kita jadi bermakna?

Hal itu sama saja seperti kita mengendarai mobil, tapi langsung jalan tanpa tujuan. Bodo amat mau kemana deh, yang penting jalan. Bisa jalan mobilnya? Bisa sih, tapi nggak jelas kemananya. Yang ada malah ngabisin energi dan ngabisin bensin. Bisa juga malah nyasar. Kan sayang energinya, sayang waktunya, sayang bensinnya. Dipakai, habis, tapi tidak membawa kemana-mana.

Hidup pun begitu. Tanpa tujuan, kita hanya akan menghabiskan energi kita, waktu kita, materi kita, untuk sesuatu yang tidak membawa kita kemana-mana dan tidak menjadi siapa-siapa. Merasa sudah berjalan jauh padahal kaki kita masih berada dibelakang garis start. Rugi atau rugi banget?

So, penting ya ternyata untuk menentukan tujuan? Jika kita naik mobil dengan tujuan jadinya akan terukur, berapa kilo sih jaraknya? Butuh bensin berapa liter ya? Harus ke rest area atau nggak? Perlu siapin uang berapa? Semuanya akan jadi efektif dan efisien karena kita menghabiskan uang, waktu, dan tenaga untuk sesuatu yang jelas. Hidup pun begitu, kawan. Kita tidak bisa sekedar menggunakan jatah waktu kita tanpa kita tahu kita mau kemana, hidup kita untuk apa, mau mencapai apa.

"Baiklah, mulai saat ini saya akan membuat tujuan hidup saya! Saya akan jadi orang sukses, jadi orang kaya, jadi terkenal, keliling dunia, dan sebagainya." Eits, tunggu dulu. Menentukan tujuan memang penting, tapi jangan asal. Mulailah dari bertanya mengapa kita hidup. Bukankah Allah menciptakan kita dengan tujuan? Maka selaraskanlah tujuan kita dengan tujuan Dia yang menciptakan. Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan kita, masa' kita hidup semau kita sih? Da kita mah apa atuh, ibarat debu yang dibelah triliyunan kali. Cuma seorang hamba, lemah pula. Ga akan bisa hidup kalo nggak diatur sama Allah!

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" 
(QS. Adz-Dzariyat (51) : 56))

Nah, ketika kita sudah menemukan tujuan Allah menciptakan kita, maka hiduplah dengan tujuan itu. Dengan memegang tujuan bahwa hidup kita adalah untuk beribadah, akan mudah bagi kita untuk mengukur diri. Sudah belum aktivitas kita ditujukan untuk dan kepada Allah? Kita nggak akan rungsing sama distraksi dari lingkungan. Diajak ini hayu, diajak itu hayu. Nggak akan pusing sama pencapaian orang. Orang punya ini, mau. Orang punya itu, pengen. Orang bisa ini itu, galau. Jelas lah, karena kita nggak fokus sama apa yang menjadi tujuan kita. Malah sibuk sama perjalanan orang lain dan mengabaikan perjalanan hidup kita sendiri.

Ingat, ladies. Waktu kita terbatas. Jangan habiskan waktu kita dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan kita. Itu sama saja seperti menghabiskan bensin ke tempat yang bukan menjadi destinasi kita. Lebar ih da bensin teh sekarang mahal.. Hehe bercanda. Intinya, gunakanlah jatah waktu kita dengan bijak, efektif dan efisien sesuai dengan tujuan Allah menciptakan kita. Jangan tergiur dengan pencapaian orang lain karena kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain, tapi dengan diri kita sendiri. Dan jangan lupa kumpulkan bekal untuk kembali "pulang". Kita di dunia cuma transit, sist.

Senin, 06 Agustus 2018

Monday Love Letter #3 - Why You Should Be Grateful

Assalamu'alaikum sisters fillah :)

Kamu mungkin masih ingat, minggu lalu saya menulis tentang produktivitas, lalu terjadilah satu minggu yang tiba-tiba penuh dengan agenda. Seakan Allah ingin memvalidasi pernyataan saya Senin lalu. Nah lho, dengan agenda sebanyak ini, bisa nggak ngatur waktunya? Bisa nggak lawan malasnya? Hehe. Alhamdulillah semuanya terlewati dengan lancar, tentunya tidak lepas dari pertolongan Allah juga :)

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu atau ketika sedang merenungi tentang apa saja yang sudah saya lakukan hari itu, saya selalu merasa bahwa Allah sangat baik. Terlalu baik malah, sampai-sampai saya sering bertanya-tanya, pantaskah saya menerima begitu banyak kebaikan dari Allah ini. Ketika saya meminta sesuatu, lalu Allah kabulkan. Ketika doa saya belum diperkenankan oleh-Nya, ternyata saya mendapat sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya pintakan itu. Ketika saya berusaha dengan ikhtiar yang seadanya, Allah beri hasil yang banyak sekali, lengkap dengan bonusnya! Banyak sekali kejadian-kejadian dalam hidup yang membuatku semakin membenarkan bahwa Allah memang Maha Baik, seperti bunyi ayat pertama dalam surat pembuka dalam al-Quran, bahwa Allah itu; Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Kamu mungkin pernah bertemu banyak orang baik di dunia ini. Entah itu keluargamu, sahabatmu, bahkan sekedar orang asing yang tak sengaja bertemu denganmu di jalan. Di dunia ini memang selalu saja ada orang-orang baik dengan hati yang tulus, tak segan memberi dan tak berharap dibalas. Bayangkan jika setiap hari kita didatangi orang seperti itu, mencurahkan kebaikan yang tanpa henti kepada kita, apa rasanya? Awal-awal mungkin kita sangat berterima kasih, lama-lama jadi merasa nggak enak karena dia terlalu baik. Hehe, lucu ya manusia, bisa merasa nggak enakan sama orang yang terlalu baik.

Biasanya hal ini terjadi jika kita ada di posisi "sering menerima" sehingga muncullah perasaan tidak enak karena kita merasa kurang cukup membalas kebaikannya. Begitu pula dengan menerima terlalu banyak. Bayangkan saja jika kita melakukan pekerjaan yang upahnya hanya setara dengan dengan seratus ribu rupiah, tapi kita dibayar dengan uang satu juta, bukankan respon normal orang kebanyakan adalah tercengang dan menolak terlebih dulu? Kenapa? Karena kita sadar bahwa pekerjaan kita tidak layak untuk dibayar sebesar itu.

Nah! Allah jauuuuh lebih baik daripada orang baik yang ada di belahan bumi manapun! Tentu kalian setuju bahwa Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang sangaaat banyak. Tidak usah jauh-jauh melihat harta benda yang kita miliki. Kita sedang diam seperti saat inipun, sudah banyak sekali nikmat Allah yang bisa kita sebutkan. Pernahkah kita meminta oksigen kepada Allah agar kita bisa bernafas? Pernahkah kita memantau setiap degup jantung dan aliran darah di tubuh kita? Pernahkah kita membayangkan seandainya mata kita tidak bisa berkedip, atau sistem percernaan kita terganggu, atau kulit kita tidak memiliki kemampuan menutup luka dengan sendirinya? Begitulah Maha Baiknya Allah, nikmatnya senantiasa tercurah tanpa henti, baik yang kita minta, maupun yang tidak kita minta. Sadarkah kita?

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." -QS. An-Nahl (16) : 18

Coba pikirkan, bagaimana jika kita diharuskan membalas semua kebaikan dari Allah, sanggupkah? Bagaimana jika kita harus membayar nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, mampukah? Menghitungnya saja tidak mampu, apalagi membalasnya. Lantas, adakah sedikitnya rasa malu kita terhadap Allah? Pernahkah kita merasa "nggak enak" kepada Allah sementara kita sudah begitu banyak menikmati berbagai rezeki dan fasilitas yang Allah berikan. Kita telah menerima banyak, tapi hanya bisa membalas sedikit, bahkan lebih parah dari itu-- kita selalu saja merasa kurang.

Meningkatkan syukur adalah PR besar kita. Syukur yang tidak sekedar ucapan hamdallah, tapi menjelma dalam langkah. Syukur yang bukan sebatas di hati, melainkan sampai menjadi amal dan ketaatan. Bukankah Allah tidak meminta banyak dari kita selain agar kita hidup dalam taat dan mau diatur dengan aturan-Nya.. Maka tidak bisakah kita menjadi seorang hamba yang taat sebagai wujud syukur dan terima kasih kita kepada-Nya?

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah, ketika kita berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya, Allah kelak akan hadiahkan surga untuk kita. Wujud syukur yang kita niatkan untuk membalas kebaikan Allah, malah Allah balas lagi dengan nikmat yang tak terhitung besarnya. Lihatlah, betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang! :')

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" -QS. Ibrahim (14): 7

Mari kita sama-sama mengupayakan syukur terbaik kepada Allah.

Senin, 30 Juli 2018

Monday Love Letter #2 - Say Hi to Your Productive Day!

Assalamu'alaikum! Alhamdulillah bisa sampai di Monday Love Letter yang kedua, buat kamu yang terlewat membaca yang pertama, bisa cari di label "Monday Love Letter" yang ada di sebelah kanan blog ini. Dan kalau kamu ingin mendapatkan suratnya secara personal ke emailmu, bisa dengan cara meninggalkan emailmu di komentar, ya! Nanti setiap hari Senin kamu akan mendapatkan 2 Monday Love Letter dariku dan dari partnerku (we're planning a project now, this is just a spoiler, hehe). Syaratnya satu untuk bisa subcribe: ini khusus UNTUK PEREMPUAN :)


***
Pernahkah kamu merasakan "haahhh today I don't feel like doing anything" di awal harimu? Susah beranjak dari kasur, leyeh-leyeh main gadget sementara banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Ah, kurasa semua orang pasti pernah begitu. Jika mengawali hari dengan bermalas-malasan seperti itu, yang biasanya terjadi adalah kemungkinan besar kamu memang tidak akan melakukan apa-apa hari itu, say bye to productive day. Bahkan terkadang kita membuat pemakluman kepada diri sendiri, "biarlah sekali-kali malas-malasan seharian, pekerjaan hari ini akan kukerjakan besok". Nyatanya, besok pekerjaan malah menumpuk dan kita jadi keburu malas mengerjakan serangkaian to do list yang bejibun. Hayooo siapa yang pernah begituu? Tenang, saja juga pernah kok. Hehe.

Tapi apakah jika manusia memang punya sifat malas, lantas kita memakluminya? Apakah setelah kita tahu betapa merugi orang yang menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, kita tetap membiarkan 24 jam kita yang berharga berlalu begitu saja?

Hari ini sebetulnya saya sedang merasa ingin bermalas-malasan. Tapi nyatanya, diri ini tidak merasa tenang karena saya tahu jika saya tidak bisa produktif hari ini, saya pasti akan menyesal di akhir hari. Lalu bagaimana caranya memutus rasa malas? Tidak ada cara lain selain MEMAKSAKAN DIRI. Jika kamu harus menulis skripsi, maka segeralah bangkit dan buka laptopmu. Jika kamu sedang malas kuliah, maka segeralah bersiap dan berangkat ke kampus. Jika kamu seorang ibu rumah tangga yang sedang malas memasak, maka siapkan bahan-bahan dan mulailah memasak. Jika kamu bekerja di kantor dan harus menginput arsip yang begitu banyak, mulailah dengan mengerjakan satu arsip. Tidak ada rumus agar tidak malas kecuali kamu bergerak! Hanya itu yang bisa mengalahkan kemalasanmu. Tapi percayalah, once you get started, you'll keep going.

Pagi tadi, untuk menghalau rasa malas saya bergegas wudhu dan melakukan shalat Dhuha. Lalu sebuah ayat yang sangat saya hafal terlintas di kepala; wa minannaasi may-yasyrii nafsahubthighooa mardhotillah, wallahu raufum bil 'ibaad.. Surat Al-Baqarah ayat 207 yang artinya, "Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." Ayat ini tentu saja bukan sekedar kalimat berita yang hanya perlu ditanggapi dengan "oohh begitu.." lalu selesai, bukankah seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah saya yang termasuk kepada "diantara manusia" yang Allah sebutkan? Jika redaksi katanya adalah minannaas, maka berarti tidak semua manusia begitu, pada nyatanya hanya sebagian kecil saja. Masukkah saya pada yang sebagian kecil itu?

Sebetulnya semua manusia itu berkorban, bedanya adalah kepada apa dia berkorban. Ada yang berkorban untuk Allah dan ada yang berkorban kepada selain Allah. Kita kuliah, pasti banyak yang dikorbankan. Kita menikah, menjadi ibu, menggapai cita-cita, berkarir, akan ada banyak sekali hal yang dikorbankan oleh manusia demi tujuannya masing-masing. Pertanyaannya, itu semua untuk siapa? Jangan-jangan itu semua kita lakukan hanya sekedar memenuhi ambisi atau keinginan pribadi kita saja tanpa disambungkan kepada Allah atau kepada cita-cita akhirat kita. Kita bekerja siang malam, demi mewujudkan hal-hal yang mungkin hanya sampai pada sebatas tujuan duniawi saja. Jika untuk hal yang bersifat duniawi kita bisa mengorbankan banyak hal, apakah untuk Allah usaha kita juga sebesar itu?

Hmm.. Jadi kalau dipikir-pikir, sebetulnya orang malas itu tidak ada, ya? Semua orang pasti sibuk beraktivitas, menghabiskan 24 jam yang sama, yang membedakan adalah apakah aktivitasmu itu untuk Allah atau selain Allah? Jika kita bisa menghabiskan malam untuk mengerjakan tugas dari dosen, seharusnya kita juga bisa bangun di malam hari untuk shalat tahajud. Jika kita punya waktu untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di sosial media, seharusnya kita juga bisa menyediakan waktu untuk membaca quran. Jika kita sampai rela menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli gadget baru, kita juga seharusnya bisa menabung untuk berinfak atau berqurban. Hanya kita yang bisa menilai diri kita sendiri, sebenarnya selama ini saya sibuk menghabiskan waktu saya, untuk (si)apa?

Tulisan ini juga untuk diri saya sendiri. Saya pun sedang berlatih sedikit demi sedikit untuk memindahkan orientasi dunia saya kepada orientasi akhirat sepenuhnya. Tidak mudah memang, karena kita cenderung dibiasakan oleh lingkungan dan oleh stereotype yang berlaku di masyarakat bahwa punya harta banyak, punya jabatan tinggi, bisa menikah muda, atau menjadi terkenal itu keren. Seakan ridhonya Allah tidak lebih berharga dari itu semua. Hati-hati ah, kalau sudah begini, bisa-bisa kita tanpa sadar mengecilkan nilai dari keridhoan Allah itu sendiri sehingga merasa berat untuk berkorban dan merasa tidak worth it untuk kita jadikan tujuan. Ngeri.

Lho, kok dari malas jadi nyambung ke berkorban untuk Allah ya? Saya juga sempat heran kenapa ayat itu yang terpikir ketika saya sedang malas pagi tadi. Ternyata memang nyambung kok. Ingat, malas itu tidak ada. Jika saya merasa malas, sebenarnya saya bukan sedang malas, tapi kesibukan saya sedang bukan kepada Allah. Astagfirullah.

Alhamdulillah. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat yang sebetulnya lebih tepat untuk ditujukan kepada diri sendiri ini. Selamat menjalani sisa hari Seninmu dan hari-hari berikutnya dengan lebih produktif, semoga kita termasuk satu dari sebagian manusia yang mengorbankan diri untuk keridhoan Allah. Aamiin..