Tak ada yang lebih mengerikan di dunia ini selain jauh dari Allah. Sedih dan terluka namun bersamaNya, masih lebih baik daripada hidup nyaman namun hampa karena tak ada Allah didalamnya.
Perlu kejujuran hati untuk mengakui bahwa saat kita merasa jauh dari Allah, tentu bukan Allah yang menjauh, karena sebetulnya Dia selalu dekat. Pastilah kita yang menjauh. Kita yang membuat sekat sehingga berjarak dengan Allah.
Dan Dzulhijjah, mengajak kita untuk meruntuhkan sekat itu. Syariat qurban dihadirkan Allah sebagai jalan agar kita kembali dekat kepada-Nya. Sebagaimana arti kata qurban yang berasal dari qoroba yang berarti dekat. Allah tidak ingin ada yang menghalangi kedekatan antara kita dengan-Nya. How sweet Allah, isnt't it? 🥹
Begitu pula dengan haji. Semua atribut, status, dan dunia yang sering kita banggakan dilepas, hingga yang tersisa hanyalah seorang hamba dengan Tuhannya.
Namun, melepas sekat itu tidak selalu mudah. Ada ego yang ingin terus dituruti. Ada rasa memiliki yang terlalu erat digenggam. Ada maksiat yang diam-diam membuat hati mengeras.
Karena itu, qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Haji bukan sekadar pergi ke tanah suci. Keduanya adalah latihan melepaskan segala hal yang membuat kita jauh dari Allah sebagai bukti cinta kita kepada-Nya.
Maka Dzulhijjah hadir bukan hanya mengajak kita untuk beramal, tapi juga kembali pulang kepada Allah.
Dengan jiwa yang lebih tunduk.
Dengan hati yang lebih dekat.
Dengan sekat yang perlahan runtuh.
❤️🩹
Tidak ada komentar:
Posting Komentar