Sabtu, 29 Agustus 2026

Kangen, Yah.

Beberapa hari terakhir ini aku lagi keingetan ayah terus. Kangen. Semalam sampai cari-cari lagi foto-foto ayah. Bahkan buka chat WhatsApp ayah karena ingin baca-baca percakapan aku dan ayah. Tapi ternyata isinya kosong karena WhatsApp-ku sempat error dan history chat kami kehapus semua. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ’”

hampa gini hiks
hampa gini hiks
Iya sih, memang udah beberapa bulan juga belum ke makam lagi. Akhirnya pagi ini di sela-sela agenda, aku sempatkan dulu mampir ke makam ayah. Sendirian. 

Jujur, ada banget jetlagnya. Loading dulu, bener nggak ya ini bloknya? Soalnya area makamnya kayak tiba-tiba rimbun gitu, pohon-pohon kecil yang ditanam di nisan-nisannya udah pada meninggi๐Ÿ˜…

Saking kayak orang bingung, sampe disamperin sama yang jaga makamnya. "Cari makam siapa, Neng?"

Pas kusebut nama ayah, "Oh.. sebelah sini, Neng." Bapaknya nunjukkin makam ayah.

Ternyata aku emang udah ada di blok yang bener, cuma linglung aja karena suasananya agak berubah wkwk.

Terus si bapak bawain kursi kecil buat aku duduk, lalu aku ditinggal sendiri.

Pas duduk, lah... tiba-tiba nangis doong..

Keluar begitu aja ini air mata. Sampe heran sendiri, padahal hidupku lagi baik-baik aja dan happy-happy aja. Mungkin karena emang lagi kangen kali ya..

Yasudahlah aku quality time sama ayah, doain, dan sedikit siram makam pake air yang sengaja kubawa. Cuma sekitar 10menitan karena harus pergi lagi.

Tapi sepulang dari makam rasanya lega banget. Rinduku terobati. ๐Ÿค

***

Yah, aku lagi kangen banget momen aku setirin ayah. Ayah duduk di kursi depan samping aku, kita ngobrol sambil sesekali tangan ayah elus-elus kepala aku. Main ke mimpi dong, Yah. Nanti kusetirin kemana pun ayah mau. ๐Ÿ˜๐Ÿซฐ

Selasa, 18 Agustus 2026

Merdeka

Dalam momen kemerdekaan, selalu ada momen bagiku untuk mengeja kembali makna merdeka.

Kalau dipikir lagi, manusia tak akan pernah benar-benar lepas dari "perbudakan". Kita akan selalu membutuhkan sesuatu untuk "menyetir" diri kita. Harta, tahta, pasangan, anak-anak, bahkan hawa nafsu, sangat mungkin bisa menjadi sesuatu yang menguasai dan memperbudak diri kita.

Namun, manusia memiliki kebebasan untuk memilih si(apa) yang menjadi tuannya. Dan tak ada yang lebih layak untuk kita pertuan selain Dzat yang menciptakan dan memelihara seluruh makhluk: Allah.

Maka, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah merdeka dari perbudakan kepada selain-Nya, menuju penghambaan yang penuh kepada Allah.

Merdeka bukan berarti lepas dari status sebagai hamba dan hidup bebas semau kita. Merdeka justru adalah ketika kita berhasil lepas dari segala hal yang menguasai diri kita selain Allah dan memilih untuk hanya dimiliki, dikuasai, dan diatur oleh-Nya.