Senin, 23 Juli 2018

Monday Love Letter #1 - Deep Lesson from Prophet Ibrahim's Story

Assalamu'alaikum! Mau ada sedikit pengumuman niih.. Insya Allah blog ini akan rutin posting setiap hari Senin karena sekarang aku lagi bikin project kecil namanya Monday Love Letter. Semacam tulisan yang dibikin ala-ala kayak surat gitu deeehh.. Kalo nggak kayak surat, ya anggep aja surat lah yaa.. wkwkwk.. Yah seperti yang kita tahu, bagi sebagian orang hari Senin adalah hari yang cukup bikin mager karena harus memulai lagi aktivitas setelah kita bersantai-santai di weekend ya kann.. Haha. Semoga Monday Love Letter ini bisa melecutkan semangat di hari Senin dan bikin kita bisa memulai pekan yang produktif. Bismillah!

So, Stay tune on my blog every monday and you'll find a new post insya Allah (jamnya terserah aku weh yah, mengingat inspirasi itu kadang datengnya ga menentu haha). Thank you! 

***

Di Love Letter perdana ini ada sesuatu yang ingin aku bagi. Jadi kemarin itu ada acara Hujan Safir Sharing Session, temanya Finding the True Love sambil mengangkat dan meneladani kisahnya keluarga Nabi Ibrahim a.s. Kalau denger kata "Ibrahim", tentu kita familiar banget dong sama kejadian fenomenal dimana Nabi Ibrahim harus melaksanakan perintah Allah yaitu menyembelih Ismail, anaknya.

Yang menarik adalah, satu keluarga itu (Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail kecil) semuanya KOMPAK dan SEPAKAT untuk melaksanakan perintah Allah yang secara logika sangat nggak masuk akal itu. Perintahnya nggak main-main loh, nyembelih anak sendiri! Orangtua mana yang tega, coba? Tapi ketika Nabi Ibrahim bertanya kepada istrinya Siti Hajar dan kepada Ismail anaknya, keduanya kompak menjawab, "Jika itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah." Fyuhh, aku nggak kebayang kalau aku ada di posisi mereka, tauhidnya udah level tinggi banget itu mah. Tidak peduli pada logika yang bisa saja berteriak betapa tidak masuk akalnya perintah itu. Pun tidak gentar oleh rasa sayang orangtua kepada anaknya, rasa cinta anak kepada orangtuanya, semuanya dikorbankan demi menaati perintah Allah.

Hingga akhirnya perintah itupun dilaksanakan dan Ismail Allah ganti dengan seekor domba yang besar sebagai tebusan. Sampai-sampai kejadian ini Allah abadikan dalam QS. 37: 102-111 dan menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban. 

Kisah itu Allah ceritakan dalam al-Quran bukan sebatas sebuah dongeng belaka, melainkan untuk kita teladani. Bisakah kita seperti Nabi Ibrahim yang rela "menyembelih" kecintaan terhadap anaknya demi kecintaaan kepada Allah? Sanggupkah kita meneladani Siti Hajar yang sigap mematuhi perintah Allah dan sukses mendidik anaknya menjadi seperti itu? Sudahkah kita mencontoh Ismail yang tak gentar pada satu perintah yang bahkan bisa saja merenggut nyawanya? Masya Allah. Maka tak heran jika Nabi Ibrahim dijuluki bapak Tauhid, karena ia betul-betul sukses menanamkan ketauhidan pada diri istri dan anaknya hingga bisa melahirkan karakter yang siap berkorban apapun demi Allah. Semuanya atas izin Allah.

Luar biasa ya? Sepertinya diri ini masih harus banyak bercermin dan merefleksi diri. Kisah ini jadi contoh nyata bahwa cinta akan selalu meminta pengorbanan. Begitupun cinta kepada Allah, pasti akan Allah uji hingga terbukti bahwa memang kita hanya mencintai Allah saja. Laa ilaaha illallah. Tidak ada yang patut disembah, diibadahi, dan dicintai, kecuali Allah.

Yuk, kita sama-sama belajar mulai sekarang untuk mulai mengikis satu per satu hal-hal yang bisa menjauhkan kita dari cintanya Allah. Mungkin keegoisan kita, kesombongan kita, ambisi, rasa malas, kebergantungan kepada manusia, kecintaan berlebih kepada selain Allah, dan yang lainnya.  Pelan-pelan belajar menyembelih "ismail-ismail" yang kita cintai untuk mengejar satu-satunya cinta yang hakiki, yaitu cinta kepada Allah. Siapkan stok sabar yang banyakk :)

Kamis, 17 Mei 2018

Seandainya Keinginanmu Bertemu dengan Kematian

Manusia itu hidupnya banyak ingin. Dan akan senang sekali jika keinginannya itu terwujud. Bahkan setelah terwujud pun, selalu muncul lagi keinginan yang baru. Terus begitu. Maka jika hidupmu adalah tentang mewujudkan keinginan demi keinginan, tidak akan pernah selesai dan tidak akan ada habisnya, ya kan? Mengaku sajalah.

Kamu, apa keinginanmu?

Pernahkah bertanya kepada dirimu sendiri; bagaimana jika hidupmu berhadapan dengan kematian, apakah itu yang betul-betul kau inginkan?


Kutanya sekali lagi; jika hidupmu dihadapkan dengan kematian, apakah apa yang kau harapkan dan yang kau usahakan saat ini adalah yang benar-benar yang kau inginkan? 

Jika jawabannya iya, selamat. Itu artinya, jika hidupmu berakhir detik ini juga, kamu akan merasa puas dengan pencapaianmu dan merasa bahagia karena bisa kembali pulang dengan hati yang siap kepada Dia yang menciptakanmu. Bukankah begitu?

Jika jawabannya tidak, selamat karena telah berani jujur kepada diri sendiri. Tidak semua orang bisa mendengar dan mengakui isi hatinya sendiri. Tidak semua orang bisa menyimpan ego, nafsu dan logikanya untuk mendengar jeritan dan keinginan hati. Ego selalu berujung pada kesombongan, nafsu seringnya membutakan, sementara logika jika terlalu dituruti akan membuatmu kehilangan Tuhan. Karena hati itu tidak berisik --ia berbisik, ia hanya menjerit jika kamu sudah keterlaluan mengabaikannya. Bagaimana bisa mendengar jeritan hati, jika dirimu dikuasai itu semua?

Jika jawabanmu tidak, saatnya kembali pada hatimu. Masih terasakah ia? Bagaimana keadaannya? Bisa jadi ia sedang terhimpit oleh egomu, bisa jadi ia rusak oleh nafsumu, bisa jadi ia babak belur oleh hantaman logikamu. Selamatkan.. Dengarkan apa maunya. Kau akan menemukan bahwa ia hanya ingin satu: kembali pada Tuhanmu. Hanya itu yang bisa menyembuhkannya. Bukankah begitu?

Bijaklah dalam memilih keinginan. Karena tidak semua yang kita inginkan, adalah yang benar-benar kita inginkan, jika berhadapan dengan kematian.


Jadi, apa sebenarnya keinginanmu?

Rabu, 16 Mei 2018

Marhaban Yaa Ramadhan


Marhaban yaa Ramadhan.. Alhamdulillah, Ramadhan sudah di depan mata. Dan ini adalah tulisan penutup dari kumpulan tulisan #PersiapkanRamadhanmu.

Aku perlu berterima kasih sama partnerku @novieocktavia, karena sebenarnya ajakan kolaborasi ini yang bikin aku jadi belajar lagi dan mempersiapkan diri lebih lagi untuk Ramadhan.. Dan kadang takjub juga sama skill dia ngedit tulisan biasa jadi mengena dan punya ruh. Aaahh diam-diam aku ngefans.. XD

Banyak cerita di balik pembuatan tulisannya. Dari mulai menentukan tema dan membuat timeline, juga tantangan mengatur waktu dengan aktivitas masing-masing. Tak jarang kami baru mulai menulis di waktu-waktu mendekati posting, atau berdebat soal susunan kalimat. Hahaha.. Tapi aku percaya, setiap niat baik pasti akan Allah tolong. Maka dari setiap kalimat yang menancap ke hatimu bukanlah karena penulisnya, tapi karena ada pertolongan Allah di baliknya.

Semoga kumpulan tulisan sederhana dari kami berdua bisa menjadi lecutan semangat untuk memberikan penyambutan terbaik kepada Ramadhan, khususnya bagi kami sebagai penulisnya. Mohon maaf atas segala khilaf, juga atas kesalahan menghitung countdown hehe. Semoga kita bisa menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Selamat menikmati jamuan Allah melalui Ramadhan! Semoga kita termasuk hamba yang bersyukur atas setiap rezeki yang Allah beri, termasuk rezeki kembali bertemu Ramadhan di tahun ini.

Special thanks to @ayambisu yang sudah mendesain seluruh gambar untuk project ini. Terima kasih sudah menjadi bagian dari project kebaikan ini yaa..

Mari menangkan Ramadhan.

Senin, 14 Mei 2018

Ramadhan Mode: ON


Pernahkah kamu merasa ingin menepi karena lelah dengan riuhnya dunia? Keriuhan itu datangnya bisa dari mana saja, berbeda sebab pada setiap orang. Tapi, sebab yang paling mungkin adalah karena melihat orang lain yang begini dan begitu di dunia nyata maupun maya, sementara yang terjadi pada kita mungkin adalah yang sebaliknya: sudah mengetuk banyak pintu kesempatan tapi belum ada satu pun yang terbuka, sudah meminta dengan segenap pinta tapi belum ada jawabannya, sudah berupaya tapi belum kunjung sampai pada ujung tepinya, sudah mengupayakan yang (menurut kita) terbaik tapi ternyata masih gagal, dan seterusnya. Riuhmu, terjadi atas sebab yang mana?

Entah bagaimana, keriuhan itu sedikit banyak membuat hati kita kehilangan ketenangannya, pun diri kita pun kehilangan fokus untuk menjalankan tugas dan amanah-amanah dari-Nya. Ah, ada apa ini? Apakah ternyata kita tengah terikat dunia dengan sedemikian kencangnya?

Dunia memang diciptakan untuk menjadi riuh, hanya pulang kepada-Nya yang membuat kita menemukan kembali ketenangan itu. Bagaimana caranya? Ramadhan adalah cara Allah mengajak kita menepi dari keriuhan-keriuhan dunia, sebab di dalamnya banyak sekali aktivitas-aktivitas ibadah yang dapat membuat kita mengembalikan hati dan jiwa kepada-Nya. Tapi, apakah kita mau untuk menepi, meninggalkan banyak hal menarik tentang dunia, dan menyediakan waktu untuk mendekat kepada-Nya?

Pulanglah, kembali pada Allah. Seperti halnya seorang anak yang merasa lelah dengan hidup lalu ia berlari ke pangkuan ibunya untuk sejenak memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut khas seorang ibu. Seperti itu pula seorang hamba yang kembali pada Tuhannya; menenangkan dan mentenagai. 

Selamat menepi dari keriuhan dunia, selamat berjuang menjadi sebaik-baik hamba, selamat melepas rindu pada Dia yang sebetulnya jauh lebih merindukan kita. Ramadhan mode: ON. 


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 10

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Jumat, 11 Mei 2018

Persiapkan Kemenanganmu


Setiap ujian ada indikatornya. Skripsi kita lulus dari pembimbing, ada indikatornya. Penelitian kita diterima di publikasi jurnal internasional, ada indikatornya. Bahkan, ujian sederhana serupa mengerjakan tugas-tugas harian juga ada indikatornya. Begitu pula dengan ujian dan pembinaan Ramadhan, semua ada indikatornya. 

Jika Ramadhan seumpama sebuah madrasah tempat kita dibina, dilatih dan diuji, tentu ada indikatornya untuk dapat menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak. Tanpa kita sadari, seleksi tersebut dimulai sejak jauh di awal, sebab peserta Ramadhan hanyalah untuk mereka yang beriman. Kemudian, seleksi itu terus berlangsung hingga akhir, dimana disana akan lebih terseleksi lagi siapakah diantara hamba Allah itu yang mendapat kemenangan. Pertanyaannya, akankah kemenangan itu menjadi milik kita?

Hari-hari pertama Ramadhan biasanya masih terasa euforianya. Semua yang menjadi target harian dilakukan dengan penuh semangat. Hal yang terjadi di mesjid atau surau juga tidak jauh beda: orang-orang memenuhi seluruh penjuru ruangan dan jejeran sandal-sandal di mesjid pun berhamburan. Tapi, apa yang terjadi setelahnya, setelah hari-hari Ramadhan berlalu hingga hampir mencapai akhirnya? Bukankah semakin sedikit mereka yang bisa mempertahankan semangat itu? Belum lagi ketika menjelang Idul Fitri dimana fokus kita mulai terbagi dengan baju lebaran, kue lebaran, masakan-masakan khas tanah kelahiran, THR, dan hal lain yang tanpa sadar membuat fokus kita bergeser hingga lupalah kita bahwa di 10 hari terakhir Allah sedang membuka pintu ampunan.

Hmm, tapi, itu adalah diri kita yang dulu. Biarlah itu semua menjadi catatan saja sebab seluruhnya telah berlalu. Saat ini, kita dihadapkan pada sebuah kesempatan baru: kesempatan menghidupkan 30 hari Ramadhan dengan perbaikan-perbaikan agar kita dapat memenuhi indikator kelulusan yang membuat kita layak mendapatkan kemenangan. 

Mungkin harapan ini masih terlalu cepat, tapi semoga kita termasuk orang-orang yang nantinya bergembira bersama takbir kemenangan di malam terakhir Ramadhan, bersama ketakwaan kita yang juga meningkat karena Ramadhan.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 9

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Kamis, 10 Mei 2018

Hold Yourself


Pernahkah kita merenungkan mengapa ketika berpuasa kita dilarang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar seperti makan, minum dan biologis (bagi yang sudah menikah)? Tentu ada hikmah besar di dalamnya. Esensi mendasarnya adalah supaya kita belajar untuk menahan diri karena Allah tahu bahwa manusia memiliki sifat tidak pernah merasa puas. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali! 

Tapi, memangnya apa arti menahan diri? Menahan diri berarti menahan dan mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang kehadirannya adalah karena hawa nafsu. Luar biasanya, pelatihan terhadap hawa nafsu ini dilakukan dengan puasa; sebuah ibadah rahasia, dimana hanya kita dan Allah yang benar-benar mengetahuinya.

Satu hal yang penting untuk menjadi catatan adalah bahwa mengendalikan keinginan selama berpuasa bukan berarti memupuk keinginan hingga menggunung dan memuaskan seluruhnya dalam satu hitungan ketika waktu berbuka tiba. Hal yang sama perlu dilakukan juga atas keinginan kita dalam keseharian.

Puasa ibarat perisai untuk menahan keinginan kita yang begitu banyak. Saking banyaknya, seringkali kita banyak menuntut kepada Allah, merasa bahwa rencana kitalah yang paling baik. Padahal, siapa yang paling paham tentang apa yang paling kita butuhkan? 

Maka, di bulan pembinaan terbaik ini, yuk belajar untuk menahan diri dari berbagai keinginan. Keinginan tidak sama dengan kebutuhan, bukan? Yuk cerdas membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Semoga Allah mampukan.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 8

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

We Need Allah's Help


Pekan menggulung hari hingga tanpa terasa Ramadhan akan segera tiba dalam waktu yang tinggal sebentar lagi. Bagaimana persiapan kita? Sudahkah kita punya target Ramadhan? Sudahkah kita merencanakan amalan terbaik yang akan dipersembahkan kepada Allah? Sudahkah kita siap berjuang untuk meraih sebaik-baik gelar di hadapan Allah? Dan yang terakhir, sudahkah kita menerbangkan setiap rencana itu kepada Allah dan memohon agar Dia memampukan kita dalam menjalaninya? 

Berbekal pemahaman bahwa Ramadhan adalah bulan terbaik dengan sedikit atau banyak rasa takut bahwa ini akan menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup, kita telah menargetkan banyak hal. Dari target harian, pekanan, sampai sebulan. Sadarkah ada satu hal yang terlupa? Ya, kita lupa meminta kepada-Nya agar memampukan kita dalam berupaya dan menjalaninya.

Benar bahwa Allah memerintahkan kita untuk beribadah dan berpuasa agar kita bertakwa, tapi nyatanya kita tidak bisa ibadah tanpa pertolongan-Nya. Tamatnya puasa tahun kemarin, memangnya siapa yang memampukan kalau bukan Dia? Shalat yang setiap hari kita lakukan, memangnya siapa yang melangkahkan kalau bukan Dia? Semua ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, bisakah itu semua bisa terjadi tanpa kehendak-Nya? Tidak, sebab kita membutuhkan-Nya, serupa kita membutuhkan Ramadhan hadir mendidik jiwa kita. 

Maka, atas semua niat ibadah yang telah kita azzamkan, semoga kita senantiasa rendah hati untuk selalu meminta kepada Allah agar dimampukan untuk menjalankannya. Jangan sombong dan bergantung pada diri sebab merasa mampu. Tanpa-Nya, kita bukan (si)apa-(si)apa. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 7

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Sabtu, 05 Mei 2018

Amal Terbaik untuk Ramadhan


Bagi kamu yang senang berbelanja, atau sekedar window shopping ke mall, pasti hafal kalau kebanyakan mall biasanya suka mengadakan diskon besar-besaran saat menjelang akhir tahun, Idul Fitri, atau pada event tertentu lainnya. Diskonnya tidak sedikit, bisa 70-80% bahkan lebih dari itu. Waktunya pun biasanya terbatas, bisa dalam sebulan, 2 minggu, bahkan ada yang dalam semalam saja. Bisa ditebak, pasti akan banyak sekali orang yang berebut memilih barang yang akan dibelinya hingga rela berdesak-desakan dengan pembeli lain agar barang pilihannya tidak diambil orang. Apa alasannya? Mumpung! Mumpung murah maka diborong. Kapan lagi bisa mendapatkan harga semurah itu?

Sadarkah kita? Ramadhan pun menawarkan banyak sekali penawaran menarik. Hanya saja bukan barang yang diobral, tapi pahala! Ada banyak sekali peluang kita untuk panen pahala di bulan Ramadhan. Tadarus Al-Quran, menghadiri kajian, tarawih, i'tikaf, sedekah, menyiapkan makanan bagi orang berbuka dan sahur, bahkan tidur di bulan Ramadhan pun bernilai pahala. Jika untuk barang diskonan yang hanya terpakai untuk duniawi saja kita begitu gesit mengejarnya, apakah kita akan diam ketika melihat bursa pahala yang ditawarkan Allah di bulan Ramadhan?

Kabar gembiranya, banyak juga amalan biasa yang pahalanya menjadi luar biasa saat Ramadhan, berkali-kali lipat. Dalam waktu 30 hari, ada kesempatan emas bagi kita untuk bisa panen pahala sebesar-besarnya dan juga mendapat kesempatan akan ampunan Allah seluas-luasnya. Nah, apa yang akan kita lakukan? Dengan amalan seperti apakah kita ingin memenuhi hari-hari di Ramadhan? Apakah hanya dengan semangat yang biasa-biasa saja seperti biasanya?

Yuk, kita jadikan Ramadhan sebagai bulan terbaik kita untuk mengoptimalkan amal dan berburu pahala. Selamat berjuang! Menangkan!

____

#PersiapkanRamadhanmu - Day 6

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Rabu, 02 Mei 2018

Menangkan Ramadhanmu


Saat berpuasa, dimana kita dihadapkan pada kondisi lapar, haus, panas terik, sembari menahan nafsu dan amarah, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Tentu lebih enak jika kita diam di rumah dan tidur-tiduran seharian, bukan? Tapi, ternyata peperangan umat muslim justru banyak terjadi di bulan Ramadhan, lho!

Meski sedang dalam kondisi menahan lapar dan dahaga, ditambah lagi harus menghadapi cuaca yang sangat panas di Jazirah Arab saat bulan Ramadhan, ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat Rasulullah dan para sahabatnya untuk berjuang.

Tentunya kita tidak asing dengan kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar yang terjadi di Bulan Ramadhan, padahal secara jumlah maupun senjata mereka kalah jauh dengan musuh. Namun, Allah berikan pertolongan melalui bala bantuan ribuan malaikat. Di bulan Ramadhan pula, penaklukkan kota Mekkah yang saat itu sangat dekat dengan kejahiliyahan terjadi. Hmm, jika kita menengok sejarah, masih banyak lagi peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan.

Tunggu! Bukankah jika dilihat dari keadaan, semua itu terasa berat dan menyulitkan? Namun dengan segala keterbatasan, Allah karuniakan kemenangan demi kemenangan.

Bagaimana dengan kita? Kemenangan apa yang bisa kita upayakan terjadi di Ramadhan nanti?

Meski saat ini tidak ada peristiwa Perang Badar atau penaklukkan kota Mekkah, ternyata kita pun sedang ada dalam sebuah peperangan penting, yaitu perang melawan diri kita sendiri. Apakah hati kita benar sudah terpaut kepada-Nya atau yang lain? Apakah pikir kita benar sudah berkiblat kepada-Nya atau ternyata masih dirantai dunia? Apakah sikap kita sudah benar mengabdi kepada-Nya atau ternyata masih bersikap sesuai maunya kita?

Apakah kita siap memenangkan peperangan tersulit dalam sejarah? Bersiaplah! Semoga bersama Allah semua akan menjadi lebih mudah.

___

#PersiapkanRamadhanmu - Day 5

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Puasa: Jangan Sampai Hanya di Batas Minimal


Saat kecil dulu, ada satu pengertian puasa yang melekat di ingatan kita, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Entah bagaimana, pemahaman akan definisi tersebut terus terbawa hingga kita dewasa. Hmm, pengertian itu benar, tapi ada esensi lain yang perlu kita tengok agar puasa kita lebih optimal. Apakah itu?

Sebenarnya, puasa tidak hanya berarti menahan diri untuk tidak makan, minum, marah, atau memperturuti hawa nafsu. Jika puasa kita hanya sebatas itu, apa bedanya dengan anak kecil yang baru belajar puasa? Itu barulah puasa dalam batas minimalnya. Dengan kemampuan berpikir kita yang sudah jauh berkembang, seharusnya kita bisa menangkap makna dan hikmah puasa yang lebih dari itu.

Puasa juga berarti mengajak seluruh indera dan pikiran kita untuk juga berpuasa, yaitu dengan mempuasakan mata untuk tidak melihat hal-hal yang tidak boleh dilihat, mempuasakan telinga untuk tidak mendengar hal-hal yang tidak boleh didengar, mempuasakan lisan untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak layak dibicarakan, dan yang tak kalah penting: mempuasakan pikiran dari hanya berfokus pada dunia.

Ramadhan ibarat bulan pelatihan untuk membiasakan hal-hal baik. Jika selama ini kita masih belum terbiasa menjaga lisan atau pandangan, saatnya kita membiasakan diri dengan berpuasa. Jika selama ini pikiran kita hanya terfokus kepada hal-hal yang bersifat duniawi, berlatihlah agar mindset dan orientasi kita hanya tertuju pada Allah saja. Sebab, sayang sekali jika 30 hari Ramadhan berlalu, tapi ternyata puasa kita hanya sampai pada batas minimalnya. 

Bagaimana, sudah siap melatih diri di bulan Ramadhan? Yuk, bersiap! Semoga Allah memudahkan kita untuk melatih diri dan jiwa kita untuk dapat berpuasa dengan sebaik-baik maknanya. Selamat berjuang!

___

#PersiapkanRamadhanmu - Day 4

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu


PS: Monmaap lagi-lagi tulisan ini lupa ke upload ontime heuheu 

Jumat, 27 April 2018

The Main Purpose of Ramadhan


Pernahkah kita berpikir, mengapa ada Ramadhan? Untuk apa Allah memerintahkan ibadah puasa di bulan Ramadhan?

Jangan-jangan selama ini kita hanya menjalani sebuah rutinitas tahunan saja tanpa pemaknaan. Jangan-jangan selama ini kita hanya mengikuti apa yang ayah ibu kita lakukan tanpa pernah mencari tahu mengapa kita harus melakukannya. Atau, jangan-jangan selama ini kita hanya mengikuti keramaian karena kebanyakan orang melakukannya tanpa pernah mencari ilmu sebelum merealisasikan amal. Jangan-jangan, ah sudahlah!

Tanpa disadari, Ramadhan demi Ramadhan mungkin seringnya berlalu begitu saja, tanpa pemaknaan, tanpa perbaikan, juga tanpa peningkatan kualitas diri dan kualitas iman. Kita mungkin hanya sibuk dengan rencana buka puasa bersama, liburan lebaran, baju baru, serta hal-hal yang kasat mata lainnya. Kita lupa bahwa sejatinya ada waktu sepanjang 30 hari untuk kita mendidik hati dan jiwa kita agar lebih mendekat kepada-Nya, seraya memperbaiki banyak hal yang salah, terlupa, atau terlewat. Padahal, seperti pesan-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, ibadah puasa diperintahkan kepada kita agar kita bertakwa.

Esensi puasa ternyata bukan sekedar menahan lapar, haus, dan nafsu saja, melainkan agar kita jadi bertakwa. Hmm, tidakkah kemudian kita jadi berpikir bahwa ternyata ada pelajaran di balik menahan lapar, ada pembinaan di balik menahan dahaga, ada pendidikan di balik menahan nafsu, dan semua adalah cara-Nya agar kita menjadi takwa?

Selamat menantikan bulan penuh pendidikan dan pembinaan. Semoga pada akhirnya kita tidak termasuk orang yang merugi, yaitu mereka yang berpuasa tetapi ketakwaannya tidak meningkat.

____


#PersiapkanRamadhanmu Day 3

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Kamis, 26 April 2018

Ramadhan as a Reminder



Pengingat demi pengingat, manakah yang kemudian melekat?

___


Manusia itu pelupa, sering diingatkan, tapi sering juga lupanya. Hmm, jangan-jangan, hal inilah yang membuat kita sebagai manusia mendapat banyak sekali pengingat dari Allah dalam keseharian. 

Ada shalat 5 waktu sebagai pengingat harian, ada shalat Jum'at sebagai pengingat pekanan, dan yang sebentar lagi datang, ada Ramadhan sebagai pengingat tahunan. Pengingat-pengingat itu, tanpa kita sadari, adalah bentuk rezeki-Nya kepada kita.

Bila kita berhitung, berapa kali Allah mengingatkan kita? Ujian-ujian, kecenderungan hati pada kebaikan, kemampuan berpikir, rasa gelisah atas maksiat, nasihat yang tak sengaja kita dengar dari orang lain, ajakan-ajakan untuk menghadiri majelis, dan berbagai situasi dan kondisi yang mendewasakan keimanan kita. Dari semua pengingat itu, manakah yang berhasil melekat? 

Ramadhan adalah salah satu pengingat terbaik yang Allah berikan kepada kita, agar kita kembali mendekat kepada-Nya sehingga jiwa kita menjadi bersih dari hal-hal yang menodai kesuciannya. Akankah kita memanfaatkan Ramadhan sebagai momen terbaik atau sebaliknya?

Jika Allah saja begitu ingin menjaga jiwa kita dan sangat memfasilitasi kebutuhan jiwa hamba-Nya, bagaimana dengan kita? Sebesar apa kita peduli pada pemeliharaan jiwa kita? Selamat menantikan Ramadhan dan membersihkan jiwa kita untuk menuju-Nya.

____


#PersiapkanRamadhanmu Day 2

@novieocktavia dan @una_ha2


Design: @ayambisu

____
PS:tulisan ini harusnya diposting kemarin malam, tapi aku lupa hehe. Jadi hari ini harusnya udah H-19 ya :)

Senin, 23 April 2018

Let's Prepare for Ramadhan!



Jika Ramadhan adalah sebuah perjalanan selama 30 hari, persiapan apakah yang sudah kita lakukan?

___

Ramadhan adalah bulan terbaik diantara bulan-bulan lainnya di sepanjang tahun. Sebab, malamnya adalah sebaik-baik malam, siangnya adalah sebaik-baik siang, dan semua amal shaleh yang dilakukan dalam keseharian di bulan itu akan menjadi amal-amal terbaik. Sayang sekali bukan jika kita tidak mempersiapkan pertemuan dengannya? 

Coba bayangkan jika kita bertemu dengan seorang yang penting, presiden misalnya. Jika seorang presiden akan bertamu ke rumah kita, tentu kita akan menyambutnya dengan penyambutan terbaik, bukan? Tidak hanya itu, kita juga pasti akan memilih pakaian terbaik untuk digunakan. 

Begitu pula dengan Ramadhan. Ramadhan ibarat tamu agung yang di dalamnya Allah membukakan pintu taubat seluas-luasnya, majelis ilmu dan majelis dzikir pun tumbuh subur dimana-mana, seakan memanggil kita yang ingin mendekat kembali kepada Allah. 

Jika untuk liburan yang sebentar dan kesenangan lain yang sementara saja kita biasa mempersiapkannya sejak jauh hari, untuk Ramadhan yang di dalamnya ada banyak pahala yang dijanjikan-Nya, mengapa kita tidak melakukannya?

Persiapan terbaik dari sebuah amal adalah dengan menengok pada hati tentang apa yang mendasarinya. Apakah sudah benar karena iman? Sementara, betapa tingginya urgensi melandasi amal dengan iman, sebab itulah syarat diterimanya amal dan kebaikan yang dilakukan.

Mulailah melihat ke dalam diri. Tengok iman kita, sudah di tingkatan mana ia? Akankah kita membiarkan Ramadhan berlalu tanpa iman yang meningkat? Mari bersiap! Bukan nanti, tapi sekarang.

____

#PersiapkanRamadhanmu - Day 1

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Minggu, 22 April 2018

Behind the Story of #PersiapkanRamadhanmu

A writing project with a friend of mine

Sore itu, aku baru saja pulang dari suatu tempat. Sewaktu menuju parkiran, tiba-tiba ada pesan whatsapp dari temanku, Novie Ocktavia yang bilang kalau dia ingin menulis tentang persiapan Ramadhan dan ngajak kolaborasi. Aku tersenyum membacanya. Bukan karena ajakan kolaborasinya, tapi karena skenario Allah begitu tidak terduga.

Sebetulnya beberapa bulan ini aku sedang tidak percaya diri untuk menulis. Selama 4 bulan ke belakang intensitas menulisku turun drastis, baik di buku harian, di blog, bahkan sekedar menulis caption pun jarang sekali. Sebabnya karena beberapa bulan ke belakang aku lebih sering ngobrol dan berdiskusi, sehingga kebutuhan sharingnya sudah terpenuhi dengan berbicara. Jadi intensitas menulisku berkurang dengan sendirinya. Sekalinya nyobain nulis, mikirnya lamaaa banget. Nggak seluwes biasanya dan waktu menyelesaikan tulisannya juga lebih lama. Jadinya makin nggak PD buat nulis. 

Tapi seperti yang tadi kubilang, skenario Allah seringnya tidak terduga. Di saat lagi nggak PD nulis, malah ada ajakan kolaborasi buat nulis. Udah gitu aku iya-in pula, hahahaa bismillah aja XD

Tapi aku perlu berterima kasih kepada Novie atas ajakan kolaborasi ini. Kalau diingat lagi, dulu kami memang pernah punya wacana untuk berkarya bareng. Alhamdulillah sekarang kesempatannya. :)

#PersiapkanRamadhanmu adalah kumpulan tulisan yang kami tulis berdua tentang mempersiapkan Ramadhan. Sebetulnya tulisan-tulisan tentang persiapan Ramadhan ini adalah untuk kami sendiri. Dengan menulis, kami ingin memacu diri kami agar bisa sebaik mungkin mempersiapkan diri menyambut bulan yang Allah muliakan. 

Insya Allah akan ada 10 tulisan yang akan diposting di Instagram dan blog pribadi kami berdua setiap Senin, Rabu, dan Jumat selama bulan Sya'ban. Semoga bisa menggelorakan semangatmu juga yaa.. Yuk, #PersiapkanRamadhanmu! ^_^

Senin, 05 Maret 2018

How i deal with my feelings about wanting a child

Hai, apa kabar? Lama banget nggak ngeblog, lama nggak nulis juga, jadi masih agak kagok nih. Hehe.. Untuk tulisan kali ini aku mau coba bercerita sedikit tentang pernikahanku #tsaah.. Aku sebetulnya termasuk orang yang jarang banget ya buat cerita tentang kehidupan pernikahanku ke orang lain, apalagi di sosial media.. Tapi semoga dari sharing ini ada hal bermanfaat yang bisa diambil ya!

Usia pernikahanku kini sudah 1 tahun 9 bulan, yang mana 3 bulan lagi bakal menginjak usia 2 tahun. Yeaay alhamdulillah.. Gak nyangka dan gak kerasa, tau-tau udah mau 2 tahun aja.. Banyak banget cerita yang kalo diceritain pastinya nggak akan habis-habis, tapi kali ini aku lebih pengen sharing tentang kehamilan. Wah?? Jadi aku udah hamil? Hemm sejauh ini sih belum yah.. Semoga Allah segera pantaskan aku dan suamiku untuk jadi orangtua ya, doakan saja :)

Sebetulnya dari awal menikah, aku nggak begitu ngoyo banget sih pengen punya anak cepet. Dan nggak baperan juga kalau ada pasangan yang nikahnya setelah aku ternyata punya anaknya duluan. Lebih ke nyerahin ke Allah aja. Kalau dikasih cepet alhamdulillah, kalau nggak dikasih ya berarti belum rezekinya. Karena anak tuh kayak jodoh, kita ngga tau kapan jodoh kita dateng, tapi ketika jodoh itu dihadirkan ya berarti itulah waktu terbaiknya. Nah begitu juga soal anak, nggak ada yang tau juga kan kapan nongolnya itu si debay? *cie si una ngomongin jodoh dan anak XD

Alhamdulillahnya, orangtua dan orang-orang di sekitarku juga nggak nanyain mulu, "Kapan hamil? Kapan punya anak? Kapan ngasih cucu?" atau misal ngasih tips-tips biar cepet punya anak atau nyuruh-nyuruh periksa ke dokter juga nggak.. Alhamdulillah pisan jadi akunya juga nggak stress dan dibawa nyantai.

Tapi bukan berarti jadinya sama sekali nggak ikhtiar, ikhtiar pasti ada kok, cuma ya ga perlu diumbar-umbar juga kan yak. Hehe. Aku sih lebih nyibukkin diri aku sama kegiatan positif, baca-baca tentang parenting, tentang pengasuhan dan menghadiri kajian ilmu biar nanti kalau dede bayinya udah ada ya tinggal dipraktekkin aja. Yah walaupun aku tahu terkadang kenyataan tidak sesuai dengan teori (haha) tapi belajar mah tetep harus dong, apalagi ibu adalah madrasah pertama buat anak, jadi jangan sampe kosong-kosong banget gitu otaknya, apalagi tentang ilmu tauhid yang wajib banget diajarin ke anak :)

Di awal-awal menanti kehadiran si buah hati, perasaannya masih santai-santai aja, jadinya aku menikmati aja dulu masa-masa pacaran bareng suami.. Hehe.. Tapi menjelang 1 tahun pernikahan, mulai tuh rada serius dipikirinnya. Ditambah lagi berbagai info bilang katanya kalau udah 1 tahun perlu diperiksain. Kalau belum 1 tahun mah normal kalau belum hamil-hamil karena bisa jadi tubuhnya masih menyesuaikan dll, gitu sih yang aku baca dan dengar.. So, aku rada khawatir juga sih waktu itu..

Di samping itu, aku juga nggak bisa nolak perasaan kalau ternyata aku pengen jadi ibu.. Suka ada perasaan rindu pengen punya anak, mungkin karena emang udah fitrahnya kali ya. Setomboy2nya aku dulu, ternyata punya anak mah kepengen juga. Apalagi kalau ngeliat bayi baru lahir tuh rasanya beuhhh undescribable feeling banget deh! Gemes-gemes gimanaaaa gitu :'3

Jadi sempet tuh di 3 bulan pertama setelah first anniversary, aku nangis mulu tiap hari pertama datang bulan. Haha! Bapernya lebih karena rasa rindu pengen punya anak tea, jadinya agak-agak mellow gitu.. Tapi ya semua dikembalikan lagi aja ke Allah. Allah pasti tahu kapan waktu yang terbaik untuk aku menjadi seorang ibu, ya kan ;)

Sebetulnya, aku nemu satu ayat Quran yang sangat menguatkanku waktu itu. Ada di QS. Al-Kahfi (18) ayat 46, bunyinya begini, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." Euhh nyesss adem pisan bacanya. Abis baca ayat itu, aku jadi sadar ternyata orientasi berharapku mulai bergeser. Padahal kata Allah, istiqomah dalam beramal sholeh lebih patut untuk dijadikan harapan dan dilangitkan dalam doa-doa kita kepada-Nya. Karena banyak juga orangtua yang ketika dihadirkan anak dan harta yang melimpah, tidak sedikit mereka yang jadi menduakan Allah dalam cinta. Padahal cinta yang tertinggi hanya milik Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya, ya kan? Cek deh QS. At-Taubah (9):24 :)

Setelah memaknai ayat itu, alhamdulillah jadi bisa berdamai lagi sama diri sendiri dan sama keadaan. Alhamdulillah juga udah nggak pernah mellow lagi tiap datang bulan, hehe. Jadi belajar juga untuk mensyukuri apa-apa yang sudah ada dibanding meratapi hal-hal yang belum terwujud.

Rasa rindu untuk menjadi ibu masih tetap ada, tentu saja. Tapi biar Allah saja yang menilai, kapan aku layak untuk menjadi seorang ibu. Mungkin Allah masih ingin aku belajar untuk memprioritaskan cinta, agar hanya ada Allah di urutan pertama. :)

Sekian sharingnyaa.. Semoga bermanfaat dan bisa jadi penguat untuk para calon ibu yang juga sedang menanti merasakan sensasi ada bayi mungil gerak-gerak dalem perut. Hihi..

#PICBBdanPPD
#inspirasiceria
#pojokilmuceria
#tugasfebruari2018

Selasa, 10 Oktober 2017

A Thank You to Myself

Many things happened. Alhamdulillah masih dikasih umur, berarti masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Nikmat hidup ternyata jadi salah satu nikmat yang sering terlalaikan ya.. Pernah nggak mikir, gimana kalau besok mati? Masih dikasih hidup hari ini aja itu udah luar biasa banget :''

Artinya masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Masih ada kesempatan untuk meraup pundi-pundi amal sholeh buat bekal ke alam akhirat nanti. Semoga aja matinya dalam keadaan terbaik ya :" *lalu mellow*

In this post, I just want to simply thank my self. Baru sadar akhir-akhir ini sepertinya mem-push diri terlalu keras, sampai-sampai lupa untuk berterima kasih ke diri sendiri. Yang ada ya tingkat stress meningkat, dan capek liat keadaan malah nggak bener-bener. Haha. Padahal biang keladinya diri sendiri yang salah. Salah memandang situasi. Yang harusnya dilihat dan disikapi secara netral, malah dibiaskan oleh asumsi-asumsi yang dibuat sendiri. Hemm.. It's okay.. 

Terima kasih wahai diri, atas setiap peluh, keringat, tenaga, dan upaya.. Baik yang membuahkan hasil maupun yang tidak, kamu hebat karena sudah berusaha.

Terima kasih karena mau tetap berlari walau tertatih, mau tetap mendaki walau sukar, mau tetap maju walau merintih.. Kamu mengagumkan karena memilih untuk tetap bertahan walaupun mundur ke belakang bisa saja menjadi pilihan.

Terima kasih untuk setiap cita-cita yang kamu pelihara, setiap keingintahuan yang kau cari jawabannya dan semangat belajar yang menjadikan dirimu semakin bertumbuh. Terbaik.

Dan terima kasih, telah menerima dan mencintai dirimu seutuhnya. Alhamdulillah. Allah yang Maha Tinggi. Semoga selalu mau merendah di hadapan-Nya :)

Minggu, 10 September 2017

Assalamu'alaikum :D

I'm back guys. Aku nggak tau ada yang kangen tulisan aku atau ngga, tapi yang pasti aku kangen nulis di blog iniii. So, postingan kali ini dapat dipastikan sebagian besarnya adalah curhat. Jadi yang ngga mau baca curhatan aku mending skip aja. Hehe.

Buat orang yang kenal aku atau ngikutin tulisan aku pasti tau kalau aku punya kebiasaan nulis buku harian. Guess what, aku juga rada lama berhenti nulis diari. Awalnya gara-gara pergelangan tangan tiba-tiba sakit dan rada bikin nyut-nyutan kalau nulis, jadi libur dulu deh nulisnya. Eh tapi malah keterusan. Jadilah si buku harian aku anggurin berbulan-bulan. Dan entah ada angin apa tiba-tiba jadi kangen lagi buat nulis. Sampe-sampe kemarin sekalinya nulis langsung habis 2 lembar. Hoho. Terus malah pengen nulis di blog lagi karena ternyata postingan terakhir bulan Mei kemaren. Hiks.

Tapi kebiasaan baca postingan blog-blog orang yang ada di dashboard-ku mah tetep kok. Terus malah jadi iri sendiri kenapa orang-orang mah pada konsisten nulisnya teh, ai aku mah semaunya weh. Padahal sebetulnya banyak banget hal yang bisa dibagi atau bahkan cuma sekedar untuk reminder diri. Jadi semacam kehilangan momen gitu kalau nggak ditulis, terus nyesel sendiri deh.

Jadi inginnya sih, tulisan ini jadi awal buat aku lebih produktif lagi buat nulis. Kadang pengen banget sharing tentang kehidupan. Maklum, anaknya teh pemikir banget. Apa-apa pasti dipikirin, dianalisis kenapa bisa begini begitu, hikmahnya apa, dan lain-lain. Semacam pengen nyari giant puzzle dari kehidupan ini. Hipotesisnya sih sejauh ini, apapun itu, semua ternyata kembali ke Allah. Belajar ilmu apapun, ternyata ujung-ujungnya memperlihatkan ke-Maha Besar-an Allah. Takdir apapun yang terjadi, semua adalah cara Allah untuk menguji hamba-Nya, atau menunjukkan kasih sayang-Nya. Intinya mah Allah lagi Allah terus weh pokonya mah. 

Harapannya, tulisan-tulisan di blog ini bisa mengajak kita berpikir dan merasakan, bahwa ternyata Allah begitu sayang sama hamba-Nya. Jika sudah bisa merasakannya, dapat dipastikan kita juga makin cinta sama Allah. Semoga.

Mari kita mulai lagi kebiasaan baik. Jika dalam seminggu tidak menemukan tulisan baruku, please kindly remind me. Thank you :)

Selasa, 02 Mei 2017

Hidayah itu Rezeki

Hidayah itu rezeki. Seperti Nabi Muhammad yang didampingi Jibril dan Mikail saat Isra Mi'raj, ketika kita menghadiri sebuah majelis ilmu untuk berniat memahami ayat-ayat-Nya, Jibril berperan memberikan hidayah dan ilmu Allah itu kepada kita, dan Mikail pun turun memberikan rezeki berupa pemahaman dan keyakinan. Sehingga jelaslah bahwa sejatinya setiap hamba diperjalankan oleh Allah di dalam kehidupannya.

Rangkaian kejadian dalam hidup kita, bertemunya diri dengan ujian-ujian kehidupan, pertemuan demi pertemuan yang mungkin terkesan seperti sebuah 'kebetulan', itu semua adalah bukti keMahaBesaran Allah bahwa Allah adalah pengatur skenario terbaik bagi kehidupan kita, yang dengan itu Dia memberikan berbagai pelajaran hidup dan hikmah pada kita.

Dari yang dulunya tidak tahu apa-apa, Allah ajarkan melalui perantara-Nya. Dari yang dulunya berada dalam keburukan, Allah hantarkan menuju kebaikan. Dari yang dulunya kongkow kongkow tanpa tujuan, Allah tunjukkan teman-teman yang saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Dari yang dulunya jauh dari Allah, kini mendekat kepadaNya adalah sesuatu hal yang sangat dirindukan. 

Bukankah indah, ketika menyadari bahwa Allah sudah terlampau baik pada diri kita? Bukankah bersyukur, ketika kita sudah dipilihkan Allah jalan hidup dan wadah terbaik untuk kita menumbuhkan benih-benih fitrah ketauhidan kita?

Maka kepada diri, jemputlah terus hidayah itu, seperti halnya rezeki yang perlu diupayakan.

Kepada orang lain, bagilah keindahan itu, agar keMahaBaikan Allah tidak hanya dirasakan oleh kita seorang.

Dan kepada Allah, berterima kasihlah, dengan sekuatnya mengupayakan syukur.


Selamat mengupayakan syukur terbaikmu hari ini!