Senin, 27 Agustus 2018

Monday Love Letter #6 - Find Your "Two Eases"


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Waah sudah bertemu hari Senin lagi, bagaimanakah harimu seminggu ke belakang? Semoga hari-harimu selalu dipenuhi dengan aktivitas yang positif dan bermanfaat yaa, sister :)

Seminggu ke belakang saya merasakan kepadatan aktivitas yang cukup hectic sebenarnya. Hampir setiap hari saya pulang ke rumah selepas isya dalam keadaan sangat lelah. Apalagi Bandung seminggu kemarin terasa panas sekali di siang harinya. Anehnya, saya merasa senang dalam lelah itu! Walaupun fisik saya lelah, tapi hati ini merasa lega, adem. Membuat saya mengimani dalam hati bahwa setiap lelah karena lillah tidak akan akan terasa lelahnya. Subhanallah ya :')

Suatu hari, ketika saya sedang mengendarai motor menuju ke suatu tempat, saya tiba-tiba teringat pada sebuah video yang beberapa minggu lalu saya tonton. Video berdurasi kurang dari 5 menit itu berbicara tentang 2:1 Ratio Life Hack. Wah, Apa tuh?? Ternyata life hack ini diambil dari surat al-Insyirah, bahwa dalam surat itu Allah mengulang 2 ayat yang isinya sama; "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" dan ayat ini diulang 2 kali secara beriringan. Ini berarti bahwa di setiap kesulitan kita, di saat yang sama Allah juga memberi 2 kemudahan. Jika kita yakin akan hal ini, tentu menghadapi masalah akan lebih tenang bukan? Bermodalkan keyakinan ini, setiap kali kita menghadapi suatu masalah, yakinlah bahwa Allah memberi kita kemudahan dalam urusan yang lain.

Pernahkah kamu mengalami hal semacam itu? Dihimpit oleh suatu masalah tapi ternyata Allah memberi jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Atau ketika sedang ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu waktu, satu pekerjaan bermasalah, tapi pada pekerjaan lainnya Allah memberi kemudahan sehingga kita bisa menyelesaikan semuanya dengan usaha yang mungkin tidaklah seberapa.

Lihatlah betapa Allah begitu adil, Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan tanpa jalan keluar. Bukankah seberat apapun beban yang kita pikul, selalu saja ada alasan untuk bisa bersyukur? Tinggal seberapa besar kepekaan kita untuk bisa menemukan dan mensyukuri "kemudahan" yang Allah berikan itu.

2:1 Ratio Life Hack itulah yang saya praktekkan selama ke-hectic-an seminggu kemarin. Ketika menghadapi keadaan yang genting, tidak lantas menjadi panik karena yakin bahwa Allah pasti memberikan kemudahan-kemudahan lain. Dan benar saja, selang beberapa waktu, situasi kembali aman terkendali.

Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kesulitan dalam hidupmu? Atau justru sedang mengalaminya saat ini? It's okay, dear.. Kalau kata video yang saya tonton itu, "Find your two eases". Temukan 2 kemudahan dalam 1 kesulitan yang kamu hadapi, pasti ada! Bersyukurlah dengan yang 2 itu, bukan meratapi 1 kesulitan terus-menerus. Dengan mempraktekkan hal ini, insya Allah kita akan menjadi lebih mudah bersyukur dan merasakan kehadiran Allah.

Tenanglah, karena bersama Allah, semua akan baik-baik saja.


PS. 
Untukmu yang penasaran  isi videonya, silakan klik disini
Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 20 Agustus 2018

Monday Love Letter #5 - Bersabarlah untuk Dirimu


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Senang sekali bisa menulis lagi dan mengirim surat cinta untuk perempuan hebat sepertimu! Tetap bersinar dan jadi berharga ya sister, karena orang pertama yang harus mencintai dirimu adalah dirimu sendiri tentu saja! :D

Tapi sebagai sesama perempuan, saya juga pernah merasakan bahwa mencintai diri sendiri adalah hal yang membutuhkan proses. Apalagi jika kita pernah punya memori masa lalu yang tidak menyenangkan dan membuat kita membenci diri sendiri, prosesnya tentu akan lebih berat lagi.

Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri, karena sebetulnya setiap diri kita pasti tahu caranya. Hanya saja, kita perlu untuk bersabar untuk menjalani prosesnya. Setiap yang membutuhkan proses, tentu membutuhkan waktu. Dan setiap yang membutuhkan waktu, tentu membutuhkan kesabaran. Maka bersabarlah untuk dirimu sendiri.

Seperti ulat yang tetap menikmati setiap proses dalam kepompongnya hingga ia menjadi kupu-kupu yang cantik. Bayangkan jika ulat tersebut tidak cukup sabar menjalani prosesnya, sayap-sayapnya tidak akan menjadi kuat dan indah. Ia tidak akan mampu terbang karena proses yang belum sepenuhnya selesai. Bahkan ia bisa saja mati jika memaksa untuk keluar dari kepompong sebelum waktunya. Begitupun kamu, dear.. Nikmatilah setiap proses metamorfosismu sampai kamu bisa menerima dan mencintai dirimu sendiri seutuhnya.

Kamu pernah mengunduh aplikasi di ponselmu, kan? Bukankah hal sesederhana mengunduh dan meng-install aplikasi atau software pun ada prosesnya? Kira-kira apa yang akan terjadi jika kita meng-cancel proses itu sebelum 100%? Gagal. Harus mengulang dari awal. Butuh waktu lagi. Butuh menunggu dengan waktu yang lebih lama. Hanya karena kita tidak bersabar menunggu, akhirnya kita harus membayarnya dengan waktu yang lebih lama.

Kita yang selama ini mungkin terbiasa merendahkan diri sendiri, terbiasa meracuni pikiran kita dengan hal-hal yang negatif, terbiasa memandang negatif terhadap diri sendiri, lalu di satu waktu ingin berusaha mengubahnya secara instan, tentu tidak akan semudah itu. Tapi bagaimanapun juga, apresiasilah dirimu yang ingin berubah menjadi lebih baik! Karena keinginan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik adalah hal yang patut disyukuri dan disambut dengan baik.

Setelahnya, bersedialah untuk menjalani prosesnya. Kita harus mau berproses untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dengan yang lebih baik. Misalnya dengan melatih diri untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki, melatih diri tersenyum di depan cermin dan mengatakan "aku mencintaimu, diriku." Atau dengan membuat surat untuk dirimu sendiri untuk mengungkapkan rasa terima kasih terhadap dirimu sendiri. Ya, dirimu harus diapresiasi! Oleh dirimu sendiri.

Bersabarlah disetiap prosesnya. Sampai kebiasaan-kebiasaan baik itu berhasil ter-install kedalam dirimu dan kamu bisa dengan bangga berdiri di atas kakimu sendiri karena rasa cinta dan penerimaan yang besar terhadap dirimu sendiri. Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan biarkan impianmu untuk terbang kalah oleh dirimu sendiri. Ingat, Allah bersamamu.


PS. Surat-surat dalam Monday Love Letter lainnya bisa diakses di http://tinyurl.com/mondayloveletter

Senin, 13 Agustus 2018

Monday Love Letter #4 - Hidup kayak Air Mengalir? Bisa sih, tapi...


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Alhamdulillah bertemu lagi dengan hari Senin setelah melewati satu pekan yang -bagi saya sih- sepekan kemarin berjalan cepat sekali. Apakah kamu merasakannya juga? :)

Anyway, sudah 2 bulan ini saya sedang membiasakan diri lagi untuk membuat buku jurnal harian, yaitu sebuah buku khusus yang berisi aktivitas sehari-hari beserta serangkaian to do list-nya. Tujuannya agar saya bisa "melihat" sudah sejauh apa perkembangan diri saya selama sepekan, sebulan, bahkan setahun. Memiliki jurnal harian membuatku bisa mengukur produktivitas selama sepekan; sudah melakukan apa, sudah bisa apa saja, target mana yang sudah tercapai, besok harus melakukan apa, dsb. Dan tentu saja, dengan cara ini  akan lebih mudah mengevaluasi diri di setiap minggunya karena progresnya terlihat dan bisa diukur.

Memiliki jurnal harian juga menjadi sarana pribadiku untuk lebih bersyukur. Begitu terasa Ke-MahaBaik-an Allah karena masih memberikan kesempatan untuk bertumbuh dan beramal shaleh. Selain itu, saya juga jadi lebih menghargai waktu. Bukankah dari setiap tanggal di kalender yang bergerak maju, menunjukkan bahwa setiap hari jatah hidup kita berkurang? Setiap kali kita bernafas, bukankah kita baru saja menggunakan jatah sedetik waktu kita, tanpa kita tahu berapa detik waktu lagi yang menjadi jatah kita. Ya, setiap orang diberi jatah waktu oleh Allah, sudah bijakkah kita menggunakannya?

"Kenapa sih kok kayaknya hidup harus seribet itu? Harus susah-susah bikin target, harus repot-repot evaluasi, kayaknya menjalani hidup seperti biasa pun hidup saya fine-fine aja tuh. Kayak air mengalir ajalah hidup mah.." Hehe, adakah yang berpikiran begitu? Memang sih, kita bisa saja hidup walau tanpa tujuan. Sekolah, kuliah, lalu lulus. Mencari uang lalu menghabiskannya. Bekerja, menikah lalu menikmati hidup hingga tua. Bisa saja. Tapi apakah hidup kita jadi bermakna?

Hal itu sama saja seperti kita mengendarai mobil, tapi langsung jalan tanpa tujuan. Bodo amat mau kemana deh, yang penting jalan. Bisa jalan mobilnya? Bisa sih, tapi nggak jelas kemananya. Yang ada malah ngabisin energi dan ngabisin bensin. Bisa juga malah nyasar. Kan sayang energinya, sayang waktunya, sayang bensinnya. Dipakai, habis, tapi tidak membawa kemana-mana.

Hidup pun begitu. Tanpa tujuan, kita hanya akan menghabiskan energi kita, waktu kita, materi kita, untuk sesuatu yang tidak membawa kita kemana-mana dan tidak menjadi siapa-siapa. Merasa sudah berjalan jauh padahal kaki kita masih berada dibelakang garis start. Rugi atau rugi banget?

So, penting ya ternyata untuk menentukan tujuan? Jika kita naik mobil dengan tujuan jadinya akan terukur, berapa kilo sih jaraknya? Butuh bensin berapa liter ya? Harus ke rest area atau nggak? Perlu siapin uang berapa? Semuanya akan jadi efektif dan efisien karena kita menghabiskan uang, waktu, dan tenaga untuk sesuatu yang jelas. Hidup pun begitu, kawan. Kita tidak bisa sekedar menggunakan jatah waktu kita tanpa kita tahu kita mau kemana, hidup kita untuk apa, mau mencapai apa.

"Baiklah, mulai saat ini saya akan membuat tujuan hidup saya! Saya akan jadi orang sukses, jadi orang kaya, jadi terkenal, keliling dunia, dan sebagainya." Eits, tunggu dulu. Menentukan tujuan memang penting, tapi jangan asal. Mulailah dari bertanya mengapa kita hidup. Bukankah Allah menciptakan kita dengan tujuan? Maka selaraskanlah tujuan kita dengan tujuan Dia yang menciptakan. Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan kita, masa' kita hidup semau kita sih? Da kita mah apa atuh, ibarat debu yang dibelah triliyunan kali. Cuma seorang hamba, lemah pula. Ga akan bisa hidup kalo nggak diatur sama Allah!

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" 
(QS. Adz-Dzariyat (51) : 56))

Nah, ketika kita sudah menemukan tujuan Allah menciptakan kita, maka hiduplah dengan tujuan itu. Dengan memegang tujuan bahwa hidup kita adalah untuk beribadah, akan mudah bagi kita untuk mengukur diri. Sudah belum aktivitas kita ditujukan untuk dan kepada Allah? Kita nggak akan rungsing sama distraksi dari lingkungan. Diajak ini hayu, diajak itu hayu. Nggak akan pusing sama pencapaian orang. Orang punya ini, mau. Orang punya itu, pengen. Orang bisa ini itu, galau. Jelas lah, karena kita nggak fokus sama apa yang menjadi tujuan kita. Malah sibuk sama perjalanan orang lain dan mengabaikan perjalanan hidup kita sendiri.

Ingat, ladies. Waktu kita terbatas. Jangan habiskan waktu kita dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan kita. Itu sama saja seperti menghabiskan bensin ke tempat yang bukan menjadi destinasi kita. Lebar ih da bensin teh sekarang mahal.. Hehe bercanda. Intinya, gunakanlah jatah waktu kita dengan bijak, efektif dan efisien sesuai dengan tujuan Allah menciptakan kita. Jangan tergiur dengan pencapaian orang lain karena kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain, tapi dengan diri kita sendiri. Dan jangan lupa kumpulkan bekal untuk kembali "pulang". Kita di dunia cuma transit, sist.

Senin, 06 Agustus 2018

Monday Love Letter #3 - Why You Should Be Grateful

Assalamu'alaikum sisters fillah :)

Kamu mungkin masih ingat, minggu lalu saya menulis tentang produktivitas, lalu terjadilah satu minggu yang tiba-tiba penuh dengan agenda. Seakan Allah ingin memvalidasi pernyataan saya Senin lalu. Nah lho, dengan agenda sebanyak ini, bisa nggak ngatur waktunya? Bisa nggak lawan malasnya? Hehe. Alhamdulillah semuanya terlewati dengan lancar, tentunya tidak lepas dari pertolongan Allah juga :)

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu atau ketika sedang merenungi tentang apa saja yang sudah saya lakukan hari itu, saya selalu merasa bahwa Allah sangat baik. Terlalu baik malah, sampai-sampai saya sering bertanya-tanya, pantaskah saya menerima begitu banyak kebaikan dari Allah ini. Ketika saya meminta sesuatu, lalu Allah kabulkan. Ketika doa saya belum diperkenankan oleh-Nya, ternyata saya mendapat sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya pintakan itu. Ketika saya berusaha dengan ikhtiar yang seadanya, Allah beri hasil yang banyak sekali, lengkap dengan bonusnya! Banyak sekali kejadian-kejadian dalam hidup yang membuatku semakin membenarkan bahwa Allah memang Maha Baik, seperti bunyi ayat pertama dalam surat pembuka dalam al-Quran, bahwa Allah itu; Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Kamu mungkin pernah bertemu banyak orang baik di dunia ini. Entah itu keluargamu, sahabatmu, bahkan sekedar orang asing yang tak sengaja bertemu denganmu di jalan. Di dunia ini memang selalu saja ada orang-orang baik dengan hati yang tulus, tak segan memberi dan tak berharap dibalas. Bayangkan jika setiap hari kita didatangi orang seperti itu, mencurahkan kebaikan yang tanpa henti kepada kita, apa rasanya? Awal-awal mungkin kita sangat berterima kasih, lama-lama jadi merasa nggak enak karena dia terlalu baik. Hehe, lucu ya manusia, bisa merasa nggak enakan sama orang yang terlalu baik.

Biasanya hal ini terjadi jika kita ada di posisi "sering menerima" sehingga muncullah perasaan tidak enak karena kita merasa kurang cukup membalas kebaikannya. Begitu pula dengan menerima terlalu banyak. Bayangkan saja jika kita melakukan pekerjaan yang upahnya hanya setara dengan dengan seratus ribu rupiah, tapi kita dibayar dengan uang satu juta, bukankan respon normal orang kebanyakan adalah tercengang dan menolak terlebih dulu? Kenapa? Karena kita sadar bahwa pekerjaan kita tidak layak untuk dibayar sebesar itu.

Nah! Allah jauuuuh lebih baik daripada orang baik yang ada di belahan bumi manapun! Tentu kalian setuju bahwa Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang sangaaat banyak. Tidak usah jauh-jauh melihat harta benda yang kita miliki. Kita sedang diam seperti saat inipun, sudah banyak sekali nikmat Allah yang bisa kita sebutkan. Pernahkah kita meminta oksigen kepada Allah agar kita bisa bernafas? Pernahkah kita memantau setiap degup jantung dan aliran darah di tubuh kita? Pernahkah kita membayangkan seandainya mata kita tidak bisa berkedip, atau sistem percernaan kita terganggu, atau kulit kita tidak memiliki kemampuan menutup luka dengan sendirinya? Begitulah Maha Baiknya Allah, nikmatnya senantiasa tercurah tanpa henti, baik yang kita minta, maupun yang tidak kita minta. Sadarkah kita?

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." -QS. An-Nahl (16) : 18

Coba pikirkan, bagaimana jika kita diharuskan membalas semua kebaikan dari Allah, sanggupkah? Bagaimana jika kita harus membayar nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, mampukah? Menghitungnya saja tidak mampu, apalagi membalasnya. Lantas, adakah sedikitnya rasa malu kita terhadap Allah? Pernahkah kita merasa "nggak enak" kepada Allah sementara kita sudah begitu banyak menikmati berbagai rezeki dan fasilitas yang Allah berikan. Kita telah menerima banyak, tapi hanya bisa membalas sedikit, bahkan lebih parah dari itu-- kita selalu saja merasa kurang.

Meningkatkan syukur adalah PR besar kita. Syukur yang tidak sekedar ucapan hamdallah, tapi menjelma dalam langkah. Syukur yang bukan sebatas di hati, melainkan sampai menjadi amal dan ketaatan. Bukankah Allah tidak meminta banyak dari kita selain agar kita hidup dalam taat dan mau diatur dengan aturan-Nya.. Maka tidak bisakah kita menjadi seorang hamba yang taat sebagai wujud syukur dan terima kasih kita kepada-Nya?

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah, ketika kita berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya, Allah kelak akan hadiahkan surga untuk kita. Wujud syukur yang kita niatkan untuk membalas kebaikan Allah, malah Allah balas lagi dengan nikmat yang tak terhitung besarnya. Lihatlah, betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang! :')

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" -QS. Ibrahim (14): 7

Mari kita sama-sama mengupayakan syukur terbaik kepada Allah.

Senin, 30 Juli 2018

Monday Love Letter #2 - Say Hi to Your Productive Day!

Assalamu'alaikum! Alhamdulillah bisa sampai di Monday Love Letter yang kedua, buat kamu yang terlewat membaca yang pertama, bisa cari di label "Monday Love Letter" yang ada di sebelah kanan blog ini. Dan kalau kamu ingin mendapatkan suratnya secara personal ke emailmu, bisa dengan cara meninggalkan emailmu di komentar, ya! Nanti setiap hari Senin kamu akan mendapatkan 2 Monday Love Letter dariku dan dari partnerku (we're planning a project now, this is just a spoiler, hehe). Syaratnya satu untuk bisa subcribe: ini khusus UNTUK PEREMPUAN :)


***
Pernahkah kamu merasakan "haahhh today I don't feel like doing anything" di awal harimu? Susah beranjak dari kasur, leyeh-leyeh main gadget sementara banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Ah, kurasa semua orang pasti pernah begitu. Jika mengawali hari dengan bermalas-malasan seperti itu, yang biasanya terjadi adalah kemungkinan besar kamu memang tidak akan melakukan apa-apa hari itu, say bye to productive day. Bahkan terkadang kita membuat pemakluman kepada diri sendiri, "biarlah sekali-kali malas-malasan seharian, pekerjaan hari ini akan kukerjakan besok". Nyatanya, besok pekerjaan malah menumpuk dan kita jadi keburu malas mengerjakan serangkaian to do list yang bejibun. Hayooo siapa yang pernah begituu? Tenang, saja juga pernah kok. Hehe.

Tapi apakah jika manusia memang punya sifat malas, lantas kita memakluminya? Apakah setelah kita tahu betapa merugi orang yang menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, kita tetap membiarkan 24 jam kita yang berharga berlalu begitu saja?

Hari ini sebetulnya saya sedang merasa ingin bermalas-malasan. Tapi nyatanya, diri ini tidak merasa tenang karena saya tahu jika saya tidak bisa produktif hari ini, saya pasti akan menyesal di akhir hari. Lalu bagaimana caranya memutus rasa malas? Tidak ada cara lain selain MEMAKSAKAN DIRI. Jika kamu harus menulis skripsi, maka segeralah bangkit dan buka laptopmu. Jika kamu sedang malas kuliah, maka segeralah bersiap dan berangkat ke kampus. Jika kamu seorang ibu rumah tangga yang sedang malas memasak, maka siapkan bahan-bahan dan mulailah memasak. Jika kamu bekerja di kantor dan harus menginput arsip yang begitu banyak, mulailah dengan mengerjakan satu arsip. Tidak ada rumus agar tidak malas kecuali kamu bergerak! Hanya itu yang bisa mengalahkan kemalasanmu. Tapi percayalah, once you get started, you'll keep going.

Pagi tadi, untuk menghalau rasa malas saya bergegas wudhu dan melakukan shalat Dhuha. Lalu sebuah ayat yang sangat saya hafal terlintas di kepala; wa minannaasi may-yasyrii nafsahubthighooa mardhotillah, wallahu raufum bil 'ibaad.. Surat Al-Baqarah ayat 207 yang artinya, "Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." Ayat ini tentu saja bukan sekedar kalimat berita yang hanya perlu ditanggapi dengan "oohh begitu.." lalu selesai, bukankah seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah saya yang termasuk kepada "diantara manusia" yang Allah sebutkan? Jika redaksi katanya adalah minannaas, maka berarti tidak semua manusia begitu, pada nyatanya hanya sebagian kecil saja. Masukkah saya pada yang sebagian kecil itu?

Sebetulnya semua manusia itu berkorban, bedanya adalah kepada apa dia berkorban. Ada yang berkorban untuk Allah dan ada yang berkorban kepada selain Allah. Kita kuliah, pasti banyak yang dikorbankan. Kita menikah, menjadi ibu, menggapai cita-cita, berkarir, akan ada banyak sekali hal yang dikorbankan oleh manusia demi tujuannya masing-masing. Pertanyaannya, itu semua untuk siapa? Jangan-jangan itu semua kita lakukan hanya sekedar memenuhi ambisi atau keinginan pribadi kita saja tanpa disambungkan kepada Allah atau kepada cita-cita akhirat kita. Kita bekerja siang malam, demi mewujudkan hal-hal yang mungkin hanya sampai pada sebatas tujuan duniawi saja. Jika untuk hal yang bersifat duniawi kita bisa mengorbankan banyak hal, apakah untuk Allah usaha kita juga sebesar itu?

Hmm.. Jadi kalau dipikir-pikir, sebetulnya orang malas itu tidak ada, ya? Semua orang pasti sibuk beraktivitas, menghabiskan 24 jam yang sama, yang membedakan adalah apakah aktivitasmu itu untuk Allah atau selain Allah? Jika kita bisa menghabiskan malam untuk mengerjakan tugas dari dosen, seharusnya kita juga bisa bangun di malam hari untuk shalat tahajud. Jika kita punya waktu untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di sosial media, seharusnya kita juga bisa menyediakan waktu untuk membaca quran. Jika kita sampai rela menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli gadget baru, kita juga seharusnya bisa menabung untuk berinfak atau berqurban. Hanya kita yang bisa menilai diri kita sendiri, sebenarnya selama ini saya sibuk menghabiskan waktu saya, untuk (si)apa?

Tulisan ini juga untuk diri saya sendiri. Saya pun sedang berlatih sedikit demi sedikit untuk memindahkan orientasi dunia saya kepada orientasi akhirat sepenuhnya. Tidak mudah memang, karena kita cenderung dibiasakan oleh lingkungan dan oleh stereotype yang berlaku di masyarakat bahwa punya harta banyak, punya jabatan tinggi, bisa menikah muda, atau menjadi terkenal itu keren. Seakan ridhonya Allah tidak lebih berharga dari itu semua. Hati-hati ah, kalau sudah begini, bisa-bisa kita tanpa sadar mengecilkan nilai dari keridhoan Allah itu sendiri sehingga merasa berat untuk berkorban dan merasa tidak worth it untuk kita jadikan tujuan. Ngeri.

Lho, kok dari malas jadi nyambung ke berkorban untuk Allah ya? Saya juga sempat heran kenapa ayat itu yang terpikir ketika saya sedang malas pagi tadi. Ternyata memang nyambung kok. Ingat, malas itu tidak ada. Jika saya merasa malas, sebenarnya saya bukan sedang malas, tapi kesibukan saya sedang bukan kepada Allah. Astagfirullah.

Alhamdulillah. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat yang sebetulnya lebih tepat untuk ditujukan kepada diri sendiri ini. Selamat menjalani sisa hari Seninmu dan hari-hari berikutnya dengan lebih produktif, semoga kita termasuk satu dari sebagian manusia yang mengorbankan diri untuk keridhoan Allah. Aamiin..

Senin, 23 Juli 2018

Monday Love Letter #1 - Deep Lesson from Prophet Ibrahim's Story

Assalamu'alaikum! Mau ada sedikit pengumuman niih.. Insya Allah blog ini akan rutin posting setiap hari Senin karena sekarang aku lagi bikin project kecil namanya Monday Love Letter. Semacam tulisan yang dibikin ala-ala kayak surat gitu deeehh.. Kalo nggak kayak surat, ya anggep aja surat lah yaa.. wkwkwk.. Yah seperti yang kita tahu, bagi sebagian orang hari Senin adalah hari yang cukup bikin mager karena harus memulai lagi aktivitas setelah kita bersantai-santai di weekend ya kann.. Haha. Semoga Monday Love Letter ini bisa melecutkan semangat di hari Senin dan bikin kita bisa memulai pekan yang produktif. Bismillah!

So, Stay tune on my blog every monday and you'll find a new post insya Allah (jamnya terserah aku weh yah, mengingat inspirasi itu kadang datengnya ga menentu haha). Thank you! 

***

Di Love Letter perdana ini ada sesuatu yang ingin aku bagi. Jadi kemarin itu ada acara Hujan Safir Sharing Session, temanya Finding the True Love sambil mengangkat dan meneladani kisahnya keluarga Nabi Ibrahim a.s. Kalau denger kata "Ibrahim", tentu kita familiar banget dong sama kejadian fenomenal dimana Nabi Ibrahim harus melaksanakan perintah Allah yaitu menyembelih Ismail, anaknya.

Yang menarik adalah, satu keluarga itu (Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail kecil) semuanya KOMPAK dan SEPAKAT untuk melaksanakan perintah Allah yang secara logika sangat nggak masuk akal itu. Perintahnya nggak main-main loh, nyembelih anak sendiri! Orangtua mana yang tega, coba? Tapi ketika Nabi Ibrahim bertanya kepada istrinya Siti Hajar dan kepada Ismail anaknya, keduanya kompak menjawab, "Jika itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah." Fyuhh, aku nggak kebayang kalau aku ada di posisi mereka, tauhidnya udah level tinggi banget itu mah. Tidak peduli pada logika yang bisa saja berteriak betapa tidak masuk akalnya perintah itu. Pun tidak gentar oleh rasa sayang orangtua kepada anaknya, rasa cinta anak kepada orangtuanya, semuanya dikorbankan demi menaati perintah Allah.

Hingga akhirnya perintah itupun dilaksanakan dan Ismail Allah ganti dengan seekor domba yang besar sebagai tebusan. Sampai-sampai kejadian ini Allah abadikan dalam QS. 37: 102-111 dan menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban. 

Kisah itu Allah ceritakan dalam al-Quran bukan sebatas sebuah dongeng belaka, melainkan untuk kita teladani. Bisakah kita seperti Nabi Ibrahim yang rela "menyembelih" kecintaan terhadap anaknya demi kecintaaan kepada Allah? Sanggupkah kita meneladani Siti Hajar yang sigap mematuhi perintah Allah dan sukses mendidik anaknya menjadi seperti itu? Sudahkah kita mencontoh Ismail yang tak gentar pada satu perintah yang bahkan bisa saja merenggut nyawanya? Masya Allah. Maka tak heran jika Nabi Ibrahim dijuluki bapak Tauhid, karena ia betul-betul sukses menanamkan ketauhidan pada diri istri dan anaknya hingga bisa melahirkan karakter yang siap berkorban apapun demi Allah. Semuanya atas izin Allah.

Luar biasa ya? Sepertinya diri ini masih harus banyak bercermin dan merefleksi diri. Kisah ini jadi contoh nyata bahwa cinta akan selalu meminta pengorbanan. Begitupun cinta kepada Allah, pasti akan Allah uji hingga terbukti bahwa memang kita hanya mencintai Allah saja. Laa ilaaha illallah. Tidak ada yang patut disembah, diibadahi, dan dicintai, kecuali Allah.

Yuk, kita sama-sama belajar mulai sekarang untuk mulai mengikis satu per satu hal-hal yang bisa menjauhkan kita dari cintanya Allah. Mungkin keegoisan kita, kesombongan kita, ambisi, rasa malas, kebergantungan kepada manusia, kecintaan berlebih kepada selain Allah, dan yang lainnya.  Pelan-pelan belajar menyembelih "ismail-ismail" yang kita cintai untuk mengejar satu-satunya cinta yang hakiki, yaitu cinta kepada Allah. Siapkan stok sabar yang banyakk :)

Kamis, 17 Mei 2018

Seandainya Keinginanmu Bertemu dengan Kematian

Manusia itu hidupnya banyak ingin. Dan akan senang sekali jika keinginannya itu terwujud. Bahkan setelah terwujud pun, selalu muncul lagi keinginan yang baru. Terus begitu. Maka jika hidupmu adalah tentang mewujudkan keinginan demi keinginan, tidak akan pernah selesai dan tidak akan ada habisnya, ya kan? Mengaku sajalah.

Kamu, apa keinginanmu?

Pernahkah bertanya kepada dirimu sendiri; bagaimana jika hidupmu berhadapan dengan kematian, apakah itu yang betul-betul kau inginkan?


Kutanya sekali lagi; jika hidupmu dihadapkan dengan kematian, apakah apa yang kau harapkan dan yang kau usahakan saat ini adalah yang benar-benar yang kau inginkan? 

Jika jawabannya iya, selamat. Itu artinya, jika hidupmu berakhir detik ini juga, kamu akan merasa puas dengan pencapaianmu dan merasa bahagia karena bisa kembali pulang dengan hati yang siap kepada Dia yang menciptakanmu. Bukankah begitu?

Jika jawabannya tidak, selamat karena telah berani jujur kepada diri sendiri. Tidak semua orang bisa mendengar dan mengakui isi hatinya sendiri. Tidak semua orang bisa menyimpan ego, nafsu dan logikanya untuk mendengar jeritan dan keinginan hati. Ego selalu berujung pada kesombongan, nafsu seringnya membutakan, sementara logika jika terlalu dituruti akan membuatmu kehilangan Tuhan. Karena hati itu tidak berisik --ia berbisik, ia hanya menjerit jika kamu sudah keterlaluan mengabaikannya. Bagaimana bisa mendengar jeritan hati, jika dirimu dikuasai itu semua?

Jika jawabanmu tidak, saatnya kembali pada hatimu. Masih terasakah ia? Bagaimana keadaannya? Bisa jadi ia sedang terhimpit oleh egomu, bisa jadi ia rusak oleh nafsumu, bisa jadi ia babak belur oleh hantaman logikamu. Selamatkan.. Dengarkan apa maunya. Kau akan menemukan bahwa ia hanya ingin satu: kembali pada Tuhanmu. Hanya itu yang bisa menyembuhkannya. Bukankah begitu?

Bijaklah dalam memilih keinginan. Karena tidak semua yang kita inginkan, adalah yang benar-benar kita inginkan, jika berhadapan dengan kematian.


Jadi, apa sebenarnya keinginanmu?

Rabu, 16 Mei 2018

Marhaban Yaa Ramadhan


Marhaban yaa Ramadhan.. Alhamdulillah, Ramadhan sudah di depan mata. Dan ini adalah tulisan penutup dari kumpulan tulisan #PersiapkanRamadhanmu.

Aku perlu berterima kasih sama partnerku @novieocktavia, karena sebenarnya ajakan kolaborasi ini yang bikin aku jadi belajar lagi dan mempersiapkan diri lebih lagi untuk Ramadhan.. Dan kadang takjub juga sama skill dia ngedit tulisan biasa jadi mengena dan punya ruh. Aaahh diam-diam aku ngefans.. XD

Banyak cerita di balik pembuatan tulisannya. Dari mulai menentukan tema dan membuat timeline, juga tantangan mengatur waktu dengan aktivitas masing-masing. Tak jarang kami baru mulai menulis di waktu-waktu mendekati posting, atau berdebat soal susunan kalimat. Hahaha.. Tapi aku percaya, setiap niat baik pasti akan Allah tolong. Maka dari setiap kalimat yang menancap ke hatimu bukanlah karena penulisnya, tapi karena ada pertolongan Allah di baliknya.

Semoga kumpulan tulisan sederhana dari kami berdua bisa menjadi lecutan semangat untuk memberikan penyambutan terbaik kepada Ramadhan, khususnya bagi kami sebagai penulisnya. Mohon maaf atas segala khilaf, juga atas kesalahan menghitung countdown hehe. Semoga kita bisa menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Selamat menikmati jamuan Allah melalui Ramadhan! Semoga kita termasuk hamba yang bersyukur atas setiap rezeki yang Allah beri, termasuk rezeki kembali bertemu Ramadhan di tahun ini.

Special thanks to @ayambisu yang sudah mendesain seluruh gambar untuk project ini. Terima kasih sudah menjadi bagian dari project kebaikan ini yaa..

Mari menangkan Ramadhan.

Senin, 14 Mei 2018

Ramadhan Mode: ON


Pernahkah kamu merasa ingin menepi karena lelah dengan riuhnya dunia? Keriuhan itu datangnya bisa dari mana saja, berbeda sebab pada setiap orang. Tapi, sebab yang paling mungkin adalah karena melihat orang lain yang begini dan begitu di dunia nyata maupun maya, sementara yang terjadi pada kita mungkin adalah yang sebaliknya: sudah mengetuk banyak pintu kesempatan tapi belum ada satu pun yang terbuka, sudah meminta dengan segenap pinta tapi belum ada jawabannya, sudah berupaya tapi belum kunjung sampai pada ujung tepinya, sudah mengupayakan yang (menurut kita) terbaik tapi ternyata masih gagal, dan seterusnya. Riuhmu, terjadi atas sebab yang mana?

Entah bagaimana, keriuhan itu sedikit banyak membuat hati kita kehilangan ketenangannya, pun diri kita pun kehilangan fokus untuk menjalankan tugas dan amanah-amanah dari-Nya. Ah, ada apa ini? Apakah ternyata kita tengah terikat dunia dengan sedemikian kencangnya?

Dunia memang diciptakan untuk menjadi riuh, hanya pulang kepada-Nya yang membuat kita menemukan kembali ketenangan itu. Bagaimana caranya? Ramadhan adalah cara Allah mengajak kita menepi dari keriuhan-keriuhan dunia, sebab di dalamnya banyak sekali aktivitas-aktivitas ibadah yang dapat membuat kita mengembalikan hati dan jiwa kepada-Nya. Tapi, apakah kita mau untuk menepi, meninggalkan banyak hal menarik tentang dunia, dan menyediakan waktu untuk mendekat kepada-Nya?

Pulanglah, kembali pada Allah. Seperti halnya seorang anak yang merasa lelah dengan hidup lalu ia berlari ke pangkuan ibunya untuk sejenak memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut khas seorang ibu. Seperti itu pula seorang hamba yang kembali pada Tuhannya; menenangkan dan mentenagai. 

Selamat menepi dari keriuhan dunia, selamat berjuang menjadi sebaik-baik hamba, selamat melepas rindu pada Dia yang sebetulnya jauh lebih merindukan kita. Ramadhan mode: ON. 


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 10

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Jumat, 11 Mei 2018

Persiapkan Kemenanganmu


Setiap ujian ada indikatornya. Skripsi kita lulus dari pembimbing, ada indikatornya. Penelitian kita diterima di publikasi jurnal internasional, ada indikatornya. Bahkan, ujian sederhana serupa mengerjakan tugas-tugas harian juga ada indikatornya. Begitu pula dengan ujian dan pembinaan Ramadhan, semua ada indikatornya. 

Jika Ramadhan seumpama sebuah madrasah tempat kita dibina, dilatih dan diuji, tentu ada indikatornya untuk dapat menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak. Tanpa kita sadari, seleksi tersebut dimulai sejak jauh di awal, sebab peserta Ramadhan hanyalah untuk mereka yang beriman. Kemudian, seleksi itu terus berlangsung hingga akhir, dimana disana akan lebih terseleksi lagi siapakah diantara hamba Allah itu yang mendapat kemenangan. Pertanyaannya, akankah kemenangan itu menjadi milik kita?

Hari-hari pertama Ramadhan biasanya masih terasa euforianya. Semua yang menjadi target harian dilakukan dengan penuh semangat. Hal yang terjadi di mesjid atau surau juga tidak jauh beda: orang-orang memenuhi seluruh penjuru ruangan dan jejeran sandal-sandal di mesjid pun berhamburan. Tapi, apa yang terjadi setelahnya, setelah hari-hari Ramadhan berlalu hingga hampir mencapai akhirnya? Bukankah semakin sedikit mereka yang bisa mempertahankan semangat itu? Belum lagi ketika menjelang Idul Fitri dimana fokus kita mulai terbagi dengan baju lebaran, kue lebaran, masakan-masakan khas tanah kelahiran, THR, dan hal lain yang tanpa sadar membuat fokus kita bergeser hingga lupalah kita bahwa di 10 hari terakhir Allah sedang membuka pintu ampunan.

Hmm, tapi, itu adalah diri kita yang dulu. Biarlah itu semua menjadi catatan saja sebab seluruhnya telah berlalu. Saat ini, kita dihadapkan pada sebuah kesempatan baru: kesempatan menghidupkan 30 hari Ramadhan dengan perbaikan-perbaikan agar kita dapat memenuhi indikator kelulusan yang membuat kita layak mendapatkan kemenangan. 

Mungkin harapan ini masih terlalu cepat, tapi semoga kita termasuk orang-orang yang nantinya bergembira bersama takbir kemenangan di malam terakhir Ramadhan, bersama ketakwaan kita yang juga meningkat karena Ramadhan.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 9

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Kamis, 10 Mei 2018

Hold Yourself


Pernahkah kita merenungkan mengapa ketika berpuasa kita dilarang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar seperti makan, minum dan biologis (bagi yang sudah menikah)? Tentu ada hikmah besar di dalamnya. Esensi mendasarnya adalah supaya kita belajar untuk menahan diri karena Allah tahu bahwa manusia memiliki sifat tidak pernah merasa puas. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali! 

Tapi, memangnya apa arti menahan diri? Menahan diri berarti menahan dan mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang kehadirannya adalah karena hawa nafsu. Luar biasanya, pelatihan terhadap hawa nafsu ini dilakukan dengan puasa; sebuah ibadah rahasia, dimana hanya kita dan Allah yang benar-benar mengetahuinya.

Satu hal yang penting untuk menjadi catatan adalah bahwa mengendalikan keinginan selama berpuasa bukan berarti memupuk keinginan hingga menggunung dan memuaskan seluruhnya dalam satu hitungan ketika waktu berbuka tiba. Hal yang sama perlu dilakukan juga atas keinginan kita dalam keseharian.

Puasa ibarat perisai untuk menahan keinginan kita yang begitu banyak. Saking banyaknya, seringkali kita banyak menuntut kepada Allah, merasa bahwa rencana kitalah yang paling baik. Padahal, siapa yang paling paham tentang apa yang paling kita butuhkan? 

Maka, di bulan pembinaan terbaik ini, yuk belajar untuk menahan diri dari berbagai keinginan. Keinginan tidak sama dengan kebutuhan, bukan? Yuk cerdas membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Semoga Allah mampukan.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 8

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

We Need Allah's Help


Pekan menggulung hari hingga tanpa terasa Ramadhan akan segera tiba dalam waktu yang tinggal sebentar lagi. Bagaimana persiapan kita? Sudahkah kita punya target Ramadhan? Sudahkah kita merencanakan amalan terbaik yang akan dipersembahkan kepada Allah? Sudahkah kita siap berjuang untuk meraih sebaik-baik gelar di hadapan Allah? Dan yang terakhir, sudahkah kita menerbangkan setiap rencana itu kepada Allah dan memohon agar Dia memampukan kita dalam menjalaninya? 

Berbekal pemahaman bahwa Ramadhan adalah bulan terbaik dengan sedikit atau banyak rasa takut bahwa ini akan menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup, kita telah menargetkan banyak hal. Dari target harian, pekanan, sampai sebulan. Sadarkah ada satu hal yang terlupa? Ya, kita lupa meminta kepada-Nya agar memampukan kita dalam berupaya dan menjalaninya.

Benar bahwa Allah memerintahkan kita untuk beribadah dan berpuasa agar kita bertakwa, tapi nyatanya kita tidak bisa ibadah tanpa pertolongan-Nya. Tamatnya puasa tahun kemarin, memangnya siapa yang memampukan kalau bukan Dia? Shalat yang setiap hari kita lakukan, memangnya siapa yang melangkahkan kalau bukan Dia? Semua ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, bisakah itu semua bisa terjadi tanpa kehendak-Nya? Tidak, sebab kita membutuhkan-Nya, serupa kita membutuhkan Ramadhan hadir mendidik jiwa kita. 

Maka, atas semua niat ibadah yang telah kita azzamkan, semoga kita senantiasa rendah hati untuk selalu meminta kepada Allah agar dimampukan untuk menjalankannya. Jangan sombong dan bergantung pada diri sebab merasa mampu. Tanpa-Nya, kita bukan (si)apa-(si)apa. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


___


#PersiapkanRamadhanmu - Day 7

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Sabtu, 05 Mei 2018

Amal Terbaik untuk Ramadhan


Bagi kamu yang senang berbelanja, atau sekedar window shopping ke mall, pasti hafal kalau kebanyakan mall biasanya suka mengadakan diskon besar-besaran saat menjelang akhir tahun, Idul Fitri, atau pada event tertentu lainnya. Diskonnya tidak sedikit, bisa 70-80% bahkan lebih dari itu. Waktunya pun biasanya terbatas, bisa dalam sebulan, 2 minggu, bahkan ada yang dalam semalam saja. Bisa ditebak, pasti akan banyak sekali orang yang berebut memilih barang yang akan dibelinya hingga rela berdesak-desakan dengan pembeli lain agar barang pilihannya tidak diambil orang. Apa alasannya? Mumpung! Mumpung murah maka diborong. Kapan lagi bisa mendapatkan harga semurah itu?

Sadarkah kita? Ramadhan pun menawarkan banyak sekali penawaran menarik. Hanya saja bukan barang yang diobral, tapi pahala! Ada banyak sekali peluang kita untuk panen pahala di bulan Ramadhan. Tadarus Al-Quran, menghadiri kajian, tarawih, i'tikaf, sedekah, menyiapkan makanan bagi orang berbuka dan sahur, bahkan tidur di bulan Ramadhan pun bernilai pahala. Jika untuk barang diskonan yang hanya terpakai untuk duniawi saja kita begitu gesit mengejarnya, apakah kita akan diam ketika melihat bursa pahala yang ditawarkan Allah di bulan Ramadhan?

Kabar gembiranya, banyak juga amalan biasa yang pahalanya menjadi luar biasa saat Ramadhan, berkali-kali lipat. Dalam waktu 30 hari, ada kesempatan emas bagi kita untuk bisa panen pahala sebesar-besarnya dan juga mendapat kesempatan akan ampunan Allah seluas-luasnya. Nah, apa yang akan kita lakukan? Dengan amalan seperti apakah kita ingin memenuhi hari-hari di Ramadhan? Apakah hanya dengan semangat yang biasa-biasa saja seperti biasanya?

Yuk, kita jadikan Ramadhan sebagai bulan terbaik kita untuk mengoptimalkan amal dan berburu pahala. Selamat berjuang! Menangkan!

____

#PersiapkanRamadhanmu - Day 6

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Rabu, 02 Mei 2018

Menangkan Ramadhanmu


Saat berpuasa, dimana kita dihadapkan pada kondisi lapar, haus, panas terik, sembari menahan nafsu dan amarah, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Tentu lebih enak jika kita diam di rumah dan tidur-tiduran seharian, bukan? Tapi, ternyata peperangan umat muslim justru banyak terjadi di bulan Ramadhan, lho!

Meski sedang dalam kondisi menahan lapar dan dahaga, ditambah lagi harus menghadapi cuaca yang sangat panas di Jazirah Arab saat bulan Ramadhan, ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat Rasulullah dan para sahabatnya untuk berjuang.

Tentunya kita tidak asing dengan kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar yang terjadi di Bulan Ramadhan, padahal secara jumlah maupun senjata mereka kalah jauh dengan musuh. Namun, Allah berikan pertolongan melalui bala bantuan ribuan malaikat. Di bulan Ramadhan pula, penaklukkan kota Mekkah yang saat itu sangat dekat dengan kejahiliyahan terjadi. Hmm, jika kita menengok sejarah, masih banyak lagi peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan.

Tunggu! Bukankah jika dilihat dari keadaan, semua itu terasa berat dan menyulitkan? Namun dengan segala keterbatasan, Allah karuniakan kemenangan demi kemenangan.

Bagaimana dengan kita? Kemenangan apa yang bisa kita upayakan terjadi di Ramadhan nanti?

Meski saat ini tidak ada peristiwa Perang Badar atau penaklukkan kota Mekkah, ternyata kita pun sedang ada dalam sebuah peperangan penting, yaitu perang melawan diri kita sendiri. Apakah hati kita benar sudah terpaut kepada-Nya atau yang lain? Apakah pikir kita benar sudah berkiblat kepada-Nya atau ternyata masih dirantai dunia? Apakah sikap kita sudah benar mengabdi kepada-Nya atau ternyata masih bersikap sesuai maunya kita?

Apakah kita siap memenangkan peperangan tersulit dalam sejarah? Bersiaplah! Semoga bersama Allah semua akan menjadi lebih mudah.

___

#PersiapkanRamadhanmu - Day 5

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu

Puasa: Jangan Sampai Hanya di Batas Minimal


Saat kecil dulu, ada satu pengertian puasa yang melekat di ingatan kita, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Entah bagaimana, pemahaman akan definisi tersebut terus terbawa hingga kita dewasa. Hmm, pengertian itu benar, tapi ada esensi lain yang perlu kita tengok agar puasa kita lebih optimal. Apakah itu?

Sebenarnya, puasa tidak hanya berarti menahan diri untuk tidak makan, minum, marah, atau memperturuti hawa nafsu. Jika puasa kita hanya sebatas itu, apa bedanya dengan anak kecil yang baru belajar puasa? Itu barulah puasa dalam batas minimalnya. Dengan kemampuan berpikir kita yang sudah jauh berkembang, seharusnya kita bisa menangkap makna dan hikmah puasa yang lebih dari itu.

Puasa juga berarti mengajak seluruh indera dan pikiran kita untuk juga berpuasa, yaitu dengan mempuasakan mata untuk tidak melihat hal-hal yang tidak boleh dilihat, mempuasakan telinga untuk tidak mendengar hal-hal yang tidak boleh didengar, mempuasakan lisan untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak layak dibicarakan, dan yang tak kalah penting: mempuasakan pikiran dari hanya berfokus pada dunia.

Ramadhan ibarat bulan pelatihan untuk membiasakan hal-hal baik. Jika selama ini kita masih belum terbiasa menjaga lisan atau pandangan, saatnya kita membiasakan diri dengan berpuasa. Jika selama ini pikiran kita hanya terfokus kepada hal-hal yang bersifat duniawi, berlatihlah agar mindset dan orientasi kita hanya tertuju pada Allah saja. Sebab, sayang sekali jika 30 hari Ramadhan berlalu, tapi ternyata puasa kita hanya sampai pada batas minimalnya. 

Bagaimana, sudah siap melatih diri di bulan Ramadhan? Yuk, bersiap! Semoga Allah memudahkan kita untuk melatih diri dan jiwa kita untuk dapat berpuasa dengan sebaik-baik maknanya. Selamat berjuang!

___

#PersiapkanRamadhanmu - Day 4

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu


PS: Monmaap lagi-lagi tulisan ini lupa ke upload ontime heuheu 

Jumat, 27 April 2018

The Main Purpose of Ramadhan


Pernahkah kita berpikir, mengapa ada Ramadhan? Untuk apa Allah memerintahkan ibadah puasa di bulan Ramadhan?

Jangan-jangan selama ini kita hanya menjalani sebuah rutinitas tahunan saja tanpa pemaknaan. Jangan-jangan selama ini kita hanya mengikuti apa yang ayah ibu kita lakukan tanpa pernah mencari tahu mengapa kita harus melakukannya. Atau, jangan-jangan selama ini kita hanya mengikuti keramaian karena kebanyakan orang melakukannya tanpa pernah mencari ilmu sebelum merealisasikan amal. Jangan-jangan, ah sudahlah!

Tanpa disadari, Ramadhan demi Ramadhan mungkin seringnya berlalu begitu saja, tanpa pemaknaan, tanpa perbaikan, juga tanpa peningkatan kualitas diri dan kualitas iman. Kita mungkin hanya sibuk dengan rencana buka puasa bersama, liburan lebaran, baju baru, serta hal-hal yang kasat mata lainnya. Kita lupa bahwa sejatinya ada waktu sepanjang 30 hari untuk kita mendidik hati dan jiwa kita agar lebih mendekat kepada-Nya, seraya memperbaiki banyak hal yang salah, terlupa, atau terlewat. Padahal, seperti pesan-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, ibadah puasa diperintahkan kepada kita agar kita bertakwa.

Esensi puasa ternyata bukan sekedar menahan lapar, haus, dan nafsu saja, melainkan agar kita jadi bertakwa. Hmm, tidakkah kemudian kita jadi berpikir bahwa ternyata ada pelajaran di balik menahan lapar, ada pembinaan di balik menahan dahaga, ada pendidikan di balik menahan nafsu, dan semua adalah cara-Nya agar kita menjadi takwa?

Selamat menantikan bulan penuh pendidikan dan pembinaan. Semoga pada akhirnya kita tidak termasuk orang yang merugi, yaitu mereka yang berpuasa tetapi ketakwaannya tidak meningkat.

____


#PersiapkanRamadhanmu Day 3

@novieocktavia dan @una_ha2

Design: @ayambisu