Rabu, 23 April 2025

Anak

Suatu hari, aku lupa topik awalnya apa, tapi kami lagi ngobrol santai, dan tiba-tiba suami nanya:

"Kamu kesayangan Aa bukan?"

"Iya lah! Aa sayang sama aku kan?"

"Sayang."

Sumpah, ini obrolan nggak penting banget, tapi kayaknya hampir semua pasutri pernah deh punya momen-momen nggak penting gini. Ya kalau nggak sayang ngapain juga masih dinikahin, ya kan? Wkwk.

Terus aku iseng nanya:

"Oh, sayang ya? Emang aku kesayangan Aa yang ke berapa?"

"Hmm… kedua."

Denger jawaban itu, aku dan suami langsung cekikikan. Sudah kuduga jawabannya bukan nomer satu, wkwk.

"Emang yang pertamanya siapa?"

"Dede El."

FYI, El adalah keponakan kami yang baru umur dua bulan. Anak dari adiknya suami yang masya Allah, lucu dan gemesin banget!

"Ih, naon tiba-tiba Dede El? Biasanya kan nomor satunya komputer," soalnya doi tuh sering banget nongkrong depan komputer. Dan setiap kali ditanya lebih sayang aku atau komputer, pastinya jawabannya komputer. *emote memutar bola mata

"Nggak, sekarang mah Dede El," jawabnya mantap.

"Ih! Berarti kalau kita punya anak, Aa lebih sayang sama anak kita dong?!"

"Ya iyalah!"

"Ih, nggak boleh gitu tau! Katanya walaupun udah punya anak, tetep nomor satunya harus istri."

"Hmm, gitu ya? Harus istri dulu ya?"

"Iya dong!"

Terus doi diem sebentar, terus nanya balik:

"Bentar... terus kalau gitu, kamu, siapa?" Maksudnya, kalau suami harus mengutamakan istri, istri lalu harus mengutamakan siapa dong?

"Ya anak lah!" Hahaha! Pas ngomong itu aku ketawa ngakak sampai susah berhenti. Baru nyadar ternyata kalau ditanya gitu, jawabanku juga anak wkwkwk.

"Tuh kan! Licik ih!" kata suami, terus dia juga ikutan ngakak. Dan akhirnya kita ketawa bareng-bareng. Hahaha.


*jangan dianggap serius, ini hanya obrolan iseng dan bercandaan kami XD

Sabtu, 01 Maret 2025

Kenangan Ramadhan dan Pesan yang Ayah Tinggalkan

Sejak malam pertama Ramadhan tadi, aku teringat sebuah momen bersama keluarga, saat kami menginap di sebuah villa di Bandung. Tepat setahun yang lalu, aku dan keluarga suami berkumpul 2 hari 1 malam, yang mana malam itu adalah malam pertama bulan Ramadhan. Ayah, bunda, semua anak-anak dan menantu, lengkap hadir. Bahkan saat itu anggota keluarga kami baru bertambah satu personil karena adik iparku baru saja menikah.

Selama 2 hari itu kami menghabiskan waktu dengan berenang, bermain game, masak bareng, tarawih bareng, dan di malam harinya kami melakukan sesi coaching keluarga yang dipandu oleh salah satu adik iparku, @dibawahnol.id hingga subuh. Esok paginya, kami pulang dengan hati yang penuh. Sebab telah saling islah dan saling mengapresiasi satu sama lain. Happyy dan hangat sekali. Core memory unlocked! πŸ”“πŸ₯°


Namun, ada satu hal yang tak pernah kami bayangkan. Tanpa kami tahu dan tanpa kami pernah menyangka, ternyata Allah telah berencana untuk mengambil salah satu dari kami di penghujung Ramadhan tahun itu. Orang itu adalah ayah kami. Allahu yarham🀲

Selama setahun ini, ada satu pesan dari almarhum ayah yang terus terngiang di pikiranku. Momen itu terjadi saat sesi coaching keluarga, di akhir sesi, saat setiap anggota keluarga diminta untuk memberi pesan untuk satu sama lain. Saat itu, aku dan suami maju ke depan, dan ayah adalah orang pertama yang memberi pesan.

Kukira ayah akan langsung bicara, tapi ayah terdiam dulu sejenak. Matanya menerawang seperti sedang mengingat sesuatu atau sedang berpikir untuk merangkai kata-kata. Na, dengar baik-baik! Ini pasti penting, bisikku pada diri sendiri. Aku bersiap mendengarkannya dengan seksama.

Lalu sambil menatap aku dan suami, ayah berkata, "Nanti di yaumil akhir, seorang syuhada bisa menyelamatkan keluarganya.."

Ayah terdiam sebelum melanjutkan. Aku semakin menyimak.

"Jadilah itu, ya, Nak." Tutupnya.

Deg. Sebuah pesan yang sangat singkat, namun aku bisa merasakan pesan dan harapan yang dalam dari cara ayah bertutur.

Saat mendengar pesan itu, aku paham bahwa menjadi syuhada yang dimaksud ayah adalah meninggal dalam keadaan sedang berjuang dan mengkaryakan diri di jalan-Nya, apapun peran dan aktivitasnya. Jujur, ini adalah pesan yang besar dan berat, namun itu juga adalah sebuah cita-cita yang sedang berusaha aku (dan pastinya keluarga kami) ikhtiarkan.

Aku bersyukur bisa mengingat dengan baik pesan ayah saat itu, karena ternyata 28 hari kemudian, ayah dipanggil pulang oleh-Nya. Sedih. Patah. Terguncang kami dibuatnya. Tapi pada akhirnya kami bisa melepasnya dengan tenang dan kelegaan yang luar biasa.

Kurasa, justru ayah yang telah mencapai kesyahidan itu lebih dulu. Sebab kami semua menjadi saksi bagaimana ayah selalu bersegera dalam menjemput amal-amal shalehnya. Selama Ramadhan hingga hari-hari terakhirnya, padat sekali ia dengan aktivitas hablumannallah dan habluminannas-nya. Semua dilakukan dengan sukacita dan dengan penuh pengharapan mencapai rahmat dan maghfirah Allah.


Aku iri sekali dengan bagaimana cara Allah mewafatkan ayah. Ketika pemakaman malam itu, saat penduduk bumi menangis melepas jasad ayah, penduduk langit mungkin sedang tersenyum menyambut ruhnya. Semoga Allah betul-betul menerima dan memeluk ruh ayah kedalam golongan para syuhada. Yah, kalau nanti kami kesulitan di padang mahsyar atau tertahan di mizan, panggil kami ya, Ayah. Ajak kami ke syurga bersamamu. :")

Tak terasa momen itu sudah setahun yang lalu. Rasa rindunya masih besar. Tangis kami pun sesekali masih ada. Tapi rasa syukur kami juga tak kalah besar. Ayah telah mengajari kami bagaimana seharusnya Ramadhan dijalani. Bahkan bukan hanya di Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, ayah selalu menunjukkan keteladanan tentang bagaimana hidup harus dijalani. Semoga kami bisa mewarisi semangat dan jejak juangnya, serta kelak diwafatkan juga dalam keselamatan dan limpahan rahmat-Nya. Aamiin Ya Mujiib.. 🀲

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Al-Fatihah.

Always miss you, Yah.

Rabu, 15 Mei 2024

Sewindu

"Happy anniversary~" sambil tersenyum, aku menghampiri suami yang sedang duduk di depan komputernya. Masya Allah, udah 8 tahun aja.

"Eh iya, happy anniversary.." jawabnya sambil memelukku.

"Aa ridho nggak sama aku selama 8 tahun ini?" 

"Ridho."

"Alhamdulillah. Makasih ya udah bermudah-mudah memberi ridho untuk aku."


Lalu aku bertanya lagi, "Aa maafin aku nggak, aku banyak kurangnya loh selama 8 taun ini.."

"Iya, aman." Aku pasti pernah bikin salah, tapi kata "aman" ini kuanggap kesalahanku berarti masih termaafkan olehnya. Alhamdulillah.

"Walaupun aku jarang masak?" Tanyaku lagi, memastikan. Soalnya aku beneran sejarang itu masaknya.

"Iya, gapapa."

"Tapi kan kalau aku jarang masak aku jadi ngabisin uang aa lebih banyak?" Kali ini aku bertanya dengan setengah bercanda.

"Nah iya. Uang aa teh abis.. Sekarang mah harus sering masak ah"

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi walaupun doi bilang begitu, istrinya ini tetep aja nggak diprotes kalo pesen Syopifood dan tetep dibeliin kalau aku minta jajan ini itu wkwkwk. Semoga Allah selalu melapangkan rezekimu ya suamik <3

***

Happy anniversary, sayangnya akoohh!πŸ₯³

Agak geli sebenarnya ngetiknya, tapi karena postingannya bisa dijadiin hashtag bagus, jadi gapapa sekali2πŸ˜‚

Intinya sih, nggak ada yang kepikiran selain ingin bilang makasih. Dan terima kasihku yang paling besar adalah:

Terima kasih sudah bermudah-mudah memberi ridho dan maafmu untukku, walau aku sebagai istri banyak sekali kurangnya.

Lega sekali rasanya setiap kali mendengar dari mulutmu sendiri, bahwa aku diridhoi dan dimaafkan. Rasanya seperti dilapangkan jalanku menuju surga.. πŸ₯Ή

Terima kasih yaa sudah bersabar membersamai aku yang masih terus belajar jadi istrimu. Semoga dengan mengantongi ridhomu, Allah berkenan menurunkan ridho-Nya untukku :')

Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kita untuk menjalani setiap amanah-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga dan menuntun kita dalam naungan kasih sayang-Nya. Semoga Allah karuniakan untuk keluarga kita, hasanah di dunia dan di akhirat.

Terus sama-sama sampai syurga ya.. Insya Allah, nanti bareng anak-anak juga (semoga Allah kehendaki🀲)

#sewindubersamamu #cie

Selasa, 14 Mei 2024

Pacaran

Aku dan suami punya langganan beli bakmie/nasi goreng jawa yang enak banget di depan komplek rumah mertuaku. Yang jualan bapak dan ibu yang merupakan sepasang suami dan istri. Makanannya beneran seenak itu dan saking seringnya kami beli di sana, bapak dan ibu penjualnya sampe hafal dan selalu ngajak ngobrol.

Sampai suatu hari di bulan Syawal kami kesana lagi beli nasi goreng. Si ibu menyapa dengan ramah seperti biasa, lalu si bapak sigap mengolah dan memasak bahan masakan. Kami mengobrol cukup lama sembari menunggu makanan siap.

Lalu sebelum kami pamit, si ibu nanya ke suamiku, "Ini teh kalian suami istri?"

"Iya.."

"Ooh kirain teh masih pacaraan," 

"Udah 8 taun nikahna ge Buu," kata suamiku sambil terkekeh.

Haha, ngakak dengernya. Umur udah kepala 3 masih dikira anak muda lagi pacaran ya ampuun wkwk. Alhamdulillah ya berarti kami awet muda XD

Tapi nggak salah sih Bu, kami emang masih pacaran kok. Pacaran halal :D

Selasa, 07 Mei 2024

Sebulan Tanpanya

Tak terasa sudah bertemu tanggal 7 lagi. Berarti sudah sebulan ayah berpulang. Campur aduk ternyata rasanya ya. Rindu, namun (alhamdulillah) masih tetap dengan perasaan lega yang sama, sebab masih segar dalam ingatan, kepergian ayah yang insya Allah husnul khatimah.

Tanpa bisa ditolak, pikiranku mengingat kembali ke tanggal 7, sebulan yang lalu. Seperti film yang sedang beralur mundur, otakku memutar kembali momen saat jasad ayah sedang dibaringkan di tengah-tengah rumah dalam kondisi tertutup kain samping, menunggu dimandikan.

Saat itu rumah duka belum begitu ramai karena jenazah ayah baru saja sampai diantar oleh mobil ambulans. Hanya ada satu orang sahabat ayah yang sedang mengaji di samping jenazah. Aku memandang jenazah yang tertutup kain itu dengan perasaan setengah tak percaya. Aku dekati jasad itu, tapi tak berani membuka kain yang menutupi wajah dan tubuhnya. Sambil berjongkok di sampingnya, aku pegang tangan ayah yang bersedekap di atas dadanya. Dingin. 

Ayah, beneran udah nggak ada? Tanyaku dalam hati. Aku elus-elus tangannya yang sudah dingin itu. Mungkin nggak ya, ayah bangun lagi? Walau hati kecilku sebenarnya tahu, itu adalah kesempatan terakhirku berdekatan dengan ayah secara fisik. Pada momen itu, aku hanya bisa mendoakan ayah sambil terus kuelus tangannya. Dan tentu saja, sambil menahan air mata karena tak mau melepas ayah dengan tangis.

Lalu aku bangkit dengan niat mau bergabung dengan para perempuan yang berkumpul di ruang tamu. Namun kakiku terhenti saat melewati kaki ayah. Seketika teringat momen-momen saat aku memijat kakinya. Tidak, aku tak bisa melewatkannya. Akhirnya aku terduduk lagi di dekat jenazah ayah, kali ini di depan telapak kakinya. Aku pegang kedua kaki ayah yang tak bergerak itu. Dingin juga. Aku pijat perlahan untuk yang terakhir kalinya. Kenapa kok ayah seperti masih ada, ya? Sungguh, aku akan rindu sekali dengan raga yang jiwanya sudah berpulang ini. :'(

Rasanya aku ingin berlama-lama bersama jasad ayah yang nanti tak akan bisa kutemui lagi, tapi aku sadar kemelekatan yang terlalu erat tentu tidak sehat untuk jiwa. Akhirnya, saat sudah dirasa cukup, aku "lepas" jasad itu. Aku terima kepergiannya sambil berusaha melapangkan hati. Hak jenazah ayah pun dituntaskan dengan melakukan proses memandikan, mengafani, menyolatkan, hingga memakamkan. Ada perasaan lega saat jenazah ayah selesai dimakamkan, tunai sudah tugas kami mengantarkan ayah pulang. Bersamaan dengan itu, ada rindu yang harus kami tanggung sepulang dari pemakaman.

Sepekan pertama setelah ayah dimakamkan, rasanya aneh sekali. Ada masa-masa dimana aku bertanya dalam hati, beneran udah nggak ada ini teh ayah? Ibarat ruangan yang awalnya penuh dengan barang, lalu tiba-tiba kosong entah kemana isinya. Otakku seperti masih mencerna dan belum terbiasa dengan ketiadaan ini. Sudah terbiasa ada ayah, tapi sekarang udah nggak ada. Sudah terbiasa kalau berkunjung ke rumah mertua pasti ada ayah, tapi sekarang udah nggak ada ayah lagi di sana. Sudah terbiasa kalau mau ngontak ayah tinggal chat atau telepon, tapi sekarang udah nggak bisa lagi. Kayak lagi buffering gitu otaknya. Sedih dan bingung jadi satu.

Tapi yang lebih aneh lagi justru fase setelahnya. Setelah itu justru mikirnya jadi "Ih ini mah rasanya ayah masih ada.." Pernah ada momen aku lagi di motor mau ke rumah mertua, rasanya kayak lagi mau ketemu ayah. Kayak ayah masih ada aja gitu, lagi nungguin aku di rumahnya. Jikapun aku tak menemukan ayah di rumahnya, seperti ayah sedang pergi kerja saja. Ada "kehadiran" yang sulit dijelaskan, tapi ya rasanya kayak ayah masih ada aja. 

Dan walau saat ini sudah 1 bulan ayah berpulang, ayah seperti tetap hadir. Hanya saja, kehadiran ayah ada dalam bentuk yang lain. Walau jasad ayah kini sudah kembali ke bumi, tapi ayah tetap hidup dalam obrolan-obrolan kami tentang ayah yang tak pernah habis.

Beberapa kali aku bertemu dengan teman-teman ayah, hampir selalu terselip topik tentang ayah. Begitupun obrolanku bersama bunda atau adik-adik. Ada saja obrolan tentang ayah dan segala kebaikannya. Ayah tak pernah habis dibicarakan dan selalu tersimpan di hati setiap orang yang menyayanginya. Hal ini membuatku lega karena ternyata ayah begitu berbekas di banyak hati orang yang mengenalnya.

Inilah yang membuat ayah terasa tetap ada. Kebaikannya abadi dan masih terus diperbincangkan hingga hari ini. Segala memori tentangnya masih terus dikenang hingga hari ini. Pesan dan nasihatnya masih terus diingat sampai hari ini. Jejak-jejak juangnya masih dilanjutkan hingga hari ini. Dan insya Allah, masih banyak yang mendoakan ayah hingga hari ini.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Semoga Allah merahmatinya, memuliakannya, melapangkan dan menerangi kuburnya.

***

Ayah, sungguh bangga kami padamu. Begitu nyata legacy yang kau tinggalkan sehingga saat kau sudah dipanggil oleh-Nya pun, kau tetap hidup, menjadi teladan dan memberi kehidupan untuk kami yang kau tinggalkan. Kalau aku punya anak nanti, aku pasti akan ceritakan tentang kakeknya. Anak-anakku harus tahu siapa kakeknya. :)

Kau ternyata selalu ada, ya, Yah. Walau begitu, aku tetap rindu.

Senin, 29 April 2024

April

Sejak ayah berpulang, bulan April tak lagi sama di mataku. Rasanya aneh berulangtahun di bulan yang sama dengan bulan wafatnya ayah. Tapi mungkin ini cara Allah untuk mengingatkanku bahwa hari kelahiran justru adalah untuk merenungi hari kematian yang bisa datang kapan saja. Sebab berulangnya hari lahir berarti jatah usiaku semakin berkurang. Entah berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan.

Terima kasih untuk Ramadhan tahun ini yang berhasil membuatku memandang hidup dari kacamata hari akhir. Sejak Ramadhan kemarin, aku belum pernah memikirkan kematian sesering ini --memikirkan seperti apa keadaanku saat mati nanti.

Dari kepulangan ayah di Ramadhan kemarin, aku banyak mendapat kisi-kisi bagaimana mengupayakan kematian yang indah. Aku menjadi lebih serius mencita-citakan kematianku sendiri agar husnul khatimah. Walau masih sesekali dibayangi rasa khawatir, akankah aku berpulang seperti yang aku idam-idamkan?

Mulai April tahun ini, rasanya hari lahir bukan lagi untuk dirayakan, melainkan untuk merenungi sudah sebanyak apa bekal pulang, sudah sesungguh-sungguh apa memproseskan takwa, serta untuk lebih menghargai dan mensyukuri orang-orang tersayang yang masih ada.

Semoga Allah perkenankan saat tiba waktunya pulang nanti.. aku bisa 'dijemput' dalam keadaan yang baik, dalam keadaan hidup yang lurus, dalam keadaan sedang beribadah dan berjuang untuk-Nya. Aamiin.. :')

Barakallah fi umriik, Na.. :)

Rabu, 24 April 2024

Mencari yang Tersirat

Aku selalu penasaran apa yang ada di kepala ayah sehingga semangat juangnya sehebat itu. Lalu aku mendapat rezeki yang membuat tanyaku sedikit terjawab.

Malam ini, bunda memberi lihat buku catatan ayah kepadaku. Tintanya masih baru sebab itu catatan ayah di bulan Maret. Tak sampai sebulan sebelum kepulangannya.

Secuplik yang bisa kubagi dari sekian banyak :)

Sebagai seseorang yang suka menulis, aku paham sekali bahwa ada banyak hal yang tersirat di balik yang tersurat. Membacanya, aku seperti sedang membaca isi pikiran ayah. Apa yang penting bagi ayah, apa yang memenuhi pikirannya, apa yang sedang diperjuangkannya dan apa yang melandasinya, semuanya tertuang dalam buku catatan yang masih baru itu.

Membacanya, aku bergumam dalam hati, tak heran kiprah ayah sehebat itu dan kematiannya seindah itu. Ternyata isi kepalanya hanya tentang program berdarmabakti kepada-Nya, bahkan hingga hari-hari terakhirnya. Apa yang ayah sampaikan di forum-forum diskusinya adalah apa yang tercatat pada bukunya. Apa yang ayah lakukan adalah implementasi dari apa yang tertuang dalam catatannya. Sungguh sangat walk the talk.

Ayah, hari ini aku belajar lagi darimu.
Masih dengan buku catatanmu di tanganku, aku menangis lagi.
Kali ini, aku menangisi diriku sendiri.
Menangisi diriku yang masih terseok memproseskan diri sebagai hamba-Nya.
Mempertanyakan diriku sendiri, bisakah aku mewarisi buah pikirmu dan meneladani jejak-jejak juangmu?
Semoga masih ada waktu untukku memperbaiki segala kurang hingga nanti bisa tersenyum saat tiba panggilan pulang.

Yah, di tahun-tahun terakhirmu, sering sekali aku mendengar kalimat "Ayah bangga sama kalian." yang kau ucapkan untuk anak-anakmu.

Malam ini, aku ingin bilang, aku bangga punya ayah seperti ayah.

Rabu, 17 April 2024

Rezeki

Suatu pagi di bulan Oktober, jam 8 pagi aku udah diajakin jalan-jalan dan jajan-jajan sama suami. Tujuan utamanya mau beli Kopi Aroma di tengah kota (jaraknya lumayan jauh dari rumah kami). Terus melipir beli dendeng batokok ijo favorit kami di deket terminal (udah lama banget ga makan ituu karena belinya jauhh huhu). Lanjut beli takoyaki mentai favorit di buah batu karena punya voucher diskon 20ribu yang batas berlakunya hari itu. What a perfect morning!

Kami nyampe rumah lagi jam 10an. Sambil nyuap takoyaki, suami nyeletuk, "Asalnya Aa mau ajak temen buat beli kopi dan makan dendeng bareng. Tapi dia nggak bisa dikontak. Mau ngajak adik, dianya masih tidur. Berarti ini mah rezeki kamu, Neng. Banyak rezekinya ya kamu teh."

"Iya alhamdulillah." Aku merespon sambil senyum seneng.

Tapi kemudian aku mikir. Yang bayar semua itu kan suami ya? Jadi yang sebenernya banyak rezeki siapa hayo? Aku atau suami? Wkwkwk. Bisa jadi suamiku yang sebenernya banyak rezeki karena sayang dan baik sama istrinya. Hehehe.

Alhamdulillah, i'm a lucky wife. I'm a happy wife. <3

***

Di hari yang lain, aku sedang berboncengan sama suami dan melihat "insiden" seorang bapak2 muda pengendara motor yang marah-marah ke supir taksi blue bird. Aku nggak sempat lihat duduk perkaranya, tapi keliatannya nggak ada yang jatuh atau terluka, jadi si bapak marah-marahnya kenapa juga kayak nggak jelas aja gitu. Kalau kata suami sih, katanya supir taksinya nggak nabrak, cuma ngeklakson aja. Tapi mungkin bapak itu lagi sensitif jadi ngegas benerr..

Dan bapak itu tuh nggak sendiri, ada istrinya yang duduk di jok belakang. Kuperhatiin istrinya cuma ngusap-usap punggung suaminya tanpa berkata sepatah katapun. Tapi si suami tetep marah-marah sampai si taksi berlalu.

Aku yang menyaksikan itu rasanya antara takut sekaligus heran. Ai si bapak kunaon..? Masalah hidupnya berat banget kayaknya ya.. :v

Lalu ada celetukan dari suami, "Itu dia ke orang lain yang nggak dikenal aja marah-marahnya sampe kayak gitu, gimana ke orang deket?"

"Ih iya, aku juga mikirin istrinya tadi. Jangan-jangan di rumahnya sering marah-marah juga. Heu.."

Lalu aku melanjutkan, "Untung suami aku mah baik." Sambil memberikan senyum yang nggak bisa dilihat suami karena posisiku di jok belakang.

Aku bersyukur dalam hati. Dan kayaknya doi mesem-mesem dalam hati karena tiba-tiba dipuji wkwk

Jumat, 12 April 2024

Rindu yang (Mungkin) Tak Akan Pernah Selesai

Sudah 5 hari sejak kepulangan ayah ke sisi-Nya. Dan sampai hari ini, pikiranku masih belum bisa lepas dari ayah. Terutama saat sedang sendiri, pasti yang diingat ayah. Otakku berusaha mengeluarkan memori-memori tentang ayah. Suaranya ayah, kebiasaan ayah sehari-hari, momen-momen bersama ayah, pesan-pesan dan perkataan ayah, apapun itu. Rasanya ingin kuakses semuanya karena ternyata banyak sekali hal yang tidak bisa kuingat. 

Pagi ini aku pindah tanam bibit melon yang sudah kusemai dan yang kuingat adalah ayah. "Teh, lagi nanam apa sekarang? Mana melon teh udah berbuah belum?" Ayah adalah orang yang selalu antusias bertanya tentang kegiatan berkebunku, sementara tak banyak orang yang kepengen tahu tentang itu.

"Sini peluk ayah dulu." adalah hal yang selalu diucapkan ayah saat menantunya ini datang atau pulang berkunjung dan menyalami tangannya. Tidak cukup mencium punggung tangannya, beberapa tahun terakhir ayah selalu minta dipeluk dan dicium kedua pipinya jika aku datang atau pulang ke rumah ayah. Awalnya aku kaget dan kagok, tapi lama kelamaan jadi nyaman dan terbiasa. Dan justru hal itu yang saat ini paling aku rindukan. Aku rindu memeluk dan dipeluk ayah T_T

Sebelum ini, kukira orang-orang yang sering menulis atau mem-publish tentang kematian orang tersayangnya adalah mereka yang belum selesai menerima takdir-Nya. Ternyata ini bukan tentang itu. Ini tentang rasa rindu yang tak tahu harus diungkapkan kepada siapa karena di dunia sudah tak mungkin bertemu. Ternyata aku pun begitu. Rasanya ingin kutulis semua tentang ayah agar besok-besok bisa kubaca dan kuingat-ingat lagi. Tersebab orangnya sudah tak lagi bisa kutemui, maka memori-memori itulah yang hari ini menjadi barang berharga yang tak ingin aku hilangkan.

Tapi mengakses memori bersamanya bukan tanpa resiko, beberapa memori harus dibayar dengan air mata dan rasa rindu yang semakin bertambah. Hhhh.. serba salah memang. Aku hanya berharap semoga nanti akan tiba masanya dimana saat aku mengingat ayah, emosi yang hadir adalah full rasa bahagia tanpa ada lagi rasa sedih dan kehilangan. Entahlah apakah bisa atau tidak, tapi harusnya bisa :)

Lalu pikiranku terbang memikirkan suami dan adik-adik iparku yang merupakan anak kandung ayah, juga bunda. Jika aku yang baru bertemu ayah 8 tahun lalu saja rasa rindunya seperti ini, apalagi mereka ya? Suami dan adik-adik ipar sudah bersama ayah sejak mereka lahir, tentu mereka punya memori lebih banyak lagi bersama ayah. Apalagi bunda yang sudah hampir 34 tahun hidup bersama ayah dan sudah mengenalnya sebelum itu. Belum lagi rumah yang setiap sudutnya menyimpan memori tentang ayah, sementara bunda dan adik-adik (yang tinggal di rumah bersama bunda), masih tinggal di situ. Semoga bunda, suami, dan adik-adik, Allah mampukan mengatasi rasa rindunya. 

Ternyata rindu ini berat, ya.. Dan sepertinya tak akan pernah selesai sampai nanti betul-betul bertemu lagi di kehidupan yang selanjutnya. Sejauh ini caraku mengatasinya adalah dengan menulis, mendoakan, dan terus berkata pada diri sendiri, "Berbahagialah, karena insya Allah saat ini ayah sedang berbahagia dan dimuliakan oleh Allah."

Hidup harus terus berjalan. Ayah sudah selesai tugasnya di dunia dengan membawa bekal yang banyak untuk menemui-Nya. Tinggal aku, dan semua yang masih hidup, yang masih harus mengumpulkan bekal agar bisa kembali pulang dengan selamat. Seperti doa kami semua di malam pertama Ramadhan saat itu, semoga kami bisa saling menyelamatkan di akhirat supaya nanti bisa sama-sama Allah kumpulkan lagi di surga. Aamiin..

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu..

Rabu, 10 April 2024

Jamuan Ramadhan dan Hidangan Penutupnya

"Alhamdulillah terasa sekali banyak peluang amal shaleh dan banyak peluang digugurkannya dosa-dosa di Ramadhan tahun ini. Walau begitu, peluang tersebut bisa saja menjadi kesempatan yang hilang jika tidak ada keikhlasan dalam menjalani takdir demi takdir dari-Nya. Semoga Allah mampukan untuk ikhlas dan ridho "diperjalankan" oleh Allah supaya pahala dan ampunannya beneran dapet. Allahumma innaka 'afuwwun kariim, tuhibbul 'afwa fa'fuannaa.."

***

28 Ramadhan 1445 H, 7 April 2024, hari Ahad. Pukul 14:58 WIB di ruang ICU Rumah Sakit Al-Islam, Allah panggil salah satu hamba kesayangan-Nya. Alhamdulillah, di usianya yang ke 58, ayah (mertua) berpulang di bulan yang baik, di hari yang baik, di waktu menjelang ashar.

Ramadhan kali ini banyak sekali jamuan yang Allah hidangkan. Dan ternyata hidangan penutupnya adalah nasihat kematian. Sedih karena kini aku sudah tidak bisa bertemu dan memeluk ayah lagi, tapi juga bahagia sebab kepulangannya begitu indah yang diam-diam membuatku iri, bisakah kelak saat Allah panggil pulang nanti, aku juga bisa membawa bekal yang banyak seperti ayah untuk bertemu Allah? :')

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan tentang ayah, tapi biarkan aku bercerita dulu bagaimana Ramadhanku berjalan sejak hari pertama. Malam pertama Ramadhan di tahun ini adalah malam yang paling aku syukuri dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Malam itu adalah malam dimana aku dan keluarga suami (ayah, bunda, semua anak-anak dan mantu) berkumpul untuk saling mengobrol dari hati ke hati. Obrolan yang dalam sekali sampai semua orang bebas mengungkapkan segala unek-unek dan ganjalannya satu sama lain. Obrolan kami berlangsung lama sekali dari setelah tarawih hingga menjelang sahur. Ya, malam itu kami tidak tidur.

Ada banyak air mata yang tumpah, tapi ada lebih banyak lagi rasa syukur yang tumpah. Malam itu, tuntas semua hal-hal yang mengganjal di hati. Malam itu, kami saling islah dan memaafkan. Saling memberi pesan dan menunjukkan rasa sayang. Dan setelah ayah berpulang, aku baru menyadari bahwa sepertinya segala kejadian di malam itu adalah hadiah dari Allah untuk ayah. Sebab ayah berpulang dalam kondisi ayah sudah ridho dan memaafkan anak-anaknya serta anak-anaknya pun ridho dan sudah memaafkan ayah. Malam itu betul-betul menjadi awal yang baik untuk mengawali Ramadhan. Lalu dimulailah pendidikan dari Allah melalui Ramadhan ini…

Aku sakit di hari ke-3 Ramadhan. Demam, badan linu, lemes, mual, entah sakit apa, tapi cukup membuat aku kepayahan terutama di 3 hari pertama sakit. Alhamdulillah Allah beri kesembuhan dan bisa beredar lagi setelah 6 hari bedrest. Dan ternyata Allah tetap beri kekuatan untuk bisa shaum (karena kalaupun nggak shaum karena sakit, kerjaanku cuma di kasur dan makan pun cuma masuk dikit, jadi mending shaum aja sekalian ya kan wkwk), bahkan tanpa diduga Allah masih memberi kekuatan untuk nggak skip tarawih dan bisa tetep tadarus 1 hari 1 juz. Walaupun rasanya struggling bangett.. Alhamdulillah selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Setelah sakit alhamdulillah bisa keluar rumah lagi, bersilaturahim lagi, beribadah dengan lebih mudah karena badan sudah lebih kuat, dan ada beberapa amanah yang aku kerjakan juga.

Malam ke-13 Ramadhan aku berkesempatan mabit bersama sahabat-sahabat terdekatku. Sudah menjadi agenda tahunan tiap Ramadhan kami selalu mengagendakan mabit bersama. Aku diminta mengisi sharing session untuk belasan perempuan yang hadir malam itu dan setelahnya ada sesi sharing lagi menyampaikan rasa syukur dan harapan atas dipertemukannya dan diperjalankannya kami semua oleh Allah. Lagi-lagi Allah menganugerahkan malam yang indah untuk saling belajar dan merekatkan ikatan ukhuwah kami. Alhamdulillah..

Hari ke-18 Ramadhan, subhanallah aku diuji sakit lagi. Kali ini sakitnya dari sakit gigi yang bikin demam, sakit kepala, mual, dan… badmood (wkwk). Demam karena sakit gigi ini berlangsung 4 hari dan lumayan struggling karena di sakit kali ini aku ada agenda-agenda yang nggak bisa di skip. Soalnya sakit gigi tuh sakit yang agak nanggung sebenernya ya, dibilang sakit kayaknya nggak sakit-sakit banget, tapi dibilang nggak sakit juga da badannya nggak enakeun buat diajak ngapa-ngapain hahaha. Jadi ya udah disabarin aja wk.

Hari ke-20 Ramadhan, walau masih dalam kondisi sakit gigi dan agak demam, tapi aku bersyukur karena di hari itu aku berkesempatan mendampingi ayah mengisi sebuah diskusi Ramadhan. Ayah meminta aku duduk di sebelahnya dan aku mendengar dan mencatat apa-apa yang disampaikannya. Hari itu ayah bersemangat sekali berbagi ilmu walau seberesnya ayah berkeringat banyak sekali. Besok dan besoknya lagi, ada forum-forum lain yang juga ayah isi. Itulah ayah, selalu bersemangat untuk menjemput amal-amal shalehnya.

Sampai tibalah hari yang mengagetkan itu datang. Siang hari di tanggal 24 Ramadhan, Bunda tiba-tiba menelepon menyuruh semua anak-anaknya yang sudah menikah (karena sudah beda rumah) untuk segera pulang dan melihat kondisi ayah. Dalam kondisi bingung namun khawatir karena suara bunda terdengar parau, aku dan suami bergegas pergi ke rumah ayah. Saat sampai, ayah sedang dituntun dzikir oleh adik iparku. Alhamdulillah kondisinya sadar dan masih bisa mengikuti berdzikir. Ternyata sebelum itu ayah sempat kejang selama 5 menit, yang setelahnya baru diketahui bahwa ayah terkena serangan stroke. Badan sebelah kirinya sulit digerakkan. Sore itu, ayah segera dilarikan ke IGD. 

Di IGD sambil menunggu ruangan, ayah masih bisa kami ajak ngobrol bahkan masih sempat-sempatnya bercanda. Minum susu, minum obat, ditunggui bergantian oleh anggota keluarga sampai akhirnya menjelang tengah malam ayah bisa masuk ruangan untuk dirawat. Malam itu aku khawatir tapi tetap optimis ayah insya Allah akan sembuh. Setelah ayah dirawat di ruangan, anak-anak dan bunda membuat jadwal untuk bergantian jaga di rumah sakit.

Sayangnya, aku ada kegiatan kepanitiaan sanlat selama 3 hari jadi aku belum bisa ikutan jaga di RS sampai tanggal 27 Ramadhan. Jujur, pikiranku bercabang. Dan semakin khawatir setiap kali mendapat update kabar ayah di grup WA keluarga.

Ayah masuk ICU di hari ketiganya di rumah sakit dan saat ayah masuk ICU aku masih belum bisa menjenguk ayah. Pulang sanlat, sore harinya di jam besuk aku langsung ke rumah sakit menengok ayah karena rasanya sudah kangen sekali. Sedih sekali melihat kondisi ayah dengan berbagai selang dan ventilator yang dipasang dimulutnya untuk membantunya bernafas. Ayah sudah tidak sadar sejak dirawat di ICU.

Aku berusaha tegar dan bicara di telinga ayah. Aku bercerita tentang kegiatan sanlat, menyampaikan betapa aku kangen sama ayah, membacakan doa-doa tentang kesembuhan, memberi semangat kepada ayah untuk sembuh, menyampaikan siapa saja orang-orang yang hari itu menjenguk ayah, dan meminta doa karena aku dan Novie (menantunya ayah juga) ada agenda mengisi zoom sharing Ramadhan sekaligus galang dana infaq Ramadhan. Aku bicara di telinga ayah cukup lama, bercerita seolah-olah ayah mendengarku. Bukan tanpa alasan, karena ayah memang selalu seantusias itu mendengar cerita anak-anaknya. Jadi kupikir, ayah pasti ingin tau update kegiatan anak-anaknya.

Kata dokter, ayah kondisinya tak sadar dan memang tidak bisa menjawab saat aku bercerita. Tapi aku senang sekali karena sore itu aku melihat beberapa respon dari ayah. Seperti beberapa kali menelan, satu kali mulutnya bergerak dan matanya sempat seperti mau terbuka. Entahlah apakah itu betul respon dari ayah atau hanya gerak motorik otomatis. Tapi yang pasti aku senang dan merasa ayah sedang mendengarkan.

Esoknya, aku dan suami memutuskan jaga di RS pagi hingga siang. Namun hari itu kondisi ayah terus menurun. Berkali-kali kami dipanggil dokter ke ruang ICU menjelaskan kondisi ayah yang semakin menurun dan bisa henti jantung sewaktu-waktu. Keluarga diminta bersiap untuk kemungkinan terburuk. Haahhh rasanya nano-nano. Menyalakan harapan sambil menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk itu sulit sekaliiii..

Saat itu rasanya ingin standby aja di RS tapi aku harus mengisi zoom jam 15.30. Sekitar jam 2 siang aku dan suami berganti jaga dengan adik iparku dan suaminya. Sebelum pulang, aku sempat berbisik kepada ayah, "Ayah, ayah harus terus berjuang untuk sembuh ya sampai Allah menurunkan ketetapan-Nya.. Kalaupun akhirnya Allah menurunkan ketetapan ayah harus pulang, insya Allah kami ikhlas. Tapi sebelum ketetapan itu datang, ayah jangan menyerah untuk sembuh ya.." Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak menangis di depan ayah.

Ternyata di perjalanan pulang, kabar demi kabar berdatangan di grup WA keluarga. Ayah sempat dikabarkan henti jantung. Kemudian nadinya sempat kembali setelah di pompa jantung. Namun 5 menit kemudian ayah meninggal dunia. Aku sudah di rumah saat adik iparku menelepon menyampaikan berita kepulangan ayah. Aku dan suami menangis. Satu orang yang kami cintai kini telah pergi menghadap Rabb-nya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.. Saat itu juga zoom aku batalkan dan aku langsung kembali ke RS setelah shalat ashar.

Prosesi memandikan, mengafani dan menyolatkan pun segera dilakukan di rumah. Lalu Ayah dimakamkan beberapa menit sebelum adzan isya. Saat itu malam hari, tapi masya Allah banyak sekali yang melayat. Banyak yang sayang sama ayah. Banyak yang kehilangan. Dan banyak yang mendoakan ayah. Aku sedih, tapi lega dan bahagia karena ayah dipanggil pulang insya Allah dalam kondisi terbaiknya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.

Semoga ayah husnul khatimah, mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, dan telah gugur dosa-dosanya saat Allah beri sakit. Kini, ayah yang selalu bersemangat menjemput peluang-peluang amal shaleh sepanjang hidupnya, sudah Allah istirahatkan dari tugas-tugasnya di dunia.

Diam-diam aku merasa iri pada ayah. Ayah betul-betul membawa bekal pulang yang banyak untuk bertemu Allah. Walau aku merasa khawatir kepada diriku sendiri, bisakah kepulanganku nanti juga seindah itu? Semoga.

Itulah cerita Ramadhanku. Masya Allah sekali hidangan Allah di Ramadhan ini, tapi insya Allah ini hidangan yang sehat untuk iman. Zoom sharing Ramadhanku akhirnya dilaksanakan besok sorenya. Dan alhamdulillah Allah masih memampukan menyelesaikan khatam tadarus al-Quran di sore terakhir Ramadhan walau dengan segala ke-hectic-an yang ada.

Semoga segala tempaan di Ramadhan tahun ini mampu aku sikapi dengan benar sehingga mengundang rahmat dan ampunan-Nya. Rabbana taqobbal minna, innaka antassamii'ul 'aliim..

***

Yah, aku sedih. Aku merasa kehilangan. Ayah baik sekali dan aku merasa sangat disayang oleh ayah. Tapi aku yakin, saat ini Allah sedang menggembirakan dan memuliakan ayah. Semoga kami bisa menggembirakan ayah dengan meneruskan segala kebaikan dan perjuangan ayah. Terima kasih sudah menjadi teladan yang mengajari kami bagaimana seharusnya hidup dan bagaimana seharusnya mati. Selamat berbahagia, Yah. Sampai bertemu lagi di keabadian, dalam ridho dan limpahan rahmat-Nya. Aamiin.

Rabu, 03 April 2024

Sampai Titik Mana Aku Diuji?

"Kenapa sih aku diuji lagi, diuji lagi? Kenapa masalah hidup kok ada teruus? Sebenernya Allah mau bawa aku kemana sih?" Pernah nggak mikir begini?

Memangnya sampai titik mana sih Allah ingin menguji kita di dunia? Sampai titik mana sih Allah ingin menempa kita dengan segala amanah yang ada?

Sampai titik keAKUan kita 0%.

Ya, sampai setiap gerak dan niat kita sama sekali tidak digerakkan oleh keinginan maupun ego diri. 100% KARENA dan UNTUK Allah saja.

Berat? Sangat berat. Yang menulis ini pun masih berjuang untuk bisa meng-nol-kan diri di hadapan Allah. Tapi perjuangan hidup di dunia memang begitu. Berjuang untuk menjadi hamba Allah yang sepenuh-penuhnya.

Setiap perintah dan larangan-Nya adalah ujian. Mampukah kita tunduk dan taat tanpa tapi?

Setiap nikmat dari-Nya adalah ujian. Mampukah kita tetap MENJADI hamba saat dunia ditundukkan untuk kita?

Setiap kehilangan adalah ujian. Mampukah kita rela melepas apa-apa yang sebenarnya tak pernah kita miliki?

Setiap "panggilan" adalah ujian. Mampukah kita memprioritaskan undangan Allah di atas agenda diri?

Selayaknya para shahabat dan mujahid yang jika ada panggilan jihad, semua rela ditinggalkan. Saat keAKUan sudah nol, jangankan harta dan keluarga, jiwa dan nyawa pun rela dipersembahkan untuk-Nya.

Maka tak heran jika syuhada itu Allah beri jalur VVIP untuk masuk syurga. Mulus tanpa hisab. Sebab sudah tak ada lagi keinginan diri, semua hanyalah tentang keinginan Allah. Semua keinginan diri diselaraskan dengan keinginan-Nya.

Berat? Ya. Sekali lagi, inii beratt sekali.

Walaupun begitu, kita tetap tak ingin berhenti mencita-citakannya, bukan? Sebab Allah yang Maha Penyayang lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil. Selama kita berupaya terus berproses dan berprogres walau hanya 1% setiap harinya, insya Allah Tuhan kita yang Maha Pengasih tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun kebaikan itu.

Mari terus berikhtiar sembari berharap, semoga saat Allah panggil pulang nanti, kita bisa sampai pada keAKUan yang sudah nol.

Dan Ramadhan adalah salah satu kesempatan terbaik untuk berlatih mengikis segala keAKUan di dalam diri. Selamat berjuang, kita! πŸƒπŸƒπŸƒ



#RamadhanReflection

Kamis, 22 Juni 2023

Mimpi

Suatu siang di bulan Ramadhan, aku pulang ke rumah dan mendapati suamiku sedang tidur.

"Aa, aku pulang.. Aa udah sholat kan?" bisikku di telinganya.

Sambil masih agak ngantuk, doi bangun dan cerita, "Tadi Aa mimpi, marah-marah ke Neng karena Neng pulangnya telat..."

Memang sebelum aku pulang, Aa watsap aku, ngingetin untuk udah ada di rumah sebelum jam 3 karena doi mau pergi. Dan aku nyampe rumah sebelum jam 3 kok seperti yang dia minta. Tapi mungkin setelah nge-whatsapp itu dia tidur dan kebawa mimpi kali ya. Haha.

"Hahaha, kalo marah-marah berarti batal dong puasanya," kataku menanggapi.

"Iya, sampe batal puasa Aa." Maksudnya batal puasa di mimpi ya.. wkwk

Aku cuma ngikik aja sambil ngebayangin kayaknya marah-marah dia di mimpi itu heboh dan drama banget kali ya? XD

"Maafin aku atuh ya, di mimpi Aa aku pulang telat dan bikin Aa marah," kataku dengan nada bercanda (yang sebenernya nggak perlu juga minta maap ya kan, karena itu cuma mimpi haha). Kukira udah beres tuh di situ perkara mimpi ini.

Eeh ternyata beberapa menit kemudian dia bilang lagi, "Neng, maafin Aa ya tadi di mimpi marah2 ke Neng.." Lucunya, mukanya keliatan agak menyesal gitu, kayak abis ngelakuin kesalahan besar, padahal kan itu cuma di mimpi, tapi penyesalannya kebawa sampe pas udah bangun XD

Tapi ini kocak sih, saling minta maaf sama kesalahan yang ada di mimpi. Padahal kan itu cuma mimpi yak, ngapain juga pake minta maap segala ya kan, orang kita sebenernya nggak ngelakuin kesalahan wkwkwkwk. Aja-aja ada.

Sabtu, 17 Juni 2023

Pijit (3)

cerita pijit (1) di sini

cerita pijit (2) di sini

Tadi malem, aku lagi pijitin suami karena doi lagi kurang enak badan. Kalo lagi sakit gitu tuh aku suka lebih tulus gitu kalo mijitin, karena ya kasian.. Dan ngeliat suami tidak berdaya cuma bisa rebahan di kasur tuh aku jadi lebih merasa dibutuhkan gituu(ceilah), makanya mijitnya juga lebih niat wkwk. *maapkan aku suami

Lagi pijit2 tangannya, iseng aku nyeletuk, "Aa kalo lagi aku pijitin gini, ngerasa disayang banget sama aku nggak?" Pertanyaan iseng tapi serius karena aku kepo apakah dia punya momen2 bersamaku yang itu tuh bikin dia ngerasa disayang/diperhatiin banget sama akuu..

Nggak pake mikir, ternyata doi langsung jawab, "Nggak dipijitin juga ngerasa disayang kok."

Haaahhh meleleh aku dengernyaaa wkwkwk.. Muka aja sok cool padahal dalem hati mah jerit2 seneng. Hahaha XD

*maap ya kalo norak, pak suami ini soalnya jarang2 ngomongnya manis kek gitu wkwk

Senin, 29 Mei 2023

Selesai, Tapi Bukan Akhir

2016-2023 😊

Allah, apa yang Kau titipkan, kini kukembalikan pada-Mu.. Memang tidak dalam keadaan yang terbaik, tapi setidaknya sudah lebih baik sejak aku menerimanya pertama kali.

Kuserahkan pada Engkau sebaik-baik penjaga. Semoga apa yang telah ditanam, tetap menghujam akarnya, kokoh batangnya, lebat buahnya, meneduhkan bagi sekitarnya dan terus meluas manfaatnya 🀲

Setelah hari ini, mungkin tak semua mekar bisa aku saksikan. Tak setiap buah bisa aku jumpai. Tak lagi bisa kubersamai tumbuhnya inci demi inci. Tapi kutitipkan pada-Mu lewat doa-doa, semoga penjagaan-Mu tak pernah lepas dan cahaya-Mu selalu menyinari.

Semoga Engkau terima setiap amal, Engkau ampuni setiap kelalaian, Engkau sempurnakan apa-apa yang kurang, Engkau jadikan semakin baik untuk yang akan datang. Rabbanaa taqobbal minna innaka antassamii'ul 'aliim.. 🀲

Bandung, 28 Mei 2023




Allah.. jika aku boleh meminta.. dan jika permintaan ini baik untukku, berikan aku pengganti dari apa yang telah Engkau ambil dariku..

Selasa, 23 Mei 2023

Rindu Itu Datang Lagi

Pagi tadi, rinduku untuk menjadi ibu mencuat lagi. Tangisku sering pecah jika melihat anak-anak shaleh shalehah dari saudara-saudaraku seiman. Melihat anak-anak laki-laki yang shalat, anak-anak perempuan yang berkerudung, hampir selalu menjadi trigger rasa rindu itu muncul dan jiwa keibuanku meronta lagi.

Selintas terpikir, mungkin mengapa Allah belum memberiku anak, karena Allah tahu betul, dari sekian doa yang aku pintakan pada-Nya, doa ini yang paling tulus, yang paling sering kuulang, yang terus menerus aku harapkan. Doa yang membuatku terhubung kepada Allah paling kuat. 

Mungkin ketulusan itu yang Allah sukai, mungkin ada pahala yang besar dari doaku itu, sehingga Allah menunda hingga bertahun-tahun agar pahala atas doa ini terus mengalir dan terus ada..

Sehebat inikah kekuatan doa yang tulus ya Allah? Apakah agar aku memiliki amalan unggulan di akhirat kelak? Jika memang iya, aku rela berlama-lama menunggu anak asalkan berdoa kepada-Mu bisa terus sesyahdu ini.. πŸ₯Ί

Mungkin, jika anak itu saat ini Kau beri, aku belum akan mampu ya untuk berdoa setulus ini..? :')

Kuserahkan (lagi) pada-Mu ya Allah, jika memang saat ini berdua lebih baik bagi kami, ilhamkan kepada kami untuk senantiasa berdoa kepada-Mu. πŸ€²

Terima kasih yaa Allah yaa Rahiim, dari proses penantian ini aku memahami dan meyakini bahwa berdoa kepada-Mu memang tidak pernah sekalipun mengecewakanku.. πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ’—

***

Mungkin perkara menanti ini juga relate dengan banyak orang. Ada yang juga sedang menanti anak, menanti jodoh, menanti pekerjaan, menanti apapun yang sampai rasanya setulus dan se-desperate itu kita meminta.

Bagaimana jika doa-doa tulus itu yang menjadi pemberat amal sholeh kita kelak? Bagaimana jika Allah memberi 'upah' besar di hari akhir nanti, atas khusyuknya kita saat berdoa? Jangan-jangan, menunda sebenarnya adalah tanda Allah sayang, sebab Allah tahu bahwa kita belum mampu untuk khusyuk dalam ibadah atau doa yang lain.

Inilah indahnya berbaik sangka kepada Allah. Penundaan yang awalnya membuat kecewa, perlahan berganti menjadi rasa syukur. Dan hati jadi lebih lapang untuk menerima bahwa takdir terbaik adalah apa yang dihadirkan-Nya saat iniπŸ’—

Rumah untuk Jiwaku

Ramadhan udah lewat sebulan, bahkan Syawal aja udah lewat, tapi rasanya masih ngeganjel kalau nggak nulis #refleksiramadhan tahun ini. Buat aku baca lagi nanti-nanti.

Sebelum Ramadhan datang, hati gelisah nggak karuan, ada rasa hampa yang nggak bisa dijelaskan walau berusaha kutepis dengan banyaknya ibadah. Saking frustrasinya, aku memulai malam Ramadhan dengan tangis, mengaku pada Allah bahwa ada yang salah dengan diri, memohon maaf-Nya, dan meminta pada-Nya satu hal: Ya Allah, tunjukkan jalan pulang untuk jiwaku.. πŸ₯ΊπŸ€²

Maha Baik Allah, Ramadhan selalu hadir membawa pendidikan bagi setiap hamba, tak terkecuali untukku. Sesuai doaku, dari Ramadhan kemarin, Allah seperti mengajakku untuk memaknai kembali makna pulang. Tangis yang awalnya tangis frustasi, perlahan berubah menjadi tangis penyesalan, lalu berubah lagi menjadi tangis syukur, sebab Allah benar-benar menuntun untuk menemukan jawaban dari apa yang aku minta.

Namun dalam perjalanan menemukan jawaban itu, aku bertemu banyak kenyataan pahit. Butuh keberanian untuk mengakuinya, dan butuh keberanian yang lebih besar untuk mau memulai memperbaikinya.

Ternyata, ada banyak salah yang belum benar-benar aku taubati.
Ternyata, aku masih saja bergantung pada diri.
Ternyata, aku belum sepenuhnya jujur mengakui kelemahan dan kehinaan diri di hadapan-Nya.
Ternyata, aku belum seingin itu untuk meraih ridho-Nya.

Hebat sekali ya, racun hati bernama kesombongan itu, datangnya halus sekali sampai-sampai tak sadar bahwa diri telah tergerogoti. 😭

Alhamdulillah, hadirnya Ramadhan menyadarkanku dari apa yang luput. Ternyata, Allah tidak pernah kemana-mana. Aku yang selama ini tanpa sadar menjauh.

Perlahan, kuketuk lagi pintu rumah itu.
Rumah untuk jiwaku.
Tempat dimana aku kembali bertemu dengan diriku sendiri.
Tempat dimana aku merasa terhubung dengan-Nya.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, tangis itu akhirnya pecah. Tangisan syukur. Tergugu di atas sajadah, aku berbisik dalam hati, "Allah.. Aku pulang.."

Lega.. πŸ₯ΊπŸ˜­

Pelajaran terbaik Ramadhan tahun ini: pulangkan jiwamu pada Allah, sebelum Allah benar-benar memanggilmu 'pulang'..

Minggu, 22 Januari 2023

Purpose of Pain

*dikutip dari Monday Love Letter #187, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Perasan saya hari ini baik, sangat merasa bersyukur dan menikmati hectic-nya hari demi hari karena ada beberapa program yang sedang dijalankan. Lelah sudah pasti, tapi entah kenapa dalam lelah itu saya merasa senang dan lega. Lelah yang bahkan tidak memberi ruang untuk mengeluh, tapi malah menghujani saya dengan syukur. Saya sering merasa takjub bahwa mixed feeling semacam itu ternyata ada. Lelaaah sekali secara fisik dan pikiran, tapi rasanya lega, senang, dan amat bersyukur. Hal ini seringkali terjadi pada saya jika sedang mengerjakan proyek kebaikan atau proyek dakwah. Intinya aktivitas yang dilakukan untuk kemaslahatan orang lain, bukan memikirkan diri sendiri. Kalau kamu, sedang merasakan apa sekarang? Boleh kalau mau cerita :)

Paragraf di atas cukup sebagai aliran rasa saja, karena sebetulnya ada hal lain yang ingin saya bahas di surat kali ini yang mungkin akan membantumu juga dalam menjalani kehidupan ini. Saya mengawali awal tahun ini dengan membaca sebuah buku berjudul Healing The Emptiness yang ditulis oleh Yasmin Mogahed. Seperti judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk menyadari mengapa rasa hampa di dalam jiwa bisa terjadi dan bagaimana cara mengisi ruang kosong itu. Baru membaca 2 bab saja saya sudah banyak tercerahkan oleh tulisannya. Salah satu tulisan favorit saya ada di bab 1 judulnya Purpose of Pain.

Pain is a messenger. Sebuah kalimat sederhana, namun terdengar seperti sebuah pesan penting bagi saya sehingga kalimat itu saya beri underline dan stabilo di bukunya. Analoginya, misalkan ada yang terasa sakit dari badan kita, bukankah itu adalah sebuah pesan bahwa ada yang bermasalah dari badan kita? Sakit gigi, sakit perut, sakit kepala, adalah sinyal dari tubuh untuk memberi pesan bahwa ada masalah dengan badan kita. So, yeah, pain is a messenger.

Bagaimana dengan jiwa? Kurang lebih sama. Ketika kita terlalu banyak merasa takut, cemas, gelisah, sedih, kecewa, itu adalah sinyal dari jiwa bahwa ada yang bermasalah dengan jiwa kita. Buka berarti kita tidak boleh merasa takut, cemas, dan sedih, hanya saja jika berlebihan tentu tidak baik.

Merasakan pain atau sakit tentu tidak nyaman, repot dan bikin kita uring-uringan. Tapi yang lebih repot adalah jika kita mengabaikan pain tersebut dan tidak mencarikan obatnya. Suffering is what happens when we repeatedly ignore the message of our pain, tulis Yasmin Mogahed dalam bukunya. Sebab, tidak semua luka bisa sembuh sendiri. Sebagian luka perlu segera ditangani dan diobati agar tidak semakin memburuk dan merugikan kita.

Namun, dalam menangani luka, penting sekali untuk mengetahui sumber masalahnya agar penanganannya tepat. Misalnya kita sakit gigi karena ada infeksi, tentu penanganan terbaik adalah mengobati infeksi tersebut bukan hanya sekedar memberi penahan rasa sakit. Sakitnya mungkin hilang, tapi tidak benar-benar menyembuhkan karena infeksi yang dibiarkan tentu akan terus menyebar dan semakin berbahaya.

Sama halnya dengan jiwa kita, emosi negatif yang kita rasakan sebaiknya tidak dibiarkan atau langsung didistraksi dengan hal-hal yang membuat kita senang tanpa terlebih dahulu menangkap pesan dibaliknya. Ingat, pain is a messenger. Jangan diabaikan sebelum kita menemukan sumber masalahnya.

Lalu apa obat dari hati yang kosong? Jawabannya hanya satu: kembali pada-Nya. Terkoneksi kembali dengan Allah adalah obat dari segala penderitaan. Pain and suffering is different. Kita mungkin bisa merasakan sakit, kita boleh saja diuji dengan berbagai masalah, tapi merasa menderita adalah pilihan. Semakin kita jauh dari Allah, semakin jauh pula obat dari segala kegelisahan dan kekosongan jiwa.

Sometimes when we feel empty, we don't realize that our soul is crying out. That our heart is starving for God. Instead, we look to disctract ourselves with other things, other people, other activities. - Yasmin Mogahed

Kesalahan terbesar kita adalah saat kita menganggap bahwa kita akan merasa lebih baik dengan mendistraksi atau lari dari sumber masalah. Memilih mencari hiburan dan melupakan Allah sebagai pemberi solusi sama halnya seperti meminum pereda sakit saat kita sebetulnya butuh obat untuk infeksi. Mungkin akan berhasil untuk sementara waktu, tapi kekosongan dalam jiwa kita pasti akan datang lagi dengan kondisi yang semakin menganga.


Semenjak menyadari hal ini, sudut pandang saya terhadap masalah dan ujian hidup perlahan berubah. Hidup ini memang tempatnya ujian dan terkadang kita tidak bisa menghindari pain. Kita juga tidak bisa memaksa untuk terus hidup dalam kesenangan terus menerus, karena memang tidak mungkin. Tapi kita bisa berdamai dengan keadaan saat melihat luka dan rasa sakit dari sudut pandang yang lain, yakni sebagai pembawa pesan bahwa ada yang salah dengan diri, sehingga kita bisa segera menyadari akar masalahnya dan segera mengobatinya.

Dengan ini, saya semakin yakin bahwa apapun yang datang dari Allah dan apapun yang menjadi ketetapan-Nya untuk terjadi dalam hidup kita, adalah PASTI YANG TERBAIK. Kesulitan hidup yang membuat kita kembali pada Allah merupakan anugerah. Namun kemudahan hidup yang menjadikan kita lupa pada Allah, justru adalah bencana yang sebenarnya.

Semoga kita selalu mampu menghadirkan Allah dalam keadaan apapun. Insya Allah hati akan selalu terasa penuh dan tenang senantiasa bersemayam dalam jiwa.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Rabu, 04 Januari 2023

Takjub pada Cara-Nya Mengantarkan Rezeki

Akhirnya punya buku ini :')

Panjang perjalanan sampai akhirnya buku Healing The Emptiness - Yasmin Mogahed ini bisa tiba di tanganku. Tapi biar kuceritakan dulu kenapa aku ngincer banget buku ini.

Tahun 2016, pertama kalinya aku mendengar nama Yasmin Mogahed. Salah seorang sahabatku merekomendasikan aku untuk baca buku beliau yang berjudul Reclaim Your Heart. Dia ngirim buku itu ke emailku dalam bentuk pdf, versi bahasa inggris. Gak tau sih ini legal atau nggak, soalnya di masa itu pdf nya bener-bener beredar banget jadi aku sempet mikir baik banget penulisnya bagi-bagiin pdf gratis? Wkwk. Ya wallahu 'alam sih, tapi kalo ternyata itu dari pembajakan, mohon maap aku gatau huhu.

Akhirnya aku baca buku itu and i loveeeed it so much! Walaupun bahasa inggris, tapi pemilihan katanya sederhana jadi masih bisa dimengerti. Dan aku suka banget sama pembahasannya. Tegas, lugas, banyak jleb-nya, tapi tidak menggurui. Juga banyak pemikirannya yang mindblowing dan bikin aku tergugah untuk terus balik lagi ke Allah. Masya Allah, tabarakallah..

Sejak saat itu, kunobatkan buku Reclaim Your Heart sebagai buku favoritku. Dan aku bercita-cita pengen punya buku aslinya. Pernah ada di toko buku versi terjemahan bahasa Indonesianya, tapi entah kenapa kurang sreg gitu sama terjemahannya, jadinya aku nggak beli. Baca yang bahasa inggrisnya lebih nampol, serius deh.

Tapi Allah mah Maha Baik dan Maha Mendengar doa, tahun 2018 aku coba kontak bibiku yang lagi tinggal di Amerika untuk cariin buku itu. Dan ternyata beneran dibeliin dooong huhuhu. Akhirnya buku Reclaim Your Heart resmi menjadi milikku setelah bibiku pulang ke Indonesia 2 bulan setelahnya. Alhamdulillah, senengnya bukan main! <3

Nah, jadilah pas tahun 2022 lalu Yasmin Mogahed ngumumin kalo dia launching buku baru yang judulnya Healing Your Emptiness, aku langsung ngincer bangettt. Cuma ya awal-awal launching harus sabar karena pasti susah banget dapetnya. Bulan-bulan pertama setelah launching aku cuma bisa liat review orang-orang aja di IG beliau sambil ngiler. πŸ˜ƒ

***

Beberapa bulan berlalu, ada berita kalo September 2022 Yasmin Mogahed mau ke Jakarta. Sudah pasti bukunya dijual doong.. Aku langsung nitip sama sahabatku yang jadi panitia volunteer acara di sana. Katanya harganya 378.000, jujur pas denger harganya langsung kepikiran, hmm mahal ya ternyata. Tapi karena saking pengennya, aku beraniin diri tetep pengen beli, uang mah bisa dicari lagi lah. Tapiii qadarullah, ternyata nggak dapet karena kehabisan :')

Akhir September 2022, bibiku yang pernah ngebeliin buku Reclaim Your Heart ngabarin kalau beliau mau ke Amerika bareng suaminya selama 1 bulanan lebih. Langsung kumanfaatkan momen ini untuk nitip buku Healing The Emptiness, dan di-iya-kan oleh bibiku, katanya nanti kalo udah sampe New York, bakal mampir ke toko buku langganannya.

Ternyata oh ternyata, sesampainya di Indonesia bulan Desember, bibiku ngabarin kalau katanya beliau udah cari ke beberapa toko buku seperti Strand dan Barns & Noble yang biasanya ada koleksi lengkap, tapi ternyata bukunya nggak dijual. Di Strand sama sekali nggak ada, di Barns & Nobel hanya jual online (nggak bisa pick up di tokonya), sementara waktu beliau di New York tinggal beberapa hari lagi jadi nggak memungkinkan pesen online di sana. Jadi nggak beli deh. Yah sudahlah ya..

Sebenernya bibiku itu sempet nawarin untuk beli online di Indonesia dan kalau aku punya link toko buku di marketplace yang jual minta dikirimin ke beliau. Tapi yang jual di marketplace ternyata belum banyak, sekalinya ada, harganya 395.000, hikss mahal banget. Jadinya aku nggak enak minta beliinnya (padahal kalo beli di New York pun sama sih harganya sekitar 25 dollar, sekitar 400ribu jugak wkwk). Akhirnya keinginan beli buku itu aku pendam lagi.

Meanwhile, di bulan yang sama, Desember 2022, salah satu sahabatku ngabarin kalau dia mau ke Singapura dan mau coba cari buku Healing The Emptiness juga di sana. Aku akhirnya nitip pengen jastip, tapi pas dikasih tau harganya ternyata 395.000 juga, hiks. Emang kayaknya buku ini tuh mahal yaa, sementara budget-ku maksimal di 300ribu. Dan jujur lagi bokek juga waktu itu wkwk, akhirnya dengan berat hati aku bilang ke dia kalo aku nggak jadi ikutan jastip.

Dia sempet ngasih tau aku, ada toko buku impor Konyv yang ternyata disana harganya lebih murah, 285.000 aja tapi PO-nya ternyata udah tutup dari bulan Oktober. Haha. Dan ternyata di akhir Desember sempet buka PO lagi tapi aku ketinggalan info. Hhhhh dah lah capek aku mah pasrah, kapan-kapan aja deh punya bukunya :'')

***

Nahh! Di titik pasrah inilah biasanya keajaiban terjadi. Kemarin, lagi bobo cantik di kasur, tiba-tiba HP geter ada telpon. Taunya dari mamang paket. Sempet bingung karena aku lagi nggak ada belanjaan atau paket yang ditunggu. Pas buka chat WA, mamangnya ternyata fotoin paket aku dan ternyata pengirimnya bernama Fitri. Fitri ini sahabatku yang pergi ke Singapura itu, dan 3 bulan lalu emang sempet nanya alamat rumahku sih. Oh mungkin emang waktu itu niatnya mau ngirim paket dan baru kirim sekarang, pikirku.

Pas paketnya dateng, lah tapi kok bentuknya buku? Aku bertanya-tanya isinya apaan. "Ah masa iya buku Healing The Emptiness. Nggak mungkin sih, itu kan mahal," kataku dalam hati. Eeh taunya pas dibuka beneran dooong isinya buku yang aku damba-dambakan ituu. Huaaa pengen nangiiiiissss 😭😭

   

Mana manis banget lagi dikasih surat segala. Ternyata dia emang udah berniat ngasih buku ini tapi nggak bilang-bilang aku.. Huaaa baik banget sih sobat aku iniiii. Surprise-nya berhasil banget karena aku nggak expect sama sekaliii. πŸ’—πŸ’—

Kaget, takjub, terharu, bengong, jadi satu pas aku akhirnya bisa pegang buku itu. Cuma satu yang ada di pikiran aku, ALLAH BAIK BANGETT. Ternyata, rezeki bisa bermacam-macam bentuknya, salah satunya berupa sahabat yang baik dan sayang aku huhuhu.. :")

Dan gemes aja gitu sama cara Allah merancang skenario. Dipikir-pikir, kalo ketika pas September itu aku langsung dapet bukunya, mungkin rasanya nggak akan sebersyukur ini. Ini udah mah dapetnya gratis, dibeliin sahabat sendiri sebagai hadiah, ada suratnya pula. Kesan secara emosionalnya jadi dapet banget. Dan jadi bersyukuuuur banget sama pemberian Allah ini. Alhamdulillah, makasih ya Allah.. Aku bahagia banget.. :")

Mpit, kalau kamu baca ini, makasih ya sekali lagi. Jazakillah khairan katsiran. Semoga Allah limpahkan kebaikan, keberkahan, kebahagiaan dan keselamatan untuk hidupmu. Makasih sudah menjadi sahabat yang baik selama 17 tahun ini. Walau jauh, tapi kamu selalu punya tempat tersendiri di hati aku. See you when i see you, insya Allah πŸ’–

***

Terus kuheran deh, kenapa temenku yang namanya Fitri pada baik-baik banget. Seminggu sebelum ini, Fitri yang lain beliin aku tas. Niat awal kami untuk ngobrol dan makan di sebuah cafe. Aku datang duluan dan nunggu sekitar 30 menit lebih awal. Eeh Fitri ini dateng-dateng langsung ngasih tas ke aku. "Haah, apaan? Buat aku?" Kataku, kaget.
"Iya, tadi tuh di jalan aku tiba-tiba dibelokin Allah mampir ke Eiger terus milih-milih tas dulu buat kamu."
"Iiihhh apaan siih random bangett, tapi jazakillah khair yaah," kaget, heran, seneng, dan terharu jadi satu. Random banget atulahh. 😭

Tapi lewat kejadian itu, lagi-lagi aku dibuat takjub dengan bagaimana skenario Allah bekerja. Sebenernya, sebelum pergi ke cafe tempat kami ketemuan, aku tuh sempet bingung mau pake tas apa. Karena aku berencana bawa mukena, tumblr dan dompet. Yang mana kalau pake tas selempang nggak muat (aku punyanya tas selempang kecil yang muat dompet sama hp doang), tapi kalau aku pake ransel kegedean.. Akhirnya aku berangkat bawa totebag ukuran sedang. Ternyata, tas yang Fitri beli itu ransel yang ukurannya pas, nggak terlalu kecil dan nggak terlalu besar. Pokoknya pas untuk kebutuhan aku deh. Masya Allah ya. πŸ˜‡

Pitong, kalau kamu baca ini, makasih banyak ya untuk segala kebaikanmu dan perhatianmu untuk aku selama ini. Nggak kerasa udah 14 tahun sejak kita saling mengenal. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih dan penjagaan-Nya yang terbaik. Jazakillah khairan katsiran say πŸ’–

***

Pelajaran yang aku dapatkan adalah ternyata Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan doa, maupun mengantarkan rezeki untuk kita. Semesta ini milik-Nya, dan mudah saja untuk Allah menggerakkan apa saja agar rezeki itu sampai ke tangan kita. Saat doa kita ditunda, percayalah Allah tidak diam. Allah sedang merancang skenario terbaik agar doa itu terkabul di waktu yang paling tepat untuk kita.

Semoga kita bisa selalu sabar dan berhusnudzon kepada Allah dalam menyikapi doa dan harap yang masih sedang "bergerak" menuju waktu terbaiknya. Yang perlu kita yakini adalah bahwa Allah pasti selalu mendengar dan selalu fast response dalam memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan kita.

Semoga atas setiap nikmat dari-Nya, semakin bertambah pula rasa cinta dan wujud syukur kita kepada-Nya.