Kamis, 02 Juli 2015

Teruntuk Sahabat Hujan Safir


Allah Sebaik-baik Pengatur. Tidak pernah ada yang kebetulan di dunia ini. Pertemuan kitapun sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya,  bukan karena kebetulan, tapi memang karena sudah kehendak Allah bahwa kita harus bertemu.

Dan siapa sangka, lewat komunitas ini aku bertemu orang-orang hebat. Aku bertemu orang-orang dengan kisah-kisah yang luar biasa, aku bertemu dengan orang-orang yang ilmunya lebih luas dan pengalamannya lebih banyak sehingga kita bisa sama-sama saling mengisi, sama-sama saling memberi inspirasi, tanpa ada niat untuk menggurui.

Aku semakin mendekat pada Allah. Sadar bahwa kemegahan dunia tidak bisa menggantikan ketenangan hati yang ditiupkan oleh Allah ke dalam hati kita. Sadar bahwa kegalauan-kegalauan karena bertemu dengan masalah hidup adalah karena Allah merindukan kita, merindukan doa-doa kita kepada-Nya. Sadar bahwa dengan ujianlah Allah meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya. Sadar bahwa nikmat dari Allah begitu banyak, tanda-tanda kebesaran Allah begitu nampak jelas di langit dan di bumi, maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan beribadah kepada-Nya. Alhamdulillah masih diberi nikmat sadar..

Aku menemukan potensiku. Semua manusia diciptakan hebat, begitupun aku. Tidak boleh lagi merasa kerdil, katakan tidak pada pesimis, dan tidak boleh lagi merasa minder. Karena kita diciptakan oleh-Nya dengan bentuk sebaik-baiknya, dan dengan berbagai potensi sebagai bekal kesuksesan kita di dunia dan dia akhirat.

Aku merapikan mimpi-mimpi yang terserak. Impian yang selama ini terkubur kini muncul lagi ke permukaan, memberikan energi yang lebih untuk beraktivitas setiap harinya, menjadikan kaki lebih mudah untuk melangkah dan lebih kuat untuk bertahan, karena aku memiliki tujuan untuk dicapai dan impian untuk diwujudkan.

Aku mendapat saudara baru, keluarga baru. Perasaan nyaman yang entah kenapa begitu saja terjalin walaupun kita baru bertemu satu sama lain. Mungkin beginilah persahabatan yang dijalin karena Allah, dijadikan-Nya dekat karena terikat oleh keyakinan aqidah yang sama..

Penutupan Sanlat kemarin bukanlah akhir. Tapi justru awal dari perjalanan kita. Tantangan sesungguhnya ada di luar sana. Perbuatan baik itu akan Allah uji, apakah betul kita sungguh-sungguh? Apakah lurus niat kita? Dan lagi, syetan tidak akan pernah tinggal diam ketika kita berjalan ke arah kebaikan, dan musuh Islam tidak akan tinggal diam melihat kebaikan yang terorganisir. Karena itulah kita butuh saling mengingatkan ketika semangat mulai turun, kita butuh saling menguatkan ketika ada saudara kita yang merasa lemah, kita butuh saling meluruskan apabila diantara kita ada yang mulai kehilangan arah.

Ada yang bilang, jika ingin berjalan cepat, pergilah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh, pergilah bersama-sama. Mari rapatkan barisan, karena Allah menyukai hamba-Nya yang berbaris rapi, kuat dan kokoh. Selamat berkarya dan selamat menjadi kontributor dengan memberikan sekecil apapun kontribusi.

Terima kasih dan selamat datang keluarga baru Hujan Safir.. Semoga syurga menjadi tempat berkumpulnya kita di negeri akhirat kelak.. Aamiin..

Kamis, 18 Juni 2015

Ini Untukmu, Lia..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang entah kenapa sudah seperti adik sendiri, 
ada rasa ingin melindungi yang lebih kepada adik satu ini..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang pernah memberi hadiah sederhana buatan tangan sendiri 
padahal waktu itu nggak ada hari spesial apa-apa. 
Sempat-sempatnya kamu mikir bikin sesuatu buat aku dek, makasih ya..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang kadang entah dimana keberadaannya 
tapi tau-tau muncul di kolom komentar satu atau dua postingan..

Ini untukmu, Lia..
Untuk orang yang entah kenapa walau jauh dalam jarak, 
tapi selalu terasa dekat..

Ini untukmu, Lia..
Bukan hadiah yang besar, tidak mewah, tidak mahal, 
hanya sebentuk cinta dan sayang yang terukir dalam sebuah surat dalam blog..

Ini untukmu, Lia..
Untuk mengirimkan rasa yang mungkin selama ini tak pernah terucapkan, 
bahwa kamu berarti, lebih dari yang kamu kira..

Ini untukmu, Lia..
Untuk mengabadikan doa dalam tulisan, 
semoga Allah menyayangimu selalu,
semoga Allah berkenan mengumpulkan kita lagi di syurga-Nya,
seperti halnya Dia berkuasa mempertemukan kita di dunia 
dalam persaudaraan yang semoga mengundang ridho-Nya.. Aamiin..

Barokallahu fi umriik, adik kesayangan.. :)

Kamis, 30 April 2015

Hi, 23rd..

29 April kemarin aku ulang tahun, rasanya beda sama tahun lalu. Ulang tahun ke-22 di tahun lalu aku sambut dengan ogah-ogahan, tiba-tiba ga pengen nambah umur aja, aneh. Walaupun akhirnya banyak juga hikmahnya yang kemudian aku tulis di postingan ini, tepat setahun yang lalu.

Ulang tahun ke-23 ini agak beda. Agak ga peduli awalnya, karena semacam jadi punya pemikiran, "Ya udah sih, emang kenapa kalo ulang tahun, toh tiap hari juga tambah tua." Jadi ya udah, woles aja, kayak hari biasa aja. Lagian hari itu ada satu momen terkait skripsi yang harus bikin aku stay di kampus dari jam 7 pagi, jadi perhatiannya tersita kesana. 

Tapi tiba-tiba ucapan ulang taun dateng dari mana-mana. Adik-adik tingkat angkatan 2011 yang bareng ngurusin skripsi sama aku (ngerakeun barengannya sama anak 2011. haha) pada ngasih selamat karena tahu hari itu aku ulang tahun, ada yang khusus dateng ke kampus buat ketemu aku terus ngasih kado (terharu lah, asa udah lama ga dapet kado. hahaha), ada yang ngucapin lewat fb, sms, wa, line, ada yang ngirim voice note pula nyanyi happy birthday, bahkan ada yang nulis di blognya yang sukses bikin aku speechless (tapi juga senyum-senyum sendiri) yang akhirnya bikin aku pengen nulis juga di blog. :D

Ngeliat perhatian yang luar biasa dari orang-orang gitu, bikin aku diem, speechless, terharu.. Karena aku merasakan doa-doa yang tulus dari mereka, dan aku jadi tau bahwa kehadiranku ternyata berdampak baik buat mereka, atau minimal berkesan.

I guessed... is this the feeling of being loved?

Soalnya banyak temen-temen yang udah lama ga ngontak jadi muncul lagi, jadi ngobrol lagi.. Ada juga orang yang kukira biasa aja, ternyata peduli.. Kata-kata yang mereka sampaikan, baik tersirat ataupun tersurat, menunjukkan bahwa ternyata ada satu bagian dari kehidupannya yang dia sediakan khusus untukku, entah porsinya besar atau kecil. Jadinya ngerasa terharu aja gitu, karena merasa dicintai. *semoga bukan geer. haha*

Allah juga baik banget sama aku, bersyukur banget banget banget dibersamai oleh orang-orang baik di sekeliling. Setiap hari ulang tahun punya cerita yang berbeda. Terima kasih Allah, untuk yang kesekian kalinya aku merasakan nikmat-Mu yang begitu banyak dan cinta-Mu yang begitu luas. Alhamdulillah.. Makasih semuanya :)

Jumat, 06 Maret 2015

You're Strong!

"Just remember one thing. 
There's a limit of being sick, but fear has no limits. 
Whether it's your heart or your body, you can endure pain. 
However, don't be afraid, no matter what happens."

Dapet quote ini pas lagi nonton film, dan kepikiran terus selama beberapa hari ke belakang. Respon pertama pas denger pemeran utamanya ngomong itu bengong dulu, "Eh? Iya juga ya.." terus dicatet karena quotable. :D

Dipost di blog, buat jadi reminder untuk diri sendiri. Ga ada alasan buat merasa takut, karena semenyeramkan dan semenyakitkan apapun yang akan dihadapi di depan sana, tubuh dan hatimu akan kuat bertahan. Because you are stronger than you think. 

Tentunya tanpa melupakan bahwa hakikatnya yang memampukan dan memberi kekuatan adalah Allah. :)

*Whether it's your heart or your body, you can endure pain. However, don't be afraid, no matter what happens.

Senin, 16 Februari 2015

Bagaimana Jika

Kau selalu bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama. Bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu, dan bagaimana-jika yang semuanya tentang ketakutanmu, tentang hal yang bahkan belum terjadi, seolah kamu bisa menerawang apa yang akan terjadi di masa depan. 

Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu berani menceburkan diri dan menawarkan untuk menghadapi ombak masalahmu bersamaku. Aku bahkan merasakan ketakutan yang sama ketika kamu membanjiriku dengan pertanyaan bagaimana-jika-mu itu. 

Tapi aku tetap ingin maju. Aku tetap ingin menarik tanganmu, bagaimanapun caranya. Karena yang kupikirkan bukan tentang bagaimana jika gagal, tapi bagaimana jika berhasil?

Jika kau bertanya mengapa aku mau-maunya melakukan itu semua, entahlah, aku hanya punya keyakinan. A faith, that you deserve a better future

Dan jika kau bertanya mengapa aku begitu keras kepala, jawabannya sederhana. 
Karena aku peduli.

Minggu, 01 Februari 2015

Nasihat dari 2 ibu-ibu dalam ngobrol santai di suatu malam..

Kalian tuh harusnya bersyukur, dulu mah perempuan pake kerudung teh susah. Bahkan ada yang kalau pulang ke rumah kerudungnya harus dibuka dulu karena ga dibolehin sama orangtuanya..

Kalian tuh harusnya bersyukur, dulu kita mah yatim (ayahnya udah ga ada) teh beneran yatim.. Kan pengertian yatim itu sebenernya mereka yang tidak mendapat didikan aqidah dari orangtuanya..

Satu hari di akhirat itu sama dengan 1000 tahun di dunia. Jadi kalau di dunia hidup selama 60 tahun misalkan, berarti sama dengan kurang dari 2 jam di akhirat. Artinya kehidupan dunia tuh sangat sebentar sekali, tapi yang sebentar itu menentukan nasib kita di akhirat kelak. Makanya sayang kalo hidup cuma ngejar dunia aja mah, harus berorientasi akhirat semuanya, harus dalam rangka beribadah kepada Allah..

Kita harus punya cita-cita sekeluarga teh berkumpul sama-sama lagi di akhirat, dalam ridho Allah tentunya.. Kan seru ya kalau di dunia barengan ternyata di akhirat ketemu lagi. Sehingga kematian itu bukan menjadi sesuatu yang membuat sedih berkepanjangan, da mati mah nunggu giliran. Karena ga semua keluarga bisa sama-sama lagi di akhirat.. Nabi Nuh misah sama anaknya, Nabi Luth misah sama istrinya.. 

Dan satu pesan yang selalu diulang-ulang, "mumpung masih muda.."

Senin, 29 Desember 2014

Dari Kalian Para Pemimpin, Aku Belajar

Dari kalian para pemimpin, aku belajar, bahwa menjadi pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah.

Seorang pemimpin harus rela menekan egonya, padahal ia juga manusia biasa yang mungkin butuh bersenang-senang.
Pemimpin harus lebih menyediakan waktunya untuk mendengar, sementara di saat yang sama ia juga harus menyampaikan banyak hal kepada anggota timnya.
Pemimpin adalah orang yang pikirannya paling sibuk memikirkan strategi, rencana dan hasil, sementara anggota timnya mungkin tinggal tidur-tiduran menunggu perintah.
Pemimpin adalah orang yang paling pertama disalahkan atas keteledoran anggota timnya, malah terkadang harus bertanggungjawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya.
Pemimpin adalah orang pertama yang akan tercoreng mukanya ketika ada anggota timnya yang tidak memiliki integritas. Integritas pemimpin seringkali ikut terlukai ketika ada anggota tim yang tidak memiliki integritas.
Dan masih banyak lagi pengorbanan mereka yang mungkin selama ini tidak kuketahui.

Walau begitu, pemimpin adalah orang yang rela bertanggungjawab atas semuanya.
Pemimpin adalah orang yang akan ada di barisan terdepan untuk membela anggota timnya, percaya bahwa timnya bisa berkembang dan memperbaiki kesalahan.
Pemimpin adalah orang pertama yang akan mengulurkan bantuan, walau mungkin melalui delegasi. Kepedulian yang seringnya tak kasat mata.
Pemimpin adalah ia yang akan tetap bertahan walau yang lain berguguran.
Yang lebih mengagumkan lagi adalah, ketika ia dan timnya berhasil mencapai sesuatu, seorang pemimpin tidak pernah membanggakan dirinya, justru yang ia lakukan adalah mengapresiasi kinerja tim, bahwa dia bukan apa-apa tanpa kerjasama timnya.

Rabu, 24 Desember 2014

Menyalurkan Amarah

Di dunia ini, pasti akan ada orang yang (suatu waktu) menyebalkan, akan ada orang yang (suatu waktu) mengecewakanmu, akan ada orang yang (suatu waktu) hanya mementingkan dirinya sendiri, akan ada orang yang (suatu waktu) perangainya kurang baik. Tapi kusarankan, kau tak perlu marah pada orang-orang seperti itu.  Salurkan kemarahanmu dengan janji yang sepenuh-penuhnya pada dirimu sendiri bahwa jika kelak kamu berada di posisinya, kamu tidak akan seperti itu.


*kutambahkan "suatu waktu", karena tidak ada orang yang selamanya menyebalkan bukan?

Rabu, 17 Desember 2014

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak

by: Tere Liye

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dilingkupi kecemasan, maka Bunda juga gemetar penuh keraguan,
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, keraguan itu musnah bagai kabut disiram cahaya matahari pagi,
berganti keyakinan dan keteguhan.

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita ditimpa musibah, maka Bunda juga menghela nafas, menangis,
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, dia bergegas menyeka ujung matanya, mengusir semua sedih
berganti perasaan riang dan ketulusan.

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dirundung kekurangan, maka Bunda juga tertatih penuh beban.
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, dia bergegas berdiri tangguh, berusaha tegar dengan sisa apapun
berganti semangat menyala terus berusaha

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dalam ketakutan, dalam pertengkaran, dalam kegagalan
dalam situasi itu semua, Bunda juga tergugu berharap sandaran dan pertolongan,
tapi sungguh anakku, kau memberikan semua energi tidak terkira itu

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Maka kuberitahukan sebuah rahasia kecil ini
Betapa malam-malam, saat kau sudah tertidur nyenyak,
Bunda bersimpuh dengan air mata, berdoa, berjanji,
Akan selalu menjadi Bunda terbaik bagimu.
Walau kita tidak pernah tahu itu.

Kamis, 11 Desember 2014

Sebait Doa

Sore itu, aku bersama tiga orang teman ngobrol bareng, sambil makan. Sambil melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Saling menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing, saling memberikan informasi jika dibutuhkan. 

Tapi karena aku ada agenda, jadi aku pamit duluan. Berat sih pisahnya, karena aku seneng banget ketemu mereka setelah lama ga ketemu. Dan refleks, sambil menyalami mereka, aku mengucap doa. Semoga cepet dapet kerja, semoga skripsinya dilancarkan, semoga bulan ini ada jadwal sidang, aku mendoakan mereka sesuai dengan keadaan mereka masing-masing. 

Kemudian aku tercengang. Ternyata ucapan doa yang sederhana itu membuat wajah mereka menjadi cerah, dan mereka meng-aamiin-i dengan sumringah. Seakan mendapat hadiah besar sekali. Padahal itu hanya sebuah doa. Pemberian yang sangat sederhana.

Ternyata sebait doa sederhana bisa mengundang kebahagiaan. Bahkan bagi yang mendoakan. Akupun ikut senang ketika tahu bahwa doa itu mengundang senyum dari yang didoakan. Rasanya seperti memberi hadiah kepada orang yang tepat. Walaupun sangat sederhana. Ya, hanya sebait doa. :)

Jumat, 14 November 2014

Memahami Bahasa Tangis(mu)

Aku baru sadar, bahwa tangis adalah bahasa tubuh yang menyimpan banyak kata yang tak mampu terkatakan. Ekspresi yang menyembunyikan banyak perasaan.

Saat terlalu bahagia, sampai-sampai tak tahu bagaimana membahasakannya, kamu menangis.
Saat merasa begitu terharu, hingga tak tahu bagaimana caranya berterima kasih, kamu menangis.
Saat merasa sedih karena sebab tertentu atau bahkan tanpa tahu apa sebabnya, kamu menangis.
Saat merasa panik lantaran kekhawatiran yang tak bisa terkendalikan, kamu menangis.
Saat merasa takut, dan tak tahu harus mencari perlindungan pada siapa, kamu menangis.
Saat merasa marah namun tak sanggup melampiaskannya, kamu menangis.
Saat dikecewakan tapi tak mampu menyalahkan atau mengecewakan tapi tak sanggup mengucap maaf, kamu menangis.
Saat merasa kehilangan bersama rindu yang hampir pecah, kamu menangis.
Dan mungkin masih banyak lagi sebab tangisanmu yang aku tak tahu.

Mengapa bahasa tangismu banyak sekali? Dan yang paling menyebalkan adalah aku tak tahu bagaimana menyikapi setiap tangismu. Karena bersamaan dengan hadirnya tangis, ia selalu menelan setiap kata-katamu. Kamu hanya diam sambil terisak. Dan aku hanya bisa menerka-nerka apa yang berusaha kamu katakan lewat tiap butir air matamu.

Sabtu, 08 November 2014

Yang Tak Tertulis

Ketika aku tak bisa menyampaikan sesuatu dengan lisan, maka tulisan selalu menjadi pelarian yang ampuh untuk mencurahkan semuanya. Namun ada kalanya kata-kata bahkan tak bisa mendefinisikan apa yang sedang aku rasakan. Ada kalanya ketika sudah siap dengan kertas dan pulpen, aku tidak bisa menulis apapun walau sangat ingin.

Menggambar dan bermain musik adalah dua hal yang begitu ingin kupelajari dan aku selalu dibuat iri oleh mereka yang bisa melakukannya. 

Kalau ngeliat pensil, spidol, atau crayon suka gemes pengen bisa ngegambar. Sebenarnya sih kalo mau ngegambar ya tinggal ngegambar aja ya, cuma kadang suka sakit mata sendiri ngeliat gambar yang dibikin sendiri. -_-"

Kalau lagi di rumah juga kadang ngelamun ngeliatin gitar. Gemes pengen dimainin, tapi akhirnya cuma genjreng-genjreng nggak jelas. Abis itu sebel sendiri karena denger nada-nada ga beraturan. _-_

Bermain kata memang menyenangkan. Sayangnya, tak semua perasaan bisa "dibahasakan".

Minggu, 26 Oktober 2014

Hi

I woke up at around 2 am and when i check my phone, there's a message from an unsaved number.


25/10 23:10 Miss me?
25/10 23:12 I got 1000 free text, so here we go..
25/10 23:16 "Sometimes the smallest step in the right direction ends up being the biggest step of your life"

Hi! Nice to see you, bestfriend! Do you know how happy I am when I got your message?! :D
I knew it's you. Although you didn't put your name on it.

Congrats for your first step. Keep going. Although it's hard, although you're slow, it's okay. Just keep going. And never step back. I'm on your side. :)

Do you remember when you give me a thousand words and I replied with only two: "don't disappear"Thank you for keeping your promise. Thank you. :')

Sabtu, 25 Oktober 2014

Menjadi Atlet Allah

Kau tahu, sahabatku? Menjadi atlet Allah yang tangguh itu capek ternyata.. Kalau belum terbayang, kita bayangkan atlet olahraga aja dulu. Atlet sepakbola, misalnya. Prosesnya panjang kan? Harus latihan tiap hari, belajar terus, mengasah skill baru, uji coba pertandingan dengan berbagai tim, dari tim yang ecek-ecek sampai tim yang hebat untuk melihat sejauh apa kemampuannya jika ditandingkan dengan orang lain. Belum lagi dia juga harus merasakan sakit (hati) jika dia kalah di pertandingan, pelatihnya mungkin memarahinya. Tapi atlet yang tangguh tidak akan pernah berhenti belajar, dia memperbaiki diri dari melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.. Dan tahu apa? Belajar lagi, berarti berusaha lebih keras. Yang tadinya berlatih 8 jam sehari, jadi 12 jam sehari. Yang awalnya tidur jam 11 malam, jadi tidur jam 2 pagi lalu bangun sebelum matahari terbit. Semua modul yang dibuat pelatihnya dilahap habis. Terbayang capeknya? Capek sekali. Aku membayangkannya saja sudah capek..

Tapi apa yang kemudian dia dapat dari keletihan itu? Dia menjadi atlet sepakbola yang hebat di tengah lapangan. Dia menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah perjalanan sepakbola. Dia ditonton dan dielu-elukan banyak orang. Setiap orang suka padanya, setiap orang memujinya. Dia menjadi inspirasi bagi orang-orang, terutama bagi mereka yang ingin menjadi atlet seperti dirinya.. Pelatihnya bangga padanya, dan dia menyatakan rasa bangganya di depan orang-orang yang ditemuinya, “dia muridku, aku bangga padanya,” begitu katanya. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya? Rasanya seperti berada di puncak gunung setelah melakukan perjalanan yang melelahkan. Pencapaian-pencapaian kecil yang dulu dilakukannya kini terasa besar, perjuangan dia yang melelahkan itu kini ada nilainya. Bersyukur kepada Allah dan bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menyelesaikan prosesnya..

Lalu bagaimana menjadi seorang atlet Allah yang tangguh? Sama capeknya. Bahkan mungkin jauh lebih capek. Rasulullah dan para sahabatnya bisa kita jadikan contoh. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Rasulullah ketika beliau yang awalnya dijuluki al-Amin kemudian dikatai orang gila, tukang sihir, dsb. Sakit rasanya, merasa dikhianati.. Tidak sampai disitu, beliau juga diejek, diolok-olok, dibicarakan hal yang buruk-buruk oleh penduduk sekitar, dipukuli, dilempari kotoran, diusir, bahkan hendak dibunuh. Para sahabatnya pun demikian. Disiksa, dibunuh, hidupnya tidak tenang karena para musuh-musuh Allah itu tidak akan membiarkan ajaran nenek moyang mereka dirubah. Mereka tinggalkan keluarganya, mereka tinggalkan atribut-atribut kemaksiatan itu dengan segala risiko.. untuk satu cita-cita: menjadi atlet Allah yang tangguh. Baju yang terkoyak, daging yang tertebas, darah yang bercucuran saat perang menjadi saksi perjuangan mereka. Siksaan demi siksaan mereka lalui hanya untuk satu kata, “Ahad..”

Mengenang perjuangan mereka betul-betul membuat diriku merasa kerdil. Masih menangis karena ujian sepele padahal ujian mereka jauh lebih hebat tapi mereka tidak menangis. Tubuh mereka selalu terbaluti semangat karena keyakinan yang kuat pada Allah, karena percaya pada janji-janji Allah. Bagaimana perasaan mereka saat menjalani ujian itu?Lelah? Sudah pasti.Takut? Jelas. Taruhannya nyawa.Sakit? Ya. Mungkin sampai berkali-kali tertebas pedang atau tertusuk panah.Pengorbanan mereka berkali-kali lipat lebih besar dibanding atlet sepakbola tadi dan dibandingkan kita.

Lalu apa yang mereka dapatkan? Kemuliaan. Mereka mendapatkan derajat mulia itu. Rahmat dan Ridho Allah mereka peroleh, berwujud surga yang indahnya jauh melebihi ekspektasi mereka. Berbagai pujian mereka dapatkan dari para penduduk langit, dan mungkin dari penduduk bumi juga, dari para generasi setelah mereka yang merasa bersyukur bisa merasakan nikmat iman islam ini karena perjuangan mereka.. Allah bangga pada mereka? Jelas sekali. Allah beri mereka hadiah-hadiah yang dijanjikan-Nya pada mereka. Allah kumpulkan mereka kembali bersama orang-orang yang mereka cintai. Mereka menikmati kenikmatan luar biasa sementara orang-orang yang dahulu memusuhinya mendekam selamanya dalam siksaan api neraka. Perjuangan dan pengorbanan mereka terbayar sudah oleh surga dan keridhoan-Nya yang bahkan harganya jauh lebih mahal dari itu. Subhanallah.. Semoga kita bisa menjadi seperti mereka..

Mungkin saat ini kita sedang merasa lelah. Tapi bukankah dunia memang tempatnya berlelah-lelah? Karena bagi orang-orang yang beriman, istirahat mereka di surga. Akhirat adalah waktu pembebasan dari semua amanah dunia yang kemudian Allah balas..

Maka, jika merasa letih, itu wajar. Bahkan HARUS letih. Supaya di negeri akhirat sana kita bisa tersenyum dan bergembira selamanya.. 


"Rasa syukurku yang paling besar ya ini, yaitu ketika aku merasa diperhatikan dan dicintai Allah, dengan apapun itu bentuk cintanya.. Karena wujud cinta-Nya tidak hanya berupa tawa dan bahagia, tapi mungkin juga dengan air mata agar dijadikannya hati kita bersih. Mungkin sesekali dengan tamparan keras jika kita sudah terlalu jauh dari-Nya. Mungkin dengan cobaan dunia yang menghimpit supaya kita jadi lebih kuat. Mungkin dengan labirin dan jalan buntu supaya potensi kita keluar."


Bandung, 3 Oktober 2013 (repost with edit)

Minggu, 19 Oktober 2014

Maha Pencemburu

Ketika diri ini merasa lemah dan mulai berpikir untuk bergantung kepada manusia, aku tak pernah diberi kesempatan itu. Malah seringkali yang Allah berikan justru sebaliknya. Aku malah dijadikan tempat bergantung oleh orang lain. Seakan diperingati dengan tegas, "Kalau mau mencari tempat bergantung, cari saja Aku. Cukup Aku."

Ketika diri ini ingin memuntahkan isi pikiran dan emosi, mencari-cari orang lain untuk dijadikan tempat berkeluh kesah atau pelampiasan amarah, aku hampir tak pernah memiliki kesempatan itu. Tapi dalam kesendirian itu selalu ada bisikan menenangkan, "Tahukah kamu bahwa Aku adalah pendengar yang paling baik? Maka lampiaskan saja semuanya padaku. Cukup Aku."

Ketika aku ingin berlari menangis ke pelukan orang lain, seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Saat sedihku belum sepenuhnya hilang, aku malah dihadapkan dengan orang lain yang sedang bersedih dan butuh ditenangkan. Lagi-lagi Allah ingin berbicara padaku, "Kalau ingin menangis, cari saja Aku. Apalagi jika kita berduaan di sepertiga malam. Mengadulah sepuasnya padaku. Cukup Aku."

Al-Ghayyur. Satu dari 99 Asma-Nya dalam Asmaul Husna yang artinya Maha Pencemburu.

Ketika kecintaan pada dunia semakin membuatku lupa padaNya, Dia tak segan-segan mengambilnya dariku. Awalnya kukira Dia kejam, tapi lalu aku sadar bahwa Dia hanya ingin mendapat perhatian yang 100%, tak ingin aku berpaling dariNya, tak ingin aku mencari yang lain.

Ketika aku meminta sesuatu dan tak kunjung terpenuhi bahkan setelah aku berusaha sekuat yang aku mampu, kupikir Dia tak mendengar. Lalu aku sadar bahwa bila keinginan itu terpenuhi, mungkin malah akan membuatku lupa padaNya. Sehingga tak pernah dikabulkanNya hingga lurus niat.


Bila permintaan tak kunjung terkabul.. 
Mungkin sengaja.. 
Agar sadar bahwa bersama Allah saja sudah lebih dari cukup. 

Bila satu per satu diambilNya.. 
Mungkin sengaja.. 
Agar sadar bahwa ada satu yang tak pernah meninggalkan.
Hingga yang tersisa hanya aku dan Dia.

Begitulah Allah, Sang Maha Pencemburu..
Dia hanya ingin diberi cinta yang 100%, tidak ingin dibagi dengan (si)apapun.

Minggu, 05 Oktober 2014

From The Deepest Heart

Ngerasa banyak banget dosa, ngerasa punya banyak utang sama Allah. Di saat diri ini berlumuran dosa, Allah dengan amat sangat baik, sudi menutupi aib-aib diri yang hina ini.. Di saat dengan bodohnya diri ini mendzalimi diri sendiri karena tidak bersyukur atas segala yang diberikanNya, masih saja nikmatNya tercurah tanpa henti.. Di saat diri ini merasa berputus asa dari rahmatNya, berprasangka buruk padaNya, bahkan menjauhiNya sebagai bentuk protes atas takdir yang tidak sesuai dengan harapan, Dia tak pernah mundur, tak pernah mengurangi kasih sayangNya barang sedikitpun. Bahkan Dia justru bergerak maju, menarikku kembali ke dekatNya..

Ya Rabb, entah sudah yang keberapa kalinya aku dibuat menangis haru olehMu.. Menyadari bahwa kasih sayangMu begitu besar.. Sering kali aku merasa tak pantas untuk Kau 'pilih'.. Aku hanya seorang manusia bermandikan dosa dan dilumuri aib.. Tapi Kau tutupi, Kau lindungi, hingga yang tampak hanyalah keindahan dan kebaikan.. Harus bagaimana kubalas?

Betapa aku khawatir di akhirat nanti aku menjadi manusia yang dihinakan.. Bisakah aku menghapus dosa-dosa yang menyelimuti diri? Cukupkah amal sholehku untuk membersihkan dan mensucikanku dari kotoran dosa yang menempel di tubuh? Tiba-tiba saja aku merasa sangat khawatir.. Takut kalau-kalau Allah tak memberiku kesempatan lagi.. :(

Aku bisa apa, selain berusaha menyibukkan diri dengan amal sholeh yang mungkin tak seberapa nilainya.. Sebanyak apapun kebaikan yang kulakukan mungkin takkan cukup menutupi borok-borok keburukan.. Dan pada akhirnya hanya bisa berharap kasih sayangMu, semoga amal yang tak seberapa ini sudi Kau terima, Ya Rabb..

Masih banyak 'utang' yang harus kulunasi, masih banyak kesalahan yang harus kutebus, masih banyak cacat yang harus kuperbaiki.. Tak tahu apakah kesempatan yang Kau beri masih cukup untukku memperbaiki semuanya.. Tapi aku akan berusaha membayar semuanya dengan segenap kekuatanku agar bisa menjadikan predikat hina ini menjadi mulia.. Terus berjalan, berlari, terus maju, sampai memang kesempatan itu betul-betul tidak ada lagi..

Jika memang waktuku telah habis dan kepergianku masih menyisakan banyak keburukan, setidaknya usahaku bisa Kau hargai.. Setidaknya kegigihanku sebelum habis waktu, bisa mengundang kemurahan hatiMu untuk menghapuskan keburukan yang tersisa..

Semoga keletihan yang terasa, keringat yang mengucur, air mata yang jatuh, dan langkah kaki yang tiada henti, bisa membantu menyelamatkanku dari murkaMu di negeri akhirat nanti. Aamiin..

Selasa, 23 September 2014

Aku dan Blogku: Edisi Kisah Konyol

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa nama blognya lutfiahhanifah.blogspot.com padahal sesungguhnya penulis yang menulis semua tulisan yang ada disini bernama Husna Hanifah. (ada yang baru tahu? hahaha)

Jadi begini ceritanya.. 

Momentum untuk menulis blog ini didapat setelah aku dan sahabatku, Lutfiah Hayati (Fifi), bernangis-nangis ria dikosan. Dan tercetuslah sebuah ide dari Fifi untuk membuat blog. Aku milih untuk pake blogspot, sedangkan Fifi keukeuh pengen di wordpress. Terus dia nyeletuk, "Eh, gimana kalo nama blog kita samaan? Lutfiahhanifah aja, dari nama kita berdua disatuin kan lucuu.. Aku bikin di wordpress, kamu bikin di blogspot, gimana?" Aku diem. Awalnya pengennya aku pake nama husnahanifah aja sih, dan kalo dipikir-pikir nama lutfiahhanifah itu semacam agak alay ya.hahaha *dilempar sendal sama fifi*

Tapi aku iya-in aja, toh apalah arti sebuah nama, dan yang penting kan nulis, begitu pikirku. Awalnya sih semua berjalan lancar dan baik-baik aja. Sampai suatu hari ada temen sekelas yang nanya, "Na, itu teh blog siapa? kok namanya lutfiahhanifah? Blog kalian berdua itu teh?" Ya aku ceritain aja sesuai dengan kenyataannyaa, kalau yang blogspot punya aku, dan wordpress punya Fifi.. *masih kalem*

Sampai akhirnya Fifi berhenti nulis di wordpress dan berselingkuh dengan tumblr sementara aku tetep nulis kalem di blogku sendiri sambil sesekali aku share tulisannya ke facebook dan twitter. 

Berawal dari sinilah kebingungan itu terjadi..

Karena cuma aku sendirian yang update, orang-orang kayaknya jadi bingung. Dan karena nama blognya lutfiahhanifah, dikiranya bukan aku yang nulis. Jadi berkali-kali aku harus meladeni pertanyaan, "Na, itu teh blog kamu? Kok namanya lutfiahhanifah?" 

Kalo yang macam begitu sih masih kalem ya, tapi yang bikin nyesek tuh kadang percakapan macam gini..

Percakapan 1:
*antara aku dan murid privat*
Aku: Kamu baca blog aku geura..
Murid: Hah? Emang teteh punya blog?
Aku: Punya ih, aku kan sering update tulisan-tulisan aku di facebook, emang kamu ga pernah liat?"
Murid: Iya aku liat kok, tapi aku kira itu punya orang lain. Aku teh mikir, ngapain teteh ngeshare terus update-an blog orang.. jadi ga aku baca deh.
Aku: Iih itu blog aku tauuuu.. *garuk-garuk tanah*

Percakapan 2:
*antara aku dan adik aku*
Aku: Wah bagus nih buat bahan tulisan di blog
Adik: Hahaha, emang kamu punya blog? Itu kan blognya Fifi..
*kemudian hening*
(aku sedikit shock sih sebenarnya, bahkan adik aku sendiri aja nyangkanya itu blog orang lain.. hahaha)

Percakapan 3:
*di grup whatsapp*
X: (nyantumin link salah satu tulisan di blog aku) izin share, artikel inspiratif. yang perlu motivasi silakan mampir..
Y: Blog punya teh fifi ya, inspiring banget..
Aku : (ke si Y) Teteh adalah orang kesekian yang nyangka itu blognya fifi. hahaha..
Y: oh bukan yah? blognya siapa emang?
Aku: *nangis di pojokan*

Karena kesalahpahaman itulah aku yang awalnya kalem-kalem aja mulai merasa harus mengklarifikasi segala kekeliruan yang terjadi.

Jadi para pembaca sekalian, harap dicatat, pemilik blog ini bernama Husna Hanifah, bukan Lutfiah Hayati. Sementara Fifi sudah berbahagia bersama tumblr-nya di lutfiahhayati.tumblr.com. Sekian dan terima kasih. :D

*selesai baca postingan ini entah kenapa pengen ketawa2 sendiri. hahaha.. konyol sekali kisah dari blog ini.. XD

Rabu, 17 September 2014

Jadilah Berhasil

Tahukah kamu, bahwa keberhasilan jauh lebih bisa menghebatkan orang lain dibanding kegagalan (karena berhenti)? 

Berapa banyak orang yang melihat keberhasilan orang lain kemudian dirinya berpikir, "Wah kalau dia aja bisa, saya juga pasti bisa."
Berapa banyak orang yang awalnya ragu lalu karena melihat keberhasilan orang lain membuatnya menjadi mantap melangkahkan kaki.

Keberhasilan akan selalu membawa keoptimisan untuk dibagikan kepada orang lain.
Keberhasilan akan selalu menjadi perisai yang ampuh untuk menahan mereka yang hendak menyerah.
Keberhasilan akan selalu menjadi penenang bagi mereka yang resah seolah berbisik, "Hold on, ini masih terlalu awal untuk menyerah, dan terlalu cepat untuk bilang susah.."

Maka jadilah yang berhasil. Tak perlu selalu dengan kata-kata, menjadi berhasil saja sudah cukup untuk bisa memotivasi orang lain.

Selasa, 09 September 2014

Writing is a Need

Sebenernya lagi ga ada bahan tulisan, dan lagi ga tau mau nulis apa.. Cuman tangan bener-bener lagi pengen nulis. Jadi biarin aja tulisan ini akan mengarah kemana, yang penting aku nulis. Hehe..

Menulis. Karena udah jadi habit selama bertahun-tahun ke belakang, jadi semacam sebuah kebutuhan. Aku adalah orang yang sulit mengekspresikan kata-kata dengan lisan, tapi bisa menuangkannya dengan cukup baik ke dalam tulisan. Ya walaupun ga bagus-bagus amat sih tulisannya juga. Hehe..

Beberapa tulisanku di diary, jika memang layak untuk dipublish, ya aku jadiin postingan di blog. Kadang kalo lagi mumet aku suka baca blogku sendiri, enak dibaca karena lebih rapi dan sudah melalui proses edit.

Terkadang aku ingin berterima kasih pada diriku sendiri, karena telah menulis. Tulisanku itu, mau dibaca berkali-kalipun, selalu ada rasa yang hadir di sana. Setidaknya untukku, si penulisnya sendiri. Bagiku menulis bukan hanya untuk mengabadikan memori, tapi juga mengikat rasa.

Ketika membaca lagi tulisanku, ia membuatku bersyukur karena nikmat yang diberikanNya terlampau banyak. Terkadang ia menguatkanku yang sedang goyah, mengingatkanku yang tengah lupa, membuatku bernostalgia karena mengingat memori masa lalu, dan membuatku lebih bijaksana karena ia memuat hikmah-hikmah yang kudapat dari kejadian yang kualami atau kuamati. Ah, aku merasa seperti dijaga dan dilindungi oleh diriku sendiri.. :)

Menulis menjadi seperti ruang syukur untukku dan jembatan cinta antara aku dan Rabb-ku. Juga menjadi salah satu cara menunjukkan perasaanku kepada orang lain. Di beberapa situasi, aku merasa lebih berekspresi dengan tulisan. Itulah kenapa aku senang sekali membuat surat untuk orang-orang, terutama di hari spesialnya. Karena dengan mengiriminya surat, aku bisa menyampaikan apa yang ingin kusampaikan namun tak mampu dengan lisan.

Aku selalu merasa bahwa apresiasi harus disampaikan. Dan aku lebih leluasa menyampaikannya dengan tulisan. Abisnya muji orang tapi dengan muka tiis macam gini kesannya suka dianggap ga tulus. Hiks. Hahaha..

Setiap orang, sadar atau tidak sadar, membawa kisah inspiratifnya masing-masing. Dan itulah hal yang aku cari ketika bertemu dengan orang lain. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari orang lain. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai menggalinya.

Karena hal inilah aku selalu merasa ingin berterima kasih pada mereka yang sadar maupun tak sadar telah menginspirasiku. Salah satu bentuk terima kasihku kusampaikan dalam bentuk tulisan dalam surat. Aku sama sekali tak merasa repot untuk menulis surat, karena dengannya aku ingin membuat orang tersebut tahu bahwa dirinya punya arti, setidaknya untukku. Karena menurutku, salah satu alasan seseorang masih bertahan menjalani hidupnya adalah karena ia masih memiliki arti bagi orang lain. And I wanna let him/her know that he/she has a meaning for me. :) 

Kamis, 04 September 2014

Tersirat

Malem-malem blogwalking. Nyampe kesini dan nemu quote ini:

"Ketika kematian bukan lagi perkara momental. Contoh: ‘seseorang mati karena sakit jantung. seseorang mati karena kecelakaan. dan masih banyak lagi.’ Coba kita ganti kata ‘karena’ itu menjadi kata ‘setelah’. Dengan pergantian kata itu kita telah melakukan suatu revolusi. Bahwa kematian adalah soal momental yang disebabkan oleh goresan takdirNya. Walau pada akhirnya titik kematian itu tetap menjadi perkara monumental, setidaknya bagi mereka yang (masih hidup) merasa kehilangan atas kematian tersebut." 
         --- Kenapa seseorang mati? Karena Allah bukan?

Sebetulnya bukan hanya kematian, tapi juga setiap kejadian di alam semesta ini, termasuk setiap kejadian yang menimpa diri kita. Semuanya terjadi atas izin Allah bukan? Semuanya terjadi atas kehendak Allah bukan? Kebahagiaan dan kesedihan yang Dia pergilirkan, semuanya terjadi karena Allah menghendakinya untuk terjadi bukan? Lalu kenapa harus menyalahkan ini itu, atau si ini si itu?

Dan perkara takdir itu baik atau buruk, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya?

*renungkan dan tangkap pesan tersiratnya. :)