Minggu, 22 Januari 2023

Purpose of Pain

*dikutip dari Monday Love Letter #187, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Perasan saya hari ini baik, sangat merasa bersyukur dan menikmati hectic-nya hari demi hari karena ada beberapa program yang sedang dijalankan. Lelah sudah pasti, tapi entah kenapa dalam lelah itu saya merasa senang dan lega. Lelah yang bahkan tidak memberi ruang untuk mengeluh, tapi malah menghujani saya dengan syukur. Saya sering merasa takjub bahwa mixed feeling semacam itu ternyata ada. Lelaaah sekali secara fisik dan pikiran, tapi rasanya lega, senang, dan amat bersyukur. Hal ini seringkali terjadi pada saya jika sedang mengerjakan proyek kebaikan atau proyek dakwah. Intinya aktivitas yang dilakukan untuk kemaslahatan orang lain, bukan memikirkan diri sendiri. Kalau kamu, sedang merasakan apa sekarang? Boleh kalau mau cerita :)

Paragraf di atas cukup sebagai aliran rasa saja, karena sebetulnya ada hal lain yang ingin saya bahas di surat kali ini yang mungkin akan membantumu juga dalam menjalani kehidupan ini. Saya mengawali awal tahun ini dengan membaca sebuah buku berjudul Healing The Emptiness yang ditulis oleh Yasmin Mogahed. Seperti judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk menyadari mengapa rasa hampa di dalam jiwa bisa terjadi dan bagaimana cara mengisi ruang kosong itu. Baru membaca 2 bab saja saya sudah banyak tercerahkan oleh tulisannya. Salah satu tulisan favorit saya ada di bab 1 judulnya Purpose of Pain.

Pain is a messenger. Sebuah kalimat sederhana, namun terdengar seperti sebuah pesan penting bagi saya sehingga kalimat itu saya beri underline dan stabilo di bukunya. Analoginya, misalkan ada yang terasa sakit dari badan kita, bukankah itu adalah sebuah pesan bahwa ada yang bermasalah dari badan kita? Sakit gigi, sakit perut, sakit kepala, adalah sinyal dari tubuh untuk memberi pesan bahwa ada masalah dengan badan kita. So, yeah, pain is a messenger.

Bagaimana dengan jiwa? Kurang lebih sama. Ketika kita terlalu banyak merasa takut, cemas, gelisah, sedih, kecewa, itu adalah sinyal dari jiwa bahwa ada yang bermasalah dengan jiwa kita. Buka berarti kita tidak boleh merasa takut, cemas, dan sedih, hanya saja jika berlebihan tentu tidak baik.

Merasakan pain atau sakit tentu tidak nyaman, repot dan bikin kita uring-uringan. Tapi yang lebih repot adalah jika kita mengabaikan pain tersebut dan tidak mencarikan obatnya. Suffering is what happens when we repeatedly ignore the message of our pain, tulis Yasmin Mogahed dalam bukunya. Sebab, tidak semua luka bisa sembuh sendiri. Sebagian luka perlu segera ditangani dan diobati agar tidak semakin memburuk dan merugikan kita.

Namun, dalam menangani luka, penting sekali untuk mengetahui sumber masalahnya agar penanganannya tepat. Misalnya kita sakit gigi karena ada infeksi, tentu penanganan terbaik adalah mengobati infeksi tersebut bukan hanya sekedar memberi penahan rasa sakit. Sakitnya mungkin hilang, tapi tidak benar-benar menyembuhkan karena infeksi yang dibiarkan tentu akan terus menyebar dan semakin berbahaya.

Sama halnya dengan jiwa kita, emosi negatif yang kita rasakan sebaiknya tidak dibiarkan atau langsung didistraksi dengan hal-hal yang membuat kita senang tanpa terlebih dahulu menangkap pesan dibaliknya. Ingat, pain is a messenger. Jangan diabaikan sebelum kita menemukan sumber masalahnya.

Lalu apa obat dari hati yang kosong? Jawabannya hanya satu: kembali pada-Nya. Terkoneksi kembali dengan Allah adalah obat dari segala penderitaan. Pain and suffering is different. Kita mungkin bisa merasakan sakit, kita boleh saja diuji dengan berbagai masalah, tapi merasa menderita adalah pilihan. Semakin kita jauh dari Allah, semakin jauh pula obat dari segala kegelisahan dan kekosongan jiwa.

Sometimes when we feel empty, we don't realize that our soul is crying out. That our heart is starving for God. Instead, we look to disctract ourselves with other things, other people, other activities. - Yasmin Mogahed

Kesalahan terbesar kita adalah saat kita menganggap bahwa kita akan merasa lebih baik dengan mendistraksi atau lari dari sumber masalah. Memilih mencari hiburan dan melupakan Allah sebagai pemberi solusi sama halnya seperti meminum pereda sakit saat kita sebetulnya butuh obat untuk infeksi. Mungkin akan berhasil untuk sementara waktu, tapi kekosongan dalam jiwa kita pasti akan datang lagi dengan kondisi yang semakin menganga.


Semenjak menyadari hal ini, sudut pandang saya terhadap masalah dan ujian hidup perlahan berubah. Hidup ini memang tempatnya ujian dan terkadang kita tidak bisa menghindari pain. Kita juga tidak bisa memaksa untuk terus hidup dalam kesenangan terus menerus, karena memang tidak mungkin. Tapi kita bisa berdamai dengan keadaan saat melihat luka dan rasa sakit dari sudut pandang yang lain, yakni sebagai pembawa pesan bahwa ada yang salah dengan diri, sehingga kita bisa segera menyadari akar masalahnya dan segera mengobatinya.

Dengan ini, saya semakin yakin bahwa apapun yang datang dari Allah dan apapun yang menjadi ketetapan-Nya untuk terjadi dalam hidup kita, adalah PASTI YANG TERBAIK. Kesulitan hidup yang membuat kita kembali pada Allah merupakan anugerah. Namun kemudahan hidup yang menjadikan kita lupa pada Allah, justru adalah bencana yang sebenarnya.

Semoga kita selalu mampu menghadirkan Allah dalam keadaan apapun. Insya Allah hati akan selalu terasa penuh dan tenang senantiasa bersemayam dalam jiwa.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Rabu, 04 Januari 2023

Takjub pada Cara-Nya Mengantarkan Rezeki

Akhirnya punya buku ini :')

Panjang perjalanan sampai akhirnya buku Healing The Emptiness - Yasmin Mogahed ini bisa tiba di tanganku. Tapi biar kuceritakan dulu kenapa aku ngincer banget buku ini.

Tahun 2016, pertama kalinya aku mendengar nama Yasmin Mogahed. Salah seorang sahabatku merekomendasikan aku untuk baca buku beliau yang berjudul Reclaim Your Heart. Dia ngirim buku itu ke emailku dalam bentuk pdf, versi bahasa inggris. Gak tau sih ini legal atau nggak, soalnya di masa itu pdf nya bener-bener beredar banget jadi aku sempet mikir baik banget penulisnya bagi-bagiin pdf gratis? Wkwk. Ya wallahu 'alam sih, tapi kalo ternyata itu dari pembajakan, mohon maap aku gatau huhu.

Akhirnya aku baca buku itu and i loveeeed it so much! Walaupun bahasa inggris, tapi pemilihan katanya sederhana jadi masih bisa dimengerti. Dan aku suka banget sama pembahasannya. Tegas, lugas, banyak jleb-nya, tapi tidak menggurui. Juga banyak pemikirannya yang mindblowing dan bikin aku tergugah untuk terus balik lagi ke Allah. Masya Allah, tabarakallah..

Sejak saat itu, kunobatkan buku Reclaim Your Heart sebagai buku favoritku. Dan aku bercita-cita pengen punya buku aslinya. Pernah ada di toko buku versi terjemahan bahasa Indonesianya, tapi entah kenapa kurang sreg gitu sama terjemahannya, jadinya aku nggak beli. Baca yang bahasa inggrisnya lebih nampol, serius deh.

Tapi Allah mah Maha Baik dan Maha Mendengar doa, tahun 2018 aku coba kontak bibiku yang lagi tinggal di Amerika untuk cariin buku itu. Dan ternyata beneran dibeliin dooong huhuhu. Akhirnya buku Reclaim Your Heart resmi menjadi milikku setelah bibiku pulang ke Indonesia 2 bulan setelahnya. Alhamdulillah, senengnya bukan main! <3

Nah, jadilah pas tahun 2022 lalu Yasmin Mogahed ngumumin kalo dia launching buku baru yang judulnya Healing Your Emptiness, aku langsung ngincer bangettt. Cuma ya awal-awal launching harus sabar karena pasti susah banget dapetnya. Bulan-bulan pertama setelah launching aku cuma bisa liat review orang-orang aja di IG beliau sambil ngiler. 😃

***

Beberapa bulan berlalu, ada berita kalo September 2022 Yasmin Mogahed mau ke Jakarta. Sudah pasti bukunya dijual doong.. Aku langsung nitip sama sahabatku yang jadi panitia volunteer acara di sana. Katanya harganya 378.000, jujur pas denger harganya langsung kepikiran, hmm mahal ya ternyata. Tapi karena saking pengennya, aku beraniin diri tetep pengen beli, uang mah bisa dicari lagi lah. Tapiii qadarullah, ternyata nggak dapet karena kehabisan :')

Akhir September 2022, bibiku yang pernah ngebeliin buku Reclaim Your Heart ngabarin kalau beliau mau ke Amerika bareng suaminya selama 1 bulanan lebih. Langsung kumanfaatkan momen ini untuk nitip buku Healing The Emptiness, dan di-iya-kan oleh bibiku, katanya nanti kalo udah sampe New York, bakal mampir ke toko buku langganannya.

Ternyata oh ternyata, sesampainya di Indonesia bulan Desember, bibiku ngabarin kalau katanya beliau udah cari ke beberapa toko buku seperti Strand dan Barns & Noble yang biasanya ada koleksi lengkap, tapi ternyata bukunya nggak dijual. Di Strand sama sekali nggak ada, di Barns & Nobel hanya jual online (nggak bisa pick up di tokonya), sementara waktu beliau di New York tinggal beberapa hari lagi jadi nggak memungkinkan pesen online di sana. Jadi nggak beli deh. Yah sudahlah ya..

Sebenernya bibiku itu sempet nawarin untuk beli online di Indonesia dan kalau aku punya link toko buku di marketplace yang jual minta dikirimin ke beliau. Tapi yang jual di marketplace ternyata belum banyak, sekalinya ada, harganya 395.000, hikss mahal banget. Jadinya aku nggak enak minta beliinnya (padahal kalo beli di New York pun sama sih harganya sekitar 25 dollar, sekitar 400ribu jugak wkwk). Akhirnya keinginan beli buku itu aku pendam lagi.

Meanwhile, di bulan yang sama, Desember 2022, salah satu sahabatku ngabarin kalau dia mau ke Singapura dan mau coba cari buku Healing The Emptiness juga di sana. Aku akhirnya nitip pengen jastip, tapi pas dikasih tau harganya ternyata 395.000 juga, hiks. Emang kayaknya buku ini tuh mahal yaa, sementara budget-ku maksimal di 300ribu. Dan jujur lagi bokek juga waktu itu wkwk, akhirnya dengan berat hati aku bilang ke dia kalo aku nggak jadi ikutan jastip.

Dia sempet ngasih tau aku, ada toko buku impor Konyv yang ternyata disana harganya lebih murah, 285.000 aja tapi PO-nya ternyata udah tutup dari bulan Oktober. Haha. Dan ternyata di akhir Desember sempet buka PO lagi tapi aku ketinggalan info. Hhhhh dah lah capek aku mah pasrah, kapan-kapan aja deh punya bukunya :'')

***

Nahh! Di titik pasrah inilah biasanya keajaiban terjadi. Kemarin, lagi bobo cantik di kasur, tiba-tiba HP geter ada telpon. Taunya dari mamang paket. Sempet bingung karena aku lagi nggak ada belanjaan atau paket yang ditunggu. Pas buka chat WA, mamangnya ternyata fotoin paket aku dan ternyata pengirimnya bernama Fitri. Fitri ini sahabatku yang pergi ke Singapura itu, dan 3 bulan lalu emang sempet nanya alamat rumahku sih. Oh mungkin emang waktu itu niatnya mau ngirim paket dan baru kirim sekarang, pikirku.

Pas paketnya dateng, lah tapi kok bentuknya buku? Aku bertanya-tanya isinya apaan. "Ah masa iya buku Healing The Emptiness. Nggak mungkin sih, itu kan mahal," kataku dalam hati. Eeh taunya pas dibuka beneran dooong isinya buku yang aku damba-dambakan ituu. Huaaa pengen nangiiiiissss 😭😭

   

Mana manis banget lagi dikasih surat segala. Ternyata dia emang udah berniat ngasih buku ini tapi nggak bilang-bilang aku.. Huaaa baik banget sih sobat aku iniiii. Surprise-nya berhasil banget karena aku nggak expect sama sekaliii. 💗💗

Kaget, takjub, terharu, bengong, jadi satu pas aku akhirnya bisa pegang buku itu. Cuma satu yang ada di pikiran aku, ALLAH BAIK BANGETT. Ternyata, rezeki bisa bermacam-macam bentuknya, salah satunya berupa sahabat yang baik dan sayang aku huhuhu.. :")

Dan gemes aja gitu sama cara Allah merancang skenario. Dipikir-pikir, kalo ketika pas September itu aku langsung dapet bukunya, mungkin rasanya nggak akan sebersyukur ini. Ini udah mah dapetnya gratis, dibeliin sahabat sendiri sebagai hadiah, ada suratnya pula. Kesan secara emosionalnya jadi dapet banget. Dan jadi bersyukuuuur banget sama pemberian Allah ini. Alhamdulillah, makasih ya Allah.. Aku bahagia banget.. :")

Mpit, kalau kamu baca ini, makasih ya sekali lagi. Jazakillah khairan katsiran. Semoga Allah limpahkan kebaikan, keberkahan, kebahagiaan dan keselamatan untuk hidupmu. Makasih sudah menjadi sahabat yang baik selama 17 tahun ini. Walau jauh, tapi kamu selalu punya tempat tersendiri di hati aku. See you when i see you, insya Allah 💖

***

Terus kuheran deh, kenapa temenku yang namanya Fitri pada baik-baik banget. Seminggu sebelum ini, Fitri yang lain beliin aku tas. Niat awal kami untuk ngobrol dan makan di sebuah cafe. Aku datang duluan dan nunggu sekitar 30 menit lebih awal. Eeh Fitri ini dateng-dateng langsung ngasih tas ke aku. "Haah, apaan? Buat aku?" Kataku, kaget.
"Iya, tadi tuh di jalan aku tiba-tiba dibelokin Allah mampir ke Eiger terus milih-milih tas dulu buat kamu."
"Iiihhh apaan siih random bangett, tapi jazakillah khair yaah," kaget, heran, seneng, dan terharu jadi satu. Random banget atulahh. 😭

Tapi lewat kejadian itu, lagi-lagi aku dibuat takjub dengan bagaimana skenario Allah bekerja. Sebenernya, sebelum pergi ke cafe tempat kami ketemuan, aku tuh sempet bingung mau pake tas apa. Karena aku berencana bawa mukena, tumblr dan dompet. Yang mana kalau pake tas selempang nggak muat (aku punyanya tas selempang kecil yang muat dompet sama hp doang), tapi kalau aku pake ransel kegedean.. Akhirnya aku berangkat bawa totebag ukuran sedang. Ternyata, tas yang Fitri beli itu ransel yang ukurannya pas, nggak terlalu kecil dan nggak terlalu besar. Pokoknya pas untuk kebutuhan aku deh. Masya Allah ya. 😇

Pitong, kalau kamu baca ini, makasih banyak ya untuk segala kebaikanmu dan perhatianmu untuk aku selama ini. Nggak kerasa udah 14 tahun sejak kita saling mengenal. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih dan penjagaan-Nya yang terbaik. Jazakillah khairan katsiran say 💖

***

Pelajaran yang aku dapatkan adalah ternyata Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan doa, maupun mengantarkan rezeki untuk kita. Semesta ini milik-Nya, dan mudah saja untuk Allah menggerakkan apa saja agar rezeki itu sampai ke tangan kita. Saat doa kita ditunda, percayalah Allah tidak diam. Allah sedang merancang skenario terbaik agar doa itu terkabul di waktu yang paling tepat untuk kita.

Semoga kita bisa selalu sabar dan berhusnudzon kepada Allah dalam menyikapi doa dan harap yang masih sedang "bergerak" menuju waktu terbaiknya. Yang perlu kita yakini adalah bahwa Allah pasti selalu mendengar dan selalu fast response dalam memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan kita.

Semoga atas setiap nikmat dari-Nya, semakin bertambah pula rasa cinta dan wujud syukur kita kepada-Nya. 

Selasa, 03 Januari 2023

Mengisi Hidup

Dalam sebuah sesi perkenalan, masing-masing orang diminta menjawab satu pertanyaan, "Jika hidupmu ibarat sebuah buku, bab untuk episode hidupmu saat ini akan kau beri judul apa?"

Cukup lama aku memikirkan jawabannya sampai akhirnya kujawab: Mengisi Hidup.

Entah bagaimana, setahun terakhir adalah tahun yang penuh dengan nasihat kematian. Membuatku semakin sadar bahwa hidup punya durasi, dan kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir, lama ataukah sebentar lagi?

Maka usaha terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah bagaimana mengisi waktu-waktu yang tersisa.

Tidak perlu terlalu memikirkan peran yang belum ada, kita hanya perlu fokus pada peran yang sudah Allah beri, baik yang kita minta ataupun tidak kita minta.

Sebab kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas peran yang sudah atau sedang melekat, bukan atas peran yang belum diberikan-Nya atau peran yang sedang/masih kita impikan.

Tidak mudah, tentu saja. Masih sering kalah oleh ego. Masih sengit bertarung dengan hawa nafsu. Masih sering abai pada kebutuhan jiwa. Masih jauh dari sebutan hamba profesional yang menjadikan Allah sebagai prioritas utama.

Namun, dengan segala badai yang terjadi di dalam maupun di luar diri, akan kupastikan diriku bertahan dan berupaya untuk terus berjalan. Menjalani amanah, menghadapi ujian, sampai tugas hidupku selesai dan Allah panggil pulang.

Semoga di episode hidup saat ini dan seterusnya, bisa terus berupaya mengisi hidup dengan amal-amal terbaik.