Senin, 29 April 2019

Monday Love Letter #38 - Merawat Jiwa Sampai ke Syurga

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!Bagaimana perasaanmu saat ini? Semoga tetap semangat dan bahagia ya! Dari kemarin saya menunggu-nunggu hari Senin, karena ingin menceritakan suatu hikmah yang saya dapat dari hari Ahad kemarin kepadamu. Iya, sesemangat itu pengen curhat! Hehe

Jadi ceritanya, kemarin sore qodarullah ban motor saya bocor. Ketika saya sedang berkendara, tiba-tiba saja ban belakang bocor, awalnya masih saya naiki sambil mencari tambal ban terdekat, tapi tambal ban terdekat yang saya temui ternyata rusak alatnya, jadi saya otomatis ditolak (hiks) dan harus mencari tambal ban yang lain. Lama-lama saya nggak tega sama bannya, dan dari pengalaman yang sudah-sudah, jika ban motor yang bocor dipaksa untuk dinaiki terus menerus, lama kelamaan akan merusak ban dalam yang berujung ban dalamnya harus diganti (yang menyebabkan harus membayar lebih mahal, huhu). Jadilah motornya saya dorong -- di saat matahari sore sedang terik-teriknya. 

Tambal ban kedua yang saya temukan, tutup. Baiklah,, mungkin Allah sedang memberi kesempatan saya untuk berolahraga.. Sesampainya di tambal ban ketiga, kiosnya baru saja tutup! Saya melihat sendiri bapak tambal bannya baruuu saja memasukkan peralatannya ke dalam kios. Dengan berat hati dia menolak saya, "maaf neng, tutup.." Saya sempat kecewa saat itu, tapi yasudahlah, mungkin bapaknya mau istirahat. Lagian kalaupun dia mengiyakan, keluar-keluarin barangnya lama lagi siih, wkwk. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan mencari tambal ban lagi. Beruntung, di tambal ban yang keempat, buka. Alhamdulillah.. Antara bersyukur ada tambal ban yang buka, juga bersyukur karena akhirnya saya berhenti juga dorong motor. Haha. Ya bayangin aja, nyari tambal ban itu tidak semudah nyari alf*mart yang kalo tutup kita tinggal ke ind*maret sebelahnya aja (iya kan mereka suka sebelahan, heran deh). Kalau tambal ban kan kadang beberapa ratus meter baru nemu lagi. Jadi bayangin aja, saya sudah melewati 4 tukang tambal ban, jadi sejauh apa saya harus dorong motor. :')

Yak curhatnya segitu dulu ya. Singkat cerita, ban motornya selesai ditambal dan sayapun melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya. Di jalan, saya mikir. Peristiwa ban bocor ini bukan yang pertama, tapi saya baru benar-benar mengambil hikmahnya dari kejadian yang kemarin.

Sepanjang perjalanan saya berpikir, bahwa hidup ini sejatinya memang sebuah perjalanan. Seperti halnya saya, yang saat itu sedang menuju sebuah tujuan, dan menggunakan motor sebagai kendaraan. 

Ada kalanya, motor saya bensinnya habis, atau mogok, atau ada bagian yang rusak sehingga perlu diservis secara berkala untuk mengembalikan kondisinya agar kembali prima. Ya, servis adalah hal yang biasa untuk menjaga performa sebuah kendaraan. Jika tidak diservis, kerusakan akan makin parah, bahkan berujung tidak bisa digunakan lagi. *Para "Valentino Rossa" pasti mengerti lah yaa~ hehe.

Namun sebagus-bagusnya kendaraan, tidak akan jalan jika tidak ada pengemudinya atau kondisi pengemudinya tidak prima. Disamping kondisi kendaraan yang baik, kondisi pengemudi juga perlu prima dong. Jika pengemudi sakit dan memaksa menyetir, justru membahayakan keselamatannya. Jika pengemudi lelah, terkadang di jalan ia harus berhenti dulu untuk mengembalikan tenaga, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Baik kendaraan maupun pengemudi, sama-sama membutuhkan kondisi yang prima agar sampai di tujuan dengan lancar dan selamat.

Begitu pula dalam hidup ini. Hari ini kita juga sedang melakukan suatu perjalanan bukan? Perjalanan menuju akhirat dengan surga sebagai destinasi terakhir yang tentunya kita semua berharap bisa sampai kesana. 

Saya menganalogikan fisik kita sebagai kendaraannya, dan ruh/jiwa kita sebagai pengemudinya. Ruh dan jasad; dua komponen penting yang membuat manusia disebut manusia. Pada awalnya jasad kita tidak bernyawa, lalu di usia janin yang ke-4 bulan, sebuah ruh ditiupkan oleh Allah sehingga hiduplah jasad kita. Maka fisik yang saat ini kita gunakan adalah 'kendaraan' yang Allah pilihkan agar ruh kita bisa menjelajah di bumi dan menjalankan tujuan penciptaannya. Ya, ruh sebagai pengemudinya karena yang sebenarnya melakukan perjalanan adalah ruh, bukan jasad. Ketika manusia meninggal, ruh akan kembali kepada Allah, sementara jasad kembali menjadi tanah karena masa pakainya sudah selesai. 

Maka, jika hidup adalah sebuah perjalanan panjang menuju sebuah tujuan, perlu kondisi yang prima dari 'kendaraan' maupun 'pengemudi'nya. Keduanya butuh 'servis' secara berkala. Namun apa yang seringkali menjadi perhatian kita? Kebanyakan orang hanya memperhatikan keperluan fisik semata; makan enak, cari hiburan ke mall, perawatan wajah/badan, belanja baju baru, dan seterusnya. Sementara jiwanya ia biarkan lapar, haus, sakit, tidur, bahkan mati. 

Lalu apa akibatnya jika jiwa dibiarkan tanpa 'makan'? Dirinya akan bingung dengan arah hidupnya karena kemudi dan pengarah jalannya tidak berfungsi dengan baik. Hati-hati dengan jiwa yang sakit, karena sebagus apapun fisik, secantik apapun paras, tetap tidak akan selamat jika jiwa atau ruhiyahnya tidak terisi dan tidak hidup.

Jika selama ini kita masih sering mengabaikan kebutuhan jiwa kita, sudah saatnya kita serius merawatnya. Barangkali kegelisahan yang selama ini kita rasakan dikarenakan jiwa kita yang kehilangan tempat bergantungnya yaitu Allah. Barangkali kesedihan yang kita rasakan dikarenakan jiwa kita yang tidak dekat dengan sumber bahagianya yaitu Allah. Barangkali ketakutan yang tak kunjung hilang dikarenakan jiwa kita sudah lama tidak dibersamai Allah yang Maha Menjaga. 

Rawat jiwa kita seserius kita merawat fisik kita. Karena sekali lagi, kendaraan dan pengemudi, perlu sama-sama dalam kondisi prima untuk bisa selamat hingga tujuan. Recharge jiwa kita dengan asupan ruhiyah terbaik sehingga Allah senantiasa menjaga dan melindungi perjalanan kita hingga selamat sampai ke surga. Aamiin!

Senin, 15 April 2019

Monday Love Letter #37 - Mendeteksi Kebahagiaan

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabarnyaa sisterkuu? Kok saya kangen ya rasanya, nulis Monday Love Letter. Padahal kan jeda waktunya sama aja, dari Senin ke Senin. Hahaha. Mungkin karena sepekan kemarin saya menghadapi hari-hari yang lumayan hectic jadi waktu terasa lamaaa sekali berlalunya :')

By the way, Ramadhan makin dekat ya, kerasa makin deg-degan nggak? Takut siap-siapnya kurang, tapi juga berharaaap sekali usia bisa sampai di bulan Ramadhan. Allahumma ballighna Ramadhan, Ya Rabbana.. Semoga kita bisa bertemu Ramadhan lagi ya tahun ini, tentunya dengan persiapan yang lebih baik dan komitmen yang lebih kuat. Aamiin.

Sebelumnya maafkan suratnya datang malam-malam begini, semoga sambil beristirahat, surat ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama ya.. Saya cukup lama mengendapkan tulisan ini di-draft, mengetiknya pun hampir seharian. Jadi bacanya pelan-pelan aja ya sambil diresapi :)

My sister, pernah nggak mendengar, katanya manusia itu hidup untuk mencari bahagia. Bahkan ada teori, jika seseorang ditanya alasan mengapa dia melakukan sesuatu, alasan paling akhir adalah agar bahagia. Saya pernah mendengar seseorang ditanya tentang alasan mengapa dia datang ke sebuah kelas menulis. Percakapannya kurang lebih seperti ini;

"Kenapa kamu datang kesini?"
"Mau belajar nulis"

"Kenapa mau belajar nulis?"
"Karena mau jadi penulis."

"Kenapa kamu mau jadi penulis?"
"Karena saya suka menulis."

"Kenapa suka menulis?"
"Hmm, kalau saya sih nulis biar nggak stress. Biar lega, bisa membebaskan pikiran dan perasaan."

"Kenapa kamu harus merasa lega? Kenapa nggak mau stress?"
"Simpel saja, karena saya mau bahagia."

Ternyata, dari hal kecil untuk menemukan alasan dibalik mengapa seseorang hadir ke sebuah kelas menulis, alasan paling akhirnya adalah agar bahagia.

Contoh lain, saya pernah menghadiri sebuah sharing kecil-kecilan bersama teman-teman pengurus mesjid waktu saya kuliah dulu. Waktu itu pembicaranya membahas tentang pentingnya membuat tujuan. Dia memulai sharingnya dengan satu pertanyaan; "Kita kan mau bahas tentang pentingnya tujuan nih, emang kenapa sih kita harus menentukan tujuan?"
"Supaya hidup kita terarah," jawab salah seorang teman.
"Kenapa hidup kita harus terarah?"
"Ya supaya jelas hidupnya mau kemana," jawab teman saya yang lain.
"Kenapa menjalani hidup harus jelas?" tanyanya lagi, kita semua mikir.
"Biar nggak terombang-ambing hidupnya, ya jelas aja gitu." Kami semua mulai buntu memikirkan jawabannya.
"Iya memangnya kenapa hidup kita harus terarah, harus jelas, jangan terombang-ambing tuh kenapa?"
"….." semua berpikir. Begitupun saya. Iya ya, kenapa ya? Apa yang saya rasakan ketika punya tujuan?
"Hmm, bahagia?" Akhirnya saya menjawab.
"Nah! Tepat."

See? Bahkan untuk hal yang besar seperti menetapkan tujuan saja ternyata ujungnya kita ingin bahagia. Cobain deh, bertanya kepada diri dengan 5 lapisan pertanyaan "mengapa?", ujungnya kita akan menemukan bahwa kita itu sebenarnya ingin bahagia.

Tapi kemudian saya berpikir, apakah benar bahagia yang menjadi tujuan dari hidup manusia? Pasalnya, saya banyak melihat, ketika seseorang akhirnya berhasil "menjemput kebahagiaan"-nya, ternyata hidupnya tetap saja merasa hampa. Ada (bahkan banyak) orang-orang yang merasa hampa dalam kebahagiaannya, seakan bukan itu sebenarnya yang dia cari.. Seperti ada hal lain yang seharusnya masih ia capai.  Apakah kamu pernah merasakannya juga?

Kalau begitu, pertanyaannya seharusnya masih berlanjut ya? Dilanjut dengan; "Kenapa harus bahagia? Kalau udah bahagia terus apa?" Pertama kali saya menanyakan pertanyaan ini kepada diri sendiri, saya jawab, "Ya udah, abis bahagia ya udah, mati." 

Tapi apakah semua orang siap mati dengan beragam kebahagiaan yang telah dicapainya? Apakah setelah punya uang banyak, setelah keinginan naik jabatan terwujud, setelah menikah dan punya anak, setelah populer dan jadi terkenal, lantas semua kebahagiaan itu membuat seseorang siap mati? Belum tentu, kan? Ternyata diberlimpahi oleh kebahagiaan dunia belum tentu menjadikan kita siap untuk menghadap Allah dan menghadapi Hari Pertanggungjawaban.

Disini saya baru paham bahwa ternyata ada kebahagiaan yang semu, yaitu kebahagiaan yang tidak bernilai ketika berhadapan dengan kematian. Sebab, kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita berhasil menjawab satu pertanyaan ini; "Apakah setelah mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan itu, kamu siap kembali kepada Allah?" Jika jawabannya ya, maka hal yang kita kejar hari ini, bisa jadi adalah hal yang benar.

Jika jawabannya tidak, mungkin kita harus mendefinisikan ulang makna sukses dan bahagia versi kita. Karena bisa jadi bukan cita-cita atau keinginan kitanya yang salah, tapi niatnya. Kita hanya berpikir pendek sehingga bahagia itu sebatas apa-apa yang bisa kita dapatkan di dunia, padahal maknanya lebih dari itu. Kebahagiaan yang selama ini kita upayakan, mestilah bernilai jika berhadapan dengan kematian.

Memang, manusia itu hidupnya mencari bahagia. Sayangnya banyak manusia mengejar kebahagiaan yang semu, padahal sebetulnya jauh di alam bawah sadarnya, bukan kebahagiaan dunia yang ia inginkan, melainkan kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah. Jauh di alam bawah sadar manusia, yang benar-benar manusia inginkan adalah akhir kematian yang baik.

Tak heran, panggilan Allah untuk merekapun begitu menenangkan,
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." -QS. Al-Fajr (89) : 27-30

Ya, kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika Allah memanggil kita kembali, dan kita berbahagia karenanya.. Sebab kita telah menemukan tujuan kita yang sebenarnya. Menuju Allah.

Jangan salah memilih keinginan, jangan salah menentukan tujuan, jangan salah mengupayakan sebuah kebahagiaan. Karena (bisa jadi) tidak semua kebahagiaan yang kita kejar, ada nilainya jika berhadapan dengan kematian.

Senin, 08 April 2019

Monday Love Letter #36 - Mengejar Berkah, Mengikis Sombong

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Sudah tahu belum, Sister of Deen Project sekarang punya website loh.. Masih sederhana banget sih, tapi seiring berjalannya waktu insya Allah akan semakin dikembangkan. Mohon doanya ya! Untukmu yang baru bergabung dan penasaran dengan isi surat-surat sebelumnya, bisa juga membacanya melalui website. Yuk berkunjung ke "rumah" kami di:  bit.ly/sisterofdeenproject :)

Anyway, beberapa hari lalu saya membaca inbox di email Sister of Deen sambil mencicil membalas beberapa pesan yang belum terbalas, lalu ada satu email yang pertanyaannya cukup menarik. Pertanyaannya adalah, "Teh, bagaimana cara agar kita terhindar dari merasa lebih baik dari orang lain?" Saya tersenyum membacanya. Setidaknya, pertanyaan seperti ini juga pernah menggelisahkan saya ketika saya merasa lebih tahu atau merasa lebih baik dari orang lain.

Ketika kita melihat orang yang baru saja berhijrah misalnya, pernahkah terbersit perasaan bahwa diri ini lebih baik dari orang itu? Atau ketika kita baru saja mempelajari suatu ilmu, lalu kita tinggi hati dan merasa paling pandai dengan ilmu yang kita miliki. Atau ketika kita memiliki jabatan yang lebih tinggi, kita berlagak senior dan merasa lebih hebat daripada junior kita. Banyak sekali celah untuk kita merasa lebih baik dari orang lain padahal bisa jadi kesombongan-kesombongan kitalah yang jutstru membuat diri kita buruk di mata Allah. Na'udzubillah..

Kamu pernah dengar tidak, bahwa ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawadhu'. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.

Adanya rasa sombong, justru menandakan bahwa ilmu yang kita miliki masih sangat dangkal. Akibat dangkalnya ilmu yang dimiliki, muncullah perasaan lebih mulia, lebih hebat, lebih pintar, bahkan memandang rendah orang lain yang belum berilmu seperti dirinya. Semoga kita terhindar dari sifat sombong ini ya, sister.

Lalu ditahap kedua, seorang yang terus menuntut ilmu akan menjadi orang yang tawadhu', yaitu merasa rendah hati. Seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk. Dan seiring dengan bertambahnya ilmu yang dipelajari, semakin ia akan menyadari bahwa masih banyaaak sekali ilmu yang belum ia ketahui. Semakin ia sadar bahwa ilmu Allah itu amat luas, semakin ia merasa haus ilmu dan terus merasa kurang akan ilmu. Maka ia akan terus mencari, mencari, dan menambah khazanah keilmuannya.

Imam Syafi'I pernah berkata, "Setiap aku mendapat pelajaran dari masa, setiap itu pula aku tahu segala kekurangan akalku. Setiap ilmuku bertambah, setiap itu pula bertambah pengetahuanku akan kebodohanku."

Sekaliber ulama besar seperti Imam Syafi'I saja berkata seperti itu. Tidak akan sempat merasa sombong, ia yang terus menambah ilmunya, sebab sadar bahwa ilmu yang ia pelajari hanyalah setitik dibandingkan ilmu Allah yang luasnya melebihi langit dan bumi. Ini yang perlu kita sadari; bahwa kita ini kecil, lemah dan bodoh jika dihadapan Allah. Apa yang bisa disombongkan? Jika ada satu yang boleh sombong, ya hanya Allah.

Tapi bicara tentang ilmu, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Bukan tinggi atau banyaknya ilmu yang kita kejar, tapi keberkahannya. Rasulullah SAW tidak hanya meminta ilmu yang banyak, tapi juga ilmu yang berkah. Seperti apa ilmu yang berkah itu? 

Ilmu yang berkah adalah ilmu yang diamalkan, ilmu yang memunculkan keinginan beribadah kepada-Nya, ilmu yang menumbuhkan ketakwaan. Karena percuma jika kita mempelajari banyak ilmu, tapi ilmu tersebut tidak kita amalkan dan tidak menjadikan kita menjadi hamba yang semakin taat kepada-Nya.

Di sebuah kajian diskusi, seorang sahabat pernah berkata kepada saya, "Yang dinilai Allah kan amal sholeh, bukan ilmu sholeh." Kalimat itu langsung mengena ke dalam hati dan selalu terngiang hingga sekarang sebagai reminder bahwa yang Allah lihat adalah sejauh mana kita bisa mengamalkan ilmu yang kita miliki. Untuk bisa beramal, kita butuh ilmu. Maka menuntut ilmu haruslah berdampak kepada bertambahnya amal sholeh kita.

Nah, coba pikir deh. Bukankah tenteram, jika kita berfokus kepada pengamalan atas ilmu yang kita miliki? Kayaknya nggak akan ada tuh ceritanya nyinyir sama orang lain, merendahkan orang lain, merasa benar dan lebih baik dari orang lain, karena kita berfokus kepada peningkatan kualitas iman dan amal kita dihadapan Allah. Jika ingin membanding-bandingkan diri, bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri kita yang kemarin. Sudahkah diri kita lebih baik, lebih taat, lebih shalehah?

Lalu apakah kita tidak usah menyampaikan ilmu kepada orang lain atau mengingatkan orang lain? Tentu saja tidak. Kejar saja dulu keberkahannya dan rasakan manfaat ilmu itu untuk diri kita sendiri. Nanti jika kita sudah merasakan manfaat atas ilmu yang kita miliki, kita akan dengan sendirinya menyampaikan kepada orang lain agar orang lain juga mendapat manfaat dari ilmu yang pernah kita pelajari. Insya Allah.

Selamat meraih keberkahan ilmu, sister! Semoga setiap ilmu yang kita pelajari dan kita amalkan, membawa kita kepada kualitas diri yang lebih baik dihadapan Allah. Aamiin.

Monday Love Letter #35 - "Mencuri" Mindset

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya mohon maaf ya sister, Monday Love Letter dari saya baru bisa dikirim Selasa pagi dikarenakan malam tadi jatah kirim email per harinya sudah melebihi batas yang disediakan oleh layanan email marketing yang kami gunakan. Semalam kami cukup panik karena email yang sudah disiapkan ternyata tidak bisa dikirim, tapi juga bahagia di saat yang sama karena jumlah sisters of Deen yang bergabung semakin banyak. Untukmu yang baru saja bergabung, selamat datang ya, sister!

Bagaimana kabarmu selama sepekan kemarin? Bisa jadi banyak ups and downs-nya ya, tapi percayalah, di setiap takdir dari-Nya, Allah sedang menyiapkan hikmah terbaik untuk kita. Persoalan selanjutnya adalah apakah kita cukup peka untuk menangkap hikmah itu. Semangat ya!

Anyway, kamu suka nggak sih berselancar di media sosial? Biasanya apa yang dilihat atau ditonton? Hari gini, siapa sih ya nggak suka buka sosmed. Saya juga suka soalnya. Hehe. Saya selalu meluangkan waktu setiap harinya untuk setidaknya mengintip dunia maya. Baik itu membuka instagram, menonton youtube, atau membaca blog orang lain.

Dulu sih, buka sosmed untuk sekedar mengisi waktu luang, tapi biasanya malah jadi keterusan. Hehe. Jadi sebulan ke belakang saya sudah mulai mengurangi intensitas berselancar dunia maya dan hanya melihat hal-hal yang bermanfaat saja. Saya mulai mengalihkan fungsi media sosial yang awalnya digunakan sebagai hiburan saja, menjadi tempat untuk saya mencari informasi, serta membaca atau membagi sesuatu yang positif. Tapi sebenarnya bukan tentang sosmednya yang ingin saya bahas, melainkan tentang konten yang biasanya kita nikmati.

Akhir-akhir ini, saya sedang suka dengan video-video yang berisi wawancara orang-orang yang sukses di bidangnya. Tidak hanya itu, saya juga suka membaca caption-caption instagram yang isinya berisi kisah inspiratif dari pemilik akun yang bersangkutan. Saya juga sangat menikmati membaca beberapa blog inspiratif yang saya follow karena bisa membuka sudut pandang saya dan seringkali saya mendapat banyak ilmu dari sana.

Hal-hal tersebut saya lakukan, karena saya percaya, kesuksesan setiap orang itu pasti berawal dari mindsetnya. Dan konten-konten yang menginspirasi saya adalah konten yang berhasil mengubah mindset saya menjadi lebih baik. Jadi jika kita ingin menjadi penulis yang sukses, coba deh, tonton atau baca kisah-kisah penulis sukses dan temukan bagaimana cara dia berpikir. Jika ingin menjadi pebisnis sukses, cari tahu kisah sukses mereka dan "curi" bagaimana mindset orang tersebut.

Ya, semua berawal dari mindset atau pola pikir. Di seminar-seminar motivasi mungkin kita sering mendengar bahwa pola pikir membentuk sikap dan tindakan, tindakan membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter membentuk nasib kita. Maka, merubah nasib dimulai dengan mengubah mindset. Mengubah karakter, juga dimulai dari mengubah mindset.

Kemudian saya jadi berpikir tentang keberhasilan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Mereka telah sukses membuktikan diri menjadi hamba yang Allah ridhoi, mereka telah berhasil melewati segala ujian hidup di dunia dan berhasil memenangkan tiket masuk syurga dari Allah. Kira-kita seperti apa ya mindset mereka sehingga mereka bisa sehebat itu? Jika selama ini kita selalu berpikir bagaimana mindset dan cara seseorang dalam mendapatkan kesuksesan dunia, apakah kita juga se-kepo itu untuk menyelami kisah sukses para shahabat dan shahabiyah terdahulu?

Pernahkah kita menyadari bahwa ada mindset yang luar biasa yang membuat seorang budak bernama Bilal bin Rabbah rela disiksa dan dicambuk sambil ditindih batu besar di atas padang pasir yang panas? Tidakkah kita penasaran pada mindset seorang Abu Bakar r.a yang senantiasa membenarkan perkataan Rasulullah dan menjadi pendukung nomor 1 beliau? Lantas bagaimana mindset manusia teragung sepanjang sejarah, Rasulullah SAW, sehingga beliau bisa bertahan di tengah ancaman, serangan, dan hinaan kaum musyrikin kepada dirinya? Sungguh, jika ada mindset yang perlu kita tiru, mindset merekalah jawabannya.

Adalah Allah, yang selalu memenuhi pikiran mereka dan selalu menjadi tujuan bagi mereka. Lafadz Laa Ilaha Illallah yang terucap dalam syahadat mereka ternyata tidak hanya di lisan saja, melainkan benar-benar dibuktikan dengan berjuang di jalan-Nya. Kesaksian mereka bahwa Muhammad adalah utusan Allah benar-benar teruji dengan selalu menyertai dan menolong Rasulullah dalam dakwah dan perjuangannya.

Sedangkan kita, katanya merindu syurga namun Allah masih ditempatkan di nomor kesekian. Kita, yang katanya bertuhankan Allah, namun tidak menjadikan Allah satu-satunya tujuan. Astaghfirullah, semoga Allah memaafkan segala khilaf dan lupa. :')

Hari ini, kita bertekad memperbaiki semuanya, yuk! Kita "curi" mindsetnya para Nabi dan Rasul, para syuhada, para shadiqin dan para shalihin. Kita kembalikan mindset kita menuju Allah minded; bahwa hanya Allah yang kita cinta, hanya Allah yang kita sembah, dan hanya Allah yang kita tuju.

Selamat memperbaiki hubungan dengan Allah, selamat berjuang untuk meluruskan mindset-mindset yang selama ini keliru atau berbelok. Selamat meneladani kehidupan orang-orang sholeh terdahulu, sister shalehah pembelajar! :)