Senin, 26 November 2018

Monday Love Letter #18 - Tentang Sabar

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana hari Seninmu, my sister of deen? Maafkan surat yang terlambat ini karena beririsan dengan pekerjaan lain. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan kita untuk bertegur sapa melalui surat ini dan saling melangitkan doa-doa baik. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayang-Nya untuk kita semua ya :)

Tak terasa sudah sampai di penghujung November dan kita hampir sampai di penghujung tahun. Bagaimana rasanya menghadapi sisa-sisa hari di tahun 2018? Mungkin banyak hal-hal kurang mengenakkan yang terjadi di hari-hari kemarin, mungkin banyak jejak-jejak jerih payah kita menghadapi kehidupan di bulan-bulan kemarin, tapi semoga di ujung perjuangan kita, kita menemukan akhir kisah yang bahagia.

Sepekan kemarin Allah banyak mendidik dan mengingatkan saya tentang kesabaran. Bahwa sabar itu bukan diam, tapi justru bergerak mengupayakan ikhtiar terbaik kita. Sabar itu bukan meratapi keadaan, melainkan aktif dan berusaha mencari jalan. Dan upaya untuk menuju-Nya, upaya untuk istiqomah di jalan-Nya, amat sangat membutuhkan kesabaran. Jika bisa disederhanakan menjadi satu kata, sabar itu berarti berjuang. Perjuangan yang tidak asal berjuang, tapi perjuangan yang ditujukan karena-Nya dan untuk-Nya.

Bukankah perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan mendaki lagi sukar? Bukankah untuk menjadi manusia yang layak di hadapan-Nya, kita harus melewati berlapis-lapis ujian? Maka perjuangan sejati adalah perjuangan menuju Allah untuk menjadi sebaik-baik hamba di hadapan-Nya. Menariknya, walaupun ini adalah perjalanan menuju Allah, kita tetaplah butuh pertolongan-Nya dan sabar menjadi salah satu prasyaratnya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." -QS. 2:153

Bicara tentang sabar, sangat erat kaitannya dengan iman. Bukankah mustahil sabar tanpa iman? Karena dalam sabar, ada keyakinan bahwa janji Allah adalah benar. Dalam sabar, ada keyakinan bahwa akhir perjuangan ini akan indah. Dalam sabar, ada keyakinan bahwa Allah akan menolong kita. Iman yang bisa membuat kita semangat berjuang, iman pula yang membuat kita bertahan dalam perjuangan. Ya, keimanan adalah bahan bakar bagi kesabaran kita.

Setiap orang memiliki medan juangnya masing-masing. Ada yang mungkin masih tertatih memperbaiki diri setelah taubatnya, ada yang sedang memperbaiki kualitas ibadahnya, ada yang mulai terjun mengambil peran untuk kebermanfaatan umat. Apapun medan juangmu, semoga menjadi jalan bertambahnya keimanan dan ketakwaan. Semoga Allah mengganti semua lelah kita dengan tiket menuju syurga.

Seperti salah satu firman-Nya, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar." -QS. 3:142

Selamat mengoptimalkan sabar! Jika lillah, insya Allah tidak terasa lelah :)

Senin, 19 November 2018

Monday Love Letter #17 - Karena Kita Sudah Dewasa


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabarmu sister? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh rasa syukur atas segala takdir yang Allah tetapkan untuk hidupmu. Aamiin. Sebelumnya, MLL kali ini akan lebih personal karena sebagiannya adalah curhat, hehe. Tapi semoga tetap ada hikmah yang bisa diambil ya. Here we go!

Dari Monday Love Letter #16 Senin lalu yang judulnya Memberi Apapun Yang Bisa Diberi, saya menerima sebuah balasan email yang berisi pertanyaan, "Kak, pernah nggak merasa hidup terasa begitu berantakan dan bingung mau mulai darimana merapikannya?" Sewaktu membacanya saya hanya tertawa dan rasanya ingin teriak, "Pernah banget! Itu aku banget!" Hahaha.. 

Jadi selama sebulan terakhir ini otak kayaknya overload banget, rungsing melulu. Sampai curhat sama partnerku dan minta time-out ngerjain Sister of Deen Project untuk "membereskan" kehidupanku. Udah nggak fokus banget soalnya! 

Akhirnya kami sepakat untuk take-time selama seminggu supaya fokus sama kehidupan masing-masing dan nggak bahas project ini dulu. Saya saat itu tentu saja merasa lega karena untuk sementara bisa melepas beban pikiran untuk project ini setidaknya selama seminggu. Esoknya, saya langsung merencanakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan selama seminggu ke depan dalam rangka "beberes" ini dan menyelesaikan PR-PR yang kebanyakan belum selesai karena saya menunda pengerjaannya (menunda itu emang musuh banget ya bagi produktivitas, grrr). 

Rencananya, selama seminggu itu saya ingin banyak di rumah saja, kan namanya juga me-time. Banyakin baca buku dan kontemplasi aja lah sama ngerjain kerjaan-kerjaan yang belum beres. Kecuali untuk jadwal-jadwal tertentu yang mengharuskan saya keluar rumah, tidak saya skip.

Tapiiiii Allah sepertinya memang punya cara sendiri untuk mendidik hamba-Nya ini. Bayangan saya untuk bisa sedikit santai di rumah kandas sudah karena yang terjadi justru malah kebalikannya. Adaaa saja kejadian dan agenda mendadak yang membuat saya harus keluar rumah, bahkan pulang malam. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk "beberes", saya tetap mengerjakan PR-PR saya sesuai dengan yang direncanakan walaupun konsekuensinya saya harus tidur lebih malam.

Terus begitu selama seminggu hingga rasanya ingin protes ke Allah, "Ya Allah, terus kalau begini terus kapan istirahatnya? Mau membereskan hidup kok malah dikasih sibuk sih?" Tapi lagi-lagi karena saya sudah berkomitmen pada diri sendiri, rasa lelah itu tetap saya telan dan saya tetap berusaha mengerjakan apa yang harus saya kerjakan.

Di sela-sela kontemplasi, saya membuat satu kesimpulan. Saya curiga, jangan-jangan pekerjaan saya sebenarnya memang sebanyak ini. Jangan-jangan yang Allah amanahkan kepada saya memang seberat ini. Masalahnya bukan terletak pada pekerjaannya yang banyak, melainkan pada diri saya sendiri yang tidak meluaskan penerimaan terhadap setiap amanah yang datang dari-Nya. Masalahnya ada pada diri saya sendiri yang malah meminta-Nya untuk mengurangi masalah saya padahal kadar masalah saya memang segitu kata Allah. Tidak bisa dikurangi karena memang jatahnya segitu! DEG.

Kalau flashback ke waktu kita kecil dulu, masalah kita sebesar apa sih? Paling cuma rebutan permen sama adik. Masuk sekolah, apa yang digalauin? Paling karena nilai jelek atau karena takut gak punya temen. Menjelang lulus kuliah, yang dipusingkan beda lagi. Apalagi kalau sudah menikah dan jadi orangtua, lebih kompleks lagi masalah yang dihadapi. See? Kita tidak akan mendapat masalah yang sama di setiap fase, dan kadarnya memang akan selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan berpikir kita.

Jadi jika masalah kita semakin banyak dan ujian yang kita hadapi semakin berat, wajar saja. Karena kita sudah dewasa! Ujian orang dewasa tentu berbeda dengan anak TK. Masalahnya orang dewasa tentu berbeda dengan anak SMA yang baru lulus kemarin sore. Masa mau minta masalah kita disamain lagi sama anak TK? #jlebjlebjleb

Duuh saya jadi malu sama Allah. Padahal Allah ingin meningkatkan kapasitas hidup saya dengan berbagai ujian, tapi bukannya dihadapi, malah minta dikurangi. Bukannya diterima, malah diratapi. Alhamdulillah, ternyata Allah masih sayang dan masih memberi kesempatan agar diri yang hina ini bisa berproses menjadi mulia. Kini, bukan lagi kemudahan yang diminta, tapi penerimaan atas setiap takdir-Nya, pundak yang kuat untuk mengemban amanah-amanah-Nya, serta keberanian dan keteguhan hati untuk tetap istiqomah mengupayakan apa-apa yang disukai-Nya dan segala yang mengundang ridho-Nya. 

Semoga hati kita semakin lapang menerima segala ketentuan-Nya, semoga seiring dengan bertambahnya beban dan tanggungjawab hidup kita, bertambah juga keimanan kita kepada-Nya dan bertambah sayang pula Allah kepada kita. Selamat menjadi orang dewasa! :)

Selasa, 13 November 2018

Mungkin Kita Hanya Lupa..


Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa segalanya terasa berat, kenapa masalah seolah tidak berhenti datang, kenapa rasanya lelah dan sulit sekali, kenapa jalan keluar tak kunjung terlihat, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita depresi dan frustasi..

Mungkin karena kita lupa.. 

Lupa ada Allah. Lupa bahwa Allah tidak mungkin membebankan sesuatu di luar kesanggupan kita. Lupa bahwa Dia yang menghadirkan masalah, maka Dia juga yang menggenggam solusinya. 

Karena jika kita ingat, mungkin kita akan menghabiskan waktu-waktu senggang kita untuk berdoa pada-Nya, mungkin kita akan membenamkan diri pada sujud-sujud terbaik di sepertiga malam; meminta petunjukNya, memohon kekuatan untuk menghadapi semuanya.

____

Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa apa yang dikejar tak juga didapatkan, kenapa setiap pencapaian tidak pernah memberi kepuasan, kenapa setiap mendapat sesuatu selalu saja merasa kurang, kenapa kebahagiaan itu terasa jauh, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita merasa "haus" atau "kosong"..

Mungkin karena kita lupa..

Lupa tujuan hidup. Lupa kita hidup untuk apa. Lupa bahwa kita ini hambanya Allah yang tugasnya ibadah. Lupa bahwa yang kita inginkan hanyalah ridha-Nya. 

Karena jika kita ingat, segala impian dan cita-cita akan ditujukan untuk-Nya, segala aktivitas penuh oleh perbuatan yang disukai-Nya, waktu dan energi kita tidak akan terbuang untuk tujuan dari selain-Nya, serta kebahagiaan kita tidak akan tersasar pada hal-hal yang semu.

____

Jika datang bertubi pertanyaan;

Kenapa ibadah terasa hambar, kenapa berbuat baik terasa malas, kenapa maksiat tetap saja dijalankan, kenapa untuk berhijrah tak juga mau memulai, dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kita diam di tempat..

Mungkin karena kita lupa..

Lupa bahwa kita akan meninggalkan dunia ini dan kembali ke Allah. Lupa harus menyiapkan bekal pulang. Lupa bahwa segala yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya. 

Karena jika kita ingat, masih beranikah kita bermaksiat atau bermalas-malasan sementara giliran kematian kita mungkin tidak sampai sehari lagi? Bukankah kita akan merasa takut jika malaikat maut datang saat kita tidak sedang beribadah kepada-Nya? Bukankah kita akan mengoptimalkan waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan amal terbaik sebagai persembahan ketika kelak bertemu dengan-Nya?

____

Jadi, atas semua perkara kehidupan yang kita pertanyakan, barangkali jawabannya tidak rumit: 

Mungkin kita hanya sedang lupa.. 

Maka tak heran jika salah satu kriteria orang yang beruntung yang Allah sebut dalam QS. Al-Ashr adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena kita sering lupa, dan butuh teman untuk saling mengingatkan..

Senin, 12 November 2018

Monday Love Letter #16 - Memberi Apapun Yang Bisa Diberi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah yaa sekarang sudah musim hujan! Di Bandung terkadang sehari sampai 2 kali hujan. Jaga kesehatan ya, sister! Semoga harimu tetap produktif dan bahagia :D

Hujan tuh kadang bikin nostalgia. Siang tadi, saya teringat pada satu kejadian bersama ayah saya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu kami sedang berada di rumah lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah mengantarkan sebuah kiriman untuk ayah saya. Ternyata itu dari teman ayah. Saya lupa barang (atau makanan?) apa yang waktu itu dikirim, tapi saya tidak pernah lupa pada apa yang dikatakan ayah saya ketika beliau menerima kiriman itu. "Duh, gimana balasnya ya?" gumamnya saat itu.

Sejak saat itu, membalas kebaikan orang lain adalah hal yang selalu berusaha saya lakukan ketika saya menerima sesuatu dari orang lain. Jika saya sedang tidak memiliki sesuatu yang bisa diberi, ada hal sederhana yang juga bisa menjadi sebuah hadiah bagi yang menerimanya, yaitu doa yang tulus. Ya, jika sedang tidak bisa membalas kebaikan orang lain, doakan saja!

Dengan selalu memberi, tanpa sadar kita sedang menanam kebermanfaatan diri yang mungkin saja dampaknya baru akan kita panen di kemudian hari. Seperti nasihat-nasihat orangtua kita yang baru kita mengerti maksudnya beberapa tahun kemudian. Atau tulisan-tulisan harian kita di internet yang diniatkan untuk berbagi, lama-kelamaan menjadi banyak dan menjadi buku. Banyak-banyaklah memberi. Tanam kebaikanmu dimanapun. Tebar kebaikan kepada siapapun. Karena bisa jadi, kebaikan yang kau tanam kemarin-kemarin itu sedang menyiapkan "buah"nya.

Seperti ucapan ayah saya tadi yang masih saya ingat hingga hari ini, yang akhirnya menjadi nasihat tersirat yang selalu saya contoh. Maka bukan tidak mungkin, ucapan-ucapan baik kita yang dulu-dulu masih diingat oleh orang lain. Nasihat baik kita yang bertahun-tahun lalu kita berikan kepada adik atau sahabat kita, mungkin masih mereka ingat dan mereka praktekkan. Tulisan-tulisan baik kita yang sudah lama ditulis yang bahkan kitapun sudah lupa kita pernah menulis itu, ternyata masih diingat oleh orang lain karena berhasil mengubah mindsetnya menjadi lebih baik. Bahkan barangkali, doa-doa yang pernah kita ucapkan untuk orang lain, masih menjadi harapan yang diperjuangkannya hingga hari ini.

Mungkin ada saat-saat dimana kita merasa apa yang kita lakukan tidak akan berdampak apa-apa. Atau merasa "useless", merasa tidak berguna dan tidak bisa menjadi sebaik orang lain dalam menebar manfaat. Tapi percayalah, kita selalu punya sesuatu untuk diberikan. Dan kita akan selalu mendapatkan hasil dari apa yang pernah kita berikan. Jika tidak sekarang, mungkin beberapa tahun lagi. Jika tidak di dunia, mungkin di akhirat.


"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)." 
- QS. Ar-Rahmaan : 60

Jadi siapa bilang kebaikan yang kita lakukan hari ini akan sia-sia? Pasti berbuah! Keep up the good work and continue doing your good deeds, sisters!

Senin, 05 November 2018

Monday Love Letter #15 - Menutup Hari dengan Syukur


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sister? Semoga hari Seninmu menyenangkan dan penuh hikmah. Sebelumnya mohon maaf ya Monday Love Letter-nya baru dikirim malam-malam begini. Karena satu dan lain hal, suratnya baru bisa diselesaikan sekarang.

Di jam-jam segini, kamu mungkin sedang istirahat di rumah, atau baru saja pulang selepas seharian tadi bepergian, atau sedang di perjalanan pulang, atau bahkan masih berada di luar rumah membereskan urusanmu hari ini. Dimanapun kamu, baik itu sedang di rumah, di tempat kerja, di kampus, di perjalanan, selelah apapun itu, you did great today, sister! Semoga malam ini bisa kita tutup dengan senyum, dengan penuh rasa syukur, sambil mengantongi hikmah yang banyak dari pembelajaran yang diberikan Allah hari ini kepada kita dan semoga Allah memaafkan segala khilaf dan kesalahan kita hari ini. Aamiin..

Setiap hari adalah kesempatan baru. Saya selalu merinding setiap membaca ayat yang satu ini, "Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar (39) : 42).

Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah menggenggam ruh manusia ketika tidur. Ada ruh yang Allah tahan sehingga ia meninggal dalam tidurnya, ada pula yang Allah kembalikan ruhnya sehingga ia dapat bangun kembali. Maka setiap hari dan setiap kita membuka mata dari tidur, sejatinya adalah kesempatan yang Allah berikan. Karena bisa saja Allah tidak mengembalikan ruh kita ke dalam jasad ketika kita sedang tidur. Nikmat hidup, sudahkah kita syukuri?

Hikmah lain yang bisa kita ambil dari ayat itu adalah bahwa kita ini memang milik Allah; penguasa mutlak atas diri kita yang mana hidup dan mati kita ada di tangan-Nya. Maka hiduplah di dunia dengan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik Allah. Yang tidak membantah, yang setia pada-Nya, yang menjadikan Allah satu-satunya prioritas dalam hidup dan kelak kembali dengan ridho-Nya. Semoga Allah mampukan kita ya :')

Dan yang pasti, karena kita ini milik Allah, maka kita akan kembali ke Allah. Kita akan pulang ke kampung akhirat, kampung halaman kita yang sebenarnya. Setiap Allah memberi kesempatan kita untuk melihat matahari pagi, berarti satu kesempatan untuk mengumpulkan bekal pulang lebih banyak lagi. Mudik atau pulang traveling aja kita suka ditagih oleh-oleh kan sama orang rumah? Masa' pulang ke akhirat mau ketemu Allah, nggak nyiapin apa-apa dan nggak bawa apa-apa? Ahh, kematian memang tidak pernah gagal menjadi nasihat bagi diri yang sering lupa ini. Semoga hati kita senantiasa peka menangkap pesan-pesan dari-Nya.

Alhamdulillah, kita patut bersyukur hari ini karena Allah telah memberi (lagi) kesempatan hidup kepada kita sejak kita bangun dari tidur pagi tadi. Maka tutuplah hari ini dengan penuh rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Berterima kasihlah atas hal-hal menyenangkan yang terjadi hari ini, berterima kasihlah karena Allah masih bersama kita dan memberikan pertolongan-Nya walaupun hari ini kita menghadapi situasi yang sulit. Jika Allah beri kita kesempatan lagi esok hari, semoga hari esok bisa lebih baik dari hari ini dan semoga syukur kita kepada-Nya melebihi syukur kita hari ini. Aamiin..

Selamat beristirahat, sister. Semoga mimpimu indah :)