Senin, 23 September 2019

Married Life

Married life itu seru. Kadang ada aja yang bikin ngakak dari percakapan sehari-hari antara suami dan istrinya. Jadi kayaknya seru kalo aku nulisin kejadian-kejadian lucu di keseharian married life aku. Tujuannya, biar nanti bisa ketawa-ketawa sendiri gitu kalo dibaca lagi. Kayak pengen diabadikan gituuu. Hahahaa..

Contohnya, pernah waktu itu aku mau beli makan ke warung nasi padang, terus nanya:
Aku: Aa mau sama apa padangnya?
Aa: Terserah lah apa aja Aa mah.
Aku: Apa, rendang? 
Aa: Ngga, jangan rendang.. 
Aku: Apa dong, ayam?
Aa: Nggak mau ayam.. 
Aku: Euh, terus apa, ikan?
Aa: Jangan.. 
Aku: Ya terus sama apa atuuh?
Aa: Telor aja telor..
Aku: Ya itu namanya bukan terseraaah
*biasanya yang suka terserah2 gitu tuh istri kan, kalo di aku sih justru malah suaminya wkwkwk

Atau pernah di kesempatan lain aku buka laci dan mendapati isi lacinya berantakan. Banyak barang yang tempatnya berubah. Terus aku protes, "Aa ini kenapa kapas jadi pindah tempatnya gini sih, kenapa jadi berantakan gini lacinyaa?"
Suami aku yang ga terima disalahin, terus nanya balik, "Eh bentar duluu, kalau korek kuping dikemanain hayoo?"
"Ehehe,, ini deng disini.." jawab aku sambil nunjuk karpet. Ternyata aku juga sama aja, ngambil barang terus gak disimpen lagi ke tempatnya. Wkwk.
"Heuuu Aa tuh berantakin laci tuh nyari korek kuping tauuuuk"
Baiklaaah~ Lalu aku ga jadi marah2nya karena aku juga salah hahaha. 

Yang paling baru tuh pagi ini, tiba-tiba aku menerima pertanyaan horror dari suamiku:
"Neng, kok Aa liat di email neng banyak transferan belanja ya?"
"....."
*ups 😂😂😂

Senin, 16 September 2019

Monday Love Letter #59: Menyemai Kini, Menuai Nanti

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! 

Apa yang sedang kamu rasakan saat ini? Senang, sedih, lelah, kecewa, bahagia? Apapun itu, yuk luapkan semuanya dengan syukur terbaik kepada Allah! Alhamdulillah, Allah masih memberi suatu nikmat kepada kita yaitu nikmat “merasa”. Semoga perasaan senang dan bahagia kita menjadi jalan untuk lebih banyak bersyukur, dan rasa sedih, kecewa, dan lelahnya kita menjadi jalan untuk menuai banyak pahala sabar. Tidak ada yang salah dengan “merasa”, yang salah adalah ketika perasaan-perasaan itu membuat kita menjauh dari-Nya. Semoga Allah senantiasa menuntun kita kepada ketenangan hati, apapun kondisi yang tengah kita hadapi. 

Sister, pernahkah kamu berjalan di suatu kerumunan? Atau berada pada satu tempat yang sangat padat oleh manusia yang berlalu-lalang? Berpapasan dengan si A yang hendak menuju ke arah timur, maju sedikit bertemu dengan si B yang berjalan ke selatan, lalu ada si C yang menyenggol kita karena ia terburu-buru berlari ke utara. Rasanya chaos sekali, bukan? Tak jarang kita kehilangan fokus pada tujuan kita sendiri, tergoda melihat si C yang berlari terburu-buru, atau kepo dengan si A yang arah tujuannya berbeda dengan kita. Terasa familiar? Jangan-jangan kita juga sering begitu, lihat sana sini sampai-sampai kita lupa pada tujuan kita sendiri, lupa bahwa kita juga harus bergegas mewujudkan mimpi-mimpi. 

Jika kita cermati, dunia ini sangat penuh dengan manusia yang berjalan dengan arahnya masing-masing, mengupayakan berbagai cara yang mereka bisa untuk sampai pada impiannya, berkorban ini dan itu agar ia bisa sampai pada tangga puncak kesuksesannya. Tentu, semua orang tahu bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah didapatkan. Tapi banyak orang yang berani untuk mencicilnya sedikit demi sedikit, berbekal keyakinan bahwa suatu hari ia pasti akan menikmati hasilnya. 

Kami yakin, pasti ada banyak sister di luar sana yang juga sedang berjuang menaiki satu demi satu anak tangga untuk sesuatu yang hendak dicapai. Semoga Allah selalu menuntun dan memberi petunjuk dalam setiap langkah. Kalau kamu, sedang “mencicil” apa? 

Untuk menjadi sarjana, ada sejumlah SKS yang harus dicicil di setiap semesternya. Dalam pengerjaan skripsi, ada bab demi bab yang harus diselesaikan. Semuanya dikerjakan dengan dicicil, sampai akhirnya 4 tahun berlalu tanpa terasa hingga gelar sarjana diselebrasi dengan wisuda. Yang sedang menuju pernikahan, tentu ada tahap demi tahap yang harus dilalui dan persiapan yang perlu dicicil sedikit demi sedikit hingga terselenggaranya akad. Yang sedang menanti kelahiran anaknya, pasti saat ini sedang mencicil ilmu tentang persiapan persalinan maupun parenting. Ada pula yang sedang membangun bisnis, sedang berusaha naik jabatan di kantor, sedang mencoba mempelajari ilmu baru, dan lainnya yang semuanya pasti tak akan terwujud tanpa usaha yang dilakukan secara terus menerus. Bahkan, untuk hal-hal yang bersifat materi seperti tabungan, motor, mobil, rumah, tak sedikit orang-orang yang mencicil untuk mendapatkannya. 

Kira-kira, kenapa ya banyak orang mau menjalani prosesnya? Padahal impian-impian tersebut mengambil banyak waktu darinya, mengambil banyak tenaganya, menghabiskan banyak uang, membuat ia harus mengorbankan banyak hal, dan lain sebagainya. Tapi banyak orang yang berhasil dan bersabar membayar “cicilan-cicilan”-nya itu dan akhirnya bisa menikmati akhir yang manis dari perjuangannya. 

Lalu pernahkah kita berpikir, jika kita bisa sesabar dan sekuat itu untuk meraih kesuksesan dunia, apakah kita juga segigih itu untuk mencicil kesuksesan akhirat kita? Sebab, setiap orang yang mengimani hari akhir, pasti akan sangat mendambakan syurga sebagai pencapaian tertingginya. Setiap orang yang sangat mencintai Allah, pasti akan sangat mendambakan ridho-Nya dan mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Memangnya, syurga yang "mahal" itu tidak perlu dicicil? :’) 

Padahal dunia hanya sementara dan kita akan meninggalkan dunia ini beserta apa-apa yang kita miliki. Maka rugi sekali jika perjuangan demi perjuangan yang kita lakukan tidak berdampak pada kesuksesan akhirat kita. Masih banyak dosa-dosa yang harus kita taubati, masih banyak amal sholeh yang harus kita cicil untuk menutupi kesalahan-kesalahan kita, masih banyak pahala yang harus kita kumpulkan agar Allah selamatkan dari api neraka, masih banyak, banyaaaak sekali yang harus kita lakukan agar Allah ridho terhadap diri dan hidup kita. 

Sudahkah kita seserius itu membayar “cicilan” kesuksesan versi Allah? Jangan-jangan, panggilan sholat saja masih sering kita abaikan, membaca dan mempelajari Al-Quran tidak pernah ada dalam to-do-list kita, infaq dan sedekah masih berat kita lakukan, amar ma’ruf nahyi munkar tak pernah ada dalam jadwal kita. Sementara dosa terus bertambah dan jatah usia terus berkurang. Mau mengandalkan amal yang mana jika nanti kita diadili di pengadilannya Allah? 

Huhuhu, jlebb banget ya, surat hari ini. :’) 

Tentu saja, semua pengingat yang tertulis dalam surat ini, pertama-tama ditujukan untuk yang menulisnya. Tak apa, tak ada kata terlambat untuk kembali fokus pada tujuan akhirat kita. Kita cicil syurga-Nya sedikit demi sedikit, kita naiki tangga-tangga ujian yang disediakan Allah satu per satu, kita jadikan mardhotillah menjadi satu-satunya fokus dan tujuan hidup. Semoga sabar dan istiqomah menghantarkan kita pada kemuliaan sejati di mata-Nya. Aamiin.. 

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” –QS. Al-Isra’ (17) : 18-19 

Your sister of Deen, 
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #58 - Melirik Jejak

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Senang sekali rasanya karena masih bisa menyapamu melalui love letter di hari Senin ini. Meski dengan cara yang sederhana, semoga surat-surat ini bisa begitu bermakna, menemanimu belajar dan bertumbuh di setiap waktunya. Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga tak lagi terrantai dengan kesalahan-kesalahan masa lalu yang masih menghantuimu hingga kini.

Kemarin, salah satu dari kami bertemu dengan seorang adik. Ia menceritakan tentang kasus-kasus yang sedang ramai diperbincangkan diantara teman-teman sepermainannya. Salah satu kasus yang menjadi bahan perbincangan mereka adalah kasus aborsi yang dilakukan oleh salah satu temannya karena sebuah “kecelakaan”. Kami tentu tidak kaget mendengar cerita ini terjadi di hari ini. Bukan berarti memaklumi, tentu saja tidak! Namun, di zaman dimana dinamika yang terjadi sudah seperti sekarang ini, cerita semacam itu bukan lagi sesuatu yang pertama kali kita dengar, kan?

Entah apa yang dirasakan oleh pelaku aborsi tersebut hari ini, kami tidak bisa benar-benar menebaknya. Hanya saja, dengan melihat bahwa kejadian itu telah menjadi sesuatu yang tidak bisa terlepas dari dirinya sebab sudah menjadi sebuah pengalaman yang tak bisa ditiadakan, kami merasa prihatin sekali. Tak terbayang di benak kami bagaimana seorang perempuan harus hidup dalam bayang-bayang dosa dan kelamnya masa lalu seperti itu. Sebanyak apapun cara dilakukan untuk mengubur atau melupakannya, suatu ketika ingatan tentang hal itu pasti akan muncul ke permukaan. Subhanallah. Semoga Allah memperkenankannya untuk menjadikan pengalaman ini sebagai jalan terbaik untuk kembali menemui-Nya.

Bagaimana pun, kita sebagai manusia tentu pernah punya kesalahan. Sebagian bisa kita terima dan maafkan dengan mudah, tapi sebagian lagi tidak. Mengapa bisa demikian? Tentu saja karena kita adalah manusia biasa, tempat bersarangnya salah dan lupa. Melakukan kesalahan itu jadi sesuatu yang niscaya. Barangkali, dengan itulah kita diminta-Nya untuk benar-benar menyadari bahwa kita adalah manusia, yang tidak selalu ideal, tidak selalu sempurna. Meskipun demikian, kita bisa memandang ini dari sisi yang lainnya, bahwa kesalahan adalah sarana belajar yang paling besar, sarana taubat yang paling handal, juga sarana bertumbuh yang paling dahsyat. Syaratnya, kita berani mengakui bahwa kita memang berbuat salah, lalu bersedia untuk bangkit dan memperbaikinya.

Apakah satu kesalahanmu yang begitu teringat saat kamu membaca surat ini? Kesalahan itu tak harus selalu tentang pengalaman masa lalu yang sudah terlewati bertahun-tahun yang lalu, sebab kemarin pun sudah menjadi masa lalu, bukan? Apapun ingatanmu tentang itu, sudahlah. Jika sudah terjadi berarti Allah menghendakinya untuk terjadi, meskipun menghendaki tidak sama dengan meridhoi. Bagaimana perasaanmu ketika mengingat kesalahan itu? Jika yang muncul adalah penyesalan, sudahlah, sempitkan ruang bagi penyesalan itu. Bukankah seringkali hanya menyesal tidak lantas menjadikan suatu perubahan? Seperti yang dikatakan dalam sebuah hadist, jangalah mengatakan ‘seandainya…’
 
“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu” tetapi katakanlah, “Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki,” karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan setan.”– HR. Muslim
 
“Tapi nasi sudah menjadi bubur, lalu aku harus bagaimana?” Setelah menyadari bahwa menyesali perbuatan yang membuat kita ingin kembali ke masa lalu itu tidaklah dianjurkan, mungkin pertanyaan tersebut saat ini terbersit di kepalamu. Bagaimanapun, masa lalu tetaplah masa lalu, ia akan tetap disana, seingin apapun kita kembali kesana. Jadi, daripada energi kita habis untuk meratapi hari yang kemarin, akan lebih bermanfaat jika energi tersebut digunakan untuk melukis masa depan yang bisa kita warnai dengan hal-hal yang lebih baik.
 

Kami tahu, bagi sebagian orang, melepas diri dari belenggu masa lalu tentu amatlah berat. Maka dari itu, cara-cara berikut ini bisa kamu coba untuk membantumu melangkah dan membuat jejak yang baru.

1. Reframing mistake.
Ubah sudut pandang kita atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Alih-alih menyesalinya berlarut-larut, alangkah baiknya jika kita melihat sisi lain dari kesalahan tersebut, bahwa itu adalah sebuah pembelajaran mahal yang tak setara dengan nilai tukar apapun. Tanpa kita sadari, sebuah kesalahan seringkali banyak memberikan hikmah dan pembelajaran berharga. Contohnya, kesalahan bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam bertindak, mengikis kesombongan dan perasaan lebih baik dari manusia yang lain, membuat kita kembali kepada Allah, memiliki semangat untuk beramal sholeh, dan sebagainya. Fokus pada hikmahnya, bukan masalahnya.

2. Akui bahwa diri memang melakukan kesalahan.
Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, bahkan manusia pertama yang Allah ciptakan pun melakukan kesalahan. Kita semua pasti tidak asing dengan cerita Nabi Adam AS yang Allah kisahkan dalam Al-Quran, tentang ia dan istrinya Siti Hawa yang melakukan kesalahan dengan mendekati dan memakan buah khuldi padahal Allah telah melarang. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka langsung menyesal, mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Allah. Tidak berkelit atau membuat-buat alasan, bahkan menyalahkan syetan yang menggodanya pun tidak.

Sebagian dari kita, mungkin akan mencari-cari alasan atau mencari seseorang/sesuatu untuk disalahkan untuk membela diri dari kesalahan yang jelas-jelas kita lakukan. Padahal, apa gunanya berkelit kepada Dia Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Tahu, dan Maha Mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya? Justru dengan kita melakukan kesalahan, sadarilah bahwa itu adalah petunjuk dari-Nya, reminder terbaik untuk kembali menyadarkan bahwa kita hanyalah manusia: tak mulia tanpa dimuliakan-Nya, tak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

3. Evaluasi diri dan memohon ampunan kepada Allah.
Akui kesalahan, evaluasi diri, dan mohon ampunlah kepada Allah. Seperti Nabi Adam dan Siti Hawa yang langsung berdoa dan memohon ampun kepada Allah sebagai bentuk taubat dan penyesalahannya. Rabbanaa dzalamna anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasyiriin. “Ya Tuhan kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” -QS. Al-A’raf (7) : 23

4. Buat rencana perbaikan.
Permintaan maaf butuh pembuktian, begitu pula permintaan maaf kepada Allah. Sebab, taubat yang sebenar-benarnya adalah ketika kita mengakui kesalahan, bertekad dengan sungguh-sungguh tidak akan melakukannya lagi, dan melakukan perbaikan diri setelahnya. Membuat rencana perbaikan diperlukan agar kita tidak lagi jatuh ke lubang yang sama, sekaligus sebagai bukti keseriusan atas taubat kita kepada Allah.

5. Perbaiki.
Go on. Melangkahlah ke depan dengan membawa tekad yang baru untuk berproses menjadi hamba-Nya yang lebih baik dan tidak lagi mengecewakan-Nya. Jangan berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah, sebab kasih dan sayang-Nya jauh lebih besar dan lebih luas dari murka-Nya.

Barakallahu fiik, sister..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah dan Novie Ocktaviane Mufti

Monday Love Letter #57 - Untukku Yang Mengaku Hijrah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah kami senang sekali bisa menyapamu kembali lewat surat ini. Bagaimana hari-harimu sepekan kemarin? Semoga surat ini bisa menjadi semacam jeda untuk berkontemplasi dan mengumpulkan kembali energi serta niat yang mungkin mulai luntur agar pekan setelahnya bisa kita hadapi dengan lebih jernih, semangat dan tentu saja, lebih bahagia :)



Kemarin, di beberapa titik jalan-jalan di Indonesia ada sebuah pemandangan menarik. Sekumpulan orang-orang, ada tua maupun muda, meramaikan jalan-jalan itu dengan pawai obor sambil menyenandungkah shalawat. Di sini, di Bandung yang kami cintai ini, pemandangan itu pun kami saksikan. Bagaimana dengan di kotamu? Apakah kamu juga melihat pemandangan itu? Pawai tersebut menandakan bawa kita baru saja memasuki bulan Muharram yang mengawali pergantian tahun Hijriah. Bagi sebagian orang, pergantian tahun ini mungkin hanya sebatas momen tahun baru biasa, tapi tahukah kamu bahwa ada peristiwa besar di balik sejarah 1 Muharram? Ya, peristiwa itu adalah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta umatnya dari Mekkah ke Madinah.

Hijrah. Kata yang saat ini sudah tidak asing lagi kita dengar. Dalam beberapa tahun ke belakang, kata ini menjadi hits, terutama di kalangan anak muda. Tapi, sebenarnya hijrah itu apa, sih?

Sederhananya, hijrah artinya berpindah. Berpindahnya dari mana ke mana? Dari keburukan menuju kebaikan, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju cahaya. Konkritnya bisa dilakukan dengan melakukan perbaikan diri dari yang awalnya tidak disukai Allah, menuju kepada hal-hal yang disukai dan diridhoi-Nya.

Tapi apakah mudah melakukannya? Tentu saja tidak. Sebab, bagi sebagian orang, tak ada yang jauh lebih menakutkan daripada keluar dari zona nyaman. Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan masa lalu lengkap dengan seluruh pola-polanya dalam berpikir, merasa dan bertindak dirasa sebagai sesuatu yang berat dan bahkan tidak masuk akal. Bagaimana tidak, seluruhnya telah menjadi akar-akar yang kuat yang tidak hanya mengakar pada hatinya, tapi juga pada hidupnya. Bukankah kita pun merasakannya?

Barangkali memang disitulah letak perjuangan kita, membayar “harga” yang terasa mahal demi selautan cinta-Nya. Bayangkan saja, terkadang ketika kita memantapkan diri untuk mau menjadi lebih baik, adaaa saja godaannya. Akhirnya diri kita kembali terjebak pada keburukan itu dan jatuh lagi ke lubang yang sama.

“Tau sih di Qurannya harus begitu, tapi kan…”
“Iya aku tuh ngerti kalau ini salah, tapi gimana dong susah banget lepasnya…”
“Hmm, iya tau kok Allah tuh nggak suka kalau aku begini, tapi nanti gimana kalau…”

Familiar dengan monolog diatas? Ironisnya, banyak keburukan atau kesalahan yang dilakukan dalam kondisi pelakunya sadar betul bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Entah karena berbenturan dengan hawa nafsu, ego pribadi, atau lemahnya iman. Akhirnya kesalahan yang berulang itu selalu berakhir dengan penyesalan dan perasaan bersalah kepada Allah. Tentu ini hal yang baik, setidaknya Allah tidak mematikan hati kita atau membuat kita berpaling untuk bertaubat kepada-Nya. Namun, terkadang banyak juga penyesalan yang berakhir dengan pengulangan terhadap kesalahan yang sama. “Duh padahal kemarin udah nyesel tapi ternyata susah ya untuk nggak melakukannya lagi.” monolog seperti itupun terjadi lagi.

Itulah bedanya manusia dengan makhluk Allah yang lain. Ia memiliki kecenderungan kepada ketakwaan namun juga di saat yang sama harus berperang melawan hawa nafsunya. Maka derajat manusia di hadapan Allah akan melesat naik apabila ia berhasil menang dari hawa nafsunya, namun juga terancam untuk menjadi serendah-rendahnya makhluk apabila dikuasai nafsunya sendiri.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.” Begitulah Allah berfirman dalam QS. At-Tin: 4-6

Pernahkah kita berpikir mengapa jalan kebenaran harus sesulit ini? Sebab hadiahnya mahal. Coba, hadiah apa sih yang bisa setara dengan syurga dan keridhan Allah? Tidak ada. Itulah mengapa, meski di jalan hijrah ini semua orang bagai sedang berperang dengan medan juangnya masing-masing, tapi semua medan juang itu berharga untuk dimenangkan. Manusia mana yang ingin direndahkan oleh Tuhannya? Orang beriman mana yang tak ingin mendapat rahmat dari Rabb-nya? Tidak ada. Maka, berjuang untuk menjadi sebenar-benarnya hamba dan sesejati-sejatinya mu’min adalah satu-satunya jalan bagi mereka yang mengarap syurga dan ampunan-Nya.

Malu adalah sebagian dari iman, jika kita masih saja melakukan keburukan, jangan-jangan rasa malu kita kepada Allah sudah luntur bahkan tak ada lagi. Sementara rasa takut adalah pangkal dari takwa. Orang yang bertakwa tidak akan berani untuk bermaksiat dan melakukan hal-hal yang tak disukai-Nya sebab takut kepada Dia Yang Maha Melihat. Tapi bagaimana jika dalam memperjuangkannya kita gagal, gagal, dan gagal lagi? Tidak mengapa, asal kita mengambil pelajaran, memtik hikmah, dan berjuang untuk tidak mengulanginya lagi.

Rasa bersalah kepada Allah, rasa malu dan hinanya diri saat melakukan kesalahan, semua adalah anugerah yang harus kita syukuri. Beruntungnya kita sebab rasa-rasa itu masih diizinkan-Nya hadir, hingga kita pun masih diizinkan-Nya untuk menyadari keburukan diri untuk kemudian berjuang kembali kepada-Nya. Allah tidak pernah menolak siapapun yang melakukan kesalahan lalu berpulang kepada-Nya, bukan?

Allah, kami tak ingin berpulang dalam keadaan seperti ini. Jangan dulu engkau putuskan kesempatan hidup kami, sebab kami masih ingin berjuang untuk berpulang dengan kondisi jiwa yang selamat. Semoga Engkau berkenan memberi kesempatan, sekali lagi.

Your Sister of Deen,
Husna Hanifah & Novie Ocktaviane Mufti