Rabu, 03 November 2021

Masa Kritis Menjelang Akhir Tahun

  *dikutip dari Monday Love Letter #146, yang kutulis untuk Sister of Deen

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Saya baru saja menyadari satu hal. Semakin mendekati akhir tahun, biasanya saya semakin banyak berkontemplasi. Lebih banyak hening, lebih banyak mengamati, lebih banyak mengobrol dengan diri sendiri. Apa karena sudah memasuki musim hujan, ya? Suasana akhir-akhir ini sering membuat saya menjadi lebih banyak merenung dan ingin melakukan me-time. Kamu juga begitu nggak, sih? Apa saya saja? Hehe.

Tapi memang, sejauh yang saya ingat, masa-masa di akhir tahun seringkali menjadi "masa kritis", khususnya bagi saya. Sudah banyak waktu terlalui yang menguras energi, namun di sisi lain, masih ada beberapa minggu yang harus dihadapi yang seringkali berkejaran dengan target-target yang masih ingin dikejar. Ingin berjalan santai, tapi waktu tinggal sebentar lagi. Ingin berlari, tapi sudah mulai capek. Dilema yang sungguh menyebalkan, bukan? Wkwkwk :')

Masa-masa seperti ini juga menjadi masa di mana saya semakin membuat jarak dengan media sosial. Membuka medsos menjadi lebih cepat bosan, karena yang riuh bukan hanya timeline feeds tapi juga pikiran di dalam kepala saya, hehe. Intensitas posting konten juga secara otomatis menjadi berkurang drastis karena energi lebih banyak terkuras di dunia nyata. Pokoknya sesuatu sekali, deh!

Menjelang akhir tahun, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di kepala saya adalah, "Tahun ini sudah ngapain aja, ya?" Rasanya takut dan panik kalau tiba-tiba menyadari bahwa ternyata lebih banyak kesia-siaan yang dilakukan sehingga pertumbuhan diri menjadi tidaklah seberapa. Rasa takut dan panik ini sungguh terasa seperti ujian, karena di satu sisi bisa membuat makin pesimis dan semakin malas berubah. Tapi di sisi lain, fase seperti ini sebetulnya bisa digunakan sebagai momentum dalam mengembalikan keberhargaan diri.

"Masa sih, selama setahun ini kamu tidak berprogres? Masa sih selama setahun ini tidak ada pencapaian yang berhasil kamu raih? Coba ingat-ingat lagi, sekecil apapun itu, apresiasi yuk!"

Bertanya seperti itu kepada diri sendiri adalah cara saya agar bisa menghargai pencapaian-pencapaian kecil, mengapresiasi usaha diri, mensyukuri berbagai nikmat yang Allah berikan sehingga tidak terlalu berfokus pada ketidakberdayaan diri yang saya rasakan.


Bahkan jika diperlukan, saya sampai lihat-lihat lagi buku agenda, buku harian, tulisan-tulisan di blog, feeds dan IG stories selama setahun ke belakang, untuk menelusuri hal-hal apa saja yang sudah saya lakukan selama setahun ini sehingga akhirnya saya menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang berhasil saya capai yang mungkin selama ini luput untuk saya apresiasi. Dan semakin saya mengapresiasi keberhasilan-keberhasilan kecil itu, semakin saya sadar bahwa ada banyak nikmat dan pertolongan dari-Nya yang sering sekali luput untuk disyukuri. Subhanallah walhamdulillah.. :')

"Jadi, siapa bilang kalau selama ini kamu sama sekali tidak berprogres? Siapa bilang kalau selama berbulan-bulan lalu kamu tidak memiliki pencapaian apapun?"

Perlahan, keberhargaan diri saya kembali lagi. Dengan semangat yang baru, rasanya menjadi lebih enteng untuk menghadapi hari-hari ke depan. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa, tapi juga tidak terlalu santai. Tugas kita hanyalah berikhtiar seoptimal yang kita bisa dan biarkan tangan Allah yang bekerja memberikan tuntunan dan pertolongan-Nya, seperti halnya keberhasilan-keberhasilan kita di masa lalu yang tak mungkin tercapai jika tanpa bimbingan dan pertolongan dari-Nya.


Dan atas kegagalan yang telah terjadi atau harapan yang masih belum terkabul, semuanya adalah cara Allah untuk mengajarkan kepada kita arti sabar-syukur-ikhlas-tawakal, menguatkan iman kita agar senantiasa bergantung pada-Nya, serta cara-Nya mengenalkan bahwa bentuk cinta-Nya tidak hanya dengan memberi kita bahagia, tapi juga dengan ujian kegagalan, kesedihan dan ketakutan agar kita tidak terjerumus pada jebakan kesombongan yang membuat kita lupa pada-Nya.

Selamat berkontemplasi, sister! Apapun kondisi yang sedang kau lalui, semoga hati dan jiwa selalu terhubung dengan-Nya, sehingga akal selalu memiliki ruang untuk mampu berbaik sangka pada setiap ketetapan-Nya dan langkah tidak pernah berhenti dalam menapaki perjalanan meraih ridha-Nya. Barakallahu fiik.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Pantaskah Aku Disebut Muslim?

 *dikutip dari Monday Love Letter #144, yang kutulis untuk Sister of Deen 


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Kenapa ya rasanya kok waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin bulan berganti dari September ke Oktober, lalu sekarang sudah tanggal 11 saja, subhanallah.. Semoga seiring berjalannya waktu, bertambah pula amal sholeh kita dan semakin cukup bekal kita untuk menghadapi perjalanan menuju kampung akhirat. Aamiin Ya Rabb..

Belakangan ini, saya kembali belajar dan berusaha memaknai ulang tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani kehidupannya. Ternyata, Islam menjelaskan semuanya, lengkap. Dari mulai cara berpikir hingga pola tindak, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari interaksi dengan diri sendiri hingga interaksi dengan masyarakat, bagaimana menjalani peran yang ada, dan seterusnya. Semakin saya belajar, semakin ciut hati saya karena masih banyak sekali PR yang harus dikerjakan untuk bisa menjadi pribadi muslim yang ideal menurut Allah dan Rasul-Nya.

Seorang muslim adalah etalasenya Islam. Kalimat itu selalu terngiang di kepala saya. Saya yakin, kamu juga pasti pernah mendengarnya dari ceramah-ceramah di masjid atau di kajian-kajian keislaman. Dengan menjadi seorang muslim/muslimah, sadar maupun tak sadar, kita sebetulnya sedang mencitrakan Islam. Dan orang lain di luar sana, yang mungkin sedang belajar Islam, atau bahkan tidak mengenal Islam sama sekali, akan "melihat" Islam dari orang-orang muslim yang mereka lihat. Jika akhlak kita baik, maka indahlah Islam di mata mereka. Sebaliknya, jika kita menampilkan akhlak yang buruk, maka bisa jadi dapat tercoreng pula Islam di mata mereka.

So, it's time to reflect, sister. Apakah selama ini kita mencitrakan kebaikan atau keburukan terhadap agama kita sendiri? Semua dilihat dari bagaimana kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. Apakah life style kita adalah life style-nya seorang muslim? Atau jangan-jangan kita malah terbawa arus tren dari Barat atau hype-nya Korea? Hmm..

Terlebih lagi, kita adalah seorang perempuan. Hijab yang kita kenakan adalah identitas keislaman yang semua orang bisa lihat dan kenali. Sadarkah bahwa sebagai perempuan yang diperintahkan Allah untuk berhijab, kita sedang diberikan peran penting oleh Allah untuk menampilkan citra Islam di mata dunia? Maka cara kita bertutur, cara kita bersikap, cara kita merespon sesuatu, cara kita menyelesaikan masalah, bahkan cara kita berpendapat, seharusnya sesuai dengan bagaimana Islam mengatur semuanya.

Menyadari hal tersebut, jujur pundak saya menjadi terasa agak berat. Rasanya seperti sedang dibebankan peran maha penting di pundak (hehehe sok penting banget ceunah), ditambah lagi ketika saya berkaca pada diri sendiri, duhhh rasanya jauh sekali dari profil muslim yang seharusnya. Ya masih belum sempurna ibadahnya, sholat kadang masih dientar-entar (ditunda-tunda maksudnya), masih banyak kekurangan menjalani peran sebagai istri-anak-menantu-kakak-kakak ipar-tetangga-dst, masih belum profesional kalo bermuamalah dengan orang lain, daaan lain-lainnyaa.. Takutnya malah makin mencoreng nama Islam ya kaaaan, hikss.

Tapi, inilah indahnya Islam. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk senantiasa menyeimbangkan antara rasa takut (khauf) dan rasa penuh harap (roja'). Jika kita terus minderan sebagai seorang muslim, lalu mau kapan mulai memperbaiki diri? Jika kita terus merasa tak pantas untuk mendapat surga, lalu mau kapan memulai mengumpulkan amal shalih untuk menutupi dosa-dosa yang telah lalu? Jika kita terus menerus merasa terbebani sebagai duta Islam, bagaimana Islam akan menyinari dunia jika para muslim dan muslimahnya tak percaya diri dalam menampilkan citra Islam?

Semoga kita semua dapat menyadari dan merasakan bahwa menjadi seorang muslim/muslimah adalah anugerah. Tidak semua orang Allah berikan hidayah dan diberikan nikmat iman dan islam. Di luaran sana, ada banyak orang yang masih terjebak dalam kejahiliyahan, kehilangan makna dan tujuan hidup, bahkan sama sekali tidak mengenal Islam and maybe they're suffering to find the truth, to find peace.

Bersyukurlah karena saat ini kita dikelilingi oleh informasi-informasi keislaman, begitu mudahnya mengakses kajian, dan diberikan kebebasan untuk beribadah. Hanya satu yang kita perlukan: KEMAUAN. Mau untuk belajar, mau untuk melangkahkan kaki ke majelis ilmu, dan yang paling penting mau mulai mengamalkan ilmu yang kita tahu. Menjalankan perintah-Nya tanpa kecuali, tanpa tapi, tanpa pilih-pilih.


Kita sama-sama ya, sister. Menjadi muslimah yang ideal memang akan membutuhkan waktu seumur hidup kita. Tapi Maha Baiknya Allah adalah Allah tidak pernah melihat hasil. Allah selalu melihat upaya kita, kesungguhan kita, dan kesabaran kita dalam menapaki jalan kebenaran ini. Semoga Allah mampukan kita untuk istiqomah. Aamiin.. :')

 

So, are you proud to be a muslimah?

Yes, I am.

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Kamis, 16 September 2021

Kau Tetaplah Seorang Ibu

Sudah lebih dari 5 tahun. Tepatnya, 5 tahun 4 bulan.

Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian, namun juga bukan waktu yang lama untuk memutuskan berhenti berikhtiar. Entah berapa "tamu bulanan" telah terlalui, yang perlahan mengajariku bagaimana menata rasa kecewa saat kenyataan belum juga bertemu dengan harapan.

Dalam 5 tahun ini, kualihkan energi untuk fokus menumbuhkan diri. Kucurahkan jiwa keibuanku untuk menumbuhkan orang lain, sampai akhirnya aku jadi curiga..

Jangan-jangan tangki cinta yang aku punya, jauh lebih besar dari yang aku pikir. Jangan-jangan kasih sayangku kepada sesama, memiliki energi besar yang berpotensi meluaaas sekali. Jangan-jangan jiwa keibuan di dalam diriku, terlalu besar untuk hanya mengasuh dan membesarkan 2, 3, atau 4 orang anak. Jangan-jangan kapasitasku jauh lebih besar dari itu.

Mungkin karena potensi yang besar itu, Allah ingin membuatku mencintai dengan bebas. Allah ingin aku merdeka dalam mengekspresikan sayang. Allah ingin aku menyayangi sesama dengan lingkup yang seluas-luasnya, dengan anak-anak ideologis sebanyak-banyaknya, tanpa harus dibatasi bilangan 2, 3, atau lebih anak biologis..

Mungkin, jika saat ini aku diberikan anak biologis, cintaku akan terbatas, menyempit sebatas memikirkan dan mengurusinya saja, tak lagi punya banyak waktu untuk menumbuhkan anak-anak manusia lainnya. Sementara potensiku mengasihi dan mendidik, ternyata lebih besar dari itu.

Mungkin, ada hal-hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, sebelum Dia menitipkan malaikat kecil-Nya di keluarga kecil kami. Persiapan, pendidikan dan bekal menjadi orangtua yang tak pernah kami tahu, yang menjadi kurikulum-Nya dalam mematangkan kedewasaan kami.

Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, prasangka-prasangka baik yang berusaha kubangun untuk membesarkan hatiku.

Tulisan ini bukan untuk mengkerdilkan peran ibu-ibu yang memiliki anak-anak biologis tentu saja. Anak adalah sebuah amanah yang besar, dan syurga insya Allah telah menanti untuk mereka para ibu yang berusaha menjaga amanah-Nya dengan baik. Semoga Allah selalu memampukan dan menguatkan para ibu yang sedang berjuang dalam medan juangnya..

Tulisan ini adalah untukku. Hiburan dan penguat untuk diriku sendiri bahwa dalam masa penantian, tetap ada banyak hal yang bisa dilakukan dan dikaryakan untuk-Nya.

Amanah tetaplah amanah. Baik mereka yang lahir melalui rahimmu, maupun mereka yang hadir karena mewarisi buah pikirmu. Pada akhirnya, hamil ataupun tidak, aku tetaplah seorang ibu. Dan pada keduanya, ada pintu kemuliaan yang Dia sediakan untukku.

Walaupun, tak kupungkiri, sering ada perasaan rindu ingin memeluk buah hati dari rahimku sendiri. Ada jiwa keibuan yang tak bisa kutolak yang merindukan kehadiran bayi mungil di dalam keluarga kami. Namun seiring waktu, akhirnya aku mampu berbesar hati.

Tak apa, jika tidak di dunia, semoga kelak aku bisa menjadi ibu bagi anak-anak syurga.

Minggu, 05 September 2021

My Husband's Super Power (?)

Salah satu keunikan dan keanehan suamiku adalah dia tuh tajem banget indra penciumannya ga ngerti lagii. Bahkan dia tuh bisa mencium bau yang bahkan aku ga tau itu tuh baunya kayak apa.

Pernah suatu hari kami lagi rebahan di kasur, terus tiba2 doi bangkit dan bilang, "Neng, ada bau kecoa." 

"Aku gak nyium apa2.."

"Ih beneran ini bau kecoa," sambil bangkit dari kasur dan nyariin kecoanya!

"Emang kecoa ada baunya ya? Gimana sih bau kecoa tuh??" Aku ketawa-ketawa sendiri aja liat kelakuannya, setengah ga percaya sama dia yang kayaknya yakin banget gitu kalo ada kecoa di sekitar kita.

Eeh beberapa menit kemudian... "Aa, ini ada kecoa!" Aku ngeliat kecoa lagi jalan-jalan di sekitar pintu kamar. Lahhhh beneran ada kecoa dooooong.. Kok dia bisa tauu cuma dari nyium baunya aja (???)

Dan kejadian bau kecoa ini nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Kalo dia tiba-tiba bilang ada bau kecoa, pasti gak lama kemudian kecoanya beneran muncul. Magic.


Pernah juga di hari yang lain, pas aku pulang ke rumah, suamiku cerita, "Neng, tadi Aa kan mau ke kamar mandi, terus kecium bau telor lalat gitu, nggak taunya di bawah tempat sampah ada telur-telur lalat banyak banget, hiii!"

Denger cerita itu aku antara takjub bisa-bisanya sama doi kecium bau telur lalat (kayak gimana sih baunya??? Wkwk), campur jijik ngebayangin telur-telur itu ada disana (biasanya terjadi kalo aku abis ngolah daging ikan/ayam mentah dan sampahnya kelamaan gak dibuang), campur bersyukur untung suamiku nemunya masih dalam bentuk telur, coba ketauannya pas udah menetas, dapurku akan penuh belatung T_T


Pernah juga di suatu pagi. Aku tuh udah beberapa bulan ini rajin bikin pupuk kompos. Jadi sampah-sampah dapur yang organik aku pisahin dan aku kumpulin untuk aku jadiin kompos. Kebetulan malam sebelumnya aku abis bersihin tampungan sampah yang di wastafel. Karena udah malem banget, jadi sampahnya aku simpen semaleman di wadah terbuka, rencananya besok baru mau aku masukin ke ember kompos.

Paginya suamiku mau makan dan ngambil nasi (rice cookernya deket wastafel), terus dia bilang, "Neng itu sampah kompos segera diurus hari ini ya, udah ada bau telor lalat soalnya." 

0_o


Memang hidung suamiku sepertinya punya kekuatan super.

Selasa, 31 Agustus 2021

Enjoy Your Every Growth

Ada kalanya, aku yang ritme hidupnya cenderung slow-but-sure ini, tiba-tiba ingin lari dan ingin buru-buru sampai. I think I should do better, I think I can do more, I need to accelerate myself. Pikiran-pikiran semacam itu biasanya muncul dalam beberapa bulan sekali. Tidak salah sih, tapi ternyata ketergesa-gesaan itu yang justru bikin aku kewalahan sendiri.

Ada kalanya aku silau dengan panggung orang lain, merasa bahwa jika orang lain sudah sampai di titik tertentu, aku juga harus segera sampai di titik itu. Padahal aku juga punya perjalananku sendiri dan hanya perlu menjalani semuanya seoptimal yang aku bisa. 

Enjoy every step, e-v-e-r-y step. Nanti lama-lama juga kamu akan sampai. Kamu hanya perlu melakukan apa yang kamu bisa, melakukan hal-hal baik yang membawa manfaat, menyambut peluang-peluang amal shalih yang Allah hadirkan. Nanti juga kamu akan jadi besar dan sampai di garish finish-mu sendiri.

Betul, fokus ke depan memang perlu. Tapi coba berhenti sejenak dan lihat sudah berapa banyak anak tangga yang berhasil kau tapaki di bawah sana. Sudahkah mensyukuri pencapaianmu hari ini?

Terkadang, saking inginnya mengejar sesuatu, kita jadi lupa untuk mensyukuri satu demi satu anak tangga yang sudah kita lalui. Lupa menikmati dan menghargai setiap proses dari tumbuhnya diri.

Tugasmu hanyalah terus dan terus tumbuh. Menguatkan akar, mengokohkan batang, meninggikan cabang, merimbunkan ranting, menghasilkan buah. Sampai bagaimana? Tidak ada batasnya. Bertumbuh tidak ada batasnya, bukan?

Tidak ada pohon yang akan berhenti tumbuh selama dia masih hidup. Dan tidak ada indikator kapan sebuah pohon dikatakan telah mencapai batas optimalnya.

Apakah jika tingginya sudah puluhan meter? Atau jika lebarnya sudah belasan meter? Atau jika sudah menghasilkan buah sekian ratus ribu? Tidak, kan? Selama dia hidup, dia akan terus tumbuh. Tanpa batas.

Sampai penciptanya sendiri yang memutuskan batasnya, yaitu ketika pohon itu akhirnya mati. Barulah ia berhenti tumbuh.

Maka, bertumbuh bukanlah tentang seberapa tinggi kamu meraih langitmu, melainkan tentang tetap bertumbuhnya dirimu inci demi inci, sampai Allah sendiri yang kelak memutuskan kapan kamu harus berhenti.

So, just keep growing and enjoy your every growth.

Senin, 30 Agustus 2021

Menyalakan Kembali Pijar Hati

 *dikutip dari Monday Love Letter #136, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, masih dalam nuansa pergantian tahun hijriyah, semoga api semangat dalam diri kita terus berkobar untuk terus berupaya menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi. Bertepatan juga dengan bulan Agustus yang identik dengan kemerdekaan, semoga kita bisa menjadi hamba yang merdeka, yang terbebas dari segala hal yang berpotensi menghambat penghambaan kita kepada-Nya. Sebab, hanya di dalam kepengaturan-Nya-lah kita bisa meraih kemerdekaan sejati, yakni merdeka dalam beribadah hanya kepada-Nya.

Apa kabarmu, sister? Bagaimana kabar keimananmu? Bagaimana hubunganmu dengan Allah saat ini, apakah sedang sangat dekat atau justru sedang merenggang? Bagaimana kualitas shalatmu dan ibadahmu yang lain, apakah tetap mampu mempertahankan kekhusyukan atau hanya sekedar menjalankan rutinitas dan menggugurkan kewajiban semata?

Makin hari, rasanya makin berat saja ya untuk bertahan dalam menampilkan performa terbaik sebagai seorang hamba. Kita pernah berada dalam masa dimana pintu masjid terbuka lebar untuk siapapun dan sebanyak apapun orang. Kita pernah berada dalam masa dimana kajian digelar dimana-mana, dari mulai di masjid besar sampai di rumah guru-guru kita. Support system dalam menjaga iman tersebar dimana-mana, mudah sekali menemukan tempat "isi ulang" untuk jiwa-jiwa kita yang rapuh dan hampa. Beruntunglah jika kamu masih bisa menjaga iman dalam situasi seperti ini.

Saya pernah berada pada masa dimana jiwa terasa begitu kosong. Berminggu-minggu terlewati dengan perasaan gelisah. Aktivitas dilakukan dengan perasaan hampa. Berusaha menghibur diri dengan pergi ke alam, menonton ceramah atau video motivasi, bersilaturahim dengan teman, terkadang curhat juga, namun tetap saja, kosong. Seperti ada lubang besar di dalam hati dan saya tidak tahu lagi harus mengisinya dengan apa.

Lama kelamaan, ibadah mulai kehilangan maknanya. Dijalankan hanya sebatas rutinitas saja. Beberapa amalan rutin harian ditinggalkan, tergantikan oleh aktivitas lain yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Ah, biar sajalah buang-buang waktu seperti ini, pikirku saat itu. Sedih sekali jika saya ingat kembali masa itu. Saat saya seharusnya sedang merasa paling butuh dengan Allah, malah dengan sengaja menjauh dan mengabaikan-Nya. Sebuah kesalahan dan kebodohan yang nyata dari seorang hamba yang tidak tahu diri.

Setelah sekian lama, akhirnya saya merasa lelah. Lelah berlari dari-Nya. Lelah karena terus-menerus menolak fitrah jiwa yang terus memberi sinyal bahwa jalan yang saya tempuh sudah salah dan melenceng dari jalur. Ada rasa gelisah dan rasa bersalah yang tidak bisa saya hindari sehingga membuat saya akhirnya berhenti dan berbalik arah, mencoba menemukan kembali arah jalan "pulang".

Ternyata, proses kembali tersebut tidak semulus yang saya bayangkan. Saat saya mulai kembali membaca al-Quran dengan harapan diri ini dapat kembali tercahayai, ternyata hati saya tetap hampa. Saat saya berusaha khusyuk dalam shalat, saya sulit sekali merasa terhubung dengan-Nya, sekuat apapun saya berusaha fokus. Saat saya bersilaturahim atau menghadiri kajian untuk berusaha "mengisi ulang" jiwa, tetap saja tidak mampu mengisi bejana jiwa saya yang kosong. Ya Allah, kenapa? Ada apa ini? Kondisi ini lebih membuat saya gelisah, seakan sedang tersesat dan tidak juga bertemu jalan pulang. Saya seperti sedang kehilangan diri sendiri.

Berhari-hari saya menghadapi kebingungan itu. Hingga suatu hari seorang sahabat menyampaikan sebuah perenungan tentang suatu hikmah yang didapatkannya dari suatu kajian dan sampai menangis saat menyampaikannya. Saat itulah saya betul-betul sadar bahwa ada yang salah dengan hati saya. Di saat seperti itu, biasanya saya akan ikut menangis atau setidaknya terharu dan merasa hangat jika mendengar sebuah hikmah. Tapi ketika itu, rasanya kosong. Tidak ada yang bergetar sedikitpun di dalam hati saya. Dingin. Kaku.

"Hei hati, kamu kemana? Kamu kenapa?" Saya takut sekali saat itu, takut hati saya menjadi mati. Bagaimana bisa hati ini tidak bergetar saat ayat-ayat-Nya dibacakan? Ya Allah, saya ingin kembali!

Malam itu saya sulit tidur. Masih dengan harapan mendapatkan secercah cahaya untuk menembus jiwa, saya akhirnya berusaha tidur dengan sebelumnya berdoa terlebih dahulu. "Ya Allah, jika Engkau masih mau memberikan jalan untukku kembali, tolong bangunkan aku di waktu tahajud."

Ternyata, Allah mendengar doa saya. Tanpa alarm, saya bangun sendiri pukul 3 pagi, tidak lama setelah saya tertidur. Saya tangkap ini sebagai sinyal baik dari Allah sehingga saya bergegas ke kamar mandi dan berwudhu. Akhirnya, saya shalat tahajud lagi, setelah sekian lama.

Saya punya memori baik tentang shalat tahajud, waktu-waktu tahajud memang waktu-waktu paling syahdu dimana saya bisa berduaan dengan Allah, curhat dan berdoa sepuas-puasnya hingga menangis tersedu-sedu. Tapi malam itu berbeda. Saya tidak merasa betul-betul hadir dan tidak merasakan kehadiran Allah kekhusyuk apapun saya mencoba. Rakaat demi rakaat terlalui, dan hingga shalat itu selesai, saya tidak juga merasakan ketenangan yang saya rindukan itu. Frustrasi!

Akhirnya saya duduk di atas sajadah, beristighfar sebanyak-banyaknya. Saya teringat memori lama saat saya beristighfar setelah tahajud dan saya sesegukan setelahnya. Maka saya praktekkan kembali istighfar saat itu, berharap hati yang dingin ini dapat menghangat kembali. Tapi aneh! Istighfar dan dzikir-dzikir yang saya dawamkan saat itu, tidak juga membuat hati saya menghangat. Rasanya masih kaku, seperti ada sesuatu yang menghambat entah apa. Ya Allah, ini kenapa..

Setelah berdzikir, biasanya saya melanjutkan dengan doa. Tapi saat itu saya terdiam lama, tidak tahu harus berdoa apa. Jika dzikir-dzikir barusan tidak bisa membuatku terhubung dengan-Nya, bagaimana saya bisa berdoa dengan kondisi seperti ini? 

Perasaan hati saya sudah tidak karuan ketika itu. Saya hanya ingin kembali kepada-Nya, namun mengapa shalat dan dzikir saya tidak bisa menghantarkan diri saya kepada-Nya? Sampai-sampai saya tidak tahu harus berdoa apa untuk bisa "memanggil"-Nya. Bahkan saya tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan hati saya sendiri.

Di tengah kefrustrasian itu, karena saya tidak tahu harus dengan cara apa lagi agar bisa terhubung dengan-Nya, saya memanggil-Nya dengan suara yang sangat lirih, "Rabbi..." Di saat itulah, di saat saya berada dalam titik yang paling pasrah dan tidak tahu harus bagaimana lagi selain memanggil nama-Nya, air mata saya akhirnya keluar. 

"Rabbi.." saya memanggil-Nya lagi dan tiba-tiba saya merasa sedang dipeluk oleh-Nya. Saat mengucap kata Rabbi, saya teringat kembali ayat tentang setiap ruh yang sudah pernah berjanji dan mengikrarkan bahwa Allah adalah Rabb-nya. Maka air mata yang saat itu keluar, pastilah merupakan dorongan dari dalam ruh (jiwa) yang sudah sangat rindu untuk kembali pada fitrahnya menghamba. Ya Allah, ternyata Engkau masih mau menerima hamba-Mu yang sudah sombong ini! :''''(

"Rabbi.." air mata saya tidak berhenti mengalir, rasa bersyukur dan merasa bersalah melebur jadi satu. Rasanya lega sekali ketika saya akhirnya bertemu dengan jalan pulang dan "rumah" yang selama ini saya rindukan.

Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Setelahnya, doa-doa yang malam itu saya panjatkan terasa nikmaat sekali. Besar harapan saya, agar Allah tidak mencabut kembali kenikmatan ini. Semoga saya bisa terus menjaga rasa syukur ini dengan lebih berhati-hati dalam bertindak. Pasti ada banyak dosa yang sebelumnya saya abaikan. Ada banyak kelalaian yang tidak segera saya taubati sehingga menutupi cahaya yang Dia hadirkan. Bismillah, semoga Allah menuntun saya dan kita semua dalam mengerjakan perbaikan-perbaikan diri hingga bisa mencapai derajat paling mulia di hadapan-Nya, yakni derajat takwa.

Sister, jika akhir-akhir ini kamu sedang merasa lelah dan gelisah, pertemuanmu dengan suratku ini pasti bukanlah kebetulan. Bisa jadi ini adalah sinyal baik dari-Nya untukmu memanggil kembali hati dan jiwa yang mungkin pendar cahayanya sedang terhalang. Jangan menunda terlalu lama. Kembalilah segera, semoga kamu pun menemukan rumah bagi jiwamu dan mendapatkan ketenangan yang selama ini hatimu rindukan. Allah pasti akan menuntunmu menemukan jalan pulang.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Saat Semua Tinggal Kenangan

 *dikutip dari Monday Love Letter #133, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sejujurnya, saya belum tahu mau menulis apa ketika saya mulai menulis surat ini. Tapi saya punya satu cerita yang masih hangat sekali terjadi, yaitu kemarin malam saat saya melakukan zoom bersama keluarga dari ayah saya. Malam itu, seharusnya saya bergabung dengan para tetangga untuk nyate bersama, selain untuk menjalin silaturahim, tentu saja untuk menghabiskan daging-daging qurban yang masih banyak! Hehe.. Tapi karena ada pertemuan online bersama keluarga, akhirnya saya di rumah saja. Ternyata, selepas zoom mata saya malah sembab karena banyak menangis. Nah lhooo, kenapa??

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, sudah sebulan lebih Kakek (dari ayah) saya wafat. Kemudian 2 minggu setelahnya, Om saya juga wafat menyusul Kakek saya yang sudah lebih dulu berpulang. Pertemuan zoom kemarin malam dimaksudkan untuk mengenang kedua almarhum, membaca yasin, dan berdoa bersama. Tentu saja saya senang karena bisa bertegur sapa dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota. Melihat wajah mereka di layar alhamdulillah sedikit mengobati kerinduan saya kepada mereka.

Lalu, ayah saya membuka forum dan ternyata acara pertama adalah memberikan pesan atau hikmah yang didapat oleh masing-masing anggota keluarga tentang kedua almarhum. Ah, saya sudah feeling bahwa saya pasti akan menangis. Akhirnya satu per satu anggota keluarga bergantian menceritakan kesan mereka terhadap kedua almarhum. Dan seperti yang sudah saya duga, semua kesan dari keluarga adalah kesan yang positif. Kami semua merasa dicintai dan merasa di sayang oleh almarhum dan keduanya punya tempat spesial di hati kami masing-masing. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni dan melapangkan kubur mereka, aamiin.. :')

Sampai akhirnya tiba giliran saya untuk bercerita. Tiba-tiba di kepala saya berkelebat kenangan-kenangan dari Kakek dan Om saya yang sebenarnya cukup banyak. Dan tanpa bisa saya tahan, air mata mengalir begitu saja, membuat suara saya menjadi parau dan sulit melanjutkan bercerita. Akhirnya tidak banyak cerita yang bisa sampaikan saat itu karena jika dilanjutkan pasti tangisan saya semakin menjadi. Dan betul saja, semakin saya mendengar cerita dari keluarga yang lain, terlebih adik-adik saya yang juga memiliki banyak kenangan bersama kedua almarhum, membuat air mata saya tidak juga berhenti. Sesekali saya menjauh dari layar supaya nggak ketahuan kalau lagi nangis, takutnya malah bikin vibes-nya jadi sediih hahaha~ :''D

Saya sendiri sebetulnya tidak menyangka bahwa saya akan sesedih itu. Padahal ibu dan ayah saya selalu mengingatkan bahwa kita tidak perlu terlalu menangisi orang yang sudah meninggal, karena mereka sudah kembali kepada Allah. Apalagi jika meninggalnya dalam keadaan yang baik, husnul khatimah. Maka sepatutnya kita berbahagia karena dia akan segera menyongsong kehidupan yang lebih baik dan membahagiakan di akhirat. Tapi ternyata, rasa sedih akan kehilangan tak bisa begitu saja saya tepis. Rasanya sedih setiap kali mengingat bahwa saya tidak bisa bertemu mereka lagi dan segala hal tentang mereka hanyalah tinggal kenangan.

Setelah saya pikir lagi, kedua almarhum ternyata memiliki tempat spesial di hati saya. Saya cukup lama hidup bersama-sama dengan Kakek sejak kecil, maka peran beliau bukan hanya sebagai kakek, tapi juga rasanya seperti memiliki ayah kedua yang banyak mendidik saya dan memberi pelajaran hidup dengan caranya. Sedangkan Om saya, usia kami hanya terpaut 19 tahun dan beliau seperti sosok kakak laki-laki bagi saya. Beliau sangat dekat dengan keponakan-keponakannya, termasuk saya dan adik-adik saya. Kami sama sekali tidak merasa canggung berinteraksi dan bercanda dengan beliau, seorang yang baik dan kehadirannya dapat menghidupkan suasana. Kangen sekali rasanya :')

Berkali-kali saya mengajak ngobrol diri saya sendiri, "Kenapa harus sesedih itu sih, Na? Nggak apa-apa, nanti juga di akhirat insya Allah akan ketemu lagi.." Saya sadar bahwa orang-orang yang wafat dalam keadaan yang baik, sebaiknya tidak dilepas dengan tangis, tapi lepaslah dengan senyuman. Sebab "waktu ujian" dari Allah untuk mereka telah selesai, maka insya Allah mereka hanya tinggal menunggu reward-nya.

Yang justru harus kita khawatirkan adalah kita semua yang masih hidup, yang masih belum selesai mengerjakan ujian demi ujian yang disediakan-Nya di dunia. Waktu ujian kita belum berakhir sehingga belum saatnya bagi kita hari ini untuk pulang. Maka kepada mereka yang telah berpulang terlebih dulu, lepaslah mereka dengan senyuman, lalu bilang, "Alhamdulillah masa ujianmu sudah selesai, tunggu aku yah yang masih berkutat dengan soal-soal ujian dari-Nya, nanti aku menyusul, ya!"

Semoga kita semua bisa kembali pulang kepada Allah tanpa penyesalan apapun karena sudah berusaha memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan dalam menyelesaikan ujian-ujian dari-Nya. Semoga kita bisa kembali pulang dengan hati yang riang dan mendapatkan "hasil ujian" yang baik, serta reward terbaik yang disiapkan-Nya untuk kita.

Ya Allah, ampunilah kami, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang muslim, baik yang masih hidup maupun yang sudah berpulang kepada-Mu.. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin..


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Adakah yang Benar-benar Menjadi Milik Kita?

 *dikutip dari Monday Love Letter #131, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Pertanyaan 'apa kabarmu?' seringkali terdengar membosankan dan terkesan basa-basi, tapi sejak second wave pandemi hadir, bertanya apa kabar menjadi pertanyaan yang benar-benar kita ingin tahu jawabannya, setidaknya untuk saya. Apakah kamu juga begitu? Bagaimana kabarmu, sister? Semoga dalam keadaan sabar dan syukur yang baik.

'Alhamdulillah, baik' seringkali menjadi template balasan ketika ada orang lain yang menanyakan kabar kita. Sekarang, jawabannya beragam dan tak jarang membuat khawatir.

"Aku lagi isoman.."

"Keluargaku positif covid.."

"Saudaraku ada yang meninggal.."

"Aku lelah harus lembur terus karena pasien lagi banyak-banyaknya.."

Itu semua adalah jawaban dari pertanyaan apa kabar yang saya tanyakan kepada teman-teman saya. Tidak sedikit pula berita duka yang saya dapatkan, bahkan dari keluarga sendiri. Ya Allah, saat ini kita benar-benar sedang diuji dan diingatkan terus-menerus bahwa sakit dan kematian betul-betul berada di tangan-Nya. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan iman untuk menghadapinya.

Hari ini dan beberapa minggu ke belakang, mungkin menjadi hari yang gloomy bagi sebagian besar orang. Sejujurnya, akhir-akhir ini saya pun merasakan itu. Tapi malam ini saya membaca sebuah tulisan yang saya tulis setahun yang lalu, yang mengingatkan untuk kembali bersyukur.

Tahun lalu, saya membaca sebuah tulisan dari akun @berceritahikmah yang ditulis oleh seorang ibu yang baru saja kehilangan janin yang masih dikandungnya di usia kehamilan 4 bulan, di Hari Idul Fitri. Hari itu, ibu itu tiba-tiba pendarahan, keguguran dan bayinya harus dikeluarkan. Tapi masya Allah, penulisnya berhasil menemukan hal yang disyukurinya dengan sangat baik. "Untukmu yang juga sedang kehilangan, saat ada yang hilang dari kehidupan kita, lihatlah ada jauh lebih banyak hal yang Allah selamatkan" begitu tulisnya. Membacanya, saya mengangguk setuju. Sebab yakin bahwa di situasi apapun pasti ada banyak nikmat Allah yang bisa disyukuri.

Seporak-poranda apapun hidup kita saat diterjang badai, ternyata Allah banyak menyelamatkan banyak hal. Kalau dalam kasus ibu tersebut, dia bersyukur karena masih bisa melihat wajah tampan anaknya, bisa menggendongnya, dan bersyukur bisa diberi kesempatan untuk hamil walau hanya 4 bulan. Bagaimanapun, apa yang Allah beri itu adalah milik Allah, maka ketika diambil pun seharusnya tak menjadi masalah, sebab pemiliknya telah selesai menitipkan "titipan"-Nya. :')

Setelah saya renungi lebih jauh, Allah tuh ternyata nggak pernah ngasih kurang lho ke kehidupan kita. Ada jauuuh lebih banyak yang Allah beri, walaupun di saat yang sama kita berdoa berkali-kali meminta hal yang lain. Tidak apa sebenarnya meminta Allah untuk diberikan sesuatu, tapi kembali lagi ke konsep kepemilikan, bahwa apa yang menjadi milik kita tidak pernah betul-betul menjadi milik kita. Maka ketika meminta sesuatu, kita juga harus siap jika pemberian Allah itu diambil-Nya kapan saja. Ketika kita mendapatkan sesuatu dan mencintai sesuatu (atau bahkan seseorang) maka kita juga harus siap akan kehilangannya.

Cerita ibu tadi cukup menjadi pengingat bagi saya yang hingga hari ini masih berdoa untuk kehadiran buah hati. Bahwa ternyata anak bisa menjadi ujian bagi orangtuanya. Lalu jika saya mendengar cerita keguguran atau cerita ibu yang anaknya meninggal, suka langsung berpikir, kalau aku jadi ibu dan Allah memanggil pulang anakku lebih dulu, apakah aku siap? Sebab sejatinya anak bukanlah untuk dimiliki dan diatur semua kita, melainkan titipan yang harus dijaga sebaik-baiknya dan dihantarkan pada kepulangan yang baik kepada-Nya.

Konsep ini mirip konsep menggembala ya. Seorang penggembala bertanggungjawab menjaga gembalaannya, merawat dan mengurus hewan-hewan gembalaannya, memastikan makanan dan kebutuhan mereka terpenuhi. Tapi penggembala ini bukanlah pemilik hewan-hewan tersebut. Ia hanya bekerja untuk tuannya dan seorang penggembala yang bertanggungjawab adalah yang menjaga gembalaan tuannya tersebut dengan profesionalitas yang baik.

Lalu apakah ketika pemiliknya memutuskan mengambil/menjual semua hewan gembalaannya, atau menyembelih gembalaan yang menjadi miliknya, si penggembala ini patut marah? Harusnya kan nggak ya, karena pekerjaannya ya selesai sampai di situ.

Ya, sama seperti konsep kepemilikan kita di dunia. Harta benda, anak, pasangan, keluarga, waktu, kesehatan, bukankah semuanya hanyalah titipan? Tugas kita adalah menjaga semua titipan itu sesuai kehendak pemiliknya, yaitu Allah. Berpikir bagaimana titipan-titipan tersebut harus dijaga dan dikembalikan dalam keadaan yang baik.

Semoga kita bisa menjadi hamba yang amanah terhadap apa-apa yang dititipi oleh Allah kepada kita. Sebab sejatinya, seorang hamba tidak pernah memiliki apa-apa. Semua hanya pinjaman dan titipan, yang kelak akan ditanya oleh Allah tentang bagaimana kita menggunakan, mengurus, atau memeliharanya.

Yang sudah waktunya pergi, relakanlah untuk pergi karena memang sudah waktunya untuk kembali kepada Dzat yang memiliki. Namun, saat ada yang hilang dari kehidupan kita, lihatlah ada jauh lebih banyak hal yang Allah selamatkan dan ada jauh lebih banyak yang masih harus kita jaga sebelum diambil kembali oleh pemilik-Nya.


Yang sedang belajar melepas kepemilikan,

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Sebelum Selesai Masa Tugas

 *dikutip dari Monday Love Letter #129, yang kutulis untuk Sister of Deen


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Akhirnya bisa kembali menyapamu setelah dua pekan lalu saya bercerita tentang hikmah silaturahim. Bagaimana kabarmu, sister? Di penghujung hari Senin ini, semoga ada banyak rasa syukur yang bisa kamu ungkapkan kepada Allah sebelum terlelap. Semoga segala amarah, sedih dan gundah yang barangkali sempat kau rasakan hari ini, dapat menguap dan berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan di dalam hati. Jangan lupa bersyukur, ya!

Kali ini, walaupun lagi-lagi suratnya baru bisa kau baca di malam hari, saya tak sabar ingin berbagi cerita denganmu tentang sesuatu yang saya dapatkan dalam dua pekan belakangan ini. Saya yakin, setiap kejadian yang menimpa diri saya tak mungkin Allah hadirkan ke dalam kehidupan saya, jika tidak ada hikmah maupun pelajarannya. Begitu juga dengan kejadian yang menimpa orang lain. Saat kita mungkin tanpa sengaja mendengar suatu berita tentang kejadian yang menimpa orang lain, saya yakin Allah juga sebetulnya menyimpan pesan cinta-Nya lewat cerita yang Dia "hadirkan" untuk kita dengar. Karenanya saya selalu berdoa, semoga saya (dan kita semua) senantiasa diberikan kepekaan dan kejernihan hati untuk bisa menangkap pesan-pesan tersirat itu dan mengambil hikmah besarnya.

Dan tahukah apa "pesan" yang paling sering saya dengar dalam dua pekan terakhir, sister? Ternyata ada banyak berita kematian yang saya dengar, juga berita tentang ujian-ujian berupa sakit dari orang-orang yang saya kenal. Seperti ada pesan maha penting yang ingin Allah sampaikan sehingga berita tentang sakit dan kematian dihadirkannya lagi dan lagi, dan sukses membuat rentetan berita itu hinggap di dalam kepala saya dalam beberapa hari.

Saya masih ingat, ada sebuah kalimat yang betul-betul membuat saya tertohok saat membaca pesan salah seorang sahabat di salah satu grup whatsapp ketika ia mengabarkan sebuah berita kematian. "Innalillahi wa inna ilaihi rajiu'un, ayah fulan sudah selesai tugasnya di dunia.." ujarnya. Hanya sebaris kalimat yang ditulisnya, namun berhasil membuat hati saya terasa bergetar, seakan diingatkan kembali bahwa kehadiran saya di dunia ini tidak lain hanyalah untuk melaksanakan tugas dari Allah semata. Maka nasihat terbaik dari sebuah berita kematian adalah untuk mengingatkan bahwa akan ada saatnya kita yang masih hidup ini akan kembali kepada Allah untuk kemudian ditanya perihal tugas yang diamanahkan-Nya kepada kita, sudahkah dijalankan dengan baik?

Membayangkan hari pertanggungjawaban di "Pengadilan Allah" nanti, tak pernah gagal untuk membuat hati ini meringis karena sadar tidak banyak amal yang bisa kubanggakan. Masih banyak menit yang berlalu begitu saja tanpa bisa kupastikan apakah ia bernilai ibadah di hadapan-Nya? Masih banyak penundaan atas berbagai peluang kebaikan sehingga kesempatan untuk mendapatkan amal shaleh pun hilang. Lebih parahnya lagi, hilangnya kesempatan itu seringnya tak meninggalkan penyesalan, as if it wasn't a big deal for me. Sementara itu, di zaman ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya masih hidup, para sahabat Rasul akan merasa sangat menyesal jika tertinggal shalat berjamaah di masjid dan bersedih luar biasa jika tidak bisa ikut berperang bersama Rasulullah. Huhuhu, kualitas iman yang masih jauh sekali jika dibandingkan dengan mereka.. :'(((

Tapi Allah mungkin masih sayang kepada hamba-Nya yang imannya penuh dengan tambalan ini. Tanpa pernah kurencanakan, Dia merancang sebuah pertemuan tak terduga dengan salah seorang guru. Seseorang yang saya tahu betul bahwa hampir tidak ada ucapannya yang tidak mengandung hikmah. Yang jika dipandang, wajahnya teduh dan memancarkan ketenangan. Kebijaksanaan yang tak mungkin terpancar jika tanpa tempaan yang mengokokohkan iman. Di akhir pertemuan, saya mendapatkan peluk dari beliau serta beberapa pesan yang satu di antaranya ialah, "Semoga terus semangat dalam beramal shaleh, ya.."

Entah bagaimana, pesan itu terus terngiang di kepala saya dan selalu muncul setiap kali ada keinginan saya untuk menunda atau mengurungkan niat saat bertemu peluang-peluang amal shaleh. "Yuk, kerjain Na, kata Ibu harus semangat dalam beramal shaleh!" begitu suara di dalam kepala saya berbicara. Pertemuan yang awalnya tak disengaja itu, pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat saya syukuri.

Dari perjalanan perenungan selama beberapa hari ini, ternyata ada berbagai pengingat yang Allah sisipkan dari setiap kejadian. Pesan-pesan yang berisi kasih sayang dari-Nya agar diri ini selalu memperhatikan setiap gerak dan langkah untuk selalu berada dalam pelaksanaan tugas sebagai hamba-Nya. Semoga dalam keadaan apapun, kita mampu untuk senantiasa dalam keadaan sedang bertugas untuk-Nya, sampai nanti Allah panggil kita untuk kembali kepada-Nya, "Masa tugasmu di dunia sudah selesai hamba-Ku.."

Semoga kita bisa menyambut panggilan pulang itu dengan senyum dan tanpa penyesalan. Semangat beramal shaleh, sister!


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

 

Tentang Cerita yang Tak Pernah Kudengar

*dikutip dari Monday Love Letter #127, yang kutulis untuk Sister of Deen

Beberapa hari belakangan saya sedang berusaha meningkatkan kualitas relasi dengan teman-teman terdekat. Kebanyakan interaksi saya selama ini paling hanya sekedar melihat atau mengomentari Instagram Stories, sedangkan menelepon atau mengirim pesan biasanya hanya kalau ada perlunya saja.

Padahal, pertanyaan 'gimana kabarnya?' yang dengan tulus kita lontarkan kepada orang-orang terdekat bisa jadi amat bernilai untuk mereka. Atau ketika kita menawarkan 'ketemuan yuk!' kepada sahabat-sahabat kita untuk mendengar ceritanya, mungkin pertemuan hari itu akan menjadi pertemuan yang berkesan untuk mereka.

Banyak orang bilang, semakin dewasa biasanya lingkaran pertemanan kita semakin sempit. Saya justru berharap sebaliknya, semoga saya diberi Allah cukup waktu dan energi untuk bisa memelihara silaturahim dengan banyak orang. Lho, mengapa?

Interaksi saya dengan beberapa orang akhir-akhir ini membuka banyak sekali obrolan yang tidak hanya meluas topiknya, tapi juga mendalam tentang cerita apa saja yang selama ini terjadi di hidup mereka. Tak disangka, ternyata ada banyak kisah yang berisi perjuangan untuk menghadapi realita dan takdir ditetapkan Allah untuk hadir di kehidupan mereka. Tak jarang pula, isak tangis menjadi pengiring dalam kisah yang mereka suguhkan untukku. Membuatku tersadar, "Wah.. Setiap orang ternyata diberi oleh Allah ujian yang berbeda-beda."

And the struggle is real! Ada banyak cerita yang membuatku tercengang sekaligus takjub ketika mendengar ujian-ujian hidup yang harus dihadapi oleh beberapa teman. Yang mungkin jika saya ada di posisinya, saya tak akan kuat, saya pasti tak akan bisa sabar. Tapi Allah memang Maha Mengenal hamba-Nya. Maka pastilah ujian yang Dia timpakan untuk seseorang sudah dalam takaran yang teliti sekali perhitungannya dan hamba-Nya itu pasti akan mampu melewatinya.

Silaturahim juga membuat saya menyadari bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Sekuat-kuatnya kita, kita tetap butuh orang lain untuk membantu kita di kala kesusahan, di kala kita butuh semangat, atau mendengarkan cerita kita agar sekedar merasa lega.

Satu lagi hikmah yang saya dapatkan, ternyata menjalin silaturahim itu tidak harus selalu menjadi seseorang yang serba bisa untuk sahabat kita. Terkadang sesederhana menjadi pendengar yang baik, sudah cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian.

Namun, ada pesan guru saya yang selalu saya ingat, bahwa makna dari silaturahim sejatinya ialah menyambungkan kasih sayang Allah. Maka sebaik-baik silaturahim adalah pertemuan yang tak hanya mempertemukan jasad, tapi juga pertemuan antar ruh (jiwa) untuk sama-sama mengingat Allah dan tujuan penciptaan kita di dunia, serta saling tolong menolong untuk keselamatan di dunia dan akhirat.

Jadi, kapan terakhir kali kamu menyapa sahabat dan orang-orang terdekatmu dan mendengarkan "the untold stories" mereka? Semoga silaturahim yang kita jalin dengan orang-orang tersayang, membawa kita pada kebersamaan yang kekal. Yang tidak hanya bersama-sama di dunia, tapi juga hingga ke syurga-Nya. Aamiin..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Rabu, 19 Mei 2021

Harap dan Juang Demi Pembebasan

Dunia kembali ramai. Al-Aqsha diserang, Gaza kembali dibombardir. Darah kembali tumpah walau luka-luka kemarin masih belum sepenuhnya kering. Sedih, pilu, perih hati ini mendengar ledakan, teriakan dan tangisan mereka di sana. Semoga Allah jaga saudara-saudara kita di Palestina dengan sebaik-baik penjagaan.

Di tengah-tengah menelusuri berita tentang Al-Aqsha, saya tiba-tiba teringat pada rangkaian fakta sejarah bahwa banyak pembebasan suatu negeri terjadi, saat Islam sudah berjaya.

Pembebasan Mekkah (Futuh Makkah), terjadi saat Islam telah berjaya di masa Rasulullah dengan Madinah sebagai ibukotanya.

Penaklukkan Persia yang dipimpin Khalid bin Walid dilakukan di masa kekhilafahan Umar bin Khattab. Masih di masa Umar, ada pula penaklukkan Mesir yang dipimpin oleh Amr bin Ash.

Pembebasan Palestina oleh Salahudin Al-Ayyubi terjadi di masa kejayaan Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah.

Pembebasan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih terjadi saat kesultanan Turki Utsmani sedang berjaya.

Dan masih banyak lagi.

Semua pembebasan di suatu negeri, selalu terjadi saat Islam sudah menang, sudah mencapai masa kejayaannya.

Jika kita lihat pola sejarahnya, maka kunci dari pembebasan Palestina saat ini, besar kemungkinan harus diawali dengan kebangkitan umat islam yang mencita-citakan dan memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam.

Saat Islam telah menang, terang dan berjaya di suatu negeri, maka cahayanya akan otomatis menyinari wilayah di sekitarnya, membantu negeri-negeri lain lepas dari keterjajahan. Persis seperti keadaan Madinah dulu. Tak heran Rasulullah menamai kota suci itu dengan sebutan Madinah Al-Munawwarah, kota yang bercahaya.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang masih terjajah, dimanapun berada.

Semoga cahaya Islam segera tampak dan bersinar di seluruh penjuru Bumi. Dan semoga kita menjadi bagian dari yang menyalakan sinar Islam, pertama-tama di diri kita, lalu menerangi seluas-luasnya. Insya Allah.

Selasa, 30 Maret 2021

Menjadi Diri yang Menerima

Bertahun-tahun saya belajar dan kemudian hasil pemahaman saya menyimpulkan bahwa menerima qadha dan qadar-Nya, adalah STEP AWAL untuk bisa menerima diri ini diatur dengan aturan-aturan dari-Nya.

Untuk menjadi hamba yang sepenuhnya taat, diri kita harus lebih dahulu selesai dari prasangka-prasangka buruk tentang Allah, mempertanyakan takdir-Nya, ataupun mengeluh atas ketetapan yang telah Dia pilihkan dan diizinkan terjadi dalam hidup kita.

Sebab, tak mungkin kita bisa taat sepenuhnya kepada Allah, mencintai Allah dengan penuh, apalagi mengorbankan segalanya untuk Allah, jika kita masih memiliki "trust issues" dengan Allah. 

Tak mungkin ada rasa tentram di hati kita apabila kita tidak "merasa aman" saat bersama dengan Allah. Tak mungkin ada perasaan tenang di jiwa kita apabila kita tidak "percaya" pada Allah.

Allah tak pernah salah, Allah tak pernah jahat, Allah tak pernah menghendaki kesukaran untuk hamba-Nya. Allah selalu memberi yang terbaik. Allah selalu memberi apa yang hamba-Nya butuhkan. Allah senantiasa menyayangi kita dengan cara-Nya. Ya, kita mengakui itu, tapi tak benar-benar meyakininya. Kita mengakui itu, tapi hati masih berat menerima ketetapan-Nya. Kenapa?

Kesalahan terbesar kita adalah kita sering merasa lebih tahu daripada Allah, kita merasa lebih bisa daripada Allah, kita merasa bahwa skenario yang terbaik adalah yang ada dalam pikiran kita, kita merasa bahwa hidup akan menjadi lebih baik jika kita hidup dengan cara kita sendiri. Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita mengambil alih peran Allah dalam menetapkan dan mengatur tentang bagaimana kita harus hidup.

Maka, penerimaan pertama yang harus kita akui, adalah menerima bahwa kita adalah hamba-Nya. Yang tak bisa apa-apa jika tak dipinjami kekuatan oleh-Nya, yang takkan tahu apa-apa jika tak diilhamkan ilmu dari-Nya, yang tak bisa hidup benar dan selamat kecuali dengan tuntunan dari-Nya.

Sungguh, perkara menerima tak pernah menjadi hal yang mudah. Ada ego di dalam diri yang betul-betul harus ditundukkan untuk mengakui betapa rendah, lemah dan hinanya diri kita di hadapan Allah sehingga muncul kebutuhan untuk bergantung pada Allah dan hidup sesuai keinginan-Nya.

Terimalah dengan penuh, bahwa dirimu adalah seorang hamba Allah. Hanya dengan cara itu, dirimu bisa merdeka dalam taat. Dan hanya dengan cara itu pula, kita bisa lebih dekat dengan kemuliaan dan keselamatan. Sudahkah menerima?


Senin, 22 Februari 2021

Monday Love Letter #115: Mendamba Surga yang Sama

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, Sister!

Kamu sedang apa ketika membaca surat ini? Bagaimana hari Seninmu? Lebih banyak produktifnya atau lebih banyak rebahannya? Hehe.. Masih dalam masa pandemi, bekerja atau belajar dari rumah sepertinya masih akan menjadi "new normal" bagi sebagian besar dari kita hingga beberapa waktu ke depan. Dan kondisi yang serba daring ini terkadang memberi "jebakan" atas waktu luang yang rasanya menjadi semakin banyak, sebab rutinitas berangkat keluar rumah sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Semoga dalam setiap waktu yang Allah titipkan, kita selalu bisa mengisinya dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, agar Allah menurunkan berkah kepada kita di hari ini dan seterusnya. Aamiin..

Tentu saja, doa itu juga berlaku untuk diri saya sendiri. Karena jujur saja, perihal memanfaatkan waktu saya juga masih jauh dari sempurna. Kalau dipikir-pikir, masih banyak waktu yang saya gunakan untuk istirahat daripada berkarya dan berjuang untuk-Nya. Kalaupun berhasil produktif, saya selalu merasa produktivitas itu harus "dibayar" oleh me time dengan waktu yang sama (tak jarang malah kebablasan) sebagai bentuk apresiasi karena saya telah berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat atau produktif di hari itu. Hmm, sebenarnya tidak ada yang salah dengan me time, hanya saja, jika me time yang dilakukan hanya sebatas untuk memuaskan hawa nafsu kita yang ingin bersenang-senang, apakah kita bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kalau itu adalah bagian dari ibadah kita untuk-Nya?

Ada sebuah kalimat dari seorang guru, yang membuat saya terhenyak saat mendengarnya. Masih sangat fresh karena nasihat ini baru saya dengar 3 hari yang lalu. Beliau bilang, "Kita mendamba surga yang sama dengan Rasulullah dan para sahabatnya, tapi hidup kita dipenuhi dengan kenyamanan, kira-kira bisa sampai ke surga nggak? Kalau mau surga yang sama, ya kerepotannya harus sama dengan mereka.." Haaaaahhh, hati saya menangis ketika mendengarnya. Ketika berkaca kepada diri, rasanya kerepotan saya dalam perjuangan dan ketaatan, tak sampai seujung kuku jika dibandingkan dengan loyalitas dan pengorbanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

 


Konon, setelah wahyu pertama turun kepada Rasulullah Muhammad SAW, beliau SAW berkata kepada istrinya, "Waktu tidur dan istirahat sudah tak ada lagi, Khadijah." Dan seperti yang kita semua tahu, setelah hari itu, betul-betul tak ada istirahat bagi beliau SAW dan orang-orang yang berjuang bersamanya. Sejak hari itu, harta dan jiwa dicurahkan siang dan malam untuk Allah dan perjuangan dakwahnya. Seluruh harta habis di jalan dakwah, seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan untuk amanah-amanah dari Tuhannya, bahkan ketika nyawa harus dipertaruhkan beliau SAW tak gentar sedikit pun. Masya Allah, tabarakallah yaa Habiballah.. :")

Sebuah hikmah yang sangat berharga bagi kita untuk kembali merenungi, apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup kita? Apa yang selama ini mengisi hati dan pikiran kita? Aktivitas apa saja yang mengisi hari-hari kita? Sudah sejauh apa kita menguswah kepada Rasulullah SAW, apakah kisahnya hanya kita pandang sebagai cerita masa lalu atau sebuah cara hidup benar yang harus kita ikuti?

Saya merasa masih banyak PR, untuk terus memantaskan diri menjadi sebenar-benarnya hamba yang menjadikan Allah sebagai pusat semesta diri. Istiqomah di berada di jalan-Nya, memang tantangan yang sangat berat, dan memang itu yang ingin Allah uji dari kita hamba-Nya. Tak pernah ada jalan pintas menuju surga, bahkan untuk para Rasul-Nya sekalipun. Para nabi, rasul, dan syuhada terdahulu yang Allah jamin surga baginya, adalah mereka yang telah lulus ujian keimanan selama di dunia. Maka jika kita mengharap surga yang sama dengan mereka, bersiaplah untuk ujian keimanan dari-Nya.

Tapi tenang saja, Allah tak pernah memberi ujian di luar batas kemampuan kita. Dan Allah tak pernah menguji kita tanpa memberi rumus jawabannya. Sejak dulu, rumus hidup selamat tak pernah berubah, yaitu dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Selama kita berpegang pada keduanya dan bersabar dalam keteguhan melaksanakannya, insya Allah surga yang kita dambakan bisa terwujud. :)

Bismillah, kita mulai coba kurang-kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat, yuk, Sister. Kita ganti dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang lebih mengundang manfaat, mengundang ridho-Nya, dan bernilai ibadah di hadapan-Nya. Semoga kita semua dikuatkan Allah dalam sabar, dalam keistiqomahan menjalankan perintah serta amanah-amanah dari-Nya. Semoga atas kesabaran dalam menjalankan perintah Allah itu, Allah hadiahkan surga untuk kita. Aamiin ya Rabbal 'alamiin..

"Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid (syuhada) dan orang-orang shaleh (shalihin). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." -QS. An-Nisaa (4) : 69-70

Barakallahu fiik, sister! Tetap semangat, ya! :D

 

Salam sayang,

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Jumat, 08 Januari 2021

Pertama Kali Pegang Dummy "Dear, Sister of Deen"



Ga bisa nyembunyiin excitednya aku waktu pertama kali liat dummy buku Dear, Sister of Deen. Huhu gemes banget, langsung jatuh cinta! <3 <3 <3
ㅤㅤㅤ
Rasanya langsung mau terima kasih sama desainernya untuk hasil tangan ajaibnya, bukunya bener-bener berasa kayak hadiah dan layoutnya rapi bangeett..
ㅤㅤㅤ
Partner nulisku, Novie, jadi saksi banget deh gimana noraknya aku tadi waktu pegang bukunya, se-excited dan seterharu itu. Untung tadi pake masker, kalo nggak, bakal keliatan bangetlah aku yang cengar-cengir terus selama di percetakan tadiii wkwkwk
I rely a lot on her in the whole process and i really thankful for her patience and kindness untuk nemenin perjalanan menulisku yang masih newbie ini. Ternyata seru ya, nulis buku. Mau lagi ah, insya Allah <3
ㅤㅤㅤ
Teman2 semua, doakan ya, semoga proses cetak, packing dan pengirimannya berjalan lancar sampai akhirnya bukunya bisa sampai ke rumahmu dan mengisi rak bukumu.. :)
ㅤㅤㅤ
Dan yang terpenting, doakan karya ini agar berkah, yang atas izin-Nya mampu menggerakkan para perempuan (terlebih kepada penulisnya) untuk bersegera dalam proses perjalanan diri menjadi sebaik-sebaik hamba yang dicintai dan diridhoi-Nya.
ㅤㅤㅤ
Last call! Masih ada waktu untuk pesan sampai malam ini jam 23.59 WIB, segera ke admin kami di bit.ly/pre-orderdsod dan amankan bukumu! ;)

Kamis, 07 Januari 2021

Dear, Sister of Deen: Apa kata mereka tentang buku ini? (3)

 

"Aku berlangganan Monday Love Letter setelah berdiskusi dengan salah satu pengirimnya. Membacanya setiap hari Senin seringkali membuatku terkejut karena merasa ada orang yang meneropong bagian paling sakral, paling dalam, dari hati ini. Ah. Surat-surat ini bukan semata keresahan dua perempuan. Ini dicahayai cinta-Nya Allah. Begitu pun surat-surat yang kubaca dalam buku Sister of Deen. Sebagai perempuan, aku merasa ada saudara seperjuangan yang mengerti dan bisa kupercaya dengan hadirnya buku ini. Terasa hangat, penuh ikatan, dan menggerakkan!"
- Kartini F. Astuti, Penulis, Founder Teman Cerita, CEO Linimasa Esa Inspirasa



"Membaca buku ini seperti berdialog dengan diri yang ada kalanya perlu “diingatkan” supaya tak kelewat batas. Ada kalanya kelembutan mengambil alih sebagai bentuk apresiasi diri setelah melewati berbagai perjuangan yang berat, melelahkan, namun sarat hikmah. Barakallah fiikum Husna dan Novie, tulisan kalian begitu menyentuh hati kerena aku selalu percaya hati kalian pun diikutsertakan saat menulisnya. Uhibbuki fillah."
-Meyda Sefira, Aktris, Penulis dan Founder @hujansafirID



"Buku ini bukanlah sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di hidup kita. Namun, buku ini adalah sebuah dukungan untuk menemukannya. Membacanya seperti dirangkul dan duduk bersama sahabatmu, mendengarkannya bercerita dan melihat sudut pandang baru."
-Aji Nur Afifah, Ibu Rumah Tangga dan Penulis “Melangkah Searah”



"Sebelas tahun jadi sister of deen in real life-nya Husna, and now, one of her million dreams come true. Buatku, Husna sudah menjadikan kekuatan menulisnya untuk kebaikan banyak orang. Aku jadi saksi melihat buku diarinya yang menumpuk, jadi penerima surat tulisan tangannya yang selalu sukses meneguhkan hatiku. Seorang sahabat dalam perjalanan sabar dan belajarku. Dan Novie, adalah seseorang yang juga sama gigihnya untuk merefleksikan pengalaman hidupnya untuk dibagikan kepada banyak orang. Insyaallah, buku Dear, Sister of Deen dapat merajut beragam hikmah. Bagi perempuan yang sesekali lemah, buku ini cocok jadi teman berbenah yang dibungkus dengan tali ukhuwah yang indah. Membaca bukunya jadi merasa nggak berjuang sendirian. Barakallah!
-Lutfiah Hayati, Community Enthusiast @scaleyouup @hujansafirID dan Mompreneur @ahakids.id

__

Alhamdulillah. Terimakasih banyak untuk teman-teman yang sudah bersedia membaca naskah mentah buku "Dear, Sister of Deen" dan dengan tulus memberikan testimoni. Semua menjadi penguat bagi kami untuk terus membumikan pesan-pesan cinta Allah ke dalam karya, khususnya buku ini.
ㅤㅤㅤ
Pre-order buku "Dear, Sister of Deen" ditutup tanggal 8 JANUARI 2021, ya! Selain Indonesia, kami juga melayani shipping ke Malaysia. Silakan klik bit.ly/pre-orderdsod atau klik link di bio untuk langsung terhubung dengan admin kami, ya! Yuk, segera amankan bukumu! ;)