Sabtu, 30 November 2019

Grabwhat?

Suatu malam, suami tiba-tiba ngomong dari balik gorden.
"Neng, mau kopi ngga"
"Mau"
"Grabfud mau?"
"Mau"
"Yaudah sini atuh"
"Hah?" aku ngga mudeng
"Siniii"
"Ngapaiin?" si gue mager karena lagi rebahan sambil main henpon
"Sini pegang kaki aa"
Itu GRAB FOOT woooy -___-

Selasa, 19 November 2019

Monday Love Letter - Jeda

Bukankah kita membutuhkan ruang jeda untuk memberi makna pada apa-apa yang ada?

JEDA.

Assalamu’alikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Apapun kondisi perasaanmu hari ini, kami berharap surat ini cukup tepat waktu untuk sampai kepadamu sore ini. Kamu tahu, diantara puluhan bahkan ratusan surat yang pernah kami layangkan untukmu, mungkin inilah satu-satunya surat yang paling membuat perasaan kami campur aduk. Di satu sisi kami bagaikan tidak sanggup untuk menuliskannya, namun di sisi lain kami merasa sangat perlu menuliskannya karena ada sesuatu yang ingin kami kabarkan padamu.

Hmm, sulit sekali menuliskannya! Dari mana kami harus memulainya?

Belakangan ini, kami semakin sering bertemu banyak orang, baik dalam kegiatan-kegiatan offline di berbagai kota, kelas-kelas online, atau bahkan pertemuan-pertemuan tanpa sengaja. Sebenarnya, sebagian besar dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan Sister of Deen Project, namun, nyatanya kegiatan-kegiatan itu seringkali menjadi pintu temu yang mempertemukan kami denganmu, our beloved sister of Deen. Tak jarang kami mendapati cerita dan apresiasi yang bernada sama. Katanya, “Terima kasih sudah menulis Monday Love Letter, sister!”

Entah bagaimana, kami hampir selalu merasa kehabisan kata-kata untuk meresponnya. Sebab, tahukah kamu, siapa yang lebih layak mendapatkan ucapan terima kasih itu? Bukan kami, tapi kamu. Terima kasih karena sudah membersamai dan menerima kami dengan seluruh yang kami miliki atau pun yang tidak kami miliki. Ruang penerimaanmu itu luaaaas sekali, meski kami banyak kurangnya, minim ilmunya, dan … ah, sudahlah. Jazakillah khairan katsir, ya!

Dengan keberanian yang rasanya tak kunjung cukup, hari ini kami ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, bahwa kami ingin mengambil jeda. Karenanya, barangkali ini adalah surat terakhir sebelum kita bertemu kembali. Di ruang jeda yang sedang kami masuki ini, kami tidak bermaksud pergi atau berlari agar dicari, juga tidak sedang iseng bersembunyi agar ditemukan. Kami hanya sedang memperbaiki segala sesuatu yang tersembunyi seraya berjalan di jalan-jalan sunyi untuk memberi makna pada apa-apa yang sedang belajar kami maknai.

“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?” – Dee Lestari

Bagaimana pun, kami memahami bahwa tak ada seorang pun yang nyaman dengan perpisahan, tapi kita juga tidak dapat selalu bergantung pada kebersamaan. Mohon doanya, kami berharap agar kami dapat memanfaatkan waktu dan ruang jeda dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan apa-apa yang telah dimulai dan memperjuangkan apa-apa yang lebih dari sekedar layak untuk diperjuangkan.

Selama kami sejenak tak ada, semoga tak terlepas jiwamu dari mengingat dan menghamba kepada-Nya. Selesaikan juga urusan-urusanmu dengan sebaik-baiknya, semoga Allah memudahkan senantiasa. Sampai bertemu Januari 2020, insyaAllah. Baarakallahu fiik.

Yang pergi untuk kembali,
Your sister of Deen,

Novie Ocktaviane Mufti dan Husna Hanifah

Selasa, 12 November 2019

Sang Maha Romantis yang Senang Disebut Nama-Nya

Malam ini, nggak sengaja buka OneNote di laptop. Disitu ada Page judulnya 'Books to Buy'. Isinya wishlist buku-buku yang aku pengen. Banyak banget, berderet. Ada lebih dari 20 judul buku yang aku tulis disitu. 

Deretan judul buku yang ingin aku miliki itu, pertama kali aku tulis di tanggal 16 Desember 2018. Masih inget banget, bikin wishlist itu karena saat itu lagi banyak buku bagus yang aku ingin beli tapi uang aku nggak cukup untuk beli semuanya. Awalnya cuma 4 buku, yang kalau ditotal sekitar 500ribuan. Sayang aja gitu kan, duit segitu keluar buat beli buku sementara keperluan rumah tangga juga kan banyak. Ternyata setelah aku list semua buku yang ingin kubeli, malah nambah totalnya jadi 20-an buku.

Di titik itu, bisa apa lagi aku, selain minta sama Allah. Iseng-iseng, di sebelah deretan wishlist bukuku itu, aku nulis:

Yaa Wahhab yang Maha Memberi,,
Yaa Razzaq yang Maha Memberi Rezeki,,
Yaa Fattaah yang Maha Pembuka,,
Yaa Mujiib yang Maha Memperkenankan,,
Yaa Barru yang Maha Dermawan,,
Yaa Ghaniyy yang Maha Kaya,,
Yaa Mughniiy yang Maha Mencukupi..
Pengen beli buku ya Allaaaah :''''')
Pengen gitu kalau mau beli buku teh nggak usah mikir XD :''')

Berdoa sambil menyelipkan nama-nama Allah yang kira-kira nyambung sama keinginanku untuk dilapangkan hartanya, simply karena ingin bebas buat beli buku tanpa mikir :')
Receh banget emang keinginannya, tapi waktu itu tuh beneran sepengen ituu! XD

Lalu hari ini, hampir setahun setelahnya, aku baru ngeh kalau 6 buku diantaranya udah kebeli.. Dan otw 3 buku lagi juga sudah masuk rencana akan dibeli bulan depan (karena bulan november ini aku udah beli 4 buku, haha).

Jadi, kalau dipikir-pikir, Allah ternyata beneran ngabulin keinginan aku ituuu! Entah bagaimana, pelan tapi pasti, pintu-pintu rezeki tiba-tiba pada kebuka aja gitu satu-satu. Sampai-sampai aku bisa nggak mikir untuk beli minimal 2 buku setiap bulannya. Uang bulanan yang awalnya harus aku irit-irit dan harus bener-bener ngatur cashflow, sekarang jadi sangat lebih dari cukup.

Mungkin, itu salah satu keajaiban Asma'ul Husna. Seorang guru pernah bilang, kalau minta sesuatu itu, "panggil" Allah-nya. Sebut nama-Nya. Kalau ingin diberi rezeki, panggil Allah-nya Yaa Razzaq.. Ingin dipermudah urusan, sebut Yaa Fattaah.. Jadi aku aplikasikan deh. 

Manusia aja senang kalau diingat dan disebut namanya. Mungkin Allah juga begitu. Akan lebih ngena kalau kita berdoa sambil menyebut nama-nama Allah. Konon, para Nabi juga ketika berdoa sering menyebut nama Allah didalam doanya. 

Malam ini, aku merasa bersyukur sekali karena ternyata diam-diam Ia mengabulkan doaku yang bahkan aku sudah lupa pernah meminta hal itu pada-Nya. Emang Maha Romantis Allah tuuh :')

Malam ini, dengan segala kerendahan hati, aku kembali membuka deretan nama-Nya yang tertulis dalam mushaf Quran milikku. Aku tulis lagi nama-Nya satu per satu. Kali ini bukan tentang buku. Tapi tentang harapanku yang lain, tentang satu doaku yang masih Ia tahan. Berbeda dengan doa-doa yang selama ini kupanjatkan, kali ini, aku meminta dengan menyebut beberapa nama-Nya..

Yaa Rahmaan Yang Maha Pengasih,,
Yaa Rahiim Yang Maha Penyayang,,
Yaa Qudduus Yang Maha Suci,,
Yaa Muhaimin Yang Maha Memelihara,,
Yaa Jabbaar Yang Maha Kuasa,,
Yaa Mutakabbir Yang Maha Memiliki Kebesaran,,
Yaa Khaliiq Yang Maha Pencipta,,
Yaa Baari' Yang Maha Mengadakan,,
Yaa Mushawwir Yang Maha Membuat Bentuk,,
Yaa Samii' Yang Maha Mendengar,,
Yaa Wahhaab Yang Maha Pemberi,,
Yaa Mujiib yang Maha Memperkenankan,,
Yaa Waarits Yang Maha Mewarisi,,
Ya Allah, izinkan aku menjadi seorang ibu..

Senin, 11 November 2019

Sakit

Suatu hari, aku sakit flu dan demam.
Aku: Aa, aku sakit nih.
Suami: *pegang dahi dan tangan buat ngecek suhu* ih iya, panas neng badannya..
Aku: *pasang muka tak berdaya*
Suami: Sini sini tangannya ke punggung Aa-in neng, enak anget.. 
Aku: -____-

Monday Love Letter #66: Stress-Free, Mungkinkah?


Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!
Ada candu pada setiap kesempatan menulis surat untukmu. Candu itu berisi kerinduan, semangat untuk menceritakan hal-hal baru terkait kehidupan, juga tentunya kesempatan terbaik untuk terlebih dahulu menasehati diri sendiri sebelum menasehati orang lain. Jika misalnya suatu hari nanti surat ini terhenti dan berjeda, akankah kita sama-sama bersedia untuk menukar rindu dengan selaksa doa-doa?

Bagaimana kabar hatimu hari ini? Kami dengar, katanya kamu sedang merasa seperti berada di tengah-tengah keriuhan, ya? Mungkin, rasanya seperti seseorang yang berjalan dengan tenang menyusuri labirin-labirin, namun ternyata bertemu dengan sebuah pagelaran orkestra yang, alih-alih terdengar syahdu dan memanjakan telinga, suara-suaranya malah bising dan memekakkan telinga. Atau, seperti tidurmu terganggu oleh suara-suara petasan dan kembang api pada malam tahun baru. Ah, riuh sekali! Seperti ingin pulang saja, namun entah kemana. Bukankah begitu?

Sisterku sayang, bolehkah aku memelukmu dulu sebentar? Dalam pelukan itu, aku ingin membisikkan sesuatu, bahwa dunia ini memang sedemikian riuhnya. Betapa tidak, bukankah dunia memang didesain sebagai ruang kelas raksasa dimana kita diuji untuk membuktikan keimanan kita kepada-Nya? Maka, wajar kiranya jika ia terasa riuh, sebab, diantara keriuhan itu kita sedang diminta berjuang melewati halangan dan rintangan, bertahan meski banyak hal terasa menyesakkan, bergantung pada sebaik-baik sandaran, dan tentunya menjadikan semua keriuhan itu sebagai ladang subur untuk kita memanen sebaik-baik bekal kepulangan.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” – QS. Al-Ankabut : 2-3

Mendapat ujian adalah sebuah keniscayaan, kita jelas tak punya kuasa untuk menangguhkan atau berlari dari padanya. Apapun bisa terjadi tanpa kita duga, seringnya bahkan yang tak kita suka, hingga mungkin terbersit di benak kita, “Allah, belum cukupkah Engkau mengujiku dengan yang sebelum-sebelumnya? Kali ini, benarkah Engkau memintaku untuk berjuang lagi? Rasanya, energiku bagaikan sudah habis, aku harus bagaimana lagi?”

Stress! Mungkin itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan hari-hari kita belakangan ini. Selayaknya manusia, tak pernah ada yang merasa nyaman dengan kondisi itu. Inginnya segera terbebas, terlepas, melesat landas pada apa yang kita kira kebahagiaan. Bukankah begitu? Namun, sayangnya, hidup tanpa masalah itu adalah sebuah kemustahilan. Stress-free itu tidak mungkin terjadi selama kita masih hidup di dunia. Baik itu kebahagiaan atau kesedihan, keduanya sama-sama bentuk ujian yang harus kita menangkan dengan cara menjawabnya dengan sebaik-baik jawaban.

Kabar baiknya, stress jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda adalah rahmat bagi kita. Sebab, tanpa stress kita tidak belajar dan tidak punya ladang subur untuk mendulang pahala kesabaran. Jika kondisi kita selalu baik-baik saja, bagaimana kita menumbuhkan harap kepada Allah? Jika kita selalu bahagia, bagaimana rasa takut kepada Allah bisa hadir di hati kita? Jika semua yang kita inginkan dengan mudah kita dapatkan, bagaimana kita belajar makna berjuang?

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” – QS. Al-Baqarah : 155-156

Ketika stress datang, semoga kita menerimanya dengan lapang, agar tak lama berpaku tangan dan langsung bergegas kembali pada satu-satunya sumber harapan: Allah. Semangat, sister! Semoga Allah memudahkan apapun yang sedang diperjuangkan, melapangkan apapun yang sedang menyulitkan, dan memberkahimu dengan petunjuk-Nya untuk selalu kembali “pulang.” Baarakallahu fiik.

Your sister of Deen,
Novie Ocktaviane Mufti dan Husna Hanifah