Kamis, 31 Desember 2020

Dear, Sister of Deen: Pre-Order Sudah Dibuka!




Alhamdulillah. A dream comes true banget, dari yang tadinya seneng nulis di blog sama diari doang, akhirnya bisa nulis buku.

Buku ini aku tulis bersama sahabatku yang qodarullah sekarang jadi adik iparku, bukunya berisi catatan perenungan-perenungan kami tentang hidup, dari mulai menemukan siapa diri ini di hadapan Allah, mengenal Allah, menjadi muslimah berdaya, sampai persiapan menuju kepulangan kembali kepada Allah.

Buku yang diberi judul "Dear, Sister of Deen" ini insya Allah cocok banget untuk menemani perjalananmu dalam memaknai hidup agar sesuai dengan kehendak Allah. Cocok juga jadi hadiah untuk sahabat-sahabat perempuanmu yang sedang mencari makna hidupnya. :)

Yang penasaran sama bukunya, bisa langsung pesan ke bit.ly/pre-orderdsod untuk langsung terhubung dengan admin buku kami, ya! Pemesanan pre-order dibuka sampai tanggal 8 Januari 2021. Oiya, ada komunitasnya juga di Instagram @sisterofdeen, kepoin aja untuk yang mau tau, hehe.

Senin, 28 Desember 2020

Buku Perdana dan Rasa Takut


Ini pukul 1:08 pagi, dan aku masih terjaga. Entahlah, ada yang aneh malam ini. Biasanya jam segini aku sudah terlelap, atau setidaknya sudah mengantuk. Tapi kali ini, walaupun mataku terasa lelah, tapi badanku sepertinya masih belum mau diajak beristirahat.


Sejak jam 10 malam tadi, aku mengirim undangan soft launching buku Dear, Sister of Deen, buku pertamaku yang malam ini insya Allah akan dilakukan peluncurannya. Aku mengirim undangan ke grup keluarga, kepada teman-teman dekat, serta beberapa orang yang kuanggap penting dalam hidup. Sambil meminta doa, betul-betul meminta doa dari mereka agar karya ini menjadi karya yang berkah. Perasaanku saat ini tidak karuan, excited tentu saja, tapi ada satu perasaan yang sangat dominan, yaitu rasa takut.


Bukan, bukan takut bukunya tidak laku atau hanya sedikit yang membeli, bukan itu. Tapi rasa takut diri ini akan menjadi seseorang yang lain, yang terbang terlalu tinggi sehingga lupa di mana dia harus berpijak. Takut apresiasi membuat diri ini menjadi sombong padahal segala puji hanyalah bagi Allah. Takut aku yang menulis buku tidaklah sebaik apa yang orang-orang kira, takut dicap Allah jadi orang yang mengatakan apa-apa yang tidak dia kerjakan. Dan aku takut, tenggelam dalam kekecewaan atas diriku sendiri karena tak cukup baik dalam mengamalkan apa-apa yang kutulis di dalam buku. Malam ini rasanya gelisah, walaupun mungkin kegelisahan itu tak nampak dari raut wajahku. Tapi rasa takut itu benar adanya.


Allah, di saat seperti ini, aku sangat butuh tuntunan-Mu agar apa yang kulakukan tetap berada dalam jalur yang benar.


Allah, di saat seperti ini, aku sepertinya perlu lebih banyak merapal syukur agar selalu ingat bahwa segala pencapaian dan keberhasilan adalah karena kuasa-Mu.


Allah, di saat seperti ini, aku sangat butuh untuk dikuatkan dalam memegang niatku hanya untuk-Mu. Sungguh aku sangat takut ada tujuan lain yang menumpang dalam perjalananku mengukir karya yang ingin kupersembahkan hanya untuk-Mu.


Allah, karya ini merupakan karya yang tak seberapa, tapi jika pesan-pesan di dalamnya membuat banyak orang untuk semakin dekat kepada-Mu, lancarkanlah dan jadikanlah karya ini karya yang meluas.


Allah, semoga karya ini bisa mengalirkan pahala jariyah untukku yang kelak akan terbujur kaku di dalam tanah. Semoga ada banyak kebaikan berantai-rantai yang dihasilkan dari karya ini untuk menggantikan dosa-dosa yang aku sesali dan ingin aku tobati. Semoga karya ini bisa menjadi inspirasi agar semakin banyak hamba-hamba-Mu yang bersyukur dengan menghasilkan karya-karya besarnya, menampilkan citra muslim yang baik dan mengharumkan Islam dengan berjamurnya muslim-muslim berkualitas.


Allah, kuatkan aku, bimbing dan tuntun aku, istiqomahkan aku, agar ini tidak menjadi karya yang terakhir. Semoga tak ada kata berhenti untukku mewujudkan syukur sampai Engkau berhentikan jantung ini pada degup yang terakhir.


Allah, aku rindu. Tapi bekalku belum cukup untuk pulang. Semoga masih ada waktu.


Senin, 23 November 2020

Monday Love Letter #102: (Jangan) Melewatkan Doa

 Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Senang rasanya bisa menyapamu lagi. Kabarmu baik-baik saja, kan? Semoga apapun keadaannya kita selalu bisa menemukan hikmah yang bisa dipetik serta syukur yang selalu terjaga. Anyway, sebetulnya saya sudah tidak sabar untuk bercerita kepadamu tentang sebuah hikmah yang saya dapatkan belakangan ini. Jadi kita langsung saja, ya! Bismillah.

Sisterku, kamu pernah tidak merasa malas melakukan sesuatu, padahal kamu tahu betul aktivitas tersebut bernilai kebaikan? Pernah tidak merasa beraaat sekali untuk bangkit mengerjakan sederet to-do-list atau suatu hal yang menjadi kewajiban atau tanggungjawab kita? Padahal kita tahu itu adalah bagian dari tanggungjawab kita, padahal kita paham ada pahala yang menanti serta imbalan tak terduga yang mungkin sedang Allah siapkan. Tapi karena alasan capek, tidak mood atau malas, peluang amal shaleh itu akhirnya kita tinggalkan.

Kalau jawabannya pernah, sama sih, saya juga pernah. Hehe. Bahkan sedang terjadi di 2 minggu belakangan ini. Ada sebuah tugas rumah tangga yang rasanya malas sekali untuk saya lakukan padahal saya tahu ada peluang amal shaleh jika saya melakukannya. Apakah itu? Sebetulnya ini adalah tugas yang sangat sederhana, yaitu memasak.

Alasan saya tidak memasak biasanya karena aktivitas yang agak padat atau memang sedang malas atau bosan memasak saja. Memang sih, suami saya tidak meminta untuk selalu memasak, asalkan makanan selalu tersedia walaupun beli, itu juga tidak apa-apa. Tapi lama tidak memasak, lama-lama ada perasaan bersalah juga di diri saya.

Akhirnya setelah berhari-hari tidak masak, pagi itu saya memaksakan diri untuk pergi berbelanja dan memasak lagi. Tentu saja masakan ala kadarnya. Berbekal kangkung dan tahu yang saya beli dari warung, jadilah tumis kangkung dan tahu goreng sebagai lauknya. Agak tidak percaya diri juga karena setelah saya cicipi ternyata rasanya tidak seenak biasanya. Tapi yasudahlah, yang penting sudah masak lagi setelah sekian lama, begitu pikir saya. Saya pun menyajikannya untuk sarapan suami tanpa berharap pujian apapun.

Tak disangka, selesai makan beliau bilang, "Neng, enak masakannya. Alhamdulillah Aa punya istri yang bisa masak, jazakallah ya.." Wow! Terkejut saya mendengarnya. Sebetulnya saya biasa mendengar pujian itu setiap kali suami memakan masakan saya, bisa jadi karena masakan saya benar-benar enak atau sebagai bentuk apresiasi saja supaya istrinya ini lebih rajin memasak, hahaha. Tapi mendengar pujian yang dikatakannya pagi itu, saya tiba-tiba seperti diilhami sebuah hikmah berharga dari Allah.

Saya baru sadar, saya sudah lama tidak mendengar kalimat apresiasi itu dari mulut suami, karena saya sudah lama tidak memasak. Deg. Lebih sedih lagi, ketika saya sadar bahwa bukan hanya apresiasi yang saya lewatkan, tapi saya juga melewatkan sebuah doa darinya; jazakallah. Sebuah doa agar kebaikan yang saya lakukan digantikan oleh Allah dengan yang lebih baik. Hiks, pantesan kok rasanya 2 minggu kemarin itu uring-uringan nggak jelas :(

Saya jadi berpikir, jika saya memasak setiap hari dan didoakan oleh suami seperti itu, ada berapa banyak kebaikan ya yang akan saya dapatkan? Atau sebaliknya, jika saya tidak memasak berarti ada sebuah doa dari suami yang saya lewatkan, kira-kira ada berapa kebaikan ya yang saya lewatkan? Astaghfirullah,, ini baru perkara kecil seputar memasak. Lalu jika saya mengabaikan kewajiban yang lain hanya karena malas atau tidak mood, ada berapa banyak lagi kebaikan yang saya lewatkan? Huhuhu..

Jazakallah khairan katsira, adalah doa yang dalam jika kita memahami arti di baliknya. Bukan hanya sekedar ungkapan terima kasih, tapi juga sebuah doa agar Allah membalas kebaikan yang kita lakukan dengan kebaikan yang lebih lagi. Doa ini bisa kita dapatkan ketika kita menolong orang lain, ketika kita berbagi makanan, berbagi ilmu, berbagi rezeki, atau berbagi apapun yang bermanfaat kepada orang lain. Bahkan, doa ini bisa kita dapatkan dari hanya sekedar berkunjung ke rumah teman atau mengirim chat untuk sekedar menyapa kabar dan mendengar keluh kesahnya. Maka, tak heran jika orang-orang yang ringan tangan untuk menolong orang lain, Allah mudahkan kehidupannya. Pertama karena ia mengutamakan membantu urusan orang lain dibanding dirinya, kedua bisa jadi karena doa-doa baik yang diberikan dari mereka yang ia tolong.

Ternyata, kita tak pernah rugi apapun jika kita berbuat baik kepada orang lain, yang ada justru kebaikan untuk kita yang nantinya akan bertambah-tambah. Hikmah dari mogok masak itu ternyata membawa saya untuk lebih bersemangat dalam berbuat baik, baik dalam skala keluarga, tetangga, teman dan sahabat, maupun skala yang lebih besar lagi. Insya Allah. Selain itu, saya juga jadi terpacu untuk lebih sering mendoakan orang-orang baik yang ada di sekitar saya, yang selalu ada untuk saya dan menghargai keberadaan saya. Alhamdulillah Allah karuniakan mereka di hidup saya, semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan di dunia dan di akhirat untuk mereka.. Aamiin..

Tentu saja, untukmu juga, sister. Saya sering sekali merasa terharu jika mendapat balasan surat dari para sister of Deen, tak hanya sekedar memberikan apresiasi, kami juga sering mendapati doa-doa baik untuk kami berdua, masya Allah. Jazakillah khairan katsiran untukmu, dan untuk semua sister yang tergabung dalam mailing list ini, yang terkadang harap-harap cemas menunggu datangnya surat di setiap Senin, hehe. Terima kasih untuk masih bersama-sama dengan kami sampai saat ini, memberi support dan doa-doa baik yang tersampaikan maupun yang terucap dalam hati. Tiada harapan dari kami selain agar kita terus bersama untuk saling menguatkan dalam perjalanan menjadi hamba Allah yang sejati hingga menuju kemuliaan hakiki.

Jangan lelah dalam mengupayakan kebaikan. Saling mendoakan ya, sister. Barakallahu fiik :)

 

Your sister of Deen,
Husna Hanifah


Senin, 21 September 2020

Monday Love Letter #100: Malam Penuh Syukur

 Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sebelumnya, bagi kamu yang bertanya (atau bertanya-tanya) mengapa Senin lalu tidak ada surat yang masuk ke inbox-mu, kesalahan bukan terletak di email-mu kok, tapi pekan lalu kami memang tidak mengirimkan Monday Love Letter. Maaf ya sister, jika kamu yang sudah menunggu-nunggu. Karena satu dan lain hal, dengan berat hati Monday Love Letter #100 harus tertunda.

But.. Here we are! Alhamdulillah senang sekali bisa kembali menulis surat untukmu lagi. Melihat angka seratus, saya excited! Angka seratus memang bukan angka yang besar untuk dirayakan, tapi juga bukan angka yang kecil untuk sebuah pencapaian. Memulai sesuatu mungkin adalah hal yang mudah, tapi bicara konsistensi, itu lain cerita. Alhamdulillah, di tengah berbagai aktivitas, Allah masih mampukan kami untuk mengasuh sister of Deen dan menulis surat untukmu di setiap Senin.

Sejujurnya, tadinya kami bermaksud mengumumkan sebuah kejutan untukmu di Monday Love Letter ke-100 ini, sister. Tapi ternyata "hadiah" itu harus tertunda. Mohon doanya, ada project kebaikan baru yang sedang kami rencanakan yang insya Allah bisa segera kamu nikmati.. :)

Di surat kali ini, saya hanya ingin bercerita. Sejujurnya, belum tahu mau menulis apa. Saya baru saja menghapus beratus-ratus kata yang isinya berisi curhatan tentang apa yang saya rasakan belakangan ini yang jadinya tulisannya ngalor ngidul kemana-mana, haha. Entahlah, akhir-akhir ini saya sering mengalami writer block. Jadi topik hari ini yang ringan-ringan saja ya. Biasanya jika sedang tak tahu mau menulis apa, cara terakhir saya untuk menuangkan pikiran menjadi kata-kata adalah dengan memikirkan hal-hal apa saja yang saya syukuri. Bersyukur tak pernah membuat saya kehabisan kata, karena nikmat Allah tak terhitung saking banyaknya!

Satu hal paling besar yang kini sedang amat saya syukuri adalah kehadiran keluarga. Kemarin, selepas bepergian menyetir seharian, saya menyempatkan diri ke rumah orangtua saya. Alhamdulillah kedua orangtua saya sedang ada di rumah. Kami cukup lama mengobrol sambil bercanda, rasanya sudah lama tidak mengobrol selepas itu bersama orangtua. Sejak menikah, entah mengapa saya menjadi lebih berani bercerita dan mengungkapkan apa yang saya pikirkan atau rasakan kepada orangtua. Bahkan memeluk dan mencium kedua pipi mereka yang dulu amat sulit dilakukan, kini terasa lebih mudah. Hal ini membuat saya semakin menghargai keberadaan mereka. Rasa sesal dan kesal yang dulu pernah ada, kini hilang entah kemana, berganti dengan rasa syukur yang luar biasa karena Allah hadiahkan mereka di dalam hidup.

Rasa syukur kedua yang amat-amat saya syukuri sejak sepekan yang lalu adalah ketika sahabat dekat saya, yang sempat menjauh karena suatu hal, mengajak bertemu kembali setelah sekian lama. Dia bercerita tentang rekan-rekan kerjanya saat ini yang sangat jauh dari kata islami. Dua tahun bersama-sama dengan mereka sampai hampir "terwarnai" membuat dia akhirnya sampai di puncak kegelisahan sebab tak nyaman berada di tengah-tengah arus yang deras tanpa pegangan. "Aku ingin mulai ngaji lagi Na, aku takut lama-lama kebawa sama mereka," katanya. Hangat sekali saya mendengarnya. Sekaligus bersyukur karena Allah masih menjaganya walau berada ditengah-tengah lingkungan yang kurang kondusif untuk mempertahankan iman. Siapa yang mampu menjaga rasa gelisah saat banyak melihat yang salah? Siapa pula yang mampu menggerakkan hati untuk mantap kembali menjemput hidayah, jika bukan karena-Nya? Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari keburukan dan menuntun kita agar istiqomah di jalan-Nya. Aamiin :")

Dan rasa syukur yang paliiing besar adalah ketika Allah masih mengizinkan saya menjadi perantara untuk menyampaikan pesan-pesan indah-Nya kepada orang lain. Padahal siapalah saya ini, dosa banyak, akhlak masih banyak remedial, masih banyak yang harus diperbaiki dari diri yang penuh kekurangan ini. Tapi saya masih diizinkan oleh-Nya untuk berbagi, untuk menebarkan manfaat, menjadi perantara cahaya bagi hati yang berteriak hampa. Persis seperti apa yang pernah saya mintakan kepada Allah.

"Allah, jika Kau butuh lisan untuk menyampaikan pesan-pesan kebenaran kepada manusia, pilihlah aku menjadi salah satunya. Tunjuk aku untuk menjadi orang yang dengan lantang menyuarakan kebenaran dari-Mu.. 

Allah, jika Kau butuh lengan untuk menuliskan berjuta-juta nikmat dan kebesaran-Mu, pilihlah aku menjadi salah satunya. Jadikan goresan tinta dari tanganku menjadi perantara menyadarkan jutaan kepala tentang kebesaran-Mu.

Allah, jika Kau membutuhkan kaki untuk berkelana di bumi-Mu. Tunjuklah aku menjadi salah satunya. Gunakan kakiku untuk mengarungi luasnya bumi ciptaan-Mu, untuk mensyiarkan nilai-nilai islam ke seluruh penjuru dunia. 

Apapun ya Allah, apapun yang ada padaku dan itu bisa kugunakan untuk berjuang di jalan-Mu. Ambillah, gunakanlah. Jadikan aku perantaranya."

Ternyata, Allah masih izinkan. Allah masih perkenankan. Hingga diri ini dipersaksikan kebesaran-Nya dalam membolak-balikkan hati dan menumbuhkan iman di dalam setiap hati. Semoga dengan potensi yang tak seberapa ini, dengan upaya yang masih seadanya ini, segala amal bisa bernilai ibadah dan menjadi jariyah. :"

Masya Allah, ini baru bicara tentang 3 hal yang disyukuri tapi rasanya sudah sebegini terharu. Gimana kalau jabarin syukur yang lain-lainnya. Huhuhu.. Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat yang telah, sedang dan akan selalu Kau berikan. Maafkan jika wujud syukurku masih tak seberapa. Semoga Engkau selalu menuntun dan memampukanku untuk menjadi hamba yang tahu terima kasih.

Nah sister, kita penuhi langit malam ini dengan untaian syukur kita kepada Allah, yuk! Kalau kamu, apa saja hal yang paliing disyukuri saat ini? ;)

Yang masih belajar mewujudkan syukur,
Your sister of Deen,

Husna Hanifah

Kamis, 03 September 2020

Ketika Dunia Tidak Berputar Untukku

Tulisan ini adalah tulisan yang saya tulis dalam kulwap (kuliah WhatsApp) untuk Sister of Deen pada 12 Mei 2020 lalu, di malam ke-20 Ramadhan, 1441 H. Sepenggal cerita kehidupan yang semoga bisa diambil hikmahnya.

***

APA TITIK TERENDAH SAYA?

Sebenarnya, jika saya flashback perjalanan hidup saya bertahun-tahun ke belakang, saya sering kesulitan menjawab jika ada orang yang bertanya tentang titik terendah saya. Seingat saya, saya belum pernah mengalami ujian hidup yang ekstrim yang membuat saya stress berkepanjangan. Masalah hidup tentu saja ada, tapi jika saya mendengar pengalaman hidup orang lain, rasanya masih banyak orang-orang yang ujian hidupnya jauh lebih berat dari saya. Sementara untuk saya, rasanya banyak mudahnya dibanding sulitnya. Apakah menyenangkan? Sejujurnya iya, tapi tidak otomatis membuat hidup saya terasa "penuh". Kok bisa? Nanti saya ceritakan.

 

Walaupun begitu, saya pernah mengalami pahitnya ditampar oleh realita ketika saya menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi. Seperti ketika saya berekspektasi pada suami saya di awal menikah dulu, ketika saya mempercayakan sebuah tugas penting kepada orang lain dan berpikir bahwa hasilnya akan sempurna jika ia yang mengerjakannya, ketika saya menceritakan impian saya namun tidak diterima, dan seterusnya. Melelahkan sekali menjalani hidup dengan bergantung pada ekpektasi. Tanpa sadar, saya jadi sering mengeluh, susah bersyukur dan lebih mudah marah, membuat saya jadi lebih sulit bahagia. 

 

BERDAMAI DENGAN EKSPEKTASI

Perlu beberapa kali Allah memberi "tamparan" itu sampai akhirnya saya menyadari bahwa apa yang ada di luar diri saya adalah di luar kendali saya. Tidak semua orang harus sempurna dan tidak semua keadaan harus selalu terkendali. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah pikiran, perasaan, dan tindakan kita ketika menghadapi itu semua. Apakah mau menuntut keadaan terus-menerus atau menjadi yang menerima dan memperbaiki diri lebih dulu?

 

Sejak saya sadar bahwa rumus berdamai dengan keadaan pertama-tama adalah menerima, ini yang kemudian saya latih terus menerus ketika saya bertemu realita yang tak sesuai harapan. Awalnya sulit tentu saja, sebab hati ini sudah terlalu terbiasa untuk berkeluh kesah.

 

Untungnya, hati kita tidak bisa melakukan 2 hal dalam satu waktu. Jika saya mendapati diri saya mengeluh, saya langsung menepisnya dengan syukur. Daripada mencari banyak hal untuk dikeluhkan, saya paksa diri saya untuk menemukan hal-hal yang bisa disyukuri. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah pula, kebiasaan mengeluh itu kini sudah berkurang banyak.

 

Kita mungkin tidak bisa menghentikan masalah yang datang, tapi kita bisa mengontrol energi kita, apakah energi tersebut mau kita fokuskan untuk mengeluh, atau mau kita gunakan untuk berikhtiar dan merapal syukur? Keduanya sama-sama membutuhkan energi, tinggal kita memilih, mau fokus pada yang mana?

 

PERJUANGAN SABAR YANG TAK MUDAH

Saya juga pernah mengalami ketika ikhtiar yang saya lakukan terasa begitu jauuh garis finishnya hingga menguras energi dan emosi saya. Seperti ketika saya menyelesaikan skripsi saya beberapa tahun lalu, membuat saya harus menahan malu karena baru lulus di semester ke-11, menyisakan beberapa kenangan buruk yang sejujurnya tidak ingin saya ingat lagi.

 

Ada pula beberapa ikhtiar kebaikan yang terkadang membuat saya berkali-kali ingin menyerah, membuat bimbang antara apakah saya perlu untuk tetap maju dan bertahan, atau memilih tidak peduli dan menghentikan perjuangan. Salah satunya, ketika datang masa-masa dimana saya mulai merasa "lelah" saat berikhtiar memiliki keturunan. Sebenarnya ini jarang terjadi, tapi terkadang menyisakan tanya didalam hati, "harus menunggu berapa lama lagi?" 


Atau ketika saya diamanahi melakukan sebuah project kebaikan. Nyatanya, mengupayakan kebaikan tidak selalu lancar dan disambut baik oleh orang lain. Jika sedang di puncak lelah, rasanya ingin menjadi orang yang juga melepas kepedulian dan menghentikannya. Tapi saya tahu ini pikiran yang salah, lalu saya beristighfar dan mencoba bangkit sekali lagi.

 

Memang, ketika kita mengupayakan sesuatu, ada saat-saat dimana kesabaran kita benar-benar diuji. Ketika menghadapi situasi seperti ini, jika saya hanya fokus kepada hasil, yang ada hanyalah frustasi dan kecewa. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya saya menemukan formulanya, bahwa bersabar adalah tentang menjalani proses, bukan menunggu hasil. Fokus kita adalah pada proses ikhtiarnya. Selama niat kita benar karena Allah dan bertujuan dalam rangka ibadah kepada Allah, tidak ada alasan untuk berhenti dari medan perjuangan. Hasil itu urusan Allah, maka tawakkal adalah kunci agar hati kita terselamatkan dari rasa kecewa.

 

TERNYATA, BERSYUKUR PUN TAK SEMUDAH ITU

Seperti yang tadi saya ceritakan di awal, dibanding ujian kesabaran, berbagai nikmat dan kemudahan hidup ternyata lebih membuat saya gelisah dan lebih nyata tantangannya untuk saya. Menerima banyak kebaikan dari Allah dan merasakan kasih sayang-Nya yang tiada henti, membuat saya merasa "berhutang" kepada Allah. Saya jadi berpikir, apa kiranya yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan Allah ini? Apa yang bisa saya persembahkan sebagai wujud terima kasih kepada-Nya?

 

Bagi saya ini jauh lebih sulit karena kenyamanan hidup seringkali membuat saya terlena menikmatinya, membuat saya hanya memikirkan diri sendiri tanpa tahu bahwa banyak orang lain yang perlu dibantu. Sebab kita ini diamanahi Allah bukan hanya untuk menjaga hubungan kita dengan Allah, tapi juga menjalin silaturahim dengan sesama manusia. Tak cukup hanya taat, kita juga harus jadi bermanfaat.

 

APAPUN JALANNYA, BERJUANG ADALAH PILIHAN

Dari perjalanan hidup saya itu, saya mendapat kesimpulan bahwa selain bersabar, ternyata ada perjuangan yang juga sama beratnya, yaitu: mewujudkan syukur. Syukur terhadap apa saja! Terhadap harta kita, keluarga kita, kesehatan kita, waktu kita, bahkan terhadap hidayah Allah untuk kita.

 

Karena itu saya berusaha sekuat mungkin untuk mengupayakan istiqomah, sebab itulah hal terbaik yang bisa saya berikan kepada Allah atas nikmat iman, nikmat islam, nikmat ibadah, dan nikmat ukhuwah. Karena itu saya memaksa diri saya untuk terus melakukan project-project kebaikan; dengan menulis, dengan berbagi ilmu, dengan mengasuh komunitas, dengan program sosial, dengan apa saja yang membuat kebaikan itu jadi berantai-rantai dan membuat saya bisa meneruskan kasih sayang Allah yang rasakan kepada orang lain. :”)

 

Ternyata.. mau bersabar ataupun bersyukur, sama-sama tidak ada yang mudah. Keduanya sama-sama meminta perjuangan dan pengorbanan kita, serta kebergantungan kita kepada-Nya. Pada akhirnya, tugas kita adalah menjalani kehidupan ini dengan sebaik-sebaiknya sesuai dengan ketentuan-Nya dan kembali pulang kepada Allah dengan membawa buah dari perjuangan sabar dan syukur yang kita jalani selama di dunia.

Sekian. Wallahu’alam bisshawab..


Senin, 31 Agustus 2020

Monday Love Letter #98: Rasanya Baru Kemarin

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Huwaaa besok sudah September! Di awal tahun ini kita digemparkan oleh adanya corona, lalu tak terasa 2020 sudah memasuki bulan ke-9.. Rasanya baru kemarin pula kita merasakan Ramadhan dalam kondisi yang berbeda, tak terasa, ternyata itu sudah 4 bulan yang lalu. Kini kita masuk ke lembaran baru, di bulan pertama tahun 1442 Hijriyah, bulan Muharram. Waktu tuh sering nggak berasa, ya? Perasaan baru kemarin saya mengeluh ingin cepat besar karena waktu kecil banyak dilarang ini itu, sekarang rasanya ingin lupa hari ulangtahun biar nggak cepet tua. Hahaha..

Namun berjalan bersama waktu juga ada hikmahnya tersendiri. Pernahkah kita mengalami masa-masa sulit dalam hidup? Masa dimana waktu terasa berjalan lambat sekali dan kita bertanya-tanya kapan semua kesulitan akan berakhir. Ternyata seiring berjalannya waktu, segala lelah dan payah yang dulu kita keluhkan, hari ini sudah tak terasa lagi. Kejadian yang awalnya terasa lama saat dijalani, ketika sudah selesai, semua otomatis menjadi kenangan yang lagi-lagi membuat kita berkata, "Rasanya baru kemarin saya berjuang sepayah itu, alhamdulillah sekarang ada di titik ini." 

Ketika kita tersadar bahwa waktu ternyata berjalan cepat sekali, pernahkah kita merenungi, apa jadinya jika kita sudah sampai ke negeri akhirat. Apakah puluhan tahun hidup di dunia ternyata juga akan terasa seperti baru kemarin?

Ada sebuah percakapan yang Allah firmankan dalam Al-Quran ketika kita telah dibangkitkan selepas langit dan bumi Allah ratakan.
Dia (Allah) berfirman, "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung."
Dia (Allah) berfirman, "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui."
-QS. Al-Mu'minun (23) : 112-114

Ternyata bertahun-tahun tinggal di bumi terasa lebih sebentar dari setengah hari! Tidak hanya itu, masa tunggu di alam kubur hingga hari berbangkit yang katanya ratusan hingga ribuan tahun, juga akan terasa sangat sebentar. Dalam QS. Al-Isra' (17) : 52, Allah mengabarkan, "yaitu pada hari (ketika) Dia memanggil kamu, dan kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya, dan kamu mengira, (rasanya) hanya sebentar saja kamu berdiam diri (di dalam kubur)." Subhanallah.

Maka benar adanya, ketika kita sering mendengar bahwa kematian itu dekat, atau hari kiamat itu dekat. Jangan-jangan memang sedekat itu. Sebab ketika kita sudah melalui semuanya, jarak antara hari ini dan hari kiamat, bisa jadi lebih cepat dari kedipan mata kita. Tidak terasa, hari ini masih di dunia, seketika sudah di alam kubur, lalu tiba-tiba sudah sampai padang mahsyar.

Jangan sampai kita baru sadar betapa berharganya waktu di saat itu, lalu protes sama Allah, "Kok sebentar banget di dunianya, ya Allah? Kembalikan aku sebentar saja maka aku akan banyak beramal sholeh.." Padahal, Allah sudah kasih waktu. Namun banyak dari manusia terlena dan menyia-nyiakan begitu saja waktu yang Allah berikan. Naudzubillahi min dzalik, semoga kita semua dilindungi dari sifat kufur terhadap nikmat waktu dan usia yang Allah berikan ya, sister.. :'(

Tak heran, Allah sampai bersumpah atas nama waktu dan berkata bahwa kebanyakan manusia merugi dan celaka dalam menggunakan waktunya. Artinya banyak sekali yang lalai terhadap waktu yang diberikan oleh-Nya. Mari kita azzam-kan, mulai detik ini, kita akan berusaha untuk lebih bijak dalam menggunakan waktu. Mengisi waktu hanya dengan hal-hal bermanfaat yang berdampak pada peningkatan kualitas iman kita, mengisinya dengan banyak-banyak melakukan amal shaleh, serta berkegiatan yang dikerangkai dalam rangka saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Bismillah.

"Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." -QS. Al-'Asr


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #96: Menjadi Diri yang Merdeka

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Bagaimana hari Seninmu? Menyenangkan atau menyebalkan? Apapun itu, semoga kita bisa menutup hari ini dengan hati dan jiwa yang tenang, terlelap dalam keadaan sedang memeluk syukur. Iya, sudah bersyukur kan hari ini? Dengan bersyukur dan menghitung-hitung nikmat dari-Nya hari ini, segala lelah, kesal bahkan sesal, insya Allah akan luruh dengan sendirinya. Luangkan waktu untuk banyak-banyak bersyukur sebelum tidur, ya!

Dalam 2 hari ini, kata merdeka terus menerus hinggap di kepala saya. Tidak hanya karena momen 17 Agustusan atau karena postingan orang-orang yang saat ini banyak sekali meneriakkan slogan "Merdeka!", tapi momen ini menjadi bahan saya bermuhasabah, merefleksi kembali tentang arti merdeka dan merdeka seperti apa yang seharusnya saya pahami dan jalani.

Merdeka seringkali disandingkan dengan kata "bebas". Bebas dari sesuatu yang mengikat, bebas dari keterjajahan. Tapi bebas yang seperti apa? Apakah jika kita bebas melakukan apa yang kita mau, bahkan hingga menabrak nilai dan norma, itu juga dikatakan merdeka? Ternyata jika kita renungi lebih dalam lagi, kebebasan yang benar-benar bebas itu tidak ada. Kita, manusia, butuh keteraturan. Kita butuh untuk diatur, kita butuh batas-batas yang sebenarnya fungsi batas itu bukan untuk mengekang, tapi menyelamatkan kita.

Seperti bagaimana Allah menciptakan segala ciptaannya dengan segala keteraturan yang sempurna. Bumi menjadi sebegini indahnya tidak lain adalah karena seperangkat aturan yang sudah dirancang oleh-Nya. Matahari yang terbit dan terbenam, awan yang menurunkan hujan, daun-daun yang berfotosintesis, komposisi lautan dan daratan yang seimbang, juga berbagai jenis hewan yang tinggal dan berperan penting dalam keseimbangan alam.

Jangankan bumi, tubuh kita sendiri saja terdiri dari seperangkat "aturan" yang jika salah satu bagiannya tidak berjalan sebagaimana mestinya, sakitlah tubuh kita. Ada sistem pernapasan, sistem pencernaan, alur mengalirnya darah, degup jantung, hela nafas, kedipan mata yang telah diatur-Nya sedemikian rupa sehingga bagian-bagian tubuh kita bisa berfungsi dengan baik dan sehat.

Faktanya, kita tak pernah bisa lepas dari segala keteraturan itu. Termasuk juga (seharusnya) kita tak lepas dari bagaimana Allah mengatur diri dan kehidupan kita. Seperti segala ciptaan-Nya yang tunduk dalam aturan yang dibuat oleh-Nya, kita sebagai manusia juga seharusnya tunduk pada apa yang menjadi aturan-Nya.

Namun, saya pribadi, terkadang masih merasa bahwa aturan-aturan dari Allah terhadap hidup saya, terasa mengekang dan memberatkan sehingga terkesan "tidak bisa bebas" dalam menjalani hidup. Tanpa sadar, terbersit rasa ingin bebas, yang sebenarnya jika digali lebih dalam lagi, rasa ingin bebas itu berujung pada: keinginan untuk bebas dari aturan Allah. DEG. Astaghfirullah.. :(

Memang inilah ujian terberat manusia. Manusia diberi keleluasaan oleh Allah untuk memilih, apakah ia akan hidup dengan caranya sendiri atau dengan caranya Allah? Apakah hidup dengan menuruti keinginannya sendiri atau hidup menuruti kehendak Allah terhadap dirinya? Apakah hidup memakai aturan yang dibuatnya sendiri atau hidup dengan aturan dari Allah? Kedua pilihan ini rasanya seperti magnet yang terus menarik kita dari dua arah yang berlawanan. Hanya jiwa yang merunduk yang bisa dengan mudah menuju Allah dan lepas dari jeratan hawa nafsunya.

Apakah kita masih sering merasa terbebani dengan aturan-aturan dari-Nya? Apakah keikhlasan dalam beribadah selalu menjadi PR yang tak pernah selesai? Apakah kita masih terus saja terjerumus pada kesalahan yang itu-itu lagi? Apakah kita masih merasa kesulitan menyelaraskan ilmu yang kita tahu dengan amal yang seharusnya kita lakukan? Jika kebanyakan jawabannya adalah ya, alih-alih menjadi diri yang merdeka, itu adalah pertanda bahwa kita masih menjadi diri yang terjajah. Terjajah oleh kesombongan kita sendiri, oleh hawa nafsu kita, oleh cinta kepada dunia, oleh kebergantungan kepada selain Allah.

Mungkin ketika kita bisa terlepas dari aturan Allah, kita merasa menjadi jiwa yang bebas, sebab bisa menjalani hidup sebagaimana maunya kita. Tapi, setidaknya sejauh yang pernah saya alami, kita tak akan pernah menemukan jiwa yang tenteram. Hidup akan dirundung kegelisahan yang tak ada habisnya, dipenuhi oleh rasa hampa yang tak juga mereda. Mengapa bisa begitu? Sebab kita menyalahi apa yang menjadi kodrat kita yaitu sebagai hamba dan ciptaan-Nya Allah, menyalahi apa yang menjadi kecenderungan alami jiwa kita yaitu beribadah dan tunduk kepada Allah.

Menjadi merdeka adalah tentang melepaskan diri kita dari keterjajahan kecenderungan diri kepada selain Allah serta MENYERAH dan BERSERAH sepenuhnya kepada Allah, maka kita akan menemukan jiwa yang BEBAS, yang penuh dengan rasa tenteram sebab berhasil mengikatkan dan menggantungkan diri kepada yang seharusnya, Allah.

Allah menetapkan aturan-aturan, memberikan batasan-batasan, semata-mata bukan untuk mengekang kita. Allah justru ingin membebaskan kita dari kebergantungan kita kepada diri sendiri dan kepada selain-Nya. Definisi bebas yang sesungguhnya ialah bebas dari hal-hal yang menghalangi kita dalam mewujudkan ketaatan kepada Allah. Berada dalam kepengaturan Allah, adalah merdeka yang sesungguhnya.

Jadi, sudahkah diri kita merdeka?


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #94: Akankah Berakhir Sia-Sia?

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Bagaimana suasana Idul Adha di tempatmu? Kira-kira apa yang bisa termaknai dari Idul Adha tahun ini? Semoga bukan hanya daging dan bakar-bakar sate saja ya yang kita dapatkan, hehe, tapi kita juga bisa merenungi makna dibalik momen besar ini.

Bagi saya pribadi, sepertinya ini adalah bulan Dzulhijjah paling berkesan yang pernah saya lewati. Bulan pengorbanan, katanya. Dimana ada sebuah event besar rutinan di penghujung tahun (Hijriyah) dan di event itu Allah meminta pengorbanan terbaik dari hamba-hamba-Nya untuk ditukar dengan kebaikan yang berlipat-lipat, insya Allah.

Ibarat sebuah pesta dimana orang-orang pasti menampilkan pakaian terbaik, riasan terbaik dan kendaraan terbaik, maka momen Idul Adha menjadi ajang "pamer" di hadapan Allah untuk memberikan persembahan terbaik untuk diqurbankan.

Saya pribadi merasa terharu, ketika ada seorang kawan yang selalu menyambut ajakan berkurban dan ketika ditanya alasannya, "kalau saya sih mumpung ada, diusahakan. Karena kita nggak pernah tau tahun depan masih diberi kesempatan berqurban atau tidak," jawabnya mantap.

Tak sedikit juga yang ragu-ragu sebab situasi saat ini yang masih dalam pandemi, bersamaan dengan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, membuat beberapa dari kita menjadi lebih banyak berhitung. Tapi ternyata tidak semua begitu. Ada orang-orang yang tetap semangat berupaya, memberanikan diri untuk memberikan segenap harta yang dimiliki, menepis segala rasa khawatir sebab yakin bahwa Allah pasti mencukupkan rezeki. Masya Allah :"

Ada pula yang tidak hanya berqurban untuk dirinya, tapi juga membantu saudaranya yang ingin sekali berqurban agar saudaranya ini dapat berqurban. Ini sih lebih terharu lagi, tak ada yang lebih indah dari saling tolong menolong agar sama-sama bisa melaksanakan perintah Allah. Diam-diam saya berdoa, semoga suatu saat saya juga bisa seperti itu. Aamiin!

Di sisi lain, ada pula sebagian lainnya, yang walau telah berupaya sebaik mungkin, hartanya tetap tak cukup untuk membeli hewan qurban untuk disembelih. Tapi karena mengerti bahwa ibadah qurban adalah juga tentang memaknai esensi, maka diberikanlah segenap harta terbaiknya dalam bentuk shodaqoh qurban. Ada pula yang berqurban dalam bentuk tenaga, membantu memfasilitasi mereka-mereka yang hendak berqurban. Masya Allah, semuanya berlomba memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Bagi saya pribadi, cerita-cerita itu membuat diri saya memaknai lebih dalam momen bulan Dzulhijjah ini. Bahwa untuk menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita memang harus seberjuang itu!

Idul Adha ini event besar! Kesempatan besar untuk "cari muka" di hadapan Allah, peluang besar untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Sebuah kesempatan emas bagi hamba-hamba yang ingin membuktikan cinta dan pengabdian kepada-Nya. Ya Allah, kemana saja aku ini, baru sadar kalau momen Idul Adha tuh ternyata maknanya sedalam itu! :"

Lalu setelah dua hari kemarin saya membantu prosesi penyembelihan, berkali-kali menyaksikan satu per satu domba dan sapi disembelih, yang terpikir oleh saya adalah, "Ya Allah, inilah hewan qurban yang dipersembahkan oleh pada muqorrib untuk-Mu.. Semoga amal kami semua bisa Kau terima ya, Allah.."

Kita tentu tahu, uang yang harus dikeluarkan untuk menyembelih satu ekor domba atau kambing saja, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan, ada yang harus menabung hingga berbulan-bulan untuk bisa membelinya. Apa jadinya jika ternyata amalan yang kita lakukan tidak diterima oleh-Nya? Sia-sialah selama ini perjuangan.

Maka Nabi Ibrahim a.s mengajarkan, selepas kita mengupayakan sesuatu untuk Allah, berdoalah pada-Nya; Rabbana taqobbal minna innaka antassamii'ul aliim.. Ya Allah terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kita tak pernah tahu, apakah ada hal-hal dari diri kita yang menghalangi sampainya amal kita, mungkin dosa-dosa kita, mungkin niat yang tak lurus, atau apa saja. Maka selepas ibadah yang kita lakukan, mintalah kepada Allah, semoga semuanya tak jadi sia-sia di hadapan-Nya.

Bismillah, terimalah amal kami, ya Allah.. Semoga apapun yang kita persembahkan untuk-Nya di momen Dzulhijjah ini, baik dalam bentuk harta maupun jiwa, dapat diterima oleh-Nya sebagai sebentuk cinta, pengorbanan dan rasa syukur kepada-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #92: Aku Ingin Pulang dengan Selamat

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Alhamdulillah, saya masih bisa diberi kesempatan untuk menyapamu di hari Senin ini. Walau masih dalam pandemi, beberapa dari kita mungkin sudah mulai beraktivitas, sudah mulai bepergian walau dengan intensitas yang tentunya sangat dibatasi. Belum lagi protokol kesehatan kini diberlakukan dimana-mana, walau tidak semua tempat umum masih belum diperbolehkan beroperasi. Bagaimana perasaanmu? Semoga sudah cukup terbiasa dengan perubahan ini, ya! Kalau ada apa-apa, curhatin aja sama Allah. Kita punya Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur, serta tak pernah lengah dalam mengurus makhluk-Nya. Karena itu segala kebutuhan kita pasti akan dicukupkan oleh-Nya. Insya Allah semua akan baik-baik saja :)

Anyway, pekan lalu, ada suatu urusan yang membuat saya harus pergi keluar kota, pulang pergi. Perjalanan kami tidak jauh, hanya berjarak 1 jam saja dari kota Bandung menggunakan tol. Entah kenapa, setiap bepergian keluar kota atau bepergian agak jauh, saya sering merasa sedikit khawatir. Pasalnya, kita tidak pernah tahu kan apa yang akan terjadi dengan kita di tengah jalan? Apalagi saat itu masih segar berita kecelakaan yang menimpa rekan-rekan saya beberapa waktu lalu. Alhamdulillah masih Allah selamatkan, walau mobil yang mereka tumpangi ringsek tak bisa diperbaiki lagi. Subhanallah.

Hal ini membuat saya merenung, jika kita baru saja bepergian jauh, sesampainya di rumah, tentunya kita bersyukur bahwa kita bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat.

Kira-kira ada berapa data kecelakaan per harinya yang terjadi di jalanan? Banyak! Maka ketika kita sedang di perjalanan, sebetulnya ada banyak sekali potensi kita (naudzubillah) tidak selamat sampai rumah. Ada peluang kecelakaan yang tinggi ketika kita melakukan perjalanan, apalagi perjalanan jauh. Maka dari itu Rasulullah SAW ajarkan kita berdoa ketika mau bepergian atau naik kendaraan agar perlindungan Allah senantiasa ada bersama kita. Bagi saya, berdoa cukup mengurangi kekhawatiran saya selama di perjalanan.

Nah, pernah nggak sih berpikir bahwa di dunia ini juga kita sedang melakukan perjalanan, lho. Namun bedanya, tujuan akhir perjalanannya bukan rumah atau kampung halaman kita, melainkan pulang ke negeri akhirat. Bukankah dunia ini hanya tempat transit? Setelah kita "berjalan-jalan" di bumi, numpang sama raga (jasad) kita, mampukah kita kembali "pulang" dengan selamat?

Kelak ketika kita bertemu dengan malaikat maut, dimulailah gerbang perjalanan kita yang baru menuju negeri akhirat, ke pemberhentian terakhir yang entah saat ini masih belum jelas apakah kelak kita akan sampai disana dengan selamat dan masuk ke surga-Nya, atau terjadi "kecelakaan" di tengah jalan sehingga neraka menjadi tempat dimana kita menghabiskan keabadian. Naudzubillahi min dzalik..

Sebelum perjalanan panjang itu dimulai, ada baiknya kita mulai bertanya ke diri kita sendiri, "Apakah bekalku cukup? Apakah aku sudah cukup ilmu tentang bagaimana caranya pulang dengan selamat? Apakah aku sudah cukup waspada terhadap ancaman dan rintangan yang bisa mencelakakanku?"

Sungguh, kita kelak akan melakukan sebuah perjalanan yang penuh dengan kekhawatiran jika tidak mempersiapkannya. Tidak seperti perjalanan-perjalanan kita di dunia yang bisa kita lakukan sambil bersenda gurau dan bermain-main. Namun Allah menjanjikan perjalanan paling nyaman jika kita berhasil mempersiapkan kepulangan kita sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Rabbanaa aatinaa fi dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaabannaar.. Semoga kebaikan dan keselamatan senantiasa Allah limpahkan kepada kita, bukan hanya untuk perjalanan-perjalanan di dunia, tapi juga perjalanan kita ke negeri akhirat kelak.

Semoga kita semua bisa kembali pulang dengan selamat ya, sister. Pulang ke rumah di surga. Aamiin..

Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 06 Juli 2020

Monday Love Letter Special Edition: Untukmu yang Baru Saja Menggenap

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa terteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." -QS. Ar-Rum (30):21

Alhamdulillah, sebuah kabar bahagia datang dari our beloved sister of Deen, Novie Ocktaviane Mufti, yang baru saja melangsungkan pernikahan di tanggal 4 Juli lalu. Surat kali ini, saya khususkan untuknya, sebagai hadiah kecil atas pernikahannya.


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, my dear sister, Novie..

Tentu kamu sepakat, bahwa hidup ini penuh dengan pertemuan demi pertemuan. Sejak kita lahir ke dunia hingga detik ini, sudah tak terhitung banyaknya orang-orang yang dipertemukan dengan kita. Ada pertemuan yang hanya sekejap hingga sulit untuk kita ingat lagi, ada pertemuan-pertemuan sementara yang kemudian berpisah karena tak sejalan lagi, tapi ada juga pertemuan yang seringkali tak terduga pada awalnya, namun ternyata bertahan lama sekali. Bahkan, tak hanya bertahan lama, pertemuan itu menjadi pembuka pintu manfaat yang lebih luas untuk orang banyak. Katanya, itu yang disebut pertemuan yang berkah. Karenanya, aku berdoa, semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam keberkahan dan kebaikan yang banyak. Dan semoga pertemuan denganmu dan dengannya, dapat menjadi perantara keberkahan untuk lebih banyak orang. Aamiin..

Tapi kurasa, jodoh bukan hanya tentang pertemuan seorang laki-laki dan perempuan yang kemudian menikah, bukan? Ternyata, kita juga jodoh, dari sister of Deen, jadi sister beneran. Wkwkwk.. Kalau takdir ini sudah Allah tulis dengan sangat rapi di Lauhul Mahfudz-Nya, aku tuh suka ngebayangin lagi ketika Allah menakdirkan pertemuan kita yang pertama kali di training waktu itu (2016 nggak sih kalo nggak salah), ternyata Allah sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk kita berdua 4 tahun kemudian! Ih merinding banget kan, wkwk. Waktu kita di training itu posisiku sudah dilamar, sedang menunggu hari-H pernikahan. Ternyata eh ternyata, 4 tahun kemudian adik iparku melamar kamu. Jadi sister weh kita teh. Hahaha, ada-ada aja yah takdir hidup ini.

Memang sih, benar apa kata ayat di atas, bahwa dipersatukannya dua insan dalam ikatan pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya. Aku yakin, ada banyak rasa takjub yang kamu rasakan saat melalui proses demi proses hingga akhirnya janji suci itu terucap. Aku juga sangat yakin, ada rasa syukur yang meluap-luap bersamaan dengan rasa cinta yang tiba-tiba saja hadir sebab sang hati telah dijaga untuk mencintai-Nya. Ternyata mudah, untuk mencintai seseorang yang mencintai Allah lebih dulu, ya kan? :')

At the end, hati yang dijaga dengan baik, pada akhirnya akan dipersatukan dengan pasangannya, dengan cara terbaik menurut-Nya. Semoga sakinah selalu ada dalam keluarga kalian, semoga mawaddah dan rahmah dapat selalu menghiasai rumah dan hati kalian berdua, sampai nanti punya anak-anak yang shaleh dan shalehah, (mungkin) sampai nanti menua bersama, dan yang pasti, sampai kelak dipersatukan lagi di surga. Aamiin!

Selamat merayakan cinta atas kesabaran yang berhasil dijaga dengan baik selama berada di 'ruang tunggu'.

Selamat berbahagia atas dua genggam tangan yang kini dapat saling bertaut 'tuk saling memberi kekuatan.

Selamat melepas sebanyak-banyaknya syukur untuk setiap kebaikan yang ada pada pasanganmu dan untuk setiap cinta yang Dia tumbuhkan di antara kalian berdua.

Selamat meluaskan sabar atas kekurangan satu sama lain, pada kerikil-kerikil yang mungkin akan menemani perjalanan agar setiap ujian dapat disikapi dengan bijak dan dinikmati hikmahnya.

Selamat menyiapkan ruang penerimaan seluas-luasnya, saling memberi ruang belajar yang jika kau temukan pasanganmu dengan segala kurang, ingatlah bahwa ini pertama kalinya ia menjalani peran yang baru.

Selamat berjuang untuk saling membahagiakan, saling menguatkan, saling menenteramkan.

Semoga cinta pada-Nya tetap menjadi landasan atas segala rasa yang ada, hingga kelak bahtera rumah tangga kalian berlabuh di surga.


Dariku yang ikut berbahagia, sebab kita menjadi keluarga <3
Your sister,
Husna Hanifah

Monday Love Letter #89: Menjaga Niat

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!

Sejujurnya, banyak sekali bisikan-bisikan yang membuat saya tidak ingin menulis hari ini. Bahkan jika ingin beralasan, ada banyak alasan untuk tidak melanjutkan surat ini; letihnya fisik setelah bepergian seharian, flu dan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang, asma yang sedang kambuh, hingga perasaan tidak enak karena ini sudah cukup malam untuk mengirimkan Monday Love Letter untukmu. Iya, maaf ya, jika suratnya baru sampai di malam hari begini.. Tapi rasa rindu membuat saya ingin menyapamu hari ini dan mungkin saja, kamu termasuk yang menunggu-nunggu surat ini, hehehe.. And here I am, dengan sisa-sisa tenaga, berusaha menulis untukmu, sister. Alhamdulillah, Allah yang pinjami kekuatan :)

Di bulan Juni yang bersisian dengan bulan Syawal ini, saya mendengar ada begitu banyak berita bahagia, tentang mereka-mereka yang melangsungkan pernikahan. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa bulan Syawal menjadi bulan favorit dimana banyak pasangan menjadikan Syawal sebagai sebuah awal yang baru melanjutkan hidup bersama pasangannya. Bagaimana denganmu, sudah mendapat berapa banyak undangan di bulan ini? Atau justru kamu adalah yang menyebarkan undangan atas berita pernikahanmu? Hehehe.

Banyak orang-orang terdekat saya yang menikah, walau tidak semua bisa saya hadiri lantaran berbagai protokol harus dipatuhi, salah satunya adalah tidak mengundang orang banyak-banyak. Tapi tak apa, walaupun raga tak dapat berjumpa, biarkan doa-doa yang melangit, sebab doa tak memerlukan jarak untuk sampai kepada mereka yang kita doakan.

Berita-berita bahagia ini, membuat tema pernikahan -mau tidak mau- menjadi top of mind di kepala saya. Dari mulai flashback proses-proses saya ketika akan menikah dulu hingga berbagai hikmah yang terselip dari setiap proses sebelum, saat, dan setelah menikah. Rasanya ingin senyum-senyum sendiri, setiap kali mereka-mereka yang akan menikah ini bercerita tentang berbagai kekhawatiran dan rasa deg-degannya. Hahaha..

Tapi kunci ketenangan dalam hal apapun, ternyata sama saja, yaitu dengan senantiasa menghadirkan Allah di hati kita dan di SETIAP aktivitas dan peran hidup kita. Mereka-mereka yang tetap tenang dalam proses menuju maupun setelah pernikahan, adalah mereka yang yakin kepada Allah dan menggantungkan kehidupannya kepada Allah bahwa ketetapan dari-Nya adalah yang terbaik; dari mulai kapan waktunya, dengan siapa dia menikah, tantangan yang dihadapi sebelum maupun setelah menikah, susah dan senang yang mewarnai perjalanan rumah tangganya, dan sebagainya.

Keimanan dan rasa percaya kita kepada Allah akan menghentikan laju kekhawatiran dan kecemasan kita dalam menjalani fase demi fase kehidupan. Kesadaran bahwa kita ini adalah hambanya Allah, membuat segala keputusan dan perjuangan menjadi terbingkai dengan niat untuk ibadah kepada-Nya.

Sulit menjadi istri yang taat, ikhlas, serta menurunkan ego jika niat ibadah kepada-Nya tidak menjadi landasan dalam menjalani peran tersebut. Sebaliknya, jika kita memiliki niat yang kuat untuk mengejar ridha-Nya, niat ini akan menjadi energi yang sangat besar untuk membuat seseorang yang pada awalnya jauh dari kata pantas untuk menjadi seorang istri, menjadi mau dan bersedia untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam menjalani peran mulianya itu.

Pada akhirnya, hidup ini adalah tentang bagaimana membuat Allah suka, senang dan ridha terhadap kita. Dalam peran sebagai anak, cara kita membuat Allah senang adalah dengan berbakti pada orangtua karena Allah yang menyuruh kita begitu. Dalam peran sebagai istri, cara kita membuat Allah ridha adalah dengan taat pada suami (selama tidak bertentangan dengan perintah-Nya), melayaninya dengan setulus hati, dan terus berupaya agar menjadi istri yang dia ridhai. Dalam peran sebagai ibu, cara kita membuat Allah cinta adalah dengan menjadi sebaik-baik madrasah pertama yang menjaga kefitrahan anak-anaknya, menghantarkan anak-anak menjadi sebaik-baik pejuang di mata Allah dan Rasul-Nya.

Kesemuanya itu, memerlukan energi yang sangat besar agar kita bisa mencapainya. Dan cara mengisi energi dan daya untuk perjuangan itu adalah dengan terus menerus mengecek dan memperbaharui niat kita, apakah masih kita melakukannya karena dan untuk Allah?

Semoga niat kita untuk beribadah kepada-Nya dan untuk menjadi hamba yang diridhai-Nya, selalu bersemayam dalam hati dan jiwa. Agar tak sibuk khawatir dengan berbagai 'bagaimana jika?' yang kita cemaskan dan tak sibuk berprasangka ini dan itu yang membuat kita meragukan kebaikan-kebaikan yang akan Allah hadiahkan.

Yuk kita menyelam ke dasar hati, barangkali ada niat selain-Nya yang harus kita bersihkan dan kita tata ulang. Selamat berkontemplasi, sister.


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Senin, 15 Juni 2020

Monday Love Letter #87: Mau Mempertanyakan atau Mempercayakan?

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister!


Alhamdulillah, masih dalam nuansa Syawal yang semoga masih tetap membuat kita semangat dalam mewujudkan syukur bersamaan dengan banyaknya nikmat yang Allah limpahkan. Sepanjang bulan Syawal ini, ada saja kejutan dari Allah yang terus membuat saya mengucap syukur, kucuran nikmat-Nya betul-betul tak terbendung, deras sekali hingga memenuhi tangki bahagia di hati saya. Di tengah segala keterbatasan dan cerita-cerita sedih selama pandemi, ternyata Allah mempergilirkan tawa dan tangis dengan sangat adil.

Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah ayat yang masya Allah JLEB di hati, tapi juga menyejukkan. Sampai-sampai saya buat postingan pendeknya di Instagram. Mungkin kamu sudah membacanya, tapi izinkan saya untuk sharing lebih banyak di surat kali ini.

Dalam ayat tersebut, Allah berfirman:
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. Al-Hadid (57) : 22-23)

Seperti yang kita tahu, tahun 2020 merupakan tahun yang cukup berat bagi banyak manusia di bumi. Dalam pandemi, banyak dari kita memutar otak untuk menghadapi kenyataan, dari mulai mencari pundi-pundi rezeki untuk menyambung hidup hingga melawan kebosanan selama di rumah saja. Belum lagi, banyak urusan perasaan yang harus dibereskan, mengingat kadar kecemasan dan kekhawatiran mungkin makin meningkat seiring bergantinya hari. Tentang rencana-rencana yang harus tertunda atau bahkan dibatalkan sama sekali. Mungkin, banyak dari kita yang belum juga bisa berdamai dengan keadaan ini.

Coba deh, resapi kembali ayat di atas. Ayat itu tuh bikin lega karena statement Allah di ayat tersebut harusnya bikin kita kalem-kalem aja ngejalanin hidup, ya nggak sih? Sebab semuanya sudah Allah tulis di Lauh Mahfudz mengenai apa-apa aja yang akan terjadi di bumi dan pada diri kita sendiri. Nikmat dan bencana, kegembiraan dan kesedihan, semuanya sudah tercatat bahkan sebelum Allah ciptakan bumi ini. Sudah ada tuh catatannya di Allah, kapan kita dikasih kenikmatan, kapan kita dikasih kesulitan, kapan kita dikasih sedih, kapan kita dikasih gembira. Semuanya Allah pergilirkan dengan cermat kepada setiap manusia, bahkan kepada para Nabi dan Rasul sekalipun.

Iya, bukankah para Rasul juga mengalami pasang dan surut di setiap perjuangannya? Rasulullah SAW saja, manusia paling mulia dan dijamin syurga, kemudahan dan kesulitan hidupnya Allah pergilirkan juga kok. Ada kalanya Rasulullah SAW dan umatnya dihimpit berbagai kesulitan, tapi ada pula masa-masa dimana Allah beri pertolongan dan kemenangan. Maka untuk setiap scene yang telah Allah tetapkan atas hidup kita, ya itulah yang terjadi. Itulah ketetapan Allah atas hidup kita. Semoga kita bisa dengan ikhlas menerima setiap ketetapan Allah yang terjadi di kehidupan kita.

"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." Kalimat ini tuh harusnya bikin kita tenang. Bersedih secukupnya, karena nanti juga Allah bikin kita tertawa lagi. Bergembira secukupnya, siapa yang tahu besok-besok ternyata dikasih banjir air mata. Tidak ada yang lebih baik antara kesedihan dan kegembiraan, sebab keduanya sama-sama bisa membuat derajat kita meningkat, tapi juga bisa menjerumuskan kita jika kita terlalu terlarut dalam perasaan tersebut.

Maha suci Allah yang sudah merancang semuanya. Biar kita nggak terlalu depresi, juga nggak terlalu melambung tinggi sampai lupa diri. Allah keep the balance for us, supaya kita tetap bisa mengharap pelangi saat diterjang badai, dan tetap bisa menjaga kewarasan ketika gembira berlebihan. Saya rasa ini adalah salah satu bentuk keadilan dan penjagaan Allah atas diri kita.

Nikmat dan tenang banget kayaknya ya, kalau kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Tak melulu mempertanyakan takdir sebab kita percaya bahwa setiap episode kehidupan kita beserta lika-liku perasaan didalamnya adalah yang terbaik untuk kita. Lagi pula mau dipertanyakan pun, semuanya itu sudah menjadi ketetapan-Nya, tak ada yang bisa kita ubah lagi. Tugas kita adalah memastikan bahwa dalam setiap episode kehidupan itu, kita selalu berada dalam keselamatan dan selalu berada dalam ridha-Nya.

Kira-kira.. sudah belum ya, kita memberi kepercayaan SEPENUHNYA kepada Allah untuk menyetir kehidupan kita?

Semoga kita tidak termasuk orang yang sombong, yang terlalu percaya diri bahwa skenario hidup yang terbaik adalah yang ada dalam bayangan imajinasi kita. Big NO... :(


Your sister of Deen,
Husna Hanifah

Kamis, 04 Juni 2020

Hidup Tuh Harusnya Kalem Aja..

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"ㅤㅤ
(QS. Al-Hadid (57) : 22-23)


Kalem aja berarti yah, sedih dan gembira pasti Allah pergilirkan. Udah ada catetannya tuh di Allah, kapan kita dikasih sedih, kapan kita dikasih gembira.

Harusnya dengan tau ini, hati kita jadinya ya tenang-tenang aja, ya nggak? Sedih secukupnya, karena nanti juga Allah bikin kita ketawa lagi. Gembira juga ya secukupnya, siapa yang tau besok-besok dikasih banjir air mata.

Maha suci Allah yang sudah merancang semuanya. Biar kita nggak terlalu depresi, juga nggak terlalu melambung tinggi sampai lupa diri. Allah keep the balance for us, supaya kita tetap bisa mengharap pelangi saat diterjang badai, dan tetap bisa menjaga kewarasan ketika gembira berlebihan.

Nikmat dan tenang banget kayaknya ya, kalau kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Tinggal fokus ikhtiar dan fokus berproses jadi hamba yang diridhoi aja sebenarnya kita tuh.

Kira-kira.. sudah belum ya, kita memberi kepercayaan SEPENUHNYA kepada Allah untuk menyetir kehidupan kita?

Semoga kita tidak termasuk orang yang sombong, yang terlalu percaya diri bahwa skenario hidup yang terbaik adalah yang ada dalam bayangan imajinasi kita. Big NO... :(