Senin, 18 April 2011

Menghargai dan mensyukuri hidup

Kita seringkali tidak sadar, betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita baru sadar betapa nikmat sehat itu ketika kita sakit, betapa berharganya waktu ketika kita selalu menunda-nunda pekerjaan, betapa nikmatnya bernafas ketika kita sedang flu, betapa nikmatnya makan ketika kita sariawan atau sakit gigi, dan masih banyak lagi.

Saya baru membaca sebuah buku yang menceritakan tentang anak-anak dengan keterbatasan fisik. Tentang remaja yang hidup dengan kursi roda seumur hidupnya, tentang remaja yang harus hidup dengan satu kaki karena amputansi, tentang gadis yang mengalami patah tulang leher, dan tentang seseorang yang mengidap distrofi otot sejak lahir.

Cerita-cerita dalam buku itu menginspirasi saya, bagaimana kita menilai diri kita tentang sejauh mana kita bersyukur atas apa-apa yang kita miliki saat ini (baca:tubuh yang normal) dan apakah kita sudah mengoptimalkannya sebaik mungkin.

Terkadang, orang-orang dengan keterbatasan fisik malah lebih semangat menjalani hidup daripada kebanyakan orang normal. Mereka punya cara pandang berbeda bagaimana menjalani hidup dengan keterbatasan yang mereka miliki. Kita bisa lihat, banyak orang-orang dengan keterbatasan fisik dapat menjuarai lomba renang, lari, basket, dll. Banyak dari mereka juga seorang penulis, penyiar, bahkan inspirator. Mereka bisa lebih banyak berbagi pada orang lain, mengajak orang lain untuk belajar mensyukuri hidupnya dan keadaannya, serta menginspirasi kita bahwa semua orang memiliki potensi yang sama, memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Bahkan Allah pun tidak melihat seberapa sempurna hasil yang kita capai, tapi Allah melihat proses kita dalam mencapai hasil tersebut. 

“Setiap orang punya kesempatan untuk menginspirasi orang lain, hanya dengan ia menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.”

Tugas kita hanyalah menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Banyak “memberi”, karena jika kita banyak “memberi”, kita akan lebih banyak menerima.

Ada kisah yang paling menginspirasi saya dari buku tersebut. 

“Menurutku, hal yang paling kupelajari melalui DMD adalah tentang perilaku. Kehidupan hanyalah sepersepuluh dari apa yang sebenarnya kamu hadapi, sementara sembilan persepuluh bagian lainnya adalah apa yang kamu lakukan dalam menghadapi hal itu. Maksudku, aku tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi, tetapi aku bisa mengendalikan bagaimana reaksiku terhadap masalah tersebut.”

Distrofi otot Duchenne (DMD) adalah sebuah bentuk cacat distrofi yang paling parah, menyebabkan semakin melemahnya otot dan gangguan terhadap otot yang mengendalikan gerakan tubuh. Gejala DMD biasanya muncul pada masa-masa pra sekolah dan terus memburuk dengan cepat. Anak-anak yang didiagnosis DMD biasanya hanya bertahan hidup hingga akhir usia belasan atau awal dua puluhan. Kematian biasanya terjadi karena gagal paru-paru atau jantung karena degenerasi pada otot jantung atau paru-paru karena infeksi.

Jadi, DMD adalah sebuah penyakit yang progresif, tidak seperti keterbatasan fisik lain yang bersifat kekal. Penyakit ini terus memburuk dan membuat tubuh terus melemah karena degenerasi otot yang terus-menerus. Orang yang terkena penyakit ini selalu berakhir dengan kematian. 

Ketika kecil, ia masih bisa berlari dan bermain dengan normal seperti anak-anak lain. Namun lama-kelamaan ia harus menggunakan kursi roda karena kakinya sudah tak mampu lagi berdiri. Lalu otot-otot tangannya melemas sehingga ia tidak bahkan tidak bisa mendorong kursi rodanya sendiri. Pada akhirnya, ketika otot jantung dan paru-parunya semakin melemah, ia harus menggunakan ventilator dan tabung trakeotomi untuk membantunya bernafas. Baginya, kematian hanya soal waktu.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana jika saya menjadi dia. Menunggu kematian yang semakin dekat (memang iya, hanya yang ini lebih bisa diprediksi). Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, orang-orang seperti ini biasanya mempunyai cara pandang yang berbeda tentang hidup. Ketika ia tahu ia menderita suatu penyakit yang ia tahu bisa membunuhnya, ia akan mulai menyadari bahwa kematian adalah sebagian dari jalan hidup-bagi semua orang. Sehingga ia akan mencoba untuk sungguh-sungguh menjalani setiap waktu yang dimiliknya.

“Penyakit ini membuatku bersyukur atas hal-hal yang kurasakan seperti manisnya minuman kocok yang menuruni kerongkonganku atau hembusan angin di wajahku. Kesenangan-kesenangan kecil seperti itu bahkan tidak diperhatikan kebanyakan orang-aku belajar menghargainya.”


Kembali ke judul awal, tentang bagaimana kita belajar menghargai dan mensyukuri hidup. Sudah sepatutnya kita bersyukur, masih banyak orang yang tidak lebih beruntung daripada kita, maka bersyukurlah atas apa-apa yang kita miliki sekarang. Pahami bahwa hidup itu untuk disyukuri, dengan begitu kita akan mencoba maksimal menjalani hidup ini-tentunya sesuai dengan aturan Allah dan tuntunan Rasul.

Seharusnya kita malu, orang-orang dengan keterbatasan fisik bisa lebih mengembangkan dirinya dan mengoptimalkan apa yang ia punya (walaupun dengan keadaan yang terbatas dan tidak sempurna), tapi kita yang terlahir sempurna tanpa cacat, terkadang masih menganggap hidup itu hanya lautan kesenangan yang “sayang jika dilewatkan”. Na’udzubillah..

Membuat orang lain kagum pada kita tidak cukup, tapi kita harus menjadi inspirator; seseorang yang tidak hanya menjual kekaguman, tapi memberikan inspirasi kepada orang lain untuk dapat mensyukuri dan menghargai hidup ini..

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar